Antara Logika dan Bahasa: Mengenal Filsafat Bahasa dalam Kitab Fi Falsafah al Lughah

  • 0

Antara Logika dan Bahasa: Mengenal Filsafat Bahasa dalam Kitab Fi Falsafah al Lughah

Ahmad Ghozi

Widyaiswara Bahasa Arab

PPPPTK Bahasa

 

 

Pendahuluan

Manusia sesuai fitrahnya  disebut al insan hayawan naatiq, yakni hewan yang mampu berpikir. Melalui berpikir, manusia dapat melampaui segala sesuatu dan menyelesaikan masalah serta dapat memikirkan pengertian-pengertian abstrak. Hanya saja, kemampuan berpikir manusia dengan akal dalam persepsi dan pengetahuan itu terbatas.  Fitrah berpikir  manusia tidak akan berkembang secara otomatis kecuali jika dirangsang untuk diberdayakan. Al Washilah (2010: 158) menyatakan, pemberdayaan kemampuan berpikir dapat dilakukan secara eksternal seperti  melalui penciptaan lingkungan yang kondusif, atau secara internal melalui penyadaran diri melalui pendidikan; sehingga seseorang secara bertahap memiliki kemampuan berpikir itu. Secara umum, setiap perkembangan dalam idea, konsep dan sebagainya dapat disebut berpikir. Karena itu, menurut Suriasumantri (1984: 52) definisi paling umum dari berpikir adalah perkembangan idea dan konsep. Tak dapat dimungkiri, eksistensi berpikir merupakan keniscayaan bagi manusia. Menurut Ma’ruf Zuraiq (1993: 89), ada empat hal sebelum ada proses berpikir, yaitu (1) kejadian atau masalah, (2) kesan, (3) (berfungsinya) indera, dan (4) pengetahuan sebelumnya. Lalu menurutnya apakah berpikir itu?  Banyak orang yang keliru menyatakan makna berpikir itu. Mereka berkata bahwa berpikir itu adalah apa yang terlintas dalam proses akal manusia. Banyak juga pertanyaan, dengan apa Anda berpikir? Ketika hilang ingatan nama teman,  lalu berpikir atau mengingatnya. Ketika melihat pemandangan indah, lalu berpikir, hal itu berarti Anda memersepsikannya. Dengan demikian, berpikir di kalangan banyak orang adalah menghayal, atau mengingat, atau memersepsikan, dan sebagainya.

Tuntutan dalam berpikir adalah bahwa manusia merasakan adanya masalah; lalu mencari cara penyelesaiannya, yang merupakan tujuan dari usaha manusia untuk mencapainya sehingga sampailah ia pada pemecahan akhir untuk lalu melakukannya. Berkaitan dengan hal ini,  Zuraiq (1993: 90) menyatakan rumusan tentang berpikir itu demikian.

سلسلة مقصودة من المعاني ذات طبيعة رمزية تثار في المجال الذهني, عندما يواجه الإنسان مشكلة معينة أو يريد القيام بعمل معين .

“Proses kesinambungan dari makna-makna yang memiliki karakteristik simbolik yang memengaruhi bidang kognitif”. (Zuraiq,

Salah satu yang kita pikirkan adalah bahasa. Apa yang kita ucapkan biasanya adalah yang kita pikirkan. Berpikir tentang bahasa memang memerlukan renungan secara tersendiri. Proposisi dalam bahasa dan kenyataannya dibahas secara mantik (logika). Tulisan ini menguraikan sisi filsafat bahasa secara umum.

 

Masalah Proposisi Umum

Menurut Russel, terdapat proposisi-proposisi bukan turunan (atomic) dan bukan bertingkat (compund proposition), di antaranya adalah proposisi umum atau apa yang kadang disebut oleh pandangan deskriptif proposisi universal (kulliyah) dan kadang pula disebut  proposisi kategoris (hamliyah). Teori logika deskriptif modern menetapkan bahwa proposisi umum ini bukanlah kategoris (hamliyah), melainkan syartiyah muttashilah. Russel berpendapat bahwa setiap proposisi bertingkat (tarkibi) atau percobaan (tajribi) mengungkapkan  suatu kejadian umum. Dengan demikian, proposisi umum harus mengungkapkan kejadian. Pertanyaannya,  apakah ada kejadian-kejadian yang umum itu?

Russel mengkhawatirkan pernyataan dengan kejadian umum. Jika pandangan ini ditolak, seharusnya apakah yang ditolak eksistensi proposisi umumnya, itu tidak benar. Atau, apakah asumsi keberadaan proposisi umum percobaan (tajribi) tetapi tidak ada hubungan dengan dunia nyata, maka itu  juga tidak berterima. Beginilah masalah proposisi umum: kapan benar dan kapan bohong. Adalah benar jika sesuai dengan kejadian, dan bohong jika kejadian tidak sesuai dengan pernyataannya. Untuk itu, kejadian di sini akan menjadi umum namun apakah kejadian umum itu? Kejadian-kejadian itu selalu parsial (juz’iyyah) seperti “Socrates minum racun”, “Serangan Napoleon tahun 1815”, “Zaid tidak hadir”, dan sebagainya. Menurut Russel yang meragukan bahwa proposisi umum kadang berkaitan erat antarproposisi, pandangan ini tertolak, karena jika dikatakan:

Jika setiap A adalah B merupakan ringkasan bagi sejumlah besar proposisi tunggal (singular proposition), seperti Muhammad adalah manusia dan mati, Zaid manusia dan mati, umar dan sebagainya; sesungguhnya proposisi umum lebih banyak terlepas dari proposisi tunggal karena mengandung proposisi yang lain pula yakni:

“Semua ini adalah setiap A”.

Para ahli logika berbeda pendapat dengan Russel dalam menyikapi hal ini. Wittgenstein berpendapat bahwa proposisi umum bukanlah selain kumpulan proposisi parsial yang berkaitan tetapi ia kembali dan menolak pendapat ini. Ahli logika Inggris, Ramsey menyatakan bahwa proposisi umum tidak digambarkan dengan benar atau salah, hanya saja kita menganggapnya kaidah yang membimbing dalam pemberian informasi misalnya: “setiap arsenik adalah racun”, maka sesungguhnya itu menjustifikasi bahwa “arsenik adalah racun”.

Kita temukan bahwa ahli logika dan filosof Jerman Karel Popper menyatakan bahwa proposisi umum itu menggambarkan benar dan bohong karena tunduk pada kriteria yang memungkinkan berbohong (falsibility), yakni mencari keadaan atau kejadian yang membohongi proposisi umum. Jika kita temukan hal ini, propisisi umum ini bohong. Jika kita tidak menemukan, propisisi umum itu benar adanya.

Dari hal ini kita temukan sebagian ahli logika yang berpendapat bahwa proposisi umum bisa benar dan bohong dan sebagiannya menolaknya, sebagaimana Russel mengkhawatirkan pandapat dengan kejadian umum yang menunjukkan proposisi umum meskipun sulit mendeskripsikan kejadian-kejadian tersebut. Jadi, ahli logika tidak menetapkan atas satu pandangan dengan masalah proposisi-proposisi umum : dengan apa dibuat dan kepada apa ditujukan.

 

Struktur Bahasa dan Struktur Kenyataan

Wittgenstein mendorong pembentukan teori logical atomism tentang pernyataan bahwa bahasa adalah gambaran yang mendalam terhadap kenyataan. Bahwa struktur proposisi yang benar itu sesuai dengan struktur kenyataan yang menunjukkannya, wajib ditemukan dalam setiap deskripsi, yakni hubungan satu sama lain antara unsur-unsur deskriptif dan unsur-unsur apa yang mendeskripsikannya, atau menemukan sesuatu yang musytarak antara deskripsi dengan yang mendeskripsikannya kadang tidak muncul kesesuaian ini dari awalnya. Namun, tidak ditemukan sejak awal bahwa antara nautah musiqiyiyah dan lahn musiqi mirip dalam struktur. Meskipun demikian, kemiripan keduanya dapat diterima. Kemiripan ini menyatakan bahwa isim menunjukkan sesuatu yang tunggal dan tertentu, dan bahwa sifat dalam bahasa berkesesuaian dengan sifat yang abstrak bagi sesuatu yang tunggal itu. Begitu pun fi’il menerima hubungan antara satu dengan yang lain. Deskripsi bahasa terhadap kenyataan seperti peta atau tulisan penjelasan atau apa yang membedakan pita musik dan lahn yang dihasilkannya. Russel tidak menyatakan teori ini merupakan deskripsi bahasa (picture theory of language) dan baginya pendapat yang akan dijelaskan nanti. Akan tetapi, agar cocok antara Russel dan pernyataannya harus diyakini bahwa ada jenis kesesuaian antara bahasa dan kenyataan.

 

Rererensi Para Teoretikus

Russel dan Wittgenstein merumuskan teori logical atomism sejak tahun 1912 dan keduanya masih mendukung teori tersebut selama 20 tahun sebagaimana dijelaskan terdahulu, dengan tujuan di antaranya berusaha mengokohkan bahasa ideal simbolik yang jauh dari kekurangan bahasa secara umum,dan menjadikan setiap kosakata terbatas maknanya secara sempurna hingga sampai pada akhir analisis setiap kosa katanya kepada bahasa berupa isim-isim alam, sifat-sifat yang sederhana yang mungkin dapat ditemukan langsung secara hissiy (abstrak), kemudian diderivasikan di antaranya proposisi bertingkat (compound proposition), atau analisis proposisi bertingkat kepada jenis proposisi yang paling sederhana yang tidak disusun kecuali dari isim-isim alam dan sifat-sifatnya. Namun, dapat dijelaskan bahwa proyek bahasa ideal adalah proyek mustahil, bahkan sebagian kritikus menyatakan bahwa Russel tidak menjadi baik dalam keyakinannya dengan kokohnya contoh bahasa tersebut.  Atas dasar itu, para filosof mereferensikan teori tersebut karena sebab-sebab yang berbeda, yakni sebagai berikut. Pertama, alam tercipta dari sejumlah bentuk fakta bertingkat yang mustahil mengembalikannya kepada fakta-fakta dengan bahasa sederhana melalui metode yang dibentuk oleh teori, tetapi kita tidak dapat mendahulukan kriteria bagi yang sederhana dan mutlak, dan tidak membedakan antara sederhana secara mutlak dan yang bertingkat.

Kedua, referensi Russel tentang deskripsi isim alam logis di bawah tekanan teman-temannya para kritikus ketika melihat bahwa ini bukanlah isim alam logis, karena mungkin menjadi ringkas (dalam lingkup teori deskriptif) untuk mendeskripsikan “apa yang ditujukan sekarang” lalu Russel setelah itu memandang bahwa itu menjadi ungkapan setiap isim secara ringkas memiliki kumpulan sifat dan ungkapan sesuatu yang abstrak “struktur kognitif” dari kumpulan sifat itu. Ketiga, terjadi kegagalan dalam menafsirkan proposisi umum dengan jelas berdasarkan hipotesis fakta-fakta yang umum, dan bahwa pembicaraan tentang fakta umum menggambarkan ketidakjelasan yang tidak ada penerapannya dalam fakta, dengan pandangan: bisa kita terima dengan fakta umum atau bisa juga menolaknya. Jika kita menerimanya, kita menerima yang tidak sesuai fakta, dan bila menolaknya berarti kita menolak proposisi umum; padahal itu merupakan kalimat paling wajar dalam bahasa umum dan penolakan itu tidak bisa diterima (Russel dan Wittgenstein).

Keempat, Wittgenstein menemukan kesalahan teori deskripsi bahasa sehingga   bukunya sendiri mendukung teorinya dan sadar kepada satu contoh minimal yang berlawanan dengan teori, yakni bahwa proposisi apapun tentang deskripsi logis tidak menerima fakta apapun. Kelima, Russel tidak bersemangat dengan teori deskripsi bahasa yang dirancang Wittgenstein. Apapun hipotesisnya yang sesuai dengan struktur proposisi dan struktur faktual, sesungguhnya Russel ragu menerima atau menolaknya. Keenam, Wittgenstein berpendapat bahwa penetapan fakta bukanlah fungsi utama dan satu-satunya bagi bahasa. Baginya ada sejumlah besar fungsi seperti memberi perintah, mengungkapkan minat, bermain peran dalam drama, menceritakan hikayat, memberi hormat, berterima kasih dan sebagainya. Bahkan ia berpendapat juga bahwa kalimat apapun dalam bahasa tidak memiliki satu makna terbatas tetapi dibatasi makna kata yang digunakan dalam bahasa umum dan memiliki beragam arti dengan beragam penggunaannya dalam situasi berbeda.

 

Simpulan

Ketelitian, kejelasan, dan kebenaran merupakan tiga hal mendasar yang berhubungan dengan tujuan setiap ahli mantik (logika). Russel menyatakan bahwa meski jika tidak mungkin kokohnya kesesuaian yang sempurna antara bahasa dan fakta, sesungguhnya ia yakin bahwa ada jenis kesesuaian yang mendalam yang belum jelas antara struktur bahasa dengan struktur faktanya. Kesadaran para ahli mantik (logika) terhadap sulitnya menerima ketika mereka ingin menafsirkan proposisi umum dan dasar kebenarannya seperti “setiap hewan keadannya hidup” atau “ setiap yang rajin mendapatkan ijazah” dan sebagainya. Kesulitannya bahwa proposisi apapun bisa benar jika terdapat faktanya, dan bisa bohong jika berbeda faktanya, tetapi tidak ditemukan proposisi umum karena setiap fakta adalah juz’iyah (parsial). [ ]

 

Referensi

Al Washilah, Chaedar, 2010. Filsafat Bahasa dan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya

Suriasumantri, Jujun S., 1984. Ilmu dalam Perspektif, Jakarta: Gramedia.

Zuraiq, Ma’ruf, 1993. Ilm al Nafs al Islamy, Damaskus: Dar al Ma’rifah


Leave a Reply