Bahasaku, Bahasamu…

  • 0

Bahasaku, Bahasamu…

Ririk Ratnasari

Widyaiswara Bahasa Indonesia

PPPPTK Bahasa

 

 

“Batas duniaku adalah batas bahasaku,” kalimat yang disampaikan oleh Wittgenstein, filsuf bahasa yang lahir di Wina, Austria ini begitu menggelitik, karena begitulah realitas bahasa, yang bisa menembus batas dunia.  Dari ucapan Witgenstein dapat dilihat seberapa banyak kosa kata yang dimiliki karena apa yang kita ketahui adalah apa yang kita tahu bahasanya. Kita bisa merasai sedih, senang, dan sakit karena kita tahu bahasanya.

Menamai adalah proses identifikasi kali pertama untuk mendapatkan pengetahuan bahasa. Kita tidak dapat mengetahui sebuah benda jika kita tidak dapat menamainya. Bahasa dengan demikian erat kaitannya dengan pengalaman manusia. Ada yang berpendapat bahwa bahasa adalah rekaman-rekaman subjektif pengalaman manusia. Dengan kata lain, bahasa adalah sebuah realitas. Seperti yang dikatakan oleh Chomsky, kemampuan manusia untuk memberi nama merupakan awal dari perkembangan peradaban manusia modern. Perkembangan bahasa telah memungkinkan bertambahnya pengetahuan manusia dengan cepat. Artinya, bahasa adalah buatan manusia dalam melukiskan realitas. Gelas hanyalah masalah nama untuk benda dari kaca yang berfungsi sebagai tempat minum. Ada pula yang mengatakan bahwa bahasa memang melukiskan dunia apa adanya. Hewan dinamakan “tokek” karena ia sering bergumam, “tokek, tokek.”

Sebagai media dalam berpikir, kata-kata sangat terkait erat dengan pikiran. Di dalam berpikir terjadi proses asosiasi antara konsep atau simbol satu dengan konsep lain yang diakhiri dengan penarikan simpulan (Tylor, dalam Rakhmat, 1996). Keterkaitan antara kata-kata dan bahasa dapat dipetakan dalam tiga pendapat: bahasa memengaruhi pikiran, pikiran memengaruhi bahasa, dan bahasa dan pikiran saling memengaruhi.

Pendapat bahwa bahasa memengaruhi pikiran dimulai dari adanya pemahaman terhadap kata memengaruhi pandangan terhadap realitas. Pikiran dapat terkondisikan oleh kata yang digunakan. Tokoh yang mendukung terori ini adalah Benyamin Whorf dan gurunya Edward Saphir. Whorf mengambil contoh bangsa Jepang. Orang Jepang mempunyai pikiran yang sangat tinggi karena mereka mempunyai banyak kosa kata untuk menjelaskan sebuah realitas. Hal ini menjadi bukti bahwa mereka mempunyai pemahaman yang mendetail tentang sebuah realitas.

Pada sisi lain, pendukung teori pikiran memengaruhi bahasa adalah tokoh psikologi kognitif yaitu Jean Piaget. Melalui observasi yang dilakukan oleh Piaget terhadap perkembangan aspek kognitif anak, ia melihat bahwa perkembangan kognitif anak akan memengaruhi bahasa yang digunakan. Semakin tinggi aspek tersebut semakin tinggi bahasa yang digunakan anak.

Sementara itu, teori adanya hubungan timbal balik antara bahasa dan pikiran dikemukakan oleh Benyamin Vigotsky, seorang ahli semantik berkebangsaan Rusia  yang dikenal sebagai pembaharu teori Piaget. Penggabungan Vigotsky terhadap kedua pendapat di atas banyak diterima oleh kalangan psikologi kognitif. Bahasa dan pikiran memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan atau saling memengaruhi. Pada satu sisi, bahasa merupakan medium yang digunakan untuk memahami dunia serta alat dalam proses berpikir; pada sisi lain, pemahaman terhadap bahasa merupakan hasil dari aktivitas pikiran.

Namun, terlepas dari pendapat-pendapat di atas, bahasa memang mempunyai pengaruh terhadap pengalaman manusia. Bahasa memberikan pandangan perseptual dan sekaligus memaksakan pandangan konseptual tertentu.  Bahasa memaksakan pandangan perseptual karena bahasa adalah kaca mata  yang dipakai untuk melihat realitas. Kita dapat dianalogikan dengan orang buta yang tidak mampu mengenali realitas sekitar ketika tidak memiliki bahasa. Bahasa juga memaksakan pandangan konseptual kita karena secara tidak langsung kita mengevaluasi realitas berdasarkan bahasa yang kita miliki. Dengan cara seperti inilah bahasa memengaruhi pikiran dan tindakan kita. Sebagai contoh, sebuah desa miskin yang sebagian besar penduduknya sulit mencari makan dipandang oleh pemerintah  “rawan pangan” dan bukan kelaparan. Pelonjakan harga bukanlah kenaikan harga melainkan “penyesuaian harga.”

Harlod Titus bahkan dengan berani mengatakan bahwa bahasa mencetak pikiran-pikiran orang yang memakainya.  Contohnya ketika orang mengucapkan kata “ember” dalam bahasa gaul, tidak mungkin “ember” diucapkan dengan datar. Kata tersebut pasti akan diucapkan dengan gaya sedikit centil dan genit sambil berkata “embeeeerr”. Bahasa mempunyai sayap dan menciptakan alamnya sendiri. Jika kita berani untuk melangkah lebih jauh lagi, kita akan mendapatkan hipotesis bahwa bahasa mencetak sebuah kepribadian. Ketika satu bahasa memproduksi satu perilaku tertentu, serta ketika perilaku tersebut diulang-ulang menjadi kebiasaan; yang tercipta adalah kepribadian. Hal ini karena “Bahwa pada mulanya manusia membentuk kebiasaan, tetapi setelah itu kebiasaanlah yang membentuk manusia.”

Satu rumusan yang dikeluarkan oleh Michael Foucoult dan Thomas Szas tentang bahasa kiranya menjadi kata kunci dari pengaruh bahasa dalam merekayasa perilaku. Foucoult mengatakan bahwa siapa yang mampu memberi nama, dialah yang menguasai; sedangkan Szas mengatakan bahwa kalau di dunia hewan berlaku hukum makan atau dimakan, dalam dunia manusia berlaku hukum membahasakan atau dibahasakan.

 

Bahasa dan Gagasan

Pada 28 Oktober 1928 pemuda-pemuda Indonesia mempunyai gagasan yang brilian dengan menyatakan sumpahnya, yakni berbahasa satu bahasa Indonesia. Mereka memahami betul bahwa bahasa memiliki kemampuan tanpa batas untuk menyatukan nusantara.  Dalam situasi tersebut, bahasa merupakan pemandu realitas sosial, seperti yang disampaikan oleh Whorf. Walaupun bahasa biasanya tidak diminati oleh ilmuwan sosial, bahasa secara kuat mengondisikan pikiran individu tentang sebuah masalah dan proses sosial. Dunia tempat tinggal berbagai masyarakat dinilai oleh Whorf sebagai dunia yang sama tetapi memiliki karakteristik yang berbeda. Dengan kata lain, pandangan manusia tentang dunia dibentuk oleh bahasa; sehingga karena bahasa yang berbeda, pandangan tentang dunia pun dapat berbeda. Secara selektif individu menyaring sensor yang masuk seperti yang diprogramkan oleh bahasa yang dipakainya. Dengan begitu, masyarakat yang menggunakan bahasa yang berbeda memiliki perbedaan sensor pula. Dan, hal inilah yang berhasil disatukan oleh para pemuda Indonesia delapan puluh delapan tahun lalu.

Berbeda dengan Whorf,  Brouwer menyatakan bahwa bahasa adalah sebuah fenomena; fenomenologi bisa menjadi sebuah permainan bahasa. Sebuah teori mucul karena kemampuan bahasa yang dimiliki oleh pencetusnya (Brouwer, 1999). Ambil saja kalimat: “Ketika kau dapati hidupmu menjadi terasa berbeda tanpa kehadirannya, saat itulah engkau jatuh cinta.” Kita sebenarnya sudah memahami prinsip itu tetapi kita tidak mampu membahasakannya. Setelah membaca kalimat tersebut, kita mendapatkan pencerahan dengan berkata, “Oh, iya ya?”

Dengan berbahasa yang baik, mereka dapat berargumentasi dengan baik pula. Oleh karena itu, ahli-ahli besar dalam bidang fenomenologi juga terkenal sebagai ahli bahasa, penulis novel, puisi, dan artikel. Jean Paul Sartre, Leo Tolstoy, Martin Heidegger adalah contohnya. Ketika para peneliti sibuk dengan penjelasan statistika sebagai bukti teorinya, orang-orang ini menggunakan bahasa untuk menjelaskan teorinya. Para fenomenolog telah langsung masuk ke dalam realitas dan mengambarkan apa yang dapat mereka kenali. Banyak yang mereka kenali dari realitas itu karena mereka mempunyai kosa kata yang banyak.

Benyamin Vigotsky mendukung pernyataan Brouwer di atas. Baginya, bahasa memberikan satu nuansa tertentu pada sebuah ide (Valsiner, 1996). Bahasa adalah instrumen yang membentuk dan membangun ide kreatif dari pikiran. Melalui bahasa, ide menjadi objektif. Yang semula ia berada di awan-awan angan-angan, ide menjadi konkret dan turun ke bumi. Sekali individu memberikan bentuk berupa kata-kata pada idenya dengan kata-kata, ide ini akan menjadi objek bagi dirinya sendiri sebagai kata-kata yang terdengar (audible) sehingga mudah diakses oleh masyarakat.

Manusia dapat berpikir tanpa menggunakan bahasa, tetapi bahasa mempermudah kemampuan belajar dan mengingat, memecahkan persoalan, dan menarik simpulan. Bahasa memungkinkan individu menyandi peristiwa dan objek dalam bentuk kata-kata. Dengan bahasa, indvidu mampu mengabstraksikan pengalamannya dan mengomunikasikannya pada orang lain karena bahasa merupakan sistem lambang  tidak terbatas yang mampu mengungkapkan segala pemikiran.

 

Bahasa dan Emosi

Selain sebagai realitas sosial dan fenomenologi, bahasa erat kaitanya dengan psikologi. Barangkali sedikit dari kita yang mengetahui bahwa keterbatasan kosa kata dapat mengakibatkan gangguan psikologis. Sedikitnya kosa kata emosi yang dimiliki oleh seseorang membuatnya lemah dalam menggambarkan emosinya dengan kata-kata. Padahal, kemampuan verbalisasi emosi ini sangat berguna untuk kesehatan mentalnya. Mampu memberi nama emosi berarti dapat memilikinya untuk digunakan sesuai dengan fungsinya dan tidak terganggu dengan kehadirannya. Daniel Goleman sudah mendeteksi pentingnya masalah ini sejak awal. Kemampuan memberi nama pada emosi adalah salah satu bagian integral kecerdasan emosi dalam aspek self-awarenes. Dalam  kecerdasan ini, individu mampu mengamati diri, menghimpun kosa kata untuk melabeli perasaannya, serta mengetahui hubungan antara pikiran, perasaan, dan reaksi. Mengetahui aneka ragam perasaan yang muncul memungkinkan individu untuk mengenali dirinya sendiri.

Dengan membahasakannya dalam kata-kata, mereka menjadi tahu bahwa emosi itu benar-benar ada dalam dirinya. Seorang ahli psikolinguistik, Alferd Korzybsky mengatakan, beberapa gangguan jiwa disebabkan oleh keterbatasan penggunaan kata oleh individu yang tidak sanggup mengungkapkan realitas dengan cermat; yang diketahuinya hanya dua pilihan ekstrem: gembira-sedih, tersanjung-marah, atau sehat-sakit. Padahal, realitas tidaklah demikian, hidup tidak terpisah menjadi kutub ekstrem negatif dan  positif. Realitas sangat kaya dengan warna-warna emosi. Perasaan atau emosi sedih muncul tanpa pemaknaan yang jelas, mereka belum mengetahui emosi tersebut muncul dan bagaimana hubungannya dengan reaksi yang  mereka lakukan. Dengan mengenali emosi yang sedang berlangsung, emosi tersebut dapat dinikmati dan dikendalikan.

Bahasa dengan segala aspek keilmuannya dapat diformulasikan sebagai alat untuk meningkatkan komunikasi; memperluas pikiran dengan adanya abstraksi. Bahasa juga dapat membentuk kebudayaan dan membangun verbal self-concept.  Jadi, tunjukkan jati diri kita dan bangsa Indonesia melalui bahasa yang santun dan cerdas. [ ]


Leave a Reply