Gelar Akademis: Sebuah Renungan

  • 0

Gelar Akademis: Sebuah Renungan

Agus Purnomo

Staf PPPPTK Bahasa

 

 

Presentasi yang sedang berlangsung di sebuah ruang kelas tiba-tiba terhenti ketika seorang pembicara senior yang baru tiba di kelas dan diam-diam memerhatikan dari barisan belakang hingga ke depan kelas. Ia mengambil pelantang dan hendak memberikan komentar. Saat itu suasana kelas sedikit bising, dan dua orang panitia kelas yang sedang sibuk memverikasi berkas dua orang peserta di sudut depan kelas tidak menyadari kehadiran sang pembicara yang memulai komentarnya. Merasa suaranya tidak diindahkan, pada kali kedua ia langsung menghampiri, menarik, dan meremas kertas yang dipegang salah satu panitia, seraya mengeluarkan kata-kata peringatan dengan suara yang keras dan membentak. “Belum diam juga! Kalau ada orang yang berbicara di depan, Anda harus mendengarkan!”

Wajahnya yang gelap semakin memerah oleh amarah. Seluruh kelas langsung senyap dan atmosfer ketegangan dapat terasakan di sana. Sang pembicara pun melanjutkan dengan memperingatkan peserta bahwa tidak boleh ada komputer jinjing yang masih terbuka ketika ia berbicara, atau ia akan membuangnya. Insiden itu berlangsung selama dua hingga tiga menit, lalu ia melanjutkan komentarnya tentang presentasi peserta sebelumnya seperti tak pernah terjadi apa-apa. Business as usual. Mungkin hal itu insiden yang biasa saja, kalau saja sang pembicara bukanlah seorang profesor senior ternama, yang setelah menginterupsi kelas tanpa permisi, menyerang panitia secara verbal, dan merampas berkas, dengan entengnya memberikan wejangan tentang etika di kelas tersebut. Ia juga memberikan contoh tentang bagaimana seorang guru melanggar etika ketika guru tersebut menyatakan bahwa program pelatihan yang saat itu diikuti oleh guru tersebut hanyalah membuang-buang waktu dan anggaran. Ironis sekali. Namun, bukan masalah etika yang hendak dibahas dalam tulisan ini melainkan sebuah upaya refleksi diri: seberapa jauhkah gelar akademis yang dimiliki seseorang memengaruhi tindak tanduk dan tingkah laku orang tersebut secara sadar atau tidak?

Gelar Akademis
Gelar akademis adalah gelar yang diberikan kepada lulusan pendidikan akademis bidang studi tertentu dari suatu perguruan tinggi. Gelar untuk orang yang telah lulus sarjana bermacam-macam, yakni S.T, S.Si., S.Ked., S.E., S.Sos. Gelar untuk orang yang telah menempuh S2 adalah M.T., M.Sc., M.Si., MBA., M.Ag., dan lain-lain. Untuk orang yang telah menempuh program pendidikan S3, gelarnya adalah Dr. atau Ph.D. Walaupun profesor bukanlah gelar akademis (melainkan jabatan akademis), jabatan ‘profesor’ seolah menjadi puncak pencapaian akademis yang bisa dicapai seseorang, sehingga ia akan menambah nilai prestise bagi siapapun yang menyandangnya. Pertanyaannya adalah apakah kita ‘membawa’ gelar-gelar tersebut ke dalam ranah kehidupan kita di luar lingkungan akademis? Bilamana esok hari kita resmi menyandang gelar master, apakah kita akan mengubah cara berkomunikasi kita dengan orang lain sesuai dengan gelar tersebut? Apakah kita akan memandang secara ‘berbeda’ orang-orang dengan gelar akademis di bawah kita hanya dalam waktu satu hari karena kemarin kita masih sarjana S1 dan esok hari kita bergelar master? Apakah cara berjalan kita akan berubah pula, menjadi lebih gagah? Seberapa besarkah ego kita akan dimanjakan oleh gelar sarjana, master, doktor atau jabatan profesor? Lulus SMA saja membawa kegembiraan dan kebanggaan yang begitu meluap-luap bagi kebanyakan siswa SMA. Lalu bagaimana dengan kelulusan pada tingkat sarjana, magister, doktoral, ‘profesor’?

Bilamana kita berada dalam suatu forum kajian akademis, akankah kita dapat berargumentasi secara rasional dan sanggup mengakui bila opini atau argumen kita salah, dan bukannya terus membabi buta mempertahankan reasoning kita yang telah terbukti tidak tepat? Just for the sake of our ‘academic-degree’ ego? Tentu saja berbangga diri pada taraf tertentu atas pencapaian akademis kita adalah wajar dan manusiawi. Tidak semua orang bisa menyandang gelar-gelar akademis tersebut.
Akan tetapi, ketika rasa berbangga diri akan gelar akademik tersebut sebegitu besarnya sehingga dapat mengubah kepribadian dan tingkah laku seseorang secara negatif, hal inilah yang patut kita hindari dan waspadai. Setelah kita menyadari  potensi sisi gelap (the dark side) gelar akademis, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kita tetap menjadi ‘manusia utuh’ tanpa tercemari oleh ego gelar akademis yang eksesif itu? Jawabannya adalah tetap “eling” (sadar diri).

Dalam setiap situasi kita harus secara sadar mengevaluasi diri apakah hal-hal yang sedang kita lakukan dan katakan sesuai dengan nilai-nilai dan integritas diri sendiri atau sudah terpengaruhi oleh ego. Ini bukanlah hal yang mudah tentunya karena pikiran kita harus benar-benar jujur kepada diri sendiri, sementara ego pribadi yang seyogianya harus kita hancurkan akan terus menghalang-halangi upaya ini.
Meskipun demikian, perlu diingat practice makes perfect. Kembali kepada ilustrasi di awal tulisan ini. Secara jujur, bisakah kita bertindak lebih sopan dan beretika jika kita adalah pembicara tersebut, merasa begitu marah karena kurang diindahkan di sebuah kelas yang bising?  [ ]


Leave a Reply