Hoax dan Literasi Kita

  • 0

Hoax dan Literasi Kita

Fathur Rohim

Widyaiswara Bahasa Inggris

PPPPTK Bahasa

 

 

Era media sosial (medsos) sekarang ini memberikan anugerah kepada kita berupa kecepatan informasi dan keragaman konten sehingga citizen journalism berjalan nyaris sempurna. Setiap orang memiliki kesempatan untuk berbagi informasi dengan sangat mudah. Kecepatan medsos inilah menjadikan ciri khas sehingga media mainstream dirasa kalah cepat.Namun,kecepatan informasi media ini sering mengorbankan sisi akurasi konten. Hal ini terjadi karena mekanisme cek ricek berjalan jauh di belakang kecepatan penyebaran informasi. Melihat celah ini, penyajian informasi yang dikemas dengan mencampurkan antara fakta dan opini, palsu dan asli, bohong dan benar, serta didasari motif atau intensi tertentu sesuai dengan tujuan yang diinginkan menjadi sangat marak. Informasi jenis inilah yang kemudian disebut hoax.

Karena terkait dengan intensi, entitas hoax menjadi relatif sulit dipetakan karena memiliki varian yang bermutasi sesuai konteks ruang waktu dan kecanggihan dalam melakukan fabrikasi informasi. Berawal dari motif ekonomi untuk melakukan penipuan yang meyakinkan, kini hoax sudah jauh merambah motif politik, sara, dan candaan. Informasi hoax dalam kadar tertentu menjadi bagian “social entertainment”,misalnya penyebutan banjir dengan “genangan”yang kemudiantersebar dalam bentuk ribuan memeberlatar gambar dan penambahan kata yang beragam. Meme tersebut menjadi candaan sehingga bila dikirim ke teman hanya untuk menunjukkan keakraban hubungan. Namun, hoax dapat mengarah pada bahaya dengan mengatasnamakan figur tertentu dengan sebuah pernyataan yang digunakan untuk memberi kesan adanya dukungan, atau juga membuat berita bohong tapi meyakinkan.

Hoax yang dalam kadar tertentu mengarah ke level yang memiliki daya rusak inilah yang sekarang menjadi perhatian semua orang, dari presiden, menteri, kepala daerah, tokoh, akademisi, hingga masyarakat umum. Hal ini karena hoax bisa berisi ujaran yang mengandung kebencian (hate speech) sehingga mungkin saja masyarakat memiliki persepsi dan tindakan yang salah karena bersumber dari informasi yang tidak akurat. Bahkan, keprihatinan ini menjadi masalah yang kompleks sehingga ada penyebutan bahwa negara kita sudah masuk fase “darurat hoax”. Hal inijugamenjadi keprihatinan masyarakat dunia. Masalah ini juga dipusingkan oleh para pendiri Facebook dan Twitter, yang menjadi kanal utama penyebaran hoax. Tulisan ini mencoba mengajak diskusi tentang mengapa hoax mudah meluas dengan cepat sehingga menjadi keprihatinan bersama serta bagaimana strategi supaya kita bisa mendeteksi secara dini, sehingga dampak buruknya dapat diminimalkan.

 

Anatomi Hoax

Kajian yang dilakukan oleh Wikimedia Research pada 2015 mengilustrasikan disinformasi, misinformasi, dan hoax dalam sebuah garis kontinum informasi salah (false information). Disinformasi merupakan bentuk kebohongan yang disengaja untuk menggelincirkan; misinformasi adalah bentuk informasi yang memang salah; sedangkan hoax berada di antara keduanya sebagai bentuk informasi salah, ataupun sebagian salah, yang dikemas seakan-akan benar untuk menggelincirkan audience pada tujuan yang diharapkan.

Hoax bukan sesuatu yang baru muncul dalam kehidupan manusia. Adam dan Hawa adalah manusia pertama yang menjadi korban informasi hoax yang disampaikan oleh iblis dengan membisikkan “Tuhanmu melarang kamu berdua untuk mendekati pohonini agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadipenghuni yang kekal di dalam surga”(QS AlA’rof [7]:20). Pada zaman Rasulullloh SAW, berita hoax juga banyak terjadi. Rumor yang paling keji adalah haditsulifki, kabar bohong yang menimpa istri Nabi Muhammad SAW yang dituduh melakukan tindakan tidak terpuji ketika dirinya tertinggal dari rombongan perang yang sedang kembali menuju Madinah. Isu hoax yang keji ini mendapat bantahan dari Alloh SWT, sekaligus peringatan keras dengan firman “Sungguh orang yang menuduh perempuan-perempuan baik, yang lengah dan beriman (dengan tuduhan zina), mereka dilaknat di dunia dan di akhirat, dan mereka akan mendapatkan siksa yang sangat besar.”(QS An Nur[24]: 23).

Sekarang ini, informasi hoax dapat dimunculkan sebagai bagian dari strategi pemasaran dan iklan produk. Hoax sering dimaksudkan untuk bercanda, mempermalukan orang, ataupun memprovokasi perubahan sosial politik dengan menarik perhatian masyarakat. Abdullah Gymnastiar juga menjadi korban hoax yang seakan-akan dengan akun Twitter-nya lengkap dengan profile picture serta tanda verified account dari Twitter yang memberikan kutipan sebagai justifikasi terhadap pihak tertentu pada tanggal 8 Februari 2017. Dalam satu hari sudah di-retweet oleh ribuan followers sehingga tanggal 10 Februari 2017 diklarifikasi bahwa berita itu sebagai twitter hoax, dan dikatakan berita itu bersumber dari tulisan orang yang tidak menghormati dan suka menfitnah ulama.

 

Hoax dan Literasi Masyarakat

Ditengarai ada 800 situs daring penyebar hoax di indonesia (CNN Indonesia, 29 Desember 2016) belum lagi media sosial yang sangat mudah diakses sekaligus digunakan untuk berbagi dengan kecepatan luar biasa. Tidak heran bila hoax ini menyebar begitu cepat dan masif. Menjamurnya situs daring penyebar hoax dan meluasnya penggunaan medsos untuk menyebarkan hoax di masyarakat disebabkan memang masih rendahnya kemampuan untuk melakukan analisis kritis. Analisis kritis ini sangat mendasar dalam menyaring mana konten yang kredibel dan mana yang sampah. Jika masyarakat memiliki analisis kritis, situs penyebar hoax tidak akan mendapatkan tempat. Penyebaran hoax via medsos juga tidak terjadi dalam masyarakat karena hanya informasi valid yang diteruskan sedangkan informasi yang tidak kredibel akan terkubur dengan sendirinya.

Kemampuan literasi sebagai terminologi yang lebih luas dari analisis kritis sering digunakan untuk merujuk bagaimana hubungan penyebaran hoax dan kemampuan literasimasyarakat. Literasi yang perlu dimiliki oleh masyarakat sebenarnya literasi dasar yang terkait dengan kemampuan membaca, mencerna, mengintegrasikan, mengolah, dan menyimpulkan informasi. Kemampuan ini perlu dimiliki oleh anak dan orang dewasa. Literasi ini menjadi penting sebagai syarat utama untuk menangkal hoax. Melalui kemampuan literasi yang baik, masyarakat memiliki pemahaman lebih baik terhadap suatu informasi. Dengan melihat indikator tingkat literasi kita, hal ini bisa dikaitkan dengan hasil PISA siswa kita yang menunjukkan, ketika memahami informasi eksplisit, siswa kita bisa merespons dengan baik. Mereka mulai menghadapi kesulitan bila meresponsinformasi yang membutuhkan interpretasi. Kemampuan siswa kita turun drastis ketika siswa diminta untuk menggabungkan informasi teks, angka, grafik, dan gambar. Bahkan, hanya sedikit sekali siswa yang mampu mengevaluasi dan menyimpulkan suatu informasi.

 

Menangkal Hoax

Ada enam hal yang dapat dilakukan agar kita dapat menangkal hoax. Pertama, jangan mudah percayaterhadap informasi yang kita terima. Tampaknya sikap skeptis terhadap sesuatu adalah tindakan awal yang sangat penting karena dengan sikap skeptis inilah kita menjadi lebih reflektif dan tidak terlalu emosional dalam merespons informasi yang kita terima. Meskipun ada pepatah “seeing is believing” saat kita mendapati foto tertentu; kita tetap harus berhati-hati karena berita hoax sekarang banyak melalui reproduksi foto dengan bantuan Photoshop. Kedua, mengecek sumber informasi secara memadai agar kita bisa mendeteksi kredibilitas sumber itu. Dengan search engine sekarang ini, mengecek informasi menjadi sesuatu yang sangat mudah dan dapat diselesaikan dalam hitungan detik. Karena informasi itu dengan mudah bisa kita cek dengan Google Search. Bila informasi yang kita dapatkan dalam bentuk gambar, reverse image tools menjadi peranti yang paling sederhana. Dengan menggunakan Google Image, kita akan mengetahui kapan foto itu diproduksi. Bila foto itu adalah hasil capture, ia akan disandingkan dengan foto-foto produksi sebelumnya, sehingga dengan mudah kita dapat mendeteksi keaslian gambar tersebut. Youtube Dataviewer juga sangat berguna bila kita ingin mendeteksi scrapes suatu video. Scrapes di Youtube menunjukkan video lama yang telah diunduh dan diunggah ulang dengan mengklaim sebagai video mutakhir. Foto, video, dan audio yang diambil dengan kamera digital atau smartphone juga mengandung informasi Exchangable Image File (EXIF). Ini merupakan metadata yang penting terkait kamera yang digunakan, tanggal, waktu, dan lokasi pengambilan. Informasi ini sangat fundamental untuk mendeteksi keaslian produk tersebut.

Ketiga, membaca keseluruhan informasi secara komprehensif, jangan hanya membaca judulnya saja yang sering bombastis. Terkadang informasi hoax memang sudah didesain dengan sangat menarik. Pembuat informasi hoax senang bermain dengan judul informasi yang memberi kesan tajam. Namun, kemasan itu hanya di judul, sedangkan isi informasi tetap sehingga terkadang tidak nyambung bila kita baca secara keseluruhan. Untuk mendeteksi informasi hoax jenis ini, kita harus membaca judul dan isi informasi tersebut sehingga kitamudah melihat konsistensi alur berpikir informasi itu. Keempat, jangan ikut-ikutan untuk menyebarkan informasi bila kita tidak terlalu yakin dengan kredibilitas informasi tersebut. Motto“Think before you share” menjadi sangat fundamental untuk kita pegangi; karena bila kita ikut menyebarkan kepada teman kita, teman tersebut mungkin menganggap bahwa kita sudah melakukan verifikasi informasi tersebut. Dan inilah awal mata rantai setan (vicious circle) yang sukar dihentikan.

Kelima, bersama mengembangkan masyarakat yang kritis (critical mass). Pengembangan masyarakat kritis dapat dimulai dari rumah. Orang tua sebaiknya menempatkan diri sebagai pendamping anak dalam belajar dan memberi fasilitas untuk menggali sumber informasi. Orang tua hendaknya tidak memosisikan diri sebagai sosok yang paling tahu dalam konteks penerapan nilai-nilai hidup. Orang tua berperan sebagai pemberi contoh. Di sekolah, guru juga bisa mengembangkan literasi dengan tidak menerapkan pembelajaran yang dogmatis, membiasakan perbedaan di kelas, membiasakan siswa untuk mencari sumber informasi, berdiskusi dan berdebat secara positif. Keenam, mendorong media mainstream untuk menyaring informasi hoax melalui cek ricek terhadap kabar ataupun opini yang sedang menjadi viral. Detikcom sering melakukan klarifikasi apakah suatu kabar viral itu hoax atau tidak. Ini merupakan ikhtiar yang bagus karena membantu mesyarakat untuk menjernihkan dan klarifikasi terhadap informasi viral yang berkembang. Media mainstream yang lain perlu berkontribusi dalam melakukan cek ricek informasi yang berkembang. Bila hal ini bisa dilakukan, media mainstream akan tetap memiliki tempat di hati masyarakat di tengah pesatnya perkembangan medsos sekarang ini.

 

Penutup

Sebaiknya jangan hanya meneruskan begitu saja segala informasi yang ada tanpa mengecek kesahihan informasi. Bila anda masih mencari kebenaran atau tidak begitu yakin dengan informasi tersebut, sebaiknya tahan dulu dari penyebarannya. Jika memang informasi tersebut sahih, penyebaran informasi kepada teman lain dengan menyebutkan sumber dapat meningkatkan legitimasi informasi yang kita sampaikan. [ ]

 

Rujukan

Brunvand, Jan H. 2001. Encyclopedia of Urban Legends. W. W. Norton & Company

Walsh, Lynda. 2006. Sins Against Science: The Scientific Media Hoaxes of Poe, Twain, And Others. State University of New YorkPress

Hancock, Peter. 2015. Hoax Springs Eternal: The Psychologyof Cognitive Deception. Cambridge U.P. pp. 182–195. 

Wemple, Erik (8 December 2016), “Facebook’s Sheryl Sandberg says people don’t want ‘hoax’ news. Really?”, The Washington Post.

 


Leave a Reply