KELAS KEMAHIRAN MENULIS DALAM DIKLAT PENINGKATAN SKOR TOEFL

  • 0

KELAS KEMAHIRAN MENULIS DALAM DIKLAT PENINGKATAN SKOR TOEFL

Gunawan Widiyanto

Widyaiswara Bahasa Inggris

PPPPTK Bahasa

 

 

Kemahiran berbahasa asing merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh pelamar beasiswa, utamanya beasiswa luar negeri. Disadari, nama bahasa asing itu tidak jarang berkaitan rapat dengan negara yang hendak dituju oleh pelamar beasiswa. Sebagai misal, bagi yang hendak melanjutkan pendidikan lanjut ke Korea, pelamar dipersyaratkan mengikuti uji kemahiran berbahasa Korea dengan menempuh TOPIK (Test of Proficiency in Korean). Bagi yang hendak belajar ke Australia, uji kemahiran berbahasa Inggris IELTS adalah syarat yang diminta oleh pemberi beasiswa. Bagi warga negara asing yang hendak belajar di Indonesia pun, disyaratkan menempuh UKBI, uji kemahiran berbahasa Indonesia. Negara-negara yang bahasa resminya Arab tentu juga mensyaratkan TOAFL bagi calon penerima beasiswa. Demikian pula, bagi yang hendak belajar ke Eropa dan Amerika, mengikuti TOEFL dengan capaian skor tertentu menjadi kenyataan yang niscaya dan tidak terelakkan. Berbicara tentang TOEFL jelas akan menyinggung sentuh bidang kemahiran yang diujikan di dalamnya. Format bidang uji dalamnya misalnya, pada awalnya hanya mencakupi tiga kemahiran dan pengetahuan yang diujikan, yakni (1) pemahaman menyimak (listening comprehension), (2) struktur dan ungkapan tulis (structure and written expression), dan (3) pemahaman bacaan (reading comprehension).

Seiring dengan perkembangan teknologi dan kondisi kekinian, format TOEFL pun menyesuaikan. Penyesuaian itu merambah baik jenisnya maupun bidang yang diujikan. Jenisnya tidak hanya berformat manual berbasis kertas (paper-based) tetapi juga berbasis internet (internet-based). Bidang kemahiran yang diujikan pun mencakupi menulis (writing) juga. Berkenaan dengan kemahiran menulis, penulis pernah diberi amanat akademik untuk mengampu kelas menulis dalam diklat peningkatan skor TOEFL yang diselenggarakan atas kerja sama antara PPPPTK Bahasa dan Yayasan Insancita Bangsa. Peserta diklat itu adalah calon penerima beasiswa luar negeri. Hemat penulis sebagai pengampu kelas kemahiran menulis saat itu, ada tiga hal yang menjadi titik tekan dalam kelas pembelajaran kemahiran ini. Tigahal inilah yang hendak penulis kongsi (share) dengan pembaca melalui tulisan ini.

Pertama, tugas menulis sebagai pekerjaan utama dalam kelas menulis penulis bagi menjadi tiga jenis sesuai dengan tiga periodisasi waktu pembelajaran, yakni awal, tengah, dan akhir. Tugas menulis pertama pada awal kelas bertujuan menjajaki dan mengetahui kemampuan dasar menulis peserta. Tugas ini bersifat individual dengan topik yang sama untuk semua peserta. Jadi, topik diberikan oleh penulis (pengampu). Dalam proses penulisan ini, topik memang jelas sama bagi semua peserta, tetapi cara mengungkapkan gagasan dan menuangkannya dalam bentuk tulisan jelas berbeda karena setiap peserta pasti memiliki personalisasi pengalaman dan rencana menulis yang berbeda. Setelah direvisi olehpengampu, tugas itu dikembalikan kepada peserta untuk diperbaiki sesuai masukan dan umpan balik dari pengampu. Dari revisi itulah diskusi mengemuka hingga sampailah pada bahasan materi teoretis mengenai proses pertama penulisan, yakni prapenulisan (pre-writing). Pertanyaan utama yang dilontarkan pengampu kepada forum adalah hal-hal apa sajakah yang dilakukan peserta diklat sebelum mulai menulis.

Tugas menulis keduapada pertengahan kelas menulis bersifat kelompok yang beranggotakan dua hingga tiga peserta dan bertujuan agar anggota kelompok bisa saling bertukar pikiran untuk memperkaya gagasan yang akan dituangkan dalam tulisan. Bagaimanapun, dalam tubuh setiap tulisan diperlukan banyak gagasan pendukung, dan gagasan pendukung sangat potensial bisa diperoleh dari hasil diskusi untuk saling memberi masukan dalam bentuk kelompok. Dalam penulisan tugas kelompok ini, peserta diberi dua opsi berkenaan dengan topik yang akan diusung. Opsi pertama adalah bahwa peserta bisa memilah, memilih, dan mengambil topik dari buku TOEFL. Opsi kedua adalah bahwa peserta diberi keleluasaan dan kebebasan untuk mencari dan menentukan topik sendiri di luar buku TOEFL, kendati tetap disarankan agar peserta mengambil topik tulisan dari buku TOEFL. Sebagaimana tugas menulis pertama, setelah dikoreksi; hasil revisi menulis dikembalikan kepada kelompok untuk diperbaiki berdasarkan masukan dan saran pengampu. Setelah itu, dibentangkan paparan teoretis mengenai proses kedua dalam penulisan, yakni hal-hal yang perlu dilakukan tatkala menulis (while-writing).

Sebelum memasuki tahap menulis ketiga atau terakhir, peserta diajak berdiskusi tentang proses ketiga penulisan, yakni pascapenulisan (post-writing) dengan pertanyaan utama adalah langkah apa saja yang perlu diayunkanusai menulis. Tugas menulis ketiga menjelang akhir kelas menulis kembali berformat individual. Idealnya, hasil karya penulisan akan optimal manakala tema tulisan bertali-temali dengan wilayah yang diminati, ditekuni, dan dikecimpungi oleh si penulis. Untuk mencapai atau minimal mendekati hal yang ideal itu, topik tulisan diserahkan sepenuhnya kepada para peserta diklat, yang datang dari berbagai disiplin ilmu. Tentunya, hasil karya penulisan peserta diharapkan bisa memperlihatkan kerangka berpikir yang sistematis dan pola penulisanyang tertata apik (well formed), yakni (a) pengantar atau pendahuluan, yang berisi satu atau beberapa paragraf pendahuluan (introductory paragraphs), (b) tubuh atau isi, yang mengandung beberapa paragraf pendukung (supporting paragraphs), dan (c) penutup atau simpulan, yang berisi paragraf penutup atau penyimpul (concluding paragraph).

Kedua, skema penilaian terhadap hasil kerja tulis (written work) berbasis pada lima butir penilaian dengan alokasi persentil (percentile allotment) seratus. Kelima butir penilian itu adalah (1) konten dan pengelolaan topik dengan alokasi 30 persen, (2) penataan gagasan yang mencakupi pengembangan alinea, kejelasan, kohesi, dan koherensi dengan jatah 25 persen, (3) tata bahasa yang meliputi kala, kesesuaian, struktur, dan tata urutan kata dengan alokasi 25 persen, (4) pemakaian kosakata dengan alokasi 10 persen, dan (5) pungtuasi atau ejaan dengan alokasi 10 persen.

Ketiga, secara umum, kemahiran menulis sepatutnya menjadi kemahiran paling sulit untuk diajarkan di antara keempat kemahiran berbahasa karena kemahiran ini secara karakteristik tidak hanya menghasilkan rekaman nyata atau bukti fisik (tangible records) yang menghendaki adanya perbaikan hasil kerja tulis secara berulang dan tak terbilang; tetapi juga mengandung keakuratan teknis dan kefasihan artistik. Pengalaman penulis setakat ini, kemahiran menulis juga menjadi sebuah kegiatan yang mengambil banyak masa (time consuming) untuk diajarkan. Betapa tidak, kelas kemahiran menulis dengan 20 peserta yang masing-masing menghasilkan karya akademik tiga hingga empat halaman bisa bermakna kerja tiada akhir dalam pembetulan, pemberian maklum balas (feedback), dan konsultasi individual. Di luar sesi kelas pembelajaran pun, penulis menyediakan diri dan membuka konsultasi bagi peserta selama proses menulis dari memilih topik hingga menyelesaikan (memoles) hasil kerja peserta.

Yang tidak kalah penting dan bahkan yang terutama, jika penulis boleh memberikan sumbang saran kepada pembaca; seorang pengampu kelas menulis seyogianya memiliki contoh tulisan hasil karya sendiri. Dengan demikian, ia tidak hanya berkecimpung dalam wilayah teoretis semata dengan hanya mengajar menulis. Idealisasinya memang, pengampu kelas kemahiran menulis minimal sudah menghasilkan (beberapa atau banyak) karya tulis, bahkan apabila perlu sudah terlatih menulis, sesederhana apapun hasil tulisan itu. Bagaimanapun, kemahiran menulis tidak sebatas memerlukan skema konseptual dan kerangka kerja teoretis tentang tata cara menulis belaka. Penerapan teori itu ke dalam praktik menulis secara nyata hingga berwujud hasil kerja tulis sebagai bukti fisik jauh lebih penting. Dan, menulis adalah persoalan keberlatihan secara berterusan hingga seseorang menjadi terlatih. [ ]


Leave a Reply