Konsep dan Jenis Frasa dalam Bahasa Arab

  • 0

Konsep dan Jenis Frasa dalam Bahasa Arab

Dedi Supriyanto

Widyaiswara Bahasa Arab

PPPPTK Bahasa

 

Pengantar

Istilah frasa dalam bahasa Indonesia kurang populer dalam bahasa Arab utamanya di kalangan para pengkaji nahwu (sintaksis/tata bahasa). Hal ini karena buku-buku sintaksis bahasa Arab pada umumnya tidak mengemukakan definisi tentang frasa. Bahkan tidak ada bab atau subbab yang menggunakan istilah frasa sebagai kepala pembahasan. Meskipun demikian, itu tidak berarti bahwa dalam bahasa Arab tidak ada konsep tentang frasa. Frasa dalam bahasa Arab dapat disamakan dengan istilah murakkab  (konstruksi). Dalam buku-buku nahwu banyak dibahas berbagai konstruksi yang pada dasarnya merupakan konstruksi frasa, misalnya: jar-majrur, na’at man’ut, dan idhafah. Selain itu, dalam Jami’ud Duruus Al-Arabiyyah karya  Al-Ghalayaini (1987) dikemukakan istilah murakkab yang mencakupi murakkab isnady dan beberapa murakkab lainnya, seperti murakkab athfy, murakkab idhafy, dan murakkab bayany. Berbagai murakkab selain murakkab isnady tersebut  pada dasarnya merupakan konstruksi frasa, dan murakkab isnady adalah konstruksi klausa (Asrori, 2004:3). Tulisan ini memaparkan konsep frasa dan  jenisnya. Pemahaman terhadap makna frasa dalam bahasa Arab dan pengetahuan tentang jenis-jenisnya diperlukan agar kita dapat menganalisis frasa dalam bahasa Arab dengan baik dan benar, serta  tidak salah menggunakannya dalam penerjemahan.

 

Konsep Frasa

Ada beberapa pengertian frasa dalam pandangan para pakar bahasa. Ramlan (1981:16) menyatakan bahwa frasa adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih dan tidak melebihi batas fungsi. Senada dengan Ramlan, Ibrahim (1996:3) menyatakan bahwa frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi klausa. Cook (1971) dalam Tarigan (1986:25) membatasi frasa sebagai satuan linguistik yang secara potensial merupakan gabungan dua kata atau lebih, dan tidak mempunyai ciri-ciri klausa. Selanjutnya, Kridalaksana (1993:32) menyatakan bahwa frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif.  Sementara itu, frasa atau tarkib, sebagaimana dinyatakan oleh Hasanain (1984: 164-165), merupakan gabungan unsur yang saling terkait dan menempati fungsi tertentu dalam kalimat, atau suatu bentuk yang secara sintaksis sama dengan kata tunggal, dalam arti gabungan kata tersebut dapat diganti dengan satu kata saja. Dengan memakai istilah  ibarah, Badri (1986: 28) menyatakan bahwa frasa adalah konstruksi kebahasaan yang terdiri atas dua kata atau lebih, hubungan antarkata dalam konstruksi itu tidak predikatif, dan dapat diganti dengan satu kata saja.

Dari batasan frasa tersebut, dapat dinyatakan bahwa frasa adalah gabungan dari unsur-unsur yang saling berkaitan karena mempunyai peran yang sama dalam kalimat atau menduduki posisi yang sama dalam sintaksis, unsur-unsurnya bisa diganti dengan isim (fi‘l). Secara subtansial tidak ada perbedaan antardefinisi tersebut, karena setiap definisi menetapkan dua hal. Pertama, frasa merupakan satuan gramatik yang terdiri atas dua kata. Kedua, hubungan antarunsur pembentuknya tidak melebihi batas fungsi unsur klausa.  Perhatikan contoh-contoh berikut.

(1)  إله النّاس Tuhan manusia

(2)  مالك يوم الدين  raja hari pembalasan

(3) الرجل الكبير الذى فى الصف lelaki besar yang ada di baris depan

Dari ketiga contoh tersebut, dapat dilihat bahwa meskipun berbeda jumlah kata yang membentuknya, ketiganya berada dalam tataran frasa, artinya unsur unsur yang membentuk setiap konstruksi di atas tidak ada yang berhubungan secara predikatif. Selain berbeda jumlah katanya, unsur pembentuk ketiga frasa di atas pun berbeda. Konstruksi pada contoh (1)  merupakan frasa yang terdiri dari dua unsur yaitu kata إله (Tuhan) dan kata  الناس  (manusia). Konstruksi pada contoh (2) merupakan frasa yang terbentuk dari dua unsur yaitu kata مالك  (raja) dan frasa يوم الدين  (hari pembalasan). Adapun konstruksi pada contoh (3) merupakan frasa yang terbentuk dari dua unsur yang sama sama berupa frasa yaitu frasa الرجل الكبير ( lelaki besar) dan frasa    الذى فى الصف (yang ada di baris depan). Jadi unsur pembentuk frasa dapat berupa kata atau frasa.

 

Jenis frasa

Frasa dapat dikelompokkan berdasarkan (a) tipe strukturnya, (b) kesamaan distribusinya dengan golongan kata, dan (c) unsur pembentuknya. Berdasarkan tipe strukturnya, Ramlan (1981) dan Tarigan (1986) mengelompokkan frasa menjadi dua, yakni frasa endosentris ( غير محضة) dan frasa eksosentris  ( محضة). Frasa endosentris adalah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan salah satu atau semua unsurnya. Tarigan mendefinisikannya sebagai frasa yang mempunyai hulu (pusat atau pokok). Artinya salah satu unsur frasa tersebut merupakan hulu, dan sebagai unsur pusat ia mempunyai kesamaan distribusi dengan frasa. Sebagai contoh, frasa  الطالب الماهر pada klausa  الطالب الماهر ناجح mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, yaitu   الطالب.  Jadi, الطالب merupakan unsur pusat dan الماهر  merupakan atribut. Frasa eksosentris adalah frasa yang tidak mempunyai kesamaan distribusi dengan salah satu unsurnya. Misalnya,  frasa  أمام المدرسة pada konstruksi   الأولاد يلعبون أمام  المدرسة  tidak mempunyai distribusi yang sama dengan unsur unsurnya. Berdasarkan kesamaan distribusinya dengan kategori kata, frasa dikelompokkan menjadi dua jenis, yakni frasa verbal (murakkab fi’ly) dan frasa nonverbal (murakkab ghair fi’ly). Frasa nonverbal dikelompokkan lagi menjadi tiga jenis, (1) yakni frasa nomina (murakkab ismy), dengan contoh الرياضة البدنية مفيدة جدا ; (2) frasa ajektival (murakkab washfy), dengan contoh  الهواالبارد جدا فى هذا اليوم; (3) frasa adverbial (murakkab zharfy), dengan contoh  الشمش تسير إلى الغرب

(Badri, 1986:28)

Berdasarkan unsur pembentuknya, frasa bahasa arab dapat dikelompokkan menjadi 25 jenis, yakni (1) frasa sifat (na’ty), dibentuk oleh nomina sebagai unsur pusat diikuti oleh adjektiva sebagai na‘at (atribut), dengan contoh أخى يجلس فى الصف الثانى;  (2) frasa athfy (koordinatif), berunsurkan nomina diikuti oleh nomina atau verba diikuti oleh verba atau adjektiva diikuti oleh adjektiva, dengan contoh  أتعبم القراءة و الكتاب; (3) frasa badaly (apositif), terdiri atas nomina satu diikuti oleh nomina kedua, dengan contoh جاكرتا عاصمة إندونيسيا مدينة عصرية; (4) frasa zharfy (adverbial), mengandung unsur keterangan, dengan contoh جئت من سورابايا مساء أمسى ; (5) frasa syibhul jumlah (preposisional), berunsurkan preposisi yang dalam bahasa Arab disebutharf jar sebagai penanda diikuti nominal sebagai petanda, dengan contoh أنتظرك أمام المدرسة; (6) frasa manfy (negasional), terdiri atas penegasi yang diikuti oleh verba dan nomina, dengan contoh  الجاهل لا يعرف الجو; (7) frasa syarthy (syarat), berunsurkan penanda syarat sebagai atribut diikuti verba sebagai unsur pusat, dengan contoh  إذا جاء نصر الله; (8) frasa tanfis, tersusun dari verbal sebagai unsur pusat dan didahului oleh penanda waktu tanfis, dengan contoh سوف يحضر الوفد; (9) frasa tauqitat, berunsurkan verba bantu ﻜﻧﺎ dan yang sejenisnya sebagai atribut diikuti oleh verba maupun non verba sebagai unsur pusat, dengan contoh صار أخى يعمل فى هذا البنك; (10) frasa idhafy, berunsurkan nomina dan diikuti oleh nomina, dengan contoh ما عنوانك ؟ ; (11) frasa adady (numerial), berunsurkan bilangan atau adady sebagai unsur pusat diikuti oleh nominal sebagai atribut, dengan contoh أرورك ثلاث مرات ; (12) frasa nida’iy, terdiri atas kata seru (nida‘) sebagai atribut dan diikuti oleh nomina sebagai unsur pusat, dengan contoh أيها الناس اسعوا وعوا ; (13) frasa isyary, berunsurkan nomina sebagai unsur pusat didahului oleh penunjuk (isim isyarah) sebagai atribut, dengan contoh هذه المحفظة لك ; (14) frasa tawkidy, terbentuk dari nomina sebagai unsur pusat diikuti atribut berupa tawkid atau penegas, dengan contoh لقيت محمد نفسه ; (15) frasa mawshuly, di dalamnya mengandung kata sambung (almaushul), dengan contoh الذى ينام فى الفصل جاهل; (16) frasa mashdary (mashdar), terdiri atas penanda masdhar ﺃﻦ/an/ sebagai atribut diikuti oleh verba sebagai unsur pusat, dengan contoh أستطع أن أقرأ اللغة العربية ; (17) frasa tamyizy, berunsurkan mumayyaz, dengan contoh إندونيسيا أكبر البلاد الإسلامية سكانا; (18) frasa istitsna’iy, terbentuk dari pengecualian sebagai atribut diikuti oleh nominal sebagai unsur pusat, dengan contoh لا ريب سوى الله; (19) frasa bayany, berunsurkan dua nomina yang dipisahkan oleh huruf  ﻤﻦ (min), yang nomina pertama berfungsi sebagai atribut diikuti oleh nomina kedua sebagai unsur pusat, dengan contoh شربت كوببا من العصير; (20) frasa naskhy, berunsurkan nomina sebagai unsur pusat didahului oleh penanda naskhy, dengan contoh لعل الأستاذ يحضر; (21) frasa ikhtishashy, berunsurkan dua nomina yaitu nomina satu sebagai unsur pusat dan nominal dua sebagai pengkhusus. Sebagai pengkhusus, nomina dua ber‘irab mansub, dengan contoh نحن المسلمون أمة واحدة; (22) frasa taajjuby, mengandung unsur ta’ajub atau kekaguman, dengan contoh ماأجمل هذا المنظر; (23) frasa muqarabat, berunsurkan verba sebagai unsur pusat dan didahului oleh verba bantu muqarabat yang bermakna “hampir”, dengan contoh كاد يمضر الوقت; (24) frasa syuru’, berunsurkan verba sebagai unsur pusat dan didahului oleh verba bantu syuru’ sebagai atribut, dengan contoh بدأت تتحرك الحافلات; dan (25) rasa raja’ (kata kerja raja), berunsurkan verba ﻨﺪﺮﻚ  sebagai unsur pusat dan didahului verba bantu raja‘ﻋﺴﻰ  sebagai unsur pusat, dengan contoh عسى أن ينفعنا دعاءك

 

Penutup

Sebagai penutup, ada lima hal yang bisa disarikan dari tulisan ini. Pertama, frasa berbeda dengan klausa. Kedua, frasa adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang bersifat tidak predikatif atau tidak melampaui batas fungsi klausa. Ketiga, berdasarkan tipe strukturnya, frasa dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu frasa endosentris dan frasa eksosentris. Keempat, berdasarkan kesamaan distribusinya dengan kategori kata, frasa dikelompokkan menjadi lima jenis, yaitu frasa verbal, frasa nominal, frasa adverbial, frasa bilangan, dan frasa depan. Kelima, berdasarkan unsur pembetuknya terdapat 25 jenis frasa. [ ]

 

Referensi

Asrori, Imam. 2004. Sintaksis Bahasa Arab Frasa, Klausa, Kalimat. Malang: Misykat

Badri, K.I. 1986. Bunyatu-l Kalimah wa Nuzhau-l Jumlah (Diktat Perkuliahan Diploma) Jakarta: LIPIA

Hasanain, S.S., 1984. Dirasat fi ilmi-l lughah al Washfy wa At-Tarikhiy, wa Al- Muqaran. Riyadh: Darul Ulum li Thiba’ah wa an-Nasyr.

Kriadalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistic. Jakarta: Gramedia.

Ramlan, M. 1981. Sintaksis. Yogyakarta: Karyono.

Samsuri. 1995. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga.

Tarigan, H.G. 1986. Pengajaran Sintaksis. Bandung: Angkasa.


Leave a Reply