Kontribusi Potensi Unggul Daerah dalam Pengembangan Mata Pelajaran Muatan Lokal di Kabupaten Bone Bolango

  • 0

Kontribusi Potensi Unggul Daerah dalam Pengembangan Mata Pelajaran Muatan Lokal di Kabupaten Bone Bolango

 

Widiatmoko

Widyaiswara Bahasa Inggris

PPPPTK Bahasa

 

 

Pengantar

Kabupaten Bone Bolango memiliki luas wilayah 1.984,58 kilometer persegi yang terdiri atas 18 kecamatan dan 166 kelurahan/desa. Batas-batas wilayahnya adalah: Kabupaten Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara) dan Kabupaten Gorontalo Utara di sebelah utara, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan di sebelah timur, Kota Gorontalo dan Teluk Tomini di sebelah selatan, dan Kecamatan Telaga, Kota Selatan, dan Kota Utara di sebelah barat. Kabupaten Bone Bolango sebagaimana Provinsi Gorontalo terkenal karena keunggulan lokal budidaya tanaman jagung. Kabupaten ini turut memberikan kontribusi pada produksi jagung di provinsi. Pada 2013 produksi jagung di provinsi ini berjumlah 9.681 ton. Jumlah ini menurun dibandingkan pada 2012 yang mencapai 10.174 ton. Produksi ini berasal dari luas lahan 2.317 hektare lahan yang ditanami jagung (http://regionalinvestment.bkpm.go.id). Sebagai wilayah dengan komoditas jagung, provinsi ini sejak Januari hingga Juni 2015 telah mengekspor jagung ke berbagai negara, seperti ke Malaysia, Filipina dan Korea Selatan dengan total ekspor mencapai 91.500 ton atau senilai Rp 307 miliar. Hal tersebut didukung oleh informasi yang disampaikan oleh tokoh masyarakat pada saat wawancara. Menurutnya, produksi tanaman jagung merupakan karunia yang diberikan di Kabupaten Bone Bolango berupa tekstur tanah yang umumnya berupa ladang dan didukung oleh cuaca yang panas. Tanaman jagung sangat cocok untuk daerah ini. Informasi tersebut juga relevan dengan pengamatan langsung di lapangan yang dilakukan selama pengumpulan data.

 

Kontribusi Masyarakat terhadap Muatan Lokal

Keterlibatan masyarakat dalam pengembangan budidaya tanaman jagung telah merujuk pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah. Undang-Undang tersebut mengisyaratkan bahwa otonomi daerah  telah memindahkan sebagian besar kewenangan yang semula berada di pemerintah pusat kepada daerah otonom sehingga pemerintah daerah otonom dapat lebih cepat  merespons tuntutan masyarakat daerah sesuai dengan kemampuannya. Karena kewenangan membuat kebijakan dalam bentuk Peraturan Daerah sepenuhnya menjadi wewenang daerah otonom, pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan diharapkan dapat berjalan lebih cepat dan berkualitas. Pengembangan masyarakat tersebut segaris dengan rumusan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mendefinisikannya “as the process by which the efforts of the people themselves are united with those of governmental authorities to improve the economic, social and cultural conditions of communities, to integrate these communities into the life of the nations, and to enable them to contribute fully to national progress” (The Community Development Guidelines of the International Cooperation Administration, Community Development Review, December, 1996). Di sini, penekanan terletak pada proses yang usaha-usaha atau potensi-potensi yang dimiliki masyarakat diintegrasikan dengan sumberdaya yang dimiliki pemerintah daerah untuk memperbaiki kondisi ekonomi, sosial, dan budaya, dan mengintegrasikan masyarakat di dalam konteks kehidupan berbangsa, serta memberdayakan mereka agar mampu berkontribusi secara penuh untuk mencapai kemajuan pada tingkat nasional. Dalam konteks ini, pernyataan adanya keterlibatan masyarakat dalam pengembangan budidaya jagung disampaikan oleh para kepala sekolah yang melibatkan tokoh masyarakat dalam pemberian informasi mengenai budidaya tanaman jagung.

Masyarakat petani jagung secara aktif terlibat dalam pengembangan keunggulan lokal ini. Hal ini seperti dituturkan oleh salah seorang tokoh masyarakat di Kabupaten Bone Bolango. Rasa antusias masyarakat ditunjukkan mereka dalam rangka pengembangan keunggulan lokal ini yang diawali dengan penyemaian benih jagung bagi 4 kelompok tani yang menggarap lahan 25 hektaree. Dari lahan tersebut, dikembangkan sistem tumpang sari dengan memanfaatkan kompos yang berasal dari kotoran ayam. Dalam perkembangan selanjutnya, kelompok tani ini mengembangkan Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) dengan memberdayakan sekitar 25 orang petani selama 4 bulan untuk memanfaatkan lahan sehingga menghasilkan nilai ekonomi senilai 6-7 ton per hektaree. Jumlah ini tentu seiring dengan misi Provinsi Gorontalo yang terus memproduksi jagung, baik untuk konsumsi daerah maupun ekspor ke luar negeri.

Potensi lokal di daerah yang berupa budidaya dan pengolahan hasil panen tanaman jagung ini dilakukan oleh pemerintah daerah dalam rangka memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. Hal ini dikemukakan oleh staf Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Bone Bolango. Namun, dalam hal potensi daerah yang berupa budidaya tanaman jagung, belum menjadi kewajiban di setiap sekolah untuk menyelenggarakan pendidikan yang berfokus pada budidaya tanaman jagung sebagai pilihan muatan lokalnya.

 

Kontribusi Industri dan Lembaga Terkait terhadap Muatan Lokal

Masyarakat petani jagung didorong untuk memberikan kontribusinya dalam peningkatan pengetahuan budidaya jagung kepada sekolah. Sekolah didorong untuk melakukan kolaborasi dengan pemangku kepentingan. Sebagaimana disampaikan oleh Kepala SMKN Bone Bolango, ada kerja sama dengan Dinas Peternakan untuk ikut terlibat dalam peningkatan kompetensi siswanya. Wujud kerja sama ini adalah praktik kerja di industri. Siswa dibimbing oleh pihak dinas peternakan untuk menerapkan langsung keilmuan di bidang peternakan.

Untuk mengembangkan budidaya tanaman jagung, Pusat Informasi Jagung, sebuah unit pelaksana teknis daerah (UPTD), sejak 2006 turut  memainkan peran, yakni memberikan pelatihan dan pembelajaran budidaya tanaman jagung kepada siswa-siswa SMK. Setelah berubah nomenklatur menjadi Badan Pusat Informasi Jagung (BPIJ), di bawah Kementerian Pertanian, badan ini memberikan pelatihan tanaman jagung berikut dengan kurikulum dan materi pelatihan yang relevan dengan kebutuhan siswa sebagai peserta pelatihan. Pembelajaran diawali dengan teori sekitar 30% tentang budidaya tanaman jagung dan praktik sekitar 70% di lahan pertanian. Sejumlah 20-30 siswa per kelas diterjunkan ke lahan seluas 3 hektare untuk mengenalkan dan mempraktikkan budidaya tanaman jagung. Sekitar 50-60 varietas jagung dikenalkan dalam pelatihan ini. Pengolahan lahan tandus menjadi lahan subur dikenalkan juga. Hal ini dikemukakan oleh staf BPIJ. Dengan respons positif siswa, disarankan agar para guru yang mengajarkan mata pelajaran budidaya tanaman jagung memanfaatkan lembaga ini sebagai tempat untuk mengembangkan kompetensi diri yang berkaitan dengan budidaya tanaman jagung. Sekolah juga diusulkan agar mampu mengolah lahan tandus di halaman dan pekarangan sekolah menjadi lahan subur sebagai wujud implementasi pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya. Dengan demikian, keterlibatan pihak eksternal sekolah, baik industri maupun BPIJ mampu memberikan kontribusi positif bagi peningkatan sumber daya daerah dengan menjembatani pihak sekolah dan dunia industri yang menghasilkan nilai ekonomi.

 

Keunggulan Lokal sebagai Nilai Ekonomi

Di jenjang sekolah, pembekalan pengetahuan tentang budidaya jagung tidak dilakukan secara simultan di semua sekolah. Pemberian pengetahuan dan keterampilan tentang budidaya tanaman jagung di sekolah merupakan alternatif mata pelajaran muatan lokal selain budidaya tanaman hortikultura. Dalam hal ini, sekolah membekali siswa tentang kemandirian berwirausaha. Ini dilakukan dengan memberikan dorongan kemauan untuk mencoba memasarkan produk yang dikembangkan di sekolah kepada masyarakat sekitar. Hal ini dikemukakan oleh seorang guru SMK di Bone Bolango. Dari hasil penjualan tersebut, keuntungannya bisa dijadikan modal. Dengan demikian, masyarakat sekitar bisa merasakan manfaat dari pengembangan budidaya tanaman hortikultura di sekolah. Investasi yang diperoleh sesungguhnya tidak terletak pada seberapa besar keuntungan saat ini, tetapi pada proyeksi masa depan anak-anak. Mereka ditanamkan nilai-nilai positif untuk memanfaatkan nilai ekonomi dari keunggulan lokal di Kabupaten Bone Bolango. Pernyataan dari perwakilan kelompok tani jagung memperkuat upaya yang dilakukan sekolah. Yusuf, salah seorang dari kelompok tani jagung, menyatakan bahwa petani yang tergabung ke dalam kelompok tani jagung mampu menggarap lahan 25 hektare dengan melibatkan 25 orang petani yang dalam kurun waktu 4 bulan mampu menghasilkan panen 6-7 ton per hektare. Nilai ekonomi ini tentu sebanding dengan upaya yang dilakukan masyarakat petani jagung dalam memanfaatkan lahan kering menjadi lahan produktif.

 

Keunggulan Lokal di Sekolah

Dari data yang diperoleh melalui Focused Group Discussion, ditemukan rumusan kebijakan tentang mata pelajaran yang memuat keunggulan lokal di sekolah. Kebijakan pendidikan berbasis keunggulan lokal ini diterapkan di sekolah melalui mata pelajaran muatan lokal. Hal ini sebagai bagian dari muatan mata pelajaran dalam kurikulum. Muatan lokal yang diajarkan adalah budidaya tanaman jagung. Pemilihan mata pelajaran ini karena mempertimbangkan faktor alam pegunungan yang mendukung. Selain tanaman jagung, diajarkan budidaya tanaman sayur, tanaman tomat, dan kacang tanah. Hal ini dikemukakan oleh Lis, seorang guru SMKN. Di samping muatan lokal budidaya tanaman, sekolah  diperkenankan mengembangkan muatan lokal perikanan dan peternakan sapi, seperti terjadi di SMAN Bone Bolango.

Dalam pengembangan kurikulum, terlihat kebijakan sekolah yang dituangkan ke dalam rasional, antara lain pertimbangan kebutuhan kompetensi masa depan, tuntutan pembangunan daerah, dan tuntutan dunia kerja. Kandungan muatan lokal dikembangkan oleh sekolah sebagai mata pelajaran mandiri. Pengembangan materi dilakukan melalui adaptasi bahan yang diambil dari sumber internet. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dikembangkan dari silabus dengan memuat materi pembelajaran tentang keunggulan lokal, yakni budidaya tanaman jagung dan sumber belajar yang relevan dengan keunggulan lokal. RPP mata pelajaran Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura dikembangan oleh SMKN Bone Bolango. Hal ini juga berlaku di sekolah-sekolah yang mengajarkan mata pelajaran muatan lokal di SD, SMP, dan SMA. Sartin mengemukakan bahwa materi pelajaran muatan lokal diwujudkan ke dalam kegiatan ekstrakurikuler. Meskipun demikian, kegiatan ekstrakurikuler budidaya tanaman dikembangkan seperti mata pelajaran, yakni adanya materi, kegiatan, dan evaluasi. Lili dari SMAN 1 Tapa menambahkan informasi tentang pengembangan kurikulum, silabus dan RPP di sekolah yang mengajarkan mata pelajaran muatan lokal agrokompleks yang berupa pengembangan sapi, perikanan, dan tanaman. Demikian pula yang dilakukan di SMP yang dikemukakan oleh Marwah tentang mata pelajaran muatan lokal berupa budidaya tanaman jagung, di samping budidaya tanaman sayur.

Panduan pelaksanaan pendidikan berbasis keunggulan lokal memang tidak ditemukan di sekolah-sekolah yang menjalankan pembelajaran muatan lokal. Hal ini karena tidak adanya petunjuk teknis pelaksanaan yang disiapkan oleh Dinas Pendidikan atau Pemerintah Daerah. Meskipun demikian, sekolah telah memiliki mata pelajaran muatan lokal yang mengandung materi pengembangan keunggulan lokal. Jenis muatan lokal yang menjadi kebijakan sekolah adalah agrokompleks di SMA, budidaya tanaman jagung, budidaya tanaman hortikultura, dan tata boga di SMK. Untuk mengembangkan muatan lokal, sekolah telah menerapkan kebijakan berupa pengadaan tenaga pendidik yang jumlahnya cukup memadai, yakni seorang guru di SMP, 2 orang guru di SMA, dan seorang guru di SMK. Hal yang sama dilakukan di SD. Guru-guru tersebut kemudian mengembangkan kurikulum, silabus dan RPP sebagai pijakan pembelajaran di kelas. Dari dokumen kurikulum yang diamati, tercatat bahwa silabus dan RPP telah mengadopsi kebutuhan kurikulum dengan pendekatan ilmiah (scientific).

 

Pengembangan Kurikulum

Dalam rangka pencapaian visi, misi, dan tujuan, sekolah di Kabupaten Bone Bolango telah mengembangkan kurikulum dengan mencantumkan mata pelajaran muatan lokal. Pihak yang terlibat dalam pengembangan kurikulum berasal dari dalam sekolah sendiri, yakni para guru, khususnya guru pengampu mata pelajaran muatan lokal. Para guru setelah mengikuti pelatihan implementasi kurikulum menerapkan penyusunan RPP untuk kurun satu tahun pelajaran. Sekolah yang tidak memiliki sumber daya guru dengan latar belakang yang sama diambilkan dari mereka dengan latar belakang pendidikan yang setara atau relevan, sebagaimana dilakukan di SMAN 1 Tapa. Guru mata pelajaran muatan lokal berasal dari guru berlatar pendidikan biologi. Hal serupa dilakukan di SMKN Bolango Utara. Guru yang mengajarkan mata pelajaran muatan lokal agribisnis, tanaman pangan, dan hortikultura berasal dari guru mata pelajaran biologi. Selain mengembangkan silabus dan RPP, guru-guru tersebut berkonsultasi dengan tokoh masyarakat untuk mengembangkan isi materi pelajaran sehingga apa yang diajarkan di sekolah sejalan dengan kebutuhan di masyarakat.

 

Sumberdaya Guru

Secara umum, guru telah melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensinya. Kompetensi ini diperoleh melalui pengalaman alamiah yang dibekali oleh orangtuanya. Di samping itu, kompetensi guru diperoleh melalui pelatihan kurikulum sehingga guru tersebut mampu memadukan pendekatan pembelajaran ke dalam materi pelajaran muatan lokal budidaya tanaman. Pembelajaran diawali dengan penyiapan RPP dan silabus. Dari RPP kemudian dilaksanakan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran yang tercantum di RPP adalah scientific. Peserta didik direncanakan untuk diajak melakukan kegiatan pengamatan, menanya, bereksplorasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Meskipun tidak ada informasi tentang pelaksanaan pembelajaran, dari hasil pendalaman wawancara diperoleh informasi akurat khususnya dalam penyampaian materi ajar di kelas. Di sini tampak bahwa apa yang dituangkan di RPP relevan dengan pelaksanaan di kelas. Akurasi data ini didukung dengan hasil pengamatan pembelajaran di luar kelas. Hal ini tampak jelas dilakukan oleh siswa di SMKN Bolango Utara. Dominasi pembelajaran sekitar 70% dilakukan di luar kelas, yakni di lahan; sedangkan 30% pembelajaran dilakukan di dalam kelas. Dalam praktik lapangan, guru berkonsultasi dengan para tokoh masyarakat yang merupakan petani jagung. Dalam hal ini, guru difasilitasi sekolah melakukan kemitraan dengan tokoh masyarakat yang memahami budidaya tanaman jagung. Sekolah juga melakukan diskusi tentang kompos dengan pihak Universitas Negeri Gorontalo. Ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan tentang pengelolaan tanaman jagung.

 

Dukungan Sarana dan Prasarana

Dalam pengembangan budidaya tanaman jagung, sekolah secara umum memiliki kelebihan, yakni berada di daerah pegunungan yang mendukung. Namun, lahan untuk pengembangan budidaya sebagai wahana pembelajaran di sekolah terkendala oleh sempitnya lahan. Lahan untuk praktik pembelajaran terbatas pada lahan di sekolah. Tekstur tanah yang tandus belum maksimal dikembangkan untuk diolah menjadi lahan yang subur, bahkan beberapa lahan yang lain berwujud bebatuan. Untuk mengatasi masalah keterbatasan lahan di sekolah, Badan Pusat Informasi Jagung (BPIJ) menyediakan fasilitasi pelatihan dan pembelajaran jagung. UPTD ini menyediakan kurikulum budidaya tanaman jagung, termasuk materi ajarnya. Pembelajaran diawali dengan teori dan selanjutnya praktik di lahan seluas 3 hektare. Di sini, siswa dikenalkan tentang sekitar 50-60 varietas jagung, termasuk pengenalan pengelolaan lahan tandus.

 

Dukungan Sumber Pendanaan

Pelaksanaan pendidikan berbasis keunggulan lokal, khususnya pembelajaran muatan lokal di sekolah, berjalan secara wajar. Karena tidak ada regulasi yang mengikat anggaran untuk pengembangan di sekolah, pengayaan kegiatan pembelajaran dilakukan secara mandiri di sekolah. Khusus di SMKN Bolango Utara, sekolah sudah bekerja sama dengan pihak dunia usaha dan industri dalam hal praktik di lapangan atau praktik kerja industri. Dengan cara ini, sekolah telah diuntungkan dengan tidak mengeluarkan anggaran khusus. Acapkali sekolah hendak mengembangan kemitraan dengan masyarakat tani tentang budidaya tanaman jagung; tetapi ketika masalah dana dibicarakan, hambatan yang dijumpai adalah penganggarannya. Dengan kata lain, sangat sulit untuk mengajak masyarakat mendanai kegiatan pembelajaran yang terkait dengan budidaya tanaman jagung ini. Dengan hadirnya BPIJ, sekolah menyambut positif. Ke depan, sekolah akan mengirimkan guru ke UPTD ini untuk memperdalam dan mengembangkan kompetensi budidaya tanaman jagung. Hal ini dilakukan untuk mempercepat pengembangan kapasitas guru selain mengirimkannya ke PPPPTK.

 

Pengelolaan Mata Pelajaran Keunggulan Lokal

Pelaksanaan pembelajaran muatan lokal dilakukan oleh guru mata pelajaran yang berlatar bidang studi yang relevan. Hal ini diterapkan di SMAN 1 Tapa, Bone Bolango. Guru muatan lokal perikanan dan peternakan sapi berlatar pendidikan biologi. Guru mata pelajaran ini dinilai mampu mengajar mata pelajaran muatan lokal yang serumpun. Untuk meningkatkan kompetensi guru, dilakukan terobosan dengan mengirimkan guru untuk bertanya kepada masyarakat dan ketua komite sekolah untuk mendalami pembibitan. Di samping itu, sarana belajar dilengkapi dengan kegiatan praktik di lapangan. Siswa yang berasal dari Sekolah Menengah Kejuruan dikirimkan ke UPTD untuk belajar langsung tentang budidaya tanaman jagung. Sejak di bangku SD, pembelajaran menekankan penanaman rasa percaya diri tentang jiwa kewirausahaan sehingga mereka tidak merasa malu jika telah lulus, sebagaimana disampaikan oleh Lis, guru SMKN Bolango Utara. Penanaman pengetahuan tentang tanah dan bibit yang baik juga menjadi penekanan dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas.

 

Evaluasi Pelaksanaan

Meskipun pendidikan berbasis keunggulan lokal bukan program yang diatur oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Bone Bolango, pelaksanaan pembelajaran tentang muatan lokal telah berlangsung sejak Kurikulum 2006 (KTSP). SMAN 1 Tapa pernah menjalankan pendidikan berbasis keunggulan lokal, khususnya ternak sapi. Namun hal ini kini sudah terhenti seiring dengan berhentinya pendanaan yang diberikan oleh Direktorat SMA, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Bercermin dari pelaksanaan pembelajaran muatan lokal, secara umum sekolah sudah siap untuk menjalankan pembelajaran muatan lokal. Meskipun demikian, agar respons terhadap pelaksanaan pembelajaran betul-betul mencerminkan kebutuhan masyarakat, perlu dilakukan evaluasi secara menyeluruh.

 

Resolusi Penerapan Muatan Lokal sebagai Mata Pelajaran

Pelaksanaan pendidikan berbasis keunggulan lokal di sekolah-sekolah di Kabupaten Bone Bolango diterapkan melalui mata pelajaran mandiri, yang berupa mata pelajaran muatan lokal. Mata pelajaran muatan lokal ini diberikan selama 2 jam seminggu. Hal ini berlaku di jenjang SMP, SMA, dan SMK; sedangkan pelaksanaan di jenjang SD hanya berlangsung dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Untuk menyiapkan pelaksanaan pembelajaran, sekolah telah secara mandiri menetapkan kebijakan pelaksanaan mata pelajaran muatan lokal. Penerapan kebijakan sekolah terhadap jenis muatan lokal diserahkan kepada sekolah untuk menentukannya. Dinas Pendidikan tidak membatasi jenis muatan lokal budidaya tanaman jagung di sekolah. Namun, secara umum sekolah telah mengembangkannya yang mengarah pada pengembangan potensi daerah. Sebagai daerah dengan latar geografis yang mendukung pengembangan budidaya tanaman jagung, sekolah membidikkan muatan lokal ke arah budidaya tanaman jagung, di samping tanaman hortikultura lainnya. Rujukan pengembangan kebijakan di sekolah ini sejalan dengan kondisi alam dan geografis yang sangat cocok untuk pengembangan tanaman jagung.

 

Penutup

Bone Bolango sebagai salah satu kabupaten penyangga produksi jagung di Provinsi Gorontalo terus melakukan upaya maksimal. Produksi jagung provinsi sebanyak 91.500 ton setahun telah dicanangkan. Untuk mencapai sasaran ini, masyarakat digerakkan melalui beragam cara. Adanya pembentukan kelompok tani jagung sangat menunjang produksi jagung ini. Jika produksi jagung yang digarap oleh setiap kelompok tani terhadap 25 hektare lahan ini ditindaklanjuti kepada para petani lainnya, bisa diperkirakan produksi jagung akan terus meningkat. Kelompok tani jagung ini dikelola melalui sekolah lapang pengendalian hama terpadu yang setiap hektarenya mampu memproduksi 6-7 ton jagung. Kemampuan petani jagung ini tidak serta merta sejalan dengan regenerasi kepada kaum muda. Salah satu kaderisasi yang tepat dilakukan adalah melalui mekanisme sistem pendidikan di sekolah. Lulusan sekolah ke depan harus bisa menjawab tantangan potensi daerah yang belum maksimal dikembangkan. Mata pelajaran muatan lokal khususnya budidaya tanaman jagung merupakan mata pelajaran yang diatur secara formal melalui kebijakan pemerintah daerah. Rujukan peraturan daerah ini tentu mengikat Dinas Pendidikan untuk menjalankannya di satuan pendidikan. Manakala kebijakan ini tidak disiapkan dengan baik, tidak menutup kemungkinan akan terjadi penurunan potensi jagung daerah.

Ditinjau dari potensi masyarakat yang menguasai budidaya tanaman jagung, bisa dikatakan bahwa masyarakat sudah sangat terbiasa dengan kehidupan petani jagung. Hal ini diperolehnya sejak kecil sebagai warisan yang diturunkan dari orang tuanya. Upaya terus dilakukan oleh sekolah untuk melakukan konsultasi dengan tokoh masyarakat yang menguasasi budidaya tanaman jagung dan mengembangkannya sebagai muatan lokal. Pengembangan kompetensi guru yang mengajar mata pelajaran muatan lokal terus dibenahi. Berkaitan dengan pengembangan muatan lokal budidaya tanaman jagung, para guru mengandalkan pengetahuan alamiah mereka yang diperoleh secara turun-temurun dari orang tuanya. Para guru juga memiliki dasar yang cukup untuk mengampu mata pelajaran muatan lokal ini. Mereka juga memiliki latar pendidikan yang relevan. Dengan melakukan sinergi antarelemen, pengembangan mata pelajaran muatan lokal di sekolah dengan merujuk pada potensi keunggulan lokal daerah akan menjadi realita. Inilah potret kecil pendidikan di Kabupaten Bone Bolango. [ ]

 

Sumber Data dan Rujukan

Anisa Ani – staf Badan Pusat Informasi Jagung (BPIJ), Bone Bolango

Arif Daud – Tokoh dan Ketua Kelompok Tani Jagung

Lily Djau – Kepala SMAN 1 Tapa

Marwah Mahmud – guru SMPN 1 Bulango Utara

Sartin – Kepala SDN 7 Bulango Utara

Wilson Mosionu – Kepala SMKN 1 Bulango Utara

__________. The Community Development Guidelines of the International Cooperation Administration, Community Development Review, December, 1996

http://regionalinvestment.bkpm.go.id


Leave a Reply