Kritik Terjemahan Newmark, Reiss, dan Nord

  • 0

Kritik Terjemahan Newmark, Reiss, dan Nord

Tri Pujiati
Universitas Pamulang
Tangerang Selatan

 

 

Pengantar
Kritik terjemahan bukan hal baru bagi para pegiat bahasa. Meskipun kurang populer daripada kritik sastra, kritik terjemahan mampu menjadi penyokong utama dalam pengembangan kualitas terjemahan di Indonesia. Kegiatan mengkritik terjemahan sangat baik dilakukan tidak hanya oleh penerjemah tetapi juga pihak lain yang memahami masalah penerjemahan. Dengan adanya kritik, penerjemah dapat sa­ling belajar dan terpacu untuk menghasilkan karya terjemah­an yang berkualitas. Adanya kritik terjemahan ini dapat memacu penerjemah untuk menghasilkan kualitas terjemahan yang baik. Berbagai pandangan tentang kritik terjemahan telah dikemukakan oleh para ahli seperti Peter Newmark, Katharina Reiss, dan Christiane Nord. Tulisan ini menyajikan pandang­an ketiga ahli tersebut.

Kritik Terjemahan Newmark
Menurut Newmark (1988:­184—185), kritik terjemahan sangat penting dalam pelatihan maupun praktik pener­jemahan. Ia menjadi kunci setiap pembelajaran, yakni sastra bandingan, literatur-literatur terjemahan, dan komponen kursus penerjemahan profesional dengan teks-teks yang sesuai dengan bidangnya (hukum, ekonomi, dan kedokteran). Newmark (1988:186) meng­usulkan lima hal dalam kritik terjemahan, yaitu (1) anali­sis sekilas me­ngenai maksud dan fungsi teks sumber (TSu); (2) interpretasi penerjemah atas TSu, metode penerjemahan yang digunakan, dan tujuan pembaca; (3) pembandingan bagian-bagian pen­ting antara TSu dan teks sasaran (TSa); (4) evaluasi terjemah­an berdasarkan sudut pandang penerjemah dan kritikus; dan (5) asesmen atas relevansi TSa bagi pembaca sasaran, budaya masyarakat, dan disiplin tertentu.

Dalam membuat kritik terjemahan, langkah-langkah yang dilakukan adalah (1) meng­analisis TSa dengan mempertimbangkan sikap dalam mengambil topik, karakter­isasi pembaca, dan indikasi kategori dan jenis; (2) melihat teks dari sudut pandang pe­nerjemah; (3) membandingkan TSu dan TSa, yang  meliputi judul, struktur, paragraf dan kalimat penghubung, pergeseran metafora, kata budaya,  translationase,  nama diri,  neologisme,  untranslationese words,  ambiguitas,  level bahasa,  metabahasa,  anekdot, dan efek bunyi; dan (4) mengevaluasi dengan standar Anda sendiri untuk mempertimbangkan apakah terjemahan berhasil sesuai dengan akurasi referensial dan pragmatis. Ada dua pendekatan yang bisa digunakan dalam menilai terjemah­an, yaitu  pendekatan fungsional dan pendekatan analitis. Pendekatan fungsional adalah upaya untuk menilai keberhasil­an dan kegagalan terjemahan atau penerjemah secara umum. Pendekatan analitis merupakan pendekatan yang terbentuk pada asumsi bahwa sebuah teks dapat dinilai dalam bagian tersebut, terjemahan dinilai sebagai bagian dari ilmu, kriya, seni, dan masalah selera.

Kritik Terjemahan Reiss
Dalam pandangan Reiss (2000:2), kritik terjemahan harus dilakukan oleh seseorang yang memiliki kemampuan bahasa sumber (BSu) dan bahasa sasaran (Bsa) yang memadai. Kritik harus bersifat memba­ngun dan tidak semata-mata menyalahkan penerjemah. Kritik terjemahan merupakan upaya untuk membandingkan TSu dan TSa. Terjemahan dinilai dari isinya, gaya yang digunakan oleh penerjemah, dan kadang-kadang dilihat dari estetikanya, seperti teks sastra. Terjemahan dapat dinilai dengan menggunakan kriteria tertentu, yaitu objektif dan relevan. Kriteria objektif dapat dilihat bahwa kritik terjemahan baik positif atau negatif harus didefinisikan secara eksplisit dan diverifikasi dengan contoh. Jika kriteria objektif direlasikan dengan kriteria yang relevan, kita harus berhati-hati dalam mengenali teks yang akan dievaluasi sebagai teks terjemahan. Selain objektif dan relevan, kriteria yang bisa digunakan dalam kritik terjemahan adalah stilistika dan tata bahasa. Julius Wirl (1958:64) dalam Reiss (2000:10)  mengatakan bahwa seseorang yang tidak dapat membaca teks asli tidak bisa menggunakan kriteria yang sama sebagaimana orang yang bisa membaca teks de­ngan baik.

Kita bisa membuat kritik berdasarkan TSu dan TSa. Kritik berdasarkan versi TSu sa­ngat produktif. Akan tetapi, karena ada keterbatasan referensi terhadap teks asli, diperlukan pembandingan dengan teks asli. Hanya dengan membandingkan TSu dan TSa, kesetiaan dalam penerjemahan telah tercapai, maksud dari penulis dapat dipahami dengan baik, terjemahan dapat diinterpretasikan, dan kesuksesan terjemahan dieks­presikan dalam TSa. Dalam membuat kritik terjemahan, kritikus harus memahami jenis teks yang akan dikritik untuk menghindari kesalahan dalam menggunakan standar yang tidak tepat dalam penilaian terjemah­an. Penerjemah dan kritikus harus memiliki analisis dasar yang sama mengenai klasifikasi teks; ini dapat dilihat dari medium teks itu sendiri, yaitu bahasa. Setiap teks harus diperiksa secara tepat untuk mengetahui tujuan teks tersebut. Karl Buhler (1990:28) dalam Reiss (2000:25), menyatakan bahwa bahasa memiliki tiga fungsi, yaitu representasi, ekspresi, dan persuasi. Teks representatif berfokus pada isi teks (content-focused text) untuk berkomunikasi secara efektif dan memberikan informasi secara akurat. Teks ekspresif berfokus pada bentuk (form-focused text) untuk mengekspresikan maksud penulis sendiri, dan teks persuasif berfokus pada daya tarik (appeal-focused text) untuk memengaruhi pendengar atau pembaca.

Kritikus juga melihat komponen linguistik yang terdiri dari elemen semantik, leksikal, stilistika, dan gramatikal. Kritikus harus menilai terjemah­an berdasarkan empat elemen tersebut. Elemen semantik untuk melihat ekuivalensi antara TSu dan TSa, elemen leksikal untuk melihat bahwa komponen TSu yang disampaikan dalam TSa telah cukup, elemen gramatikal untuk melihat kebenaran sistem gramatikal antara TSu dan TSa, dan elemen stilistika untuk melihat apakah teks berkorespondensi secara lengkap dalam TSa. Selain itu, kritik terjemahan dapat dilakukan dengan melihat faktor ekstralinguistik yang merupakan kategori pragmatis dalam kritik terjemahan. Faktor ini bergantung pada situasi, subjek yang dikaji, waktu, tempat, pende­ngar, pembicara, dan implikasi afektif.

Kritik Terjemahan Nord
Nord (1991:163) menyampaikan pandangannya bahwa kritik terjemahan harus berdasarkan analisis perbandingan TSu dan TSa dan memberikan informasi tentang kesamaan atau perbedaan struktur BSu dan BSa, proses penerjemahan, metode atau strategi yang digunakan, dan untuk melihat bahwa TSa sesuai dengan tujuan (skopos) terjemahan. Asesmen dilakukan berdasarkan BSu dan BSa, yang disebut dengan perbandingan terjemahan, sebagaimana dinyatakan Koller (1979) dalam Nord (1991:164). Langkah pertama dalam membuat kritik terjemahan menurut Nord adalah menganalisis teks dalam situasi berdasarkan mo­del didaktik kritik terjemahan (a didactic model of translation cri­ticism). Analisis teks merupa­kan dasar penyusunan suatu kritik terjemahan. Dengan meneliti TSu dan TSa, pembuat kritik dapat menentukan profil TSa yang ideal, menyiasati masalah penerjemahan, dan menyusun strategi yang digunakan. Pada analisis ini, kritik terjemahan melihat apakah teks sasaran koheren dengan situasi fungsional dalam teks sumber. Analisis teks didasarkan pada analisis faktor ekstratekstual dan intratekstual. Pembandingan ini akan dijadikan kerangka acuan untuk penilaian terjemahan. Faktor ekstratekstual dianalisis dengan mempertanyakan siapa penulis teks, siapa penerima atau pembaca teks, medium apa yang digunakan untuk me­ngomunikasikan teks, tempat dan waktu penulisan dan pene­rimaan teks, motif atau alasan dilakukannya komunikasi, dan fungsi teks. Faktor intratekstual yang merupakan unsur di dalam teks, dianalisis berdasarkan bidang bahasa,  leksikal, dan koherensi stilistika normatif dan semantik.

Langkah kedua setelah melakukan analisis teks adalah melihat informasi eksplisit me­ngenai fase transfer untuk melihat masalah yang timbul dalam penerjemahan, metode atau strategi penerjemahan yang digunakan untuk mengatasi masalah penerjemahan, dan faktor lain yang dianggap sebagai masalah terjemahan, seperti koherensi, leksis dalam struktur kalimat, dan ambiguitas. Selanjutnya, kritik terjemahan masuk ke dalam kesimpulan, metode atau strategi yang digunakan penerjemah, dan menunjukkan metode atau strategi penerjemahan. Pembuat kritik membandingkan prinsip pener­jemahan yang digunakan penerjemah dan menunjukkan metode atau strategi penerjemahan yang paling sesuai.

Penutup
Dari ketiga pandangan ahli kritik terjemah­an, dapat di­nyatakan bahwa kritik terjemah­an merupakan suatu upaya untuk menilai suatu karya terjemahan. Kritik terjemahan bukan hanya teori, melainkan juga aplikasi yang dapat memberi manfaat bagi seorang penerjemah untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki kualitas terjemah­annya. Kritikus terjemahan tidak hanya menyalahkan penerjemah, tetapi juga memberikan saran terhadap hasil terjemahan. Selain itu, kritik terjemahan harus dilakukan secara objektif dengan mempertimbangkan ketepatan, kewajaran, dan keterbacaan hasil terjemahan. [ ]

Referensi
Newmark, Peter. 1988.  A Textbook of Translation. London: Prentice Hall International.
Nord, Christiane. 1991. Text Analysis in Translation. Amsterdam: Rodopi.
Pusat Bahasa. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia.
Reiss, Katharina. 2000. Translation Criticism – the Potentials & Limitations. Diterjemahkan oleh Erroll F. Rhodes. Manchester: St. Jerome.


Leave a Reply