MEMBANGUN SEMANGAT GURU PEMBELAJAR MELALUI UJI KOMPETENSI GURU

  • 0

MEMBANGUN SEMANGAT GURU PEMBELAJAR MELALUI UJI KOMPETENSI GURU

Kemarin cerita, sekarang realita, besok cita-cita. Kalimat tersebut bagi penulis tersusun menjadi sebuah cerita yang menggambarkan Uji Kompetensi Guru (UKG). Cerita tentang UKG digagas dari kegelisahan akan kurangnya mutu pendidikan di Indonesia, yang salah satu komponennya adalah guru. Oleh karena itu, dari hari ke hari, tahun ke tahun berbagai upaya ditempuh untuk meningkatkan kompetensi guru. Regulasi pun disusun untuk menjadi dasar hukum bagi guru melalui pengakuan guru sebagai jabatan profesional yang dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Undang-undang tersebut mendefinisikan profesional sebagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Konsekuen­si profesionalisme tersebut adalah guru harus selalu memperbaharui kemahiran dan kecakapannya. Sebagai tenaga profesional, guru diharapkan dapat meningkatkan martabat dan perannya seba­gai agen pembelajaran. Guna menopang upaya peningkatan kemahiran dan kecakapan guru, pemerintah menyediakan sertifikasi yang berupa tunjangan profesi bagi guru yang diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan pendidikan di Indonesia secara berkelanjutan.

Sertifikasi guru yang dimulai sejak tahun 2007 itu dilaksanakan setelah diterbitkan Permendiknas Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Landasan yang digunakan sebagai dasar penyelenggaraan sertifikasi guru adalah Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. Tahun 2012 merupakan tahun keenam pelaksanaan sertifikasi guru dalam jabatan. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 5 Tahun 2012, guru dalam jabatan yang telah memenuhi persyaratan dapat mengikuti sertifikasi melalui (1) Pemberian Sertifikat Pendidik secara Langsung (PSPL), (2) Portofolio (PF), (3) Pendidik­an dan Latihan Profesi Guru (PLPG), atau (4) Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Apabila hasil penilaian portofolio pe­serta sertifikasi guru dapat mencapai nilai ambang batas kelulus­an (passing grade), dilakukan verifikasi terhadap portofolio yang disusun. Sebaliknya, jika hasil penilaian portofolio peserta sertifikasi guru tidak mencapai nilai ambang batas, guru yang bersangkut­an menjadi peserta pola PLPG setelah lulus Uji Kompetensi Awal (UKA). Untuk itu, UKA hadir sebagai peta penguasaan guru pada kompetensi pedagogis dan profesional yang akan digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam pemberian program pembinaan dan pengembangan profesi guru, serta pemeringkatan calon peserta program sertifikasi guru. UKA wajib diikuti oleh semua guru dalam jabatan baik PNS maupun bukan PNS yang belum mengikuti sertifikasi.

Sementara itu, pada tahun 2012 UKG juga dilaksanakan untuk guru-guru yang telah memiliki sertifikat pendidik. UKG pada waktu itu bertujuan memetakan kompetensi guru dalam bidang profesional dan pedagogis dengan target sasaran sebanyak 1,6 juta guru. Selanjutnya, secara berurutan tahun 2012, 2013, 2014 juga dilaksanakan UKG. Berdasarkan rekap hasil UKG tahun 2012, 2013, dan 2014 yang dirilis oleh infoptk.net diperoleh hasil 192 orang dari total 1,611.251 orang guru yang memiliki skor 90-100, lebih dari 1,3 juta guru memiliki skor 60 dari total 100. Berdasarkan hasil tersebut terlihat seberapa besar kompetensi guru kita. Sementara itu, nilai ambang batas kelulusan dari tahun ke tahun akan terus meningkat. Nilai perhitungan dasar (baseline) UKG tahun 2014: 4,7. Target nilai ambang batas kelulusan UKG tahun 2015 s.d. 2018 berturut-turut adalah 5,5; 6,5; 7,0; dan 8,0.
Tahun 2015 merupakan tahun keempat pelaksanaan UKG. Dalam rilisnya di situs gtk.kemdikbud.go.id, Direktur­ Jen­deral Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Sumarna Surapranata mengatakan bahwa kalau tahun 2012 pelaksanaan UKG belum mempunyai arah yang jelas dan lebih digunakan seba­gai uji coba untuk memotret kondisi guru di Tanah Air. UKG tahun 2015 lebih seperti sensus yaitu semua guru yang memiliki NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan) akan mengikuti Uji Kompetensi.

Tujuannya pun lebih jelas, yaitu setelah diperoleh potret kompetensi pedagogis dan profesional setiap guru yang mengikuti UKG 2015, diberikan tindak lanjut berupa pelatihan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan setiap guru untuk pengembang­an kompetensinya. Target nilai UKG yang ditetapkan peme­rintah, melalui Ditjen GTK tahun 2015 adalah 5,5. Namun peroleh­an nilai UKG tidak berhubungan dengan pemberian tunjangan profesi.

Hasil UKG 2015 akan digunakan untuk memperbaiki kualitas guru. Berdasarkan nilai yang diperoleh setiap guru, Kemdikbud akan mempunyai data yang valid sebagai dasar pelaksanaan program pendidik­an dan pelatihan (diklat). Pasca-UKG tahun 2015 Kemdikbud akan merilis program Guru Pembelajar (GP). Program ini bertujuan membangun sema­ngat belajar para guru. Berawal dari sebuah konsep belajar sepanjang hayat (lifelong learning) yang dikemukakan oleh Edgar Faure dari The International Council of Educational Deve­lopment (ICED), pembelajaran akan mampu membuat manusia tumbuh dan berkembang sehingga berkemampuan, menjadi dewasa dan mandiri. Kemdikbud melalui program GP-nya mengajak guru untuk mentransformasi diri, dari belum/tidak kompeten menjadi kompeten, dari kebergantung­an menjadi mandiri. Transformasi diri ini diharapkan akan terus terjadi sepanjang hayat, asalkan ia tidak berhenti belajar, asal ia tetap menyadari keberadaannya yang bersifat present continuous, on going process, atau on becoming.

Program GP ini akan dibagi ke dalam tiga moda: tatap muka, daring, dan daring kombinasi. Setiap moda mencerminkan kualitas kompetensi atau materi yang harus dikuasai guru. Pembagian setiap moda berdasarkan jumlah modul kompetensi yang nilainya di bawah Kriteria Capaian Minimal (KCM) yaitu 5,5. Setelah mengikuti serangkaian diklat “Guru Pembelajar”, Kemdikbud berharap pada akhir tahun 2018 mendatang, nilai hasil UKG dapat mencapai rata-rata 8,0. Selain sebagai dasar peningkatan kompetensi, hasil UKG tersebut dapat dijadikan titik masuk sertifikasi guru dalam jabatan sekaligus alat kontrol pelaksanaan penilaian kinerja guru.

Dalam Rakor antar-PPPPTK pada 14 Agustus 2015 di PPPPTK Bahasa, Dirjen GTK menegaskan bahwa UKG pen­ting untuk meningkatkan kualitas guru karena fakta menunjukkan masih banyak guru di negeri ini yang harus ditingkatkan kompetensinya secara terus menerus, tidak terkecuali mereka yang telah memegang sertifikat pendidik. Peningkatan kompetensi inilah yang diusahakan melalui UKG dan pelatihan pasca-UKG, sebab guru-guru bukannya tidak pintar, hanya saja sistem pelatihan bagi guru juga harus terus ditingkatkan dan kembali diperketat.
Bercermin dari pendidikan di negara maju, yang meletakkan kekuatan pendidikan pada aktivitas guru yang bermuara pada semangat bahwa guru juga sebagai pembelajar; guru sebagai pemberi ilmu juga siap untuk mencari ilmu. Persoalannya adalah, sebagian besar guru tidak mendisiplinkan dirinya untuk tetap belajar tanpa henti. Sebagian besar guru merasa bahwa setelah memiliki gelar akademis dan telah mengajar bertahun-tahun membuat mere­ka berhenti belajar. Sikap yang demikian membuat mereka tidak lagi mengalami transformasi dalam kariernya, sehingga mereka tidak siap mengantisipasi perubahan-perubahan yang timbul. Sebaliknya, mere­ka yang senantiasa menjadikan proses belajar merupakan bagian dari kehidupannya akan senantiasa siap mengantisipasi perubahan yang timbul. Konsekuensi perubahan yang terjadi akan menjadi titik tolak bagi mereka untuk senantiasa terus belajar – on becoming a learner istilah yang dipakai Andreas Harefa- untuk selalu siap mengantisipasi perubahan yang akan muncul lagi sebab perubah­an merupakan sesuatu yang abadi. Dan, semua upaya pemberdayaan guru, seperti peningkatan kualifikasi akademik, sertifikasi guru, dan uji kompetensi guru dimaksudkan agar guru menjadi manusia yang terus belajar. Jika tidak melahirkan guru sebagai manusia pembelajar, kegiatan pemberdayaan guru apapun bentuk dan jenisnya menjadi mubazir.

Di Finlandia, hanya guru-guru dengan kualitas terbaik yang dapat mengikuti pelatihan terbaik. Profesi guru di Finlan­dia adalah sebuah profesi yang sangat dihargai. Siswa lulusan sekolah menengah terbaik biasanya memilih sekolah-sekolah pendidikan dan hanya satu dari tujuh pelamar yang dapat diterima. Di Finlandia pesaing jurusan pendidikan adalah jurusan hukum dan kedokteran. Pelatihan guru adalah prestise dan prestasi, karena harus melalui seleksi yang sangat ketat selama minimal 11 hari setiap tahunnya. Dan mereka yang dinyatakan lulus seleksi untuk meng­ikuti pelatihan guru rela membayar sendiri pelatih­an guru tersebut. Melalui pelatihan guru, profesional­isme guru dapat diperiksa kembali.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah sudahkah guru kita memiliki semangat yang sama untuk selalu menjadi guru pembelajar. Guru yang senantiasa haus ilmu untuk menyegarkan kembali kompetensinya, memutakhirkan pengetahuan dan keterampilan. Tak bisa dimungkiri bahwa pengetahuan, teknologi, pola asuh, dan pola didik yang juga terus berkembang mengiringi perkembangan peserta didik dan zaman. Dan, untuk mendukung guru pembelajar dukungan penyiapan pelatihan yang lebih dari bagus sangat diperlukan, yang mau tidak mau akan memunculkan pertanyaan selanjutnya, apakah lembaga pelatihan guru kita telah memadai dan guru kita telah memiliki kesadaran yang tinggi sehingga belajar terus adalah sebuah keharusan. Tampaknya belum, lembaga pelatihan guru kita belum sebagaimana kita harapkan, dan kesadaran mutu guru kita masih rendah, ada guyon di kalangan mereka, sebelum kegiatan pelatihan guru dibuka, mereka sudah menanyakan kapan kegiatan pelatihan guru itu ditutup.

Dalam pandangan penulis, inilah upaya baik yang diikhtiarkan oleh pemerintah melalui Ditjen GTK untuk menjembatani perbaikan kompetensi guru dan sekaligus memperbaiki pelaksanaan diklat. UKG 2015 digunakan untuk memetakan kompetensi guru sesuai dengan bidang atau mata pelajaran yang mereka ajarkan di sekolah. Peta kompetensi ini akan sangat membantu bagi pengembangan dan peningkat­an kompetensi para guru. Dari rapor UKG 2015 tersebut dapat terlihat kompetensi manakah yang perlu ditingkatkan dan bekal modul mana yang sesuai untuk meningkatkan kompetensinya. Dengan cara ini, diharapkan pembekalan atau diklat yang diberikan pada para guru lebih tepat sasaran dan tujuan demi memajukan kualitas pendidikan nasional.

Dengan sistem yang demikian, lembaga pelatihan nasional, seperti PPPPTK sebagai unit pelayanan teknis yang membidangi pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan dapat menyiapkan pelatihan yang dapat menjawab kebutuhan guru terkait dengan kompetensi yang akan ditingkatkan. Semangat Guru Pembelajar yang terus terbangun dan terhubung de­ngan layan­an peningkatan kompetensi, berupa penyediaan pelatih­an yang baik diharapkan dapat menumbuhkan sinergi yang harmonis antara guru dan lembaga penyedia pelatihan, yang akhirnya menghasilkan sebuah orkestra pendidikan yang indah. Harmoni tersebut pada akhirnya dapat mewujudkan terget nilai ambang batas kelulusan UKG 2018: 8,0. [ ]


Leave a Reply