Pandangan Beberapa Semantisi tentang Sinonimi dalam Kajian Makna Bahasa

  • 0

Pandangan Beberapa Semantisi tentang Sinonimi dalam Kajian Makna Bahasa

Category : Artikel Kebahasaan

Gunawan Widiyanto

Widyaiswara Bahasa Inggris

PPPPTK Bahasa

 

 

Prolog

Dalam pengkajian makna bahasa, ada satu jenis relasi makna yang sangat jarang luput dari perhatian para ahli semantik (semantisi), yakni sinonimi; hingga intensitas dan hiruk-pikuk perbincangan mengenainya hampir selalu memenuhi jagat semantik. Ini bermakna pula, dalam setiap karya tentang semantik, para pakar tentang makna hampir selalu menjadikan sinonimi ini suatu bahasan yang mendalam dan tema besar. Mereka menyampaikan pandangan-pandangannya dari perspektif yang beraneka pula. Di antara para semantisi itu adalah Stephen Ullmann, John Lyons, Geoffrey Leech, Keith Allan, dan Frank Robert Palmer. Tulisan ini menguraikan pandangan yang diusung oleh para semantisi tersebut. Namun, sebelum pandangan itu diuraikan; disusur rentang ke belakang sejarah semantik secara singkat.

 

Sejarah Singkat Semantik

Pada abad pertama SM di Eropa utamanya di Yunani, dalam konstelasi historis ilmu bahasa, semantik merupakan ilmu yang kurang mendapatkan cukup perhatian dari para ahli bahasa. Ketika itu, pembagian kajian kebahasaan hanya mencakupi tiga tataran utama, yakni etimologi, sintaksis, dan morfologi. Bahkan, sampai menjelang abad 19 M, semantik masih juga dipandang sekelip mata dan belum memperoleh posisi yang layak dan signifikan sebagai bagian dari kajian bahasa (Ullmann, 1962:1). Namun, selain bergumul dengan ketiga subdisiplin kebahasaan tersebut, sejatinya para ahli bahasa sudah mengecimpungi persoalan makna. Mereka membahas makna kata dan pemakaiannya, metafora, dan aspek-aspek fundamental perubahan makna. Kajian tentang makna ini juga sebenarnya sudah ada sejak zaman Yunani, yang dipelopori oleh para penulis, penyair, danfilsufseperti Plato, Cicero, Proclus, Demokritus, dan Aristoteles. Mereka memainkan peran penting dalam membidani lahirnya semantik. Tak sebatas itu, ada dua faktor yang melecut lahirnya semantik. Faktor pertama adalah munculnya gerakan Romantik dalam kesusasteraan. Para penulis dan penyair pada periode Romantik sangat tertarik dengan pemakaian kata-kata arkhais beserta maknanya, termasuk pemakaian dialek dan slang dalam karya-karyanya (Ullmann, 1962:3). Faktor kedua adalah munculnya filologi komparatif di Prancis pada 1826, yang tidak berfokus pada aspek fonetik dan sintaktiknya semata, tetapi juga aspek semantiknya.

Pada 1927, Christian Carl Reisig memperkenalkan semasiologi sebagai kajian makna dengan mengembangkan konsepsi dan wacana baru mengenai tata bahasa. Linguis Jerman ini memasukkan semasiologi ke dalam tiga bagian utama dalam tatabahasa di samping etimologi dan sintaksis (Gordon, 1982:1; Ullmann, 1962:1). Dia juga menganggap semasiologi sebagai disiplin historis yang mendasari perkembangan makna. Istilah semantik itu sendiri dipakai oleh sarjana Prancis Michel Brealpada 1897 melalui monografi terkenalnya yang bertajuk Essai de Semantique (Science des Significations) (1897) (Coseriu&Geckeler, 1981:8; Gordon, 1982:18). Hingga menjelang tahun 1950-an, mayoritas kajian semantik hanya berorientasi pada makna yang bersifat historis-diakronistis hingga kurang memerhatikan persoalan makna yang sifatnya deskriptif-sinkronistis. Di sini, para semantisi hanya berpikir bahwa tugas utamanya adalah mengkaji perubahan makna dan menyelidiki latar penyebab terjadinya perubahan serta merumuskan hukum-hukum yang mendasari perubahan makna itu (Ullmann, 1951:301; 1962:6). Pantasdinyatakan pula, selama perkembangan linguistik sejak akhir abad ke-19, istilah semasiologi dan semantik dipakai secara bersanding dan bersaing untuk menunjukkan subdisiplin kebahasaan yang bertali-temali dengan makna leksikal. Semasiologi membahas perubahan makna secara historis sedangkan semantik menyoroti makna secara deskriptif.

Dalam perkembangan selanjutnya, semantik dipengaruhi pula oleh strukturalisme Eropa yang diusung oleh Ferdinand de Saussure (1916) sehingga semantik mulai bergeser ke arah kajian yang sifatnya deskriptif-sinkronistis. Karena pengaruh pandangan dan skemata Saussure inilah, sejak tahun 1950-an para semantisi mulai menyeimbangkan antara kajian semantik dari dimensi deskriptif-sinkronistis dan kajian semantik dari perspektif historis-diakronistis (Ullmann, 1951:301-2).

 

Sinonimi menurut Pandangan Ullmann

Stephen Ullmann, linguis kelahiran Budapest Hungaria pada 31 Juli 1914 dan menghabiskan masa hidupnya di Inggris, memosisikan kajian sinonimi dalam peta semantik deskriptif-sinkronistis. Berpijak dari batasan arti sebagai relasi timbal balik antara nama (name) dan makna (sense), dia berpandangan bahwa relasi antara keduanya dapat menghasilkan dua jenis pola relasi makna (sense relation), yakni (a) satu nama berkaitan dengan beberapa makna atau polisemi dan (b) satu makna berkenaan dengan beberapa nama atau sinonimi. Lebih lanjut, Ullmann membagi kesinoniman menjadi dua jenis, yakni (a) sinonim murni (pure synonyms), dua kata atau lebih dipakai sama luasnya dan dapat dipertukarkan dalam semua konteks; (b) sinonim semu (pseudo-synonyms, homoionyms), yang mencakupi dua hal, yakni (i) sama-samaluaspemakaiannyadan dapat saling dapat dipertukarkan hanya dalam beberapa konteks, dan (ii) sama-sama luas pemakaiannya dan dapat saling dipertukarkan dari segi makna kognitifnya tetapi bukan dari segi makna emotifnya. Pandangannya ini dituangkan dalam bukunya yang terbit pada 1962. Dalam bukunya itu dia mengemukakan empat narasi utama mengenai sinonimi, yakni sebagai berikut. Pertama, terdapat sembilan kemungkinan perbedaan dalam pasangan sinonim. Sembilan kemungkinan perbedaan tersebut diadaptasi dari narasi W. E. Collinson melalui karyanya Comparative Synonymies: Some Principles and Illustrations (1939). Kedua, ada tiga metode untuk menentukan kesinoniman, yakni substitusi, antonim atau oposisi, danpenderetan leksem yang bersinonim. Ketiga, sinonim memiliki pola yang cenderung taat asas, misalnya sinonim berskala dua, skala tiga, skala empat. Keempat, kajian sinonim bermanfaat bagi penyair dan penulis dalam bidang stilistika. Perlu ditambahkan, terminologi nama dan makna dalam pandangan Ullmann ini identik dengan konsep penanda (signifiant) dan tinanda (signifie) Saussure (Ikegami, 1967:55).

 

Sinonimi dalam Pandangan Lyons

John Lyons menyampaikan pandangannya mengenai sinonimi dalam karyanya bertajuk Structural Semantics (1963). Pandangan semantisi kelahiran Stretford Inggris 23 Mei 1932 itu didasarkan pada asumsi bahwa semantik struktual seharusnya lebih menganalisis relasi makna ketimbang makna itu sendiri. Di dalam karyanya itu, Lyons mengkaji relasi makna seperti antonimi, hiponimi, kebalikan, konsekuensi, inkompatibilitas, dan sinonimi. Pandangannya itu kemudian dielaborasi dalam karyanya yang terbit pada 1968. Mengenai sinonimi, Lyons berpandangan bahwa sinonim dapat ditafsirkan secara sempit dan longgar. Sinonim dalam tafsiran sempit berarti bahwa dua leksem merupakan sinonim apabila memiliki arti yang sama (perangkat unsur leksikal identik artinya), sedangkan sinonim dalam tafsiran longgar adalah seperti digambarkan di dalam Roget’s Thesaurus (perangkat unsur leksikal relatif sama artinya). Sebagai tambahan, Roget’s Thesaurus merupakan tesaurus bahasa Inggris yang diciptakan pada 1805 oleh leksikograf Inggris Peter Mark Roget (1779–1869). Ia kali pertama dilempar ke akuarium publik pada 29 April 1852 (Wikipedia).

Lyons mengutip pandangan Ullmann bahwa leksem-leksem yang dianggap sinonim hanyalah leksem-leksem yang dapat saling menggantikan di dalam semua konteks tanpa perubahan sedikit pun baik makna kognitif maupun emotifnya sehingga sangatlah jarang ditemui sinonimi total di dalam bahasa manapun. Syarat-syarat sinonimi total adalah (a) dapat saling dipertukarkan dalam semua konteks, dan (b) identik maknanya baik makna kognitif maupun emotif. Lyons membuat dikotomi istilah dengan menyebut syarat pertama sinomimi total dan syarat kedua sinonimi lengkap. Pembedaan istilah tersebut memungkinkan terjadinyaempat jenis sinonimi, yaitu sinonimi lengkap dan total, sinonimi lengkap tetapi tidak total, sinonimi tidak lengkap tetapi total, dan sinonimi tidak lengkap dan tidak total. Namun, Lyons (1968) akhirnya merevisi pandangannya dengan membatasi istilah sinonimi pada apa yang dideskripsikan oleh banyak semantisi sebagai sinonimi kognitif; sehingga dia tidak lagi melakukan pembedaan antara sinonimi lengkap dan tidak lengkap.

Sementara itu, pada kesempatan lain Lyons (1995) juga tidak menyebut istilah sinonimi total (total synonymy) dan sinonimi lengkap (complete synonymy) tetapi sinonimi absolut (absolute synonymy) dan sinonimi dekat (near synonymy). Sinonimi dekat adalah kata-kata yang kurang lebih mirip maknanya. Lebih lanjut Lyons menyatakan bahwa leksem-leksem yang tersenarai di dalam kamus umum dan khusus termasuk kamus sinonim dikategorikan sebagai sinonim dekat. Pandangan Lyons mengenai sinonimi absolut ini paralel dengan pandangan Ullmann. Artinya, kriteria sinonimi absolut menurut Lyons adalah (a) kata-kata itu bersinonim dalam semua konteks, dan (b) leksem-leksem itu ekuivalen baik secara kognitif maupun emotif.

 

SinonimimenurutPandangan Leech

Geoffrey Neil Leech menghasilkan karya bertajuk Semantics yang terbit pada 1974. Buku tersebut dicetak ulang pada 1975 dan 1976. Gagasan yang dikemukakan dalam bukunya itu adalah bahwa konsep sinonimi sejatinya hanya terbatas pada kesamaan makna konseptual sehingga Leech menyebutnya sinonimi konseptual. Selanjutnya, linguis kelahiran Gloucester Inggris 16 Januari 1936 itu menyatakan bahwa perbedaan atau kontras di dalam sinonimi konseptual itu berkaitan erat dengan makna stilistika. Sebagai contoh, leksem ibu dan mama secara konseptual sama maknanya, tetapi secara stilistis berbeda maknanya. Yang pertama bergaya formal sedangkan yang kedua bergaya kolokuial; dan sebagaimana dicontohkan oleh Leech melalui pasangan sinonim domicile:residence:abode:home ‘tempat tinggal. ’ Secara stilistis, domicile bergaya sangat formal atau resmi, residence bergaya formal, abode bergaya puitis, dan home bergaya umum.

 

Sinonimi dalam Pandangan Palmer

Frank Robert Palmer lahir 9 April 1922 di Inggris. Melalui karyanya bertajuk Semantics (1976), ia menyatakan bahwa sinonimi merupakan hiponimi yang simetris. Gagasan penting lainnya adalah bahwa banyaknya sinonim dalam suatu bahasa terjadi karena argumentasi historis, yakni leksem-leksemnya berasal dari berbagai sumber atau beragam bahasa sehingga timbul adanya leksem asli (native) dan leksem pinjaman atau asing (foreign). Jadi, dalam setiap pasangan sinonim terdapat leksem-leksem asli dan pinjaman, misalnya uang: duit (Belanda):fulus (Arab); dan seperti dicontohkan oleh Palmer dalam pasangan sinonim kingly (native):royal (French):regal (Latin). Lebih lanjut, Palmer menguraikan empat perbedaan dalam pasangan sinonim, yakni (a) perbedaan dialek, (b) perbedaan gaya, (c) perbedaan makna emotif, dan (d) perbedaan kolokasi. Dua cara menguji kesinoniman, yakni penderetan dan antonim, yang paralel dengan metode yang digunakan Ullmann, menutup pemikirannya yang dituangkan dalam bukunya itu.

 

SinonimimenurutPandangan Allan

Keith Allan adalah linguis Australia kelahiran London 27 Maret 1943. Dalam membincangkan sinonimi, melalui karyanya Linguistic Meaning (1986), guru besar emeritus bidang linguistikMonash University ini menunjukkan adanya sinonim silang varietal (cross-varietal synonymies), yakni ungkapan berupa leksem yang maknanya kurang lebih sama karena digunakan dalam dialek, variasi, dan langgam yang berbeda-beda dalam suatu bahasa, sebagaimana dicontohkan olehnya, dalam fender (American English) dan bumper (British English) ‘bumper’ untuk batang besi atau plastik yang melintang pada bagian muka dan belakang mobil (untuk menahan benturan). Contoh lain, dalam bahasa Jawa dijumpai leksem bodin dan pohong yang keduanya bermakna ketela pohon atau singkong (Manihotutilissima). Bodin digunakan dalam bahasa Jawa dialek Banyumas sedangkan pohong digunakan dalam bahasa Jawa dialek Surakarta.

 

Penutup

Manakala ditelisik, para ahli semantik sebagaimana dibentangkan dalam tulisan ini tampaknya memiliki basis argumentasi bersama (common ground) bahwa daya pikat persoalan sinonimi sejatinya terletak bukan pada kesamaan antarmakna leksem dalam sebuah pasangan sinonim (synonymic pairs) melainkan pada perbedaannya. Artinya, kendati kesinoniman itu sendiri berkaitan rapat dengan kesamaan makna antarleksem; fulkrum (titik tumpu) penanganan masalah kesinoniman ada pada perbedaan makna antarleksem itu. Bagaimanapun, setakat ini tidak pernah dijumpai kesamaan total secara maknawi antarleksem yang bersinonim; karena perbedaan grafis antarleksem berimplikasi pada perbedaan makna juga. Tak ayal, senantiasa ada nuansa makna (nuance of meaning) atau bayangan makna (shades of meaning) dalam kesinoniman. Dan, masih ada wilayah yang terbentang luas untuk meneliti nuansa atau bayangan makna itu. [ ]

 

Rujukan                  

Allan, Keith. 1986. Linguistic Meaning. Volume One. New York: Routledge and Kegan Paul.

Coseriu, Eugenio and Horst Geckeler. 1981. Trends in Structural Semantics. Gunter Narr Verlag Tubingen.

Gordon, W. Terrence. 1982. A History of Semantics. Amsterdam: John Benjamins.

Ikegami, Yoshihiko. 1967. Structural Semantics: A Survey and Problem. Linguistics 33. 49-67.

Leech, Geoffrey. 1974. Semantics. Middelsex: Penguin.

Lyons, John. 1963. Structural Semantics. Oxford: Blackwell.

_____. 1968. Introduction to Theoretical Linguistics. Cambridge: Cambridge University Press.

_____. 1977. Semantics. Volume One. Cambridge: Cambridge University Press.

_____. 1995. Linguistic Semantics. Cambridge: Cambridge University Press.

Palmer, F. R. 1976. Semantics. Cambridge: Cambridge University Press.

Ullmann, Stephen. 1951. The Principles of Semantics. Glasgow: Blackwell.

_____. 1962. Semantics an Introduction of the Science of Meaning. Oxford: Basil Blackwell.


Leave a Reply