Pembelajaran BIPA di Pusat Budaya Indonesia, Dili-Timor Leste: Sebuah Langkah Awal Menebar Visi dan Misi Mulia

  • 0

Pembelajaran BIPA di Pusat Budaya Indonesia, Dili-Timor Leste: Sebuah Langkah Awal Menebar Visi dan Misi Mulia

Hari Wibowo

Widyaiswara Bahasa Indonesia

PPPPTK Bahasa

 

 

Pengantar

Ketika bertugas mengajar BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutuk Asing) di  Timor Leste, dwiminggu pertama mengajar BIPA di kelas A2 merupakan pengalaman anyar yang luar biasa. Betapa tidak, penulis membelajarkan bahasa Indonesia untuk penduduk Kota Dili dan sekitarnya. Program ini berlangsung selama 18 pertemuan atau 9 minggu, dengan setiap  pertemuan berdurasi 2 jam pelajaran dan setiap jam pelajaran berlangsung  selama 60 menit. Jumlah peserta tidak lebih dari 10 orang. Buku pegangan yang disarankan adalah buku terbitan PPPSDK, buku-buku lain sebagai penunjang, dan beberapa referensi daring.  Melalui tulisan ini, penulis hendak berbagi dengan pembaca mengenai pembelajaran BIPA di Timor Leste dan beberapa masalah yang penulis temui.

 

Deskripsi dan Skenario Pembelajaran

Pemelajar di Timor Leste umumnya sudah mengenal bahasa Indonesia. Mereka mengenal dan masih menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi di pasar  dan menulis skripsi di kampus. Mereka memang sudah lama mengenal karena pernah menjadi bagian NKRI. Namun, sejak jejak pendapat pada 30 Agustus 1999 hingga sekarang mereka tidak lagi memakai bahasa Indonesia sehingga mereka mengalami kesulitan. Pemerolehan bahasa hanya didapat dari hal dengaran yang mereka tangkap dari tontonan TV. Mereka masih menonton dan menyukai sinetron TV Indonesia yang dapat tayang di Dili.  Bahasa Indonesia bukan bahasa baru bagi mereka meski mereka masih kacau dalam berkomunikasi, apalagi kemahiran menulisnya. Mereka pun antuias belajar bahasa Indonesia di PBI.

Sebelum pembelajaran diawali, tempat duduk ditata melingkar agar penulis dan peserta bisa lebih dekat. Materi pembelajaran pembuka adalah tentang Keluarga Besar Saya. Penulis mengajak mereka berbincang-bincang tentang keluarganya, mulai dari nama, keluarga, tempat tinggal hingga aktivitas sehari-harinya. Mereka mengidentifikasi gambar silsilah pada kegitan satu, yakni  membaca; kemudian mereka berdiskusi untuk menjawab pertanyaan perihal silsilah itu. Kosakata seperti bapak-ibu, saudara laki-laki, saudara perempuan, adik/ kakak laki-laki dan perempuan, anak, cucu, dan kakek dapat dipahami dengan baik. Mereka juga sesekali memakai bahasa Tetun (bahasa nasionalnya) untuk menerjemahkannya.

Pada kegiatan dua, mereka mempelajari kosakata yang belum dipahami seperti  ipar, sepupu, dan besan. Mereka memang jarang mendengar ketiga kata tersebut, baik saat interaksi di masyarakat maupun di sinetron TV yang ditontonnya.Penulis pun memberikan penjelasan perihal kosakata tersebut dengan ilustrasi dan contoh.  Pada kegiatan tiga, mereka diminta membaca teks “Inilah Keluarga Saya” lalu membuat silsilahnya pada buku tulis. Setelah itu, mereka menyimak sebuah monolog dan memberi tanda centang pada tugas menyimak pada kegiatan empat. Karena sedikit agak cepat, dengaran monolog diulang sampai tiga kali; sehingga mereka yakin dengan jawabannya sesuai dengan monolog. Pemelajar diminta mewawancarai teman sebelahnya untuk mendapatkan sejumlah informasi berkenaan dengan keluarganya.  Mereka diminta menggambarkan informasi keluarga yang diperoleh dari pasangan yang diwawancarainya.  Mereka mendapat tugas untuk mewawancarai seorang tetangga dan menanyakan silsilah keluarganya. Pada akhir sesi, mereka diminta untuk merefleksikan pembelajaran yang sudah dilakukan dengan menuliskan hal-hal yang diperoleh pada pembelajaran sebelumnya dan hal-apa saja yang perlu dipelajari kembali.

Mengawali pertemuan kedua, pengajar menampilkan silsilah keluarganya melalui tayang yang. Peserta diminta untuk mencermati dan mencoba mendeskripsikan silsilah keluarga pengajar. Setelah itu, mereka diminta membuat paragraf dari sebuah silsilah keluarga pada kegiatan 5 dengan melihat contoh paragraf “Inilah Keluarga Saya” pada kegiatan 3. Secara perlahan mereka melihat silsilah yang ditayangkan  dan menulis paragraf seperti contoh dalam buku. Paragraf yang sudah dibuat dibacakan. Ketika  ada perbaikan mereka menyuntingnya dan menulis kembali dengan baik. Selanjutnya, mereka mendapat tugas membuat silsilah keluarganya pada buku tulisnya yang masih bentuk draf karena ada beberapa nama keluarga yang lupa.  Pada sesi terakhir, mereka diminta membuat tugas menyusun silsilah keluarga dan beberapa paragraf perihal silsilah tersebut pada kerta A3 untuk dibawa pada pertemuan berikutnya.

Mengawali pertemuan ketiga kegiatan 6, pengajar meminta pemelajar menampilkan bagan silsilah keluarganya dan membacakan paragraf perihal hubungan dia dan keluarga besarnya. Pada kegiatan 1, pemelajar diminta membaca teks tentang kegiatan Nirmala dan Ibu Sartika. Mereka menulis pada kartu kata dan menempelkan kegiatan inti Nirmala dan Ibu Sartika di papan tulis; kemudian menjawab tiga pertanyaan, salah satunya siapa yang paling sibuk? Mereka umumnya menjawab Ibu Sartika, tetapi pemelajar mengoreksi jawabannya. Hal ini karena sebenarnya yang sibuk adalah Nirmala. Dia  tidak mempunyai waktu untuk masak makanan sendiri dan sibuk rapat di kantor.

Pada kegiatan 2, pemelajar diajak mencentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan dan tidak sesuai kolom yang disediakan di buku teks, kemudian mereka mengurutkan kegiatan-kegiatan yang tidak pernah, jarang, sering, dan selalu dilakukan. Sebelumnya, pengajar menjelaskan perbedaan pengelompokan frekuensi tersebut. Setelah dikelompokkan, mereka menyusun kalimat aktivitasnya dengan menggunakan kata frekuensinya.

Pada kegiatan 3, mereka mewawancarai pengajar perihal kegiatannya sehari-hari dengan dua pertanyaan. (1) Siapa nama Anda? (2) Apa kegiatan Pak Guru setiap hari? Selanjutnya secara spontan diberikan rincian kegiatan sehari-hari dari  bangun tidur sampai berangkat tidur. Pada kegiatan 4,  mereka menyusun kegiatan gurunya dengan diagram siklus, kemudian  menceritakan diagram tersebut di depan kelas.

Pada kegiatan 5, pemelajar membaca teks “Kegiatan Masa Kecil Saya” dan menjawab pertanyaan, kemudian mendiskusikan kegiatan tersebut agar dimasukkan ke dalam tabel kegiatan. Pengajar membagikan kartu kata hubung kepada pemelajar seperti: setelah itu, sesudah itu, kemudian, selanjutnya, lalu, sebelumnya, dan waktu itu. Pengajar mengajak bermain sambung kalimat dengan menggunakan kata hubung tersebut. Awalnya, mereka mengalami kesulitan menyambung kalimat yang dibuatnya secara bergiliran. Setelah diarahkan, mereka mencoba membuat cerita kegiatan seseorang dengan menggunakan kata hubung tersebut dan kegiatan ini berjalan dengan baik.  Kegiatan ini diulang-ulang agar mereka yakin dengan kalimat yang diucapkannya.

Pada kegiatan 6, pemelajar membaca teks “Kegiatan Arini Wulandari” dan menjawab pertanyaan. Selanjutnya mereka menyusun lima kalimat dengan menggunakan kata sambil.

Ada kejanggalan ketika mereka diminta untuk melafalkannya, sebagaimana dalam  kalimat-kalimat berikut.

(1) saya menyapu halaman sambil menyiram bunga, dan 

(2) saya makan malam sambil minum kopi.

Setelah diberi masukan oleh pengajar,  kedua kalimat tersebut akhirnya diperbaiki menjadi seperti berikut

(1) saya menyapu halaman sambil bernyanyi, dan

(2) saya makan malam sambil membaca koran.

Selanjutnya, mereka menyusun kegiatan Arini ke dalam diagram siklus. Pada sesi terakhir, setelah penyimpulan pembelajaran, pemelajar diminta membuat tugas menceritakan siklus kegiatan Arini dengan dengan kata penghubung yang tepat.

 

Beberapa Masalah dan Solusinya

Pada pembelajaran Unit 1 tentang Keluarga Besar Saya, pemelajar masih belum mengenal beberapa istilah kekerabatan dalam silsilah keluarga, seperti paman, bibi, anak sulung, bungsu, mertua, dan besan. Contoh kata-kata silsilah keluarga tersebut  memang agak sulit dijelaskannya.  Namun, dengan visualisasi simbol laki-laki dan perempuan, mereka dengan mudah memahami hubungan keluarga dengan melihat simbolnya. Berkenaan dengan hal ini, perlu dinyatakan bahwa ada sejenis gaya belajar yang dinamai visual learner, yakni gaya belajar yang lebih banyak memanfaatkan “penglihatan” yang dimiliki oleh pemelajar. Pemelajar denga tipe gaya belajar ini akan  sangat mudah memahami informasi ketika diajarkan dengan menggunakan peta, gambar, skema, tabel atau bahkan siklus.

Pada pembelajaran Unit 2 tentang Kegiatan Sehari-hari, pemelajar menghadapi kesulitan pada permainan menyambung kalimat menjadi paragraf. Setiap pemelajar melanjutkan kalimat dari teman di sebelahnya yang terkadang tidak terduka kalimatnya.  Namun, karena mereka menikmati dan terlihat bahwa kegiatan ini menyenangkan; mereka dapat menyusun dan menyambung kalimat dengan benar. Tujuan pembelajaran pun tercapai.

 

Penutup

Sebagi penutup, ada dua hal yang bisa disampaikan. Pertama, pembelajaran yang sudah dilakukan pada unit satu ini banyak menggali pengalaman dari pemelajar tentang keluarga dan silsilahnya. Pemahaman terhadap silsilah keluarga itu bisa diperoleh dengan jelas apabila silsilah keluarga itu divisualisasikan dengan gambar. Gaya belajar ini sesuai dengan pemelajar yang umumnya memiliki gaya visual. Hal ini karena mereka baru memahami silsilah jika digambarkan di papan tulis.

Kedua, pembelajaran pada unit dua masih juga menggali kegiatan pemelajar sehari-hari dengan memasukkan unsur permainan sambung kalimat untuk membelajarkan kata hubung dan membuat kalimat secara sederhana, sebagaimana dinyatakan oleh Soeparno dalam karyanya Media Pengajaran Bahasa, permainan bahasa bertujuan ganda, yakni  memperoleh kegembiraan dan melatih keterampilan berbahasa tertentu. [ ]


Leave a Reply