SEKILAS TENTANG LANSKAP LINGUISTIK

  • 4

SEKILAS TENTANG LANSKAP LINGUISTIK

Gunawan Widiyanto

Widyaiswara Bahasa Inggris

PPPPTK Bahasa

 

Di manapun Anda berada di jagat ini, baik di wilayah privat maupun publik, tidak bisa dimungkiri bahwa Anda juga hampir senantiasa akan terpajankan dengan pemakaian suatu bahasa. Secara lebih spesifik dan nyata,  bahasa itu dipakai dalam penamaan kedai, produk-produk di pasar swalayan, gedung, menu, grafiti, bandara, transportasi umum, pusat belanja, maklumat, poster iklan, dan papan reklame. Pemakaian bahasa dalam wilayah publik ini menjadi fokus kajian Lanskap Linguistik (LL), sebuah disiplin yang relatif masih baru dan merupakan gabungan dari disiplin akademis seperti Linguistik Terapan, Sosiolinguistik, Antropologi, Sosiologi, Psikologi, dan Geografi Kultural. Istilah Linguistik Lanskap kali pertama digunakan oleh Landry and Bourhis dalam makalahnya pada 1997, yang membatasinya sebagai bahasa untuk tanda jalan umum, papan reklame, nama jalan dan tempat, nama kedai, nama bangunan pemerintah dalam sebuah kelompok daerah, wilayah, atau kota. Selanjutnya Shohamy and Gorter (eds.2009) memperluas cakupan tentang LL ini ke bahasa dalam lingkungan, kata, dan citra yang dipajang di ruang publik dan menjadi pusat perhatian di suatu wilayah yang pesat bertumbuh kembang. Dalam kajian lain, Dagenais, Moore, Sabatier, Lamarre and Armand (2008) memperkenalkan gagasan LL dengan kekata  environmental print,  yakni perkotaan sebagai teks. Maknanya, karena bahasa banyak dipakai di ruang publik wilayah urban; wilayah itu dianggapnya sebagai teks yang layaknya penuh dengan ingar-bingar pemakaian bahasa.

Sebagian besar kajian LL pada dasarnya bersifat sosio-ekonomis, dalam arti bahwa ia mencari korelasi antara pemakaian bahasa tertentu di sebagian wilayah perkotaan dan standar hidup di wilayah itu pada umumnya. Sudah umum disepakati bahwa pemakaian bahasa dalam LL terangkum ke dalam dua kategori, yakni pemakaian bahasa secara atas-bawah (top-down) dan pemakaian bahasa secara bawah-atas (bottom-up). Kategori atas-bawahmencakupi pemakaian bahasa pada papan tanda umum yang dibuat oleh badan atau lembaga pemerintah, lembaga publik yang mengurusi persoalan agama, pemerintahan, kesehatan, pendidikandan kebudayaan, papan tanda nama jalan, dan maklumat umum; sedangkan kategori bawah-atas meliputi pemakaian bahasa oleh pemilik kedai/toko (pakaian, makanan, perhiasan), kantor/pabrik/agen swasta, maklumat pribadi (sewa/jual mobil/rumah) termasuk iklan lowongan kerja. Rentang diagonal dari kategori pertama hingga kategori kedua itu menunjukkan derajat seberapa resmi dan tak resmi dipakaianya sebuah bahasa, sebagaimana dinyatakan oleh Ben-Rafael, Shohamy, Amara and Trumper-Hecht (2006).

Sesuai namanya, LL sungguh sosiosimbolis dan merupakan panorama bahasa  yang dibentangkan untuk dilihat, baik di  jalan dan sudut jalan, taman, maupun gedung; yang semua itu merupakan tempat berlangsungnya kehidupan publik masyarakat. Dengan sifat yang demikian itu, ia menjadi emblem (simbol) masyarakat, komunitas, dan wilayah. Bagi Ben-Rafael, Shohamy, Amara dan Trumper-Hecht (2006),  LL dianggap penting karena ia tidak menggambarkan latar belakang dan potret kehidupan sehari-hari kita semata, tetapi juga merupakan sumber pembelajaran bahasa yang bernilai. Ia juga membentuk cara kita berinteraksi sebagai anggota masyarakat dan memberi  kita identitas. Dan yang utama, ia berada di manapun dan terbuka serta bebas biaya bagi siapapun. [ ]

Sumber: Shohamy, Elena and Durk Gorter (eds). 2009. Linguistic Landscape: Expanding the Scenery. New York: Routledge.

 


4 Comments

dienta

November 20, 2017 at 2:30 am

tes komen

    udin

    November 20, 2017 at 3:00 am

    tes balas

    deni

    November 20, 2017 at 3:07 am

    balas komen

jefri

November 20, 2017 at 3:06 am

tanpa admin

Leave a Reply