Sumber Pengetahuan dan Penalaran Ilmiah

  • 0

Sumber Pengetahuan dan Penalaran Ilmiah

Category : Artikel Umum

Dedi Supriyanto

Widyaiswara Bahasa Arab

PPPPTK Bahasa

 

Pengantar

Pada umumnya, pengetahuan seseorang tentang sesuatu dimulai dari adanya rangsangan dari suatu objek. Rangsangan itu menimbulkan rasa ingin tahu yang mendorong seseorang untuk melihat, menyaksikan, mengamati, dan mengalaminya. Seorang ilmuwan tentu tidak lepas dari persoalan penalaran dan logika. Kita harus mengetahui cara menalar dan apa itu logika, khususnya logika penalaraan sebagai dasar aktivitas kegiatan di bidang ilmiah. Jika manusia harus berpikir melalui bentuk penalaran, bagaimana posisi penalaran dan logika dalam bidang ilmiah? Untuk menyelesaikan masalah yang menimbulkan percekcokan, misalnya, kita bisa saja menanganinya secara emosional melalui kekerasan. Namun, penyelesaian seperti itu tidaklah bagus dan benar. Untuk itu, penyelesaian suatu masalah hendaknya berbasis pada pengetahuan ilmiah. Manusia yang berpengetahuan mampu menalar, berpikir dengan logikanya untuk mengembangkan pengetahuannya.

 

Bahasan

Ada dua hal yang melatari mengapa manusia bisa mengembangkan pengetahuan. Pertama, manusia memiliki bahasa untuk berkomunikasi. Kedua, manusia mampu menalar (Suriasumantri, 1997). Dengan bahasanya, manusia memiliki kemampuan untuk mengomunikasikan masalah yang telah diselesaikan. Dengan demikian, ia mendapatkan suatu ilmu baru dan ilmu itu diinformasikan kepada manusia lain.

Karena bahasa dapat untuk mengkomunikasikan suatu hal ke orang lain, maka dalam mengkomunikasikannya harus tertulis dalam bentuk bagus, dengan aturan. Hal ini sangat berguna untuk mengkomunikasikan informasi yang diperoleh kepada orang lain yang berikutnya agar berkembang menjadi informasi yang lain. Oleh karena itu, misalkan kita membuat sebuah karya ilmiah, karena tujuan kita memberikan informasi dengan kalimat yang jelas maka kita menggunakan bahasa ilmiah yang jelas juga.

Syarat bahasa digunakan sebagai komunikasi ilmiah antara lain :

  1. Harus bebas emotif
  2. Reproduktif, artinya komunikasinya dapat dimengerti oleh yang menerima.

Kekurangan bahasa terletak pada:

a.Peranan bahasa yang multifungsi, artinya kommunikasi ilmiah hanya menginginkan penyampaian buah pikiran/penalaran saja, sedangkan bahasa verbal harus mengandung unsur emotif, afektif dan simbolik.

b.Arti yang tidak jelas dan eksak yang dikandung oleh kata-kata yang membangun bahasa.

c. Konotasi yang bersifat emosional.

 

  1. Manusia mampu menalar

Menurut Salam (1997) penalaran merupakan tahapan penemuan kebenaran, dan setiap jenis penalaran memiliki kriteria kebenarannya masing-masing. Penalaran merupakan kemampuan berpikir menurut alur kerangka tertentu. Manusia mempunyai alat otak, apabila ada suatu persoalan yang dipikirkan, Jika itu berupa masalah, maka manusia akan berpikir bagaimana menyelesaikan masalah itu. Manusia berpikir, dari satu pikiran, beralih kepikiran lain, lalu dirangkaikan untuk menyelesaikan masalah. Pikiran – pikiran yang dirangkaian itu adalah yang disebut penalaran. Apabila manusia harus menyelesaikan masalah dengan berpikir sampai suatu penalaran, pastinya menurut logika yang jelas. Oleh kerena itu bagaimana kita menyeleasaikan masalah misal sebuah thesis, maka kita mencari judul, referensi, menyusun hipotesis, variabel, dan seterusnya. Bagaimana kerangka itu tersusun dengan baik atau tidak, itu tergantung potensi manusia dalam berpikir.

Manusia juga mengenal instink atau intuisi. Apakah hal tersebut juga termasuk penalaran? Berbeda dengan penalaran, instink merupakan alur berpikir dengan pola tertentu yang bukan pola berpikir penalaran, terkadang instink yang di miliki oleh binatang lebih tinggi dibanding manusia.

 

Sumber Pengetahuan

Menurut salam (1997), pengetahuan bersumber dari penalaran, perasaan, insting, dan wahyu. Penalaran merupakan rangkaian berpikir secara teratur, terkonsep, dan sistematis untuk mendapatkan pengetahuan. Penalaran merupakan rangkaian berpikir. Oleh karena itu, apabila hanya berpikir sekali atau sebagian saja, hal itu tidak dikatakan penalaran. Penalaran adalah kegiatan berpikir yang mempunyai karakteristik tertentu dalam mememukan kebenaran.

Adapun ciri dari penalaran lainnya antara lain:

  1. Adanya suatu pola berpikir luas yang disebut logika, tiap bentuk penalaran mempunyai logikanya sendiri. Misalkan, apabila kita punya 1 dos rokok, ditujukan kepada sejawat medis, dokter berkomentar didalam kotak ini ada rokok yang megnandung tembakau ada kandungan nikotin, kalau dibakar dihisap dalam jumlah kecil merangsang otak, dan jika terlalu banyak bisa paralisis. Sehingga sejawat medis itu akan memberikan sebuah kesimpulan jangan merokok. Sekarang, barang sama, namun diberikan kepada pedagang rokok. Maka pedagang rokok akan membuat logika yang berbeda, misalnya barang ini luar biasa sekali. Ini kalau dirokok, nikmat, dan itu ternyata sangat berguna, justru dengan berdagang, anak saya lulus, pedagang rokok ini akan membuat sebuah kesimpulan bahwa barang berguna sekali. Inilah yagn disebut logika yang digunakan berbeda.
  2. Penalaran adalah proses berfikir yang logis (menurut pola/logika tetentu). Suatu kegiatan bisa dikatan logis dari suatu logika tertentu dan dapat dianggap tidak logis apabila ditinjau dari logika lainnya. Contoh gelas ada air dibtaburkan gula. Kemudian gelas diberikan seorang farmasi. Ini air, didalam ada gula yang bsia larut karena kelarutan sekian gram, mestinya tadi kurang dari sekian gram, setelah itu di dialam gelas ada dispersi molekuler itu rumusnya seperti ini. Kalau hal ini diterangkan masyarakat awam, pasti dianggap orang gila. Inilah yang disebut suatu kegiatan bisa dikatakan logis dari suatu logika tertentu dan bisa dikatakan tidak logis apabila ditinjau dari logika lain.
  3. Adanya sifat analitis dari proses berpikir pada saat melakukan penalaran. Analisis adalah kegiatan berfikir berdasarkan langkah-langkah tertentu. Penalaraan ilmiah merupakan kegiatan analisis yang menggunakan logika ilmiah, jika kita menyelesaikan tehsis harus sesuai dengan logika ilmiah, dalam arti sesuai dengan bidang yang kita kerjakan dalam peneltiiant tersebut, makanya kenapa kita harus di iuji oleh penguji penguji yagn sesuai dengan bidangnya, agar analisis yang kita tulis dapat diterjemahkan secara logika ilmiah, bayangkan saja, jika pengujinya dosen sejarah.

Oleh karena itu, penalaran merupakan proses berfikir yang logis dan analitis. Karena apa? fakta kenyataan tidak setiap kegiatan berpikir bersifat logis dan analitis. Artinya ada cara berfikir yang tidak logis, ada logis dan tidak analisis, misalkan, sebuah intuisi, ini bukan merupakan hasil penelitian. Kadang kita tidak semata – mata hanya menggunakan penalaran dalam melakukan penelitian, namun bisa terjadi instink/intuasi yang tiba tiba muncul, misal senyawa A dan senyawa B, membuat nano partikel, TPP dan chitosan, secara logika muncul koloid yang baru, tapi ternyata gagal, akhirnya kita tidak bisa menggunakan penalaran yang ada, tiba – tiba ada binatang tikus, curut, yang buang air kecil masuk. Akhirnya muncul, berarti kurang suasana asamnya.

Dalam sumber penalaran belum mencakup materi dan sumber pengetahuan. Sumber pengetahuan dari penalaran adalah rasio dan fakta. Rasio disebut rasionalisme, sedangkan berdasarkan data – data yang ada (fakta) disebut empirisme.

 

Rasionalime (akal budi)

Tidaklah mudah membuat defenisi tentang rasionalisme sebagai suatu metode untuk memperoleh pengetahuan. Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal, bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling dipandang sebagai jenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesehatan terletak di dalam ide kita , dan bukan di dalam diri berang sesuatu, jika kebenaran mengandung makna dan mempunyai ide yang sesuai atau kepada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya diperoleh dengan akal budi saja.

 

Empirisme (pengalaman)

Kebalikan dari kaum rasionalis, maka kaum empiris berpendapat bahwa pengetahuan manusia bersumber pada pengalaman yang kongkret. Gejala-gejala alamiah merupakan sesuatu yang bersifat kongkret dan dapat dinyatakan lewat tangkapan panca indera manusia. Melalui gejala-gejala atau kejadian-kejadian yang berulang-ulang dan menunjukkan pola yang teratur, memungkinkan manusia untuk melakukan generalisasi. Dengan mempergunakan metode induktif maka dapat disusun pengetahuan yang berlaku secara umum lewat pengamatan terhadap gejala-gejala fisik yang bersifat individual. Kaum empiris menganggap bahwa dunia fisik adalah nyata karena merupakan gejala yang dapat tertangkap oleh pancaindera, sedangka panca indera manusia sangat terbatas kemampuannya dan terlebih penting lagi bahwa panca indera manusia bias melakukan kesalahan. Misalnya bagaimana mata kita melihat sebatang pensil yang dimasukkan ke dalamg gelas bagian yang terendam air terlihat bengkok.

Seseorang yang empiris biasanya berpendapat bahwa kita dapat memeroleh pengetahuan melalui pengalaman. Sifat yang menonjol dari jawaban ini dapat dilihat bila kita memperhatikan pertanyaan seperti, “bagaimana orang mengetahui es membeku ?”, jawaban kita tentu berbunyi “karena saya melihatnya demikian” atau “karena seorang ilmuwan melihat demikian”. Dengan begitu, dapat dibedakan dua macam yaitu, pertama unsur yang mengetahui dan kedua unsur yang diketahui. Orang yang mengetahui merupakan subjek yang memperoleh pengetahuan dan dikenal dengan perkataan yang menunjukkan seseorang atau suatu kemampuan. Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peranan akal. Istilah empirisme di ambil dari bahasa Yunani empeiria yang berarti coba-coba atau pengalaman. Sebagai suatu doktrin empirisme adalah lawan dari rasionalisme. Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan tentang kebenaran yang sempurna tidak diperoleh melalui akal, melainkan di peroleh atau bersumber dari panca indera manusia, yaitu mata, lidah, telinga, kulit dan hidung. Dengan kata lain, kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan pengalaman manusia.

Penalaran Ilmiah

Ada dua jenis penalaran ilmiah, yakni penalaran deduktif dan penalaran induktif. Dengan pendekatan logika yang ilmiah, digunakan penalaran gabungan keduanya. Penalaran deduktif berkaitan dengan rasionalisme sedangkan penalaran induktif berkaitan dengan empirisme. Penarikan simpulan dianggap valid bila dikeluarkan dengan cara tertentu yang disebut logika. Ada dua macam logika, yakni logika induktif dan deduktif. Dalam melakukan rencana penelitian, misalnya, kita harus menggunakan logika induktif pada sisi satu, dan menggunakan logika deduktif pada sisi yang lain. Logika induktif berdasarkan apa yang diketahui, dari simpulan yang bersifat individual kemudian ditarik simpulan yang bersifat menyeluruh. Logika deduktif merupakan penarikan simpulan dari kasus umum ke kasus khusus. Contoh, apabila kita pergi ke pasar, secara umum di pasar mangga manis, di tempat satu wadah pasti manis. Dicoba manis, manis, manis, ternyata semua manis, berarti betul bahwa mangga manis.

Induksi merupakan proses berpikir dari khusus ke umum. Jika sampel penelitian bersifat khusus, lalu digenerasilasi; itu berarti dari hal khusus kita menarik simpulan umum. Cara ini, disebut pula cara berpikir sintesis karena kita menyintesis dari sifatnya individu untuk menarik simpulan yang bersifat umum.

Perasaan merupakan hasil atau perbuatan merasa dengan pancaindra, rasa keadaan batin sewaktu menghadapi sesuatu, kesanggupan untuk merasa atau merasai, pertimbangan batin (hati) atas sesuatu atau pendapat. Perasaan menggunakan hatinya, tidak secara teratur, terkonsep maupun sistematis. Misalnya, seorang pelukis tidak menggunakan penalaran, tetapi perasaannya. Pengetahuannya adalah lukisannya tersebut.

Intuisi (insting) merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui penalaran tertentu. Seseorang yang sedang terpusat pemikirannya pada suatu masalah tiba-tiba saja menemukan jawaban atas masalah tersebut. Jawaban atas masalah yang sedang dipikirkannya muncul di benaknya bagaikan kebenaran yang membukakan pintu. Intuisi ini bekerja dalam keadaan yang tidak sepenuhnya sadar. Artinya, jawaban atas suatu masalah ditemukan ketika orang tersebut tidak secara sadar menggelutnya. Intuisi ini bersifat personal dan tidak bisa diramalkan. Sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur, intuisi ini tidak bisa diandalkan. Pengetahuan intuitif dapat dipergunakan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menentukan benar tidaknya pernyataan yang dikemukakannya. Kegiatan intuitif dan analitis bisa bekerja saling membantu dalam menemukan kebenaran.

Sumber pengetahuan yang berupa wahyu merupakan pemberian dari Tuhan, dan bukan kapada sembarang orang ia diberikan. Di dalam wahyu dan intuisi tercakup materi pengetahuan dan sumber pengetahuan yang benar. Hal ini tidak berarti bahwa wahyu itu menipu, dan insting bukan pengetahuan yang benar. Asalkan benar dan tidak mengada-ada, insting tersebut merupakan pengetahuan yang benar. Wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada manusia melalui para nabi yang diutusnya sepanjang zaman. Agama tidak hanya merupakan pengetahuan tentang kehidupan sekarang yang terjangkau pengalaman, tetapi juga mencakup masalah-masalah transendental seperti latar belakang penciptaan manusia dan hari kemudian. Pengetahuan ini didasarkan pada kepercayaan akan hal-hal yang ghaib (supernatural). Kepercayaan kepada Tuhan yang merupakan sumber pengetahuan kepercayaan kepada nabi sebagai perantara dan kepercayaan terhadap wahyu sebagai cara penyampaian, merupakan dasar dari penyusunan pengetahuan ini. Kepercayaan merupakan titik tolak dalam agama. Suatu pernyataan harus dipercaya dulu untuk dapat diterima. Pernyataan ini bisa saja selanjutnya dikaji dengan metode lain. Secara rasional, ia bisa dikaji umpamanya apakah pernyataan-pernyataan yang terkandung di dalamnya bersifat konsisten atau tidak. Di pihak lain, secara empiris bisa dikumpulkan fakta-fakta yang mendukung pernyataan tersebut atau tidak.

 

Penutup

Sebagai penutup, kiranya bisa diringkas bahwa ada empat sumber pengetahuan, yakni penalaran, perasaan, intuisi, dan wahyu. Pengetahuan yang bersumber dari penalaran adalah rasio dan fakta. Dalam penalaran ilmiah digunakan metode rasio dan fakta dalam bentuk induktif dan deduktif. Pancaindera menekankan kemampuan manusia untuk menangkap pengalaman kongkret yang diterima oleh pancainderanya. Dalam hal akal budi, manusia mengetahui dengan membandingkan ide-ide atau pertimbangan-pertimbangan, dalam arti bahwa akal manusia mempunyai kemampuan untuk mengungkap kebenaran dengan sendirinya. Dalam hal intuisi, pengetahuan diperoleh tanpa melalui proses penalaran tertentu karena sifatnya personal dan tidak bisa diramalkan. Sementara itu, wahyu merupakan pengetahuan yang diperoleh dari Tuhan. [ ]

 

Rujukan

Salam, Burhanuddin. 1997. Logika Materil Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Rineka Cipta.

Suriasumantri, Jujun S. 1999. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Suparlan, Suhartono. 1997. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Makassar: Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin.

Tim Pustaka Phoenix. 2009. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi keempat. Jakarta: Media Pustaka.


Leave a Reply