Revitalisasi Bahasa Indonesia berbasis Massive Open Online Courses (MOOC)

  • 0

Revitalisasi Bahasa Indonesia berbasis Massive Open Online Courses (MOOC)

Elvira Ratna Sari,S.Pd

Widyaiswara Bahasa Prancis

PPPPTK Bahasa – Jakarta

Jakarta – Malam Anugerah KiHajar baru saja dilaksanakan oleh Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom), Kementerian Pendidikan dan Budaya, Kamis, tanggal 17 November 2017 di Plaza Insani Gedung A Kemdikbud, Senayan, Jakarta, yang dihadiri oleh Menteri Pendidikan dan Budaya Bapak Prof. Muhajir Efendi, MAP. Sebuah perhelatan  besar yang ketujuh kalinya diselenggarakan dengan tema “Pendayagunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam perhelatan akbar itu diberikan apresiasi kepada tokoh-tokoh pengerak pendidikan. Sebuah seminar nasional pun dilaksanakan satu hari sebelumnya bertema “Literasi TIK untuk Penguatan Pendidikan Karakter di Era Digital” (Rabu, 16/11). Kegiatan ini dimeriahkan pula dengan stand-stand pameran terkait IT dari Indosat, Google, Rumah Belajar, Watchdog ID, dan lain-lain.

Semangat literasi TIK tahun ini sungguh digaungkan dalam pendidikan, begitu juga beberapa pelaksanaan seminar nasional dan internasional yang penulis ikuti beberapa waktu lalu yaitu; The Eight Annual International Symposium of Foreign Language Learning (8th AISOFOLL – Seameo Regional for Qitep In Language) di Jakarta (18-19/10) dengan tema “Supporting the Enhancement of Critical Thinking Skills Through Language Teaching[1]. Salah satu subtema simposium ini “Exploring Language Trainees’ Literacy Beliefs and Perceptions Using a Values-Based Approach In Online Teaching and Learning[2](Dr. Suma Parahakaran – Sathya Sai Educare Academy of Malaysia).  Program Persatuan Guru Bahasa Prancis di Indonesia dalam Conférence Internationale sur Le Français (CIF) 2[3] menyelenggarakan kegiatan serupa dengan tema utama “Intelligeance Linguistique et Littéraire à l’Ère Informatique[4], menampilkan salah satu subtema “Réseaux Sociaux et Enjeux Linguistique[5]. Selain itu telah dibukanya kelas visual bahasa Prancis bagi pembelajar asing dengan moda MOOC oleh Centre d’Approches Vivantes des Langues et des Médias[6]  (CAVILAM), Vichy-France[7].

https://www.facebook.com/CAVILAMAllianceFrancaise/videos/10156737496309832/ https://www.youtube.com/watch?v=YSMdYP_X9_s

Saat ini penggunaan internet sudah mendunia bahkan di Asia Tenggara seperti yang diungkapkan dalam wearesocial.com“More than half of Southeast Asia’s population now uses the internet, with the number of internet users around the region growing by more than 30% – or 80 million new users – in the past 12 months alone[1].” Dikatakan bahwa lebih dari separuh populasi Asia Tenggara ssaat ini menggunakan internet, dengan jumlah pengguna internet tumbuh 30% – atau 80 juta pengguna baru – dalam kurun waktu 12 bulan terakhir saja. Hampir semua bidang telah memanfaatkan teknologi informasi sebagai media aktivitasnya. Begitu pun, dunia pendidikan juga tidak luput dari hal ini.

Bertolak dari isu-isu terkini di atas, Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang dimiliki oleh 262 juta penduduk Indonesia berdasarkan statistik Juli 2017[2], berharap bisa menjadi bahasa pemersatu yang kuat untuk mendampingi dan melindungi bahasa-bahasa daerah yang ada, serta berkembang menjadi bahasa utama di forum-forum internasional. Untuk itu kebutuhan literasi TIK sangat diperlukan dalam mengembangkannya. Massive Open Online Courses atau disingkat MOOC merupakan salah satu moda teknologi yang dapat digunakan dan untuk memperkenalkan pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA).

Istilah MOOC ini pertama kali diperkenalkan oleh Stephen Downes dari Universitas Minitoba Canada pada tahun 2008 dengan mengembangkan kuliah tanpa SKS secara online kepada 27 mahasiswanya secara percuma dan kemudian berkembang menjadi 2.200 mahasiswa terdaftar. Stephen Downes mengklasifikasikan model perkuliahan ini sebagai connectivist atau disingkat cMOOC.

Berjalannya tahun banyak universitas di Amerika mulai memanfaatkan moda ini, seperti Stanford University (2011), The Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Harvard University (2012) yang mengembangkan model MOOC dalam bentuk moda pendaftaran dan pengajaran. Umumnya saat itu model yang digunakan masih berbasis video pembelajaran (video lectures) dan test yang menggunakan komputer (computer marked-test). Downes mengklasifikasikan model ini sebagai xMOOC. Pada tahun 2015, lebih dari 4.000 MOOCs berkembang, dan 1.000 diantaranya digunakan oleh institusi di negara-negara Eropa[1].

Pada tahun 2013, seorang penulis Thomas Friedman dalam surat kabar New York Times menyatakan, “….relatively little money, the U.S. could rent space in an Egyptian village, install two dozen computers and high-speed satelite internet access, hire a local teacher as a facilitator, and invite in any Egyptian who wanted to take online courses with the best professors in the world. …I can see a day soon where you’ll create your own college degree by taking the best online courses from the best professors from around the world. …paying only the nominal fee for the certificate of completion. It will change teaching, learning and the pathway to employment[2].” Dengan biaya yang sedikit, Amerika dapat menyewa sebuah tempat di sebuah desa di Mesir, melengkapinya dengan 12 komputer dan akses internet satelit kecepatan tinggi, kemudian menyewa seorang guru lokal sebagai fasilitator, dan mengajak beberapa orang saja yang tertarik kuliah online ini dibimbing oleh profesor terbaik di dunia.  Sekolah mandiri tercipta dengan membebani biaya untuk sertifikat. Sistem ini mengubah gaya belajar-mengajar, dan bahkan menciptakan sebuah pekerjaan baru.

 

Apa itu MOOC?

MOOC, Massive Open Online Courses atau  pembelajaran berbasis daring (dalam jaringan) terbuka dan bersifat masif. Sebuah moda pembelajaran yang didisain bagi pembelajar dalam skala luas. Kata Massive dalam konteks ini adalah ribuan atau ratusan ribu pembelajar dengan mendaftar dan mengikuti sebuah perkuliahan atau dapat dikatakan dalam skala tak terbatas. Makna Open adalah tidak adanya kriteria materi dan syarat seorang pembelajar kecuali kemampuannya untuk mengakses internet, terutama dalam menggunakan video straming. Namun untuk beberapa kasus pada perkuliahan seperti Coursera online (Stanford University), perkuliahan ini dikenai biaya untuk ujian kenaikan tingkat atau mendapatkan sertifikat dan mata kuliah tertentu yang berhak cipta. Bahan perkuliahan MOOC dapat berupaBahan perkuliahan MOOC dapat berupa lectures, readings, dan quizzes yang dipandu oleh mentor atau pengampu (instructors) dalam kelompok-kelompok kelas, grup-grup aktivitas, projek dan kuis. Saat ini, kursus atau pendidikan berbasis MOOC ditawarkan di Amerika. Lebih dari tujuh juta mahasiswa terdaftar dalam pembelajaran secara daring, termasuk program diploma reguler.

 

Fasilitas pada MOOC.

MOOC divariasikan menjadi model xMOOC dan cMOOC (connectivity-MOOC).  xMOOC didisain memiliki kelebihan kemampuan a.l. menyimpan materi digital sesuai kebutuhan, prosedur penilaian otomatis, dan melacak hasil kerja peserta, serta menganalisis data peserta. Berikut fitur-fitur yang umumnya terdapat di xMOOC: video lectures,computer-marked assignments, peer assessment, supporting materials, shared comment/discussion space, discussion moderation, badges or certificates, and learning analytics (video pembelajaran, tugas yang ditandai komputer, penilaian sejawat, bahan bacaan, komentar bersama/ ruang diskusi, moderasi diskusi, lencana atau sertifikat, belajar analisis. Model cMOOC ini diperkaya dengan network learning, dimana pembelajaran ini dikembangkan dengan connections and discussions antarpeserta dengan banyak media sosial seperti webcasts, blogs peserta, tweets, (membahas satu topik yang sama) melalui hashtags dan online discussion forums. Namun model ini biasanya tidak menuntut penilaian secara resmi, mentor/pengampu dapat berupa mentor undangan.  

Mengapa connectivity (c)MOOC?

Saat ini kita mengenal istilah Era millenium (2001-sekarang) dan generasinya disebut Gen-Z High-speed (1996-sekarang) atau Digital Natives yaitu generasi yang hadir dan mengenal teknologi berbasis internet sejak usia dini. Kondisi ini akan mempengaruhi proses belajar mereka, begitu pula guru harus mau beradaptasi dalam gaya dan strategi mengajar dan belajar. Sebelumnya kita mengenal perkembangan aliran belajar behaviorism (1920an), cognitivism (1950an), constructivism(1970an), maka sejalannya waktu berkembang dikenal istilah lain connectivism (2007). Istilah aliran connectivism hadir beberapa tahun ini khususnya pada masyarakat digital (digital society). Pemaknaan aliran belajar ini masih terus berkembang bahkan menjadi perdebatan ahli. Dalam aliran konektivisme ini mengkoneksikan secara kolektif seluruh sumber jaringan untuk menghasilkan sebuah bentuk baru dari pada pengetahuan. Siemens (2004)[1] menyatakan “knowledge is created beyond the level of individual human participants, and is constantly shifting and changing.” Pengetahuan diciptakan melampaui tingkat individual pesertanya dan pengetahuan akan terus berubah.

Downes (2007) secara jelas membedakan aliran connectivisme dengan aliran constructivism, “in connectivism, a phrase like “constructing meaning” make no sense. Connectivism form naturally, through a process of association, and are not ‘constructed’ through some sort of intentional action…Hence, in connectivism, there is no real concept of transferring knowledge, making knowledge, or building knowledge. Rather, the activities we undertake when we conduct practices in order to learn are more like growing or developing ourselves and our society in certain (connected) ways.” Dalam konektivisme, sebuah ungkapan seperti “membangun makna” menjadi tidak masuk akal. Konektivisme terbentuk secara alami melalui proses asosiasi, dan tidak “dibangun” melalui semacam tindakan yang disengaja. Oleh karena itu, dalam konektivisme, tidak ada konsep nyata untuk proses transfer pengetahuan, membuat pengetahuan atau membangun pengetahuan. Sebaliknya, kegiatan yang dilakukan saat ini adalah praktik agar bisa belajar lebih, seperti menumbuhkan atau mengembangkan diri dan masyarakat dengan cara tertentu (terhubung).

Downes (2014) mengidentifikasi empat prinsip desain cMOOC, yaitu autonomy of the learner, diversity, interactivity, and open-ness.  Peserta dapat memilih materi dan keterampilan (berupa besaran tema) yang ingin dipelajari, tidak mengikuti kurikulum resmi pada umumnya. Dengan perangkat cMOOC model ini, jangkauan jumlah peserta dan tingkat pengetahuan mereka dan materi yang bervariasi terpenuhi. Interaksi berupa co-operative learning antarpeserta yang pada akhirnya membentuk pengetahuan, sedangkan model xMOOC pengetahuan diberikan dengan cara lebih formal dari mentor yang merupakan seorang pakar kepada peserta.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemdikbud belum lama ini melaksanakan program diseminasi “Pemuktahiran Acuan Kemahiran Bahasa Indonesia”. Seminar yang berlangsung sehari (10/11) membahas empat (4) hal utama terkait perkembangan bahasa, a.l. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI), Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI). Sebuah laman digital pun telah dibuat untuk memfasilitasi, memperbaharui, mengembangkan, dan menguatkan, serta mengekspos keberadaan bahasa Indonesia agar lebih dikenal di negeri sendiri dan dunia internasional.

BIPA adalah salah satu program pembelajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing. Satu cara yang menjadikan Bahasa Indonesia second language (L2) dipelajari dan digunakan dalam forum-forum internasional. Kedutaan/kosulat Indonesia saat ini aktif mengirimkan secara berkala para pengajar BIPA (moda tatap muka) oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, ke negara-negara a.l. Mesir, Timor Leste, Thailand, Philipina, Eropa, dan lain-lain. Ini merupakan langkah yang tepat mengenalkan bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional. Saat ini perkembangan BIPA masih dalam taraf pembelajaran langsung di kelas, belum dilengkapi dengan bentuk daring (online).

Pada akhirnya sejalan dengan waktu, BIPA membutuhkan penguatan agar dapat eksis karena pengetahuan akan teknologi digital akan terus berkembang dan berubah. Moda Massive Open Online Courses atau MOOC dapat menjadi salah satu pilihan untuk program BIPA ini. Program yang dapat diterapkan pada kelas-kelas lanjutan bagi penutur asing yang ingin memperdalam bahasa Indonesia atau untuk kelas inisiasi bagi yang ingin mengenal bahasa Indonesia, begitu pula dengan pengembangan Uji Kompetensi Bahasa Indonesia (UKBI) yang berstandar internasional.

 Foot Note

[1] Mendukung Peningkatan Keterampilan Berpikir Kritis Melalui Pengajaran Bahasa

[1] Mengeksplorasi Rasa Percaya Diri dan Persepsi Literasi Pelatih Bahasa dengan Menggunakan Pendekatan Berbasis Nilai Dalam Mengajar dan Belajar secara Online

[1] Konferensi Internasional Bahasa Prancis ke-2

[1] Kecerdasan Linguistik dan Sastra di Era Teknologi dan Informasi

[1] Jejaring sosial dan isu-isu linguistik.

[1] Pusat pengembangan pendekatan dan media pembelajaran bahasa

[1] http://www.fondation-alliancefr.org/?p=27996

[1] website : pika.ugm.ac.id/id/newsletter-pika-edisi-november-2017/ – (http://wearesoctial.com)

[1] http://jateng.tribunnews.com/2017/08/02/data-terkini-jumlah-penduduk-indonesia-lebih-dari-262-juta-jiwa

[1] Bates, A.W. Tony. (2016) Teaching in a Digital Age, Guidelines for Designing Teaching and Learning.

[1] Bates, A.W. Tony. (2016) Teaching in a Digital Age, Guidelines for Designing Teaching and Learning

[1] Bates, A.W. Tony. (2016) Teaching in a Digital Age, Guidelines for Designing Teaching and Learning.


Leave a Reply