KEHIDUPAN MASYARAKAT MESIR Pengalaman Lintas Budaya

  • 0

KEHIDUPAN MASYARAKAT MESIR Pengalaman Lintas Budaya

Category : Artikel Umum , Bahasa Arab

Dedi Suprianto

Widyaiswara Bahasa Arab
PPPPTK Bahasa

Bila kita berkunjung ke Mesir, selain kita dapat belajar dan mempraktikkan bahasa Arab, tentunya kita juga dapat mengenal lebih dekat budaya masyarakat negeri Piramida ini. Ada beberapa pengalaman empiris yang dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat Indonesia yang ingin berkunjung ke sana. Berikut ini beberapa pengalaman empiris yang terjadi pada penulis selama berada di Mesir. Pengalaman yang menyenangkan, haru, sedih maupun menegangkan.

  1.    Menyapa dan menanyakan asal

Secara umum masyarakat Mesir sangat tertarik dan ramah dengan orang asing, termasuk orang asing dari daerah Asia. Di beberapa wilayah yang jarang orang asingnya sepeti di Ismailia (2,5 jam dari Cairo), banyak orang Mesir yang baru pertama kali meilihat penulis kemudian tersenyum lalu menyapa. Bahkan tidak jarang beberapa anak kecil memandang sambil mengikuti penulis seraya menyapa dengan bahasa mereka.

Umumnya mereka menyapa dengan bahasa Mandarin yaitu  “Ni haoma?” (“Apa kabar?”), kemudian pengajar menjawab dengan “Ni hao” (kabar baik”) sambil menjelaskan bahwa kami dari Indonesia dan kami beragama Islam, lalu kami menyapa mereka dengan salam “Assalamu’alaikum” dan kemudian mereka tersenyum dan menjawab salam kami. Mereka kadang kaget juga ternyata penulis juga bisa berbahasa Arab. 

Adapula di antara mereka yang menanyakan asal penulis dengan bertanya, “Min Shiin?” (“Dari Cina?”),  “Min Yaban?” (“Dari Jepang?”), “Min Malaysia?” (“Dari Malaysia?”), “Min Korea?” (Dari Korea?”), “Min Filipina?” (“Dari Filipna?”). Tentunya kami langsung menjawab “Kami dari Indonesia” atau “Indonesia”. Kemudian mereka menjawab “Oh min Indonesia” (“Oh, dari Indonesia?”), kemudian rata-rata mereka langsung menjawab “Ahsanunnas!” (“sebaik-baik manusia!”). Namun uniknya dari sekian pertanyaan tentang asal jarang sekali yang menanyakan langsung kepada pengajar dengan pertanyaan “Min Indonesia?” (“Dari Indonesia?”/ “Anda dari Indonesia?”).  Jadi kebanyakan mereka – yang tinggal jauh dari ibu kota Cairo – menebak kita orang Asia dan umumnya bagi mereka Asia itu adalah Cina. Sudah tentu mereka mudah menebak kita orang Asia atau orang Cina karena penampilan fisik kita tidak seperti mereka (orang Arab).

 

2.    Keinginan warga untuk foto bersama

Banyak pula warga Mesir yang meminta foto bersama penulis, terutama di tempat wisata atau kendaraan umum saat baru pertama kali berjumpa dengan mereka. Mereka meminta dan mengajak penulis untuk swafoto sebagai kenang-kenangan yang indah karena bisa bertemu dangan orang asing yang secara fisik tentunya berbeda dengan mereka. Hal ini membuat penulis tersenyum-senyum, bangga dan bahagia karena merasa diri bak orang atau artis terkenal yang disanjung dan dipuja-puja.   

  

3.   Sempat dilarang masuk masjid

            Pernah suatu kali, saat penulis bersama bersama seorang kawan asalIndonesia ingin masuk masjid dan menunaikan shalat ashar, tiba-tiba dari dalam masjid muncul seorang bapak tua yang melarang kami masuk masjid. Beliau melarang masuk dan meminta kami untuk keluar. Padahal kami belum sempat berkata apa-apa dan baru berdiri di depan pintu masjid. Awalnya kami mengira bahwa masjid ingin ditutup karena sudah tidak ada jama’ah lagi. Untungnya dari dalam masjid juga muncul seorang polisi yang baru saja shalat ashar dan kemudian mengatakan kepada bapak tua tadi bahwa kami berdua ini datang ke masjid karena ingin shalat. Kami pun juga segera menjelaskan kepada bapak tua pengurus masjid tadi bahwa kami muslim dan ingin shalat di dalam masjid. Saat bapak tua tadi tahu bahwa kami muslim dan ingin shalat maghrib lalu dia tersenyum ramah, meminta maaf dan mempersilakan kami untuk shalat. Beliau menunggu kami shalat, bahkan selesai shalat kami diberi hidangan minuman dan kurma oleh beliau. Lalu beliau menanyakan asal kami. Setelah tahu kami dari Indonesia beliau mengatakan “ahsanunnas!” (“sebaik-baik manusia”/”orang Indonesia adalah orang-orang yang baik”).    

 

4.  Menjamu tamu dengan banyak makanan

Bila kita bertamu atau diundang makan oleh keluarga atau sahabat dari Mesir maka kosongkan perut atau bersiap-siaplah untuk lapar sebelumnya, karena biasanya mereka menjamu dan menghidangkan makanan untuk tamu dalam porsi besar dan beraneka ragam jenis masakan. Penulis merasa senang namun juga tidak enak bila tidak menghabiskan makanan yang disediakan, karena memang sudah kenyang atau kadang rasa makanan belum sesuai dengan lidah penulis. Bahkan ketika makanan kita hampir habis pun mereka meminta dan bahkan menambahkan ke dalam piring yang sedang kita gunakan, bagi mereka ini suatu penghormatan menjamu tamu.  Namun demikian bagi penulis ini adalah suatu latihan alami untuk bisa beradaptasi dengan keluarga dan juga makanan khas Mesir yang beraneka ragam bentuk dan rasanya. 

 

5.  Mujamalah (basa-basi)

Mujamalah adalah ungkapan basa basi. Di antara contoh mujamalah adalah saat kita melakukan transaksi jual beli. Di saat kita membeli barang, sering penjual menolak bayaran kita sambil tersenyum, menggoyangkan tangannya – tanda kita tidak perlu membayar- dan mengatakan “kholi” yang artinya gratis tau perlu membayar.  Hal ini sebenarnya hasanya basa-basi. Ketika kita mengetahui budaya ini maka sudah sewajarnya kita membayar sesuai harga yang telah tertera atau disepakati. Hal ini leih menambah kakraban dan persaudaran manakala penjual berbasa basi dengan mengatakan ini barang tersebut gratis kemudian kita membayarnya sesuai ketentuan. Artinya kita sama-sama saling diuntungkan karena kita bisa saling menghargai dan menghormati dalam urusan bermasyarakat.   

 

6.  Penggunaan ungkapan “Bukhrah” (Besok/nanti)

Terkadang ada orang Mesir menjanjikan sesuatu kemudian mengatakan “bukhroh”, yang artinya besok/nanti. Kita harus lebih berhati-hati karena belum tentu “bukhroh” di sini artinya besok atau selang satu hari dari hari ini. Misal dalam pengurusan visa, kita  bertanya kepada petugas di sana dengan mengatakan “Imta aljawaz maugud? (Kapan selesai pengurusan paspor/visa?”), apabila petugas menjawab dengan ungkapan “bukhroh” (besok/nanti) maka waspadalah, apalagi bila mereka mengatakan “bada bukhroh” (setelah besok), bisa jadi artinya waktu penyelesaian visa semakin tidak jelas kapan akan selesai. Oleh karena itu “bukhroh” ini maksundya ungkapan tentang waktu yang tidak pasti atau belum pasti waktunya entah kapan. Maka tak jarang masyarakat Indonesia yang tinggal di Mesir sering mengingatkan rekan-rekannya sambil bercanda dengan mengatakan, “Hati-hati loh dibukhrohin orang Mesir.” atau “Nggak mau ah dibukhrohin, capek, tidak jelas.”

 

7.  Penggunaan ungkapan “Quraib” (Dekat)

Bila kita sedang berjalan kaki lalu bertanya kepada orang Mesir, “Ayna Jam’ah Al-Azhar?” (“Di mana kampus Al-Azhar?”), kemudian orang itu menjawab, “quraib!” (dekat!), maka kita jangan langsung memperkirakan dan menyangka bahwa kampus Al-Azhar memang sudah dekat, bisa jadi kampus itu masih jauh. Karena menurut mereka bisa jadi jarak kampus tersebut dari tempat kita bertanya memang dekat namun bagi kita sebenarnya masih jauh bahkan sangat jauh dari kampus Al-Azhar, misalnya masih 5-10 km berjalan kaki atau sekitar 45 menit.  


Leave a Reply