Monthly Archives: Mei 2018

  • 0

Profil UNBK Dan Keterkaitannya dalam Pembelajaran Aktif : Model Pembelajaran Kontekstual (Bagian 4)

Elvi Saidi
Widyaiswara LPMP Gorontalo

PROFIL UNBK

Pembelajaran yang berbasis Pembelajaran aktif dapat mengkajinya bagaimana Ciri Pembelajaran aktif (Active learning) itu sendiri, yakni,

1. Mengamati (Observing):

a) melihat dan mendengarkan ketika orang lain sedang melakukan sesuatu terkait dengan apa yang sedang mereka pelajari dari guru maupun orang lain.

b) Mengamati langsung, artinya siswa diarahkan mengamati kegiatan atau situasi nyata secara langsung.

b) Mengamati langsung, artinya siswa diarahkan mengamati kegiatan atau situasi nyata secara langsung.

c) Mengamati tidak langsung, artinya siswa diarahkan mengamati situasi atau kegiatan melalui simulasi dari situasi nyata, studi kasus atau diajak menonton flim.

2. Melakukan (Doing):

Kegiatan ini menunjukkan pada proses pembelajaran dimana siswa benar-benar melakukan sesuatu secara nyata, misalnya mendesain suatu Project (riset), mendesain suatu eksperiment, menyelidiki sumber-sumber sejarah lokal, membuat presentasi lisan, membuat cerpen dan puisi, laporan riset.

3. Dialog dengan diri sendiri (Dialogue With Self)

Adalah bentuk belajar dimana para siswa berpikir reflektif mengenai suatu topik. Mereka bertanya pada diri sendiri apa yang sedang atau harus dipikirkan, apa yang mereka rasakan dari topik yang dipelajari.mereka memikirkan tentang pemikirannya sendiri (Thinking about my own thinking), dalam cakupan pertanyaan yang lebih luas dan tidak sekedar hanya berkaitan dengan aspek kognitif semata.

4. Dialog dengan orang lain (Dialogue With Others)

a) Partial dialogue, yang sifatnya sangat terbatas karena didalamnya tidak terjadi balikan atau pertukaran pemikiran.

b) Dialog kelompok kecil, dimana para siswa dapat berdiskusi mengenai topik-topik pelajaran secara intensif.

c) Dialog khusus, misalnya berdialog dengan praktisi, ahli dan sebagainya, baik berlangsung di dalam kelas maupun diluar kelas baik secara interaksi langsung maupun secara tertulis (Sudrajat).

Dari sekian banyak model pembelajaran berbasis pembelajaran aktif (active learning), penulis menawarkan untuk satu model pembelajaran yakni model pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL). alasannya adalah bahwa model pembelajaran kontekstual didasarkan pada filosofi, siswa mampu menyerap pelajaran apabila mereka menangkap makna akademis sekaligus tugas-tugas akademis jika mereka bisa mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang mereka sudah miliki sebelumnya, merangsang pemebentukan struktur fisik otak dalam rangka merespon lingkungan, selain itu model pembelajaran kontekstual sesuai dengan cara kerja alam dan hebatnya dalam model pembelajaran kontekstual memiliki tiga prinsip yang melekat pada segala sesuatu di alam (A. chaidar, dalam Johnson:2006).

Menurut Trianto (2011: 101), Model Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru atau pendidik mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa atau peserta didik dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan demikian hasil pembelajarannya diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran kontekstual berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan merupakan transfer pengetahuan dari pendidik ke siswa.

Menurut Suherman dalam Sanjaya (2006: 12), pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan peserta didik (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang disajikan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran menjadi konkrit, dan suasana menjadi kondusif-nyaman dan menyenangkan.

.Strategi pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut: 1) menekankan pada pemecahan masalah, 2) menggunakan berbagai konteks, 3) berdasarkan pada perbedaan konteks kehidupan peserta didik, 4) mendorong siswa untuk belajar secara teratur sendiri, 5) mendorong siswa untuk belajar melalui kelompok belajar, 6) menggunakan authentics assessment Sumarmo dalam Suciati (2007: 5)

Berdasarkan pendapat ahli Pembelajaran kontekstual dapat diidentifikan bahwa, Pembelajaran kontekstual adalah proses pembelajaran yang membangkitakan aktivitas siswa untuk mengalami dan melakukan, serta dapat mengkomunikasikan sebagai bentuk pengembangan kemampuan sosial, sehingga tidak sekedar menjadikan siswa menyimak dan mencatat saja. Dengan demikian Pembelajaran ini sangat sesuai dengan Pembelajaran aktif sebagaimana yang diharapkan pada kurikulum 2013, yang mana pembelajaran untuk setiap mata pelajaran itu diharapkan terkontekstual dan mengintegrasikan penguasaan karakter, tiga kompetensi yakni, Kompetensi sikap, baik sikap spiritual maupun sosial; Kompetensi pengetahuan, baik fakta, konsep prosedur,dan metakognisi., Kompetensi Keterampilan, pada keterampilan belajar (abstrak) dan Produk (konkrit); dan berdaya Literasi.

Uraian di atas searah dengan Jhonson (2006: 65) bahwa, pembelajaran kontekstual mencakup delapan komponen yakni: (1) membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna, (2) melakukan pekerjaan yang berarti, (3) melakukan pembelajaran yang diatur sendiri, (4) bekerja sama, (5) berpikir kritis dan kreatif, (6) membantu individu untuk tumbuh dan berkembang, (7) mencapai standar yang tinggi, (8) mengadakan penilaian yang autentik.

Untuk lebih mendalami makna pembelajaran kontekstual ada tujuh strategi menurut Johnson dalam bukunya Contextual teaching and Learning (2006:23) yang mesti ditempuh sebagaimana berikut ini.

Pertama, Pembelajaran berbasis problem masalah. Dengan memunculkan problem, siswa ditantang untuk berpikir kritis untuk memecahkannya.

Kedua, Menggunakan konteks yang beragam. Makna atau pengetahuan itu ada di mana-mana dalam konteks fisikal dan sosial. Selama ini ada yang keliru, menganggap bahwa pengetahuan adalah yang tersaji dalam materi ajar atau buku teks. Guru dalam hal ini membermkankan pengetahuan itu dalam konteks sekolah, keluarga, masyarakat, tempat kerja dan sebagainya. Sehingga makna yang diperoleh siswa menjadi semakin luas dan berkualitas.

Ketiga, mempertimbangkan kebhinekaan siswa. Dalam konteks Indonesia. Selama ini kebhinekaan baru sekedar pengakuan polits yang belum bermakna edukatif. Dalam hal ini guru mengayomi individu dan sosial yang hendaknya membermaknai kebhinekaan sebagai mesin penggerak untuk belajar saling menghormati dan membangun toleransi demi terwujudnya keterampilan interpersonal.

Keempat, memberdayakan siswa untuk belajar sendiri, setiap siswa mesti menjadi pembelajar aktif sepanjang hayat, untuk itu mereka harus dilatih untuk berpikir kritis, kreatif dalam mencari dan menganalisis informasi dengan sedikit bantuan guru atau malah secara mandiri.

Kelima, belajar melalui kolaborasi, siswa hendaknya dibiasakan saling belajar dari dan dalam kelompok untuk berbagi pengetahuan. Dalam kelompok selalu ada siswa yang menonjol dibanding temannya yang lain, siswa inilah yang dapat dijadikan fasilitator dalam kelompoknya. Apabila komunitas belajar sudah terbina sedmikian rupa, guru akan lebih berperan sebagai fasilitator, pelatih atau mentor.

Keenam, menggunakan penilaian otentik. Artinya penilaian yang mengakui kekhasan sekaligus keluasan dalam pembelajaran, materi ajar dan capaian prestasi siswa. Penilaian otentik menunjukkan bahwa belajar telah berlangsung secara terpadu dan kontekstual, misalnya Materi tentang bahasa yang otentik meliputi koran, program radio dan televisi, website dan sebagainya. Sehingga memberikan kesempatan dan dukungan kepada siswa untuk maju terus sesuai denagn potensi yang dimilkinya.

Ketujuh, Mengejar standar tinggi. Standar tinggi atau standar unggul sering dipersepsikan sebagai jaminan untuk mendapat tempat di masyarakat sebagai kebutuhan masyarakat yang dalam hal ini untuk mendapatkan pekerjaan dan mampu membantu menyelesaikan masalah sendiri atau sosial. Dengan demikian mereka menjadi manusia yang kompetitif pada abad persaingan (abad 21).

Untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran kontekstual dapat digambarkan dalam bentuk langkah-langkah yang dapat menjadi alternatif yang sederhana. Berikut langkah-langkah Pembelajaran kontekstual yang dikutip dari tesis yang tidak diketahui penulisnya (Anonim)

Tabel 2. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kontekstual

Sumber Anonim 2009


  • 0

PENGGUNAAN METODE EKLEKTIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ASING

Category : Artikel Kebahasaan

 M. Isnaini

Widyaiswara P4TK Bahasa

 

Konsep Dasar Metode Gabungan (Eklektik)

Metode gabungan (eclectic method) merupakan kreativitas para pengajar bahasa asing untuk mengefektifkan proses belajar mengajar bahasa asing. Metode ini juga sekaligus memberikan kebebasan kepada mereka untuk menciptakan variasi metode.

Yang dimaksud gabungan di sini bukan menggabungkan semua metode sekaligus, melainkan lebih bersifat “tambal sulam”, artinya suatu metode tertentu dipandang dapat mengetasi kekurangan metode yang lain. Walaupun setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan, namun tidak berarti semuanya dapat digabungkan sekaligus, sebab menggabungkan di sini sesuai kebutuhan atas dasar pertimbangan tujuan pembelajaran, sifat materi pembelajaran, kemampuan pelajar, bahkan kondisi guru. Yang cocok dilakukan dalam hal ini adalah memanfaatkan kelebihan metode tertentu untuk mengatasi kekuragan metode tertentu.

Berdasarkan kenyataan di atas, muncullah metode eklektik ( الطريقة الانتقائية), yang mengandung arti pemilihan dan penggabungan. Sebagaimana metode –metode lainnya, metode gabungan memiliki dasar yang dijadikan pijakannya.

Ada enam hal yang menjadi pijakan metode gabungan, yaitu:

  1. Setiap metode pengajaran bahasa asing memilki kelebihan. Kelebihan itu dapat dimanfaatkan dalam pengajaran bahasa asing.
  2. Tidak ada metode yang sempurna, dan juga tidak ada metode yang jelek, tetapi semuanya memiliki kekuatan dan kelemahan. Kekuatan metode tertentu bisa jadi dapat mengatasi kelemahan metode tertentu.
  3. Setiap metode memiliki latar belakang, karakteristik, dasar pemikiran, dan peruntukan yang berbeda, bahkan bisa jadi suatu metode muncul karena menolak metode sebelumnya. Jika metode-metode tersebut digabungkan, maka akan menjadi sebuah kolaborasi yang saling menyempurnakan.
  4. Tak ada suatu metode pun yang sesuai dengan semua tujuan, semua siswa, semua guru, dan semua program pengajaran bahasa asing.
  5. Hal yang penting dalam mengajar adalah memberi perhatian kepada para pelajar dan kebutuhannya, bukan menguasai metode tanpa didasarkan kepada pelajar dan kebutuhannya.
  6. Setiap guru bahasa asing diberi kebebasan untuk menggunakan langkah-langkah atau teknik-teknik dalam menggunakan metode pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan para pelajarnya dan sesuai dengan kemampuannya.

Langkah-langkah Penggunaan Metode Gabungan

Menggunakan metode gabungan dalam pengajaran bahasa asing adalah memanfaatkan kebaikan metode tertentu untuk mengatasi masalah kekurangan metode tertentu. Misalnya seorang guru bermaksud melatihkan kemampuan memahami teks bacaan dan kaidah gramatika, maka ia dapat mengkolaborasikan metode langsung dengan metode kaidah dan terjemah ditambah metode membaca.

Metode langsung “mengharamkan” penggunaan bahasa pelajar sehari-hari dalam pengajaran bahasa asing (sebut saja bahasa ibu dan bahasa kedua) sebagai bahasa pengantar pelajaran dan kegiatan penerjemahan ke dalam bahasa pelajar sehari-hari. Dalam pandangan metode ini penggunaan bahasa sehari-hari dan terjemahan dapat mengganggu keberhasilan, sebab tidak mendidik para pelajar untuk disiplin menggunakan bahasa asing yang dipelajari secara langsung. Padahal jika dilihat dari susut pandang yang lain larangan ini justru membuat metode ini tidak maksimal dalam mengajarkan bahas asing, sebab dalam hal-hal tertentu para pelajar bahasa asing tetap memerlukan bahasa sehari-hari atau terjemahan. Ini akan terjadi ketika diajarkan kata-kata atau kalimat yang sama sekali tidak bisa diragakan, digambarkan atau ditunjukkan ke alam nyata. Dalam hal lain metode langsung juga tidak menghiraukan kaidah gramatika, sebab menurut pandangannya analisa kaidah gramatika akan menggaggu pelajar dalam belajar bahasa asing. Padahal dalam hal-hal tertentu pelajar sangat membutuhkan analisa kaidah secukupnya. Ini juga sebuah kelemahan jika ditinjau dari sudut lain, sebab bagaimanapun yang namanya bahasa tidak terlepaskan dari kaidah gramatika, justru penggunaan kaidah ini dapat membuat bahasa menjadi tersusun rapi. Maka dapat diatasi dengan metode kaidah dan terjemah. Dalam hal lain kemampuan membaca di dalam metode langsung diberi porsi sangat sedikit, padahalkemampuan memahami bacaan juga sangat diperlukan dalam belajar bahasa asing. Maka ini bisa diatasi dengan metode membaca, dan seterusnya.

Terlihat di sini bahwa kegiatan pembelajaran akan menjadi sangat variatif, tidak terfokus pada satu kegiatan. Maka penggabungan ini diharapkan akan membuat kegiatan ini memacu motivasi para pelajar dalam belajar bahasa asing.

Seperti metode lain, langkah yang bisa digunakan untukmenggunakan metode ini fleksibel. Misalnya langkah yang dapat ditempuh oleh guru adalah sebagai berikut:

  1. Pendahuluan, sebagaimana metode lain.
  2. Memberikan materi berupa dialog-dialog pendek yang rileks, dengan tema kegiatan sehari-hari secara berulang-ulang. Materi ini mula-mula disajikan secara lisan dengan gerakan-gerakan, isyarat-isyarat, dramatisasi-dramatisasi, atau gambar-gambar.
  3. Para pelajar diarahkan untuk disiplin menyimak dialog-dialog tersebut, lalu menirukan dialog-dialog yang disajikan sampai lancer.
  4. Para pelajar dibimbing menerapkan dialog-dialog itu dengan teman-temannya secara bergantian.
  5. Setelah lancer menerapkan dialog-dialog yang telah dipelajari, mereke diberi teks bacaan yang temanya berkaitan dengan dialog-dialog tadi. Selanjutnya guru member contoh cara membaca yang baik dan benar, diikuti oleh para pelajar secara berulang-ulang.
  6. Jika terdapat kosa kata yang sulit, guru memaknainya mula-mula dengan isyarat atau gerakan, atau gambar atau yang lainnya. Jika tidak mungkin ini semua, guru menerjemahkannya ke dalam bahasa pelajar.
  7. Guru mengenalkan beberepa struktur yang penting dalam teks bacaan, lalu membahasnya seperlunya.
  8. Guru menyuruh para pelajar menelaah kembali bacaan, lalu mendiskusikan isinya.
  9. Sebagai penutup, jika diperlukan, evaluasi akhir berupa pertanyaan-pertanyaan tentang isi bacaan yang telah dibahas. Pelaksanaannya bisa saja secara individual atau kelompok, sesuai dengan situasi dan kondisi. Jika tidak memungkinkan, misalnya karena waktu, guru dapat menyajikannya berupa tugas yang harus dikerjakan di rumah masing-masing pelajar.

Kelebihan dan Kekurangan Metode Gabungan

Telah dikemukakan sebelumnya bahwa tak ada metode yang terbaik dan terburuk. Menggunakan metode apapun, khususnya dalam pengajaran bahasa asing, di dalamnya akan ada masalah yang harus diatasi. Termasuk menggunakan metode gabungan ini.

Walaupun terlihat kegiatannya lebih variatif, kemampuan para pelajar dalam menggunakan bahasa asing lebih merata, namun menggunakan metode gabungan nampaknya akan bermasalah dengan kesedian guru, siswa dan alokasi waktu.

Belum tentu semua guru sanggup melakukan serangkaian kegiatan mengajar yang begitu banyak dan bervariasi. Penggunaan metode ini nampaknya menuntut adanya guru yang segala bisa dan energik. Begitu juga dipihak pelajar. Biasanya kegiatan yang terlalu banyak malah akan menimbulkan kejenuhan belajar, apalagi jika materi dibawakan secara monoton. Waktu yang diperlukan juga relatif lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan metode yang lain, padahal umumnya alokasi waktu pelajaran bahasa Arab di sekolah-sekolah di Indonesia teratas, kecuali di sekolah-sekolah tertentu yang memberikan perhatian lebih kepada bidang studi bahasa Arab.


  • 0

Profil UNBK Dan Keterkaitannya dalam Pembelajaran Aktif : Model Pembelajaran Kontekstual (Bagian 3)

Elvi Saidi
Widyaiswara LPMP Gorontalo

PROFIL UNBK

Dengan bentuk pelatihan Kisi-kisi dan Instrumen soal yang diprakarsai sekolah guru diharapkan mampu menyusunnya dengan mengadaptasi tingkat kesulitannya dari materi lots, mots dan hots (dan bukan sekedar mengadopsi) untuk setara soal nasional. Dari kebanyakan para guru hanya mengutip soal yang instan saja, sering pula soal yang dikutip itu tanpa dilakukan telaah guru untuk memastikan apakah soal tersebut memiliki jawaban pada pilihan jawaban.

Ironisnya, soal yang memiliki atau tidak memiliki jawaban akan diketahui saat soal sementara diujikan ke siswa dan sering siswa menyatakan pada pengawas bilik ujian bahwa soal tertentu tidak terdapat pilihan jawaban, soal yang demikian ini kemudian oleh sang penyusun soal pun menyatakan ‘Bonus” untuk soal yang tidak punya pilihan jawaban. Hal ini menjadi indikasi bahwa proses penyusunan soal tidak maksimal sesuai sbagaimana harapan Kurikulum 2013.

Uraian di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa, Profil Unbk mengandung makna, yakni sebagai berikut.:

1) Untuk memberikan keluasan dalam pengembangan soal yang berstandar nasional bahkan berstandar Internasional.

2) Memuat materi soal yang berstandar low order thinking skill (Lots) dan middle thinking skill (Mots) yang hanya sebatas materi hafalan.

3) Memuat materi soal penalaran atau high order thinking skill (Hots) dengan melibatkan materi pengayaan yang kontekstual pada penegtahuan fakta, konsep, prosedure dan metakognisi.

4) Meningkatkan kualitas pendidikan utamanya untuk program ujian nasional, yang terintegrasi dengan literasi Komputer.

5) Meredam banyak kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional.

6) Mampu menumbuhkan minat belajar dikalangan siswa.

7) Menggerakkan siswa berusaha untuk dapat lulus dalam ujian nasional yang dihadapi tanpa mengandalkan bocoran soal dan mengedepankan lulusan yang berkualitas.

Pembelajaran Aktif: Model Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran aktif adalah belajar yang memperbanyak aktivitas siswa dalam mengakses berbagai informasi dari berbagai sumber, untuk dibahas dalam proses pembelajaran dalam kelas, sehingga memperoleh berbagai pengalaman yang tidak saja menambah pengetahuan, tapi juga kemampuan analisis dan sintesis (Rosyada dalam Muchlisin Riadi, 2012). Selanjut pengertian yang diberikan oleh Sudrajat bahwa, Pembelajaran aktif adalah segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri baik interaksi siswa dengan siswa maupun siswa dengan guru (Sudrajat).

Pengertian Pembelajaran aktif (active learning) dapat dipahami untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh siswa baik mental dan fisik, sehingga semua siswa dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (active learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa agar tetap tertuju pada proses pembelajaran. Dari pengertian itu dapat dipahami bahwa active learning dapat terdiri atas banyak model pembelajaran yang memiliki kesamaan karakter.

Adapun karakteristik pembelajaran aktif adalah sebagai berikut:

1. Penekanan proses pembelajaran bukan pada penyampaian informasi oleh guru melainkan pada pengembangan berpikir analisis, kritis, kreatif terhadap topik atau permasalahan yang dibahas.

2. Siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan secara pasif tetapi mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan materi pelajaran.

3. Penekanan pada eksplorasi nilai-nilai dan sikap yang berkenaan dengan materi pelajaran.

4. Siswa lebih banyak dituntut untuk berpikir kritis, menganalisis dan melakukan evaluasi.

5. Umpan balik lebih cepat akan terjadi dalam proses pembelajaran.

Dari karakteristik pembelajaran di atas dapat diketahui bahwa yang diaktifkan pada pembelajaran aktif adalah mental siswa karena secara langsung hubungannya dengan berlatih berpikir kritis, kreatif terhadap materi ajar yang mengandung jenis pengetahuan fakta, konsep, prosedur serta metakognisi; fisik siswa karena berhubungan dengan melakukan pengembangan keterampilan konkrit, emosional dan sosial siswa sangat berhubungan pengembangan sikap spiritual dan sosial dan karakter.

Pembelajaran aktif adalah eksperimen yang ditandai oleh kegiatan mengamati dan melakukan selain itu pembelajaran dialogue yang ditandai oleh dialog dengan diri sendiri dan dialog dengan orang lain. Dalam pendekatan pembelajaran kurikulum 2013, active learning menjadi perluasan dari Pendekatan Scientific. Jika pada active learning dengan pembelajaran experimen dan dialogue, sementara Pendekatan scientific mengenal langkah-langkah scientific, yakni a) mengamati, b) menanya, c) mengumpulkan informasi, d) mencoba dan menyimpulkan/mengasosiakan dan e) mengkomunikasikan. Melihat kedua terms pembelajaran tersebut nampak ada persamaannya. Pada pendekatan scientific mengenal tiga model pembelajaran yakni, a) discovery learning (penemuan), b) problem based learning (berbasis masalah) dan c) project based learning (berbasis riset). Ketiga model pembelajaran dari pendekatan scientific memiliki karakter langkah-langkah yang spesifik.

Sebagaimana diketahui bahwa, diawal Kurikulum 2013 pendekatan scientifik dengan tiga model pembelajaran menjadi rujukan proses pembelajaran aktif. Selanjutnya kurikulum mengalami perkembangan dan direfisi ditahun 2016, yang refisinya adalah:

1) Pendekatan scientifik bukan satu-satunya pendekatan pembelajaran yang kemudian meluaskan pembelajaran scientifik dengan menambahkannya dengan Pembelajaran aktif (Active Learning).

2) Langkah-langkah Pendekatan scientifik yakni, a) mengamati, b) menanya, c) mengumpulkan informasi, d) mencoba, mengasosiasi, menyimpulkan, dan e) mengkomunikasikan bukan lagi sebagai langkah prosedur pembelajaran. aktif

3) Setiap Pembelajaran aktif yang terpilih diharuskan memiliki unsur scientific. Artinya model pembelajaran berbasis Active Learning dapat mengambil dua atau tiga langkah dari langkah-langkah scientifik. Hal ini untuk meminimalkan metode ceramah.

Terdapat lebih dari 100 model pembelajaran yang berbasis Active learning termasuk tiga model pembelajaran yang menjadi populer pada Kurikulum 2013. Dari sekian banyak model pembelajaran guru harus memilki strategi untuk memilah dan memilih model pembelajaran yang mana yang sesuai dengan materi ajar dan intake kompetensi awal siswa. Jadi Pembelajaran aktif mengarahkan guru untuk menerapkan model-model pembelajaran yang tidak dibatasi pada tiga model pembelajaran scientifik akan tetapi meluas ke model pembelajaran yang lainnya dengan syarat berbasis inquiry sehingga terkoneksi pada Unbk.


  • 0

Profil UNBK Dan Keterkaitannya dalam Pembelajaran Aktif : Model Pembelajaran Kontekstual (Bagian 2)

Elvi Saidi
Widyaiswara LPMP Gorontalo

Profil Unbk

Ujian nasional sebgaimana tercantum dalam Prosedur Operasional Penyelenggaraan ujian nasional 2017/2018 adalah kegiatan pengukuran dan penilaian pencapaian standar kompetensi lulusan SMP/MTs …yang secara nasional meliputi mata pelajaran tertentu. Ujian nasional sebagai kegiatan mengukur dan menilai pencapaian SKL di atur dalam Permendikbud no 23 tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan adalah kriteria mengenai lingkup, tujuan, manfaat, prinsip, mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik yang digunakan sebagai dasar dalam penilaian hasil belajar peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Ujian nasional sebgaimana tercantum dalam Prosedur Operasional Penyelenggaraan ujian nasional 2017/2018 adalah kegiatan pengukuran dan penilaian pencapaian standar kompetensi lulusan SMP/MTs …yang secara nasional meliputi mata pelajaran tertentu. Ujian nasional sebagai kegiatan mengukur dan menilai pencapaian SKL di atur dalam Permendikbud no 23 tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan adalah kriteria mengenai lingkup, tujuan, manfaat, prinsip, mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik yang digunakan sebagai dasar dalam penilaian hasil belajar peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Ujian nasional adalah puncak ujian yang diikuti oleh siswa, setelah mengalami proses pembelajaran dan penilaian melalui ulangan dan ujian tingkat sekolah. Ulangan merupakan proses yang dilakukan oleh setiap guru mata pelajaran untuk mengukur pencapaian Kompetensi Peserta Didik/siswa secara berkelanjutan dalam proses Pembelajaran untuk memantau kemajuan dan perbaikan hasil belajar Peserta Didik/siswa. Sementara ujian sekolah/madrasah adalah kegiatan yang dilakukan oleh sekolah untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai pengakuan prestasi belajar dan/atau penyelesaian dari suatu satuan pendidikan (Permendikbud no 23 thn 2016).

Unbk diakronimkan dari Ujian nasional berbasis komputer. Unbk menurut panduan 2017 adalah tes berbasis komputer yang penyajian dan pemilihan soalnya dilakukan secara terkomputerisasi sehingga setiap peserta tes mendapatkan paket soal yang berbeda-beda. Unbk merupakan pengembangan dari ujian menggunakan Paper Based Test (PBT) menjadi Computer Based Test (CBT) https://www.utopicomputers.com.Unbk. Ini salah satu fungsi Komputer sebagai penghela pengetahuan. Secara teknis penyiaapannya, sekolah harus menjadi fasilitor dalam menyiapkan perangkatnya mulai dari penyiapan kelistrikan, komputer, dan jaringan internetnya. Karena berbeda dengan ujian Paper Based Test (PBT) sehingga sekolah pun harus memfasilitasikan terhadap calon peserta ujian dengan latihan atau simulasi penggunaan perangkatnya.

Ujian ini telah diterapkan pada peserta ujian setelah menyelesaikan 3 tahun di SMP dan SMA-K. Khusus jenjang SMP mata pelajaran yang diujikan dalam Unbk adalah Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris. Tentunya materi yang diujikan berdasarkan pengalaman belajar siswa selama duduk dibangku sekolah (BSNP 2017).

Adapun alasan penyelenggaraan Unbk adalah salah satu alternatif mengatasi kelemahan ujian nasional berbasis kertas (PBT), yakni: bentuk soal yang digunakan sulit untuk dibuat bervariasi, tampilan soal terbatas, hanya dua dimensi, diperlukan banyak kertas dan biaya penggandaan yang mahal, pengamanan kerahasiaan soal relatif sulit dan memerlukan biaya yang cukup besar dan pengolahan hasil memerlukan waktu yang lama (Puspendik, 2015:5). Atas alasan ini maka fungsi Ujian Nasional akan berfungsi sebagai pengukur dan penilaian SKL dalam hal ini pada Kompetensi Pengetahuan yang bebas dari ketidakjujuran atau kecurangan, selain itu suasana ujian tidak akan berubah menjadi suasana diskusi soal atau tanya jawab dikarenakan paket soal yang dikerjakan berbeda oleh peserta yang berdekatan, dengan waktu yang sangat ketat.

Profil Unbk setiap mata pelajaran yang terdiri atas lingkup materi ajar yang telah dibelajarkan disesuaikan dengan jenjang kelas. Materi Unbk diambil dari keseluruhan Kompetensi Dasar yang telah menjadi pngalaman pembelajaran siswa. Dapat dipastikan bahwa setiap KD akan terwakili dalam lingkup materi pembelajaran sekaligus menjadi materi penilaian dalam wujud materi soal.

Sebelum penyusunan soal maka sangat diperlukan adalah penyusunan kisi-kisi soal Unbk. BSNP menyiapkan Kisi-kisi dengan format dua dimensi, yakni Pertama, dimensi Pengetahuan berupa lingkup materi, materi dari kelas VII hingga kelas IX dan Kedua, dimensi Proses berpikir yang terdiri atas tiga level, yakni, pertama, level berpikir Low order thinking skill (Lots), kedua, level berpikir Middle order thinking skill dan ketiga, level berpikir Penalaran atau berpikir tngkat tinggi atau High order thinking skill (hots) (Bsnp,2017: 22).

Selanjut kisi-kisi disusun sedemikian rupa sehingga dimensi pengetahuan yang terdiri atas materi dari lingkup materi tertentu akan mewakili pada tiga level. Misalnya Lingkup materi A terdiri atas materi A1, A2 dan A3 yang diajarkan berturut-turut di kelas VII,VIII dan IX , untuk Materi A1 dapat saja direncanakan menjadi 3 nomor soal, dan ketiga nomor soal tersebut disebar dalam dimensi Proses berpikir pada level Lots, Mots dan Hots masing-masing satu nomor soal. Demikian untuk lingkup materi B, C dst. Hingga keseluruhan soal menjadi sejumlah 50 Nomor soal sebagaimana dalam standar prosedur operasional UN oleh BSNP 2017. Dari total soal biasanya ditentukan Prosentase Level Lots, Mots dan Hots, misalnya total soal 50 nomor soal, 12,5 % Lots, 75 % Mots dan 12,5 % Hots. Porsentase ini dapat saja berubah dari tahun ketahun. Dan oleh karena soal Unbk terdiri atas soal Pilihan ganda dan Soal Uraian, sudah ditentukan pula jumlah soal pilihan ganda dan jumlah soal uraian. Biasnya soal uraian dari total soal menyiapkan 5 nomor soal uraian.

Ketiga level berpikir yakni Lots, Mots, dan Hots sebagaimana di atas didasarkan pada taksonomi Bloom refisi oleh Anderson,L,W dan Krathwohl D,R,2001 sebagai rujukan Kurikulum 2013. Taksonomi Bloom-Anderson 2001 memiliki dua dimensi, yakni, dimensi proses kognisi yang disusun dari berpikir level Lots yakni, mengingat (C1), memahami (C2), berpikir level Mots, yakni, memhami (C2) dan menerapakan (C3) dan berpikir tingkat tinggi atau Penalaran atau Hots. dan dimensi pengetahuan (knowledge) disusun dari jenis pengetahuan fakta, konsep, prosedur dan metakognitif. Baik dimensi proses kognisi dan dimensi knowledge dalam Kurikulum 2013 yang terdapat dalam kalimat pernyataan Kompetensi Inti pengetahuan. Pernyataan kompetensi Inti tersebut sebagaimana berikut, “Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata”, Pernyataan Kompetensi Inti pengetahuan mengandung kata ‘memahami’ merupakan dimensi Proses berpikir pada tataran C2 dan faktual, konseptual, prosedural dan metakognisi merupakan dimensi pengetahuan.

Pernyataan Kompetesni Inti di atas diturunkan menjadi Pernyataan Kompetensi Dasar, yang seharusnya juga mengambil kata yang sama yakni ‘memahami’ yang sudah mewarnai materi ajar, kata ini adalah level Cognition 2 (C2) dari dimensi proses berpikir atau dimensi Process Cognition. Level ‘Memahami’ (C2), yakni, kemampuan untuk menangkap atau membangun makna dari materi fakta, konsep, prosedur. Pada tingkat kemampuan ini siswa dituntut untuk memahami yang berarti mengetahui sesuatu hal dan dapat melihatnya dari beberapa segi. Termasuk kemampuan untuk mengubah bentuk menjadi bentuk yang lain, misalnya dari bentuk verbal menjadi bentuk rumus, dapat menerangkan, menyimpulkan dan memperluas makna.

Memahami atau Pemahaman masih merupakan kata yang belum dapat diukur. Untuk mengukur berpikir ‘memahami’ dapat menggunakan tabel taksonomi Pengetahuan oleh Bloom-Anderson untuk menemukan Kata kerja Operasional atau kata yang sering digunakan untuk Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) sehingga KKO atau IPK untuk materi ajar tertentu akan dapat diukur dalam bentuk soal atau tes. Misalnya menggunakan kata yang dapat diukur yakni, mencontohkan, mengklasifikasi, menyimpulkan, membandingkan, dan menjelaskan, dll.

Sebagaimana dalam pedoman kurikulum 2013 bahwa, Kompetensi dasar tidak membatasi proses berpikir siswa, sekalipun Kompetensi dasarnya mengandung proses berpikir ‘memahami’ bukan berarti kompetensi berpikir hanya sampai pada ‘memahami’ saja akan tetapi sampai dengan ‘mencipta (C6) pada pengetahuan fakta, konsep, prosedur dan bahkan metakognisi. Oleh karena itu kisi-kisi Unbk atau soal Unbk tidak saja disiapkan sekedar sampai pada level ‘memahami’ yang masih berkategori Lots. Akan tetapi hingga pada level Mots, Hots.

Dalam menggunakan taksonomi Bloom-Anderson 2001, sangat penting untuk penyusunan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) pada KD atau materi ajar tertentu sangat pentingnya taksonomi tersebut karena menjadi cikal bakal Indikator soal pada Kisi-Kisi ulangan ditingkat kelas, ujian sekolah bahkan kisi-kisi untuk ujian nasional. Setiap proses berpikir yang disebut dengan, mengingat (C1), Memahami (C3), menerapkan (C3), menganalisis (C4), mengevaluasi (C5) dan mencipta (C6) adalah masih merupakan kata kerja abstrak yang belum dapat diukur. Untuk menyusun IPK sebagai cikal bakal indikator soal pada kisi-kisi harus menggunakan kata kerja operasional (KKO).

Penyusunan IPK mengacu pada prinsip pembelajaran dari konkrit ke abstrak. Sebagaimana di atas sekalipun KD dinyatakan dengan ‘memahami (C2) tetap saja untuk penyusunan IPK harus secara runut tersusun dari ‘mengenal (C1), ke C2, C3, hingga ke C6, tentu masing-masing menggunakan kata kerja operasionalnya untuk menyusun IPK (perhatikan tabel taksonomi Bloom-abnderson 2001)

Sebagai Konsekwensi dari IPK yang tersusun itu harus melahirkan soal mulai dari level Lots, Mots Hingga Hots untuk penilaian. Tentunya penyusunan soal tersebut oleh guru harus melalui RPP yang sudah mencantumkan IPK, selanjutnya menyusun kisi-kisi yang mencantumkan Indikator soal, dimana Indikator soal dibangun dari IPK. Selanjutnya berdasarkan kisi-kisi soal disusunlah naskah soal.

Untuk lebih jelasnya level Lots, Mots Hingga Hots yang dikembangkan berdasarkan taksonomi Kognisi Bloom-Anderson sebagai gambaran dapat mencermati Kisi-Kisi soal Unbk Bahasa Indonesia SD tahun 2017/2018.

Tabel Kisi-Kisi Unbk Bahasa Indonesia SD tahun 2017/2018

Sumber: Kemdikbud Direktorat Pembinaan SD

Berdasarkan tabel di atas memberikan inspirasi bagi guru untuk mengembangkan soal yang dibutuhkan sebagai penilaian guru dan penilaian Sekolah atas prestasi siswa dan sekaligus sebagai latihan persiapan siswa menghadapi Unbk yang bentuk soalnya yang sulit diprediksi (gerak brown) yang berada pada keluasan range proses kognisi dari C1 hingga C6. Dan yang pasti soal yang akan dihadapi akan menjadi sulit karena membutuhkan penalaran atau berpikir tingkat tinggi siswa jika mengabaikan latihan secara intensif.

Hal yang tidak dapat dihindari guru adalah mengembangkan soal Hots atau soal penalaran. Soal Hots memiliki karakter sebagai soal yang bersifat kontekstual yang dapat menggunakan penalaran siswa semasa pembelajaran, bersifat unfamiliar artinya soal Hots tidak pernah dicobakan pada siswa akan tetapi baru dijumpai pada saat Unbk belangsung. Selain itu soal Hots merupakan soal dengan kategori level C4, C5, dan C6 dalam dua atau lebih konsep atau prosedur untuk menyelesaikannya.

Untuk mengatasi Unbk yang bersifat luas dan kontekstual hingga dirasakan sulit maka sekolah harus melatihnya dengan soal yang kontekstual pula. Mengatasinya Unbk yang kontekstual tersebut melalui strategi penyusunan Kisi-Kisi soal dan Instrumen soal untuk persiapan ujian akhir semester di tingkat sekolah. Strategi penyusunan kisi-kisi dan instrumen soal itu dengan cara, keduanya disusun oleh dua guru yang berbeda dengan syarat kedua guru tersebut berlatar mata pelajaran yang sama. Misalnya guru pertama menyusun kisi-kisi dan guru lainnya menggunakan kisi-kisi yang dibuat oleh orang pertama sebagai dasar menyusun soal. Berdasarkan pengalaman selama ini penyusunan kisi-kisi soal dan Instrumen soal mata pelajaran tertentu menjadi beban tugas seorang guru mata pelajaran tersebut.

Penyusunan Kisi-Kisi soal dan Instrumen soal ujian semester dengan Strategi di atas dimungkinkan untuk dilaksanakan oleh sekolah mengingat Ujian akhir semester atau akhir tahun adalah tanggung jawab dan kewenangan sekolah dalam mengevaluasi kinerja guru dan ketercapaian kompetensi siswa (Permendikbud no 23 tahun 2016).

Penyusunan dengan strategi ini dapat secara tidak langsung mengawasi proses pembelajaran yang terhindar dari pengabaian materi tertentu untuk dibelajarkan dalam satu-satuan semester. Artinya baik guru dan siswa selalu mewaspadai soal yang diibaratkan seperti ‘gerak brown’. Selain itu, motivasi guru dan siswa akan terjaga menyelesaikan materi pelajaran sesuai target silabus. Sebaliknya bila sekolah tetap menerapkan strategi penyusunan baik Kisi-kisi soal dan instrumen soal dilakukan oleh hanya satu orang guru sesuai mata pelajaran yang diampunya. Cara yang seperti ini biasanya terjadi banyak kejanggalan.

Kejanggalan itu misalnya, jika orang yang sama yang bertugas menyusun pekerjaan yang berbeda tersebut, yang terjadi adalah guru menyusun soal sesuai materi yang dibelajarkan dan menghindari untuk mata pelajaran yang tidak dibelajarkan. Kejanggalan lain, guru dapat saja menyusun soal terlebih dahulu baru kemudian kisi-kisi soal, hal ini melanggar prosedur. Kejanggalan berikutnya adalah soal bisa jadi yang paling sering dilatihkan pada siswa dan tidak memperhatikan soal penalaran atau Hots. Bahkan soal menjadi mudah karena bisa jadi sudah dibocorkan.

Selain strategi di atas sekolah harus memfasilitasi pelatihan tingkat sekolah bagi guru menyusun kisi-kisi soal dan instrumen soal mengacu pada contoh Kisi-kisi dan instrumen soal nasional. Berdasarkan pengalaman pengamatan terhadap guru menyusun naskah soal, kebanyakan dari mereka mengambil atau mengadopsi soal dari buku atau dokumen Ujian nasional, artinya guru kurang terampil dengan sepenuhnya mampu menyusun soal sendiri yang bebas plagiarisme.


  • 1

Profil UNBK Dan Keterkaitannya dalam Pembelajaran Aktif : Model Pembelajaran Kontekstual (Bagian 1)

Elvi Saidi
Widyaiswara LPMP Gorontalo

ABSTRAK

Unbk selama ini menjadi mimpi buruk baik bagi guru maupun siswa. Alasannya pembelajaranlah yang menjadi penyebabnya. Pembelajaran masih seperti yang dulu-dulu saja sekalipun genderang kurikulum 2013 sudah dibunyikan menandai standar proses dan standar penilaian sudah dimulai mengikuti kebutuhan abad 21.

Pembelajaran yang diterapkan belum membuat gairah semangat belajar siswa untuk mencapai hasil penilaian dengan standar tinggi. Dengan menggali makna yang terkandung pada Unbk termasuk kesulitan yang dihadapai siswa yang dapat dipastikan hasilnya tidak maksimal. Untuk itu perlu menggali pula pembelajaran aktif yang mungkin bisa ditawarkan sebagai solusi untuk mengganti dan mengehentikan praktik pembelajaran yang kurang bermutu. Pembelajaran yang bermutu yang dimaksud adalah praktik pembelajaran yang memperhatikan intake siswa yang sangat variatif untuk mendudukkan kompetensi dasar yang harus dikuasai melalui proses berpikir terhadap pengetahuan fakta, konsep, prosedur bahkan metakognisi yang juga sebagai materi uji pada Unbk. Sebagai fokus masalah artikel non penelitian ini, yakni, apakah terdapat hubungan Profil Unbk Dengan Pembelajaran aktif: Model Pembelajaran Kontekstual ? Untuk menjawab masalah tersebut digunakan metode literasi pustaka yang dikonsultasikan dengan pengalaman melaksanakan supervisi implementasi kurikulum 2013, pengalaman melatih penyusunan kisi-kisi dan soal berstandar nasional . Hasil yang diperoleh sebagai kesimpulan kajian, yakni, 1) Unbk mengandung soal-soal yang unfamiliar baik bagi guru dan siswa sebagai peserta Unbk, 2) Model Pembelajaran Kontekstual merupakan salah satu Pembelajaran aktif, 3) Terdapat kesesuaian hubungan antara 7 indikator profil Unbk dengan 7 strategi model pembelajaran kontekstual dan 7 Prinsip model pembelajaran kontekstual, 4) Tujuh Strategi model pembelajaran kontekstual dan Tujuh Prinsip model pembelajaran kontekstual dapat menjangkau pencapaian kompetensi siswa pada Unbk.

PENDAHULUAN

Mengintip kelas-kelas yang sedang dalam proses pembelajaran, masih terlihat fenomena kelas ketika gurunya sedang memberikan materi ajar melalui metode ceramah yang dengan semangatnya berusaha menarik perhatian siswa. Saat ceramah guru berlangsung sebagian siswa mengikuti pembelajaran itu dengan lesu di kursi sambil merebahkan kepalanya, ada juga sebagian siswanya yang hanya memandang keluar jendela, sementara yang lain mengobrol lewat sms, dan sedikit diantara mereka yang tampak sungguh-sungguh memperhatikan gurunya. Fenomena pembelajaran seperti ini masih banyak terlihat di sekolah, Guru hanya mengajarkan dengan megutamakan mereka yang aktif saja tertarik dan menerima pembelajaran yang diberikan. Proses Pembelajaran seperti ini seharusnya sudah ditinggalkan dan menyesuaikan dengan Kurikulum 2013.

Sebagaimana tujuan kurikum 2013, ada tiga hal yang harus dicapai siswa dalam pembelajaran, yakni, Karakter, Kompetensi, dan Literasi. Karakter diperlukan siswa karena menghadapi lingkungan yang terus berubah. Komptensi, diperlukan siswa untuk mampu mengatasi masalah yang kompleks. Dan literasi diperlukan untuk memiliki keterampilan untuk kegiatan sehari-hari.

Siswa yang diharapkan berkarakter dengan indikatornya adalah, iman & taqwa, Cinta tanah air, Rasa ingin tahu, gigih kemampuan beradaptasi, memilki jiwa kepemimpinan, dan kesadaran budaya. Kompetensi dengan Indikator adalah, mampu ber pikir kritis, memecahkan masalah, kreatif, kolaboratif dan komunikatif. Sementara berdaya literasi yang indikatornya adalah baca tulis,literasi sains, literasi Informasi dan teknologi, literasi keuangan, literasi budaya dan kewarganegaraan . Atas semua itu harus terintegrasi dalam proses pembelajaran dan penilaian dari setiap mata pelajaran (Kurikulum 2013). Jika Fenomena pembelajaran diawal uraian dihubungkan dengan capaian yang diharapkan oleh Kurikulum 2013, maka sudah jelas tidak dapat, menjangkaunya.

Dalam panduan implementasi Kurikulum 2013, dijelaskan, Pembelajaran dan Penilaian dapat diibaratkan dengan dua sisi mata uang, yang keduanya penting dan tidak boleh saling lepas. Pembelajaran perlu direncanakan dengan menggunakan Pendekatan pembelajaran menurut standar proses yang mengutamakan siswa adalah pusat pembelajaran, dimana siswa diharuskan mengunakan teori saintifik, yang dikenal dengan 5m, yakni, mengamati, mempertanyakan, mengumpulkan informasi, menalar dan mengkomunikasikan. Sementara guru dalam layanannya menggunakan Kompetensi Pedagogik dan Profesionalnya dalam bentuk pendekatan–pendekatan antara lain membangun konteks, menelaah model pembelajaran yang sesuai, mengonstruksi penguasaan pengetahuan secara terbimbing dan mengonstruksi pengetahuan secara mandiri terhadap siswa. Dengan demikian siswa dapat mengembangkan proses berpikirnya dalam dimensi pengetahuan (Bloom_Anderson, 2001).

Standar proses pembelajaran di tingkat kelas akan dilakukan penilaian berdasarkan Standar Penilaian. Penilaian ini dilakukan oleh internal sekolah yakni oleh guru, dan tingkat sekolah sebagai ujian akhir semester atau ujian akhir tahun. Sementara penilaian ekternal yang diselenggarakan oleh pemerintah melalui Unbk untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika untuk SMP.

Sepanjang pengalaman mengamati tentang ujian, instrumen selalu saja sulit oleh siswa bahkan tidak sedikit gurupun mengeluhkannya. Memang berbeda tingkat kesulitan soal di tingkat kelas atau guru dikarenakan peniliannya masih otentik oleh guru sendiri yang menyusun soal. Sementara Unbk dirasakan lebih dikarenakan sudah merupakan penilaian dimana penyusun naskahnya adalah eksternal dan pasti non otentik.

Unbk yang yang materinya berdasarkan pengalaman belajar dari kelas tujuh hingga kelas sembilan selalu akan memberi kesan begitu luas dan dalam. Kesan luas dan dalam materinya memberi kesan berikutnya sulit memprediksi pada titik-titik mana dalam satu konsep materi terdapat masalah yang diangkat sebagai kisi-kisi dan instrumen soal. Sekalipun kisi-kisi selalu diterbitkan oleh Pemerintah untuk dapat membantu guru maupun siswa untuk lebih fokus dan berkonsentrasi, namun kisi-kisi tersebut datangnya pada saat sudah mendekati Unbk. Seolah kisi-kisi untuk mata pelajaran saja, misalnya Kisi-Kisi mata pelajaran Bahasa Indonesia yang diterbitkan itu sudah sulit untuk menyiapkan siswa untuk fokus dan berkonsentrasi dikarenakan waktu belajarnya hampir habis, bagaimana dengan mata pelajaran lainnya. Hal ini akan berakibat pada kepastian siswa merasakan akan kesulitan soal Unbk tersebut. Akan berbeda tentunya jika Kisi-Kisi diterbitkan lebih awal pada saat pembelajaran masih panjang waktunya.

Jika kisi-kisi datang lebih awal selain ada kelebihan sebagaimana diuraikan di atas juga mengandung kelemahan, kelemahannya boleh jadi guru hanya membelajarkan pada titik masalah yang dikisi-kisikan itu, hal ini tentu memberi dampak pada sempitnya penguasaan siswa akan pengetahuan, selain itu tujuan pembelajaran akan bergeser pada Kompetensi menyelesaikan soal Unbk saja, tidak pada tercapainya standar komptensi yang lebih luas dan holistik yakni, Karakteri, Kompetensi dan Literasi.

Kondisi sulitnya soal Unbk tidak semata-mata karena cepat atau lambatnya kisi-kisi Unbk diterbitkan oleh pemerintah akan tetapi lebih pada Proses Pembelajaran sebagai bentuk penyiapan siswa untuk menghadapi Unbk belum sesuai. Unbk itu sulit bagi peserta ujian, memang ya. yang namanya ujian pasti selalu sulit. Hanya saja bagaimanaa untuk menurunkan derajat panas akibat kesulitan Unbk maka harus menggunakan pendekatan pembelajaran yang dapat menangkap makna Unbk yang dirasakan sulit itu dan memberikan suport pada siswa untuk lebih fokus dan konsen melalui pembelajaran yang aktif.

Untuk itu penulis melakukan telaah lebih jauh akan makna Unbk dan berusaha menganalisisnya untuk dapat menawarkan salah satu model pembelajaran yang dapat dikategorikan sebagai pembelajaran aktif. Salah satu model pembelajaran itu adalah Model pembelajaran Kontekstual (Contextual teaching and learning atau Ctl) Model pembelajaran ini dari awal hingga sekarang kurang disebut-sebut dalam kurikulum 2013 pada hal model pembelajaran ini sudah banyak peneliti dan bisa memeberi makna pada pembelajaran dan penilaian.

Dengan demikian penulis, menulisnya dalam bentuk artikel sederhana, dengan judul: “Analisis Hubungan Profil Unbk Dengan Pembelajaran Aktif: Model Pembelajaran Kontekstual”

Selanjutnya untuk lebih mendalami dualitas Unbk dan Active Learning, penulis mempertanyakan sekaligus bertujuan untuk berusaha menjawabnya melalui pengumpulan informasi atau data hasil penelitian yang berhubungan dengan, “Adakah terdapat hubungan kesesuaian antara Profil Unbk Dengan Pembelajaran Aktif: Model Pembelajaran Kontekstual?”

Adapun kebermanfaatan artikel ini adalah berharap dapat menyemangati guru untuk lebih siap dalam mendukung Unbk melalui Pembelajaran aktif: Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual teaching and learning).


  • 2

Program PBPU, Penguat Sebuah Kerjasama PPPPTK Bahasa dan IFI 2018

Elvira Ratna Sari
Widyaiswara Bahasa Prancis
PPPPTK Bahasa

Jakarta – Alhamdulillah, Sebuah rangkaian pelatihan Pengajar Bahasa Prancis Unggulan (PBPU) telah berhasil dilaksanakan di tiga kota di Indonesia yaitu Manado (LPMP Manado, 12-17 Maret), Yogyakarta (LPMP Yogya, 17-24 Maret) dan Medan (PAUDNI, 30 April-5Mei). Pelatihan PBPU ini berpola 55 jam pelajaran (JP @45 menit) selama 6 hari dan menghadirkan narasumber dari kedua lembaga kerjasama yaitu Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan bidang Bahasa (PPPPTK Bahasa) dan Institut de Français en Indonésie (IFI) sebagai mitra.

Pelatihan di tiga wilayah ini dibuka oleh Kepala PPPPTK Bahasa, ibu Dr. Luizah. F. Saidi, M.Pd. dan dihadiri di Yogyakarta oleh Madame Sara Camara sebagai Direktur IFI Yogyakarta, di Medan oleh Mlle. Anne-Lise sebagai Direktur AF Medan, serta kunjungan observasi PBPU di Medan oleh pihak IFI Jakarta, Monsieur François Roland-Gosselin sebagai Atase Kerjasama Bahasa Prancis Kedutaan Prancis di Indonesia.

Program PBPU merupakan bagian dari beberapa program kerjasama yang akan dilaksanakan pada tahun 2018 ini dimana Memorandum of Understanding (MoU)-nya telah ditandatangani di awal tahun ini. Program ini bukanlah program pertama kali, program ini telah diujicobakan di akhir tahun 2017 pada bulan September (11-14) dimana programnya masih berpola 32 JP saja. Setelah melalui evaluasi penyelenggara dari kedua belah pihak dan respon langsung dari peserta saat itu, maka kedua pihak PPPPTK Bahasa dan IFI bersepakat untuk menyelenggarakannya di tahun ini di tiga tempat tersebut.

Struktur program PBPU terdiri dari delapan modul (red- M1, M2, M3, M4, M5, M6, M7, dan M8) yang mengangkat kompetensi metodologi guru bahasa Prancis dan disampaikan dengan pengantar bahasa Prancis pada umumnya. Berikut tabel modul atau materi PBPU ini:

Peserta pelatihan ini total berjumlah 75 guru bahasa Prancis (@25 orang/kelas) yang dalam proses pembelajarannya mereka diinapkan dalam asrama yang terletak masih dalam lingkungan kelas pelatihan. Sehingga mereka dapat berdiskusi untuk memahami materi-materi PBPU dan menyelesaikan tugas yang diberikan agar tepat waktu.

Hasil pelatihan PBPU ini yang berupa akumulasi dari keseluruhan materi yang dipelajari adalah Fiche Pédagogique atau Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) lengkap dari masing-masing kelompok kecil terdiri dari 3-4 guru. Pada program ini, tim akademik PBPU bersepakat memfokuskan tugas akhir peserta pelatihan ini yaitu RPP dengan jenjang kelas berbeda, antara lain: PBPU Manado – RPP kelas X, PBPU Medan – RPP kelas XI, dan PBPU Yogyakarta – RPP kelas XII. Dengan terlaksananya PBPU ini dan terkumpulnya tugas akhirnya, Peserta diharapkan dapat meningkatkan kompetensi pedagogik mereka, baik pengetahuan (metode pengajaran) maupun keterampilan mengajar. Dan dari hasil kumpulan RPP ini, penyelenggara (PPPPTK Bahasa dan IFI) akan menindaklanjutinya dalam program penyusunan Buku Ajar Unggulan (BAU) di dalam tahun yang sama, 2018, Inshaallah.


  • 0

Reformasi Birokrasi Internal

Category : Artikel Umum , Internal

Tim Itjen Kemendikbud bersama Tim RBI PPPPTK Bahasa melakukan verifikasi dokumen pendukung WBK tgl 21 Mei 2018

     Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus berupaya melakukan peningkatan kualitas layanan publik sesuai dengan konsep reformasi birokrasi internal. Hal ini juga berlaku di seluruh Unit Pelayanan Teknis di lingkungan Kemendikbud.
     PPPPTK Bahasa sebagai salah satu bagian UPT di lingkunan Kemendikbud pun ikut serta berpartisipasi dalam meningkatkan kualitas layanan publik. Sebagai langkah nyata dalam meningkatkan kualitasnya, PPPPTK bahasa menjalani survey internal dari Inspektorat Jenderal kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
      Layanan publik di lingkungan PPPPTK Bahasa yang disurvei di antaranya adalah Unit Layanan Terpadu (ULT), SDM Aparatur serta, Budaya kerja serta hal-hal terkait lainnya dalam upaya menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).

Sumber Gambar https://www.kemdikbud.go.id

       PPPPTK Bahasa sebagai salah satu bagian UPT di lingkunan Kemendikbud pun ikut serta berpartisipasi dalam meningkatkan kualitas layanan publik. Sebagai langkah nyata dalam meningkatkan kualitasnya, PPPPTK bahasa menjalani survey internal dari Inspektorat Jenderal kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Layanan publik di lingkungan PPPPTK Bahasa yang disurvei di antaranya adalah Unit Layanan Terpadu (ULT), SDM Aparatur serta, Budaya kerja serta hal-hal terkait lainnya dalam upaya menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).

Selain itu, PPPPTK Bahasa Juga membuat sebuah laman Whistle Blowing System (WBS) dalam mersepon dan memproses pengaduan/pemberian informasi yang disampaikan baik secara langsung maupun tidak langsung sehubungan dengan adanya perbuatan yang melanggar perundang-undangan, peraturan/standar, kode etik, dan kebijakan, serta tindakan lain yang sejenis berupa ancaman langsung atas kepentingan umum, serta Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang terjadi.

Tampilan Laman Whistle Blowing System PPPPTK Bahasa

Delapan area perubahan yang dicanangkan sebagai target dari reformasi birokrasi di lingkungan Kemendikbud. Diantaranya yaitu Penguatan Akuntabilitas Kinerja dan Peningkatan Kualitas Layanan Publik diharapkan dapat memberi harapan baru bagi peninkatan Kualitas dan Mutu kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Sumber Gambar https://www.kemdikbud.go.id

  • 0

KESAMAAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA DAN FILIPINO (TAGALOG)

Category : Artikel Kebahasaan

Dedi Supriyanto,M.Pd.
Widyaiswara Bahasa Arab
PPPPTK Bahasa

Bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu yang telah menjadi bahasa resmi dan bahasa persatuan rakyat Indonesia sejak tahun 1928, adapun bahasa Filipino atau lebih dikenal dengan bahasa Tagalog merupakan bahasa yang dipertuturkan secara luas dan sekaligus telah terpilih menjadi bahasa resmi rakyat Filipina sejak tahun 1937. Bahasa Filipino yang aslinya berasal dari bahasa Tagalog ini mungkin mirip dengan bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu.

Berdasarkan sejarah masa lalu, bahasa Filipino yang dikenal dengan bahasa Tagalog ini masih memiliki hubungan keluarga yang dekat dengan bahasa-bahasa daerah di Indonesia (Kalimantan, Sulawesi UtaraGorontalo, dan Jawa) maupun Malaysia (Sabah). Oleh karena itu bahasa Indonesia dan Tagalog ini memiliki akar yang sama yaitu berasal dari Malayo-Polynesian language family. Hal ini tentunya membuat orang Indonesia relatif lebih mudah dan cepat mempelajari bahasa Tagalog dan begitu pula sebaliknya.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan penulis selama menetap dan mengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) selama 6 bulan di Filipina, maka ditemukan adanya kesamaan dan perbedaan antara kosakata bahasa Indonesia dan bahasa Tagalog. Berikut ini penulis menyajikan beberapa kesamaan dan perbedaan kosakata bahasa Indonesia dan bahasa Tagalog, terutama dari segi penulisan kosakata, pelafalan atau pengucapan, dan maknanya..

  1. Kesamaan Bilangan/Angka

Beberapa kosakata bilangan/angka bahasa Tagalog memiliki kesamaan dalam bahasa Indonesia, diantaranya adalah bilangan/angka 5 dalam dalam bahasa Tagalog dituliskan dan dilafalkan dengan “lima”, demikian pula dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Tagalog bilangan atau angka 1 dituliskan dan dilafalkan dengan “isa”, ternyata dalam bahasa Indonesia angka 1 yang sering dilafalkan dengan “satu” juga memiliki makna “esa” yang berarti tunggal. Kemudian bilangan/angka 7 dalam bahasa Tagalog yang dilafalkan dengan “pito”, ternyata dalam bahasa Jawa juga terdapat pelafalan “pitu” yang berarti tujuh. Demikian pula dengan “walo’ dalam bahasa Tagalog, ternyata dalam bahasa Jawa juga ada pelafalan “wolu” yang berarti delapan.

  1. Kesamaan dan Kemiripan Kosakata
  1. Tulisan, pelafalan dan makna yang sama

Kosakata dalam bahasa Tagalog ada yang memiliki kesamaan dalam hal tulisan, pelafalan dan makna. Seperti kosakata “kami”, “langit”, “anak” dalam bahasa Tagalog memiliki makna yang sama dengan “kami’, ”langit”, dan “anak” dalam bahasa Indonesia.

  1. Tulisan sama, makna berbeda

Dalam bahasa Tagalog ada beberapa kosakata yang tulisan dan pelafalannya sama dengan beberapa kosakata bahasa Indonesia namun maknanya sangat berbeda. Contoh kata “mahal” dalam bahasa Tagalog, selain memiliki makna yang sama dengan “mahal” dalam bahasa Indonesia, ternyata “mahal” dalam bahasa Tagalog juga berarti “cinta/sayang”. Selain itu kata “batik” dalam bahasa Tagalog ternyata bermakna “bintik” yang tentunya jauh berbeda  maknanya dengan  “batik” dalam bahasa Indonesia yang bermakna “batik/baju batik/kain batik”.

  1. Tulisan berbeda, makna sama

Dalam bahasa Tagalog terdapat banyak sekali kata yang tulisannya berbeda dengan kosakata dalam bahasa Indonesia, namun memiliki makna yang yang sama atau relatif sama. Diantaranya adalah kata “ako” dalam bahasa Tagalog yang bermakna ”saya”, ternyata dalam bahasa Indonesia terdapat kosakata “aku” yang juga bermakna “saya” atau “aku”, demikian pula dengan kata “ikaw” dalam bahasa Tagalog yang bermakna ‘kamu”, ternyata dalam bahasa Indonesia juga ada kosakata “engkau” yang bermakna “kamu’ atau “anda”.

  • Perbedaan Kosakata Secara Umum

Secara umum perbedaan makna kosakata dalam bahasa Tagalog dan bahasa Indonesia lebih kepada penulisan dan pelafalan. Ada beberapa kosakata dalam bahasa Tagalog yang penulisannya mirip dengan bahasa Indonesia namun memiliki arti yang sama seperti kata “ako” (saya), “mukha” (muka/wajah), dan bangkay (bangkai). Selain itu dalam bahasa Tagalog juga terdapat kosakata yang penulisannya berbeda namun pelafalannya sama dengan bahasa Indonesia, seperti seperti kata “bato” (dibaca: batu), ibo (dibaca: ibu), dan “dato” (dibaca: datu).

Demikianlah beberapa kesamaan dan perbedaan kosakata dalam bahasa Tagalog dan bahasa Indonesia yang berkaitan dengan kesamaan dalam tulisan, pelafalan dan makna dan perbedaan kosakata secara umum. Bahkan adapula kosakata bahasa Tagalog yang yang tulisannya berbeda namun sepintas kita menyangka maknanya sama dalam bahasa Indonesia, namun dalam bahasa Tagalog sendiri maknanya memang berbeda, seperti kata “tahanan” dan “hukuman”, dalam bahasa Tagalog, “tahanan” bermakna rumah, sedangkan “hukuman” bemakna pengadilan..

Oleh karena itu banyaknya kesamaan dan kemiripan kosakata bahasa Indonesia dengan bahasa Tagalog tentunya akan memberikan kemudahan bagi para penutur asli bahasa Indonesia untuk mempelajari bahasa Tagalog, begitupula sebaliknya.