Profil UNBK Dan Keterkaitannya dalam Pembelajaran Aktif : Model Pembelajaran Kontekstual (Bagian 4)

  • 0

Profil UNBK Dan Keterkaitannya dalam Pembelajaran Aktif : Model Pembelajaran Kontekstual (Bagian 4)

Elvi Saidi
Widyaiswara LPMP Gorontalo

PROFIL UNBK

Pembelajaran yang berbasis Pembelajaran aktif dapat mengkajinya bagaimana Ciri Pembelajaran aktif (Active learning) itu sendiri, yakni,

1. Mengamati (Observing):

a) melihat dan mendengarkan ketika orang lain sedang melakukan sesuatu terkait dengan apa yang sedang mereka pelajari dari guru maupun orang lain.

b) Mengamati langsung, artinya siswa diarahkan mengamati kegiatan atau situasi nyata secara langsung.

b) Mengamati langsung, artinya siswa diarahkan mengamati kegiatan atau situasi nyata secara langsung.

c) Mengamati tidak langsung, artinya siswa diarahkan mengamati situasi atau kegiatan melalui simulasi dari situasi nyata, studi kasus atau diajak menonton flim.

2. Melakukan (Doing):

Kegiatan ini menunjukkan pada proses pembelajaran dimana siswa benar-benar melakukan sesuatu secara nyata, misalnya mendesain suatu Project (riset), mendesain suatu eksperiment, menyelidiki sumber-sumber sejarah lokal, membuat presentasi lisan, membuat cerpen dan puisi, laporan riset.

3. Dialog dengan diri sendiri (Dialogue With Self)

Adalah bentuk belajar dimana para siswa berpikir reflektif mengenai suatu topik. Mereka bertanya pada diri sendiri apa yang sedang atau harus dipikirkan, apa yang mereka rasakan dari topik yang dipelajari.mereka memikirkan tentang pemikirannya sendiri (Thinking about my own thinking), dalam cakupan pertanyaan yang lebih luas dan tidak sekedar hanya berkaitan dengan aspek kognitif semata.

4. Dialog dengan orang lain (Dialogue With Others)

a) Partial dialogue, yang sifatnya sangat terbatas karena didalamnya tidak terjadi balikan atau pertukaran pemikiran.

b) Dialog kelompok kecil, dimana para siswa dapat berdiskusi mengenai topik-topik pelajaran secara intensif.

c) Dialog khusus, misalnya berdialog dengan praktisi, ahli dan sebagainya, baik berlangsung di dalam kelas maupun diluar kelas baik secara interaksi langsung maupun secara tertulis (Sudrajat).

Dari sekian banyak model pembelajaran berbasis pembelajaran aktif (active learning), penulis menawarkan untuk satu model pembelajaran yakni model pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL). alasannya adalah bahwa model pembelajaran kontekstual didasarkan pada filosofi, siswa mampu menyerap pelajaran apabila mereka menangkap makna akademis sekaligus tugas-tugas akademis jika mereka bisa mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang mereka sudah miliki sebelumnya, merangsang pemebentukan struktur fisik otak dalam rangka merespon lingkungan, selain itu model pembelajaran kontekstual sesuai dengan cara kerja alam dan hebatnya dalam model pembelajaran kontekstual memiliki tiga prinsip yang melekat pada segala sesuatu di alam (A. chaidar, dalam Johnson:2006).

Menurut Trianto (2011: 101), Model Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru atau pendidik mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa atau peserta didik dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan demikian hasil pembelajarannya diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran kontekstual berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan merupakan transfer pengetahuan dari pendidik ke siswa.

Menurut Suherman dalam Sanjaya (2006: 12), pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan peserta didik (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang disajikan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran menjadi konkrit, dan suasana menjadi kondusif-nyaman dan menyenangkan.

.Strategi pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut: 1) menekankan pada pemecahan masalah, 2) menggunakan berbagai konteks, 3) berdasarkan pada perbedaan konteks kehidupan peserta didik, 4) mendorong siswa untuk belajar secara teratur sendiri, 5) mendorong siswa untuk belajar melalui kelompok belajar, 6) menggunakan authentics assessment Sumarmo dalam Suciati (2007: 5)

Berdasarkan pendapat ahli Pembelajaran kontekstual dapat diidentifikan bahwa, Pembelajaran kontekstual adalah proses pembelajaran yang membangkitakan aktivitas siswa untuk mengalami dan melakukan, serta dapat mengkomunikasikan sebagai bentuk pengembangan kemampuan sosial, sehingga tidak sekedar menjadikan siswa menyimak dan mencatat saja. Dengan demikian Pembelajaran ini sangat sesuai dengan Pembelajaran aktif sebagaimana yang diharapkan pada kurikulum 2013, yang mana pembelajaran untuk setiap mata pelajaran itu diharapkan terkontekstual dan mengintegrasikan penguasaan karakter, tiga kompetensi yakni, Kompetensi sikap, baik sikap spiritual maupun sosial; Kompetensi pengetahuan, baik fakta, konsep prosedur,dan metakognisi., Kompetensi Keterampilan, pada keterampilan belajar (abstrak) dan Produk (konkrit); dan berdaya Literasi.

Uraian di atas searah dengan Jhonson (2006: 65) bahwa, pembelajaran kontekstual mencakup delapan komponen yakni: (1) membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna, (2) melakukan pekerjaan yang berarti, (3) melakukan pembelajaran yang diatur sendiri, (4) bekerja sama, (5) berpikir kritis dan kreatif, (6) membantu individu untuk tumbuh dan berkembang, (7) mencapai standar yang tinggi, (8) mengadakan penilaian yang autentik.

Untuk lebih mendalami makna pembelajaran kontekstual ada tujuh strategi menurut Johnson dalam bukunya Contextual teaching and Learning (2006:23) yang mesti ditempuh sebagaimana berikut ini.

Pertama, Pembelajaran berbasis problem masalah. Dengan memunculkan problem, siswa ditantang untuk berpikir kritis untuk memecahkannya.

Kedua, Menggunakan konteks yang beragam. Makna atau pengetahuan itu ada di mana-mana dalam konteks fisikal dan sosial. Selama ini ada yang keliru, menganggap bahwa pengetahuan adalah yang tersaji dalam materi ajar atau buku teks. Guru dalam hal ini membermkankan pengetahuan itu dalam konteks sekolah, keluarga, masyarakat, tempat kerja dan sebagainya. Sehingga makna yang diperoleh siswa menjadi semakin luas dan berkualitas.

Ketiga, mempertimbangkan kebhinekaan siswa. Dalam konteks Indonesia. Selama ini kebhinekaan baru sekedar pengakuan polits yang belum bermakna edukatif. Dalam hal ini guru mengayomi individu dan sosial yang hendaknya membermaknai kebhinekaan sebagai mesin penggerak untuk belajar saling menghormati dan membangun toleransi demi terwujudnya keterampilan interpersonal.

Keempat, memberdayakan siswa untuk belajar sendiri, setiap siswa mesti menjadi pembelajar aktif sepanjang hayat, untuk itu mereka harus dilatih untuk berpikir kritis, kreatif dalam mencari dan menganalisis informasi dengan sedikit bantuan guru atau malah secara mandiri.

Kelima, belajar melalui kolaborasi, siswa hendaknya dibiasakan saling belajar dari dan dalam kelompok untuk berbagi pengetahuan. Dalam kelompok selalu ada siswa yang menonjol dibanding temannya yang lain, siswa inilah yang dapat dijadikan fasilitator dalam kelompoknya. Apabila komunitas belajar sudah terbina sedmikian rupa, guru akan lebih berperan sebagai fasilitator, pelatih atau mentor.

Keenam, menggunakan penilaian otentik. Artinya penilaian yang mengakui kekhasan sekaligus keluasan dalam pembelajaran, materi ajar dan capaian prestasi siswa. Penilaian otentik menunjukkan bahwa belajar telah berlangsung secara terpadu dan kontekstual, misalnya Materi tentang bahasa yang otentik meliputi koran, program radio dan televisi, website dan sebagainya. Sehingga memberikan kesempatan dan dukungan kepada siswa untuk maju terus sesuai denagn potensi yang dimilkinya.

Ketujuh, Mengejar standar tinggi. Standar tinggi atau standar unggul sering dipersepsikan sebagai jaminan untuk mendapat tempat di masyarakat sebagai kebutuhan masyarakat yang dalam hal ini untuk mendapatkan pekerjaan dan mampu membantu menyelesaikan masalah sendiri atau sosial. Dengan demikian mereka menjadi manusia yang kompetitif pada abad persaingan (abad 21).

Untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran kontekstual dapat digambarkan dalam bentuk langkah-langkah yang dapat menjadi alternatif yang sederhana. Berikut langkah-langkah Pembelajaran kontekstual yang dikutip dari tesis yang tidak diketahui penulisnya (Anonim)

Tabel 2. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kontekstual

Sumber Anonim 2009


Leave a Reply