Monthly Archives: Juni 2018

  • 0

  • 0

Laporan Pelatihan Instruktur Nasional Kurikulum 2013 bagi Kepala Sekolah Provinsi Gorontalo

Category : Bahasa Arab

Ahmad Firdaus, Widyaiswara PPPPTK Bahasa

Kurikulum 2013 telah diimplementasikan secara bertahap di seluruh Indonesia sejak tahun pelajaran 2013/2014. Pada tahun pelajaran 2018/2019 diharapkan 100% sekolah menerapkan Kurikulum 2013. Dengan demikian, perlu dilakukan pelatihan kurikulum bagi guru dan tenaga kependidikan di sekolah sasaran yang akan mengimplementasikan Kurikulum 2013 pada tahun pelajaran 2018/2019. Pelaksanaan pelatihan Kurikulum 2013 diselenggarakan secara terkoordinasi antara Ditjen GTK, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjen Dikdasmen), LPMP, Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Ditjen GTK, dan Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota.

Pusat pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan (PPPPTK) bahasa yang merupakan salah satu unit pelayanan teknis di lingkungan Ditjen GTK ditetapkan sebagai wali untuk memfasilitasi pelatihan kurikulum 2013 di provinsi Gorontalo dan Sumatra Selatan. Salah satu kegiatan yang telah melaksanakan oleh PPPPTK Bahasa adalah kegiatan Pelatihan Instruktur Nasional Kurikulum 2013 bagi Kepala Sekolah SD dan SMP Provinsi Gorontalo yang dilaksanakan di LPMP Provinsi Gorontalo, Jl. Dr. Zainal Umar Sidiki, Tunggulo, Tolongkabila, Kab. Bone Bolango, Gorontalo pada tanggal 21 – 25 Mei 2018. Pelatihan ini dibuka oleh kepala bidang program dan informasi, Ibu Endang Supriati, M.Pd didampingi oleh kepala seksi Penyelenggaraan, Bapak Muhamad Darsita, SPd. dan para widyaiswara PPPPTK Bahasa.

Kegiatan Pelatihan Instruktur Kurikulum 2013 bagi Kepala Sekolah bertujuan menyiapkan peserta menjadi Instruktur yang akan melatih Kepala Sekolah sasaran Pelatihan Kurikulum 2013 bagi Kepala Sekolah tahun 2018 di Sekolah Inti. Dengan demikian hasil yang diharapkan dari Pelatihan Instruktur Kurikulum 2013 bagi Kepala Sekolah di Gorontalo adalah tersedianya Instruktur yang akan melatih Kepala Sekolah sasaran Pelatihan Kurikulum 2013 bagi Kepala Sekolah tahun 2018 di Sekolah Inti di Gorontalo.

Sesuai dengan Panduan Pelatihan Instruktur Kurikulum 2013 bagi Kepala Sekolah Tahun 2018 yang dibuat oleh Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar dan Menengah, pelatihan ini menggunakan pola 52 jam pelajaran dengan materi pelatihan yang terbagi menjadi tiga bagian, yaitu materi umum, materi pokok, dan materi penunjang. Materi umum meliputi Kebijakan dan Dinamika Perkembangan Kurikulum dan kecakapan abad 21. Materi umum yang kedua ini mencakup Penguatan Pendidikan Karakter, Penerapan Literasi dalam Pembelajaran, dan Kompetensi (USBN & HOTS). Materi pokok meliputi Manajemen Implementasi Kurikulum 2013, Pengembangan fungsi supervisi akademik dalam implementasi Kurikulum 2013, dan Teknis Pelaksanaan Kegiatan Program Kurikulum 2013 bagi Kepala Sekolah. Sedangkan materi penunjang meliputi, Pembukaan: Kebijakan Peningkatan Mutu Pendidikan, dan Rencana tindak lanjut.

Pelatihan instruktur kurikulum  2013 ini diikuti oleh 26 orang Kepala Sekolah SD dan 9 ornag Kepala Sekolah SMP dari berbagai kabupaten di provinsi Gorontalo, seperti Kab. Boalemo, Kab. Bonebolango, Kab. Gorontalo, Kab. Gorontalo Utara, Kab. Pohuwato, dan Kota Gorontalo. Pelatihan dibagi menjadi dua kelas, yaitu kelas Kepala Sekolah SD dan Kepala Sekolah SMP. Kelas Kepala Sekolah SD difasilitasi oleh Dr. Eko Juniarto dan Mulyadi, S.Ag., M.Pd. Sedangkan kelas Kepala Sekolah SMP difasilitasi oleh Ahmad Firdaus, S.Ag. Sedangkan panitia yang membantu kelancaran jalannya kegiatan pelatihan instruktur kurikulum 2013 ini adalah Bapak Yusup Nurhidayat dan Ibu Yuni Kelviniha dari PPPPTK Bahasa.

Berikut data peserta pelatihan instruktur  kurikulum 2013 bagi kepala sekolah jenjang SD dan SMP Provinsi Gorontalo:

  1. Data Peserta Pelatihan Instruktur Kurikulum 2013 Bagi Kepala Sekolah Jenjang SD Provinsi Gorontalo
No Nama Instansi Kab/Kota Provinsi
1 Sofyan Zakaria Utiarahman SDN 06 Paguyaman Kab. Boalemo Gorontalo
2 Sukiman Kasturi, M.Pd. SDN 02 Wonosari Kab. Boalemo Gorontalo
3 Undrawan Jusuf, S.Pd., M.Pd. SDN 01 Botumoito Kab. Boalemo Gorontalo
4 Femi Asri Pakaya, S.Pd. SDN 10 Kabila Kab. Bonebolango Gorontalo
5 Mardiana Hipi SDN 1 Suwawa Tengah Kab. Bonebolango Gorontalo
6 Muchtar Junus Hadia, S.Pd. SDN 10 Bonepantai Kab. Bonebolango Gorontalo
7 Anis A. Nuna SDN 2 Pulubala Kab. Gorontalo Gorontalo
8 Faisal Bima SDN 2 Tabongo Kab. Gorontalo Gorontalo
9 Herlina R Buhungo SDN 23 Limboto Kab. Gorontalo Gorontalo
10 Ibrahim Anali SDN 10 Tolangohula Kab. Gorontalo Gorontalo
11 Iyan Monoarfa SDN 24 Tibawa Kab. Gorontalo Gorontalo
12 Masri Potale SDN 6 Limboto Barat Kab. Gorontalo Gorontalo
13 Soniwati U. Laniyo SDN 01 Boliyohuto Kab. Gorontalo Gorontalo
14 Teny Dj. Machmud SDN 5 Talaga Jaya Kab. Gorontalo Gorontalo
15 Wahyudin Dj. Mardjun SDN 12 Batudaa Pantai Kab. Gorontalo Gorontalo
16 Asna Salmin Entengo, S.Pd., M.M. SDN 4 Anggrek Kab. Gorontalo Utara Gorontalo
17 Hanipa Isa Taabi, S.Pd. SDN 9 Atinggola Kab. Gorontalo Utara Gorontalo
18 I Wayan Sulandra, S.Pd. SDN 1 Biau Kab. Gorontalo Utara Gorontalo
19 Marlena Saleh, M.Pd. SDN 2 Kwandang Kab. Gorontalo Utara Gorontalo
20 Abdulkarim Mohamad Huruji SDN 10 Lemito Kab. Pohuwato Gorontalo
21 Lilis Napu SDN 07 Marisa Kab. Pohuwato Gorontalo
22 Selda Nento SDN 01 Marisa Kab. Pohuwato Gorontalo
23 Suleman Nurkamiden SDN 04 Randangan Kab. Pohuwato Gorontalo
24 Hardoni Biludi, S.Pd. SDN 104 Kota Utara Kota Gorontalo Gorontalo
25 Idris Kulima, S.Pd. SDN 26 Dungingi Kota Gorontalo Gorontalo
26 Mujahid A. Junaidi, S.Pd. SDN 89 Sipatana Kota Gorontalo Gorontalo
  1. Data peserta pelatihan instruktur kurikulum 2013 bagi kepala sekolah jenjang SMP Provinsi Gorontalo
No Nama Peserta Instansi Kab/Kota Provinsi
1 Abdulwahab Umar, S.Pd., M.Pd. SMPN 1 Wonosari Kab. Boalemo Gorontalo
2 Uly Mopangga, M.Pd. SMPN 1 Tilamuta Kab. Boalemo Gorontalo
3 Pitria Deu, S.Pd., M.Si. SMPN 1 Suwawa Kab. Bonebolango Gorontalo
4 Wahyudin P. Rauf, S.Pd., M.Pd. SMPN 3 Satu Atap Kabila Bone Kab. Bonebolango Gorontalo
5 Rosma Isa, M.Pd. SMPN 3 Telaga Kab. Gorontalo Gorontalo
6 Slamet Sarjono, S.Pd., M.M. SMPN 6 Boliyohuto Kab. Gorontalo Gorontalo
7 Yurita Nasibu, S.Pd., M.M. SMPN 2 Limboto Barat Kab. Gorontalo Gorontalo
8 Imran Atute, S.Pd. SMPN 1 Ponelo Kepulauan Kab. Gorontalo Utara Gorontalo
9 Dra. Hj. Asni Tomajahu SMPN 3 Duhiadaa Kab. Pohuwato Gorontalo

 

Pada akhir kegiatan pelatihan disampaikan laporkan hasil pelatihan oleh Bapak Mulyadi S.Ag., M.Pd. sebagai penanggung jawab akademis pelatihan. Berdasarkan hasil penilaian yang meliputi penilaian sikap, keterampilan dan pengetahuan (melalui tes akhir) semua peserta telah mengikuti pelatihan dengan baik dan semuanya lulus. Untuk kelas Kepala Sekolah SD dua orang memperoleh predikan sangat baik dan 24 orang memperoleh predikat baik. Untuk kelas Kepala Sekolah SMP semua peserta memperoleh predikan baik. Selanjutnya kegiatan ditutup secara resmi oleh kepala PPPPTK Bahasa, Dr. Hj. Luizah F. Saidi, M.Pd. didampingi oleh widyaiswara PPPPTK Bahasa yang menjadi fasilitator.

Semoga semua kegiatan pelatihan kurikulum 2013 yang dilaksanakan oleh PPPPTK Bahasa berikutnya dapat berjalan dengan baik dan lancar.


  • 0

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Category : Internal , Uncategorized

Keluarga Besar PPPPTK Bahasa, mengucapkan :

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
1 SYAWAL 1439 H
MINAL AIDIN WAL FAIZIN

Mohon Maaf Lahir dan Batin

————————————————————————————


  • 0

KONSEP SIKAP MANUSIA

Category : Artikel Pendidikan

M. ISNAINI

WIDYAISWARA PPPPTK BAHASA

Manusia tidak dilahirkan dengan sikap pandangan ataupun sikap perasaan tertentu, tetapi sikap tersebut dibentuk sepanjang perkembangannya. Peranan sikap di dalam kehidupan manusia adalah mempunyai peranan yang besar, maka sikap-sikap itu akan turut menentukan cara-cara tingkah lakunya terhadap objek-objek sikapnya. Para ahli psikologi mempunyai pengertian yang berbeda-beda dalam memandang dan menafsirkan tentang pengertian sikap tersebut. Anastasi dan Urbina dalam Robertus hariono (2007) mendefinisikan sikap sebagai tendensi untuk bereaksi secara menyenangkan ataupun tidak menyenangkan terhadap sekelompok stimuli yang ditunjuk, seperti kelompok etnis atau kelompok nasional, adat istiadat atau lembaga.

Dalam pengertian lain sikap yaitu reaksi yang ditunjukkan oleh seseorang terhadap objek atau konsep yang ada dalam lingkungannya (Lerner: 1986).

Sedangkan dalam Azwar (2009), Thurstone memahami sikap sebagai derajat afek positif atau afek negatif terhadap suatu objek psikologis.

Sementara itu Trow dalam Djaali (2009) mendefinisikan sikap sebagai suatu kesiapan mental atau emosional dalam beberapa jenis tindakan pada situasi yang tepat. Di sini Trow lebih menekankan pada kesiapan mental seseorang atau emosional terhadap suatu objek.

Sedangkan menurut Syah (2010), sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon (response tendency) dengan cara yang relatif tetap terhadap objek, orang, barang dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif.

Sedangkan Azwar (2010) mengemukakan bahwa Sikap dikatakan sebagai suatu respons evaluatif. Respons hanya akan timbul apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya reaksi individual. Respons evaluatif berarti bahwa untuk reaksi yag dinyatakan sebagai sikap itu timbulnya didasari oleh proses evaluasi dalam diri individu yang memberi kesimpulan terhadap stimulus dalam bentuk nilai baik-buruk, positif-negatif, menyenangkan-tidak menyenangkan, yang kemudian mengkristal sebagai potensi reaksi terhadap objek sikap.

Sikap merupakan kemampuan internal yang berperan sekali dalam mengambil tindakan, terlebih bila terbuka berbagai kemungkinan untuk bertindak. Orang yang memiliki sikap jelas, mampu untuk memilih secara tegas di antara beberapa kemungkinan. Orang yang bersikap tertentu, cenderung menerima atau menolak suatu objek berdasarkan penilaian terhadap objek itu, berguna atau berharga baginya atau tidak. Bila objek diniai “baik untuk saya”, dia mempunyai sikap positif, bila objek dinilai “jelek untuk saya”, dia mempunyai sikap negatif. Misalnya, siswa yang memandang belajar di sekolah sebagai sesuatu yang bermanfaat baginya, memiliki sikap yang positif terhadap belajar di sekolah, dan sebaliknya jika siswa memandang belajar di sekolah sebagai sesuatu yang tidak berguna, memililki sikap yang negatif terhadap belajar di sekolah.

Selanjutnya Cronbach (1977) mengemukakan bahwa Sebuah sikap yang berkembang dari pengalaman terhadap satu objek, cenderung mempersamakan objek yang mirip. Kadang-kadang sikap itu terbentuk diawali oleh proses pengkondisian, baik kondisi yang menyenangkan ataupun tidak menyenangkan. Oleh karena itu satu stimulus saja sudah cukup untuk memicu reaksi emosional.

Sikap merupakan konsep yang penting dalam psikologi sosial dan paling banyak didefinisikan, seperti yang dinyatakan Sherif (1956) dan Allport (1924) dalam Rakhmat, sikap hanyalah sejenis motif sosiogenesis yang diperoleh melalui belajar. Sikap sebagai kesiapan saraf (neural settings) sebelum memberikan respon.

Jalaluddin (2005) kemudian menyatakan bahwa ikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berfikir dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi atau nilai. Sikap bukan perilaku, tetapi merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu terhadap objek sikap. Objek sikap dapat berupa benda, orang, tempat, gagasan atau situasi atau kelompok. Dengan demikian pada kenyataannya tidak ada istilah sikap yang berdiri sendiri. Sikap harus diikuti oleh kata “terhadap” atau “pada” objek sikap. Sikap memiliki daya pendorong atau motivasi yang relatif ebih menetap. Sikap juga menimbulkan aspek evaluatif, yang artinya mengandung nilai menyenangkan dan sikap timbul dari pengalaman.

Mengikuti skema triadik, struktur sikap terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang, yaitu komponen kognitif (cognitive),  komponen afektif (affective), dan komponen konatif (conative).

  1. Komponen Kognitif

Komponen kognitif merupakan komponen representasi dari apa yang dipercayai oleh pemilik sikap yang berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap. Komponen afektif berisi persepsi, kepercayaan dan stereotipe yang dimiliki individu mengenai sesuatu. Seringkali komponen kognitif ini dapat disamakan dengan pandangan atau opini, terutama apabila menyangkut masalah isu atau masalah yang kontroversial.

Kepercayaan datang dari apa yang kita lihat atau apa yang telah kita ketahui. Berdasarkan apa yang telah kita lihat itu kemudian terbentuk suatu ide atau gagasan mengenai sifat atau karakteristik umum suatu objek. Sekali kepercayaan itu telah terbentuk, maka ia akan menjadi dasar pengetahuan seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dari objek tersebut. Tentu saja kepercayaan sebagai komponen kognitif tidak selalu akurat. Kadang-kadang kepercayaan itu terbentuk dikarenakan kurang atau tiadanya informasi yang benar mengenai objek yang dihadapi.

  1. Komponen Afektif

Komponen afektif menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap. Seringkali perasaan pribadi sangat berbeda perwujudannya bia dikaitkan dengan sikap. Aspek emosional biasanya berakar paling dalam sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan terhadap pengaruh yang mungkin akan merubah sikap seseorang. Reaksi emosional banyak dipengaruhi oleh kepercayaan atau apa yang kita percayai sebagai benar dan berlaku bagi objek yang dimaksud.

  1. Komponen Konatif

Komponen konatif atau perilaku dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan denga objek sikap yag dihadapinya. Kaitan ini didasari oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi perilaku. Dengan demikian, bagaimana orang berperilaku dalam situasi tertentu dan terhadap stimulus tertentu akan banyak ditentukan oleh bagaimana kepercayaan dan perasaannya terhadap stimulus tersebut.

Konsistensi antara kepercayaan sebagai komponen kognitif, perasaan sebagai komponen afektif, dengan tendensi perilaku sebagai komponen konatif itulah yang menjadi landasan dalam usaha penyimpulan sikap yang dicerminkan oleh jawaban terhadap skala sikap.

Pengertian kecenderungan berperilaku menunjukkan bahwa komponen konatif meliputi bentuk perilaku yang tidak hanya dapat dilihat secara langsung saja, akan tetapi meliputi pula bentuk-bentuk perilaku yang berupa pernyataan atau perkataan yang diucapkan oleh seseorang.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa sikap adalah kecenderungan terhadap suatu objek yang menggambarkan perasaan positif atau negatif tertentu, dan kecenderungan dari seseorang untuk bertindak terhadap objek tersebut.

Sumber:

Anastasi, Anne dan Susana Urbina. Tes Psikologi terjemahan Robertus Hariono S. Imam. Jakarta: Indeks, 2007.

Azwar, Saifuddin. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.

Cronbach, Lee J. Educational Psychology. New York: Harcourt Brace Jovanovich Inc., 1977.

Djaali, H. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara, 2009.

Lerner,  Richard M., M. Ann Easterbrooks, dan Jayanthi Mistry. Psychology. New York: MacMillan Publishing Company, 1986.

Syah, Muhibbin.  Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010.

Rakhmat, Jalaluddin.  Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005.


  • 0

LAPORAN SINGKAT PELATIHAN INSTRUKTUR NASIONAL BAGI KEPALA SEKOLAH PROVINSI SUMSEL TAHUN 2018

Category : Bahasa Arab

Dedi Supriyanto, M.Pd.
Widyaiswara PPPPTK Bahasa

Pada tanggal 7-12 Mei 2018 PPPPTK Bahasa menyelenggarakan Pelatihan Instruktur Nasional Kurikulum 2013 bagi Kepala Sekolah Provinsi Sumatera Selatan di Hotel Azza, Palembang, Sumsel. Program ini merupakan salah satu kegiatan -tugas pokok dan fungsi (tupoksi)- PPPPTK Bahasa dalam meningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan. Kegiatan tupoksi ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan pelatihan kurikulum 2013 untuk mencetak instruktur nasional khususnya dari kalangan kepala sekolah SD dan SMP yang kemudian mereka akan menyampaikan dan mengimbaskan hasil pelatihan kepada kepala sekolah sasaran di wilayah kerja masing-masing.

Pelatihan ini dilaksanakan selama 6 hari dengan pola 60 jam pelajaran (JP). Secara umum materi pelatihan ini terdiri dari dinamika perubahan kurikulum, manajemen implementasi kurikulum, dan supervisi akademk.

Selain itu dalam pelatihan ini terdapat tiga kelas bagi kepala SD dan satu kelas bagi kepala SMP. Di setiap kelas terdapat dua narasumber atau widyaiswara yang memandu kegiatan ini hingga akhir kegiatan. Khusus kelas A yang berjumlah 29 peserta kepala SD dipandu oleh Bapak Dedi Supriyanto, M.Pd. dan Ibu Dwi Puspitasari, M.Pd. yang merupakan widyaiswara dari PPPPTK Bahasa. Peserta kelas A berasal dari kota Palembang dan beberapa kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan sedangkan tim panitia secara keseluruhan adalah karyawan PPPPTK Bahasa Jakarta. Mereka adalah Bapak Agus Rohmani, Ibu Fausta, Ibu Aminatun, Ibu Ima, Bapak Wielfred, dan Bapak Suprihatin.

Pelatihan ini dibuka oleh Kepala PPPPTK Bahasa, Dr. Hj. Luizah F. Saidi, M.Pd. didampingi oleh Kepala Seksi Evaluasi,  Bapak H. Delfian, S.Sos. Adapun pada akhir kegiatan ditutup oleh Kepala Bidang Fasilitasi Peningkatan Kompetensi, Bapak Drs. Samto, M.A. Semangat dan sukses instruktur nasional kurikulum 2013!


  • 1

Profil UNBK Dan Keterkaitannya dalam Pembelajaran Aktif : Model Pembelajaran Kontekstual (Bagian 5)

Elvi Saidi
Widyaiswara LPMP Gorontalo

PROFIL UNBK

Langkah-langkah pembelajaran kontekstual di atas, menurut Trianto (2011: 6) harus dilandasi oleh tujuh Prinsip, yakni: Konstruktivis, Inkuiri, Bertanya, Masyarakat belajar, Pemodelan, Refleksi, dan Penilaian otentik.

1. Konstruktivis, dimana pembelajaran menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran. Pembelajaran lebih diwarnai oleh student centered dari pada Teacher centered. Siswa dapat mengkonstruksi pengetahuan berupa konsep baru apabila konsep itu berada pada tingkat perkembangan siswa.

Artinya mengkonstruksi konsep baru itu harus didasari oleh penguasaan konsep dasar sebagai prasyarat sehingga pembelajaran bermakna. Pembelajaran bermakna yakni menghindari pembelajaran hafalan yang bisa membosankan siswa.

2. Inkuiri, inkuiri merupakan bagian inti dari pembelajaran kontekstual, Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang dibelajarkan. Siklus inkuiri terdiri dari, 1) observasi, 2) bertanya, 3) mengajukan dugaan, 4) pengumpulan data, 5) penyimpulan. Selanjutnya langkah-langkah inkuiri adalah sebagai berikut, 1) merumuskan masalah, mengamati atau melakukan observasi, 3) menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, 4) mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya.

3. Bertanya, bertanya merupakan strategi utama berbasis Pembelajaran kontekstual. Kegiatan bertanya berguna untuk , 1) menggali informasi, mengecek pemahaman siswa, membangkitkan respon pada siswa, mengetahui sejauhmana keingintahuan siswa, mengetahui hal-hal yang sudah diketahui, memfokuskan perhatian siswa, membangkitkan pertanyaan dari siswa, menyegarkan kembali pengetahuan siswa.

4. Masyarakat belajar, artinya hasil yang diperoleh dalam pembelajaran adalah hasil dari kerjasama antar siswa. Misalnya seorang siswa yang memiliki pemahaman yang lebih maju dari siswa lainnya dapat menjadi tempat bertanya oleh teman-temannya. Dengan demikian sudah terbentuk masyarakat belajar. Masyarakat belajar dapat juga dilakukan dengan membentuk kelompok belajar untuk menyelesaikan suatu masalah.

5. Pemodelan, merupakan hasil belajar baik pengetahuan dan keterampilan yang dapat dimodelkan. Model dapat didemonstrasikan didepan masyarakat belajar. Untuk mendemonstarsikan produk pengetahuan atau keterampilan produk dapat dilakukan oleh guru akan tetapi dianjurkan lebih pada siswa dapat pula menggunakan model dari praktisi berasal dari luar sekolah.

6. Refleksi, Refleksi, merupakan cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir evaluatif, misalnya berpikir tentang strategi belajar diri dan sejauhmana pencapaian pengetahuan. Jika capaian pengetahuan tidak maksimal maka strateginya ada yang salah, yang kemudian siswa harus mengganti atau melengkapi strategi yang belum dilakukan.

7. Penilaian Otentik, merupakan proses pengumpulan data perolehan pencapaian pembelajaran sebagai gambaran perkembangan belajar siswa secara kontiny, baik pada kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan bahkan pada penguasaan karakter, Kompetensi kritis, kreatif, kolaboratif dan komunikatif.Peniaian otentik yang kontinyu ditekankankan pada pembelajaran siswa dengan cara yang benar hingga mereka hingga mampu mengemmbangkan dirinya untuk mandiri bealar atau learning how to learn.

Penilaian otentik ini sangat penting dalam internal sekolah sebagai pemastian siswa untuk siap dilepas pada arena Unbk, yang penilaiannya secara eksternal atau penilaian non otentik.

Ketujuh prinsip pembelajaran kontekstual sangat mendukung Implementasi kurikulum 2013 sekaligus inklud didalamya adalah Unbk sebagai penilaian non otentik

Analisis Kesesuaian Profil Unbk dengan Pembelajaran aktif: Model Pembelajaran Kontekstual

Untuk membahas kesesuaian hubungan profil Unbk dengan Konsep pembelajaran aktif yang dalam hal ini mengambil model pembelajaran kontekstual. Dari berbagai referensi yang memuat pendapat para ahli tentang Unbk dan dengan sedikit pengalaman dilatih dan melatih penyusunan Kisi-Kisi dan penyusunan Usbn yang formatnya memiliki kesamaan dengan Unbk (Usbn berbasis kertas dan Unbk berbasi Komputer) maka diperoleh Prodil Unbk yang sedikitnya memiliki tujuh Indikator.

Pembelajaran Kontekstual, dari pendapat para ahli yang telah diuraikan di atas melalui eksplorasi literasi yang cukup dapat menyimpulkan bahwa Pembelajaran Kontekstual merupakan salah satu dari sekian banyak Pembelajaran Aktif yang dirujuk dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013. Melalui eksplorasi literasi Materi Pelatihan Kurikulum 2013, khususnya pada materi pelatihan ‘Model-Model pembelajaran’, untuk Model Pembelajaran Kontekstual tidak tercantum sebagai alternatif model pembelajaran.

Dari berbagai sumber yang memuat pendapat ahli tentang Pembelajaran Kontekstual dapat diketahui bahwa pembelajaran ini memiliki tujuh strategi menurut Johnson (2006) dan memiliki tujuh Prinsip menurut Trianto. Antara kedua penulis yang satunya menggunakan istilah ‘Strategi Pembelajaran Kontekstual’ sementara yang satunya lagi menggunakan istilah ‘Prinsip Pembelajaran Kontekstual’. Oleh karena Istilah Strategi dan Prinsip merupakan hal yang berbeda maka dengan keterbatasan penulis belum dapat menyimpulkan bahwa, keduannya adalah sama maknanya.

Akan tetapi penulis hanya dapat menjelaskan dengan menggunakan analisa menghubungkan keseuaian antar Profil Unbk, Staregi Pembelajaran Kontekstual dan Prinsip Pembelajaran Kontekstual. Bahasan analisis yang dimaksudkan sebagaimana dijelaskan pada tabel berikut ini.

Tabel 3. Analisis hubungan Profil Unbk dengan Pembelajaran Aktif: Model Pembelajaran Kontekstual


  • 1

Profil UNBK Dan Keterkaitannya dalam Pembelajaran Aktif : Model Pembelajaran Kontekstual (Bagian 6)

Elvi Saidi
Widyaiswara LPMP Gorontalo

PENUTUP

1. Kesimpulan

Berdasarkan bahasan Profil Unbk dan Pembelajaran aktif: model pembelajaran kontekstual maka kesimpulan analisis adalah sebagai berikut.

1) Unbk mengandung soal-soal yang unfamiliar baik bagi guru dan siswa sebagai peserta Unbk.

1) Unbk mengandung soal-soal yang unfamiliar baik bagi guru dan siswa sebagai peserta Unbk.

2) Model Pembelajaran Kontekstual merupakan salah satu Pembelajaran aktif

3) Terdapat kesesuaian hubungan antara 7 indikator profil Unbk dengan 7 strategi model pembelajaran kontekstual dan 7 Prinsip model pembelajaran kontekstual

4) Tujuh Strategi model pembelajaran kontekstual dan Tujuh Prinsip model pembelajaran kontekstual yang dapat menjangkau pencapaian kompetensi siswa pada Unbk.

2. Saran

1) Sangat diperlukan dukungan sekolah untuk memfasilitasi penyiapan pembelajaran aktif: Model Pembelajaran Kontekstual untuk penyiapan siswa pada Unbk.

2) Sangat diperlukan kesiapan profesional dan pedagogik guru dalam membangun kesiapan siswa menghadapi Unbk melalui Pembelajaran aktif yang salah satu altenatifnya yakni, dengan menerapkan model pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning).

3) Sangat diperlukan dukungan orang tua siswa dalam memberikan kontribusi sebagai konsekwensi Unbk dan Pembelajaran aktif: Model Pembelajaran Kontekstual.

Daftar Pustaka

Anderson,L,W dan Krathwohl D,R,2001, Taxonomi For learning, teaching and assessing Arevision of Blomm’s Taxonomy of Educational Objectves. New York: Longman.

Anonim. 2009. Langkah-langkah model pembelajaran komntekstual

BSNP. 2017/2018. Prosedur operasional standar Penyelenggaraan ujian sekolah Berstandar nasional.

Elain B. Johonson. 2006. Contextual teaching and Learning: menjadikan Kegiatan belajar mengajar mengasyikkan dan bermakna.Bandung:MLC.

Kemdikbud, 2018. Penyusunan indikator kisi-kisi soal Usbn 2017/2018.

Kemdikbud. 2016. Pembelajaran dan Penilaian (Slide Pelatihan)

Kemdikbud. 2016. Permendikbud no 23 tahun 2016

Kemdikbud. 2016. Permendikbud no 24 tahun 2016

Kompasiana. 2018. Apa Itu Unbk. Sumber: https://www.utopicomputers.com. Apa Itu UNBK ? Pengertian, Fungsi Atau Tujuannya.

Muclisin Riadi. 2012. Pembelajarean Aktif (Artikel) . Sumber: https://www.kajianpustaka.com/2012/12/pembelajaran-aktif.html

Panduan Kurikulum 2013 versi revisi 2017.

Sanjaya, W.2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.

Suciati,2007, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Universitas Terbuka

Sudrajat. 2011. Pembelajaran Aktif. Sumber: https://www.slideshare.net/akhmadsudrajat/pembelajaran-aktif-active-learning

Trianto. 2011. Model-Model Pembelajaran Inovatif berorientasi Konstruktivistik, Jakarta: Prestasi Pustaka.