Daily Archives: Juni 4, 2018

  • 0

KONSEP SIKAP MANUSIA

Category : Artikel Pendidikan

M. ISNAINI

WIDYAISWARA PPPPTK BAHASA

Manusia tidak dilahirkan dengan sikap pandangan ataupun sikap perasaan tertentu, tetapi sikap tersebut dibentuk sepanjang perkembangannya. Peranan sikap di dalam kehidupan manusia adalah mempunyai peranan yang besar, maka sikap-sikap itu akan turut menentukan cara-cara tingkah lakunya terhadap objek-objek sikapnya. Para ahli psikologi mempunyai pengertian yang berbeda-beda dalam memandang dan menafsirkan tentang pengertian sikap tersebut. Anastasi dan Urbina dalam Robertus hariono (2007) mendefinisikan sikap sebagai tendensi untuk bereaksi secara menyenangkan ataupun tidak menyenangkan terhadap sekelompok stimuli yang ditunjuk, seperti kelompok etnis atau kelompok nasional, adat istiadat atau lembaga.

Dalam pengertian lain sikap yaitu reaksi yang ditunjukkan oleh seseorang terhadap objek atau konsep yang ada dalam lingkungannya (Lerner: 1986).

Sedangkan dalam Azwar (2009), Thurstone memahami sikap sebagai derajat afek positif atau afek negatif terhadap suatu objek psikologis.

Sementara itu Trow dalam Djaali (2009) mendefinisikan sikap sebagai suatu kesiapan mental atau emosional dalam beberapa jenis tindakan pada situasi yang tepat. Di sini Trow lebih menekankan pada kesiapan mental seseorang atau emosional terhadap suatu objek.

Sedangkan menurut Syah (2010), sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon (response tendency) dengan cara yang relatif tetap terhadap objek, orang, barang dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif.

Sedangkan Azwar (2010) mengemukakan bahwa Sikap dikatakan sebagai suatu respons evaluatif. Respons hanya akan timbul apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya reaksi individual. Respons evaluatif berarti bahwa untuk reaksi yag dinyatakan sebagai sikap itu timbulnya didasari oleh proses evaluasi dalam diri individu yang memberi kesimpulan terhadap stimulus dalam bentuk nilai baik-buruk, positif-negatif, menyenangkan-tidak menyenangkan, yang kemudian mengkristal sebagai potensi reaksi terhadap objek sikap.

Sikap merupakan kemampuan internal yang berperan sekali dalam mengambil tindakan, terlebih bila terbuka berbagai kemungkinan untuk bertindak. Orang yang memiliki sikap jelas, mampu untuk memilih secara tegas di antara beberapa kemungkinan. Orang yang bersikap tertentu, cenderung menerima atau menolak suatu objek berdasarkan penilaian terhadap objek itu, berguna atau berharga baginya atau tidak. Bila objek diniai “baik untuk saya”, dia mempunyai sikap positif, bila objek dinilai “jelek untuk saya”, dia mempunyai sikap negatif. Misalnya, siswa yang memandang belajar di sekolah sebagai sesuatu yang bermanfaat baginya, memiliki sikap yang positif terhadap belajar di sekolah, dan sebaliknya jika siswa memandang belajar di sekolah sebagai sesuatu yang tidak berguna, memililki sikap yang negatif terhadap belajar di sekolah.

Selanjutnya Cronbach (1977) mengemukakan bahwa Sebuah sikap yang berkembang dari pengalaman terhadap satu objek, cenderung mempersamakan objek yang mirip. Kadang-kadang sikap itu terbentuk diawali oleh proses pengkondisian, baik kondisi yang menyenangkan ataupun tidak menyenangkan. Oleh karena itu satu stimulus saja sudah cukup untuk memicu reaksi emosional.

Sikap merupakan konsep yang penting dalam psikologi sosial dan paling banyak didefinisikan, seperti yang dinyatakan Sherif (1956) dan Allport (1924) dalam Rakhmat, sikap hanyalah sejenis motif sosiogenesis yang diperoleh melalui belajar. Sikap sebagai kesiapan saraf (neural settings) sebelum memberikan respon.

Jalaluddin (2005) kemudian menyatakan bahwa ikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berfikir dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi atau nilai. Sikap bukan perilaku, tetapi merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu terhadap objek sikap. Objek sikap dapat berupa benda, orang, tempat, gagasan atau situasi atau kelompok. Dengan demikian pada kenyataannya tidak ada istilah sikap yang berdiri sendiri. Sikap harus diikuti oleh kata “terhadap” atau “pada” objek sikap. Sikap memiliki daya pendorong atau motivasi yang relatif ebih menetap. Sikap juga menimbulkan aspek evaluatif, yang artinya mengandung nilai menyenangkan dan sikap timbul dari pengalaman.

Mengikuti skema triadik, struktur sikap terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang, yaitu komponen kognitif (cognitive),  komponen afektif (affective), dan komponen konatif (conative).

  1. Komponen Kognitif

Komponen kognitif merupakan komponen representasi dari apa yang dipercayai oleh pemilik sikap yang berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap. Komponen afektif berisi persepsi, kepercayaan dan stereotipe yang dimiliki individu mengenai sesuatu. Seringkali komponen kognitif ini dapat disamakan dengan pandangan atau opini, terutama apabila menyangkut masalah isu atau masalah yang kontroversial.

Kepercayaan datang dari apa yang kita lihat atau apa yang telah kita ketahui. Berdasarkan apa yang telah kita lihat itu kemudian terbentuk suatu ide atau gagasan mengenai sifat atau karakteristik umum suatu objek. Sekali kepercayaan itu telah terbentuk, maka ia akan menjadi dasar pengetahuan seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dari objek tersebut. Tentu saja kepercayaan sebagai komponen kognitif tidak selalu akurat. Kadang-kadang kepercayaan itu terbentuk dikarenakan kurang atau tiadanya informasi yang benar mengenai objek yang dihadapi.

  1. Komponen Afektif

Komponen afektif menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap. Seringkali perasaan pribadi sangat berbeda perwujudannya bia dikaitkan dengan sikap. Aspek emosional biasanya berakar paling dalam sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan terhadap pengaruh yang mungkin akan merubah sikap seseorang. Reaksi emosional banyak dipengaruhi oleh kepercayaan atau apa yang kita percayai sebagai benar dan berlaku bagi objek yang dimaksud.

  1. Komponen Konatif

Komponen konatif atau perilaku dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan denga objek sikap yag dihadapinya. Kaitan ini didasari oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi perilaku. Dengan demikian, bagaimana orang berperilaku dalam situasi tertentu dan terhadap stimulus tertentu akan banyak ditentukan oleh bagaimana kepercayaan dan perasaannya terhadap stimulus tersebut.

Konsistensi antara kepercayaan sebagai komponen kognitif, perasaan sebagai komponen afektif, dengan tendensi perilaku sebagai komponen konatif itulah yang menjadi landasan dalam usaha penyimpulan sikap yang dicerminkan oleh jawaban terhadap skala sikap.

Pengertian kecenderungan berperilaku menunjukkan bahwa komponen konatif meliputi bentuk perilaku yang tidak hanya dapat dilihat secara langsung saja, akan tetapi meliputi pula bentuk-bentuk perilaku yang berupa pernyataan atau perkataan yang diucapkan oleh seseorang.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa sikap adalah kecenderungan terhadap suatu objek yang menggambarkan perasaan positif atau negatif tertentu, dan kecenderungan dari seseorang untuk bertindak terhadap objek tersebut.

Sumber:

Anastasi, Anne dan Susana Urbina. Tes Psikologi terjemahan Robertus Hariono S. Imam. Jakarta: Indeks, 2007.

Azwar, Saifuddin. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.

Cronbach, Lee J. Educational Psychology. New York: Harcourt Brace Jovanovich Inc., 1977.

Djaali, H. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara, 2009.

Lerner,  Richard M., M. Ann Easterbrooks, dan Jayanthi Mistry. Psychology. New York: MacMillan Publishing Company, 1986.

Syah, Muhibbin.  Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010.

Rakhmat, Jalaluddin.  Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005.