TSUNAMI DAN MADRASAH TSANAWIYAH

  • 0

TSUNAMI DAN MADRASAH TSANAWIYAH

Category : Artikel Kebahasaan

Sekilas, antara tsunami dan madrasah tsanawiyah dalam judul tulisan ini tidak berkaitan, bahkan tidak nyambung sama sekali. Namun, ada kesamaan fonologis antara keduanya. Mari kita cermati. Sejak terjadi gempa dahsyat di Indonesia, setiap terjadi gempa sering dikaitkan  dengan potensi terjadinya tsunami atau tidak; hingga berita tentang tsunami menghiasi halaman surat kabar, termasuk penggalan berita dari sebuah surat kabar daring tentang gempa susulan yang terjadi pada Minggu, 29 Juli 2018. Berikut petikan berita itu: “Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa susulan terus berlangsung setelah gempa berkekuatan magnitudo 6,4 mengguncang Lombok, Minggu (29/7/2018) pagi. Tercatat ada 43 kali gempa susulan setelahnya. Gempa susulan berlangsung dengan intensitas gempa yang lebih kecil. Hingga pukul 08.09 WIB telah terjadi 43 gempa susulan dengan gempa susulan paling kuat adalah 5,7 SR. Pusat gempat diketahui berada di darat pada jarak 47 km arah timur laut Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat dengan kedalaman 24 km. Gempa terjadi akibat akivitas Sesar Naik Flores. Gempa tidak berpotensi tsunami.”

Masalahnya bukan tsunami akibat kuatnya gempa itu, melainkan kata tsunami yang frekuensi pemakaiannya begitu tinggi jika tersiar kabar tentang gempa kuat. Dalam ragam tulis, kata asli bahasa Jepang bermakna gelombang laut yang besar akibat adanya gempa kuat di dasar laut ini seakan-seakan dibiarkan meluncur apa adanya. Yang menarik, dalam ragam lisan, sejujurnya kita sebagai penutur bahasa Indonesia secara fonologis mengawali pengucapan kata itu dengan konsonan laminopalatal /s/, bukan dengan konsonan apikoalveolar /t/. Konkretnya kita melafalkan /sunami/, bukan /tsunami/.  Padahal, dalam bahasa kita tidak dikenal gugus konsonan /ts/.  Kaidah  ejaan yang berlaku bagi unsur serapan pun setakat ini – kendati berlaku bagi unsur serapan dari bahasa Arab – mensyaratkan penyesuaian dari /ts/ menjadi /s/. Kaidah ini setidaknya dapat dijadikan rujukan untuk menyesuaikan kata tsunami ke dalam sistem bahasa kita.

Dalam lanskap linguistik, gejala serupa dapat dilihat dalam penamaan salah satu jenjang sekolah di Kementerian Agama, yang dipajang dalam papan nama sebagai penanda sekolah itu di ruang publik, yakni Madrasah Tsanawiyah, yang umum disingkat menjadi MTs.  Mengapa tidak ditulis Madrasah Sanawiyah (MS) jika memang sudah terdapat kaidah penyerapannya dalam bahasa kita? (Gunawan Widiyanto)


Leave a Reply