Author Archives: admin

  • 0

Profil UNBK Dan Keterkaitannya dalam Pembelajaran Aktif : Model Pembelajaran Kontekstual (Bagian 2)

Elvi Saidi
Widyaiswara LPMP Gorontalo

Profil Unbk

Ujian nasional sebgaimana tercantum dalam Prosedur Operasional Penyelenggaraan ujian nasional 2017/2018 adalah kegiatan pengukuran dan penilaian pencapaian standar kompetensi lulusan SMP/MTs …yang secara nasional meliputi mata pelajaran tertentu. Ujian nasional sebagai kegiatan mengukur dan menilai pencapaian SKL di atur dalam Permendikbud no 23 tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan adalah kriteria mengenai lingkup, tujuan, manfaat, prinsip, mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik yang digunakan sebagai dasar dalam penilaian hasil belajar peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Ujian nasional sebgaimana tercantum dalam Prosedur Operasional Penyelenggaraan ujian nasional 2017/2018 adalah kegiatan pengukuran dan penilaian pencapaian standar kompetensi lulusan SMP/MTs …yang secara nasional meliputi mata pelajaran tertentu. Ujian nasional sebagai kegiatan mengukur dan menilai pencapaian SKL di atur dalam Permendikbud no 23 tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan adalah kriteria mengenai lingkup, tujuan, manfaat, prinsip, mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik yang digunakan sebagai dasar dalam penilaian hasil belajar peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Ujian nasional adalah puncak ujian yang diikuti oleh siswa, setelah mengalami proses pembelajaran dan penilaian melalui ulangan dan ujian tingkat sekolah. Ulangan merupakan proses yang dilakukan oleh setiap guru mata pelajaran untuk mengukur pencapaian Kompetensi Peserta Didik/siswa secara berkelanjutan dalam proses Pembelajaran untuk memantau kemajuan dan perbaikan hasil belajar Peserta Didik/siswa. Sementara ujian sekolah/madrasah adalah kegiatan yang dilakukan oleh sekolah untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai pengakuan prestasi belajar dan/atau penyelesaian dari suatu satuan pendidikan (Permendikbud no 23 thn 2016).

Unbk diakronimkan dari Ujian nasional berbasis komputer. Unbk menurut panduan 2017 adalah tes berbasis komputer yang penyajian dan pemilihan soalnya dilakukan secara terkomputerisasi sehingga setiap peserta tes mendapatkan paket soal yang berbeda-beda. Unbk merupakan pengembangan dari ujian menggunakan Paper Based Test (PBT) menjadi Computer Based Test (CBT) https://www.utopicomputers.com.Unbk. Ini salah satu fungsi Komputer sebagai penghela pengetahuan. Secara teknis penyiaapannya, sekolah harus menjadi fasilitor dalam menyiapkan perangkatnya mulai dari penyiapan kelistrikan, komputer, dan jaringan internetnya. Karena berbeda dengan ujian Paper Based Test (PBT) sehingga sekolah pun harus memfasilitasikan terhadap calon peserta ujian dengan latihan atau simulasi penggunaan perangkatnya.

Ujian ini telah diterapkan pada peserta ujian setelah menyelesaikan 3 tahun di SMP dan SMA-K. Khusus jenjang SMP mata pelajaran yang diujikan dalam Unbk adalah Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris. Tentunya materi yang diujikan berdasarkan pengalaman belajar siswa selama duduk dibangku sekolah (BSNP 2017).

Adapun alasan penyelenggaraan Unbk adalah salah satu alternatif mengatasi kelemahan ujian nasional berbasis kertas (PBT), yakni: bentuk soal yang digunakan sulit untuk dibuat bervariasi, tampilan soal terbatas, hanya dua dimensi, diperlukan banyak kertas dan biaya penggandaan yang mahal, pengamanan kerahasiaan soal relatif sulit dan memerlukan biaya yang cukup besar dan pengolahan hasil memerlukan waktu yang lama (Puspendik, 2015:5). Atas alasan ini maka fungsi Ujian Nasional akan berfungsi sebagai pengukur dan penilaian SKL dalam hal ini pada Kompetensi Pengetahuan yang bebas dari ketidakjujuran atau kecurangan, selain itu suasana ujian tidak akan berubah menjadi suasana diskusi soal atau tanya jawab dikarenakan paket soal yang dikerjakan berbeda oleh peserta yang berdekatan, dengan waktu yang sangat ketat.

Profil Unbk setiap mata pelajaran yang terdiri atas lingkup materi ajar yang telah dibelajarkan disesuaikan dengan jenjang kelas. Materi Unbk diambil dari keseluruhan Kompetensi Dasar yang telah menjadi pngalaman pembelajaran siswa. Dapat dipastikan bahwa setiap KD akan terwakili dalam lingkup materi pembelajaran sekaligus menjadi materi penilaian dalam wujud materi soal.

Sebelum penyusunan soal maka sangat diperlukan adalah penyusunan kisi-kisi soal Unbk. BSNP menyiapkan Kisi-kisi dengan format dua dimensi, yakni Pertama, dimensi Pengetahuan berupa lingkup materi, materi dari kelas VII hingga kelas IX dan Kedua, dimensi Proses berpikir yang terdiri atas tiga level, yakni, pertama, level berpikir Low order thinking skill (Lots), kedua, level berpikir Middle order thinking skill dan ketiga, level berpikir Penalaran atau berpikir tngkat tinggi atau High order thinking skill (hots) (Bsnp,2017: 22).

Selanjut kisi-kisi disusun sedemikian rupa sehingga dimensi pengetahuan yang terdiri atas materi dari lingkup materi tertentu akan mewakili pada tiga level. Misalnya Lingkup materi A terdiri atas materi A1, A2 dan A3 yang diajarkan berturut-turut di kelas VII,VIII dan IX , untuk Materi A1 dapat saja direncanakan menjadi 3 nomor soal, dan ketiga nomor soal tersebut disebar dalam dimensi Proses berpikir pada level Lots, Mots dan Hots masing-masing satu nomor soal. Demikian untuk lingkup materi B, C dst. Hingga keseluruhan soal menjadi sejumlah 50 Nomor soal sebagaimana dalam standar prosedur operasional UN oleh BSNP 2017. Dari total soal biasanya ditentukan Prosentase Level Lots, Mots dan Hots, misalnya total soal 50 nomor soal, 12,5 % Lots, 75 % Mots dan 12,5 % Hots. Porsentase ini dapat saja berubah dari tahun ketahun. Dan oleh karena soal Unbk terdiri atas soal Pilihan ganda dan Soal Uraian, sudah ditentukan pula jumlah soal pilihan ganda dan jumlah soal uraian. Biasnya soal uraian dari total soal menyiapkan 5 nomor soal uraian.

Ketiga level berpikir yakni Lots, Mots, dan Hots sebagaimana di atas didasarkan pada taksonomi Bloom refisi oleh Anderson,L,W dan Krathwohl D,R,2001 sebagai rujukan Kurikulum 2013. Taksonomi Bloom-Anderson 2001 memiliki dua dimensi, yakni, dimensi proses kognisi yang disusun dari berpikir level Lots yakni, mengingat (C1), memahami (C2), berpikir level Mots, yakni, memhami (C2) dan menerapakan (C3) dan berpikir tingkat tinggi atau Penalaran atau Hots. dan dimensi pengetahuan (knowledge) disusun dari jenis pengetahuan fakta, konsep, prosedur dan metakognitif. Baik dimensi proses kognisi dan dimensi knowledge dalam Kurikulum 2013 yang terdapat dalam kalimat pernyataan Kompetensi Inti pengetahuan. Pernyataan kompetensi Inti tersebut sebagaimana berikut, “Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata”, Pernyataan Kompetensi Inti pengetahuan mengandung kata ‘memahami’ merupakan dimensi Proses berpikir pada tataran C2 dan faktual, konseptual, prosedural dan metakognisi merupakan dimensi pengetahuan.

Pernyataan Kompetesni Inti di atas diturunkan menjadi Pernyataan Kompetensi Dasar, yang seharusnya juga mengambil kata yang sama yakni ‘memahami’ yang sudah mewarnai materi ajar, kata ini adalah level Cognition 2 (C2) dari dimensi proses berpikir atau dimensi Process Cognition. Level ‘Memahami’ (C2), yakni, kemampuan untuk menangkap atau membangun makna dari materi fakta, konsep, prosedur. Pada tingkat kemampuan ini siswa dituntut untuk memahami yang berarti mengetahui sesuatu hal dan dapat melihatnya dari beberapa segi. Termasuk kemampuan untuk mengubah bentuk menjadi bentuk yang lain, misalnya dari bentuk verbal menjadi bentuk rumus, dapat menerangkan, menyimpulkan dan memperluas makna.

Memahami atau Pemahaman masih merupakan kata yang belum dapat diukur. Untuk mengukur berpikir ‘memahami’ dapat menggunakan tabel taksonomi Pengetahuan oleh Bloom-Anderson untuk menemukan Kata kerja Operasional atau kata yang sering digunakan untuk Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) sehingga KKO atau IPK untuk materi ajar tertentu akan dapat diukur dalam bentuk soal atau tes. Misalnya menggunakan kata yang dapat diukur yakni, mencontohkan, mengklasifikasi, menyimpulkan, membandingkan, dan menjelaskan, dll.

Sebagaimana dalam pedoman kurikulum 2013 bahwa, Kompetensi dasar tidak membatasi proses berpikir siswa, sekalipun Kompetensi dasarnya mengandung proses berpikir ‘memahami’ bukan berarti kompetensi berpikir hanya sampai pada ‘memahami’ saja akan tetapi sampai dengan ‘mencipta (C6) pada pengetahuan fakta, konsep, prosedur dan bahkan metakognisi. Oleh karena itu kisi-kisi Unbk atau soal Unbk tidak saja disiapkan sekedar sampai pada level ‘memahami’ yang masih berkategori Lots. Akan tetapi hingga pada level Mots, Hots.

Dalam menggunakan taksonomi Bloom-Anderson 2001, sangat penting untuk penyusunan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) pada KD atau materi ajar tertentu sangat pentingnya taksonomi tersebut karena menjadi cikal bakal Indikator soal pada Kisi-Kisi ulangan ditingkat kelas, ujian sekolah bahkan kisi-kisi untuk ujian nasional. Setiap proses berpikir yang disebut dengan, mengingat (C1), Memahami (C3), menerapkan (C3), menganalisis (C4), mengevaluasi (C5) dan mencipta (C6) adalah masih merupakan kata kerja abstrak yang belum dapat diukur. Untuk menyusun IPK sebagai cikal bakal indikator soal pada kisi-kisi harus menggunakan kata kerja operasional (KKO).

Penyusunan IPK mengacu pada prinsip pembelajaran dari konkrit ke abstrak. Sebagaimana di atas sekalipun KD dinyatakan dengan ‘memahami (C2) tetap saja untuk penyusunan IPK harus secara runut tersusun dari ‘mengenal (C1), ke C2, C3, hingga ke C6, tentu masing-masing menggunakan kata kerja operasionalnya untuk menyusun IPK (perhatikan tabel taksonomi Bloom-abnderson 2001)

Sebagai Konsekwensi dari IPK yang tersusun itu harus melahirkan soal mulai dari level Lots, Mots Hingga Hots untuk penilaian. Tentunya penyusunan soal tersebut oleh guru harus melalui RPP yang sudah mencantumkan IPK, selanjutnya menyusun kisi-kisi yang mencantumkan Indikator soal, dimana Indikator soal dibangun dari IPK. Selanjutnya berdasarkan kisi-kisi soal disusunlah naskah soal.

Untuk lebih jelasnya level Lots, Mots Hingga Hots yang dikembangkan berdasarkan taksonomi Kognisi Bloom-Anderson sebagai gambaran dapat mencermati Kisi-Kisi soal Unbk Bahasa Indonesia SD tahun 2017/2018.

Tabel Kisi-Kisi Unbk Bahasa Indonesia SD tahun 2017/2018

Sumber: Kemdikbud Direktorat Pembinaan SD

Berdasarkan tabel di atas memberikan inspirasi bagi guru untuk mengembangkan soal yang dibutuhkan sebagai penilaian guru dan penilaian Sekolah atas prestasi siswa dan sekaligus sebagai latihan persiapan siswa menghadapi Unbk yang bentuk soalnya yang sulit diprediksi (gerak brown) yang berada pada keluasan range proses kognisi dari C1 hingga C6. Dan yang pasti soal yang akan dihadapi akan menjadi sulit karena membutuhkan penalaran atau berpikir tingkat tinggi siswa jika mengabaikan latihan secara intensif.

Hal yang tidak dapat dihindari guru adalah mengembangkan soal Hots atau soal penalaran. Soal Hots memiliki karakter sebagai soal yang bersifat kontekstual yang dapat menggunakan penalaran siswa semasa pembelajaran, bersifat unfamiliar artinya soal Hots tidak pernah dicobakan pada siswa akan tetapi baru dijumpai pada saat Unbk belangsung. Selain itu soal Hots merupakan soal dengan kategori level C4, C5, dan C6 dalam dua atau lebih konsep atau prosedur untuk menyelesaikannya.

Untuk mengatasi Unbk yang bersifat luas dan kontekstual hingga dirasakan sulit maka sekolah harus melatihnya dengan soal yang kontekstual pula. Mengatasinya Unbk yang kontekstual tersebut melalui strategi penyusunan Kisi-Kisi soal dan Instrumen soal untuk persiapan ujian akhir semester di tingkat sekolah. Strategi penyusunan kisi-kisi dan instrumen soal itu dengan cara, keduanya disusun oleh dua guru yang berbeda dengan syarat kedua guru tersebut berlatar mata pelajaran yang sama. Misalnya guru pertama menyusun kisi-kisi dan guru lainnya menggunakan kisi-kisi yang dibuat oleh orang pertama sebagai dasar menyusun soal. Berdasarkan pengalaman selama ini penyusunan kisi-kisi soal dan Instrumen soal mata pelajaran tertentu menjadi beban tugas seorang guru mata pelajaran tersebut.

Penyusunan Kisi-Kisi soal dan Instrumen soal ujian semester dengan Strategi di atas dimungkinkan untuk dilaksanakan oleh sekolah mengingat Ujian akhir semester atau akhir tahun adalah tanggung jawab dan kewenangan sekolah dalam mengevaluasi kinerja guru dan ketercapaian kompetensi siswa (Permendikbud no 23 tahun 2016).

Penyusunan dengan strategi ini dapat secara tidak langsung mengawasi proses pembelajaran yang terhindar dari pengabaian materi tertentu untuk dibelajarkan dalam satu-satuan semester. Artinya baik guru dan siswa selalu mewaspadai soal yang diibaratkan seperti ‘gerak brown’. Selain itu, motivasi guru dan siswa akan terjaga menyelesaikan materi pelajaran sesuai target silabus. Sebaliknya bila sekolah tetap menerapkan strategi penyusunan baik Kisi-kisi soal dan instrumen soal dilakukan oleh hanya satu orang guru sesuai mata pelajaran yang diampunya. Cara yang seperti ini biasanya terjadi banyak kejanggalan.

Kejanggalan itu misalnya, jika orang yang sama yang bertugas menyusun pekerjaan yang berbeda tersebut, yang terjadi adalah guru menyusun soal sesuai materi yang dibelajarkan dan menghindari untuk mata pelajaran yang tidak dibelajarkan. Kejanggalan lain, guru dapat saja menyusun soal terlebih dahulu baru kemudian kisi-kisi soal, hal ini melanggar prosedur. Kejanggalan berikutnya adalah soal bisa jadi yang paling sering dilatihkan pada siswa dan tidak memperhatikan soal penalaran atau Hots. Bahkan soal menjadi mudah karena bisa jadi sudah dibocorkan.

Selain strategi di atas sekolah harus memfasilitasi pelatihan tingkat sekolah bagi guru menyusun kisi-kisi soal dan instrumen soal mengacu pada contoh Kisi-kisi dan instrumen soal nasional. Berdasarkan pengalaman pengamatan terhadap guru menyusun naskah soal, kebanyakan dari mereka mengambil atau mengadopsi soal dari buku atau dokumen Ujian nasional, artinya guru kurang terampil dengan sepenuhnya mampu menyusun soal sendiri yang bebas plagiarisme.


  • 0

Profil UNBK Dan Keterkaitannya dalam Pembelajaran Aktif : Model Pembelajaran Kontekstual (Bagian 1)

Elvi Saidi
Widyaiswara LPMP Gorontalo

ABSTRAK

Unbk selama ini menjadi mimpi buruk baik bagi guru maupun siswa. Alasannya pembelajaranlah yang menjadi penyebabnya. Pembelajaran masih seperti yang dulu-dulu saja sekalipun genderang kurikulum 2013 sudah dibunyikan menandai standar proses dan standar penilaian sudah dimulai mengikuti kebutuhan abad 21.

Pembelajaran yang diterapkan belum membuat gairah semangat belajar siswa untuk mencapai hasil penilaian dengan standar tinggi. Dengan menggali makna yang terkandung pada Unbk termasuk kesulitan yang dihadapai siswa yang dapat dipastikan hasilnya tidak maksimal. Untuk itu perlu menggali pula pembelajaran aktif yang mungkin bisa ditawarkan sebagai solusi untuk mengganti dan mengehentikan praktik pembelajaran yang kurang bermutu. Pembelajaran yang bermutu yang dimaksud adalah praktik pembelajaran yang memperhatikan intake siswa yang sangat variatif untuk mendudukkan kompetensi dasar yang harus dikuasai melalui proses berpikir terhadap pengetahuan fakta, konsep, prosedur bahkan metakognisi yang juga sebagai materi uji pada Unbk. Sebagai fokus masalah artikel non penelitian ini, yakni, apakah terdapat hubungan Profil Unbk Dengan Pembelajaran aktif: Model Pembelajaran Kontekstual ? Untuk menjawab masalah tersebut digunakan metode literasi pustaka yang dikonsultasikan dengan pengalaman melaksanakan supervisi implementasi kurikulum 2013, pengalaman melatih penyusunan kisi-kisi dan soal berstandar nasional . Hasil yang diperoleh sebagai kesimpulan kajian, yakni, 1) Unbk mengandung soal-soal yang unfamiliar baik bagi guru dan siswa sebagai peserta Unbk, 2) Model Pembelajaran Kontekstual merupakan salah satu Pembelajaran aktif, 3) Terdapat kesesuaian hubungan antara 7 indikator profil Unbk dengan 7 strategi model pembelajaran kontekstual dan 7 Prinsip model pembelajaran kontekstual, 4) Tujuh Strategi model pembelajaran kontekstual dan Tujuh Prinsip model pembelajaran kontekstual dapat menjangkau pencapaian kompetensi siswa pada Unbk.

PENDAHULUAN

Mengintip kelas-kelas yang sedang dalam proses pembelajaran, masih terlihat fenomena kelas ketika gurunya sedang memberikan materi ajar melalui metode ceramah yang dengan semangatnya berusaha menarik perhatian siswa. Saat ceramah guru berlangsung sebagian siswa mengikuti pembelajaran itu dengan lesu di kursi sambil merebahkan kepalanya, ada juga sebagian siswanya yang hanya memandang keluar jendela, sementara yang lain mengobrol lewat sms, dan sedikit diantara mereka yang tampak sungguh-sungguh memperhatikan gurunya. Fenomena pembelajaran seperti ini masih banyak terlihat di sekolah, Guru hanya mengajarkan dengan megutamakan mereka yang aktif saja tertarik dan menerima pembelajaran yang diberikan. Proses Pembelajaran seperti ini seharusnya sudah ditinggalkan dan menyesuaikan dengan Kurikulum 2013.

Sebagaimana tujuan kurikum 2013, ada tiga hal yang harus dicapai siswa dalam pembelajaran, yakni, Karakter, Kompetensi, dan Literasi. Karakter diperlukan siswa karena menghadapi lingkungan yang terus berubah. Komptensi, diperlukan siswa untuk mampu mengatasi masalah yang kompleks. Dan literasi diperlukan untuk memiliki keterampilan untuk kegiatan sehari-hari.

Siswa yang diharapkan berkarakter dengan indikatornya adalah, iman & taqwa, Cinta tanah air, Rasa ingin tahu, gigih kemampuan beradaptasi, memilki jiwa kepemimpinan, dan kesadaran budaya. Kompetensi dengan Indikator adalah, mampu ber pikir kritis, memecahkan masalah, kreatif, kolaboratif dan komunikatif. Sementara berdaya literasi yang indikatornya adalah baca tulis,literasi sains, literasi Informasi dan teknologi, literasi keuangan, literasi budaya dan kewarganegaraan . Atas semua itu harus terintegrasi dalam proses pembelajaran dan penilaian dari setiap mata pelajaran (Kurikulum 2013). Jika Fenomena pembelajaran diawal uraian dihubungkan dengan capaian yang diharapkan oleh Kurikulum 2013, maka sudah jelas tidak dapat, menjangkaunya.

Dalam panduan implementasi Kurikulum 2013, dijelaskan, Pembelajaran dan Penilaian dapat diibaratkan dengan dua sisi mata uang, yang keduanya penting dan tidak boleh saling lepas. Pembelajaran perlu direncanakan dengan menggunakan Pendekatan pembelajaran menurut standar proses yang mengutamakan siswa adalah pusat pembelajaran, dimana siswa diharuskan mengunakan teori saintifik, yang dikenal dengan 5m, yakni, mengamati, mempertanyakan, mengumpulkan informasi, menalar dan mengkomunikasikan. Sementara guru dalam layanannya menggunakan Kompetensi Pedagogik dan Profesionalnya dalam bentuk pendekatan–pendekatan antara lain membangun konteks, menelaah model pembelajaran yang sesuai, mengonstruksi penguasaan pengetahuan secara terbimbing dan mengonstruksi pengetahuan secara mandiri terhadap siswa. Dengan demikian siswa dapat mengembangkan proses berpikirnya dalam dimensi pengetahuan (Bloom_Anderson, 2001).

Standar proses pembelajaran di tingkat kelas akan dilakukan penilaian berdasarkan Standar Penilaian. Penilaian ini dilakukan oleh internal sekolah yakni oleh guru, dan tingkat sekolah sebagai ujian akhir semester atau ujian akhir tahun. Sementara penilaian ekternal yang diselenggarakan oleh pemerintah melalui Unbk untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika untuk SMP.

Sepanjang pengalaman mengamati tentang ujian, instrumen selalu saja sulit oleh siswa bahkan tidak sedikit gurupun mengeluhkannya. Memang berbeda tingkat kesulitan soal di tingkat kelas atau guru dikarenakan peniliannya masih otentik oleh guru sendiri yang menyusun soal. Sementara Unbk dirasakan lebih dikarenakan sudah merupakan penilaian dimana penyusun naskahnya adalah eksternal dan pasti non otentik.

Unbk yang yang materinya berdasarkan pengalaman belajar dari kelas tujuh hingga kelas sembilan selalu akan memberi kesan begitu luas dan dalam. Kesan luas dan dalam materinya memberi kesan berikutnya sulit memprediksi pada titik-titik mana dalam satu konsep materi terdapat masalah yang diangkat sebagai kisi-kisi dan instrumen soal. Sekalipun kisi-kisi selalu diterbitkan oleh Pemerintah untuk dapat membantu guru maupun siswa untuk lebih fokus dan berkonsentrasi, namun kisi-kisi tersebut datangnya pada saat sudah mendekati Unbk. Seolah kisi-kisi untuk mata pelajaran saja, misalnya Kisi-Kisi mata pelajaran Bahasa Indonesia yang diterbitkan itu sudah sulit untuk menyiapkan siswa untuk fokus dan berkonsentrasi dikarenakan waktu belajarnya hampir habis, bagaimana dengan mata pelajaran lainnya. Hal ini akan berakibat pada kepastian siswa merasakan akan kesulitan soal Unbk tersebut. Akan berbeda tentunya jika Kisi-Kisi diterbitkan lebih awal pada saat pembelajaran masih panjang waktunya.

Jika kisi-kisi datang lebih awal selain ada kelebihan sebagaimana diuraikan di atas juga mengandung kelemahan, kelemahannya boleh jadi guru hanya membelajarkan pada titik masalah yang dikisi-kisikan itu, hal ini tentu memberi dampak pada sempitnya penguasaan siswa akan pengetahuan, selain itu tujuan pembelajaran akan bergeser pada Kompetensi menyelesaikan soal Unbk saja, tidak pada tercapainya standar komptensi yang lebih luas dan holistik yakni, Karakteri, Kompetensi dan Literasi.

Kondisi sulitnya soal Unbk tidak semata-mata karena cepat atau lambatnya kisi-kisi Unbk diterbitkan oleh pemerintah akan tetapi lebih pada Proses Pembelajaran sebagai bentuk penyiapan siswa untuk menghadapi Unbk belum sesuai. Unbk itu sulit bagi peserta ujian, memang ya. yang namanya ujian pasti selalu sulit. Hanya saja bagaimanaa untuk menurunkan derajat panas akibat kesulitan Unbk maka harus menggunakan pendekatan pembelajaran yang dapat menangkap makna Unbk yang dirasakan sulit itu dan memberikan suport pada siswa untuk lebih fokus dan konsen melalui pembelajaran yang aktif.

Untuk itu penulis melakukan telaah lebih jauh akan makna Unbk dan berusaha menganalisisnya untuk dapat menawarkan salah satu model pembelajaran yang dapat dikategorikan sebagai pembelajaran aktif. Salah satu model pembelajaran itu adalah Model pembelajaran Kontekstual (Contextual teaching and learning atau Ctl) Model pembelajaran ini dari awal hingga sekarang kurang disebut-sebut dalam kurikulum 2013 pada hal model pembelajaran ini sudah banyak peneliti dan bisa memeberi makna pada pembelajaran dan penilaian.

Dengan demikian penulis, menulisnya dalam bentuk artikel sederhana, dengan judul: “Analisis Hubungan Profil Unbk Dengan Pembelajaran Aktif: Model Pembelajaran Kontekstual”

Selanjutnya untuk lebih mendalami dualitas Unbk dan Active Learning, penulis mempertanyakan sekaligus bertujuan untuk berusaha menjawabnya melalui pengumpulan informasi atau data hasil penelitian yang berhubungan dengan, “Adakah terdapat hubungan kesesuaian antara Profil Unbk Dengan Pembelajaran Aktif: Model Pembelajaran Kontekstual?”

Adapun kebermanfaatan artikel ini adalah berharap dapat menyemangati guru untuk lebih siap dalam mendukung Unbk melalui Pembelajaran aktif: Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual teaching and learning).


  • 2

Program PBPU, Penguat Sebuah Kerjasama PPPPTK Bahasa dan IFI 2018

Elvira Ratna Sari
Widyaiswara Bahasa Prancis
PPPPTK Bahasa

Jakarta – Alhamdulillah, Sebuah rangkaian pelatihan Pengajar Bahasa Prancis Unggulan (PBPU) telah berhasil dilaksanakan di tiga kota di Indonesia yaitu Manado (LPMP Manado, 12-17 Maret), Yogyakarta (LPMP Yogya, 17-24 Maret) dan Medan (PAUDNI, 30 April-5Mei). Pelatihan PBPU ini berpola 55 jam pelajaran (JP @45 menit) selama 6 hari dan menghadirkan narasumber dari kedua lembaga kerjasama yaitu Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan bidang Bahasa (PPPPTK Bahasa) dan Institut de Français en Indonésie (IFI) sebagai mitra.

Pelatihan di tiga wilayah ini dibuka oleh Kepala PPPPTK Bahasa, ibu Dr. Luizah. F. Saidi, M.Pd. dan dihadiri di Yogyakarta oleh Madame Sara Camara sebagai Direktur IFI Yogyakarta, di Medan oleh Mlle. Anne-Lise sebagai Direktur AF Medan, serta kunjungan observasi PBPU di Medan oleh pihak IFI Jakarta, Monsieur François Roland-Gosselin sebagai Atase Kerjasama Bahasa Prancis Kedutaan Prancis di Indonesia.

Program PBPU merupakan bagian dari beberapa program kerjasama yang akan dilaksanakan pada tahun 2018 ini dimana Memorandum of Understanding (MoU)-nya telah ditandatangani di awal tahun ini. Program ini bukanlah program pertama kali, program ini telah diujicobakan di akhir tahun 2017 pada bulan September (11-14) dimana programnya masih berpola 32 JP saja. Setelah melalui evaluasi penyelenggara dari kedua belah pihak dan respon langsung dari peserta saat itu, maka kedua pihak PPPPTK Bahasa dan IFI bersepakat untuk menyelenggarakannya di tahun ini di tiga tempat tersebut.

Struktur program PBPU terdiri dari delapan modul (red- M1, M2, M3, M4, M5, M6, M7, dan M8) yang mengangkat kompetensi metodologi guru bahasa Prancis dan disampaikan dengan pengantar bahasa Prancis pada umumnya. Berikut tabel modul atau materi PBPU ini:

Peserta pelatihan ini total berjumlah 75 guru bahasa Prancis (@25 orang/kelas) yang dalam proses pembelajarannya mereka diinapkan dalam asrama yang terletak masih dalam lingkungan kelas pelatihan. Sehingga mereka dapat berdiskusi untuk memahami materi-materi PBPU dan menyelesaikan tugas yang diberikan agar tepat waktu.

Hasil pelatihan PBPU ini yang berupa akumulasi dari keseluruhan materi yang dipelajari adalah Fiche Pédagogique atau Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) lengkap dari masing-masing kelompok kecil terdiri dari 3-4 guru. Pada program ini, tim akademik PBPU bersepakat memfokuskan tugas akhir peserta pelatihan ini yaitu RPP dengan jenjang kelas berbeda, antara lain: PBPU Manado – RPP kelas X, PBPU Medan – RPP kelas XI, dan PBPU Yogyakarta – RPP kelas XII. Dengan terlaksananya PBPU ini dan terkumpulnya tugas akhirnya, Peserta diharapkan dapat meningkatkan kompetensi pedagogik mereka, baik pengetahuan (metode pengajaran) maupun keterampilan mengajar. Dan dari hasil kumpulan RPP ini, penyelenggara (PPPPTK Bahasa dan IFI) akan menindaklanjutinya dalam program penyusunan Buku Ajar Unggulan (BAU) di dalam tahun yang sama, 2018, Inshaallah.


  • 0

Reformasi Birokrasi Internal

Category : Artikel Umum , Internal

Tim Itjen Kemendikbud bersama Tim RBI PPPPTK Bahasa melakukan verifikasi dokumen pendukung WBK tgl 21 Mei 2018

     Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus berupaya melakukan peningkatan kualitas layanan publik sesuai dengan konsep reformasi birokrasi internal. Hal ini juga berlaku di seluruh Unit Pelayanan Teknis di lingkungan Kemendikbud.
     PPPPTK Bahasa sebagai salah satu bagian UPT di lingkunan Kemendikbud pun ikut serta berpartisipasi dalam meningkatkan kualitas layanan publik. Sebagai langkah nyata dalam meningkatkan kualitasnya, PPPPTK bahasa menjalani survey internal dari Inspektorat Jenderal kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
      Layanan publik di lingkungan PPPPTK Bahasa yang disurvei di antaranya adalah Unit Layanan Terpadu (ULT), SDM Aparatur serta, Budaya kerja serta hal-hal terkait lainnya dalam upaya menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).

Sumber Gambar https://www.kemdikbud.go.id

       PPPPTK Bahasa sebagai salah satu bagian UPT di lingkunan Kemendikbud pun ikut serta berpartisipasi dalam meningkatkan kualitas layanan publik. Sebagai langkah nyata dalam meningkatkan kualitasnya, PPPPTK bahasa menjalani survey internal dari Inspektorat Jenderal kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Layanan publik di lingkungan PPPPTK Bahasa yang disurvei di antaranya adalah Unit Layanan Terpadu (ULT), SDM Aparatur serta, Budaya kerja serta hal-hal terkait lainnya dalam upaya menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).

Selain itu, PPPPTK Bahasa Juga membuat sebuah laman Whistle Blowing System (WBS) dalam mersepon dan memproses pengaduan/pemberian informasi yang disampaikan baik secara langsung maupun tidak langsung sehubungan dengan adanya perbuatan yang melanggar perundang-undangan, peraturan/standar, kode etik, dan kebijakan, serta tindakan lain yang sejenis berupa ancaman langsung atas kepentingan umum, serta Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang terjadi.

Tampilan Laman Whistle Blowing System PPPPTK Bahasa

Delapan area perubahan yang dicanangkan sebagai target dari reformasi birokrasi di lingkungan Kemendikbud. Diantaranya yaitu Penguatan Akuntabilitas Kinerja dan Peningkatan Kualitas Layanan Publik diharapkan dapat memberi harapan baru bagi peninkatan Kualitas dan Mutu kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Sumber Gambar https://www.kemdikbud.go.id

  • 0

Acara Pelepasan Kabag Umum PPPPTK Bahasa

Category : Uncategorized

Acara Pelepasan Kabag Umum PPPPTK Bahasa

Bpk. Teguh Santoso, S.S, M.Hum

Acara dilaksanakan di Gedung HB. Yasin PPPPTK Bahasa Jakarta pada Hari Kamis, tanggal 26 April 2018 Pukul 09.00 wib.

Kurang lebih 2 tahun bergabung bersama menjadi bagian dari keluarga besar PPPPTK Bahasa,

tentunya sudah banyak meninggalkan kesan baik. Tak hanya itu, jerih pemikiran, Inovasi, ide-ide cemerlang bahkan langkah serta kebijakan-kebijakan sudah banyak ditorehkan demi berjalannya sistem dalam instansi ini.

Sebagai Aparatur Sipil Negara yang selalu dan harus siap ditugaskan dimanapun dibutuhkan menjadi salah satu bentuk untuk selalu meningkatan rasa syukur dan menjaga kepercayaan yang diberikan. Lewat kerja optimal, kerja tuntas dan memuaskan dalam rangka pemberian pelayanan kepada masyarakat.
Komitmen atas kepercayaan yang diberikan, harus dijaga dan ditingkatkan selama pengabdian.

Terhitung mulai April 2018, Bapak Teguh Santoso, S.S, M.Hum yang semula menjabat menjadi Kabag Umum di PPPPTK Bahasa, resmi berpindah tugas mengemban amanat menjadi Kabid Program di PPPPTK Penjas dan BK.

Semoga selalu dalam limpahan dan curahan rahmat Allah. SWT dan dapat selalu menjalankan tugas dengan baik.

On Camera


  • 1

Rakor Kurikulum 2013 Wilayah Prov. Gorontalo

Rapat Koordinasi Data Pelaksanaan Pelatihan Kurikulum 2013 di Provinsi Gorontalo dilaksanakan pada hari Selasa s.d Kamis di Hotel Paradise Kota Gorontalo.
Rakor dibuka secara resmi oleh Kepala PPPPTK Bahasa Ibu. Dr. Hj. Luizah F. Saidi, M.Pd dengan agenda :

1. Pejaringan Data Kepala Sekolah

2. Penjaringan Data Sekolah Inti

3. Penjaringan Data Instruktur

4. Penjaringan Data Peserta

5. Pemaparan Program Kurikulum 2013 sekaligus penjelasan menyoal tata kelola keuangan dalam memanajemen Bantuan Pemerintah.

Rakor dihadiri oleh seluruh Perwakilan Dinas Pendidikan baik tingkat Provinsi, Kabupaten dan Kota.

Hari kedua penjaringan data serta seluruh agenda kegiatan Rakor sudah diselesaikan dengan baik. Membawa hasil data serta masukan dari berbagai pihak

Kegaitan Rakor resmi ditutup oleh Ibu Kepala PPPPTK Bahasa Ibu. Dr. Hj. Luizah F. Saidi, M.Pd, pada hari Kamis Pukul 08.00.

Semoga hasil yang di dapat dapat membawa dampak positif bagi terlaksannya Program Kulrikulum 2013 dan juga bagi dunia pendidikan Indonesia

Foto bersama pada acara pembukaan Rakor

  • 0

  • 1

Diklat peningkatan Kompetensi Berbahasa Jepang

Kegiatan Diklat Bahasa Jepang bagi Guru SMA/SMK ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi Guru Bahasa Jepang.
Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah meningkatnya kompetensi Profesional Guru bahasa Jepang setara NNS level 4
Sasaran kegiatan ini adalah Sasaran peserta Diklat Guru Bahasa Jepang  ini berjumlah 30 orang.

PPPPTK Bahasa memiliki wewenang penuh dalam penentuan peserta baik yang terpanggil ataupun pengganti jika diperlukan.

Formulir Biodata dan SPPD dapat di download disini


  • 0

Lagu Indonesia Raya 3 Stanza

Mendikbud Akan Buat Surat Edaran, Lagu “Indonesia Raya” Dinyanyikan 3 Stanza

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy akan menerbitkan surat edaran ke seluruh sekolah. Surat edaran tersebut meminta agar lagu Indonesia Raya dinyanyikan secara utuh, yakni 3 stanza, ketika dilaksanakan upacara. “Kemendikbud akan mengeluarkan edaran agar di sekolah menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza,” kata Muhadjir di Kemendikbud, Jakarta, Kamis (3/8/2017). Menurut Muhadjir, pada awalnya, lagu Indonesia Raya dinyanyikan 3 stanza. Kemudian, keluar Keputusan Presiden (Keppres) yang menyatakan bahwa lagu Indonesia Raya dinyanyikan 1 stanza.

“Saya tidak tahu itu kenapa bisa jadi 1 stanza. Itu memang secara resmi, saya tidak tahu keppresnya tetap masih dipertahankan 1 stanza,” kata Muhadjir. Dia menilai perbedaan antara lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan 1 stanza memiliki efek rasa semangat yang berbeda ketika dinyanyikan 3 stanza. Muhadjir menganalogikannya dengan hasil foto. “Kalau 1 stanza ibaratnya foto setengah badan. Kalau 3 stanza foto penuh,” kata Muhadjir.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Mendikbud Akan Buat Surat Edaran, Lagu “Indonesia Raya” Dinyanyikan 3 Stanza”,

Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2017/08/03/18205071/mendikbud-akan-buat-surat-edaran-lagu-indonesia-raya-dinyanyikan-3-stanza.

Penulis : Fachri Fachrudin


Lagu Indonesia Raya secara Utuh terdiri atas 3 (tiga) Bait atau 3 (tiga) stanza.

Karena kita terbiasa menyanyikan lagu kebangsaaan Indonesia Raya hanya 1 stanza, kemungkinan diantara kita banyak yang lupa atau tidak tahu stanza ke 2 dan stanza ke 3 dari lagu Indonesia Raya.

Sekedar berbagi pengetahuan (silahkan dikoreksi jika salah), berikut ini 3 (tiga) stanza lagu kebangsaan Indonesia Raya sesuai PP Nomor 44 Tahun 1958 tentang tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Berikut lyric per stanzanya :

Lagu Indonesia Raya secara Utuh terdiri atas 3 (tiga) Bait atau 3 (tiga) stanza.

Karena kita terbiasa menyanyikan lagu kebangsaaan Indonesia Raya hanya 1 stanza, kemungkinan diantara kita banyak yang lupa atau tidak tahu stanza ke 2 dan stanza ke 3 dari lagu Indonesia Raya.

Sekedar berbagi pengetahuan (silahkan dikoreksi jika salah), berikut ini 3 (tiga) stanza lagu kebangsaan Indonesia Raya sesuai PP Nomor 44 Tahun 1958 tentang tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Berikut lyric per stanzanya :

Bait / Stanza I

Indonesia tanah airku,

Tanah tumpah darahku,

Di sanalah aku berdiri,

Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku,

Bangsa dan tanah airku,

Marilah kita berseru,

Indonesia bersatu.

Hiduplah tanahku,

Hiduplah negriku,

Bangsaku, Rakyatku, semuanya,

Bangunlah jiwanya,

Bangunlah badannya,

Untuk Indonesia Raya.

Refrein

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Tanahku, neg’riku yang kucinta!

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Hiduplah Indonesia Raya.

Bait / Stanza II

Indonesia, tanah yang mulia,

Tanah kita yang kaya,

Di sanalah aku berdiri,

Untuk s’lama-lamanya.

Indonesia, tanah pusaka,

P’saka kita semuanya,

Marilah kita mendoa,

Indonesia bahagia.

Suburlah tanahnya,

Suburlah jiwanya,

Bangsanya, rakyatnya, semuanya,

Sadarlah hatinya,

Sadarlah budinya,

Untuk Indonesia Raya.

Refrein

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Tanahku, negriku yang kucinta!

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Hiduplah Indonesia Raya.

Bait / Stanza III

Indonesia, tanah yang suci,

Tanah kita yang sakti,

Di sanalah aku berdiri,

M’njaga ibu sejati.

Indonesia, tanah berseri,

Tanah yang aku sayangi,

Marilah kita berjanji,

Indonesia abadi.

Slamatlah rakyatnya,

Slamatlah putranya,

Pulaunya, lautnya, semuanya,

Majulah Negrinya,

Majulah pandunya,

Untuk Indonesia Raya.

Refrein

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Tanahku, negriku yang kucinta!

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Hiduplah Indonesia Raya.


  • 0

KEHIDUPAN MASYARAKAT MESIR Pengalaman Lintas Budaya

Category : Artikel Umum , Bahasa Arab

Dedi Suprianto

Widyaiswara Bahasa Arab
PPPPTK Bahasa

Bila kita berkunjung ke Mesir, selain kita dapat belajar dan mempraktikkan bahasa Arab, tentunya kita juga dapat mengenal lebih dekat budaya masyarakat negeri Piramida ini. Ada beberapa pengalaman empiris yang dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat Indonesia yang ingin berkunjung ke sana. Berikut ini beberapa pengalaman empiris yang terjadi pada penulis selama berada di Mesir. Pengalaman yang menyenangkan, haru, sedih maupun menegangkan.

  1.    Menyapa dan menanyakan asal

Secara umum masyarakat Mesir sangat tertarik dan ramah dengan orang asing, termasuk orang asing dari daerah Asia. Di beberapa wilayah yang jarang orang asingnya sepeti di Ismailia (2,5 jam dari Cairo), banyak orang Mesir yang baru pertama kali meilihat penulis kemudian tersenyum lalu menyapa. Bahkan tidak jarang beberapa anak kecil memandang sambil mengikuti penulis seraya menyapa dengan bahasa mereka.

Umumnya mereka menyapa dengan bahasa Mandarin yaitu  “Ni haoma?” (“Apa kabar?”), kemudian pengajar menjawab dengan “Ni hao” (kabar baik”) sambil menjelaskan bahwa kami dari Indonesia dan kami beragama Islam, lalu kami menyapa mereka dengan salam “Assalamu’alaikum” dan kemudian mereka tersenyum dan menjawab salam kami. Mereka kadang kaget juga ternyata penulis juga bisa berbahasa Arab. 

Adapula di antara mereka yang menanyakan asal penulis dengan bertanya, “Min Shiin?” (“Dari Cina?”),  “Min Yaban?” (“Dari Jepang?”), “Min Malaysia?” (“Dari Malaysia?”), “Min Korea?” (Dari Korea?”), “Min Filipina?” (“Dari Filipna?”). Tentunya kami langsung menjawab “Kami dari Indonesia” atau “Indonesia”. Kemudian mereka menjawab “Oh min Indonesia” (“Oh, dari Indonesia?”), kemudian rata-rata mereka langsung menjawab “Ahsanunnas!” (“sebaik-baik manusia!”). Namun uniknya dari sekian pertanyaan tentang asal jarang sekali yang menanyakan langsung kepada pengajar dengan pertanyaan “Min Indonesia?” (“Dari Indonesia?”/ “Anda dari Indonesia?”).  Jadi kebanyakan mereka – yang tinggal jauh dari ibu kota Cairo – menebak kita orang Asia dan umumnya bagi mereka Asia itu adalah Cina. Sudah tentu mereka mudah menebak kita orang Asia atau orang Cina karena penampilan fisik kita tidak seperti mereka (orang Arab).

 

2.    Keinginan warga untuk foto bersama

Banyak pula warga Mesir yang meminta foto bersama penulis, terutama di tempat wisata atau kendaraan umum saat baru pertama kali berjumpa dengan mereka. Mereka meminta dan mengajak penulis untuk swafoto sebagai kenang-kenangan yang indah karena bisa bertemu dangan orang asing yang secara fisik tentunya berbeda dengan mereka. Hal ini membuat penulis tersenyum-senyum, bangga dan bahagia karena merasa diri bak orang atau artis terkenal yang disanjung dan dipuja-puja.   

  

3.   Sempat dilarang masuk masjid

            Pernah suatu kali, saat penulis bersama bersama seorang kawan asalIndonesia ingin masuk masjid dan menunaikan shalat ashar, tiba-tiba dari dalam masjid muncul seorang bapak tua yang melarang kami masuk masjid. Beliau melarang masuk dan meminta kami untuk keluar. Padahal kami belum sempat berkata apa-apa dan baru berdiri di depan pintu masjid. Awalnya kami mengira bahwa masjid ingin ditutup karena sudah tidak ada jama’ah lagi. Untungnya dari dalam masjid juga muncul seorang polisi yang baru saja shalat ashar dan kemudian mengatakan kepada bapak tua tadi bahwa kami berdua ini datang ke masjid karena ingin shalat. Kami pun juga segera menjelaskan kepada bapak tua pengurus masjid tadi bahwa kami muslim dan ingin shalat di dalam masjid. Saat bapak tua tadi tahu bahwa kami muslim dan ingin shalat maghrib lalu dia tersenyum ramah, meminta maaf dan mempersilakan kami untuk shalat. Beliau menunggu kami shalat, bahkan selesai shalat kami diberi hidangan minuman dan kurma oleh beliau. Lalu beliau menanyakan asal kami. Setelah tahu kami dari Indonesia beliau mengatakan “ahsanunnas!” (“sebaik-baik manusia”/”orang Indonesia adalah orang-orang yang baik”).    

 

4.  Menjamu tamu dengan banyak makanan

Bila kita bertamu atau diundang makan oleh keluarga atau sahabat dari Mesir maka kosongkan perut atau bersiap-siaplah untuk lapar sebelumnya, karena biasanya mereka menjamu dan menghidangkan makanan untuk tamu dalam porsi besar dan beraneka ragam jenis masakan. Penulis merasa senang namun juga tidak enak bila tidak menghabiskan makanan yang disediakan, karena memang sudah kenyang atau kadang rasa makanan belum sesuai dengan lidah penulis. Bahkan ketika makanan kita hampir habis pun mereka meminta dan bahkan menambahkan ke dalam piring yang sedang kita gunakan, bagi mereka ini suatu penghormatan menjamu tamu.  Namun demikian bagi penulis ini adalah suatu latihan alami untuk bisa beradaptasi dengan keluarga dan juga makanan khas Mesir yang beraneka ragam bentuk dan rasanya. 

 

5.  Mujamalah (basa-basi)

Mujamalah adalah ungkapan basa basi. Di antara contoh mujamalah adalah saat kita melakukan transaksi jual beli. Di saat kita membeli barang, sering penjual menolak bayaran kita sambil tersenyum, menggoyangkan tangannya – tanda kita tidak perlu membayar- dan mengatakan “kholi” yang artinya gratis tau perlu membayar.  Hal ini sebenarnya hasanya basa-basi. Ketika kita mengetahui budaya ini maka sudah sewajarnya kita membayar sesuai harga yang telah tertera atau disepakati. Hal ini leih menambah kakraban dan persaudaran manakala penjual berbasa basi dengan mengatakan ini barang tersebut gratis kemudian kita membayarnya sesuai ketentuan. Artinya kita sama-sama saling diuntungkan karena kita bisa saling menghargai dan menghormati dalam urusan bermasyarakat.   

 

6.  Penggunaan ungkapan “Bukhrah” (Besok/nanti)

Terkadang ada orang Mesir menjanjikan sesuatu kemudian mengatakan “bukhroh”, yang artinya besok/nanti. Kita harus lebih berhati-hati karena belum tentu “bukhroh” di sini artinya besok atau selang satu hari dari hari ini. Misal dalam pengurusan visa, kita  bertanya kepada petugas di sana dengan mengatakan “Imta aljawaz maugud? (Kapan selesai pengurusan paspor/visa?”), apabila petugas menjawab dengan ungkapan “bukhroh” (besok/nanti) maka waspadalah, apalagi bila mereka mengatakan “bada bukhroh” (setelah besok), bisa jadi artinya waktu penyelesaian visa semakin tidak jelas kapan akan selesai. Oleh karena itu “bukhroh” ini maksundya ungkapan tentang waktu yang tidak pasti atau belum pasti waktunya entah kapan. Maka tak jarang masyarakat Indonesia yang tinggal di Mesir sering mengingatkan rekan-rekannya sambil bercanda dengan mengatakan, “Hati-hati loh dibukhrohin orang Mesir.” atau “Nggak mau ah dibukhrohin, capek, tidak jelas.”

 

7.  Penggunaan ungkapan “Quraib” (Dekat)

Bila kita sedang berjalan kaki lalu bertanya kepada orang Mesir, “Ayna Jam’ah Al-Azhar?” (“Di mana kampus Al-Azhar?”), kemudian orang itu menjawab, “quraib!” (dekat!), maka kita jangan langsung memperkirakan dan menyangka bahwa kampus Al-Azhar memang sudah dekat, bisa jadi kampus itu masih jauh. Karena menurut mereka bisa jadi jarak kampus tersebut dari tempat kita bertanya memang dekat namun bagi kita sebenarnya masih jauh bahkan sangat jauh dari kampus Al-Azhar, misalnya masih 5-10 km berjalan kaki atau sekitar 45 menit.