Author Archives: Jurusan Bahasa Arab

  • 0

Laporan Pelatihan Instruktur Nasional Kurikulum 2013 bagi Kepala Sekolah Provinsi Gorontalo

Category : Bahasa Arab

Ahmad Firdaus, Widyaiswara PPPPTK Bahasa

Kurikulum 2013 telah diimplementasikan secara bertahap di seluruh Indonesia sejak tahun pelajaran 2013/2014. Pada tahun pelajaran 2018/2019 diharapkan 100% sekolah menerapkan Kurikulum 2013. Dengan demikian, perlu dilakukan pelatihan kurikulum bagi guru dan tenaga kependidikan di sekolah sasaran yang akan mengimplementasikan Kurikulum 2013 pada tahun pelajaran 2018/2019. Pelaksanaan pelatihan Kurikulum 2013 diselenggarakan secara terkoordinasi antara Ditjen GTK, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjen Dikdasmen), LPMP, Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Ditjen GTK, dan Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota.

Pusat pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan (PPPPTK) bahasa yang merupakan salah satu unit pelayanan teknis di lingkungan Ditjen GTK ditetapkan sebagai wali untuk memfasilitasi pelatihan kurikulum 2013 di provinsi Gorontalo dan Sumatra Selatan. Salah satu kegiatan yang telah melaksanakan oleh PPPPTK Bahasa adalah kegiatan Pelatihan Instruktur Nasional Kurikulum 2013 bagi Kepala Sekolah SD dan SMP Provinsi Gorontalo yang dilaksanakan di LPMP Provinsi Gorontalo, Jl. Dr. Zainal Umar Sidiki, Tunggulo, Tolongkabila, Kab. Bone Bolango, Gorontalo pada tanggal 21 – 25 Mei 2018. Pelatihan ini dibuka oleh kepala bidang program dan informasi, Ibu Endang Supriati, M.Pd didampingi oleh kepala seksi Penyelenggaraan, Bapak Muhamad Darsita, SPd. dan para widyaiswara PPPPTK Bahasa.

Kegiatan Pelatihan Instruktur Kurikulum 2013 bagi Kepala Sekolah bertujuan menyiapkan peserta menjadi Instruktur yang akan melatih Kepala Sekolah sasaran Pelatihan Kurikulum 2013 bagi Kepala Sekolah tahun 2018 di Sekolah Inti. Dengan demikian hasil yang diharapkan dari Pelatihan Instruktur Kurikulum 2013 bagi Kepala Sekolah di Gorontalo adalah tersedianya Instruktur yang akan melatih Kepala Sekolah sasaran Pelatihan Kurikulum 2013 bagi Kepala Sekolah tahun 2018 di Sekolah Inti di Gorontalo.

Sesuai dengan Panduan Pelatihan Instruktur Kurikulum 2013 bagi Kepala Sekolah Tahun 2018 yang dibuat oleh Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar dan Menengah, pelatihan ini menggunakan pola 52 jam pelajaran dengan materi pelatihan yang terbagi menjadi tiga bagian, yaitu materi umum, materi pokok, dan materi penunjang. Materi umum meliputi Kebijakan dan Dinamika Perkembangan Kurikulum dan kecakapan abad 21. Materi umum yang kedua ini mencakup Penguatan Pendidikan Karakter, Penerapan Literasi dalam Pembelajaran, dan Kompetensi (USBN & HOTS). Materi pokok meliputi Manajemen Implementasi Kurikulum 2013, Pengembangan fungsi supervisi akademik dalam implementasi Kurikulum 2013, dan Teknis Pelaksanaan Kegiatan Program Kurikulum 2013 bagi Kepala Sekolah. Sedangkan materi penunjang meliputi, Pembukaan: Kebijakan Peningkatan Mutu Pendidikan, dan Rencana tindak lanjut.

Pelatihan instruktur kurikulum  2013 ini diikuti oleh 26 orang Kepala Sekolah SD dan 9 ornag Kepala Sekolah SMP dari berbagai kabupaten di provinsi Gorontalo, seperti Kab. Boalemo, Kab. Bonebolango, Kab. Gorontalo, Kab. Gorontalo Utara, Kab. Pohuwato, dan Kota Gorontalo. Pelatihan dibagi menjadi dua kelas, yaitu kelas Kepala Sekolah SD dan Kepala Sekolah SMP. Kelas Kepala Sekolah SD difasilitasi oleh Dr. Eko Juniarto dan Mulyadi, S.Ag., M.Pd. Sedangkan kelas Kepala Sekolah SMP difasilitasi oleh Ahmad Firdaus, S.Ag. Sedangkan panitia yang membantu kelancaran jalannya kegiatan pelatihan instruktur kurikulum 2013 ini adalah Bapak Yusup Nurhidayat dan Ibu Yuni Kelviniha dari PPPPTK Bahasa.

Berikut data peserta pelatihan instruktur  kurikulum 2013 bagi kepala sekolah jenjang SD dan SMP Provinsi Gorontalo:

  1. Data Peserta Pelatihan Instruktur Kurikulum 2013 Bagi Kepala Sekolah Jenjang SD Provinsi Gorontalo
No Nama Instansi Kab/Kota Provinsi
1 Sofyan Zakaria Utiarahman SDN 06 Paguyaman Kab. Boalemo Gorontalo
2 Sukiman Kasturi, M.Pd. SDN 02 Wonosari Kab. Boalemo Gorontalo
3 Undrawan Jusuf, S.Pd., M.Pd. SDN 01 Botumoito Kab. Boalemo Gorontalo
4 Femi Asri Pakaya, S.Pd. SDN 10 Kabila Kab. Bonebolango Gorontalo
5 Mardiana Hipi SDN 1 Suwawa Tengah Kab. Bonebolango Gorontalo
6 Muchtar Junus Hadia, S.Pd. SDN 10 Bonepantai Kab. Bonebolango Gorontalo
7 Anis A. Nuna SDN 2 Pulubala Kab. Gorontalo Gorontalo
8 Faisal Bima SDN 2 Tabongo Kab. Gorontalo Gorontalo
9 Herlina R Buhungo SDN 23 Limboto Kab. Gorontalo Gorontalo
10 Ibrahim Anali SDN 10 Tolangohula Kab. Gorontalo Gorontalo
11 Iyan Monoarfa SDN 24 Tibawa Kab. Gorontalo Gorontalo
12 Masri Potale SDN 6 Limboto Barat Kab. Gorontalo Gorontalo
13 Soniwati U. Laniyo SDN 01 Boliyohuto Kab. Gorontalo Gorontalo
14 Teny Dj. Machmud SDN 5 Talaga Jaya Kab. Gorontalo Gorontalo
15 Wahyudin Dj. Mardjun SDN 12 Batudaa Pantai Kab. Gorontalo Gorontalo
16 Asna Salmin Entengo, S.Pd., M.M. SDN 4 Anggrek Kab. Gorontalo Utara Gorontalo
17 Hanipa Isa Taabi, S.Pd. SDN 9 Atinggola Kab. Gorontalo Utara Gorontalo
18 I Wayan Sulandra, S.Pd. SDN 1 Biau Kab. Gorontalo Utara Gorontalo
19 Marlena Saleh, M.Pd. SDN 2 Kwandang Kab. Gorontalo Utara Gorontalo
20 Abdulkarim Mohamad Huruji SDN 10 Lemito Kab. Pohuwato Gorontalo
21 Lilis Napu SDN 07 Marisa Kab. Pohuwato Gorontalo
22 Selda Nento SDN 01 Marisa Kab. Pohuwato Gorontalo
23 Suleman Nurkamiden SDN 04 Randangan Kab. Pohuwato Gorontalo
24 Hardoni Biludi, S.Pd. SDN 104 Kota Utara Kota Gorontalo Gorontalo
25 Idris Kulima, S.Pd. SDN 26 Dungingi Kota Gorontalo Gorontalo
26 Mujahid A. Junaidi, S.Pd. SDN 89 Sipatana Kota Gorontalo Gorontalo
  1. Data peserta pelatihan instruktur kurikulum 2013 bagi kepala sekolah jenjang SMP Provinsi Gorontalo
No Nama Peserta Instansi Kab/Kota Provinsi
1 Abdulwahab Umar, S.Pd., M.Pd. SMPN 1 Wonosari Kab. Boalemo Gorontalo
2 Uly Mopangga, M.Pd. SMPN 1 Tilamuta Kab. Boalemo Gorontalo
3 Pitria Deu, S.Pd., M.Si. SMPN 1 Suwawa Kab. Bonebolango Gorontalo
4 Wahyudin P. Rauf, S.Pd., M.Pd. SMPN 3 Satu Atap Kabila Bone Kab. Bonebolango Gorontalo
5 Rosma Isa, M.Pd. SMPN 3 Telaga Kab. Gorontalo Gorontalo
6 Slamet Sarjono, S.Pd., M.M. SMPN 6 Boliyohuto Kab. Gorontalo Gorontalo
7 Yurita Nasibu, S.Pd., M.M. SMPN 2 Limboto Barat Kab. Gorontalo Gorontalo
8 Imran Atute, S.Pd. SMPN 1 Ponelo Kepulauan Kab. Gorontalo Utara Gorontalo
9 Dra. Hj. Asni Tomajahu SMPN 3 Duhiadaa Kab. Pohuwato Gorontalo

 

Pada akhir kegiatan pelatihan disampaikan laporkan hasil pelatihan oleh Bapak Mulyadi S.Ag., M.Pd. sebagai penanggung jawab akademis pelatihan. Berdasarkan hasil penilaian yang meliputi penilaian sikap, keterampilan dan pengetahuan (melalui tes akhir) semua peserta telah mengikuti pelatihan dengan baik dan semuanya lulus. Untuk kelas Kepala Sekolah SD dua orang memperoleh predikan sangat baik dan 24 orang memperoleh predikat baik. Untuk kelas Kepala Sekolah SMP semua peserta memperoleh predikan baik. Selanjutnya kegiatan ditutup secara resmi oleh kepala PPPPTK Bahasa, Dr. Hj. Luizah F. Saidi, M.Pd. didampingi oleh widyaiswara PPPPTK Bahasa yang menjadi fasilitator.

Semoga semua kegiatan pelatihan kurikulum 2013 yang dilaksanakan oleh PPPPTK Bahasa berikutnya dapat berjalan dengan baik dan lancar.


  • 0

KONSEP SIKAP MANUSIA

Category : Artikel Pendidikan

M. ISNAINI

WIDYAISWARA PPPPTK BAHASA

Manusia tidak dilahirkan dengan sikap pandangan ataupun sikap perasaan tertentu, tetapi sikap tersebut dibentuk sepanjang perkembangannya. Peranan sikap di dalam kehidupan manusia adalah mempunyai peranan yang besar, maka sikap-sikap itu akan turut menentukan cara-cara tingkah lakunya terhadap objek-objek sikapnya. Para ahli psikologi mempunyai pengertian yang berbeda-beda dalam memandang dan menafsirkan tentang pengertian sikap tersebut. Anastasi dan Urbina dalam Robertus hariono (2007) mendefinisikan sikap sebagai tendensi untuk bereaksi secara menyenangkan ataupun tidak menyenangkan terhadap sekelompok stimuli yang ditunjuk, seperti kelompok etnis atau kelompok nasional, adat istiadat atau lembaga.

Dalam pengertian lain sikap yaitu reaksi yang ditunjukkan oleh seseorang terhadap objek atau konsep yang ada dalam lingkungannya (Lerner: 1986).

Sedangkan dalam Azwar (2009), Thurstone memahami sikap sebagai derajat afek positif atau afek negatif terhadap suatu objek psikologis.

Sementara itu Trow dalam Djaali (2009) mendefinisikan sikap sebagai suatu kesiapan mental atau emosional dalam beberapa jenis tindakan pada situasi yang tepat. Di sini Trow lebih menekankan pada kesiapan mental seseorang atau emosional terhadap suatu objek.

Sedangkan menurut Syah (2010), sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon (response tendency) dengan cara yang relatif tetap terhadap objek, orang, barang dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif.

Sedangkan Azwar (2010) mengemukakan bahwa Sikap dikatakan sebagai suatu respons evaluatif. Respons hanya akan timbul apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya reaksi individual. Respons evaluatif berarti bahwa untuk reaksi yag dinyatakan sebagai sikap itu timbulnya didasari oleh proses evaluasi dalam diri individu yang memberi kesimpulan terhadap stimulus dalam bentuk nilai baik-buruk, positif-negatif, menyenangkan-tidak menyenangkan, yang kemudian mengkristal sebagai potensi reaksi terhadap objek sikap.

Sikap merupakan kemampuan internal yang berperan sekali dalam mengambil tindakan, terlebih bila terbuka berbagai kemungkinan untuk bertindak. Orang yang memiliki sikap jelas, mampu untuk memilih secara tegas di antara beberapa kemungkinan. Orang yang bersikap tertentu, cenderung menerima atau menolak suatu objek berdasarkan penilaian terhadap objek itu, berguna atau berharga baginya atau tidak. Bila objek diniai “baik untuk saya”, dia mempunyai sikap positif, bila objek dinilai “jelek untuk saya”, dia mempunyai sikap negatif. Misalnya, siswa yang memandang belajar di sekolah sebagai sesuatu yang bermanfaat baginya, memiliki sikap yang positif terhadap belajar di sekolah, dan sebaliknya jika siswa memandang belajar di sekolah sebagai sesuatu yang tidak berguna, memililki sikap yang negatif terhadap belajar di sekolah.

Selanjutnya Cronbach (1977) mengemukakan bahwa Sebuah sikap yang berkembang dari pengalaman terhadap satu objek, cenderung mempersamakan objek yang mirip. Kadang-kadang sikap itu terbentuk diawali oleh proses pengkondisian, baik kondisi yang menyenangkan ataupun tidak menyenangkan. Oleh karena itu satu stimulus saja sudah cukup untuk memicu reaksi emosional.

Sikap merupakan konsep yang penting dalam psikologi sosial dan paling banyak didefinisikan, seperti yang dinyatakan Sherif (1956) dan Allport (1924) dalam Rakhmat, sikap hanyalah sejenis motif sosiogenesis yang diperoleh melalui belajar. Sikap sebagai kesiapan saraf (neural settings) sebelum memberikan respon.

Jalaluddin (2005) kemudian menyatakan bahwa ikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berfikir dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi atau nilai. Sikap bukan perilaku, tetapi merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu terhadap objek sikap. Objek sikap dapat berupa benda, orang, tempat, gagasan atau situasi atau kelompok. Dengan demikian pada kenyataannya tidak ada istilah sikap yang berdiri sendiri. Sikap harus diikuti oleh kata “terhadap” atau “pada” objek sikap. Sikap memiliki daya pendorong atau motivasi yang relatif ebih menetap. Sikap juga menimbulkan aspek evaluatif, yang artinya mengandung nilai menyenangkan dan sikap timbul dari pengalaman.

Mengikuti skema triadik, struktur sikap terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang, yaitu komponen kognitif (cognitive),  komponen afektif (affective), dan komponen konatif (conative).

  1. Komponen Kognitif

Komponen kognitif merupakan komponen representasi dari apa yang dipercayai oleh pemilik sikap yang berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap. Komponen afektif berisi persepsi, kepercayaan dan stereotipe yang dimiliki individu mengenai sesuatu. Seringkali komponen kognitif ini dapat disamakan dengan pandangan atau opini, terutama apabila menyangkut masalah isu atau masalah yang kontroversial.

Kepercayaan datang dari apa yang kita lihat atau apa yang telah kita ketahui. Berdasarkan apa yang telah kita lihat itu kemudian terbentuk suatu ide atau gagasan mengenai sifat atau karakteristik umum suatu objek. Sekali kepercayaan itu telah terbentuk, maka ia akan menjadi dasar pengetahuan seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dari objek tersebut. Tentu saja kepercayaan sebagai komponen kognitif tidak selalu akurat. Kadang-kadang kepercayaan itu terbentuk dikarenakan kurang atau tiadanya informasi yang benar mengenai objek yang dihadapi.

  1. Komponen Afektif

Komponen afektif menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap. Seringkali perasaan pribadi sangat berbeda perwujudannya bia dikaitkan dengan sikap. Aspek emosional biasanya berakar paling dalam sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan terhadap pengaruh yang mungkin akan merubah sikap seseorang. Reaksi emosional banyak dipengaruhi oleh kepercayaan atau apa yang kita percayai sebagai benar dan berlaku bagi objek yang dimaksud.

  1. Komponen Konatif

Komponen konatif atau perilaku dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan denga objek sikap yag dihadapinya. Kaitan ini didasari oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi perilaku. Dengan demikian, bagaimana orang berperilaku dalam situasi tertentu dan terhadap stimulus tertentu akan banyak ditentukan oleh bagaimana kepercayaan dan perasaannya terhadap stimulus tersebut.

Konsistensi antara kepercayaan sebagai komponen kognitif, perasaan sebagai komponen afektif, dengan tendensi perilaku sebagai komponen konatif itulah yang menjadi landasan dalam usaha penyimpulan sikap yang dicerminkan oleh jawaban terhadap skala sikap.

Pengertian kecenderungan berperilaku menunjukkan bahwa komponen konatif meliputi bentuk perilaku yang tidak hanya dapat dilihat secara langsung saja, akan tetapi meliputi pula bentuk-bentuk perilaku yang berupa pernyataan atau perkataan yang diucapkan oleh seseorang.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa sikap adalah kecenderungan terhadap suatu objek yang menggambarkan perasaan positif atau negatif tertentu, dan kecenderungan dari seseorang untuk bertindak terhadap objek tersebut.

Sumber:

Anastasi, Anne dan Susana Urbina. Tes Psikologi terjemahan Robertus Hariono S. Imam. Jakarta: Indeks, 2007.

Azwar, Saifuddin. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.

Cronbach, Lee J. Educational Psychology. New York: Harcourt Brace Jovanovich Inc., 1977.

Djaali, H. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara, 2009.

Lerner,  Richard M., M. Ann Easterbrooks, dan Jayanthi Mistry. Psychology. New York: MacMillan Publishing Company, 1986.

Syah, Muhibbin.  Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010.

Rakhmat, Jalaluddin.  Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005.


  • 0

LAPORAN SINGKAT PELATIHAN INSTRUKTUR NASIONAL BAGI KEPALA SEKOLAH PROVINSI SUMSEL TAHUN 2018

Category : Bahasa Arab

Dedi Supriyanto, M.Pd.
Widyaiswara PPPPTK Bahasa

Pada tanggal 7-12 Mei 2018 PPPPTK Bahasa menyelenggarakan Pelatihan Instruktur Nasional Kurikulum 2013 bagi Kepala Sekolah Provinsi Sumatera Selatan di Hotel Azza, Palembang, Sumsel. Program ini merupakan salah satu kegiatan -tugas pokok dan fungsi (tupoksi)- PPPPTK Bahasa dalam meningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan. Kegiatan tupoksi ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan pelatihan kurikulum 2013 untuk mencetak instruktur nasional khususnya dari kalangan kepala sekolah SD dan SMP yang kemudian mereka akan menyampaikan dan mengimbaskan hasil pelatihan kepada kepala sekolah sasaran di wilayah kerja masing-masing.

Pelatihan ini dilaksanakan selama 6 hari dengan pola 60 jam pelajaran (JP). Secara umum materi pelatihan ini terdiri dari dinamika perubahan kurikulum, manajemen implementasi kurikulum, dan supervisi akademk.

Selain itu dalam pelatihan ini terdapat tiga kelas bagi kepala SD dan satu kelas bagi kepala SMP. Di setiap kelas terdapat dua narasumber atau widyaiswara yang memandu kegiatan ini hingga akhir kegiatan. Khusus kelas A yang berjumlah 29 peserta kepala SD dipandu oleh Bapak Dedi Supriyanto, M.Pd. dan Ibu Dwi Puspitasari, M.Pd. yang merupakan widyaiswara dari PPPPTK Bahasa. Peserta kelas A berasal dari kota Palembang dan beberapa kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan sedangkan tim panitia secara keseluruhan adalah karyawan PPPPTK Bahasa Jakarta. Mereka adalah Bapak Agus Rohmani, Ibu Fausta, Ibu Aminatun, Ibu Ima, Bapak Wielfred, dan Bapak Suprihatin.

Pelatihan ini dibuka oleh Kepala PPPPTK Bahasa, Dr. Hj. Luizah F. Saidi, M.Pd. didampingi oleh Kepala Seksi Evaluasi,  Bapak H. Delfian, S.Sos. Adapun pada akhir kegiatan ditutup oleh Kepala Bidang Fasilitasi Peningkatan Kompetensi, Bapak Drs. Samto, M.A. Semangat dan sukses instruktur nasional kurikulum 2013!


  • 0

PENGGUNAAN METODE EKLEKTIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ASING

Category : Artikel Kebahasaan

 M. Isnaini

Widyaiswara P4TK Bahasa

 

Konsep Dasar Metode Gabungan (Eklektik)

Metode gabungan (eclectic method) merupakan kreativitas para pengajar bahasa asing untuk mengefektifkan proses belajar mengajar bahasa asing. Metode ini juga sekaligus memberikan kebebasan kepada mereka untuk menciptakan variasi metode.

Yang dimaksud gabungan di sini bukan menggabungkan semua metode sekaligus, melainkan lebih bersifat “tambal sulam”, artinya suatu metode tertentu dipandang dapat mengetasi kekurangan metode yang lain. Walaupun setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan, namun tidak berarti semuanya dapat digabungkan sekaligus, sebab menggabungkan di sini sesuai kebutuhan atas dasar pertimbangan tujuan pembelajaran, sifat materi pembelajaran, kemampuan pelajar, bahkan kondisi guru. Yang cocok dilakukan dalam hal ini adalah memanfaatkan kelebihan metode tertentu untuk mengatasi kekuragan metode tertentu.

Berdasarkan kenyataan di atas, muncullah metode eklektik ( الطريقة الانتقائية), yang mengandung arti pemilihan dan penggabungan. Sebagaimana metode –metode lainnya, metode gabungan memiliki dasar yang dijadikan pijakannya.

Ada enam hal yang menjadi pijakan metode gabungan, yaitu:

  1. Setiap metode pengajaran bahasa asing memilki kelebihan. Kelebihan itu dapat dimanfaatkan dalam pengajaran bahasa asing.
  2. Tidak ada metode yang sempurna, dan juga tidak ada metode yang jelek, tetapi semuanya memiliki kekuatan dan kelemahan. Kekuatan metode tertentu bisa jadi dapat mengatasi kelemahan metode tertentu.
  3. Setiap metode memiliki latar belakang, karakteristik, dasar pemikiran, dan peruntukan yang berbeda, bahkan bisa jadi suatu metode muncul karena menolak metode sebelumnya. Jika metode-metode tersebut digabungkan, maka akan menjadi sebuah kolaborasi yang saling menyempurnakan.
  4. Tak ada suatu metode pun yang sesuai dengan semua tujuan, semua siswa, semua guru, dan semua program pengajaran bahasa asing.
  5. Hal yang penting dalam mengajar adalah memberi perhatian kepada para pelajar dan kebutuhannya, bukan menguasai metode tanpa didasarkan kepada pelajar dan kebutuhannya.
  6. Setiap guru bahasa asing diberi kebebasan untuk menggunakan langkah-langkah atau teknik-teknik dalam menggunakan metode pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan para pelajarnya dan sesuai dengan kemampuannya.

Langkah-langkah Penggunaan Metode Gabungan

Menggunakan metode gabungan dalam pengajaran bahasa asing adalah memanfaatkan kebaikan metode tertentu untuk mengatasi masalah kekurangan metode tertentu. Misalnya seorang guru bermaksud melatihkan kemampuan memahami teks bacaan dan kaidah gramatika, maka ia dapat mengkolaborasikan metode langsung dengan metode kaidah dan terjemah ditambah metode membaca.

Metode langsung “mengharamkan” penggunaan bahasa pelajar sehari-hari dalam pengajaran bahasa asing (sebut saja bahasa ibu dan bahasa kedua) sebagai bahasa pengantar pelajaran dan kegiatan penerjemahan ke dalam bahasa pelajar sehari-hari. Dalam pandangan metode ini penggunaan bahasa sehari-hari dan terjemahan dapat mengganggu keberhasilan, sebab tidak mendidik para pelajar untuk disiplin menggunakan bahasa asing yang dipelajari secara langsung. Padahal jika dilihat dari susut pandang yang lain larangan ini justru membuat metode ini tidak maksimal dalam mengajarkan bahas asing, sebab dalam hal-hal tertentu para pelajar bahasa asing tetap memerlukan bahasa sehari-hari atau terjemahan. Ini akan terjadi ketika diajarkan kata-kata atau kalimat yang sama sekali tidak bisa diragakan, digambarkan atau ditunjukkan ke alam nyata. Dalam hal lain metode langsung juga tidak menghiraukan kaidah gramatika, sebab menurut pandangannya analisa kaidah gramatika akan menggaggu pelajar dalam belajar bahasa asing. Padahal dalam hal-hal tertentu pelajar sangat membutuhkan analisa kaidah secukupnya. Ini juga sebuah kelemahan jika ditinjau dari sudut lain, sebab bagaimanapun yang namanya bahasa tidak terlepaskan dari kaidah gramatika, justru penggunaan kaidah ini dapat membuat bahasa menjadi tersusun rapi. Maka dapat diatasi dengan metode kaidah dan terjemah. Dalam hal lain kemampuan membaca di dalam metode langsung diberi porsi sangat sedikit, padahalkemampuan memahami bacaan juga sangat diperlukan dalam belajar bahasa asing. Maka ini bisa diatasi dengan metode membaca, dan seterusnya.

Terlihat di sini bahwa kegiatan pembelajaran akan menjadi sangat variatif, tidak terfokus pada satu kegiatan. Maka penggabungan ini diharapkan akan membuat kegiatan ini memacu motivasi para pelajar dalam belajar bahasa asing.

Seperti metode lain, langkah yang bisa digunakan untukmenggunakan metode ini fleksibel. Misalnya langkah yang dapat ditempuh oleh guru adalah sebagai berikut:

  1. Pendahuluan, sebagaimana metode lain.
  2. Memberikan materi berupa dialog-dialog pendek yang rileks, dengan tema kegiatan sehari-hari secara berulang-ulang. Materi ini mula-mula disajikan secara lisan dengan gerakan-gerakan, isyarat-isyarat, dramatisasi-dramatisasi, atau gambar-gambar.
  3. Para pelajar diarahkan untuk disiplin menyimak dialog-dialog tersebut, lalu menirukan dialog-dialog yang disajikan sampai lancer.
  4. Para pelajar dibimbing menerapkan dialog-dialog itu dengan teman-temannya secara bergantian.
  5. Setelah lancer menerapkan dialog-dialog yang telah dipelajari, mereke diberi teks bacaan yang temanya berkaitan dengan dialog-dialog tadi. Selanjutnya guru member contoh cara membaca yang baik dan benar, diikuti oleh para pelajar secara berulang-ulang.
  6. Jika terdapat kosa kata yang sulit, guru memaknainya mula-mula dengan isyarat atau gerakan, atau gambar atau yang lainnya. Jika tidak mungkin ini semua, guru menerjemahkannya ke dalam bahasa pelajar.
  7. Guru mengenalkan beberepa struktur yang penting dalam teks bacaan, lalu membahasnya seperlunya.
  8. Guru menyuruh para pelajar menelaah kembali bacaan, lalu mendiskusikan isinya.
  9. Sebagai penutup, jika diperlukan, evaluasi akhir berupa pertanyaan-pertanyaan tentang isi bacaan yang telah dibahas. Pelaksanaannya bisa saja secara individual atau kelompok, sesuai dengan situasi dan kondisi. Jika tidak memungkinkan, misalnya karena waktu, guru dapat menyajikannya berupa tugas yang harus dikerjakan di rumah masing-masing pelajar.

Kelebihan dan Kekurangan Metode Gabungan

Telah dikemukakan sebelumnya bahwa tak ada metode yang terbaik dan terburuk. Menggunakan metode apapun, khususnya dalam pengajaran bahasa asing, di dalamnya akan ada masalah yang harus diatasi. Termasuk menggunakan metode gabungan ini.

Walaupun terlihat kegiatannya lebih variatif, kemampuan para pelajar dalam menggunakan bahasa asing lebih merata, namun menggunakan metode gabungan nampaknya akan bermasalah dengan kesedian guru, siswa dan alokasi waktu.

Belum tentu semua guru sanggup melakukan serangkaian kegiatan mengajar yang begitu banyak dan bervariasi. Penggunaan metode ini nampaknya menuntut adanya guru yang segala bisa dan energik. Begitu juga dipihak pelajar. Biasanya kegiatan yang terlalu banyak malah akan menimbulkan kejenuhan belajar, apalagi jika materi dibawakan secara monoton. Waktu yang diperlukan juga relatif lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan metode yang lain, padahal umumnya alokasi waktu pelajaran bahasa Arab di sekolah-sekolah di Indonesia teratas, kecuali di sekolah-sekolah tertentu yang memberikan perhatian lebih kepada bidang studi bahasa Arab.


  • 0

KESAMAAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA DAN FILIPINO (TAGALOG)

Category : Artikel Kebahasaan

Dedi Supriyanto,M.Pd.
Widyaiswara Bahasa Arab
PPPPTK Bahasa

Bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu yang telah menjadi bahasa resmi dan bahasa persatuan rakyat Indonesia sejak tahun 1928, adapun bahasa Filipino atau lebih dikenal dengan bahasa Tagalog merupakan bahasa yang dipertuturkan secara luas dan sekaligus telah terpilih menjadi bahasa resmi rakyat Filipina sejak tahun 1937. Bahasa Filipino yang aslinya berasal dari bahasa Tagalog ini mungkin mirip dengan bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu.

Berdasarkan sejarah masa lalu, bahasa Filipino yang dikenal dengan bahasa Tagalog ini masih memiliki hubungan keluarga yang dekat dengan bahasa-bahasa daerah di Indonesia (Kalimantan, Sulawesi UtaraGorontalo, dan Jawa) maupun Malaysia (Sabah). Oleh karena itu bahasa Indonesia dan Tagalog ini memiliki akar yang sama yaitu berasal dari Malayo-Polynesian language family. Hal ini tentunya membuat orang Indonesia relatif lebih mudah dan cepat mempelajari bahasa Tagalog dan begitu pula sebaliknya.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan penulis selama menetap dan mengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) selama 6 bulan di Filipina, maka ditemukan adanya kesamaan dan perbedaan antara kosakata bahasa Indonesia dan bahasa Tagalog. Berikut ini penulis menyajikan beberapa kesamaan dan perbedaan kosakata bahasa Indonesia dan bahasa Tagalog, terutama dari segi penulisan kosakata, pelafalan atau pengucapan, dan maknanya..

  1. Kesamaan Bilangan/Angka

Beberapa kosakata bilangan/angka bahasa Tagalog memiliki kesamaan dalam bahasa Indonesia, diantaranya adalah bilangan/angka 5 dalam dalam bahasa Tagalog dituliskan dan dilafalkan dengan “lima”, demikian pula dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Tagalog bilangan atau angka 1 dituliskan dan dilafalkan dengan “isa”, ternyata dalam bahasa Indonesia angka 1 yang sering dilafalkan dengan “satu” juga memiliki makna “esa” yang berarti tunggal. Kemudian bilangan/angka 7 dalam bahasa Tagalog yang dilafalkan dengan “pito”, ternyata dalam bahasa Jawa juga terdapat pelafalan “pitu” yang berarti tujuh. Demikian pula dengan “walo’ dalam bahasa Tagalog, ternyata dalam bahasa Jawa juga ada pelafalan “wolu” yang berarti delapan.

  1. Kesamaan dan Kemiripan Kosakata
  1. Tulisan, pelafalan dan makna yang sama

Kosakata dalam bahasa Tagalog ada yang memiliki kesamaan dalam hal tulisan, pelafalan dan makna. Seperti kosakata “kami”, “langit”, “anak” dalam bahasa Tagalog memiliki makna yang sama dengan “kami’, ”langit”, dan “anak” dalam bahasa Indonesia.

  1. Tulisan sama, makna berbeda

Dalam bahasa Tagalog ada beberapa kosakata yang tulisan dan pelafalannya sama dengan beberapa kosakata bahasa Indonesia namun maknanya sangat berbeda. Contoh kata “mahal” dalam bahasa Tagalog, selain memiliki makna yang sama dengan “mahal” dalam bahasa Indonesia, ternyata “mahal” dalam bahasa Tagalog juga berarti “cinta/sayang”. Selain itu kata “batik” dalam bahasa Tagalog ternyata bermakna “bintik” yang tentunya jauh berbeda  maknanya dengan  “batik” dalam bahasa Indonesia yang bermakna “batik/baju batik/kain batik”.

  1. Tulisan berbeda, makna sama

Dalam bahasa Tagalog terdapat banyak sekali kata yang tulisannya berbeda dengan kosakata dalam bahasa Indonesia, namun memiliki makna yang yang sama atau relatif sama. Diantaranya adalah kata “ako” dalam bahasa Tagalog yang bermakna ”saya”, ternyata dalam bahasa Indonesia terdapat kosakata “aku” yang juga bermakna “saya” atau “aku”, demikian pula dengan kata “ikaw” dalam bahasa Tagalog yang bermakna ‘kamu”, ternyata dalam bahasa Indonesia juga ada kosakata “engkau” yang bermakna “kamu’ atau “anda”.

  • Perbedaan Kosakata Secara Umum

Secara umum perbedaan makna kosakata dalam bahasa Tagalog dan bahasa Indonesia lebih kepada penulisan dan pelafalan. Ada beberapa kosakata dalam bahasa Tagalog yang penulisannya mirip dengan bahasa Indonesia namun memiliki arti yang sama seperti kata “ako” (saya), “mukha” (muka/wajah), dan bangkay (bangkai). Selain itu dalam bahasa Tagalog juga terdapat kosakata yang penulisannya berbeda namun pelafalannya sama dengan bahasa Indonesia, seperti seperti kata “bato” (dibaca: batu), ibo (dibaca: ibu), dan “dato” (dibaca: datu).

Demikianlah beberapa kesamaan dan perbedaan kosakata dalam bahasa Tagalog dan bahasa Indonesia yang berkaitan dengan kesamaan dalam tulisan, pelafalan dan makna dan perbedaan kosakata secara umum. Bahkan adapula kosakata bahasa Tagalog yang yang tulisannya berbeda namun sepintas kita menyangka maknanya sama dalam bahasa Indonesia, namun dalam bahasa Tagalog sendiri maknanya memang berbeda, seperti kata “tahanan” dan “hukuman”, dalam bahasa Tagalog, “tahanan” bermakna rumah, sedangkan “hukuman” bemakna pengadilan..

Oleh karena itu banyaknya kesamaan dan kemiripan kosakata bahasa Indonesia dengan bahasa Tagalog tentunya akan memberikan kemudahan bagi para penutur asli bahasa Indonesia untuk mempelajari bahasa Tagalog, begitupula sebaliknya.


  • 0

SEKILAS TENTANG BAHASA ARAB FUSHA (Formal) DAN AMIYAH (Informal)

Category : Bahasa Arab

Dedi Supriyanto, M.Pd.
Widyaiswara Bahasa Arab
PPPPTK Bahasa

Bahasa Arab termasuk bahasa yang banyak digunakan oleh masyarakat di dunia. Banyak pendapat tentang sejarah permulaan munculnya bahasa Arab, pendapat yang paling klasik menyebutkan bahwa bahasa Arab sudah ada sejak zaman Nabi Adam as, dasar dari pendapat ini adalah firman Allah swt. dalam Alquran yakni surah Al-Baqarah ayat 31 yang artinya, “Allah telah mengajarkan Adam pengetahuan tentang segala nama”.

Dalil inilah yang digunakan oleh mereka yang berpendapat bahwa nama-nama benda dan berbagai macam hal atau sifat di dunia ini telah diajarkan oleh Allah kepada Nabi Adam as dengan menggunakan bahasa Arab.

Dalam bahasa Arab dikenal adanya bahasa Arab Fusha (formal/resmi) dan bahasa Arab Amiyah (informal/nonformal/pasaran). Menurut Emil Badi’ Ya’qub, bahasa Arab fusha adalah bahasa yang digunakan dalam Alquran, situasi-situasi resmi, penggubahan puisi, penulisan prosa dan juga ungkapan-ungkapan pemikiran (tulisan-tulisan ilmiah). Bahasa Arab Fusha juga menjadi bahasa pemersatu dan bahasa yang dapat menyelesaikan perselisihan antara bangsa-bangsa Arab karena bahasa ini mempunyai bentuk yang sama di dunia Arab. Bahkan siapapun yang berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Arab Fusha maka mereka akan saling memahami maksud yang disampaikan walaupun orang-orang tersebut berasal dari latar belakang negara yang berbeda. Dengan bahasa Arab ini orang-orang dapat memahami dan berkomunikasi dengan lancar apabila bahasa yang digunakan adalah bahasa Arab Fusha yang sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu nahwu (tata bahasa), sharf (pembentukan kata) dan balaghah (nilai seni bahasa). Bahasa Arab Fusha digambarkan sebagai bahasa Arab yang digunakan masyarakat pada zaman Rasulullah saw. Kini bahasa Arab Fushah sudah menjadi  bahasa internasional yang diresmikan pada 18 Desember 1982 oleh UNESCO (United Nation Education,Scientific and Cultural Organization). Kemudian penetapan tanggal tersebut dijadikan sebagai hari bahasa Arab sedunia. Oleh karena itu bahasa Arab Fusha ragam standar inilah yang kemudian digunakan di negara-negara Arab dan mayoritas kaum muslimin  di seluruh dunia. Secara umum bahasa ini dapat diklasifikasikan dalam dua tingkatan, yaitu bahasa Arab klasik (classical Arabic) yang digunakan dalam bahasa Alquran dan bahasa Arab standar modern (modern standard Arabic) yang digunakan dalam bahasa ilmiah.

Adapun bahasa Arab Amiyah adalah bahasa yang sering digunakan dalam aktivitas sehari hari yang berbentuk informal atau nonformal. Bahasa ini lebih sering disebut dengan bahasa pasaran. Menurut Emil Badi’ Ya’qub, bahasa Amiyah – dikenal juga dengan al-lahjah – adalah bahasa yang digunakan dalam urusan biasa (tidak resmi) dan yang diterapkan dalam keseharian (bahasa gaul). Bahasa Arab Amiyah tidak dapat dilepaskan dari bahasa Arab Fusha, selain itu bahasa Arab ini pun tidak sepenuhnya sesuai dengan kaidah atau tata bahasa arab yang resmi. Bahasa Arab Amiyah di setiap negara juga mempunyai berbagai versi sesuai dengan negara dan daerah yang menggunakan bahasa tersebut, sehingga kita dapat menjumpai ada bahasa Amiyah Saudi Arabia, bahasa Amiyah Sudan, bahasa Amiyah Tunisa, bahasa Amiyah Mesir dan sebagainya. Bahasa ini tidak lain adalah bahasa yang hidup di negara dan daerah tersebut serta digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Adapun istilah-istilah lain yang sering digunakan oleh para ahli bahasa untuk menyebut jenis bahasa Amiyah ini adalah as-Saykal al-Lughawi ad-Daraj, al-Lahjah as-Sya-i’ahal-Lughah al-Muhakkiyah, al-Lughah al-’Arabiyah al-’Amiyah, al-Lahjah ad-Darajah, al-Lahjah al-’Amiyah, al-Lughah ad-Darajah, al-Kalam ad-Daraj, al-Kalam al-’Amiy, dan ada pula yang menyebutnya dengan istilah lughatusy Sya’b.

Perbedaan mendasar antara Fusha dan Amiyah terdapat pada kepatuhan terhadap kaidah-kaidah kebahasaan. Bahasa Arab Fusha sangat memperhatikan kaidah-kaidah nahwu dan sharf, sedangkan bahasa Arab Amiyah tidak memperhatikan hal tersebut. Oleh karena itu penggunaan bahasa Arab Fusha dan Amiyah digunakan dalam forum yang berbeda pula. Perbedaan lainnya di antara bahasa Arab Fusha dan Amiyah adalah dari segi pengucapan dan logat. Tidak jarang bahasa Amiyah ini masih sering muncul ketika penutur asli berkomunikasi menggunakan bahasa Arab Fusha karena memang adanya kebiasaan penggunaan bahasa Amiyah dalam keseharian dan adanya kedekatan/kemiripan bahasa Amiyah dengan bahasa Fusha. Berikut ini contoh beberapa ungkapan bahasa Arab Fusha dan bahasa Arab Amiyah yang digunakan di negara Saudi Arabia dan Mesir. Untuk bertanya “Siapa namamu?” maka dalam bahasa Arab Fusha digunakan ungkapan “Maa Ismuk?”, adapun dalam bahasa Arab Amiyah Mesir digunakan ungkapan “Ismuka eyh?”, sedangkan di Saudi Arabia digunakan ungkapan “Iysy ismak?”. Contoh lainnya untuk bertanya “Di mana Anda tinggal?”, maka dalam bahasa Arab Fusha digunakan ungkapan ”Ayna taskun?”, adapun dalam bahasa Arab Amiyah Mesir digunakan ungkapan “Saakin fein?”, sedangkan di Saudi Arabia digunakan ungkapan “Wein saakin?”. Penulis mengambil contoh ungkapan bahasa Arab Amiyah Saudi Arabia dan Mesir karena umumnya bahasa ini mendominasi pasaran pergaulan orang Arab dan bahasa Amiyah ini lebih mudah dipahami oleh sebagian besar masyarakat di negara Arab tanpa menafikkan bahasa Amiyah negara Arab lainnya.

Dengan demikian tulisan singkat ini diharapkan dapat secara umum mengenalkan dan menggambarkan bahasa Arab Fusha dan Amiyah yang hidup di tengah masyarakat Arab. Sehingga kita tidak kaget bila menjumpai orang-orang Arab berkomunikasi menggunakan bahasa Arab yang mungkin “agak aneh” atau “berbeda” dengan bahasa Arab Fusha yang pernah kita pelajari, padahal sebenarnya mereka sedang berkomunikasi menggunakan bahasa Arab Amiyah (informal/pasaran).


  • 0

LAPORAN DIKLAT GURU HEBAT BAHASA ARAB SMA/SMK DI MEDAN

Category : Bahasa Arab

Dedi Supriyanto, M.Pd.
Widyaiswara PPPPTK Bahasa
PPPPTK Bahasa

Pada pertengahan bulan Februari 2018 PPPPTK Bahasa sudah bergerak dan memulai kegiatan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) berkaitan dengan peningkatan kompetensi guru bahasa. Salah satu kegiatan tupoksi yang pertama kali diselenggarakan di awal tahun 2018 ini adalah kegiatan Diklat Guru Hebat Bahasa Arab SMA/SMK. Diklat ini dilaksanakan di Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini (BP PAUDNI) Regional I, Jalan Kenanga Raya No. 64, Tanjung Sari, Medan, Sumatra Utara.

Diklat tingkat nasional ini diselenggarakan pada tanggal 19-25 Februari 2018 dan diikuti oleh 30 peserta yang merupakan guru bahasa Arab SMA/SMK dari 6 provinsi di Indonesia. Mereka berasal dari Sumatra Utara (9 guru), Sumatra Barat (12 guru), Aceh (4 guru), Lampung (2 guru), Jambi (2 guru), dan Bangka Belitung (1 guru). Berikut ini nama lengkap para peserta dan asal instansi mereka.

NAMA PESERTA DIKLAT GURU HEBAT BAHASA ARAB

JENJANG SMA/SMK REGION BARAT

19 s.d. 25 FEBRUARI 2018

DI BP-PAUDNI REGIONAL 1 SUMATRA UTARA

No. Nama Instansi Kabupaten/Kota Provinsi
Zulkifli,  S.Ag. SMAN Ubin Kab. Bener Meriah Aceh
Agus Salim, S.Fil.I. SMAN 2 Bukit Kab. Bener Meriah Aceh
3. Subhan, S.Pd.I, M.A. SMAN 1 Delima Kab. Pidie Aceh
Khairul Hadi, S.Pd.I., M.Ed. SMAN Unggul Pidie Jaya Kab. Pidie Jaya Aceh
5. Johan, S.Ag. SMAN 1 Pangkalanbaru Kab. Bangka Tengah Bangka Belitung
6. Makmur, S. Ag. SMAN 7 Muaro Jambi Kab. Muaro Jambi Jambi
7. Redatul Rus’a, S.Pd.I. SMAN 6 Tebo Kab. Tebo Jambi
8. Ukhtia Sari, S.Pd.I. SMAN 12 Bandar Lampung Kota Bandar Lampung Lampung
Ari Budiningsih, S.S. SMAN 10 Bandar Lampung Kota Bandar Lampung Lampung
Asrida, S.Pd.I. SMAN 1 Timpeh Kab. Dhamasraya Sumatra Barat
11. Dafitra, S.Pd.I. SMA YDB Lubuk Alung Kab. Padang Pariaman Sumatra Barat
12. Ria Oktavianita, S.Hum. SMAN 1 Sutera Kab. Pesisir Selatan Sumatra Barat
13. Junita Astuti,S.Pd.I. SMAN 1 Linggo Sari Baganti Kab. Pesisir Selatan Sumatra Barat
14. Mar arif, S.Pd.I. SMAN 4 Sijunjung Kab. Sijunjung Sumatra Barat
15. Reni Handayani, S.Pd I. SMAN 2 Solok Selatan Kab. Solok Selatan Sumatra Barat
16. Dedi Sardianto, M.A. SMAN 5 Solok Selatan Kab. Solok Selatan Sumatra Barat
17. Ben Indones, S.Pd.I. SMAN 1 Solok  Selatan Kab. Solok Selatan Sumatra Barat
18. Awalul Fajri,M.A. SMA 1 Pariangan Kab. Tanah Datar Sumatra Barat
19. Kardinal, S.Pd.I, M.A. SMAN 5 Padang Kota Padang Sumatra Barat
20. Novaliza Muchlis, S.S., S.Pd.I. SMA Muhammadiyah 2 Kota Padang Sumatra Barat
21. Zulpahmi, S.Pd.I. SMA Islam Raudhatul Jannah Kota Payahkumbuh Sumatra Barat
22. Dra. Jamilah SMAN 1 Kualuh Selatan Kab. Labuhanbatu Sumatra Utara
23. H. Akhmad Shabri, Lc. SMA Darussa’adah Kab. Langkat Sumatra Utara
24. Sobirin SMAN 1 Hinai Kab. Langkat Sumatra Utara
25. Muhammad Alfi Syahrin SMA Muhammadiyah 4 Babalan Kab. Langkat Sumatra Utara
26. Nuraini Muhammad, S.Pd.I. SMA Negeri 1 Brandan Barat Kab. Langkat Sumatra Utara
27. Khairul Amin Aulia, S.Pd.I. SMA Negeri 1 Sei Lepan Kab. Langkat Sumatra Utara
28. Riadul Muslim Hasibuan, M.Pd.I. SMAN 1 Hutaraja Tinggi Kab. Padang Lawas Sumatra Utara
29. Bulan Siregar, S.Pd.I. SMAN 5 Padangsidimpuan Kota Padang Sidempuan Sumatra Utara
30. H. Zul Kawahpi Nunut Pasi, Lc. SMA Swasta Pertiwi Medan Kota Medan Sumatra Utara

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala PPPPTK Bahasa, Dr. Hj. Luizah F. Saidi, M.Pd. didampingi oleh Kepala Seksi Data dan Informasi, Bapak Joko Sukaton, S,Pd. Diklat yang berpola 60 jam pelajaran (JP) ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru bahasa Arab SMA/SMK dalam bidang literasi, penguatan karakter dan penilaian. Khusus untuk materi penilaian peserta mendapatkan materi yang berkaitan dengan penyusunan kisi-kisi soal, penyusunan butir soal, analisis butir soal, dan pedoman penskoran. Hal ini juga untuk mempersiapkan dan membekali mereka dalam membuat soal terstandar menghadapi Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) dan ujian sekolah lainnya.

Fasilitator atau narasumber dalam diklat ini adalah widyaiswara dari PPPPTK Bahasa yakni Ibu Vera Aulia Lesmana dan Bapak Dedi Supriyanto. Adapun panitia yang telah banyak membantu adalah Bapak Yusup Nurhidayat dan Ibu Ima Rosyidah dari PPPPTK Bahasa juga dibantu oleh Bapak Dani dari BP PAUDNI Medan.

Semoga semua kegiatan tupoksi lainnya di PPPPTK Bahasa dapat berjalan dengan baik dan lancar, termasuk kegiatan Diklat Guru Hebat Bahasa Arab SMA/SMK yang akan dilaksanakan di LPMP NTB pada tanggal 19-26 Februari 2018 dan di BP PAUDNI, Makassar pada tanggal 11-15 Maret 2018. Salam sukses!


  • 0

KEHIDUPAN MASYARAKAT MESIR Pengalaman Lintas Budaya

Category : Bahasa Arab , Uncategorized

Dedi Supriyanto, M.Pd.
Widyaiswara PPPPTK Bahasa
PPPPTK Bahasa

Bila kita ita berkunjung ke Mesir, selain kita dapat belajar dan mempraktikkan bahasa Arab, tentunya kita juga dapat mengenal lebih dekat budaya masyarakat negeri Piramida ini. Ada beberapa pengalaman empiris yang dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat Indonesia yang ingin berkunjung ke sana. Berikut ini beberapa pengalaman empiris yang terjadi pada penulis selama berada di Mesir. Pengalaman yang menyenangkan, haru, sedih maupun menegangkan.

  1. Menyapa dan menanyakan asal

Secara umum masyarakat Mesir sangat tertarik dan ramah dengan orang asing, termasuk orang asing dari daerah Asia. Di beberapa wilayah yang jarang orang asingnya sepeti di Ismailia (2,5 jam dari Cairo), banyak orang Mesir yang baru pertama kali meilihat penulis kemudian tersenyum lalu menyapa. Bahkan tidak jarang beberapa anak kecil memandang sambil mengikuti penulis lalu penulis pun menyapa dengan bahasa mereka.

Umumnya mereka menyapa dengan bahasa Mandarin yaitu  “Ni haoma?” (“Apa kabar?”), kemudian pengajar menjawab dengan “Ni hao” (kabar baik”) sambil menjelaskan bahwa kami dari Indonesia dan kami beragama Islam, lalu kami menyapa mereka dengan salam “Assalamu’alaikum” dan kemudian mereka tersenyum dan menjawab salam kami. Mereka kadang kaget juga ternyata penulis juga bisa berbahasa Arab.

Adapula di antara mereka yang menanyakan asal penulis dengan bertanya, “Min Shiin?” (“Dari Cina?”),  “Min Yaban?” (“Dari Jepang?”), “Min Malaysia?” (“Dari Malaysia?”), “Min Korea?” (Dari Korea?”), “Min Filipina?” (“Dari Filipna?”). Tentunya kami langsung menjawab “Kami dari Indonesia” atau “Indonesia”. Kemudian mereka menjawab “Oh min Indonesia” (“Oh, dari Indonesia?”), kemudian rata-rata mereka langsung menjawab “Ahsanunnas!” (“sebaik-baik manusia!”). Namun uniknya dari sekian pertanyaan tentang asal jarang sekali yang menanyakan langsung kepada penulis dengan pertanyaan “Min Indonesia?” (“Dari Indonesia?” atau “Anda dari Indonesia?”). Jadi kebanyakan mereka – yang tinggal jauh dari ibu kota Cairo – menebak kita orang Asia dan umumnya bagi mereka Asia itu adalah Cina. Sudah tentu mereka mudah menebak kita orang Asia atau orang Cina karena penampilan fisik kita tidak seperti mereka (orang Arab).

  1. Keinginan warga untuk foto bersama

Banyak pula warga Mesir yang meminta foto bersama penulis, terutama di tempat wisata atau kendaraan umum saat baru pertama kali berjumpa dengan mereka. Mereka meminta dan mengajak penulis untuk swafoto sebagai kenang-kenangan yang indah karena bisa bertemu dangan orang asing yang secara fisik tentunya berbeda dengan mereka. Hal ini membuat penulis tersenyum-senyum, bangga dan bahagia karena merasa diri seperti orang atau artis terkenal yang disanjung dan dipuja-puja.

  1. Sempat dilarang masuk masjid

Pernah suatu kali, saat penulis bersama bersama seorang kawan asal Indonesia ingin masuk masjid dan menunaikan shalat ashar, tiba-tiba dari dalam masjid muncul seorang bapak tua yang melarang kami masuk masjid. Beliau melarang masuk dan meminta kami untuk keluar. Padahal kami belum sempat berkata apa-apa dan baru berdiri di depan pintu masjid. Awalnya kami mengira bahwa masjid ingin ditutup karena sudah tidak ada jama’ah lagi. Untungnya dari dalam masjid juga muncul seorang polisi yang baru saja shalat ashar dan kemudian mengatakan kepada bapak tua tadi bahwa kami berdua ini datang ke masjid karena ingin shalat. Kami pun juga segera menjelaskan kepada bapak tua pengurus masjid tadi bahwa kami muslim dan ingin shalat di dalam masjid. Saat bapak tua tadi tahu bahwa kami muslim dan ingin shalat maghrib lalu dia tersenyum ramah, meminta maaf dan mempersilakan kami untuk shalat. Beliau menunggu kami shalat, bahkan selesai shalat kami diberi hidangan minuman dan kurma oleh beliau. Lalu beliau menanyakan asal kami. Setelah tahu kami dari Indonesia beliau mengatakan “ahsanunnas!” (“sebaik-baik manusia” atau ”orang Indonesia adalah orang-orang yang baik”).

  1. Menjamu tamu dengan banyak makanan

Bila kita bertamu atau diundang makan oleh keluarga atau sahabat dari Mesir maka kosongkan perut atau bersiap-siaplah untuk lapar sebelumnya, karena biasanya mereka menjamu dan menghidangkan makanan untuk tamu dalam porsi besar dan beraneka ragam jenis masakan. Penulis merasa senang namun juga tidak enak bila tidak menghabiskan makanan yang disediakan, karena memang sudah kenyang atau kadang rasa makanan belum sesuai dengan lidah penulis. Bahkan ketika makanan kita hampir habis pun mereka meminta dan bahkan menambahkan ke dalam piring yang sedang kita gunakan, bagi mereka ini suatu penghormatan menjamu tamu. Namun demikian bagi penulis ini adalah suatu latihan alami untuk bisa beradaptasi dengan keluarga dan juga makanan khas Mesir yang beraneka ragam bentuk dan rasanya.

  1. Mujamalah (basa-basi)

Mujamalah adalah ungkapan basa basi. Di antara contoh mujamalah adalah saat kita melakukan transaksi jual beli. Di saat kita membeli barang, sering penjual menolak bayaran kita sambil tersenyum, menggoyangkan tangannya – tanda kita tidak perlu membayar – dan mengatakan “kholi” yang artinya gratis tak perlu membayar. Hal ini sebenarnya hanyalah basa-basi. Ketika kita mengetahui budaya ini maka sudah sewajarnya kita membayar sesuai harga yang telah tertera atau disepakati. Hal ini leih menambah kakraban dan persaudaran manakala penjual berbasa basi dengan mengatakan barang tersebut gratis kemudian kita membayarnya sesuai ketentuan. Artinya kita sama-sama saling diuntungkan karena kita bisa saling menghargai dan menghormati dalam urusan bermasyarakat.

  1. Penggunaan ungkapan “Bukhrah” (Besok/nanti)

Terkadang ada orang Mesir menjanjikan sesuatu kemudian mengatakan “bukhroh”, yang artinya besok/nanti. Kita harus lebih berhati-hati karena belum tentu “bukhroh” di sini artinya besok atau selang satu hari dari hari ini. Misal dalam pengurusan visa, kita  bertanya kepada petugas di sana dengan mengatakan “Imta aljawaz maugud? (Kapan selesai pengurusan paspor/visa?”), apabila petugas menjawab dengan ungkapan “bukhroh” (besok/nanti) maka waspadalah, apalagi bila mereka mengatakan “ba’da bukhroh” (setelah besok), bisa jadi artinya waktu penyelesaian visa semakin tidak jelas kapan akan selesai. Oleh karena itu “bukhroh” ini maksundya ungkapan tentang waktu yang tidak pasti atau belum pasti waktunya entah kapan. Maka tak jarang masyarakat Indonesia yang tinggal di Mesir sering mengingatkan rekan-rekannya sambil bergurau dengan mengatakan, “Hati-hati loh dibukhrohin orang Mesir.” atau “Nggak mau ah dibukhrohin, capek, tidak jelas.”

  1. Penggunaan ungkapan “Quraib” (Dekat)

Bila kita sedang berjalan kaki lalu bertanya kepada orang Mesir, “Ayna Jami’ah Al-Azhar?” (“Di mana kampus Al-Azhar?”), kemudian orang itu menjawab, “quraib!” (dekat!), maka kita jangan langsung memperkirakan dan menyangka bahwa kampus Al-Azhar memang sudah dekat, bisa jadi kampus itu masih jauh. Karena menurut mereka bisa jadi jarak kampus tersebut dari tempat kita bertanya memang dekat namun bagi kita sebenarnya masih jauh bahkan sangat jauh dari kampus Al-Azhar, misalnya masih 5-10 km berjalan kaki atau sekitar 45 menit.

  1. Aktivitas perdagangan umumnya ramai di sore atau malam hari

Masyarakat Mesir pada umumnya memulai aktivitas perdagangan pada waktu siang atau sore hari, kira-kira pukul 13.00 hingga tengah malam atau dini hari. Hal ini perlu kita ketahui agar ketika kita membutuhkan sesuatu kita tahu kapan waktu yang tepat untuk pergi ke tempat perniagaan, warung atau toko. Namun demikian untuk aktivitas perkantoran dan perkuliahan umumnya tetap dimulai sejak pagi hingga siang atau sore hari.

Demikianlah pengalaman empiris penulis selama berada di Mesir ketika berinteraksi langsung dengan masyarakat di sana. Pengalaman berharga ini tentunya dapat memperkaya khazanah pengetahuan dan wawasan kita tentang budaya dan tradisi mayarakat setempat yang tentunya ada perbedaan dengan budaya dan kebiasaan masyarakat kita. Dengan demikian kita bisa lebih menghormati dan menghargai perbedaan budaya yang ada dengan tetap memperhatikan kebiasaaan masyarakat di sana dan menjunjung tinggi rasa persaudaraan.


  • 0

KOSAKATA BARU DALAM BAHASA INDONESIA DAN CONTOH PENGGUNAANNYA DALAM KALIMAT

Category : Bahasa Arab

Penulis :

Dedi Supriyanto
Widyaiswara Bahasa Arab
PPPPTK Bahasa

Kosakata baru dalam bahasa Indonesia kini banyak bermunculan seiring perkembangan bahasa Indonesia dan penggunaannya yang semakin meluas, tidak hanya di dalam negeri namun juga di luar negeri. Banyak pemelajar bahasa Indonesia di luar negeri yang bersemangat mempelajari dan mempraktikkan bahasa Indonesia, bahkan dengan senang hati mereka mencoba menggunakan kosakata baru tersebut untuk berkomunikasi.

Sebagai penutur asli bahasa pemersatu bangsa Indonesia ini maka sudah sewajarnya kita harus mengetahui, memahami dan juga mepraktikkan beberapa kosakata baru yang telah hadir dan memperkaya perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia yang kita cintai ini.

Berikut ini beberapa contoh kosakata baru – yang mungkin masih asing – bagi kita namun sebenarnya sudah resmi digunakan dan pemakaiannya pun juga sudah cukup meluas. Hal ini tidak lepas dari peran Badan Bahasa di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dalam meneliti, mengkaji, menghasilkan dan mempromosikan penggunaan kosakata baru bahasa Indonesia serta kemudian memasyarakatkannya melalui berbagai sarana, antar lain melalui Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V tahun 2016. Beberapa kosakata baru yang kini beredar sebagian besar diambil dari bahasa asing dan juga bahasa daerah kita.

Dalam artikel ini, penulis juga memberikan contoh penggunaan kosakata baru tersebut dalam beberapa kalimat sehingga diharapkan pembaca dapat memahami dan menggunakannya dalam komunikasi sehari-hari baik secara lisan maupun tulisan.

  1. Posel atau surel

Posel merupakan akronim dari pos elektronik sedangkan surel adalah akronim dari surat elektronik. Kedua kata ini dapat digunakan untuk menggantikan kata email  (electronic mail) yang biasanya masih banyak digunakan dalam berkomunikasi. Contoh kalimat: Saya ingin membuka posel/surel pagi ini.

  1. Fail

Fail bermakna dokumen atau berkas. Kata ini digunakan untuk menggantikan kata file yang juga terkadang masih digunakan masyarakat kita dalam berkomunikasi. Contoh kalimat: Anda dapat menyimpan fail ini di dalam folder tersendiri.

  1. Gawai

Gawai bermakna kerja/pekerjaan. Arti kata lainnya adalah peranti elektronik. Kata gawai ini dapat digunakan untuk menggantikan kata gadget. Ada pula arti lain dari kata gawai, yakni perkakas/alat. Beberapa alat elektronik seperti laptop, tablet, dan komputer juga dapat dikatakan sebagai gawai. Saat ini, media cetak juga mulai menggunakan kata gawai untuk menggantikan kata gadget. Contoh kalimat: Saya menggunakan gawai untuk berkomunikasi dengan pelanggan baru.

  1. Ponsel

Ponsel merupakan akronim dari telepon seluler. Kata ini dapat menggantikan kata handpohone yang umumnya masih sering digunakan oleh masyarakat kita ketika berkomuniaksi dalam bahasa Indonesia. Contoh kalimat: Nomor ponsel saya yang baru adalah 081284038730.

  1. Protofon

Protofon adalah radio-telepon jalan. Kata ini bisa digunakan untuk menggantikan kata Handy Talkie (HT). Contoh kalimat: Petugas itu menggunakan protofon untuk menghubungi rekannya di tempat lain.

  1. Laman

Laman merupakan halaman utama dari suatu web yang diakses oleh pengguna pada awal masuk ke situs tersebut. Kata laman dapat kita gunakan untuk mengganti kata home page. Seiring perjalanan waktu kata laman juga mengalami perluasan makna, tidak hanya untuk halaman depan dari suatu situs/web tapi juga digunakan menyangkut konten sebuah situs atau web. Oleh karena itu ada yang menggunakan kata laman secara umum sebagai pengganti dari istilah website. Contoh kalimat: Mulai hari ini kantor kami memiliki laman baru dan silakan kunjungi www.sinarmataharipagi66.com.

  1. Daring dan Luring

Kata daring merupakan akronim dari “dalam jaringan” dan kata ini untuk menggantikan kata “online.”  Sedangkan luring adalah akronim dari “luar jaringan” dan digunakan untuk menggantikan kata “offline.” Contoh kalimat: Kami akan menghubungi Anda saat daring dan bukan pada saat Anda luring.

  1. Pranala/hipertaut
  1. Ikon

Ikon merupakan gambar atau simbol kecil pada layar komputer yang melambangkan sesuatu (program, peranti, dan sebagainya) yang diaktifkan dengan cara diklik. Arti lainnya adalah lukisan atau gambar. Kata ini dapat digunakan untuk menggantikan kata icon. Contoh kalimat: Beragam ikon dapat kita temukan di desktop ini.

  1. Tetikus

Tetikus adalah peranti periferal pada komputer yang menyerupai tikus, gunanya antara lain untuk mengendalikan kursor saat menggunakan komputer atau laptop. Kata ini dapat digunakan untuk menggantikan kata mouse. Contoh kalimat: Saya selalu menggunakan tetikus saat bekerja menggunakan laptop.    .

  1. Swafoto

Swafoto berarti potret diri yang diambil sendiri dengan menggunakan ponsel atau kamera digital, biasanya untuk diunggah ke media sosial. Kata ini digunakan untuk menggantikan kata selfie. Contoh kalimat: Sebagian besar kawan di kantor kami tidak suka swafoto.

  1. Saltik

Kata saltik merupakan akronim dari salah tik, digunakan untuk menggantikan kata typo. Contoh kalimat: Beberapa kali dia melakukan saltik saat menullis pesan untuk saya.

  1. Pratayang

Dalam bidang komputer kata ini bermakna tinjauan pendahuluan, dalam bidang umum dan perfilman bermakna penayangan sesuatu, terutama film, drama, dan sebagainya kepada orang tertentu sebelum masyarakat umum menontonnya. Kata ini digunakan untuk menggantikan kata preview. Contoh kalimat: Pembicara itu menjelaskan pratayang sebelum menyampaikan paparan lebih mendalam.

  1. Salin dan tempel

Salin dan tempel adalah proses menyalin data  dari suatu sumber, meninggalkan sumber data tidak berubah, dan menulis data yang sama di tempat lain. Salin tempel digunakan untuk mengganti frasa copy paste yang kadang masih sering digunakan dalam komunikasi bahasa Indonesia. Contoh kalimat: Saya sudah menemukan menu salin dan tempel dalam program ini

  1. Pindai

Kata pindai dapat diartikan mengopi atau menyalin gambar atau teks ke dalam komputer dalam bentuk digital. Kata ini dapat digunakan untuk mengganti kata scan. Contoh kalimat: Semua calon mahasiswa sudah memindai ijazah asli mereka.

  1. Peladen

Peladen bermakna orang yang meladeni (pelayan), pengantar naskah khusus ke ruang redaksi, dan juga bermakna komputer dalam jaringan yang berfungsi sebagai penyedia layanan ke komputer lain. Kata ini digunakan untuk menggantikan kata server. Contoh kalimat: Pak Amir memiliki banyak cara untuk memutakhirkan peladen di kantor kami.

  1. Derau

Derau bermakna tiruan bunyi gemuruh hujan dibawa angin. Arti lainnya adalah bunyi, getaran atau isyarat (sinyal) yang tidak diinginkan atau gangguan yang terjadi dalam sistem transmisi telekomunikasi yang memengaruhi kualitas informasi. Kata ini dapat digunakan untuk menggantikan kata noise. Contoh kalimat: Adanya derau membuat informasi yang diterima menjadi tidak jelas.

  1. Narahubung

Narahubung adalah orang yang bertugas sebagai penghubung dan penyedia informasi untuk pihak luar, biasanya dalam kegiatan seminar, diklat, konferensi, dan sebagainya. Kata ini digunakn untuk mengganti kata contac person. Contoh kalimat: Semua peserta dapat berkomunikasi dengan narahubung kegiatan diklat ini setiap saat.

  1. Pelantang

Pelantang adalah alat untuk melantangkan suara. Kata ini digunakan untuk menggantikan kata microphone. Contoh kalimat: Beliau seharusnya menggunakan pelantang agar suaranya lebih jelas dan terdengar.

  1. Pewara

Pewara adalah pembawa acara dalam suatu upacara, kegiatan, pertemuan, dan sebagainya. Kata ini digunakan untuk menggantikan kata MC (Master Ceremony). Contoh kalimat: Pewara acara dalam kegiatan ini adalah Ibu Sinta Dwi Trikora, M.Pd.

  1. Pramusiwi

Pramusiwi adalah wanita yang bekerja pada suatu keluarga dengan tugas merawat bayi atau anak-anak kecil keluarga yang bersangkutan. Kata lain untuk pramusiwi adalah pengasuh anak. Kata ini bisa digunakan untuk menggantikan kata babby sitter. Contoh kalimat: Pramusiwi baru di rumah kami bernama Khadijah.

  1. Perundungan

Perundungan adalah proses, cara dan perbuatan merundung atau perlakuan yang bisa membuat orang lain merundung/tersakiti/teraniaya. Kata ini dapat digunakan untuk menggantikan kata Bully. Contoh kalimat:  Anak itu selalu mendapat perundungan di lingkungan rumahnya.

Demikianlah beberapa contoh kosakata baru dan penggunaannya dalam bahasa Indonesia, semoga kita terbiasa menggunakan kosakata baru tersebut seraya mengurangi atau meminimalkan penggunaan kosakata yang berasal dari bahasa asing ketika kita berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Mari kita ingat slogan “Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing.” Jayalah bahasa Indonesia!