Author Archives: Jurusan Bahasa Arab

  • 0

KESAMAAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA DAN FILIPINO (TAGALOG)

Category : Uncategorized

Dedi Supriyanto,M.Pd.
Widyaiswara Bahasa Arab
PPPPTK Bahasa

Bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu yang telah menjadi bahasa resmi dan bahasa persatuan rakyat Indonesia sejak tahun 1928, adapun bahasa Filipino atau lebih dikenal dengan bahasa Tagalog merupakan bahasa yang dipertuturkan secara luas dan sekaligus telah terpilih menjadi bahasa resmi rakyat Filipina sejak tahun 1937. Bahasa Filipino yang aslinya berasal dari bahasa Tagalog ini mungkin mirip dengan bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu. 

Berdasarkan sejarah masa lalu, bahasa Filipino yang dikenal dengan bahasa Tagalog ini masih memiliki hubungan keluarga yang dekat dengan bahasa-bahasa daerah di Indonesia (Kalimantan, Sulawesi UtaraGorontalo, dan Jawa) maupun Malaysia (Sabah). Oleh karena itu bahasa Indonesia dan Tagalog ini memiliki akar yang sama yaitu berasal dari Malayo-Polynesian language family. Hal ini tentunya membuat orang Indonesia relatif lebih mudah dan cepat mempelajari bahasa Tagalog dan begitu pula sebaliknya.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan penulis selama menetap dan mengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) selama 6 bulan di Filipina, maka ditemukan adanya kesamaan dan perbedaan antara kosakata bahasa Indonesia dan bahasa Tagalog. Berikut ini penulis menyajikan beberapa kesamaan dan perbedaan kosakata bahasa Indonesia dan bahasa Tagalog, terutama dari segi penulisan kosakata, pelafalan atau pengucapan, dan maknanya..

  1. Kesamaan Bilangan/Angka

Beberapa kosakata bilangan/angka bahasa Tagalog memiliki kesamaan dalam bahasa Indonesia, diantaranya adalah bilangan/angka 5 dalam dalam bahasa Tagalog dituliskan dan dilafalkan dengan “lima”, demikian pula dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Tagalog bilangan atau angka 1 dituliskan dan dilafalkan dengan “isa”, ternyata dalam bahasa Indonesia angka 1 yang sering dilafalkan dengan “satu” juga memiliki makna “esa” yang berarti tunggal. Kemudian bilangan/angka 7 dalam bahasa Tagalog yang dilafalkan dengan “pito”, ternyata dalam bahasa Jawa juga terdapat pelafalan “pitu” yang berarti tujuh. Demikian pula dengan “walo’ dalam bahasa Tagalog, ternyata dalam bahasa Jawa juga ada pelafalan “wolu” yang berarti delapan.

  1. Kesamaan dan Kemiripan Kosakata
  1. Tulisan, pelafalan dan makna yang sama

Kosakata dalam bahasa Tagalog ada yang memiliki kesamaan dalam hal tulisan, pelafalan dan makna. Seperti kosakata “kami”, “langit”, “anak” dalam bahasa Tagalog memiliki makna yang sama dengan “kami’, ”langit”, dan “anak” dalam bahasa Indonesia.

  1. Tulisan sama, makna berbeda

Dalam bahasa Tagalog ada beberapa kosakata yang tulisan dan pelafalannya sama dengan beberapa kosakata bahasa Indonesia namun maknanya sangat berbeda. Contoh kata “mahal” dalam bahasa Tagalog, selain memiliki makna yang sama dengan “mahal” dalam bahasa Indonesia, ternyata “mahal” dalam bahasa Tagalog juga berarti “cinta/sayang”. Selain itu kata “batik” dalam bahasa Tagalog ternyata bermakna “bintik” yang tentunya jauh berbeda  maknanya dengan  “batik” dalam bahasa Indonesia yang bermakna “batik/baju batik/kain batik”.

  1. Tulisan berbeda, makna sama

Dalam bahasa Tagalog terdapat banyak sekali kata yang tulisannya berbeda dengan kosakata dalam bahasa Indonesia, namun memiliki makna yang yang sama atau relatif sama. Diantaranya adalah kata “ako” dalam bahasa Tagalog yang bermakna ”saya”, ternyata dalam bahasa Indonesia terdapat kosakata “aku” yang juga bermakna “saya” atau “aku”, demikian pula dengan kata “ikaw” dalam bahasa Tagalog yang bermakna ‘kamu”, ternyata dalam bahasa Indonesia juga ada kosakata “engkau” yang bermakna “kamu’ atau “anda”.

  • Perbedaan Kosakata Secara Umum

Secara umum perbedaan makna kosakata dalam bahasa Tagalog dan bahasa Indonesia lebih kepada penulisan dan pelafalan. Ada beberapa kosakata dalam bahasa Tagalog yang penulisannya mirip dengan bahasa Indonesia namun memiliki arti yang sama seperti kata “ako” (saya), “mukha” (muka/wajah), dan bangkay (bangkai). Selain itu dalam bahasa Tagalog juga terdapat kosakata yang penulisannya berbeda namun pelafalannya sama dengan bahasa Indonesia, seperti seperti kata “bato” (dibaca: batu), ibo (dibaca: ibu), dan “dato” (dibaca: datu).

Demikianlah beberapa kesamaan dan perbedaan kosakata dalam bahasa Tagalog dan bahasa Indonesia yang berkaitan dengan kesamaan dalam tulisan, pelafalan dan makna dan perbedaan kosakata secara umum. Bahkan adapula kosakata bahasa Tagalog yang yang tulisannya berbeda namun sepintas kita menyangka maknanya sama dalam bahasa Indonesia, namun dalam bahasa Tagalog sendiri maknanya memang berbeda, seperti kata “tahanan” dan “hukuman”, dalam bahasa Tagalog, “tahanan” bermakna rumah, sedangkan “hukuman” bemakna pengadilan..

Oleh karena itu banyaknya kesamaan dan kemiripan kosakata bahasa Indonesia dengan bahasa Tagalog tentunya akan memberikan kemudahan bagi para penutur asli bahasa Indonesia untuk mempelajari bahasa Tagalog, begitupula sebaliknya.


  • 0

SEKILAS TENTANG BAHASA ARAB FUSHA (Formal) DAN AMIYAH (Informal)

Category : Bahasa Arab

Dedi Supriyanto, M.Pd.
Widyaiswara Bahasa Arab
PPPPTK Bahasa

Bahasa Arab termasuk bahasa yang banyak digunakan oleh masyarakat di dunia. Banyak pendapat tentang sejarah permulaan munculnya bahasa Arab, pendapat yang paling klasik menyebutkan bahwa bahasa Arab sudah ada sejak zaman Nabi Adam as, dasar dari pendapat ini adalah firman Allah swt. dalam Alquran yakni surah Al-Baqarah ayat 31 yang artinya, “Allah telah mengajarkan Adam pengetahuan tentang segala nama”.

Dalil inilah yang digunakan oleh mereka yang berpendapat bahwa nama-nama benda dan berbagai macam hal atau sifat di dunia ini telah diajarkan oleh Allah kepada Nabi Adam as dengan menggunakan bahasa Arab.

Dalam bahasa Arab dikenal adanya bahasa Arab Fusha (formal/resmi) dan bahasa Arab Amiyah (informal/nonformal/pasaran). Menurut Emil Badi’ Ya’qub, bahasa Arab fusha adalah bahasa yang digunakan dalam Alquran, situasi-situasi resmi, penggubahan puisi, penulisan prosa dan juga ungkapan-ungkapan pemikiran (tulisan-tulisan ilmiah). Bahasa Arab Fusha juga menjadi bahasa pemersatu dan bahasa yang dapat menyelesaikan perselisihan antara bangsa-bangsa Arab karena bahasa ini mempunyai bentuk yang sama di dunia Arab. Bahkan siapapun yang berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Arab Fusha maka mereka akan saling memahami maksud yang disampaikan walaupun orang-orang tersebut berasal dari latar belakang negara yang berbeda. Dengan bahasa Arab ini orang-orang dapat memahami dan berkomunikasi dengan lancar apabila bahasa yang digunakan adalah bahasa Arab Fusha yang sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu nahwu (tata bahasa), sharf (pembentukan kata) dan balaghah (nilai seni bahasa). Bahasa Arab Fusha digambarkan sebagai bahasa Arab yang digunakan masyarakat pada zaman Rasulullah saw. Kini bahasa Arab Fushah sudah menjadi  bahasa internasional yang diresmikan pada 18 Desember 1982 oleh UNESCO (United Nation Education,Scientific and Cultural Organization). Kemudian penetapan tanggal tersebut dijadikan sebagai hari bahasa Arab sedunia. Oleh karena itu bahasa Arab Fusha ragam standar inilah yang kemudian digunakan di negara-negara Arab dan mayoritas kaum muslimin  di seluruh dunia. Secara umum bahasa ini dapat diklasifikasikan dalam dua tingkatan, yaitu bahasa Arab klasik (classical Arabic) yang digunakan dalam bahasa Alquran dan bahasa Arab standar modern (modern standard Arabic) yang digunakan dalam bahasa ilmiah.

Adapun bahasa Arab Amiyah adalah bahasa yang sering digunakan dalam aktivitas sehari hari yang berbentuk informal atau nonformal. Bahasa ini lebih sering disebut dengan bahasa pasaran. Menurut Emil Badi’ Ya’qub, bahasa Amiyah – dikenal juga dengan al-lahjah – adalah bahasa yang digunakan dalam urusan biasa (tidak resmi) dan yang diterapkan dalam keseharian (bahasa gaul). Bahasa Arab Amiyah tidak dapat dilepaskan dari bahasa Arab Fusha, selain itu bahasa Arab ini pun tidak sepenuhnya sesuai dengan kaidah atau tata bahasa arab yang resmi. Bahasa Arab Amiyah di setiap negara juga mempunyai berbagai versi sesuai dengan negara dan daerah yang menggunakan bahasa tersebut, sehingga kita dapat menjumpai ada bahasa Amiyah Saudi Arabia, bahasa Amiyah Sudan, bahasa Amiyah Tunisa, bahasa Amiyah Mesir dan sebagainya. Bahasa ini tidak lain adalah bahasa yang hidup di negara dan daerah tersebut serta digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Adapun istilah-istilah lain yang sering digunakan oleh para ahli bahasa untuk menyebut jenis bahasa Amiyah ini adalah as-Saykal al-Lughawi ad-Daraj, al-Lahjah as-Sya-i’ahal-Lughah al-Muhakkiyah, al-Lughah al-’Arabiyah al-’Amiyah, al-Lahjah ad-Darajah, al-Lahjah al-’Amiyah, al-Lughah ad-Darajah, al-Kalam ad-Daraj, al-Kalam al-’Amiy, dan ada pula yang menyebutnya dengan istilah lughatusy Sya’b.

Perbedaan mendasar antara Fusha dan Amiyah terdapat pada kepatuhan terhadap kaidah-kaidah kebahasaan. Bahasa Arab Fusha sangat memperhatikan kaidah-kaidah nahwu dan sharf, sedangkan bahasa Arab Amiyah tidak memperhatikan hal tersebut. Oleh karena itu penggunaan bahasa Arab Fusha dan Amiyah digunakan dalam forum yang berbeda pula. Perbedaan lainnya di antara bahasa Arab Fusha dan Amiyah adalah dari segi pengucapan dan logat. Tidak jarang bahasa Amiyah ini masih sering muncul ketika penutur asli berkomunikasi menggunakan bahasa Arab Fusha karena memang adanya kebiasaan penggunaan bahasa Amiyah dalam keseharian dan adanya kedekatan/kemiripan bahasa Amiyah dengan bahasa Fusha. Berikut ini contoh beberapa ungkapan bahasa Arab Fusha dan bahasa Arab Amiyah yang digunakan di negara Saudi Arabia dan Mesir. Untuk bertanya “Siapa namamu?” maka dalam bahasa Arab Fusha digunakan ungkapan “Maa Ismuk?”, adapun dalam bahasa Arab Amiyah Mesir digunakan ungkapan “Ismuka eyh?”, sedangkan di Saudi Arabia digunakan ungkapan “Iysy ismak?”. Contoh lainnya untuk bertanya “Di mana Anda tinggal?”, maka dalam bahasa Arab Fusha digunakan ungkapan ”Ayna taskun?”, adapun dalam bahasa Arab Amiyah Mesir digunakan ungkapan “Saakin fein?”, sedangkan di Saudi Arabia digunakan ungkapan “Wein saakin?”. Penulis mengambil contoh ungkapan bahasa Arab Amiyah Saudi Arabia dan Mesir karena umumnya bahasa ini mendominasi pasaran pergaulan orang Arab dan bahasa Amiyah ini lebih mudah dipahami oleh sebagian besar masyarakat di negara Arab tanpa menafikkan bahasa Amiyah negara Arab lainnya.

Dengan demikian tulisan singkat ini diharapkan dapat secara umum mengenalkan dan menggambarkan bahasa Arab Fusha dan Amiyah yang hidup di tengah masyarakat Arab. Sehingga kita tidak kaget bila menjumpai orang-orang Arab berkomunikasi menggunakan bahasa Arab yang mungkin “agak aneh” atau “berbeda” dengan bahasa Arab Fusha yang pernah kita pelajari, padahal sebenarnya mereka sedang berkomunikasi menggunakan bahasa Arab Amiyah (informal/pasaran).


  • 0

LAPORAN DIKLAT GURU HEBAT BAHASA ARAB SMA/SMK DI MEDAN

Category : Bahasa Arab

Dedi Supriyanto, M.Pd.
Widyaiswara PPPPTK Bahasa
PPPPTK Bahasa

Pada pertengahan bulan Februari 2018 PPPPTK Bahasa sudah bergerak dan memulai kegiatan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) berkaitan dengan peningkatan kompetensi guru bahasa. Salah satu kegiatan tupoksi yang pertama kali diselenggarakan di awal tahun 2018 ini adalah kegiatan Diklat Guru Hebat Bahasa Arab SMA/SMK. Diklat ini dilaksanakan di Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini (BP PAUDNI) Regional I, Jalan Kenanga Raya No. 64, Tanjung Sari, Medan, Sumatra Utara.

Diklat tingkat nasional ini diselenggarakan pada tanggal 19-25 Februari 2018 dan diikuti oleh 30 peserta yang merupakan guru bahasa Arab SMA/SMK dari 6 provinsi di Indonesia. Mereka berasal dari Sumatra Utara (9 guru), Sumatra Barat (12 guru), Aceh (4 guru), Lampung (2 guru), Jambi (2 guru), dan Bangka Belitung (1 guru). Berikut ini nama lengkap para peserta dan asal instansi mereka.

NAMA PESERTA DIKLAT GURU HEBAT BAHASA ARAB

JENJANG SMA/SMK REGION BARAT

19 s.d. 25 FEBRUARI 2018

DI BP-PAUDNI REGIONAL 1 SUMATRA UTARA

No. Nama Instansi Kabupaten/Kota Provinsi
Zulkifli,  S.Ag. SMAN Ubin Kab. Bener Meriah Aceh
Agus Salim, S.Fil.I. SMAN 2 Bukit Kab. Bener Meriah Aceh
3. Subhan, S.Pd.I, M.A. SMAN 1 Delima Kab. Pidie Aceh
Khairul Hadi, S.Pd.I., M.Ed. SMAN Unggul Pidie Jaya Kab. Pidie Jaya Aceh
5. Johan, S.Ag. SMAN 1 Pangkalanbaru Kab. Bangka Tengah Bangka Belitung
6. Makmur, S. Ag. SMAN 7 Muaro Jambi Kab. Muaro Jambi Jambi
7. Redatul Rus’a, S.Pd.I. SMAN 6 Tebo Kab. Tebo Jambi
8. Ukhtia Sari, S.Pd.I. SMAN 12 Bandar Lampung Kota Bandar Lampung Lampung
Ari Budiningsih, S.S. SMAN 10 Bandar Lampung Kota Bandar Lampung Lampung
Asrida, S.Pd.I. SMAN 1 Timpeh Kab. Dhamasraya Sumatra Barat
11. Dafitra, S.Pd.I. SMA YDB Lubuk Alung Kab. Padang Pariaman Sumatra Barat
12. Ria Oktavianita, S.Hum. SMAN 1 Sutera Kab. Pesisir Selatan Sumatra Barat
13. Junita Astuti,S.Pd.I. SMAN 1 Linggo Sari Baganti Kab. Pesisir Selatan Sumatra Barat
14. Mar arif, S.Pd.I. SMAN 4 Sijunjung Kab. Sijunjung Sumatra Barat
15. Reni Handayani, S.Pd I. SMAN 2 Solok Selatan Kab. Solok Selatan Sumatra Barat
16. Dedi Sardianto, M.A. SMAN 5 Solok Selatan Kab. Solok Selatan Sumatra Barat
17. Ben Indones, S.Pd.I. SMAN 1 Solok  Selatan Kab. Solok Selatan Sumatra Barat
18. Awalul Fajri,M.A. SMA 1 Pariangan Kab. Tanah Datar Sumatra Barat
19. Kardinal, S.Pd.I, M.A. SMAN 5 Padang Kota Padang Sumatra Barat
20. Novaliza Muchlis, S.S., S.Pd.I. SMA Muhammadiyah 2 Kota Padang Sumatra Barat
21. Zulpahmi, S.Pd.I. SMA Islam Raudhatul Jannah Kota Payahkumbuh Sumatra Barat
22. Dra. Jamilah SMAN 1 Kualuh Selatan Kab. Labuhanbatu Sumatra Utara
23. H. Akhmad Shabri, Lc. SMA Darussa’adah Kab. Langkat Sumatra Utara
24. Sobirin SMAN 1 Hinai Kab. Langkat Sumatra Utara
25. Muhammad Alfi Syahrin SMA Muhammadiyah 4 Babalan Kab. Langkat Sumatra Utara
26. Nuraini Muhammad, S.Pd.I. SMA Negeri 1 Brandan Barat Kab. Langkat Sumatra Utara
27. Khairul Amin Aulia, S.Pd.I. SMA Negeri 1 Sei Lepan Kab. Langkat Sumatra Utara
28. Riadul Muslim Hasibuan, M.Pd.I. SMAN 1 Hutaraja Tinggi Kab. Padang Lawas Sumatra Utara
29. Bulan Siregar, S.Pd.I. SMAN 5 Padangsidimpuan Kota Padang Sidempuan Sumatra Utara
30. H. Zul Kawahpi Nunut Pasi, Lc. SMA Swasta Pertiwi Medan Kota Medan Sumatra Utara

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala PPPPTK Bahasa, Dr. Hj. Luizah F. Saidi, M.Pd. didampingi oleh Kepala Seksi Data dan Informasi, Bapak Joko Sukaton, S,Pd. Diklat yang berpola 60 jam pelajaran (JP) ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru bahasa Arab SMA/SMK dalam bidang literasi, penguatan karakter dan penilaian. Khusus untuk materi penilaian peserta mendapatkan materi yang berkaitan dengan penyusunan kisi-kisi soal, penyusunan butir soal, analisis butir soal, dan pedoman penskoran. Hal ini juga untuk mempersiapkan dan membekali mereka dalam membuat soal terstandar menghadapi Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) dan ujian sekolah lainnya.

Fasilitator atau narasumber dalam diklat ini adalah widyaiswara dari PPPPTK Bahasa yakni Ibu Vera Aulia Lesmana dan Bapak Dedi Supriyanto. Adapun panitia yang telah banyak membantu adalah Bapak Yusup Nurhidayat dan Ibu Ima Rosyidah dari PPPPTK Bahasa juga dibantu oleh Bapak Dani dari BP PAUDNI Medan.

Semoga semua kegiatan tupoksi lainnya di PPPPTK Bahasa dapat berjalan dengan baik dan lancar, termasuk kegiatan Diklat Guru Hebat Bahasa Arab SMA/SMK yang akan dilaksanakan di LPMP NTB pada tanggal 19-26 Februari 2018 dan di BP PAUDNI, Makassar pada tanggal 11-15 Maret 2018. Salam sukses!


  • 0

KEHIDUPAN MASYARAKAT MESIR Pengalaman Lintas Budaya

Category : Bahasa Arab , Uncategorized

Dedi Supriyanto, M.Pd.
Widyaiswara PPPPTK Bahasa
PPPPTK Bahasa

Bila kita ita berkunjung ke Mesir, selain kita dapat belajar dan mempraktikkan bahasa Arab, tentunya kita juga dapat mengenal lebih dekat budaya masyarakat negeri Piramida ini. Ada beberapa pengalaman empiris yang dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat Indonesia yang ingin berkunjung ke sana. Berikut ini beberapa pengalaman empiris yang terjadi pada penulis selama berada di Mesir. Pengalaman yang menyenangkan, haru, sedih maupun menegangkan.

  1. Menyapa dan menanyakan asal

Secara umum masyarakat Mesir sangat tertarik dan ramah dengan orang asing, termasuk orang asing dari daerah Asia. Di beberapa wilayah yang jarang orang asingnya sepeti di Ismailia (2,5 jam dari Cairo), banyak orang Mesir yang baru pertama kali meilihat penulis kemudian tersenyum lalu menyapa. Bahkan tidak jarang beberapa anak kecil memandang sambil mengikuti penulis lalu penulis pun menyapa dengan bahasa mereka.

Umumnya mereka menyapa dengan bahasa Mandarin yaitu  “Ni haoma?” (“Apa kabar?”), kemudian pengajar menjawab dengan “Ni hao” (kabar baik”) sambil menjelaskan bahwa kami dari Indonesia dan kami beragama Islam, lalu kami menyapa mereka dengan salam “Assalamu’alaikum” dan kemudian mereka tersenyum dan menjawab salam kami. Mereka kadang kaget juga ternyata penulis juga bisa berbahasa Arab.

Adapula di antara mereka yang menanyakan asal penulis dengan bertanya, “Min Shiin?” (“Dari Cina?”),  “Min Yaban?” (“Dari Jepang?”), “Min Malaysia?” (“Dari Malaysia?”), “Min Korea?” (Dari Korea?”), “Min Filipina?” (“Dari Filipna?”). Tentunya kami langsung menjawab “Kami dari Indonesia” atau “Indonesia”. Kemudian mereka menjawab “Oh min Indonesia” (“Oh, dari Indonesia?”), kemudian rata-rata mereka langsung menjawab “Ahsanunnas!” (“sebaik-baik manusia!”). Namun uniknya dari sekian pertanyaan tentang asal jarang sekali yang menanyakan langsung kepada penulis dengan pertanyaan “Min Indonesia?” (“Dari Indonesia?” atau “Anda dari Indonesia?”). Jadi kebanyakan mereka – yang tinggal jauh dari ibu kota Cairo – menebak kita orang Asia dan umumnya bagi mereka Asia itu adalah Cina. Sudah tentu mereka mudah menebak kita orang Asia atau orang Cina karena penampilan fisik kita tidak seperti mereka (orang Arab).

  1. Keinginan warga untuk foto bersama

Banyak pula warga Mesir yang meminta foto bersama penulis, terutama di tempat wisata atau kendaraan umum saat baru pertama kali berjumpa dengan mereka. Mereka meminta dan mengajak penulis untuk swafoto sebagai kenang-kenangan yang indah karena bisa bertemu dangan orang asing yang secara fisik tentunya berbeda dengan mereka. Hal ini membuat penulis tersenyum-senyum, bangga dan bahagia karena merasa diri seperti orang atau artis terkenal yang disanjung dan dipuja-puja.

  1. Sempat dilarang masuk masjid

Pernah suatu kali, saat penulis bersama bersama seorang kawan asal Indonesia ingin masuk masjid dan menunaikan shalat ashar, tiba-tiba dari dalam masjid muncul seorang bapak tua yang melarang kami masuk masjid. Beliau melarang masuk dan meminta kami untuk keluar. Padahal kami belum sempat berkata apa-apa dan baru berdiri di depan pintu masjid. Awalnya kami mengira bahwa masjid ingin ditutup karena sudah tidak ada jama’ah lagi. Untungnya dari dalam masjid juga muncul seorang polisi yang baru saja shalat ashar dan kemudian mengatakan kepada bapak tua tadi bahwa kami berdua ini datang ke masjid karena ingin shalat. Kami pun juga segera menjelaskan kepada bapak tua pengurus masjid tadi bahwa kami muslim dan ingin shalat di dalam masjid. Saat bapak tua tadi tahu bahwa kami muslim dan ingin shalat maghrib lalu dia tersenyum ramah, meminta maaf dan mempersilakan kami untuk shalat. Beliau menunggu kami shalat, bahkan selesai shalat kami diberi hidangan minuman dan kurma oleh beliau. Lalu beliau menanyakan asal kami. Setelah tahu kami dari Indonesia beliau mengatakan “ahsanunnas!” (“sebaik-baik manusia” atau ”orang Indonesia adalah orang-orang yang baik”).

  1. Menjamu tamu dengan banyak makanan

Bila kita bertamu atau diundang makan oleh keluarga atau sahabat dari Mesir maka kosongkan perut atau bersiap-siaplah untuk lapar sebelumnya, karena biasanya mereka menjamu dan menghidangkan makanan untuk tamu dalam porsi besar dan beraneka ragam jenis masakan. Penulis merasa senang namun juga tidak enak bila tidak menghabiskan makanan yang disediakan, karena memang sudah kenyang atau kadang rasa makanan belum sesuai dengan lidah penulis. Bahkan ketika makanan kita hampir habis pun mereka meminta dan bahkan menambahkan ke dalam piring yang sedang kita gunakan, bagi mereka ini suatu penghormatan menjamu tamu. Namun demikian bagi penulis ini adalah suatu latihan alami untuk bisa beradaptasi dengan keluarga dan juga makanan khas Mesir yang beraneka ragam bentuk dan rasanya.

  1. Mujamalah (basa-basi)

Mujamalah adalah ungkapan basa basi. Di antara contoh mujamalah adalah saat kita melakukan transaksi jual beli. Di saat kita membeli barang, sering penjual menolak bayaran kita sambil tersenyum, menggoyangkan tangannya – tanda kita tidak perlu membayar – dan mengatakan “kholi” yang artinya gratis tak perlu membayar. Hal ini sebenarnya hanyalah basa-basi. Ketika kita mengetahui budaya ini maka sudah sewajarnya kita membayar sesuai harga yang telah tertera atau disepakati. Hal ini leih menambah kakraban dan persaudaran manakala penjual berbasa basi dengan mengatakan barang tersebut gratis kemudian kita membayarnya sesuai ketentuan. Artinya kita sama-sama saling diuntungkan karena kita bisa saling menghargai dan menghormati dalam urusan bermasyarakat.

  1. Penggunaan ungkapan “Bukhrah” (Besok/nanti)

Terkadang ada orang Mesir menjanjikan sesuatu kemudian mengatakan “bukhroh”, yang artinya besok/nanti. Kita harus lebih berhati-hati karena belum tentu “bukhroh” di sini artinya besok atau selang satu hari dari hari ini. Misal dalam pengurusan visa, kita  bertanya kepada petugas di sana dengan mengatakan “Imta aljawaz maugud? (Kapan selesai pengurusan paspor/visa?”), apabila petugas menjawab dengan ungkapan “bukhroh” (besok/nanti) maka waspadalah, apalagi bila mereka mengatakan “ba’da bukhroh” (setelah besok), bisa jadi artinya waktu penyelesaian visa semakin tidak jelas kapan akan selesai. Oleh karena itu “bukhroh” ini maksundya ungkapan tentang waktu yang tidak pasti atau belum pasti waktunya entah kapan. Maka tak jarang masyarakat Indonesia yang tinggal di Mesir sering mengingatkan rekan-rekannya sambil bergurau dengan mengatakan, “Hati-hati loh dibukhrohin orang Mesir.” atau “Nggak mau ah dibukhrohin, capek, tidak jelas.”

  1. Penggunaan ungkapan “Quraib” (Dekat)

Bila kita sedang berjalan kaki lalu bertanya kepada orang Mesir, “Ayna Jami’ah Al-Azhar?” (“Di mana kampus Al-Azhar?”), kemudian orang itu menjawab, “quraib!” (dekat!), maka kita jangan langsung memperkirakan dan menyangka bahwa kampus Al-Azhar memang sudah dekat, bisa jadi kampus itu masih jauh. Karena menurut mereka bisa jadi jarak kampus tersebut dari tempat kita bertanya memang dekat namun bagi kita sebenarnya masih jauh bahkan sangat jauh dari kampus Al-Azhar, misalnya masih 5-10 km berjalan kaki atau sekitar 45 menit.

  1. Aktivitas perdagangan umumnya ramai di sore atau malam hari

Masyarakat Mesir pada umumnya memulai aktivitas perdagangan pada waktu siang atau sore hari, kira-kira pukul 13.00 hingga tengah malam atau dini hari. Hal ini perlu kita ketahui agar ketika kita membutuhkan sesuatu kita tahu kapan waktu yang tepat untuk pergi ke tempat perniagaan, warung atau toko. Namun demikian untuk aktivitas perkantoran dan perkuliahan umumnya tetap dimulai sejak pagi hingga siang atau sore hari.

Demikianlah pengalaman empiris penulis selama berada di Mesir ketika berinteraksi langsung dengan masyarakat di sana. Pengalaman berharga ini tentunya dapat memperkaya khazanah pengetahuan dan wawasan kita tentang budaya dan tradisi mayarakat setempat yang tentunya ada perbedaan dengan budaya dan kebiasaan masyarakat kita. Dengan demikian kita bisa lebih menghormati dan menghargai perbedaan budaya yang ada dengan tetap memperhatikan kebiasaaan masyarakat di sana dan menjunjung tinggi rasa persaudaraan.


  • 0

KOSAKATA BARU DALAM BAHASA INDONESIA DAN CONTOH PENGGUNAANNYA DALAM KALIMAT

Category : Bahasa Arab

Penulis :

Dedi Supriyanto
Widyaiswara Bahasa Arab
PPPPTK Bahasa

Kosakata baru dalam bahasa Indonesia kini banyak bermunculan seiring perkembangan bahasa Indonesia dan penggunaannya yang semakin meluas, tidak hanya di dalam negeri namun juga di luar negeri. Banyak pemelajar bahasa Indonesia di luar negeri yang bersemangat mempelajari dan mempraktikkan bahasa Indonesia, bahkan dengan senang hati mereka mencoba menggunakan kosakata baru tersebut untuk berkomunikasi.

Sebagai penutur asli bahasa pemersatu bangsa Indonesia ini maka sudah sewajarnya kita harus mengetahui, memahami dan juga mepraktikkan beberapa kosakata baru yang telah hadir dan memperkaya perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia yang kita cintai ini.

Berikut ini beberapa contoh kosakata baru – yang mungkin masih asing – bagi kita namun sebenarnya sudah resmi digunakan dan pemakaiannya pun juga sudah cukup meluas. Hal ini tidak lepas dari peran Badan Bahasa di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dalam meneliti, mengkaji, menghasilkan dan mempromosikan penggunaan kosakata baru bahasa Indonesia serta kemudian memasyarakatkannya melalui berbagai sarana, antar lain melalui Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V tahun 2016. Beberapa kosakata baru yang kini beredar sebagian besar diambil dari bahasa asing dan juga bahasa daerah kita.

Dalam artikel ini, penulis juga memberikan contoh penggunaan kosakata baru tersebut dalam beberapa kalimat sehingga diharapkan pembaca dapat memahami dan menggunakannya dalam komunikasi sehari-hari baik secara lisan maupun tulisan.

  1. Posel atau surel

Posel merupakan akronim dari pos elektronik sedangkan surel adalah akronim dari surat elektronik. Kedua kata ini dapat digunakan untuk menggantikan kata email  (electronic mail) yang biasanya masih banyak digunakan dalam berkomunikasi. Contoh kalimat: Saya ingin membuka posel/surel pagi ini.

  1. Fail

Fail bermakna dokumen atau berkas. Kata ini digunakan untuk menggantikan kata file yang juga terkadang masih digunakan masyarakat kita dalam berkomunikasi. Contoh kalimat: Anda dapat menyimpan fail ini di dalam folder tersendiri.

  1. Gawai

Gawai bermakna kerja/pekerjaan. Arti kata lainnya adalah peranti elektronik. Kata gawai ini dapat digunakan untuk menggantikan kata gadget. Ada pula arti lain dari kata gawai, yakni perkakas/alat. Beberapa alat elektronik seperti laptop, tablet, dan komputer juga dapat dikatakan sebagai gawai. Saat ini, media cetak juga mulai menggunakan kata gawai untuk menggantikan kata gadget. Contoh kalimat: Saya menggunakan gawai untuk berkomunikasi dengan pelanggan baru.

  1. Ponsel

Ponsel merupakan akronim dari telepon seluler. Kata ini dapat menggantikan kata handpohone yang umumnya masih sering digunakan oleh masyarakat kita ketika berkomuniaksi dalam bahasa Indonesia. Contoh kalimat: Nomor ponsel saya yang baru adalah 081284038730.

  1. Protofon

Protofon adalah radio-telepon jalan. Kata ini bisa digunakan untuk menggantikan kata Handy Talkie (HT). Contoh kalimat: Petugas itu menggunakan protofon untuk menghubungi rekannya di tempat lain.

  1. Laman

Laman merupakan halaman utama dari suatu web yang diakses oleh pengguna pada awal masuk ke situs tersebut. Kata laman dapat kita gunakan untuk mengganti kata home page. Seiring perjalanan waktu kata laman juga mengalami perluasan makna, tidak hanya untuk halaman depan dari suatu situs/web tapi juga digunakan menyangkut konten sebuah situs atau web. Oleh karena itu ada yang menggunakan kata laman secara umum sebagai pengganti dari istilah website. Contoh kalimat: Mulai hari ini kantor kami memiliki laman baru dan silakan kunjungi www.sinarmataharipagi66.com.

  1. Daring dan Luring

Kata daring merupakan akronim dari “dalam jaringan” dan kata ini untuk menggantikan kata “online.”  Sedangkan luring adalah akronim dari “luar jaringan” dan digunakan untuk menggantikan kata “offline.” Contoh kalimat: Kami akan menghubungi Anda saat daring dan bukan pada saat Anda luring.

  1. Pranala/hipertaut
  1. Ikon

Ikon merupakan gambar atau simbol kecil pada layar komputer yang melambangkan sesuatu (program, peranti, dan sebagainya) yang diaktifkan dengan cara diklik. Arti lainnya adalah lukisan atau gambar. Kata ini dapat digunakan untuk menggantikan kata icon. Contoh kalimat: Beragam ikon dapat kita temukan di desktop ini.

  1. Tetikus

Tetikus adalah peranti periferal pada komputer yang menyerupai tikus, gunanya antara lain untuk mengendalikan kursor saat menggunakan komputer atau laptop. Kata ini dapat digunakan untuk menggantikan kata mouse. Contoh kalimat: Saya selalu menggunakan tetikus saat bekerja menggunakan laptop.    .

  1. Swafoto

Swafoto berarti potret diri yang diambil sendiri dengan menggunakan ponsel atau kamera digital, biasanya untuk diunggah ke media sosial. Kata ini digunakan untuk menggantikan kata selfie. Contoh kalimat: Sebagian besar kawan di kantor kami tidak suka swafoto.

  1. Saltik

Kata saltik merupakan akronim dari salah tik, digunakan untuk menggantikan kata typo. Contoh kalimat: Beberapa kali dia melakukan saltik saat menullis pesan untuk saya.

  1. Pratayang

Dalam bidang komputer kata ini bermakna tinjauan pendahuluan, dalam bidang umum dan perfilman bermakna penayangan sesuatu, terutama film, drama, dan sebagainya kepada orang tertentu sebelum masyarakat umum menontonnya. Kata ini digunakan untuk menggantikan kata preview. Contoh kalimat: Pembicara itu menjelaskan pratayang sebelum menyampaikan paparan lebih mendalam.

  1. Salin dan tempel

Salin dan tempel adalah proses menyalin data  dari suatu sumber, meninggalkan sumber data tidak berubah, dan menulis data yang sama di tempat lain. Salin tempel digunakan untuk mengganti frasa copy paste yang kadang masih sering digunakan dalam komunikasi bahasa Indonesia. Contoh kalimat: Saya sudah menemukan menu salin dan tempel dalam program ini

  1. Pindai

Kata pindai dapat diartikan mengopi atau menyalin gambar atau teks ke dalam komputer dalam bentuk digital. Kata ini dapat digunakan untuk mengganti kata scan. Contoh kalimat: Semua calon mahasiswa sudah memindai ijazah asli mereka.

  1. Peladen

Peladen bermakna orang yang meladeni (pelayan), pengantar naskah khusus ke ruang redaksi, dan juga bermakna komputer dalam jaringan yang berfungsi sebagai penyedia layanan ke komputer lain. Kata ini digunakan untuk menggantikan kata server. Contoh kalimat: Pak Amir memiliki banyak cara untuk memutakhirkan peladen di kantor kami.

  1. Derau

Derau bermakna tiruan bunyi gemuruh hujan dibawa angin. Arti lainnya adalah bunyi, getaran atau isyarat (sinyal) yang tidak diinginkan atau gangguan yang terjadi dalam sistem transmisi telekomunikasi yang memengaruhi kualitas informasi. Kata ini dapat digunakan untuk menggantikan kata noise. Contoh kalimat: Adanya derau membuat informasi yang diterima menjadi tidak jelas.

  1. Narahubung

Narahubung adalah orang yang bertugas sebagai penghubung dan penyedia informasi untuk pihak luar, biasanya dalam kegiatan seminar, diklat, konferensi, dan sebagainya. Kata ini digunakn untuk mengganti kata contac person. Contoh kalimat: Semua peserta dapat berkomunikasi dengan narahubung kegiatan diklat ini setiap saat.

  1. Pelantang

Pelantang adalah alat untuk melantangkan suara. Kata ini digunakan untuk menggantikan kata microphone. Contoh kalimat: Beliau seharusnya menggunakan pelantang agar suaranya lebih jelas dan terdengar.

  1. Pewara

Pewara adalah pembawa acara dalam suatu upacara, kegiatan, pertemuan, dan sebagainya. Kata ini digunakan untuk menggantikan kata MC (Master Ceremony). Contoh kalimat: Pewara acara dalam kegiatan ini adalah Ibu Sinta Dwi Trikora, M.Pd.

  1. Pramusiwi

Pramusiwi adalah wanita yang bekerja pada suatu keluarga dengan tugas merawat bayi atau anak-anak kecil keluarga yang bersangkutan. Kata lain untuk pramusiwi adalah pengasuh anak. Kata ini bisa digunakan untuk menggantikan kata babby sitter. Contoh kalimat: Pramusiwi baru di rumah kami bernama Khadijah.

  1. Perundungan

Perundungan adalah proses, cara dan perbuatan merundung atau perlakuan yang bisa membuat orang lain merundung/tersakiti/teraniaya. Kata ini dapat digunakan untuk menggantikan kata Bully. Contoh kalimat:  Anak itu selalu mendapat perundungan di lingkungan rumahnya.

Demikianlah beberapa contoh kosakata baru dan penggunaannya dalam bahasa Indonesia, semoga kita terbiasa menggunakan kosakata baru tersebut seraya mengurangi atau meminimalkan penggunaan kosakata yang berasal dari bahasa asing ketika kita berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Mari kita ingat slogan “Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing.” Jayalah bahasa Indonesia!