Category Archives: Artikel Kebahasaan

  • 0

LEKSIKOGRAFI ZAMAN NOW SELAYANG PANDANG

Category : Artikel Kebahasaan

Leksikografi, sesuai batasan KBBI daring edisi V adalah (a) cabang ilmu bahasa mengenai teknik penyusunan kamus dan (b) perihal penyusunan kamus. Singkatnya, leksikografi mengecimpungi perkamusan. KBBI cetak edisi IV (2008: 614-615) memberi batasan kamus sebagai (a) buku acuan yang memuat kata dan ungkapan, biasanya disusun menurut abjad berikut keterangan tentang makna, pemakaian, atau terjemahannya; dan (b) buku yang memuat kumpulan istilah atau nama yang disusun menurut abjad beserta penjelasan tentang makna dan pemakaiannya. Berbincang mengenai leksikografi tentu tidak dapat berlepas diri dari dinamika perkembangan teknologi. Betapa tidak, seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi, perkamusan pun menyesuaikan perkembangan teknologi itu hingga mengejawantah dalam format digital, yakni kamus elektronik atau kamus digital. Kamus pun tidak sekadar berbasis kertas (manual), tetapi juga berbasis elektronik (e-dictionary). Oleh karena itu,  batasan kamus sesuai KBBI daring dan cetak pun tentu seyogianya menyesuaikan.

Sebagian pekamus digital tentu beranggapan bahwa kamus digital lebih baik daripada kamus manual. Tidak dapat dimungkiri, secara fisik, kamus digital memang lebih bergerak (mobile) dan praktis daripada kamus kertas, karena dari dimensi multimedia kamus digital menyajikan pelafalan secara auditoris dan terhubung dengan konten laman. Kamus digital boleh dikatakan sudah banyak digunakan oleh mayoritas anggota masyarakat perkotaan dalam berbagai platform, yakni komputer meja (desk-top), tablet, dan telepon pintar. Selain kelebihan yang dimiliki kamus digital, ia memiliki kelemahan. Dari sisi pengguna misalnya, dalam konteks keindonesaan utamanya di wilayah terluar (outermost), terpencil (remote),  dan tertinggal (disadvantaged); tidak setiap pengguna memiliki kemudahan akses dan jaringan internet, mengingat keterbatasan penetrasi untuk menjangkau wilayah itu. Dalam kerangka ini, kamus manual-cetak (paper-based) sejatinya dapat menggantikan kamus digital. Satu hal penting lagi yang perlu dinyatakan adalah bahwa baik kamus digital maupun kamus cetak sifatnya saling melengkapi. Bagi pemanfaat yang beruntung karena kemudahan memiliki kamus cetak dan kamus digital, ia dapat membandingkan antara keduanya. KBBI daring edisi V dan KBBI cetak dapat dijadikan contoh betapa KBBI cetak menyajikan konfigurasi deskripsi kata yang lebih lengkap daripada KBBI daring. Baik KBBI versi daring maupun luring pun belum menyertakan traskripsi fonetis secara auditoris. (Gunawan Widiyanto)


  • 0

PENGGUNAAN METODE EKLEKTIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ASING

Category : Artikel Kebahasaan

 M. Isnaini

Widyaiswara P4TK Bahasa

 

Konsep Dasar Metode Gabungan (Eklektik)

Metode gabungan (eclectic method) merupakan kreativitas para pengajar bahasa asing untuk mengefektifkan proses belajar mengajar bahasa asing. Metode ini juga sekaligus memberikan kebebasan kepada mereka untuk menciptakan variasi metode.

Yang dimaksud gabungan di sini bukan menggabungkan semua metode sekaligus, melainkan lebih bersifat “tambal sulam”, artinya suatu metode tertentu dipandang dapat mengetasi kekurangan metode yang lain. Walaupun setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan, namun tidak berarti semuanya dapat digabungkan sekaligus, sebab menggabungkan di sini sesuai kebutuhan atas dasar pertimbangan tujuan pembelajaran, sifat materi pembelajaran, kemampuan pelajar, bahkan kondisi guru. Yang cocok dilakukan dalam hal ini adalah memanfaatkan kelebihan metode tertentu untuk mengatasi kekuragan metode tertentu.

Berdasarkan kenyataan di atas, muncullah metode eklektik ( الطريقة الانتقائية), yang mengandung arti pemilihan dan penggabungan. Sebagaimana metode –metode lainnya, metode gabungan memiliki dasar yang dijadikan pijakannya.

Ada enam hal yang menjadi pijakan metode gabungan, yaitu:

  1. Setiap metode pengajaran bahasa asing memilki kelebihan. Kelebihan itu dapat dimanfaatkan dalam pengajaran bahasa asing.
  2. Tidak ada metode yang sempurna, dan juga tidak ada metode yang jelek, tetapi semuanya memiliki kekuatan dan kelemahan. Kekuatan metode tertentu bisa jadi dapat mengatasi kelemahan metode tertentu.
  3. Setiap metode memiliki latar belakang, karakteristik, dasar pemikiran, dan peruntukan yang berbeda, bahkan bisa jadi suatu metode muncul karena menolak metode sebelumnya. Jika metode-metode tersebut digabungkan, maka akan menjadi sebuah kolaborasi yang saling menyempurnakan.
  4. Tak ada suatu metode pun yang sesuai dengan semua tujuan, semua siswa, semua guru, dan semua program pengajaran bahasa asing.
  5. Hal yang penting dalam mengajar adalah memberi perhatian kepada para pelajar dan kebutuhannya, bukan menguasai metode tanpa didasarkan kepada pelajar dan kebutuhannya.
  6. Setiap guru bahasa asing diberi kebebasan untuk menggunakan langkah-langkah atau teknik-teknik dalam menggunakan metode pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan para pelajarnya dan sesuai dengan kemampuannya.

Langkah-langkah Penggunaan Metode Gabungan

Menggunakan metode gabungan dalam pengajaran bahasa asing adalah memanfaatkan kebaikan metode tertentu untuk mengatasi masalah kekurangan metode tertentu. Misalnya seorang guru bermaksud melatihkan kemampuan memahami teks bacaan dan kaidah gramatika, maka ia dapat mengkolaborasikan metode langsung dengan metode kaidah dan terjemah ditambah metode membaca.

Metode langsung “mengharamkan” penggunaan bahasa pelajar sehari-hari dalam pengajaran bahasa asing (sebut saja bahasa ibu dan bahasa kedua) sebagai bahasa pengantar pelajaran dan kegiatan penerjemahan ke dalam bahasa pelajar sehari-hari. Dalam pandangan metode ini penggunaan bahasa sehari-hari dan terjemahan dapat mengganggu keberhasilan, sebab tidak mendidik para pelajar untuk disiplin menggunakan bahasa asing yang dipelajari secara langsung. Padahal jika dilihat dari susut pandang yang lain larangan ini justru membuat metode ini tidak maksimal dalam mengajarkan bahas asing, sebab dalam hal-hal tertentu para pelajar bahasa asing tetap memerlukan bahasa sehari-hari atau terjemahan. Ini akan terjadi ketika diajarkan kata-kata atau kalimat yang sama sekali tidak bisa diragakan, digambarkan atau ditunjukkan ke alam nyata. Dalam hal lain metode langsung juga tidak menghiraukan kaidah gramatika, sebab menurut pandangannya analisa kaidah gramatika akan menggaggu pelajar dalam belajar bahasa asing. Padahal dalam hal-hal tertentu pelajar sangat membutuhkan analisa kaidah secukupnya. Ini juga sebuah kelemahan jika ditinjau dari sudut lain, sebab bagaimanapun yang namanya bahasa tidak terlepaskan dari kaidah gramatika, justru penggunaan kaidah ini dapat membuat bahasa menjadi tersusun rapi. Maka dapat diatasi dengan metode kaidah dan terjemah. Dalam hal lain kemampuan membaca di dalam metode langsung diberi porsi sangat sedikit, padahalkemampuan memahami bacaan juga sangat diperlukan dalam belajar bahasa asing. Maka ini bisa diatasi dengan metode membaca, dan seterusnya.

Terlihat di sini bahwa kegiatan pembelajaran akan menjadi sangat variatif, tidak terfokus pada satu kegiatan. Maka penggabungan ini diharapkan akan membuat kegiatan ini memacu motivasi para pelajar dalam belajar bahasa asing.

Seperti metode lain, langkah yang bisa digunakan untukmenggunakan metode ini fleksibel. Misalnya langkah yang dapat ditempuh oleh guru adalah sebagai berikut:

  1. Pendahuluan, sebagaimana metode lain.
  2. Memberikan materi berupa dialog-dialog pendek yang rileks, dengan tema kegiatan sehari-hari secara berulang-ulang. Materi ini mula-mula disajikan secara lisan dengan gerakan-gerakan, isyarat-isyarat, dramatisasi-dramatisasi, atau gambar-gambar.
  3. Para pelajar diarahkan untuk disiplin menyimak dialog-dialog tersebut, lalu menirukan dialog-dialog yang disajikan sampai lancer.
  4. Para pelajar dibimbing menerapkan dialog-dialog itu dengan teman-temannya secara bergantian.
  5. Setelah lancer menerapkan dialog-dialog yang telah dipelajari, mereke diberi teks bacaan yang temanya berkaitan dengan dialog-dialog tadi. Selanjutnya guru member contoh cara membaca yang baik dan benar, diikuti oleh para pelajar secara berulang-ulang.
  6. Jika terdapat kosa kata yang sulit, guru memaknainya mula-mula dengan isyarat atau gerakan, atau gambar atau yang lainnya. Jika tidak mungkin ini semua, guru menerjemahkannya ke dalam bahasa pelajar.
  7. Guru mengenalkan beberepa struktur yang penting dalam teks bacaan, lalu membahasnya seperlunya.
  8. Guru menyuruh para pelajar menelaah kembali bacaan, lalu mendiskusikan isinya.
  9. Sebagai penutup, jika diperlukan, evaluasi akhir berupa pertanyaan-pertanyaan tentang isi bacaan yang telah dibahas. Pelaksanaannya bisa saja secara individual atau kelompok, sesuai dengan situasi dan kondisi. Jika tidak memungkinkan, misalnya karena waktu, guru dapat menyajikannya berupa tugas yang harus dikerjakan di rumah masing-masing pelajar.

Kelebihan dan Kekurangan Metode Gabungan

Telah dikemukakan sebelumnya bahwa tak ada metode yang terbaik dan terburuk. Menggunakan metode apapun, khususnya dalam pengajaran bahasa asing, di dalamnya akan ada masalah yang harus diatasi. Termasuk menggunakan metode gabungan ini.

Walaupun terlihat kegiatannya lebih variatif, kemampuan para pelajar dalam menggunakan bahasa asing lebih merata, namun menggunakan metode gabungan nampaknya akan bermasalah dengan kesedian guru, siswa dan alokasi waktu.

Belum tentu semua guru sanggup melakukan serangkaian kegiatan mengajar yang begitu banyak dan bervariasi. Penggunaan metode ini nampaknya menuntut adanya guru yang segala bisa dan energik. Begitu juga dipihak pelajar. Biasanya kegiatan yang terlalu banyak malah akan menimbulkan kejenuhan belajar, apalagi jika materi dibawakan secara monoton. Waktu yang diperlukan juga relatif lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan metode yang lain, padahal umumnya alokasi waktu pelajaran bahasa Arab di sekolah-sekolah di Indonesia teratas, kecuali di sekolah-sekolah tertentu yang memberikan perhatian lebih kepada bidang studi bahasa Arab.


  • 2

Program PBPU, Penguat Sebuah Kerjasama PPPPTK Bahasa dan IFI 2018

Elvira Ratna Sari
Widyaiswara Bahasa Prancis
PPPPTK Bahasa

Jakarta – Alhamdulillah, Sebuah rangkaian pelatihan Pengajar Bahasa Prancis Unggulan (PBPU) telah berhasil dilaksanakan di tiga kota di Indonesia yaitu Manado (LPMP Manado, 12-17 Maret), Yogyakarta (LPMP Yogya, 17-24 Maret) dan Medan (PAUDNI, 30 April-5Mei). Pelatihan PBPU ini berpola 55 jam pelajaran (JP @45 menit) selama 6 hari dan menghadirkan narasumber dari kedua lembaga kerjasama yaitu Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan bidang Bahasa (PPPPTK Bahasa) dan Institut de Français en Indonésie (IFI) sebagai mitra.

Pelatihan di tiga wilayah ini dibuka oleh Kepala PPPPTK Bahasa, ibu Dr. Luizah. F. Saidi, M.Pd. dan dihadiri di Yogyakarta oleh Madame Sara Camara sebagai Direktur IFI Yogyakarta, di Medan oleh Mlle. Anne-Lise sebagai Direktur AF Medan, serta kunjungan observasi PBPU di Medan oleh pihak IFI Jakarta, Monsieur François Roland-Gosselin sebagai Atase Kerjasama Bahasa Prancis Kedutaan Prancis di Indonesia.

Program PBPU merupakan bagian dari beberapa program kerjasama yang akan dilaksanakan pada tahun 2018 ini dimana Memorandum of Understanding (MoU)-nya telah ditandatangani di awal tahun ini. Program ini bukanlah program pertama kali, program ini telah diujicobakan di akhir tahun 2017 pada bulan September (11-14) dimana programnya masih berpola 32 JP saja. Setelah melalui evaluasi penyelenggara dari kedua belah pihak dan respon langsung dari peserta saat itu, maka kedua pihak PPPPTK Bahasa dan IFI bersepakat untuk menyelenggarakannya di tahun ini di tiga tempat tersebut.

Struktur program PBPU terdiri dari delapan modul (red- M1, M2, M3, M4, M5, M6, M7, dan M8) yang mengangkat kompetensi metodologi guru bahasa Prancis dan disampaikan dengan pengantar bahasa Prancis pada umumnya. Berikut tabel modul atau materi PBPU ini:

Peserta pelatihan ini total berjumlah 75 guru bahasa Prancis (@25 orang/kelas) yang dalam proses pembelajarannya mereka diinapkan dalam asrama yang terletak masih dalam lingkungan kelas pelatihan. Sehingga mereka dapat berdiskusi untuk memahami materi-materi PBPU dan menyelesaikan tugas yang diberikan agar tepat waktu.

Hasil pelatihan PBPU ini yang berupa akumulasi dari keseluruhan materi yang dipelajari adalah Fiche Pédagogique atau Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) lengkap dari masing-masing kelompok kecil terdiri dari 3-4 guru. Pada program ini, tim akademik PBPU bersepakat memfokuskan tugas akhir peserta pelatihan ini yaitu RPP dengan jenjang kelas berbeda, antara lain: PBPU Manado – RPP kelas X, PBPU Medan – RPP kelas XI, dan PBPU Yogyakarta – RPP kelas XII. Dengan terlaksananya PBPU ini dan terkumpulnya tugas akhirnya, Peserta diharapkan dapat meningkatkan kompetensi pedagogik mereka, baik pengetahuan (metode pengajaran) maupun keterampilan mengajar. Dan dari hasil kumpulan RPP ini, penyelenggara (PPPPTK Bahasa dan IFI) akan menindaklanjutinya dalam program penyusunan Buku Ajar Unggulan (BAU) di dalam tahun yang sama, 2018, Inshaallah.


  • 0

KESAMAAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA DAN FILIPINO (TAGALOG)

Category : Artikel Kebahasaan

Dedi Supriyanto,M.Pd.
Widyaiswara Bahasa Arab
PPPPTK Bahasa

Bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu yang telah menjadi bahasa resmi dan bahasa persatuan rakyat Indonesia sejak tahun 1928, adapun bahasa Filipino atau lebih dikenal dengan bahasa Tagalog merupakan bahasa yang dipertuturkan secara luas dan sekaligus telah terpilih menjadi bahasa resmi rakyat Filipina sejak tahun 1937. Bahasa Filipino yang aslinya berasal dari bahasa Tagalog ini mungkin mirip dengan bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu.

Berdasarkan sejarah masa lalu, bahasa Filipino yang dikenal dengan bahasa Tagalog ini masih memiliki hubungan keluarga yang dekat dengan bahasa-bahasa daerah di Indonesia (Kalimantan, Sulawesi UtaraGorontalo, dan Jawa) maupun Malaysia (Sabah). Oleh karena itu bahasa Indonesia dan Tagalog ini memiliki akar yang sama yaitu berasal dari Malayo-Polynesian language family. Hal ini tentunya membuat orang Indonesia relatif lebih mudah dan cepat mempelajari bahasa Tagalog dan begitu pula sebaliknya.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan penulis selama menetap dan mengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) selama 6 bulan di Filipina, maka ditemukan adanya kesamaan dan perbedaan antara kosakata bahasa Indonesia dan bahasa Tagalog. Berikut ini penulis menyajikan beberapa kesamaan dan perbedaan kosakata bahasa Indonesia dan bahasa Tagalog, terutama dari segi penulisan kosakata, pelafalan atau pengucapan, dan maknanya..

  1. Kesamaan Bilangan/Angka

Beberapa kosakata bilangan/angka bahasa Tagalog memiliki kesamaan dalam bahasa Indonesia, diantaranya adalah bilangan/angka 5 dalam dalam bahasa Tagalog dituliskan dan dilafalkan dengan “lima”, demikian pula dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Tagalog bilangan atau angka 1 dituliskan dan dilafalkan dengan “isa”, ternyata dalam bahasa Indonesia angka 1 yang sering dilafalkan dengan “satu” juga memiliki makna “esa” yang berarti tunggal. Kemudian bilangan/angka 7 dalam bahasa Tagalog yang dilafalkan dengan “pito”, ternyata dalam bahasa Jawa juga terdapat pelafalan “pitu” yang berarti tujuh. Demikian pula dengan “walo’ dalam bahasa Tagalog, ternyata dalam bahasa Jawa juga ada pelafalan “wolu” yang berarti delapan.

  1. Kesamaan dan Kemiripan Kosakata
  1. Tulisan, pelafalan dan makna yang sama

Kosakata dalam bahasa Tagalog ada yang memiliki kesamaan dalam hal tulisan, pelafalan dan makna. Seperti kosakata “kami”, “langit”, “anak” dalam bahasa Tagalog memiliki makna yang sama dengan “kami’, ”langit”, dan “anak” dalam bahasa Indonesia.

  1. Tulisan sama, makna berbeda

Dalam bahasa Tagalog ada beberapa kosakata yang tulisan dan pelafalannya sama dengan beberapa kosakata bahasa Indonesia namun maknanya sangat berbeda. Contoh kata “mahal” dalam bahasa Tagalog, selain memiliki makna yang sama dengan “mahal” dalam bahasa Indonesia, ternyata “mahal” dalam bahasa Tagalog juga berarti “cinta/sayang”. Selain itu kata “batik” dalam bahasa Tagalog ternyata bermakna “bintik” yang tentunya jauh berbeda  maknanya dengan  “batik” dalam bahasa Indonesia yang bermakna “batik/baju batik/kain batik”.

  1. Tulisan berbeda, makna sama

Dalam bahasa Tagalog terdapat banyak sekali kata yang tulisannya berbeda dengan kosakata dalam bahasa Indonesia, namun memiliki makna yang yang sama atau relatif sama. Diantaranya adalah kata “ako” dalam bahasa Tagalog yang bermakna ”saya”, ternyata dalam bahasa Indonesia terdapat kosakata “aku” yang juga bermakna “saya” atau “aku”, demikian pula dengan kata “ikaw” dalam bahasa Tagalog yang bermakna ‘kamu”, ternyata dalam bahasa Indonesia juga ada kosakata “engkau” yang bermakna “kamu’ atau “anda”.

  • Perbedaan Kosakata Secara Umum

Secara umum perbedaan makna kosakata dalam bahasa Tagalog dan bahasa Indonesia lebih kepada penulisan dan pelafalan. Ada beberapa kosakata dalam bahasa Tagalog yang penulisannya mirip dengan bahasa Indonesia namun memiliki arti yang sama seperti kata “ako” (saya), “mukha” (muka/wajah), dan bangkay (bangkai). Selain itu dalam bahasa Tagalog juga terdapat kosakata yang penulisannya berbeda namun pelafalannya sama dengan bahasa Indonesia, seperti seperti kata “bato” (dibaca: batu), ibo (dibaca: ibu), dan “dato” (dibaca: datu).

Demikianlah beberapa kesamaan dan perbedaan kosakata dalam bahasa Tagalog dan bahasa Indonesia yang berkaitan dengan kesamaan dalam tulisan, pelafalan dan makna dan perbedaan kosakata secara umum. Bahkan adapula kosakata bahasa Tagalog yang yang tulisannya berbeda namun sepintas kita menyangka maknanya sama dalam bahasa Indonesia, namun dalam bahasa Tagalog sendiri maknanya memang berbeda, seperti kata “tahanan” dan “hukuman”, dalam bahasa Tagalog, “tahanan” bermakna rumah, sedangkan “hukuman” bemakna pengadilan..

Oleh karena itu banyaknya kesamaan dan kemiripan kosakata bahasa Indonesia dengan bahasa Tagalog tentunya akan memberikan kemudahan bagi para penutur asli bahasa Indonesia untuk mempelajari bahasa Tagalog, begitupula sebaliknya.


  • 0

Artikel Bahasa Arab

Dedi Supriyanto

Widyaiswara Bahasa Arab
PPPPTK Bahasa

Kegiatan Bahasa Arab di Nusa Tenggara Timur


  • 0

  • 0

Lagu Indonesia Raya 3 Stanza

Mendikbud Akan Buat Surat Edaran, Lagu “Indonesia Raya” Dinyanyikan 3 Stanza

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy akan menerbitkan surat edaran ke seluruh sekolah. Surat edaran tersebut meminta agar lagu Indonesia Raya dinyanyikan secara utuh, yakni 3 stanza, ketika dilaksanakan upacara. “Kemendikbud akan mengeluarkan edaran agar di sekolah menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza,” kata Muhadjir di Kemendikbud, Jakarta, Kamis (3/8/2017). Menurut Muhadjir, pada awalnya, lagu Indonesia Raya dinyanyikan 3 stanza. Kemudian, keluar Keputusan Presiden (Keppres) yang menyatakan bahwa lagu Indonesia Raya dinyanyikan 1 stanza.

“Saya tidak tahu itu kenapa bisa jadi 1 stanza. Itu memang secara resmi, saya tidak tahu keppresnya tetap masih dipertahankan 1 stanza,” kata Muhadjir. Dia menilai perbedaan antara lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan 1 stanza memiliki efek rasa semangat yang berbeda ketika dinyanyikan 3 stanza. Muhadjir menganalogikannya dengan hasil foto. “Kalau 1 stanza ibaratnya foto setengah badan. Kalau 3 stanza foto penuh,” kata Muhadjir.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Mendikbud Akan Buat Surat Edaran, Lagu “Indonesia Raya” Dinyanyikan 3 Stanza”,

Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2017/08/03/18205071/mendikbud-akan-buat-surat-edaran-lagu-indonesia-raya-dinyanyikan-3-stanza.

Penulis : Fachri Fachrudin


Lagu Indonesia Raya secara Utuh terdiri atas 3 (tiga) Bait atau 3 (tiga) stanza.

Karena kita terbiasa menyanyikan lagu kebangsaaan Indonesia Raya hanya 1 stanza, kemungkinan diantara kita banyak yang lupa atau tidak tahu stanza ke 2 dan stanza ke 3 dari lagu Indonesia Raya.

Sekedar berbagi pengetahuan (silahkan dikoreksi jika salah), berikut ini 3 (tiga) stanza lagu kebangsaan Indonesia Raya sesuai PP Nomor 44 Tahun 1958 tentang tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Berikut lyric per stanzanya :

Lagu Indonesia Raya secara Utuh terdiri atas 3 (tiga) Bait atau 3 (tiga) stanza.

Karena kita terbiasa menyanyikan lagu kebangsaaan Indonesia Raya hanya 1 stanza, kemungkinan diantara kita banyak yang lupa atau tidak tahu stanza ke 2 dan stanza ke 3 dari lagu Indonesia Raya.

Sekedar berbagi pengetahuan (silahkan dikoreksi jika salah), berikut ini 3 (tiga) stanza lagu kebangsaan Indonesia Raya sesuai PP Nomor 44 Tahun 1958 tentang tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Berikut lyric per stanzanya :

Bait / Stanza I

Indonesia tanah airku,

Tanah tumpah darahku,

Di sanalah aku berdiri,

Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku,

Bangsa dan tanah airku,

Marilah kita berseru,

Indonesia bersatu.

Hiduplah tanahku,

Hiduplah negriku,

Bangsaku, Rakyatku, semuanya,

Bangunlah jiwanya,

Bangunlah badannya,

Untuk Indonesia Raya.

Refrein

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Tanahku, neg’riku yang kucinta!

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Hiduplah Indonesia Raya.

Bait / Stanza II

Indonesia, tanah yang mulia,

Tanah kita yang kaya,

Di sanalah aku berdiri,

Untuk s’lama-lamanya.

Indonesia, tanah pusaka,

P’saka kita semuanya,

Marilah kita mendoa,

Indonesia bahagia.

Suburlah tanahnya,

Suburlah jiwanya,

Bangsanya, rakyatnya, semuanya,

Sadarlah hatinya,

Sadarlah budinya,

Untuk Indonesia Raya.

Refrein

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Tanahku, negriku yang kucinta!

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Hiduplah Indonesia Raya.

Bait / Stanza III

Indonesia, tanah yang suci,

Tanah kita yang sakti,

Di sanalah aku berdiri,

M’njaga ibu sejati.

Indonesia, tanah berseri,

Tanah yang aku sayangi,

Marilah kita berjanji,

Indonesia abadi.

Slamatlah rakyatnya,

Slamatlah putranya,

Pulaunya, lautnya, semuanya,

Majulah Negrinya,

Majulah pandunya,

Untuk Indonesia Raya.

Refrein

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Tanahku, negriku yang kucinta!

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Hiduplah Indonesia Raya.


  • 0

Mengenal Nomina dalam Bahasa Indonesia

Ririk Ratnasari

Widyaiswara Bahasa Indonesia

Nomina, dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai  Kata Benda. Nomina merupakan jenis kata yang dipergunakan untuk menujukkan kepada nama orang, nama benda atau sesuatu yang dibendakan baik yang bersifat nyata maupun abstrak. Sebagian besar perbendaharaan kata didominasi jumlahnya oleh kata benda.

Dalam sebuah kalimat bahasa Indonesia, kata benda bisa menduduki posisi sebagai subjek dan bisa pula menduduki posisi objek. Jika kata benda berlaku sebagai sesuatu yang diterangkan maka posisinya sebagai objek kalimat. Sebaliknya apabila kata benda menjadi yang menerangkan akan sesuatu maka posisinya berada sebagai subjek kalimat.

Jenis dan Penggunaan Kata Benda

Berdasarkan jenisnya kata benda dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan sbb:

  1. Kata benda konkret. Kata benda ini merujuk pada benda yang bentuknya dapat digambarkan atau dideskripsikan dengan pancaindera. Contoh: buku, pensil, sekolah, makanan, dll.
  2. Kata benda abstrak. Kata benda ini tidak dapat digambarkan atau dideskripsikan dengan pancaindera. Kata benda jenis ini biasanya dibentuk dari adanya proses afiksasi. Contohnya, kemerdekaan, kebebasan, kebahagiaan, tindakan, dan lain-lain.
  3. Kata benda kolektif. Kata benda yang mengandung arti kumpulan, koleksi, atau jumlah yang majemuk. Contohnya sekelompok manusia, hadirin, majelis, semua, dan lain-lain.
  4. Kata benda khusus. Kata benda jenis ini berkaitan dengan nama tertentu atau yang mewakili suatu entitas tertentu, penanda jenis kata benda ini diawali dengan huruf kapital, seperti nama orang (Difa, Dewi, Rudi, Desi, dll), nama negara (Indonesia, Jerman, Prancis, Arab, dll), nama tempat (Pangkal Pinang, Tanjung Layar, Selayar, Batu Mandi, dll), nama perusahaan/instansi (Garuda Indonesia, PPPPTK Bahasa, Uniliver, Google) dan sebagainya. Kata benda khusus disebut juga kata benda Nama Diri (Proper Noun).
  5. Kata benda umum (common noun). Kata benda umum disebut juga dengan kata benda nama jenis yang menjelaskan suatu kelas entitas. Contoh: salak bali, ubi jepang, kacang bogor, dll.
  6. Kata benda penjumlahan. Kata benda ini terbagi menjadi dua bagian, kata benda terhitung (buku, sepeda, kamus, lemari dan lain-lain ) dan kata benda tak terhitung (tepung, pasir, gula, garam dan lain-lain)

Berdasarkan proses morfologi, kata benda dibagi menjadi :

  1. i, pertanggungjawaban, dll. [RR]
  2. Kata benda dasar/akar. Nomina akar terdiri atas satu morfem akar, yang bersuku satu,dua, atau banyak. Contoh: radio, udara, kertas, dll.
  3. Kata benda turunan. Kata benda turunan dapat terjadi karena adanya proses-proses berikut:
    1. Afiksasi, contoh: kesatuan, penjualan, keuangan, dll.
    2. Reduplikasi, contoh: anak-anak, tetamu, pepatah, dll.
    3. Penggabungan proses, contoh: berkelanjutan, kekanak-kanakan, mobil-mobilan, dll.
  4. Kata benda paduan leksem. Nomina ini dibentuk dari adanya penggabungan dua leksem, misalnya: jejak langkah, loncat indah, sapu tangan, ibu kota, tukang jahit, dll.
  5. Nomina paduan leksem gabungan. Nomina ini dibentuk dari paduan leksim dan afiksasi, misalnya: pendayagunaan, kejaksaan tingg

  • 1

Pemanfaatan Teknologi dalam Pembelajaran Bahasa Prancis Leçon Zéro

Siti Nurhayati

Widyaiswara Bahasa Prancis

PPPPTK Bahasa

 

Pengantar

Secara harfiah “leçon zero” diartikan “pelajaran nol”, merujuk pada pembelajaran tahap paling awal yanga guru dan peserta didik baru bertatap muka dan kesempatan awal untuk berkenalan, menjalin kedekatan dengan apa yang akan dipelajari. Dalam pembelajaran bahasa Prancis, fase ini dikenal dengan istilah leçon zero. Pertemuan pertama dalam pembelajaran bahasa Prancis sama halnya dengan “permulaan kehidupan. ”Pada tahap ini peserta didik belum mempunyai pengetahuan apapun tentang bahasa Prancis, misalnya sistem pelafalan ujaran dan struktur kalimat; meskipun tanpa disadari beberapa kosakata dalam bahasa Indonesia mirip dengan kosakata bahasa Prancis, misalnya restoran = restaurant, cafe = café, universitas = université, aktivitas = activité. Dalam konteks pembelajaran di Indonesia, guru berhadapan dengan peserta didik pada level pemula murni (débutant complet). Artinya, bekal awal tentang bahasa Prancis mereka masih minim atau baru belajar bahasa Prancis untuk kali pertama. Leçon zero adalah momen yang guru “menjual” bahasa Prancis dalam kemasan semenarik mungkin sehingga peserta didik termotivasi untuk mempelajarinya. Tulisan ini berkenaan dengan pemanfaatan teknologi dalam momen leçon zéro.

 

Pemanfaatan Teknologi dalam Fase Leçon Zéro

Pada fase ini ada tiga aspek yang penting untuk diperkenalkan yaitu aspek lisan, tertulis, dan budaya. Aspek lisan memperdengarkan ujaran dari beberapa bahasa tanpa mencari maknanya. Tujuannya adalah mengenali atau menebak bunyi-bunyi bahasa Prancis sebagai langkah awal guru untuk memperkenalkan bahasa Prancis, membiasakan siswa dengan lafal dan intonasi bahasa Prancis dan situasi komunikasi ujaran tersebut, misalnya siapa yang berbicara, laki-laki atau perempuan atau anak-anak. Aspek tertulis menunjukkan wacana pendek dari beberapa bahasa untuk menemukan pola tulisan dalam bahasa Prancis. Aspek budaya memperkenalkan ikon-ikon yang berkaitan dengan Prancis dan sudah dikenal oleh siswa misalnya menara Eiffel, sungai Seine, TGV, YvesSaintLorent, Lafayette, Louvre, Croissant, dan Peugeot.

Suka atau tidak saat ini kita sedang berada dalam pusaran gelombang perubahan teknologi informasi sebagaimana dikatakan John Naisbit. Gelombang ini tidak terhindarkan dan memengaruhi dunia pendidikan. Respons guru terhadap gelombang perubahan tersebut adalah memanfaatkannya sebagai wahana transformasi yang mendukung pembelajaran, dalam arti menjadi gudang ilmu pengetahuan. Peran teknologi dalam hal ini adalah sebagai alat untuk memungkinkan terjadinya pembelajaran sehingga teknologi merupakan sarana untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri. Kehadiran teknologi juga tidak berarti menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas, tetapi memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan isi atau materi dan pengembangan teknologi pendidikan.

Inti dari pembelajaran berbasis teknologi adalah keterkaitan tiga komponen utama, yakni isi atau materi, pedagogi, dan teknologi. Interaksi ketiga komponen tersebut dalam pembelajaran menghasilkan teknologi pembelajaran yang lebih bervariasi dan berkualitas. Pada akhirnya ketiga komponen tersebut terangkai dalam kerangka TPACK (technology, pedagogy, and content knowledge). Kerangka TPACK yang digulirkan dalam Shulman (1987, 1986) mendeskripsikan bagaimana guru memahami teknologi dalam pembelajaran dan PCK (pedagogy content knowledge) saling berinteraksi sehingga menghasilkan pembelajaran yang efektif. Diagram di bawah ini menjelaskan proses keterkaitan itu.

Di bawah ini contoh model pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran bahasa Prancis fase pemula pada leçon zero.

  1. Tujuan pembelajaran: memperkenalkan ujaran atau sapaan dasar dalam bahasa Prancis .

2. Tujuan pembelajaran: mengidentifikasi ujaran bahasa Prancis di samping ujaran bahasa lain

3. Tujuan pembelajaran: memperkenalkan sapaan, ungkapan perkenalan dengan versi cepat dan lambat dibantu terjemahan dalam bahasa Inggris.

4. Tujuan pembelajaran: memperkenalkan ujaran sederhana dalam bahasa Prancis melalui lagu.

5. Tujuan pembelajaran: memperkenalkan ungkapan salam.

Penutup

Penggunaan teknologi dalam pembelajaran adalah tuntutan zaman. Pemilihan teknologi yang tepat akan menghasilkan pembelajaran yang berkualitas. Pemanfaatan teknologi dalam leçon zero diharapkan memotivasi siswa dalam mengenal dan mempelajari bahasa Prancis dengan cara yang menarik, menantang, dan memenuhi tuntutan rasa ingin tahu mereka sesuai tahapan usia remaja. Tak dapat dimungkiri bahwa kelemahan penggunaan teknologi adalah tuntutan pemenuhan sarana dan prasarana yakniadanya koneksi internet yang stabil, headset/speaker dan komputer personal atau komputer jinjing. Faktor yang tak kalah penting adalah kualitas literasi komputer di kalangan guru, yakni pengetahuan dan kemampuan guru dalam menggunakan komputer dan teknologi. Akhirnya pantas direnungkan penyataan Ray Clifford dari Defense Language Institute, “Computers will not replace teachers. However, teachers who use computers will replace teachers who don’t.” [ ]


  • 0

KELAS KEMAHIRAN MENULIS DALAM DIKLAT PENINGKATAN SKOR TOEFL

Gunawan Widiyanto

Widyaiswara Bahasa Inggris

PPPPTK Bahasa

 

 

Kemahiran berbahasa asing merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh pelamar beasiswa, utamanya beasiswa luar negeri. Disadari, nama bahasa asing itu tidak jarang berkaitan rapat dengan negara yang hendak dituju oleh pelamar beasiswa. Sebagai misal, bagi yang hendak melanjutkan pendidikan lanjut ke Korea, pelamar dipersyaratkan mengikuti uji kemahiran berbahasa Korea dengan menempuh TOPIK (Test of Proficiency in Korean). Bagi yang hendak belajar ke Australia, uji kemahiran berbahasa Inggris IELTS adalah syarat yang diminta oleh pemberi beasiswa. Bagi warga negara asing yang hendak belajar di Indonesia pun, disyaratkan menempuh UKBI, uji kemahiran berbahasa Indonesia. Negara-negara yang bahasa resminya Arab tentu juga mensyaratkan TOAFL bagi calon penerima beasiswa. Demikian pula, bagi yang hendak belajar ke Eropa dan Amerika, mengikuti TOEFL dengan capaian skor tertentu menjadi kenyataan yang niscaya dan tidak terelakkan. Berbicara tentang TOEFL jelas akan menyinggung sentuh bidang kemahiran yang diujikan di dalamnya. Format bidang uji dalamnya misalnya, pada awalnya hanya mencakupi tiga kemahiran dan pengetahuan yang diujikan, yakni (1) pemahaman menyimak (listening comprehension), (2) struktur dan ungkapan tulis (structure and written expression), dan (3) pemahaman bacaan (reading comprehension).

Seiring dengan perkembangan teknologi dan kondisi kekinian, format TOEFL pun menyesuaikan. Penyesuaian itu merambah baik jenisnya maupun bidang yang diujikan. Jenisnya tidak hanya berformat manual berbasis kertas (paper-based) tetapi juga berbasis internet (internet-based). Bidang kemahiran yang diujikan pun mencakupi menulis (writing) juga. Berkenaan dengan kemahiran menulis, penulis pernah diberi amanat akademik untuk mengampu kelas menulis dalam diklat peningkatan skor TOEFL yang diselenggarakan atas kerja sama antara PPPPTK Bahasa dan Yayasan Insancita Bangsa. Peserta diklat itu adalah calon penerima beasiswa luar negeri. Hemat penulis sebagai pengampu kelas kemahiran menulis saat itu, ada tiga hal yang menjadi titik tekan dalam kelas pembelajaran kemahiran ini. Tigahal inilah yang hendak penulis kongsi (share) dengan pembaca melalui tulisan ini.

Pertama, tugas menulis sebagai pekerjaan utama dalam kelas menulis penulis bagi menjadi tiga jenis sesuai dengan tiga periodisasi waktu pembelajaran, yakni awal, tengah, dan akhir. Tugas menulis pertama pada awal kelas bertujuan menjajaki dan mengetahui kemampuan dasar menulis peserta. Tugas ini bersifat individual dengan topik yang sama untuk semua peserta. Jadi, topik diberikan oleh penulis (pengampu). Dalam proses penulisan ini, topik memang jelas sama bagi semua peserta, tetapi cara mengungkapkan gagasan dan menuangkannya dalam bentuk tulisan jelas berbeda karena setiap peserta pasti memiliki personalisasi pengalaman dan rencana menulis yang berbeda. Setelah direvisi olehpengampu, tugas itu dikembalikan kepada peserta untuk diperbaiki sesuai masukan dan umpan balik dari pengampu. Dari revisi itulah diskusi mengemuka hingga sampailah pada bahasan materi teoretis mengenai proses pertama penulisan, yakni prapenulisan (pre-writing). Pertanyaan utama yang dilontarkan pengampu kepada forum adalah hal-hal apa sajakah yang dilakukan peserta diklat sebelum mulai menulis.

Tugas menulis keduapada pertengahan kelas menulis bersifat kelompok yang beranggotakan dua hingga tiga peserta dan bertujuan agar anggota kelompok bisa saling bertukar pikiran untuk memperkaya gagasan yang akan dituangkan dalam tulisan. Bagaimanapun, dalam tubuh setiap tulisan diperlukan banyak gagasan pendukung, dan gagasan pendukung sangat potensial bisa diperoleh dari hasil diskusi untuk saling memberi masukan dalam bentuk kelompok. Dalam penulisan tugas kelompok ini, peserta diberi dua opsi berkenaan dengan topik yang akan diusung. Opsi pertama adalah bahwa peserta bisa memilah, memilih, dan mengambil topik dari buku TOEFL. Opsi kedua adalah bahwa peserta diberi keleluasaan dan kebebasan untuk mencari dan menentukan topik sendiri di luar buku TOEFL, kendati tetap disarankan agar peserta mengambil topik tulisan dari buku TOEFL. Sebagaimana tugas menulis pertama, setelah dikoreksi; hasil revisi menulis dikembalikan kepada kelompok untuk diperbaiki berdasarkan masukan dan saran pengampu. Setelah itu, dibentangkan paparan teoretis mengenai proses kedua dalam penulisan, yakni hal-hal yang perlu dilakukan tatkala menulis (while-writing).

Sebelum memasuki tahap menulis ketiga atau terakhir, peserta diajak berdiskusi tentang proses ketiga penulisan, yakni pascapenulisan (post-writing) dengan pertanyaan utama adalah langkah apa saja yang perlu diayunkanusai menulis. Tugas menulis ketiga menjelang akhir kelas menulis kembali berformat individual. Idealnya, hasil karya penulisan akan optimal manakala tema tulisan bertali-temali dengan wilayah yang diminati, ditekuni, dan dikecimpungi oleh si penulis. Untuk mencapai atau minimal mendekati hal yang ideal itu, topik tulisan diserahkan sepenuhnya kepada para peserta diklat, yang datang dari berbagai disiplin ilmu. Tentunya, hasil karya penulisan peserta diharapkan bisa memperlihatkan kerangka berpikir yang sistematis dan pola penulisanyang tertata apik (well formed), yakni (a) pengantar atau pendahuluan, yang berisi satu atau beberapa paragraf pendahuluan (introductory paragraphs), (b) tubuh atau isi, yang mengandung beberapa paragraf pendukung (supporting paragraphs), dan (c) penutup atau simpulan, yang berisi paragraf penutup atau penyimpul (concluding paragraph).

Kedua, skema penilaian terhadap hasil kerja tulis (written work) berbasis pada lima butir penilaian dengan alokasi persentil (percentile allotment) seratus. Kelima butir penilian itu adalah (1) konten dan pengelolaan topik dengan alokasi 30 persen, (2) penataan gagasan yang mencakupi pengembangan alinea, kejelasan, kohesi, dan koherensi dengan jatah 25 persen, (3) tata bahasa yang meliputi kala, kesesuaian, struktur, dan tata urutan kata dengan alokasi 25 persen, (4) pemakaian kosakata dengan alokasi 10 persen, dan (5) pungtuasi atau ejaan dengan alokasi 10 persen.

Ketiga, secara umum, kemahiran menulis sepatutnya menjadi kemahiran paling sulit untuk diajarkan di antara keempat kemahiran berbahasa karena kemahiran ini secara karakteristik tidak hanya menghasilkan rekaman nyata atau bukti fisik (tangible records) yang menghendaki adanya perbaikan hasil kerja tulis secara berulang dan tak terbilang; tetapi juga mengandung keakuratan teknis dan kefasihan artistik. Pengalaman penulis setakat ini, kemahiran menulis juga menjadi sebuah kegiatan yang mengambil banyak masa (time consuming) untuk diajarkan. Betapa tidak, kelas kemahiran menulis dengan 20 peserta yang masing-masing menghasilkan karya akademik tiga hingga empat halaman bisa bermakna kerja tiada akhir dalam pembetulan, pemberian maklum balas (feedback), dan konsultasi individual. Di luar sesi kelas pembelajaran pun, penulis menyediakan diri dan membuka konsultasi bagi peserta selama proses menulis dari memilih topik hingga menyelesaikan (memoles) hasil kerja peserta.

Yang tidak kalah penting dan bahkan yang terutama, jika penulis boleh memberikan sumbang saran kepada pembaca; seorang pengampu kelas menulis seyogianya memiliki contoh tulisan hasil karya sendiri. Dengan demikian, ia tidak hanya berkecimpung dalam wilayah teoretis semata dengan hanya mengajar menulis. Idealisasinya memang, pengampu kelas kemahiran menulis minimal sudah menghasilkan (beberapa atau banyak) karya tulis, bahkan apabila perlu sudah terlatih menulis, sesederhana apapun hasil tulisan itu. Bagaimanapun, kemahiran menulis tidak sebatas memerlukan skema konseptual dan kerangka kerja teoretis tentang tata cara menulis belaka. Penerapan teori itu ke dalam praktik menulis secara nyata hingga berwujud hasil kerja tulis sebagai bukti fisik jauh lebih penting. Dan, menulis adalah persoalan keberlatihan secara berterusan hingga seseorang menjadi terlatih. [ ]