Category Archives: Artikel Kebahasaan

  • 0

TSUNAMI DAN MADRASAH TSANAWIYAH

Category : Artikel Kebahasaan

Sekilas, antara tsunami dan madrasah tsanawiyah dalam judul tulisan ini tidak berkaitan, bahkan tidak nyambung sama sekali. Namun, ada kesamaan fonologis antara keduanya. Mari kita cermati. Sejak terjadi gempa dahsyat di Indonesia, setiap terjadi gempa sering dikaitkan  dengan potensi terjadinya tsunami atau tidak; hingga berita tentang tsunami menghiasi halaman surat kabar, termasuk penggalan berita dari sebuah surat kabar daring tentang gempa susulan yang terjadi pada Minggu, 29 Juli 2018. Berikut petikan berita itu: “Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa susulan terus berlangsung setelah gempa berkekuatan magnitudo 6,4 mengguncang Lombok, Minggu (29/7/2018) pagi. Tercatat ada 43 kali gempa susulan setelahnya. Gempa susulan berlangsung dengan intensitas gempa yang lebih kecil. Hingga pukul 08.09 WIB telah terjadi 43 gempa susulan dengan gempa susulan paling kuat adalah 5,7 SR. Pusat gempat diketahui berada di darat pada jarak 47 km arah timur laut Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat dengan kedalaman 24 km. Gempa terjadi akibat akivitas Sesar Naik Flores. Gempa tidak berpotensi tsunami.”

Masalahnya bukan tsunami akibat kuatnya gempa itu, melainkan kata tsunami yang frekuensi pemakaiannya begitu tinggi jika tersiar kabar tentang gempa kuat. Dalam ragam tulis, kata asli bahasa Jepang bermakna gelombang laut yang besar akibat adanya gempa kuat di dasar laut ini seakan-seakan dibiarkan meluncur apa adanya. Yang menarik, dalam ragam lisan, sejujurnya kita sebagai penutur bahasa Indonesia secara fonologis mengawali pengucapan kata itu dengan konsonan laminopalatal /s/, bukan dengan konsonan apikoalveolar /t/. Konkretnya kita melafalkan /sunami/, bukan /tsunami/.  Padahal, dalam bahasa kita tidak dikenal gugus konsonan /ts/.  Kaidah  ejaan yang berlaku bagi unsur serapan pun setakat ini – kendati berlaku bagi unsur serapan dari bahasa Arab – mensyaratkan penyesuaian dari /ts/ menjadi /s/. Kaidah ini setidaknya dapat dijadikan rujukan untuk menyesuaikan kata tsunami ke dalam sistem bahasa kita.

Dalam lanskap linguistik, gejala serupa dapat dilihat dalam penamaan salah satu jenjang sekolah di Kementerian Agama, yang dipajang dalam papan nama sebagai penanda sekolah itu di ruang publik, yakni Madrasah Tsanawiyah, yang umum disingkat menjadi MTs.  Mengapa tidak ditulis Madrasah Sanawiyah (MS) jika memang sudah terdapat kaidah penyerapannya dalam bahasa kita? (Gunawan Widiyanto)


  • 0

FILM INDONESIA: TONTONAN DAN (SEHARUSNYA) TUNTUNAN BERBAHASA INDONESIA

Category : Artikel Kebahasaan

Monografi ini tidak mempromosikan film Indonesia, tetapi menyoroti isu tentang judul film dalam kerangka lanskap bahasa Indonesia. Setakat ini, Badan Bahasa sebagai institusi yang memiliki otoritas  mengendalikan pemakaian bahasa Indonesia di ruang publik terus berupaya mengajak masyarakat pelaku industri kreatif dan hiburan untuk lebih mengutamakan, menomorsatukan, mendahulukan, dan memproritaskan pemakaian bahasa Indonesia daripada bahasa asing (Inggris) dalam menyematkan judul pada film Indonesia. Badan Bahasa pun pernah mengkritik pemangku kepentingan film Indonesia yang cenderung lebih memakai bahasa asing dalam judul-judul filmnya daripada bahasa Indonesia. Tidak sebatas itu, kritik itu ditindaklanjuti dengan mengadakan sosialisasi dan diskusi penggunaan bahasa Indonesia pada judul dan isi film bersama insan perfilman yaitu Asosiasi Perusahaan Film Indonesia, Lembaga Sensor Film, dan Pusat Pengembangan Perfilman pada paruh 2017. Sudah hampir setahun sejak sosialisasi dan diskusi itu dihelat, dalam realitasnya, masih juga dijumpai film-film Indonesia dengan judul berbahasa asing – untuk tidak mengatakan bahwa sineas kita masih juga keras kepala memakai bahasa asing alih-alih bahasa Indonesia ketika menyematkan judul dalam filmnya.Tentu, instrumen yang dijadikan basis yuridis adalah Undang-Undang  Nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Namun, instrumen itu tampaknya juga tidak begitu berdampak secara optimal apalagi sampai mampu mengubah pola pikir pelaku industri hiburan untuk menjuduli film-filmnya dengan bahasa Indonesia. Artinya, ternyata masih ada film-film  Indonesia  yang diedar tayang dengan judul bahasa asing.Kita dapat mengambil lima contoh film Indonesia yang ditayangkan pada April dan Mei 2018, yakni  The Secret – Suster Ngesot Urban Legend, 212 The Power of Love, Love Reborn, The Gift, dan The Perfect Husband.

Dinyatakan, sutradara menginggris ketika menjuduli filmnya demi alasan komersial, pencarian format yang tepat untuk film Indonesia,  dan globalisasi serta prestise sebagai sebuah tontonan dan hiburan. Namun, yang perlu dipikirkan secara serius adalah bahwa film tidak hanya berfungsi sebagai tontonan; tetapi juga sebagai tuntunan, yakni tuntunan berbahasa Indonesia bagi penontonnya. Bagaimanapun, film merupakan salah satu ruang publik kita yang pemakaian bahasa dalam judulnya perlu dikendalikan. Begitu liarnya pemakaian bahasa asing dalam judul-judul film nasional kita juga dipicu oleh belum adanya sanksi dalam Undang-Undang  Nomor 24 Tahun 2009  yang hendak dijatuhkan kepada insan perfilmannasional kita. Terhadap penjudulan film Indonesia yang lebih mengetengahkan bahasa asing daripada bahasa Indonesia itu, mekanisme penyematan judul yang sekiranya dapat dijadikan tawaran solutif adalah (a)  menjuduli film Indonesia secara bilingual dengan bahasa asing mengataskan bahasa Indonesia; dan (b) menuliskan kata atau kekata Indonesia dengan ukuran yang  lebih besar daripada  kata asingnya dan judul asing itu ditata dan letakkan dalam tanda kurung.

Akhirnya, kita boleh bangga menggunakan bahasa Inggris, tetapi kita harus lebih bangga  memakai bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa kita, nilai kekayaan budaya, dan sumber daya Indonesia. Konkretisasinya, film-film Indoneisa  itu seyogianya tetap harus dijuduli secara Indonesia untuk menunjukkan dan merepresentasikan dimensi keindonesiaannya. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 hanyalah payung legal pemakaian bahasa Indonesia, yang salah satu pasalnya berkenaan dengan pengutamaan bahasa Indonesia di ruang publik. Namun,  perlu ada instrumen bawahan sebagai regulasi yang lebih lengkap, operasional, dan spesifik agar ia dapat dijadikan basis yuridis untuk mengendalikan pemakaian bahasa kita di ruang publik. Lengkap yang dimaksud adalah bahwa kewajiban pemakaian bahasa Indonesia di ruang publik tetap harus disertai dengan sanksi atas pelanggaran kewajiban itu.  Operasional yang dimaksud adalah sanksi apa saja yang akan dijatuhkan jika kewajiban pemakaian bahasa Indonesia itu dilanggar. Spesifik yang dimaksud adalah jenis dan nama ruang publik mana saja yang dijadikan sasaran lanskap pemakaian bahasa Indonesia.  Boleh jadi,  sutradara film tidak melihat bahwa Undang-Undang itu memang tidak mencantumkan film sebagai salah satu ruang publik. (Gunawan Widiyanto)

 


  • 0

LEKSIKOGRAFI ZAMAN NOW SELAYANG PANDANG

Category : Artikel Kebahasaan

Leksikografi, sesuai batasan KBBI daring edisi V adalah (a) cabang ilmu bahasa mengenai teknik penyusunan kamus dan (b) perihal penyusunan kamus. Singkatnya, leksikografi mengecimpungi perkamusan. KBBI cetak edisi IV (2008: 614-615) memberi batasan kamus sebagai (a) buku acuan yang memuat kata dan ungkapan, biasanya disusun menurut abjad berikut keterangan tentang makna, pemakaian, atau terjemahannya; dan (b) buku yang memuat kumpulan istilah atau nama yang disusun menurut abjad beserta penjelasan tentang makna dan pemakaiannya. Berbincang mengenai leksikografi tentu tidak dapat berlepas diri dari dinamika perkembangan teknologi. Betapa tidak, seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi, perkamusan pun menyesuaikan perkembangan teknologi itu hingga mengejawantah dalam format digital, yakni kamus elektronik atau kamus digital. Kamus pun tidak sekadar berbasis kertas (manual), tetapi juga berbasis elektronik (e-dictionary). Oleh karena itu,  batasan kamus sesuai KBBI daring dan cetak pun tentu seyogianya menyesuaikan.

Sebagian pekamus digital tentu beranggapan bahwa kamus digital lebih baik daripada kamus manual. Tidak dapat dimungkiri, secara fisik, kamus digital memang lebih bergerak (mobile) dan praktis daripada kamus kertas, karena dari dimensi multimedia kamus digital menyajikan pelafalan secara auditoris dan terhubung dengan konten laman. Kamus digital boleh dikatakan sudah banyak digunakan oleh mayoritas anggota masyarakat perkotaan dalam berbagai platform, yakni komputer meja (desk-top), tablet, dan telepon pintar. Selain kelebihan yang dimiliki kamus digital, ia memiliki kelemahan. Dari sisi pengguna misalnya, dalam konteks keindonesaan utamanya di wilayah terluar (outermost), terpencil (remote),  dan tertinggal (disadvantaged); tidak setiap pengguna memiliki kemudahan akses dan jaringan internet, mengingat keterbatasan penetrasi untuk menjangkau wilayah itu. Dalam kerangka ini, kamus manual-cetak (paper-based) sejatinya dapat menggantikan kamus digital. Satu hal penting lagi yang perlu dinyatakan adalah bahwa baik kamus digital maupun kamus cetak sifatnya saling melengkapi. Bagi pemanfaat yang beruntung karena kemudahan memiliki kamus cetak dan kamus digital, ia dapat membandingkan antara keduanya. KBBI daring edisi V dan KBBI cetak dapat dijadikan contoh betapa KBBI cetak menyajikan konfigurasi deskripsi kata yang lebih lengkap daripada KBBI daring. Baik KBBI versi daring maupun luring pun belum menyertakan traskripsi fonetis secara auditoris. (Gunawan Widiyanto)


  • 0

PENGGUNAAN METODE EKLEKTIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ASING

Category : Artikel Kebahasaan

 M. Isnaini

Widyaiswara P4TK Bahasa

 

Konsep Dasar Metode Gabungan (Eklektik)

Metode gabungan (eclectic method) merupakan kreativitas para pengajar bahasa asing untuk mengefektifkan proses belajar mengajar bahasa asing. Metode ini juga sekaligus memberikan kebebasan kepada mereka untuk menciptakan variasi metode.

Yang dimaksud gabungan di sini bukan menggabungkan semua metode sekaligus, melainkan lebih bersifat “tambal sulam”, artinya suatu metode tertentu dipandang dapat mengetasi kekurangan metode yang lain. Walaupun setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan, namun tidak berarti semuanya dapat digabungkan sekaligus, sebab menggabungkan di sini sesuai kebutuhan atas dasar pertimbangan tujuan pembelajaran, sifat materi pembelajaran, kemampuan pelajar, bahkan kondisi guru. Yang cocok dilakukan dalam hal ini adalah memanfaatkan kelebihan metode tertentu untuk mengatasi kekuragan metode tertentu.

Berdasarkan kenyataan di atas, muncullah metode eklektik ( الطريقة الانتقائية), yang mengandung arti pemilihan dan penggabungan. Sebagaimana metode –metode lainnya, metode gabungan memiliki dasar yang dijadikan pijakannya.

Ada enam hal yang menjadi pijakan metode gabungan, yaitu:

  1. Setiap metode pengajaran bahasa asing memilki kelebihan. Kelebihan itu dapat dimanfaatkan dalam pengajaran bahasa asing.
  2. Tidak ada metode yang sempurna, dan juga tidak ada metode yang jelek, tetapi semuanya memiliki kekuatan dan kelemahan. Kekuatan metode tertentu bisa jadi dapat mengatasi kelemahan metode tertentu.
  3. Setiap metode memiliki latar belakang, karakteristik, dasar pemikiran, dan peruntukan yang berbeda, bahkan bisa jadi suatu metode muncul karena menolak metode sebelumnya. Jika metode-metode tersebut digabungkan, maka akan menjadi sebuah kolaborasi yang saling menyempurnakan.
  4. Tak ada suatu metode pun yang sesuai dengan semua tujuan, semua siswa, semua guru, dan semua program pengajaran bahasa asing.
  5. Hal yang penting dalam mengajar adalah memberi perhatian kepada para pelajar dan kebutuhannya, bukan menguasai metode tanpa didasarkan kepada pelajar dan kebutuhannya.
  6. Setiap guru bahasa asing diberi kebebasan untuk menggunakan langkah-langkah atau teknik-teknik dalam menggunakan metode pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan para pelajarnya dan sesuai dengan kemampuannya.

Langkah-langkah Penggunaan Metode Gabungan

Menggunakan metode gabungan dalam pengajaran bahasa asing adalah memanfaatkan kebaikan metode tertentu untuk mengatasi masalah kekurangan metode tertentu. Misalnya seorang guru bermaksud melatihkan kemampuan memahami teks bacaan dan kaidah gramatika, maka ia dapat mengkolaborasikan metode langsung dengan metode kaidah dan terjemah ditambah metode membaca.

Metode langsung “mengharamkan” penggunaan bahasa pelajar sehari-hari dalam pengajaran bahasa asing (sebut saja bahasa ibu dan bahasa kedua) sebagai bahasa pengantar pelajaran dan kegiatan penerjemahan ke dalam bahasa pelajar sehari-hari. Dalam pandangan metode ini penggunaan bahasa sehari-hari dan terjemahan dapat mengganggu keberhasilan, sebab tidak mendidik para pelajar untuk disiplin menggunakan bahasa asing yang dipelajari secara langsung. Padahal jika dilihat dari susut pandang yang lain larangan ini justru membuat metode ini tidak maksimal dalam mengajarkan bahas asing, sebab dalam hal-hal tertentu para pelajar bahasa asing tetap memerlukan bahasa sehari-hari atau terjemahan. Ini akan terjadi ketika diajarkan kata-kata atau kalimat yang sama sekali tidak bisa diragakan, digambarkan atau ditunjukkan ke alam nyata. Dalam hal lain metode langsung juga tidak menghiraukan kaidah gramatika, sebab menurut pandangannya analisa kaidah gramatika akan menggaggu pelajar dalam belajar bahasa asing. Padahal dalam hal-hal tertentu pelajar sangat membutuhkan analisa kaidah secukupnya. Ini juga sebuah kelemahan jika ditinjau dari sudut lain, sebab bagaimanapun yang namanya bahasa tidak terlepaskan dari kaidah gramatika, justru penggunaan kaidah ini dapat membuat bahasa menjadi tersusun rapi. Maka dapat diatasi dengan metode kaidah dan terjemah. Dalam hal lain kemampuan membaca di dalam metode langsung diberi porsi sangat sedikit, padahalkemampuan memahami bacaan juga sangat diperlukan dalam belajar bahasa asing. Maka ini bisa diatasi dengan metode membaca, dan seterusnya.

Terlihat di sini bahwa kegiatan pembelajaran akan menjadi sangat variatif, tidak terfokus pada satu kegiatan. Maka penggabungan ini diharapkan akan membuat kegiatan ini memacu motivasi para pelajar dalam belajar bahasa asing.

Seperti metode lain, langkah yang bisa digunakan untukmenggunakan metode ini fleksibel. Misalnya langkah yang dapat ditempuh oleh guru adalah sebagai berikut:

  1. Pendahuluan, sebagaimana metode lain.
  2. Memberikan materi berupa dialog-dialog pendek yang rileks, dengan tema kegiatan sehari-hari secara berulang-ulang. Materi ini mula-mula disajikan secara lisan dengan gerakan-gerakan, isyarat-isyarat, dramatisasi-dramatisasi, atau gambar-gambar.
  3. Para pelajar diarahkan untuk disiplin menyimak dialog-dialog tersebut, lalu menirukan dialog-dialog yang disajikan sampai lancer.
  4. Para pelajar dibimbing menerapkan dialog-dialog itu dengan teman-temannya secara bergantian.
  5. Setelah lancer menerapkan dialog-dialog yang telah dipelajari, mereke diberi teks bacaan yang temanya berkaitan dengan dialog-dialog tadi. Selanjutnya guru member contoh cara membaca yang baik dan benar, diikuti oleh para pelajar secara berulang-ulang.
  6. Jika terdapat kosa kata yang sulit, guru memaknainya mula-mula dengan isyarat atau gerakan, atau gambar atau yang lainnya. Jika tidak mungkin ini semua, guru menerjemahkannya ke dalam bahasa pelajar.
  7. Guru mengenalkan beberepa struktur yang penting dalam teks bacaan, lalu membahasnya seperlunya.
  8. Guru menyuruh para pelajar menelaah kembali bacaan, lalu mendiskusikan isinya.
  9. Sebagai penutup, jika diperlukan, evaluasi akhir berupa pertanyaan-pertanyaan tentang isi bacaan yang telah dibahas. Pelaksanaannya bisa saja secara individual atau kelompok, sesuai dengan situasi dan kondisi. Jika tidak memungkinkan, misalnya karena waktu, guru dapat menyajikannya berupa tugas yang harus dikerjakan di rumah masing-masing pelajar.

Kelebihan dan Kekurangan Metode Gabungan

Telah dikemukakan sebelumnya bahwa tak ada metode yang terbaik dan terburuk. Menggunakan metode apapun, khususnya dalam pengajaran bahasa asing, di dalamnya akan ada masalah yang harus diatasi. Termasuk menggunakan metode gabungan ini.

Walaupun terlihat kegiatannya lebih variatif, kemampuan para pelajar dalam menggunakan bahasa asing lebih merata, namun menggunakan metode gabungan nampaknya akan bermasalah dengan kesedian guru, siswa dan alokasi waktu.

Belum tentu semua guru sanggup melakukan serangkaian kegiatan mengajar yang begitu banyak dan bervariasi. Penggunaan metode ini nampaknya menuntut adanya guru yang segala bisa dan energik. Begitu juga dipihak pelajar. Biasanya kegiatan yang terlalu banyak malah akan menimbulkan kejenuhan belajar, apalagi jika materi dibawakan secara monoton. Waktu yang diperlukan juga relatif lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan metode yang lain, padahal umumnya alokasi waktu pelajaran bahasa Arab di sekolah-sekolah di Indonesia teratas, kecuali di sekolah-sekolah tertentu yang memberikan perhatian lebih kepada bidang studi bahasa Arab.


  • 2

Program PBPU, Penguat Sebuah Kerjasama PPPPTK Bahasa dan IFI 2018

Elvira Ratna Sari
Widyaiswara Bahasa Prancis
PPPPTK Bahasa

Jakarta – Alhamdulillah, Sebuah rangkaian pelatihan Pengajar Bahasa Prancis Unggulan (PBPU) telah berhasil dilaksanakan di tiga kota di Indonesia yaitu Manado (LPMP Manado, 12-17 Maret), Yogyakarta (LPMP Yogya, 17-24 Maret) dan Medan (PAUDNI, 30 April-5Mei). Pelatihan PBPU ini berpola 55 jam pelajaran (JP @45 menit) selama 6 hari dan menghadirkan narasumber dari kedua lembaga kerjasama yaitu Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan bidang Bahasa (PPPPTK Bahasa) dan Institut de Français en Indonésie (IFI) sebagai mitra.

Pelatihan di tiga wilayah ini dibuka oleh Kepala PPPPTK Bahasa, ibu Dr. Luizah. F. Saidi, M.Pd. dan dihadiri di Yogyakarta oleh Madame Sara Camara sebagai Direktur IFI Yogyakarta, di Medan oleh Mlle. Anne-Lise sebagai Direktur AF Medan, serta kunjungan observasi PBPU di Medan oleh pihak IFI Jakarta, Monsieur François Roland-Gosselin sebagai Atase Kerjasama Bahasa Prancis Kedutaan Prancis di Indonesia.

Program PBPU merupakan bagian dari beberapa program kerjasama yang akan dilaksanakan pada tahun 2018 ini dimana Memorandum of Understanding (MoU)-nya telah ditandatangani di awal tahun ini. Program ini bukanlah program pertama kali, program ini telah diujicobakan di akhir tahun 2017 pada bulan September (11-14) dimana programnya masih berpola 32 JP saja. Setelah melalui evaluasi penyelenggara dari kedua belah pihak dan respon langsung dari peserta saat itu, maka kedua pihak PPPPTK Bahasa dan IFI bersepakat untuk menyelenggarakannya di tahun ini di tiga tempat tersebut.

Struktur program PBPU terdiri dari delapan modul (red- M1, M2, M3, M4, M5, M6, M7, dan M8) yang mengangkat kompetensi metodologi guru bahasa Prancis dan disampaikan dengan pengantar bahasa Prancis pada umumnya. Berikut tabel modul atau materi PBPU ini:

Peserta pelatihan ini total berjumlah 75 guru bahasa Prancis (@25 orang/kelas) yang dalam proses pembelajarannya mereka diinapkan dalam asrama yang terletak masih dalam lingkungan kelas pelatihan. Sehingga mereka dapat berdiskusi untuk memahami materi-materi PBPU dan menyelesaikan tugas yang diberikan agar tepat waktu.

Hasil pelatihan PBPU ini yang berupa akumulasi dari keseluruhan materi yang dipelajari adalah Fiche Pédagogique atau Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) lengkap dari masing-masing kelompok kecil terdiri dari 3-4 guru. Pada program ini, tim akademik PBPU bersepakat memfokuskan tugas akhir peserta pelatihan ini yaitu RPP dengan jenjang kelas berbeda, antara lain: PBPU Manado – RPP kelas X, PBPU Medan – RPP kelas XI, dan PBPU Yogyakarta – RPP kelas XII. Dengan terlaksananya PBPU ini dan terkumpulnya tugas akhirnya, Peserta diharapkan dapat meningkatkan kompetensi pedagogik mereka, baik pengetahuan (metode pengajaran) maupun keterampilan mengajar. Dan dari hasil kumpulan RPP ini, penyelenggara (PPPPTK Bahasa dan IFI) akan menindaklanjutinya dalam program penyusunan Buku Ajar Unggulan (BAU) di dalam tahun yang sama, 2018, Inshaallah.


  • 0

KESAMAAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA DAN FILIPINO (TAGALOG)

Category : Artikel Kebahasaan

Dedi Supriyanto,M.Pd.
Widyaiswara Bahasa Arab
PPPPTK Bahasa

Bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu yang telah menjadi bahasa resmi dan bahasa persatuan rakyat Indonesia sejak tahun 1928, adapun bahasa Filipino atau lebih dikenal dengan bahasa Tagalog merupakan bahasa yang dipertuturkan secara luas dan sekaligus telah terpilih menjadi bahasa resmi rakyat Filipina sejak tahun 1937. Bahasa Filipino yang aslinya berasal dari bahasa Tagalog ini mungkin mirip dengan bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu.

Berdasarkan sejarah masa lalu, bahasa Filipino yang dikenal dengan bahasa Tagalog ini masih memiliki hubungan keluarga yang dekat dengan bahasa-bahasa daerah di Indonesia (Kalimantan, Sulawesi UtaraGorontalo, dan Jawa) maupun Malaysia (Sabah). Oleh karena itu bahasa Indonesia dan Tagalog ini memiliki akar yang sama yaitu berasal dari Malayo-Polynesian language family. Hal ini tentunya membuat orang Indonesia relatif lebih mudah dan cepat mempelajari bahasa Tagalog dan begitu pula sebaliknya.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan penulis selama menetap dan mengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) selama 6 bulan di Filipina, maka ditemukan adanya kesamaan dan perbedaan antara kosakata bahasa Indonesia dan bahasa Tagalog. Berikut ini penulis menyajikan beberapa kesamaan dan perbedaan kosakata bahasa Indonesia dan bahasa Tagalog, terutama dari segi penulisan kosakata, pelafalan atau pengucapan, dan maknanya..

  1. Kesamaan Bilangan/Angka

Beberapa kosakata bilangan/angka bahasa Tagalog memiliki kesamaan dalam bahasa Indonesia, diantaranya adalah bilangan/angka 5 dalam dalam bahasa Tagalog dituliskan dan dilafalkan dengan “lima”, demikian pula dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Tagalog bilangan atau angka 1 dituliskan dan dilafalkan dengan “isa”, ternyata dalam bahasa Indonesia angka 1 yang sering dilafalkan dengan “satu” juga memiliki makna “esa” yang berarti tunggal. Kemudian bilangan/angka 7 dalam bahasa Tagalog yang dilafalkan dengan “pito”, ternyata dalam bahasa Jawa juga terdapat pelafalan “pitu” yang berarti tujuh. Demikian pula dengan “walo’ dalam bahasa Tagalog, ternyata dalam bahasa Jawa juga ada pelafalan “wolu” yang berarti delapan.

  1. Kesamaan dan Kemiripan Kosakata
  1. Tulisan, pelafalan dan makna yang sama

Kosakata dalam bahasa Tagalog ada yang memiliki kesamaan dalam hal tulisan, pelafalan dan makna. Seperti kosakata “kami”, “langit”, “anak” dalam bahasa Tagalog memiliki makna yang sama dengan “kami’, ”langit”, dan “anak” dalam bahasa Indonesia.

  1. Tulisan sama, makna berbeda

Dalam bahasa Tagalog ada beberapa kosakata yang tulisan dan pelafalannya sama dengan beberapa kosakata bahasa Indonesia namun maknanya sangat berbeda. Contoh kata “mahal” dalam bahasa Tagalog, selain memiliki makna yang sama dengan “mahal” dalam bahasa Indonesia, ternyata “mahal” dalam bahasa Tagalog juga berarti “cinta/sayang”. Selain itu kata “batik” dalam bahasa Tagalog ternyata bermakna “bintik” yang tentunya jauh berbeda  maknanya dengan  “batik” dalam bahasa Indonesia yang bermakna “batik/baju batik/kain batik”.

  1. Tulisan berbeda, makna sama

Dalam bahasa Tagalog terdapat banyak sekali kata yang tulisannya berbeda dengan kosakata dalam bahasa Indonesia, namun memiliki makna yang yang sama atau relatif sama. Diantaranya adalah kata “ako” dalam bahasa Tagalog yang bermakna ”saya”, ternyata dalam bahasa Indonesia terdapat kosakata “aku” yang juga bermakna “saya” atau “aku”, demikian pula dengan kata “ikaw” dalam bahasa Tagalog yang bermakna ‘kamu”, ternyata dalam bahasa Indonesia juga ada kosakata “engkau” yang bermakna “kamu’ atau “anda”.

  • Perbedaan Kosakata Secara Umum

Secara umum perbedaan makna kosakata dalam bahasa Tagalog dan bahasa Indonesia lebih kepada penulisan dan pelafalan. Ada beberapa kosakata dalam bahasa Tagalog yang penulisannya mirip dengan bahasa Indonesia namun memiliki arti yang sama seperti kata “ako” (saya), “mukha” (muka/wajah), dan bangkay (bangkai). Selain itu dalam bahasa Tagalog juga terdapat kosakata yang penulisannya berbeda namun pelafalannya sama dengan bahasa Indonesia, seperti seperti kata “bato” (dibaca: batu), ibo (dibaca: ibu), dan “dato” (dibaca: datu).

Demikianlah beberapa kesamaan dan perbedaan kosakata dalam bahasa Tagalog dan bahasa Indonesia yang berkaitan dengan kesamaan dalam tulisan, pelafalan dan makna dan perbedaan kosakata secara umum. Bahkan adapula kosakata bahasa Tagalog yang yang tulisannya berbeda namun sepintas kita menyangka maknanya sama dalam bahasa Indonesia, namun dalam bahasa Tagalog sendiri maknanya memang berbeda, seperti kata “tahanan” dan “hukuman”, dalam bahasa Tagalog, “tahanan” bermakna rumah, sedangkan “hukuman” bemakna pengadilan..

Oleh karena itu banyaknya kesamaan dan kemiripan kosakata bahasa Indonesia dengan bahasa Tagalog tentunya akan memberikan kemudahan bagi para penutur asli bahasa Indonesia untuk mempelajari bahasa Tagalog, begitupula sebaliknya.


  • 0

Artikel Bahasa Arab

Dedi Supriyanto

Widyaiswara Bahasa Arab
PPPPTK Bahasa

Kegiatan Bahasa Arab di Nusa Tenggara Timur


  • 0

  • 0

Lagu Indonesia Raya 3 Stanza

Mendikbud Akan Buat Surat Edaran, Lagu “Indonesia Raya” Dinyanyikan 3 Stanza

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy akan menerbitkan surat edaran ke seluruh sekolah. Surat edaran tersebut meminta agar lagu Indonesia Raya dinyanyikan secara utuh, yakni 3 stanza, ketika dilaksanakan upacara. “Kemendikbud akan mengeluarkan edaran agar di sekolah menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza,” kata Muhadjir di Kemendikbud, Jakarta, Kamis (3/8/2017). Menurut Muhadjir, pada awalnya, lagu Indonesia Raya dinyanyikan 3 stanza. Kemudian, keluar Keputusan Presiden (Keppres) yang menyatakan bahwa lagu Indonesia Raya dinyanyikan 1 stanza.

“Saya tidak tahu itu kenapa bisa jadi 1 stanza. Itu memang secara resmi, saya tidak tahu keppresnya tetap masih dipertahankan 1 stanza,” kata Muhadjir. Dia menilai perbedaan antara lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan 1 stanza memiliki efek rasa semangat yang berbeda ketika dinyanyikan 3 stanza. Muhadjir menganalogikannya dengan hasil foto. “Kalau 1 stanza ibaratnya foto setengah badan. Kalau 3 stanza foto penuh,” kata Muhadjir.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Mendikbud Akan Buat Surat Edaran, Lagu “Indonesia Raya” Dinyanyikan 3 Stanza”,

Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2017/08/03/18205071/mendikbud-akan-buat-surat-edaran-lagu-indonesia-raya-dinyanyikan-3-stanza.

Penulis : Fachri Fachrudin


Lagu Indonesia Raya secara Utuh terdiri atas 3 (tiga) Bait atau 3 (tiga) stanza.

Karena kita terbiasa menyanyikan lagu kebangsaaan Indonesia Raya hanya 1 stanza, kemungkinan diantara kita banyak yang lupa atau tidak tahu stanza ke 2 dan stanza ke 3 dari lagu Indonesia Raya.

Sekedar berbagi pengetahuan (silahkan dikoreksi jika salah), berikut ini 3 (tiga) stanza lagu kebangsaan Indonesia Raya sesuai PP Nomor 44 Tahun 1958 tentang tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Berikut lyric per stanzanya :

Lagu Indonesia Raya secara Utuh terdiri atas 3 (tiga) Bait atau 3 (tiga) stanza.

Karena kita terbiasa menyanyikan lagu kebangsaaan Indonesia Raya hanya 1 stanza, kemungkinan diantara kita banyak yang lupa atau tidak tahu stanza ke 2 dan stanza ke 3 dari lagu Indonesia Raya.

Sekedar berbagi pengetahuan (silahkan dikoreksi jika salah), berikut ini 3 (tiga) stanza lagu kebangsaan Indonesia Raya sesuai PP Nomor 44 Tahun 1958 tentang tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Berikut lyric per stanzanya :

Bait / Stanza I

Indonesia tanah airku,

Tanah tumpah darahku,

Di sanalah aku berdiri,

Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku,

Bangsa dan tanah airku,

Marilah kita berseru,

Indonesia bersatu.

Hiduplah tanahku,

Hiduplah negriku,

Bangsaku, Rakyatku, semuanya,

Bangunlah jiwanya,

Bangunlah badannya,

Untuk Indonesia Raya.

Refrein

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Tanahku, neg’riku yang kucinta!

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Hiduplah Indonesia Raya.

Bait / Stanza II

Indonesia, tanah yang mulia,

Tanah kita yang kaya,

Di sanalah aku berdiri,

Untuk s’lama-lamanya.

Indonesia, tanah pusaka,

P’saka kita semuanya,

Marilah kita mendoa,

Indonesia bahagia.

Suburlah tanahnya,

Suburlah jiwanya,

Bangsanya, rakyatnya, semuanya,

Sadarlah hatinya,

Sadarlah budinya,

Untuk Indonesia Raya.

Refrein

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Tanahku, negriku yang kucinta!

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Hiduplah Indonesia Raya.

Bait / Stanza III

Indonesia, tanah yang suci,

Tanah kita yang sakti,

Di sanalah aku berdiri,

M’njaga ibu sejati.

Indonesia, tanah berseri,

Tanah yang aku sayangi,

Marilah kita berjanji,

Indonesia abadi.

Slamatlah rakyatnya,

Slamatlah putranya,

Pulaunya, lautnya, semuanya,

Majulah Negrinya,

Majulah pandunya,

Untuk Indonesia Raya.

Refrein

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Tanahku, negriku yang kucinta!

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Hiduplah Indonesia Raya.


  • 0

Mengenal Nomina dalam Bahasa Indonesia

Ririk Ratnasari

Widyaiswara Bahasa Indonesia

Nomina, dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai  Kata Benda. Nomina merupakan jenis kata yang dipergunakan untuk menujukkan kepada nama orang, nama benda atau sesuatu yang dibendakan baik yang bersifat nyata maupun abstrak. Sebagian besar perbendaharaan kata didominasi jumlahnya oleh kata benda.

Dalam sebuah kalimat bahasa Indonesia, kata benda bisa menduduki posisi sebagai subjek dan bisa pula menduduki posisi objek. Jika kata benda berlaku sebagai sesuatu yang diterangkan maka posisinya sebagai objek kalimat. Sebaliknya apabila kata benda menjadi yang menerangkan akan sesuatu maka posisinya berada sebagai subjek kalimat.

Jenis dan Penggunaan Kata Benda

Berdasarkan jenisnya kata benda dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan sbb:

  1. Kata benda konkret. Kata benda ini merujuk pada benda yang bentuknya dapat digambarkan atau dideskripsikan dengan pancaindera. Contoh: buku, pensil, sekolah, makanan, dll.
  2. Kata benda abstrak. Kata benda ini tidak dapat digambarkan atau dideskripsikan dengan pancaindera. Kata benda jenis ini biasanya dibentuk dari adanya proses afiksasi. Contohnya, kemerdekaan, kebebasan, kebahagiaan, tindakan, dan lain-lain.
  3. Kata benda kolektif. Kata benda yang mengandung arti kumpulan, koleksi, atau jumlah yang majemuk. Contohnya sekelompok manusia, hadirin, majelis, semua, dan lain-lain.
  4. Kata benda khusus. Kata benda jenis ini berkaitan dengan nama tertentu atau yang mewakili suatu entitas tertentu, penanda jenis kata benda ini diawali dengan huruf kapital, seperti nama orang (Difa, Dewi, Rudi, Desi, dll), nama negara (Indonesia, Jerman, Prancis, Arab, dll), nama tempat (Pangkal Pinang, Tanjung Layar, Selayar, Batu Mandi, dll), nama perusahaan/instansi (Garuda Indonesia, PPPPTK Bahasa, Uniliver, Google) dan sebagainya. Kata benda khusus disebut juga kata benda Nama Diri (Proper Noun).
  5. Kata benda umum (common noun). Kata benda umum disebut juga dengan kata benda nama jenis yang menjelaskan suatu kelas entitas. Contoh: salak bali, ubi jepang, kacang bogor, dll.
  6. Kata benda penjumlahan. Kata benda ini terbagi menjadi dua bagian, kata benda terhitung (buku, sepeda, kamus, lemari dan lain-lain ) dan kata benda tak terhitung (tepung, pasir, gula, garam dan lain-lain)

Berdasarkan proses morfologi, kata benda dibagi menjadi :

  1. i, pertanggungjawaban, dll. [RR]
  2. Kata benda dasar/akar. Nomina akar terdiri atas satu morfem akar, yang bersuku satu,dua, atau banyak. Contoh: radio, udara, kertas, dll.
  3. Kata benda turunan. Kata benda turunan dapat terjadi karena adanya proses-proses berikut:
    1. Afiksasi, contoh: kesatuan, penjualan, keuangan, dll.
    2. Reduplikasi, contoh: anak-anak, tetamu, pepatah, dll.
    3. Penggabungan proses, contoh: berkelanjutan, kekanak-kanakan, mobil-mobilan, dll.
  4. Kata benda paduan leksem. Nomina ini dibentuk dari adanya penggabungan dua leksem, misalnya: jejak langkah, loncat indah, sapu tangan, ibu kota, tukang jahit, dll.
  5. Nomina paduan leksem gabungan. Nomina ini dibentuk dari paduan leksim dan afiksasi, misalnya: pendayagunaan, kejaksaan tingg