Category Archives: Artikel Kebahasaan

  • 2

Program PBPU, Penguat Sebuah Kerjasama PPPPTK Bahasa dan IFI 2018

Elvira Ratna Sari
Widyaiswara Bahasa Prancis
PPPPTK Bahasa

Jakarta – Alhamdulillah, Sebuah rangkaian pelatihan Pengajar Bahasa Prancis Unggulan (PBPU) telah berhasil dilaksanakan di tiga kota di Indonesia yaitu Manado (LPMP Manado, 12-17 Maret), Yogyakarta (LPMP Yogya, 17-24 Maret) dan Medan (PAUDNI, 30 April-5Mei). Pelatihan PBPU ini berpola 55 jam pelajaran (JP @45 menit) selama 6 hari dan menghadirkan narasumber dari kedua lembaga kerjasama yaitu Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan bidang Bahasa (PPPPTK Bahasa) dan Institut de Français en Indonésie (IFI) sebagai mitra.

Pelatihan di tiga wilayah ini dibuka oleh Kepala PPPPTK Bahasa, ibu Dr. Luizah. F. Saidi, M.Pd. dan dihadiri di Yogyakarta oleh Madame Sara Camara sebagai Direktur IFI Yogyakarta, di Medan oleh Mlle. Anne-Lise sebagai Direktur AF Medan, serta kunjungan observasi PBPU di Medan oleh pihak IFI Jakarta, Monsieur François Roland-Gosselin sebagai Atase Kerjasama Bahasa Prancis Kedutaan Prancis di Indonesia.

Program PBPU merupakan bagian dari beberapa program kerjasama yang akan dilaksanakan pada tahun 2018 ini dimana Memorandum of Understanding (MoU)-nya telah ditandatangani di awal tahun ini. Program ini bukanlah program pertama kali, program ini telah diujicobakan di akhir tahun 2017 pada bulan September (11-14) dimana programnya masih berpola 32 JP saja. Setelah melalui evaluasi penyelenggara dari kedua belah pihak dan respon langsung dari peserta saat itu, maka kedua pihak PPPPTK Bahasa dan IFI bersepakat untuk menyelenggarakannya di tahun ini di tiga tempat tersebut.

Struktur program PBPU terdiri dari delapan modul (red- M1, M2, M3, M4, M5, M6, M7, dan M8) yang mengangkat kompetensi metodologi guru bahasa Prancis dan disampaikan dengan pengantar bahasa Prancis pada umumnya. Berikut tabel modul atau materi PBPU ini:

Peserta pelatihan ini total berjumlah 75 guru bahasa Prancis (@25 orang/kelas) yang dalam proses pembelajarannya mereka diinapkan dalam asrama yang terletak masih dalam lingkungan kelas pelatihan. Sehingga mereka dapat berdiskusi untuk memahami materi-materi PBPU dan menyelesaikan tugas yang diberikan agar tepat waktu.

Hasil pelatihan PBPU ini yang berupa akumulasi dari keseluruhan materi yang dipelajari adalah Fiche Pédagogique atau Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) lengkap dari masing-masing kelompok kecil terdiri dari 3-4 guru. Pada program ini, tim akademik PBPU bersepakat memfokuskan tugas akhir peserta pelatihan ini yaitu RPP dengan jenjang kelas berbeda, antara lain: PBPU Manado – RPP kelas X, PBPU Medan – RPP kelas XI, dan PBPU Yogyakarta – RPP kelas XII. Dengan terlaksananya PBPU ini dan terkumpulnya tugas akhirnya, Peserta diharapkan dapat meningkatkan kompetensi pedagogik mereka, baik pengetahuan (metode pengajaran) maupun keterampilan mengajar. Dan dari hasil kumpulan RPP ini, penyelenggara (PPPPTK Bahasa dan IFI) akan menindaklanjutinya dalam program penyusunan Buku Ajar Unggulan (BAU) di dalam tahun yang sama, 2018, Inshaallah.


  • 0

Artikel Bahasa Arab

Dedi Supriyanto

Widyaiswara Bahasa Arab
PPPPTK Bahasa

Kegiatan Bahasa Arab di Nusa Tenggara Timur


  • 0

  • 0

Lagu Indonesia Raya 3 Stanza

Mendikbud Akan Buat Surat Edaran, Lagu “Indonesia Raya” Dinyanyikan 3 Stanza

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy akan menerbitkan surat edaran ke seluruh sekolah. Surat edaran tersebut meminta agar lagu Indonesia Raya dinyanyikan secara utuh, yakni 3 stanza, ketika dilaksanakan upacara. “Kemendikbud akan mengeluarkan edaran agar di sekolah menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza,” kata Muhadjir di Kemendikbud, Jakarta, Kamis (3/8/2017). Menurut Muhadjir, pada awalnya, lagu Indonesia Raya dinyanyikan 3 stanza. Kemudian, keluar Keputusan Presiden (Keppres) yang menyatakan bahwa lagu Indonesia Raya dinyanyikan 1 stanza.

“Saya tidak tahu itu kenapa bisa jadi 1 stanza. Itu memang secara resmi, saya tidak tahu keppresnya tetap masih dipertahankan 1 stanza,” kata Muhadjir. Dia menilai perbedaan antara lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan 1 stanza memiliki efek rasa semangat yang berbeda ketika dinyanyikan 3 stanza. Muhadjir menganalogikannya dengan hasil foto. “Kalau 1 stanza ibaratnya foto setengah badan. Kalau 3 stanza foto penuh,” kata Muhadjir.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Mendikbud Akan Buat Surat Edaran, Lagu “Indonesia Raya” Dinyanyikan 3 Stanza”,

Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2017/08/03/18205071/mendikbud-akan-buat-surat-edaran-lagu-indonesia-raya-dinyanyikan-3-stanza.

Penulis : Fachri Fachrudin


Lagu Indonesia Raya secara Utuh terdiri atas 3 (tiga) Bait atau 3 (tiga) stanza.

Karena kita terbiasa menyanyikan lagu kebangsaaan Indonesia Raya hanya 1 stanza, kemungkinan diantara kita banyak yang lupa atau tidak tahu stanza ke 2 dan stanza ke 3 dari lagu Indonesia Raya.

Sekedar berbagi pengetahuan (silahkan dikoreksi jika salah), berikut ini 3 (tiga) stanza lagu kebangsaan Indonesia Raya sesuai PP Nomor 44 Tahun 1958 tentang tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Berikut lyric per stanzanya :

Lagu Indonesia Raya secara Utuh terdiri atas 3 (tiga) Bait atau 3 (tiga) stanza.

Karena kita terbiasa menyanyikan lagu kebangsaaan Indonesia Raya hanya 1 stanza, kemungkinan diantara kita banyak yang lupa atau tidak tahu stanza ke 2 dan stanza ke 3 dari lagu Indonesia Raya.

Sekedar berbagi pengetahuan (silahkan dikoreksi jika salah), berikut ini 3 (tiga) stanza lagu kebangsaan Indonesia Raya sesuai PP Nomor 44 Tahun 1958 tentang tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Berikut lyric per stanzanya :

Bait / Stanza I

Indonesia tanah airku,

Tanah tumpah darahku,

Di sanalah aku berdiri,

Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku,

Bangsa dan tanah airku,

Marilah kita berseru,

Indonesia bersatu.

Hiduplah tanahku,

Hiduplah negriku,

Bangsaku, Rakyatku, semuanya,

Bangunlah jiwanya,

Bangunlah badannya,

Untuk Indonesia Raya.

Refrein

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Tanahku, neg’riku yang kucinta!

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Hiduplah Indonesia Raya.

Bait / Stanza II

Indonesia, tanah yang mulia,

Tanah kita yang kaya,

Di sanalah aku berdiri,

Untuk s’lama-lamanya.

Indonesia, tanah pusaka,

P’saka kita semuanya,

Marilah kita mendoa,

Indonesia bahagia.

Suburlah tanahnya,

Suburlah jiwanya,

Bangsanya, rakyatnya, semuanya,

Sadarlah hatinya,

Sadarlah budinya,

Untuk Indonesia Raya.

Refrein

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Tanahku, negriku yang kucinta!

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Hiduplah Indonesia Raya.

Bait / Stanza III

Indonesia, tanah yang suci,

Tanah kita yang sakti,

Di sanalah aku berdiri,

M’njaga ibu sejati.

Indonesia, tanah berseri,

Tanah yang aku sayangi,

Marilah kita berjanji,

Indonesia abadi.

Slamatlah rakyatnya,

Slamatlah putranya,

Pulaunya, lautnya, semuanya,

Majulah Negrinya,

Majulah pandunya,

Untuk Indonesia Raya.

Refrein

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Tanahku, negriku yang kucinta!

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Hiduplah Indonesia Raya.


  • 0

Mengenal Nomina dalam Bahasa Indonesia

Ririk Ratnasari

Widyaiswara Bahasa Indonesia

Nomina, dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai  Kata Benda. Nomina merupakan jenis kata yang dipergunakan untuk menujukkan kepada nama orang, nama benda atau sesuatu yang dibendakan baik yang bersifat nyata maupun abstrak. Sebagian besar perbendaharaan kata didominasi jumlahnya oleh kata benda.

Dalam sebuah kalimat bahasa Indonesia, kata benda bisa menduduki posisi sebagai subjek dan bisa pula menduduki posisi objek. Jika kata benda berlaku sebagai sesuatu yang diterangkan maka posisinya sebagai objek kalimat. Sebaliknya apabila kata benda menjadi yang menerangkan akan sesuatu maka posisinya berada sebagai subjek kalimat.

Jenis dan Penggunaan Kata Benda

Berdasarkan jenisnya kata benda dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan sbb:

  1. Kata benda konkret. Kata benda ini merujuk pada benda yang bentuknya dapat digambarkan atau dideskripsikan dengan pancaindera. Contoh: buku, pensil, sekolah, makanan, dll.
  2. Kata benda abstrak. Kata benda ini tidak dapat digambarkan atau dideskripsikan dengan pancaindera. Kata benda jenis ini biasanya dibentuk dari adanya proses afiksasi. Contohnya, kemerdekaan, kebebasan, kebahagiaan, tindakan, dan lain-lain.
  3. Kata benda kolektif. Kata benda yang mengandung arti kumpulan, koleksi, atau jumlah yang majemuk. Contohnya sekelompok manusia, hadirin, majelis, semua, dan lain-lain.
  4. Kata benda khusus. Kata benda jenis ini berkaitan dengan nama tertentu atau yang mewakili suatu entitas tertentu, penanda jenis kata benda ini diawali dengan huruf kapital, seperti nama orang (Difa, Dewi, Rudi, Desi, dll), nama negara (Indonesia, Jerman, Prancis, Arab, dll), nama tempat (Pangkal Pinang, Tanjung Layar, Selayar, Batu Mandi, dll), nama perusahaan/instansi (Garuda Indonesia, PPPPTK Bahasa, Uniliver, Google) dan sebagainya. Kata benda khusus disebut juga kata benda Nama Diri (Proper Noun).
  5. Kata benda umum (common noun). Kata benda umum disebut juga dengan kata benda nama jenis yang menjelaskan suatu kelas entitas. Contoh: salak bali, ubi jepang, kacang bogor, dll.
  6. Kata benda penjumlahan. Kata benda ini terbagi menjadi dua bagian, kata benda terhitung (buku, sepeda, kamus, lemari dan lain-lain ) dan kata benda tak terhitung (tepung, pasir, gula, garam dan lain-lain)

Berdasarkan proses morfologi, kata benda dibagi menjadi :

  1. i, pertanggungjawaban, dll. [RR]
  2. Kata benda dasar/akar. Nomina akar terdiri atas satu morfem akar, yang bersuku satu,dua, atau banyak. Contoh: radio, udara, kertas, dll.
  3. Kata benda turunan. Kata benda turunan dapat terjadi karena adanya proses-proses berikut:
    1. Afiksasi, contoh: kesatuan, penjualan, keuangan, dll.
    2. Reduplikasi, contoh: anak-anak, tetamu, pepatah, dll.
    3. Penggabungan proses, contoh: berkelanjutan, kekanak-kanakan, mobil-mobilan, dll.
  4. Kata benda paduan leksem. Nomina ini dibentuk dari adanya penggabungan dua leksem, misalnya: jejak langkah, loncat indah, sapu tangan, ibu kota, tukang jahit, dll.
  5. Nomina paduan leksem gabungan. Nomina ini dibentuk dari paduan leksim dan afiksasi, misalnya: pendayagunaan, kejaksaan tingg

  • 1

Pemanfaatan Teknologi dalam Pembelajaran Bahasa Prancis Leçon Zéro

Siti Nurhayati

Widyaiswara Bahasa Prancis

PPPPTK Bahasa

 

Pengantar

Secara harfiah “leçon zero” diartikan “pelajaran nol”, merujuk pada pembelajaran tahap paling awal yanga guru dan peserta didik baru bertatap muka dan kesempatan awal untuk berkenalan, menjalin kedekatan dengan apa yang akan dipelajari. Dalam pembelajaran bahasa Prancis, fase ini dikenal dengan istilah leçon zero. Pertemuan pertama dalam pembelajaran bahasa Prancis sama halnya dengan “permulaan kehidupan. ”Pada tahap ini peserta didik belum mempunyai pengetahuan apapun tentang bahasa Prancis, misalnya sistem pelafalan ujaran dan struktur kalimat; meskipun tanpa disadari beberapa kosakata dalam bahasa Indonesia mirip dengan kosakata bahasa Prancis, misalnya restoran = restaurant, cafe = café, universitas = université, aktivitas = activité. Dalam konteks pembelajaran di Indonesia, guru berhadapan dengan peserta didik pada level pemula murni (débutant complet). Artinya, bekal awal tentang bahasa Prancis mereka masih minim atau baru belajar bahasa Prancis untuk kali pertama. Leçon zero adalah momen yang guru “menjual” bahasa Prancis dalam kemasan semenarik mungkin sehingga peserta didik termotivasi untuk mempelajarinya. Tulisan ini berkenaan dengan pemanfaatan teknologi dalam momen leçon zéro.

 

Pemanfaatan Teknologi dalam Fase Leçon Zéro

Pada fase ini ada tiga aspek yang penting untuk diperkenalkan yaitu aspek lisan, tertulis, dan budaya. Aspek lisan memperdengarkan ujaran dari beberapa bahasa tanpa mencari maknanya. Tujuannya adalah mengenali atau menebak bunyi-bunyi bahasa Prancis sebagai langkah awal guru untuk memperkenalkan bahasa Prancis, membiasakan siswa dengan lafal dan intonasi bahasa Prancis dan situasi komunikasi ujaran tersebut, misalnya siapa yang berbicara, laki-laki atau perempuan atau anak-anak. Aspek tertulis menunjukkan wacana pendek dari beberapa bahasa untuk menemukan pola tulisan dalam bahasa Prancis. Aspek budaya memperkenalkan ikon-ikon yang berkaitan dengan Prancis dan sudah dikenal oleh siswa misalnya menara Eiffel, sungai Seine, TGV, YvesSaintLorent, Lafayette, Louvre, Croissant, dan Peugeot.

Suka atau tidak saat ini kita sedang berada dalam pusaran gelombang perubahan teknologi informasi sebagaimana dikatakan John Naisbit. Gelombang ini tidak terhindarkan dan memengaruhi dunia pendidikan. Respons guru terhadap gelombang perubahan tersebut adalah memanfaatkannya sebagai wahana transformasi yang mendukung pembelajaran, dalam arti menjadi gudang ilmu pengetahuan. Peran teknologi dalam hal ini adalah sebagai alat untuk memungkinkan terjadinya pembelajaran sehingga teknologi merupakan sarana untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri. Kehadiran teknologi juga tidak berarti menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas, tetapi memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan isi atau materi dan pengembangan teknologi pendidikan.

Inti dari pembelajaran berbasis teknologi adalah keterkaitan tiga komponen utama, yakni isi atau materi, pedagogi, dan teknologi. Interaksi ketiga komponen tersebut dalam pembelajaran menghasilkan teknologi pembelajaran yang lebih bervariasi dan berkualitas. Pada akhirnya ketiga komponen tersebut terangkai dalam kerangka TPACK (technology, pedagogy, and content knowledge). Kerangka TPACK yang digulirkan dalam Shulman (1987, 1986) mendeskripsikan bagaimana guru memahami teknologi dalam pembelajaran dan PCK (pedagogy content knowledge) saling berinteraksi sehingga menghasilkan pembelajaran yang efektif. Diagram di bawah ini menjelaskan proses keterkaitan itu.

Di bawah ini contoh model pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran bahasa Prancis fase pemula pada leçon zero.

  1. Tujuan pembelajaran: memperkenalkan ujaran atau sapaan dasar dalam bahasa Prancis .

2. Tujuan pembelajaran: mengidentifikasi ujaran bahasa Prancis di samping ujaran bahasa lain

3. Tujuan pembelajaran: memperkenalkan sapaan, ungkapan perkenalan dengan versi cepat dan lambat dibantu terjemahan dalam bahasa Inggris.

4. Tujuan pembelajaran: memperkenalkan ujaran sederhana dalam bahasa Prancis melalui lagu.

5. Tujuan pembelajaran: memperkenalkan ungkapan salam.

Penutup

Penggunaan teknologi dalam pembelajaran adalah tuntutan zaman. Pemilihan teknologi yang tepat akan menghasilkan pembelajaran yang berkualitas. Pemanfaatan teknologi dalam leçon zero diharapkan memotivasi siswa dalam mengenal dan mempelajari bahasa Prancis dengan cara yang menarik, menantang, dan memenuhi tuntutan rasa ingin tahu mereka sesuai tahapan usia remaja. Tak dapat dimungkiri bahwa kelemahan penggunaan teknologi adalah tuntutan pemenuhan sarana dan prasarana yakniadanya koneksi internet yang stabil, headset/speaker dan komputer personal atau komputer jinjing. Faktor yang tak kalah penting adalah kualitas literasi komputer di kalangan guru, yakni pengetahuan dan kemampuan guru dalam menggunakan komputer dan teknologi. Akhirnya pantas direnungkan penyataan Ray Clifford dari Defense Language Institute, “Computers will not replace teachers. However, teachers who use computers will replace teachers who don’t.” [ ]


  • 0

KELAS KEMAHIRAN MENULIS DALAM DIKLAT PENINGKATAN SKOR TOEFL

Gunawan Widiyanto

Widyaiswara Bahasa Inggris

PPPPTK Bahasa

 

 

Kemahiran berbahasa asing merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh pelamar beasiswa, utamanya beasiswa luar negeri. Disadari, nama bahasa asing itu tidak jarang berkaitan rapat dengan negara yang hendak dituju oleh pelamar beasiswa. Sebagai misal, bagi yang hendak melanjutkan pendidikan lanjut ke Korea, pelamar dipersyaratkan mengikuti uji kemahiran berbahasa Korea dengan menempuh TOPIK (Test of Proficiency in Korean). Bagi yang hendak belajar ke Australia, uji kemahiran berbahasa Inggris IELTS adalah syarat yang diminta oleh pemberi beasiswa. Bagi warga negara asing yang hendak belajar di Indonesia pun, disyaratkan menempuh UKBI, uji kemahiran berbahasa Indonesia. Negara-negara yang bahasa resminya Arab tentu juga mensyaratkan TOAFL bagi calon penerima beasiswa. Demikian pula, bagi yang hendak belajar ke Eropa dan Amerika, mengikuti TOEFL dengan capaian skor tertentu menjadi kenyataan yang niscaya dan tidak terelakkan. Berbicara tentang TOEFL jelas akan menyinggung sentuh bidang kemahiran yang diujikan di dalamnya. Format bidang uji dalamnya misalnya, pada awalnya hanya mencakupi tiga kemahiran dan pengetahuan yang diujikan, yakni (1) pemahaman menyimak (listening comprehension), (2) struktur dan ungkapan tulis (structure and written expression), dan (3) pemahaman bacaan (reading comprehension).

Seiring dengan perkembangan teknologi dan kondisi kekinian, format TOEFL pun menyesuaikan. Penyesuaian itu merambah baik jenisnya maupun bidang yang diujikan. Jenisnya tidak hanya berformat manual berbasis kertas (paper-based) tetapi juga berbasis internet (internet-based). Bidang kemahiran yang diujikan pun mencakupi menulis (writing) juga. Berkenaan dengan kemahiran menulis, penulis pernah diberi amanat akademik untuk mengampu kelas menulis dalam diklat peningkatan skor TOEFL yang diselenggarakan atas kerja sama antara PPPPTK Bahasa dan Yayasan Insancita Bangsa. Peserta diklat itu adalah calon penerima beasiswa luar negeri. Hemat penulis sebagai pengampu kelas kemahiran menulis saat itu, ada tiga hal yang menjadi titik tekan dalam kelas pembelajaran kemahiran ini. Tigahal inilah yang hendak penulis kongsi (share) dengan pembaca melalui tulisan ini.

Pertama, tugas menulis sebagai pekerjaan utama dalam kelas menulis penulis bagi menjadi tiga jenis sesuai dengan tiga periodisasi waktu pembelajaran, yakni awal, tengah, dan akhir. Tugas menulis pertama pada awal kelas bertujuan menjajaki dan mengetahui kemampuan dasar menulis peserta. Tugas ini bersifat individual dengan topik yang sama untuk semua peserta. Jadi, topik diberikan oleh penulis (pengampu). Dalam proses penulisan ini, topik memang jelas sama bagi semua peserta, tetapi cara mengungkapkan gagasan dan menuangkannya dalam bentuk tulisan jelas berbeda karena setiap peserta pasti memiliki personalisasi pengalaman dan rencana menulis yang berbeda. Setelah direvisi olehpengampu, tugas itu dikembalikan kepada peserta untuk diperbaiki sesuai masukan dan umpan balik dari pengampu. Dari revisi itulah diskusi mengemuka hingga sampailah pada bahasan materi teoretis mengenai proses pertama penulisan, yakni prapenulisan (pre-writing). Pertanyaan utama yang dilontarkan pengampu kepada forum adalah hal-hal apa sajakah yang dilakukan peserta diklat sebelum mulai menulis.

Tugas menulis keduapada pertengahan kelas menulis bersifat kelompok yang beranggotakan dua hingga tiga peserta dan bertujuan agar anggota kelompok bisa saling bertukar pikiran untuk memperkaya gagasan yang akan dituangkan dalam tulisan. Bagaimanapun, dalam tubuh setiap tulisan diperlukan banyak gagasan pendukung, dan gagasan pendukung sangat potensial bisa diperoleh dari hasil diskusi untuk saling memberi masukan dalam bentuk kelompok. Dalam penulisan tugas kelompok ini, peserta diberi dua opsi berkenaan dengan topik yang akan diusung. Opsi pertama adalah bahwa peserta bisa memilah, memilih, dan mengambil topik dari buku TOEFL. Opsi kedua adalah bahwa peserta diberi keleluasaan dan kebebasan untuk mencari dan menentukan topik sendiri di luar buku TOEFL, kendati tetap disarankan agar peserta mengambil topik tulisan dari buku TOEFL. Sebagaimana tugas menulis pertama, setelah dikoreksi; hasil revisi menulis dikembalikan kepada kelompok untuk diperbaiki berdasarkan masukan dan saran pengampu. Setelah itu, dibentangkan paparan teoretis mengenai proses kedua dalam penulisan, yakni hal-hal yang perlu dilakukan tatkala menulis (while-writing).

Sebelum memasuki tahap menulis ketiga atau terakhir, peserta diajak berdiskusi tentang proses ketiga penulisan, yakni pascapenulisan (post-writing) dengan pertanyaan utama adalah langkah apa saja yang perlu diayunkanusai menulis. Tugas menulis ketiga menjelang akhir kelas menulis kembali berformat individual. Idealnya, hasil karya penulisan akan optimal manakala tema tulisan bertali-temali dengan wilayah yang diminati, ditekuni, dan dikecimpungi oleh si penulis. Untuk mencapai atau minimal mendekati hal yang ideal itu, topik tulisan diserahkan sepenuhnya kepada para peserta diklat, yang datang dari berbagai disiplin ilmu. Tentunya, hasil karya penulisan peserta diharapkan bisa memperlihatkan kerangka berpikir yang sistematis dan pola penulisanyang tertata apik (well formed), yakni (a) pengantar atau pendahuluan, yang berisi satu atau beberapa paragraf pendahuluan (introductory paragraphs), (b) tubuh atau isi, yang mengandung beberapa paragraf pendukung (supporting paragraphs), dan (c) penutup atau simpulan, yang berisi paragraf penutup atau penyimpul (concluding paragraph).

Kedua, skema penilaian terhadap hasil kerja tulis (written work) berbasis pada lima butir penilaian dengan alokasi persentil (percentile allotment) seratus. Kelima butir penilian itu adalah (1) konten dan pengelolaan topik dengan alokasi 30 persen, (2) penataan gagasan yang mencakupi pengembangan alinea, kejelasan, kohesi, dan koherensi dengan jatah 25 persen, (3) tata bahasa yang meliputi kala, kesesuaian, struktur, dan tata urutan kata dengan alokasi 25 persen, (4) pemakaian kosakata dengan alokasi 10 persen, dan (5) pungtuasi atau ejaan dengan alokasi 10 persen.

Ketiga, secara umum, kemahiran menulis sepatutnya menjadi kemahiran paling sulit untuk diajarkan di antara keempat kemahiran berbahasa karena kemahiran ini secara karakteristik tidak hanya menghasilkan rekaman nyata atau bukti fisik (tangible records) yang menghendaki adanya perbaikan hasil kerja tulis secara berulang dan tak terbilang; tetapi juga mengandung keakuratan teknis dan kefasihan artistik. Pengalaman penulis setakat ini, kemahiran menulis juga menjadi sebuah kegiatan yang mengambil banyak masa (time consuming) untuk diajarkan. Betapa tidak, kelas kemahiran menulis dengan 20 peserta yang masing-masing menghasilkan karya akademik tiga hingga empat halaman bisa bermakna kerja tiada akhir dalam pembetulan, pemberian maklum balas (feedback), dan konsultasi individual. Di luar sesi kelas pembelajaran pun, penulis menyediakan diri dan membuka konsultasi bagi peserta selama proses menulis dari memilih topik hingga menyelesaikan (memoles) hasil kerja peserta.

Yang tidak kalah penting dan bahkan yang terutama, jika penulis boleh memberikan sumbang saran kepada pembaca; seorang pengampu kelas menulis seyogianya memiliki contoh tulisan hasil karya sendiri. Dengan demikian, ia tidak hanya berkecimpung dalam wilayah teoretis semata dengan hanya mengajar menulis. Idealisasinya memang, pengampu kelas kemahiran menulis minimal sudah menghasilkan (beberapa atau banyak) karya tulis, bahkan apabila perlu sudah terlatih menulis, sesederhana apapun hasil tulisan itu. Bagaimanapun, kemahiran menulis tidak sebatas memerlukan skema konseptual dan kerangka kerja teoretis tentang tata cara menulis belaka. Penerapan teori itu ke dalam praktik menulis secara nyata hingga berwujud hasil kerja tulis sebagai bukti fisik jauh lebih penting. Dan, menulis adalah persoalan keberlatihan secara berterusan hingga seseorang menjadi terlatih. [ ]


  • 4

SEKILAS TENTANG LANSKAP LINGUISTIK

Gunawan Widiyanto

Widyaiswara Bahasa Inggris

PPPPTK Bahasa

 

Di manapun Anda berada di jagat ini, baik di wilayah privat maupun publik, tidak bisa dimungkiri bahwa Anda juga hampir senantiasa akan terpajankan dengan pemakaian suatu bahasa. Secara lebih spesifik dan nyata,  bahasa itu dipakai dalam penamaan kedai, produk-produk di pasar swalayan, gedung, menu, grafiti, bandara, transportasi umum, pusat belanja, maklumat, poster iklan, dan papan reklame. Pemakaian bahasa dalam wilayah publik ini menjadi fokus kajian Lanskap Linguistik (LL), sebuah disiplin yang relatif masih baru dan merupakan gabungan dari disiplin akademis seperti Linguistik Terapan, Sosiolinguistik, Antropologi, Sosiologi, Psikologi, dan Geografi Kultural. Istilah Linguistik Lanskap kali pertama digunakan oleh Landry and Bourhis dalam makalahnya pada 1997, yang membatasinya sebagai bahasa untuk tanda jalan umum, papan reklame, nama jalan dan tempat, nama kedai, nama bangunan pemerintah dalam sebuah kelompok daerah, wilayah, atau kota. Selanjutnya Shohamy and Gorter (eds.2009) memperluas cakupan tentang LL ini ke bahasa dalam lingkungan, kata, dan citra yang dipajang di ruang publik dan menjadi pusat perhatian di suatu wilayah yang pesat bertumbuh kembang. Dalam kajian lain, Dagenais, Moore, Sabatier, Lamarre and Armand (2008) memperkenalkan gagasan LL dengan kekata  environmental print,  yakni perkotaan sebagai teks. Maknanya, karena bahasa banyak dipakai di ruang publik wilayah urban; wilayah itu dianggapnya sebagai teks yang layaknya penuh dengan ingar-bingar pemakaian bahasa.

Sebagian besar kajian LL pada dasarnya bersifat sosio-ekonomis, dalam arti bahwa ia mencari korelasi antara pemakaian bahasa tertentu di sebagian wilayah perkotaan dan standar hidup di wilayah itu pada umumnya. Sudah umum disepakati bahwa pemakaian bahasa dalam LL terangkum ke dalam dua kategori, yakni pemakaian bahasa secara atas-bawah (top-down) dan pemakaian bahasa secara bawah-atas (bottom-up). Kategori atas-bawahmencakupi pemakaian bahasa pada papan tanda umum yang dibuat oleh badan atau lembaga pemerintah, lembaga publik yang mengurusi persoalan agama, pemerintahan, kesehatan, pendidikandan kebudayaan, papan tanda nama jalan, dan maklumat umum; sedangkan kategori bawah-atas meliputi pemakaian bahasa oleh pemilik kedai/toko (pakaian, makanan, perhiasan), kantor/pabrik/agen swasta, maklumat pribadi (sewa/jual mobil/rumah) termasuk iklan lowongan kerja. Rentang diagonal dari kategori pertama hingga kategori kedua itu menunjukkan derajat seberapa resmi dan tak resmi dipakaianya sebuah bahasa, sebagaimana dinyatakan oleh Ben-Rafael, Shohamy, Amara and Trumper-Hecht (2006).

Sesuai namanya, LL sungguh sosiosimbolis dan merupakan panorama bahasa  yang dibentangkan untuk dilihat, baik di  jalan dan sudut jalan, taman, maupun gedung; yang semua itu merupakan tempat berlangsungnya kehidupan publik masyarakat. Dengan sifat yang demikian itu, ia menjadi emblem (simbol) masyarakat, komunitas, dan wilayah. Bagi Ben-Rafael, Shohamy, Amara dan Trumper-Hecht (2006),  LL dianggap penting karena ia tidak menggambarkan latar belakang dan potret kehidupan sehari-hari kita semata, tetapi juga merupakan sumber pembelajaran bahasa yang bernilai. Ia juga membentuk cara kita berinteraksi sebagai anggota masyarakat dan memberi  kita identitas. Dan yang utama, ia berada di manapun dan terbuka serta bebas biaya bagi siapapun. [ ]

Sumber: Shohamy, Elena and Durk Gorter (eds). 2009. Linguistic Landscape: Expanding the Scenery. New York: Routledge.

 


  • 0

Mengapa Bahasa Jerman?

Hanifa Hairuli

Widyaiswara Bahasa Jerman

PPPPTK Bahasa

 

 

Awalnya tak pernah terlintas dalam benak penulis untuk apa belajar bahasa Jerman. Yang ada dalam benak penulis hanyalah bagaimana penulis menguasai bahasa Inggris, salah satu bahasa Barat yang dicanangkan sebagai bahasa internasional dan masuk dalam mata pelajaran wajib di sekolah. Namun, kenyataan berkehendak lain, saat mengikuti tes penelusuran minat dan kemampuan (PMDK) di Sekolah Menengah Atas, penulis menjatuhkan pilihan jurusan pada bahasa Jerman karena bahasa Inggris yang sejatinya menjadi minat penulis memiliki lebih dari satu peminat. Hal ini juga penulis lakukan untuk mengurangi “saingan” dan mengharapkan tersedianya banyak peluang kerjasama antara pemerintah Indonesia dan Jerman ketika era kepemimpinan Presiden BJ Habibie saat itu. Memang ternyata tidak ada ilmu yang sia-sia. Sekarang bahasa Jerman benar-benar berguna dalam mendukung pekerjaan yang penulis geluti saat ini. Perasaan bangga pun menyelinap ketika penulis membaca sebuah artikel di harian Kompas edisi daring pada 2 April 2013, bahwa belajar bahasa asing kini menjadi tren tersendiri di Indonesia.

Tak cukup hanya menguasai bahasa Inggris, banyak orang, dari anak-anak hingga dewasa mulai membekali diri dengan bahasa asing lain, salah satunya bahasa Jerman. Bahasa ini merupakan salah satu dari sepuluh bahasa yang patut dipilih dan berguna untuk dipelajari berdasarkan hasil survei CBI Education & Skills Survey 2012.

Mengapa?
Sedikitnya ada delapan alasan mengapa bahasa Jerman bermanfaat dipelajari. Pertama, bahasa ini menjadi sangat penting karena banyaknya pelajar maupun mahasiswa yang memilih untuk belajar di negara ini. Selain biaya pendidikan yang murah, suasana beberapa kota yang ada di Jerman cukup mendukung. Tak hanya itu, negara ini banyak menawarkan beasiswa dan kesempatan magang bagi mahasiswa dari luar Jerman sehingga kemampuan bahasa Jerman tentu menjadi yang utama.

Kedua, bahasa Jerman adalah bahasa yang penting dalam komunikasi internasional. Lebih dari 101 juta orang di dunia berbahasa Jerman, sekitar 20 juta orang di seluruh dunia mempelajari bahasa ini. Di Eropa bahasa Jerman merupakan bahasa ibu bagi 100 juta orang, tidak hanya di Jerman, tetapi juga di Austria, Swiss, Luxemburg, dan Liechtenstein. Hal ini menempatkan bahasa Jerman di antara 12 bahasa paling umum dipakai di dunia, yakni 2,1% dari populasi dunia. Di Eropa bahasa Jerman adalah bahasa ibu yang paling luas digunakan.

Ketiga, bahasa Jerman adalah bahasa penting dalam perdagangan. Jerman adalah negara pengekspor utama di dunia dan memiliki ekonomi yang kuat dan mitra industri dan perdagangan paling penting bagi Indonesia di Uni Eropa. Dalam sepuluh tahun terakhir, bahasa Jerman telah menjadi basantara regional (regional lingua franca) di negara-negara Eropa Tengah dan Timur. Karena kemampuan lintas budaya merupakan kualifikasi kunci untuk bisnis yang sukses saat ini, kecakapan bahasa Jerman membantu Anda membuka pasar baru dan menjadi sukses di bisnis global dan di pasar tenaga kerja internasional.

Keempat, bahasa Jerman menempati kedudukan kuat dalam pengetahuan dan sastra. Bahasa Jerman sebagai bahasa pengetahuan dan teknologi memainkan peran penting dalam penelitian dan pendidikan. Pada abad 19 bahasa Jerman sebagai bahasa pengetahuan dan sastra menduduki posisi penting di dunia, lebih penting dari bahasa Perancis dan dalam hal tertentu bahasa Inggris. Saat ini bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang dominan untuk pengetahuan dan sastra. Namun, dalam jaringan kerjasama internasional dan lintas disiplin di tingkat global bahasa Jerman masih banyak dipakai. Masyarakat Jerman modern mendasarkan diri pada pengetahuan karena pengetahuan dan penelitian menempati kedudukan kuat dalam kehidupan umum di Jerman.

Kelima, bahasa Jerman sebagai bahasa kebudayaan membuka wawasan intelektual. Kebudayaan Jerman mewujudkan diri dalam berbagai bentuk, dari sastra dan musik, teater dan film hingga ke arsitektur, lukisan, filosofi, dan seni. Pengetahuan bahasa Jerman memungkinkan Anda mengenal satu dari kebudayaan besar Eropa dalam bentuk aslinya. Di bidang sastra ada Goethe, Schiller, Kafka, dan Grass. Di jagat musik ada Bach, Mozart, Beethoven, dan Wagner. Di dunia filosofi ada Luther, Kant, Schopenhauer, dan Nietzsche. Di bidang psikologi terdapat Freud, Adler, dan Jung. Bagi yang menggeluti dunia penelitian dan pengetahuan, tentu tidak asing dengan sederet nama seperti Kepler, Einstein, Röntgen, dan Planck. Ini bisa bermakna, bahasa Jerman adalah bahasa bagi pemikir-pemikir besar.

Keenam, bahasa Jerman membuka pintu ke perkuliahan di universitas Jerman. Meskipun kuliah internasional di universitas Jerman memungkinkan Anda belajar tanpa pengetahuan bahasa Jerman, penguasaan bahasa Jerman tentu saja lebih menguntungkan bagi Anda. Jika kuliah internasional tidak tersedia, Anda harus membuktikan bahwa Anda memiliki kemampuan bahasa Jerman yang memadai sebelum memulai kuliah. Oleh karena itu, penguasaan bahasa memberikan pilihan kuliah yang lebih luas.

Ketujuh, bahasa Jerman meningkatkan kesempatan Anda mendapatkan pekerjaan. Patut diketahui, perusahaan Jerman di Indonesia dan perusahaan asing di Jerman mencari ahli yang berpengetahuan bahasa Jerman. Di Uni Eropa terdapat kesempatan pelatihan, studi dan pekerjaan yang menarik bagi para ahli yang berpengetahuan bahasa Jerman.

Kedelapan, bahasa Jerman penting untuk bidang pariwisata. Indonesia adalah tujuan wisata populer. Banyak turis dari Jerman, Austria, dan Swiss berpergian ke Indonesia. Bagi mereka yang bekerja di industri pariwisata, kemampuan bahasa Jerman merupakan investasi yang bagus. [ ]


  • 0

Kelakar Zaskia Gotik

Ening Herniti
Fakultas Adab dan Ilmu Budaya
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

 

Pengantar
Peribahasa “Mulutmu adalah harimaumu” seper­tinya tidak lekang oleh waktu. Peribahasa tersebut berarti segala perkataan yang telanjur diucapkan apabila tidak dipikirkan dahulu dapat merugikan diri sendiri. Peribahasa tersebut rupanya terjadi pada artis kelahiran Bekasi, Zaskia Gotik. Kelakar Zaskia Gotik, yang bernama asli Surkianih, banyak menuai kontroversi. Dikatakan demikian karena ada beberapa orang yang membela kelakarnya, tetapi tidak sedikit yang mengecamnya. Bahkan, ia sampai diperkarakan secara hukum. Kelakar Zaskia dalam acara musik pagi pada salah satu televisi swasta episode Selasa tanggal 15 Maret 2016 tidak pada tempatnya. Kelakarnya menyangkut hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan lambang negara. Ia berkelakar bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia adalah tanggal 32 Agustus dan lambang sila kelima Pancasila adalah ‘bebek nungging’.
Karena kelakarnya ditayangkan pada acara televisi swasta nasional, keironisan kelakarnya dapat disaksikan oleh masyarakat luas. Televisi sebagai media massa berfungsi memberikan informasi, hiburan, dan pendidikan (Thomas, 2007:79). Jika kemudian fungsi tersebut berubah menjadi bumerang, ada beberapa tayangan yang harus dikaji ulang. Hampir tiap hari masyarakat disuguhi dengan kelakar. Tulisan ini mengkaji kelakar itu dengan menggunakan delapan unsur komunikasi yang dicanangkan Dell Hymes.

Kelakar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kelakar didefinisikan sebagai perkataan yang bersifat lucu untuk membuat orang tertawa (gembira); lawak; olok-olok; senda gurau (Depdiknas, 2012:651). Dalam pragmatik, kelakar (banter) adalah cara menyinggung pera­saan untuk beramah tamah (mock-impoliteness) (Leech, 1993: 228). Lebih lanjut, Leech menandaskan bahwa kelakar atau dalam pragmatik disebut prinsip kelakar, sering dimanifestasikan dalam percakap­an yang santai, khususnya di antara anak muda. Ia juga menjelaskan bahwa prinsip kelakar berfungsi menunjukkan solidaritas de­ngan petutur (t) sehingga prinsip ini dapat di­nyatakan “katakanlah sesuatu kepada t yang jelas tidak benar dan jelas tidak santun” (Leech, 1993:228).

Karena kelakar dimaksudkan untuk keakraban dan dalam situasi santai, kelakar harus kelihatan tidak serius. Tentunya kelakar tidak ditujukan kepada orang yang belum kenal atau tidak akrab karena akan menimbulkan hal sebaliknya, misalnya, tersinggung atau marah. Kelakar juga tentunya tidak menyangkut hal yang sifatnya sensitif. Kelakar biasanya ditujukan kepada sesama komunitas internal, yakni sesama anggota komunitas tersebut. Jika kemudian kelakar ditujukan kepada khalayak umum, kelakar harus benar-benar hati-hati agar tidak menyinggung atau menghina pihak lain. Tujuan kelakar di televisi adalah untuk menghibur, baik penonton di studio maupun pemirsa di rumah. Namun, kelakar yang tidak semestinya bisa berefek sebaliknya.

Kelakar Zaskia Gotik dan SPEAKING Hymes
Banyaknya kecam­an dan kritikan atas kelakar Zaskia Gotik meng­isyaratkan bahwa Zaskia kurang dapat berkomunikasi de­ngan baik. Dalam berkomunikasi atau dalam penggunaan bahasa setidaknya harus diperhatikan delapan unsur seperti yang dicanangkan oleh Dell Hymes (Wardhaugh, 1988:238—240). Kedelapan unsur tersebut terangkum dalam suatu akronim dalam bahasa Inggris “SPEAKING”, yakni S(etting and Scene), P(articipants), E(nds) (purpose and goal), A(ct sequences), K(ey) (tone or spirit of act), I(nstrumentalities), N(orms of interaction and interpretation), dan G(enres).

Setting berkaitan dengan latar tempat, waktu, budaya, dan lingkungan fisik konkret tempat tuturan berlangsung. Tuturan Zaskia terjadi pada salah satu televisi swasta nasional. Menurut Morissan (2014: 240), televisi nasional memiliki daya jangkau luas sehingga siaran televisi sudah dapat dinikmati oleh berbagai kelompok masyarakat. Oleh karena itu, daya jangkau yang demikian luas tetap harus memerhatikan budaya Indonesia. Kelakar yang dilontarkan oleh Zaskia hendaknya tetap memerhatikan budaya Indonesia yang menjunjung tinggi lambang negara Republik Indonesia. Scene berkenaan dengan situasi psikologis pembicaraan, dalam arti bahwa acara tersebut disiarkan secara langsung sehingga penutur yang kurang berhati-hati akan mudah tergelincir pada kekeliruan. Participants atau peserta tutur meliputi pembicara dan pendengar. Pembicara atau penutur adalah Zaskia Gotik, sedangkan pendengar atau mitra wicara adalah seluruh masyarakat Indonesia yang menonton acara tersebut. Oleh karena itu, penonton dapat berasal dari ber­bagai golongan usia maupun profesi. Jika yang menonton adalah anak-anak, dikhawa­tirkan mereka akan meniru hal yang keliru atau salah tersebut.

Ends merujuk pada maksud dan tujuan pertuturan. Tujuan tuturan Zaskia tentunya adalah bergurau atau berkelakar. Act sequence mengacu pada bentuk ujaran dan isi ujaran. Bentuk ujaran berkaitan dengan kata-kata yang digunakan, cara menggunakannya, dan hubung­an antara apa yang dikatakan dan topik pembicaraan. Kata-kata yang digunakan adalah kesalahan dalam menyatakan bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia adalah tanggal 32 Agustus. Padahal, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia adalah tanggal 17 Agustus yang setiap tahunnya diperingati oleh seluruh rakyat Indonesia. Tuturan tersebut dilontarkan dengan maksud bercanda agar penonton di studio tertawa atau pemirsa di rumah merasa terhibur. Kelakar Zaskia sebenarnya tidak menjawab dengan benar pertanyaan yang diutarakan oleh penanya.

Key atau warna emosi penutur mengacu pada nada, cara, dan semangat suatu pesan disampaikan. Pesan yang di­sampaikan memiliki nada bercanda. Instrumentalities atau sarana mengacu pada jalur bahasa yang digunakan, yakni media massa televisi. Menurut Soemandoyo (1999: 22), secara sosiologis televisi menjadi alat untuk menyampaikan nilai-nilai tertentu pada masyarakat. Dari dimensi teknologi, televisi memiliki keunggulan, yakni mampu menjangkau wilayah yang sangat luas dalam waktu yang bersamaan. Sebagai bagian dari medium yang signifikan keberadaannya di dalam masyarakat, televisi kemudian tidak hanya sebagai media informasi, tetapi juga sebagai regime of signification. Pendekat­an ini mendorong masyarakat untuk dapat memahami isi dan memaknai tanda-tanda yang diterima dari media yang mere­ka konsumsi tiap hari. Media informasi seperti televisi telah menjadi mekanisme yang berpengaruh di masyarakat karena kemampuannya untuk meme­ngaruhi dan membentuk ke­sadaran masyarakat (Santoso, 2011: 65). Oleh karena itu, kelakar yang disiarkan pada stasiun televisi haruslah hal-hal yang yang sifatnya mendidik.

Norms of interaction and interpretation mengacu pada norma atau aturan dalam berinteraksi. Di samping itu, ia mengacu pada norma penafsiran terhadap ujaran dari lawan bicara. Kelakar Zaskia Gotik, yang kelahiran 27 April 1990, dianggap telah melanggar Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara, dan Lagu Kebangsaan. Sebagai warga negara Indonesia yang baik, seyogianya ia mampu menjunjung aturan tersebut. Karena keteledorannya, ia dianggap melecehkan lambang negara Indonesia. Genre mengacu pada jenis wacana. Jenis wacana yang dituturkan Zaskia berjenis kelakar. Meskipun berkelakar, hal itu berarti bahwa sese­orang bebas untuk berkelakar karena kelakar pun harus tetap mengindahkan etika dan aturan yang ada.

Penutup
Dari uraian di atas, kelakar Zaskia tidak pada tempatnya. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya kecaman dan kritikan atas kelakarnya. Agar peristiwa serupa tidak terulang lagi, ada baiknya sebelum berkelakar penutur memerhatikan delapan unsur berbahasa sebagaimana dicanangkan oleh Dell Hymes, yakni “SPEAKING”. [ ]

Pustaka Rujukan
Depdiknas. 2012. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2011. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik, terj. Oka M.D.D. Principles of Pragmatics. New York: Longman.
Morissan. 2014. Periklanan:Komunikasi Pemasaran Terpadu. Jakarta: Kencana.
Santoso, Widjajanti M. 2011. Sosiologi Feminisme: Kontruksi Perempuan dalam Industri Media. Yogyakarta: LKIS.
Soemandoyo, Priyo. 1999. Wacana Gender dan Layar Televisi: Studi Perempuan dan Pemberitaan Televisi Swasta. Yogyakarta: LP3Y dan Ford Foundation.
Thomas, Linda dan Shan Wareing. 2007. Bahasa, Masyarakat & Kekuasaan.Terjemahan Sunoto dkk..Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Wardhaugh, Ronald. 1988. An Introduction to Sociolinguistics. Oxford: Basil Blackwell.