Category Archives: Artikel Kebahasaan

  • 1

Pemanfaatan Teknologi dalam Pembelajaran Bahasa Prancis Leçon Zéro

Siti Nurhayati

Widyaiswara Bahasa Prancis

PPPPTK Bahasa

 

Pengantar

Secara harfiah “leçon zero” diartikan “pelajaran nol”, merujuk pada pembelajaran tahap paling awal yanga guru dan peserta didik baru bertatap muka dan kesempatan awal untuk berkenalan, menjalin kedekatan dengan apa yang akan dipelajari. Dalam pembelajaran bahasa Prancis, fase ini dikenal dengan istilah leçon zero. Pertemuan pertama dalam pembelajaran bahasa Prancis sama halnya dengan “permulaan kehidupan. ”Pada tahap ini peserta didik belum mempunyai pengetahuan apapun tentang bahasa Prancis, misalnya sistem pelafalan ujaran dan struktur kalimat; meskipun tanpa disadari beberapa kosakata dalam bahasa Indonesia mirip dengan kosakata bahasa Prancis, misalnya restoran = restaurant, cafe = café, universitas = université, aktivitas = activité. Dalam konteks pembelajaran di Indonesia, guru berhadapan dengan peserta didik pada level pemula murni (débutant complet). Artinya, bekal awal tentang bahasa Prancis mereka masih minim atau baru belajar bahasa Prancis untuk kali pertama. Leçon zero adalah momen yang guru “menjual” bahasa Prancis dalam kemasan semenarik mungkin sehingga peserta didik termotivasi untuk mempelajarinya. Tulisan ini berkenaan dengan pemanfaatan teknologi dalam momen leçon zéro.

 

Pemanfaatan Teknologi dalam Fase Leçon Zéro

Pada fase ini ada tiga aspek yang penting untuk diperkenalkan yaitu aspek lisan, tertulis, dan budaya. Aspek lisan memperdengarkan ujaran dari beberapa bahasa tanpa mencari maknanya. Tujuannya adalah mengenali atau menebak bunyi-bunyi bahasa Prancis sebagai langkah awal guru untuk memperkenalkan bahasa Prancis, membiasakan siswa dengan lafal dan intonasi bahasa Prancis dan situasi komunikasi ujaran tersebut, misalnya siapa yang berbicara, laki-laki atau perempuan atau anak-anak. Aspek tertulis menunjukkan wacana pendek dari beberapa bahasa untuk menemukan pola tulisan dalam bahasa Prancis. Aspek budaya memperkenalkan ikon-ikon yang berkaitan dengan Prancis dan sudah dikenal oleh siswa misalnya menara Eiffel, sungai Seine, TGV, YvesSaintLorent, Lafayette, Louvre, Croissant, dan Peugeot.

Suka atau tidak saat ini kita sedang berada dalam pusaran gelombang perubahan teknologi informasi sebagaimana dikatakan John Naisbit. Gelombang ini tidak terhindarkan dan memengaruhi dunia pendidikan. Respons guru terhadap gelombang perubahan tersebut adalah memanfaatkannya sebagai wahana transformasi yang mendukung pembelajaran, dalam arti menjadi gudang ilmu pengetahuan. Peran teknologi dalam hal ini adalah sebagai alat untuk memungkinkan terjadinya pembelajaran sehingga teknologi merupakan sarana untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri. Kehadiran teknologi juga tidak berarti menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas, tetapi memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan isi atau materi dan pengembangan teknologi pendidikan.

Inti dari pembelajaran berbasis teknologi adalah keterkaitan tiga komponen utama, yakni isi atau materi, pedagogi, dan teknologi. Interaksi ketiga komponen tersebut dalam pembelajaran menghasilkan teknologi pembelajaran yang lebih bervariasi dan berkualitas. Pada akhirnya ketiga komponen tersebut terangkai dalam kerangka TPACK (technology, pedagogy, and content knowledge). Kerangka TPACK yang digulirkan dalam Shulman (1987, 1986) mendeskripsikan bagaimana guru memahami teknologi dalam pembelajaran dan PCK (pedagogy content knowledge) saling berinteraksi sehingga menghasilkan pembelajaran yang efektif. Diagram di bawah ini menjelaskan proses keterkaitan itu.

Di bawah ini contoh model pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran bahasa Prancis fase pemula pada leçon zero.

  1. Tujuan pembelajaran: memperkenalkan ujaran atau sapaan dasar dalam bahasa Prancis .

2. Tujuan pembelajaran: mengidentifikasi ujaran bahasa Prancis di samping ujaran bahasa lain

3. Tujuan pembelajaran: memperkenalkan sapaan, ungkapan perkenalan dengan versi cepat dan lambat dibantu terjemahan dalam bahasa Inggris.

4. Tujuan pembelajaran: memperkenalkan ujaran sederhana dalam bahasa Prancis melalui lagu.

5. Tujuan pembelajaran: memperkenalkan ungkapan salam.

Penutup

Penggunaan teknologi dalam pembelajaran adalah tuntutan zaman. Pemilihan teknologi yang tepat akan menghasilkan pembelajaran yang berkualitas. Pemanfaatan teknologi dalam leçon zero diharapkan memotivasi siswa dalam mengenal dan mempelajari bahasa Prancis dengan cara yang menarik, menantang, dan memenuhi tuntutan rasa ingin tahu mereka sesuai tahapan usia remaja. Tak dapat dimungkiri bahwa kelemahan penggunaan teknologi adalah tuntutan pemenuhan sarana dan prasarana yakniadanya koneksi internet yang stabil, headset/speaker dan komputer personal atau komputer jinjing. Faktor yang tak kalah penting adalah kualitas literasi komputer di kalangan guru, yakni pengetahuan dan kemampuan guru dalam menggunakan komputer dan teknologi. Akhirnya pantas direnungkan penyataan Ray Clifford dari Defense Language Institute, “Computers will not replace teachers. However, teachers who use computers will replace teachers who don’t.” [ ]


  • 0

KELAS KEMAHIRAN MENULIS DALAM DIKLAT PENINGKATAN SKOR TOEFL

Gunawan Widiyanto

Widyaiswara Bahasa Inggris

PPPPTK Bahasa

 

 

Kemahiran berbahasa asing merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh pelamar beasiswa, utamanya beasiswa luar negeri. Disadari, nama bahasa asing itu tidak jarang berkaitan rapat dengan negara yang hendak dituju oleh pelamar beasiswa. Sebagai misal, bagi yang hendak melanjutkan pendidikan lanjut ke Korea, pelamar dipersyaratkan mengikuti uji kemahiran berbahasa Korea dengan menempuh TOPIK (Test of Proficiency in Korean). Bagi yang hendak belajar ke Australia, uji kemahiran berbahasa Inggris IELTS adalah syarat yang diminta oleh pemberi beasiswa. Bagi warga negara asing yang hendak belajar di Indonesia pun, disyaratkan menempuh UKBI, uji kemahiran berbahasa Indonesia. Negara-negara yang bahasa resminya Arab tentu juga mensyaratkan TOAFL bagi calon penerima beasiswa. Demikian pula, bagi yang hendak belajar ke Eropa dan Amerika, mengikuti TOEFL dengan capaian skor tertentu menjadi kenyataan yang niscaya dan tidak terelakkan. Berbicara tentang TOEFL jelas akan menyinggung sentuh bidang kemahiran yang diujikan di dalamnya. Format bidang uji dalamnya misalnya, pada awalnya hanya mencakupi tiga kemahiran dan pengetahuan yang diujikan, yakni (1) pemahaman menyimak (listening comprehension), (2) struktur dan ungkapan tulis (structure and written expression), dan (3) pemahaman bacaan (reading comprehension).

Seiring dengan perkembangan teknologi dan kondisi kekinian, format TOEFL pun menyesuaikan. Penyesuaian itu merambah baik jenisnya maupun bidang yang diujikan. Jenisnya tidak hanya berformat manual berbasis kertas (paper-based) tetapi juga berbasis internet (internet-based). Bidang kemahiran yang diujikan pun mencakupi menulis (writing) juga. Berkenaan dengan kemahiran menulis, penulis pernah diberi amanat akademik untuk mengampu kelas menulis dalam diklat peningkatan skor TOEFL yang diselenggarakan atas kerja sama antara PPPPTK Bahasa dan Yayasan Insancita Bangsa. Peserta diklat itu adalah calon penerima beasiswa luar negeri. Hemat penulis sebagai pengampu kelas kemahiran menulis saat itu, ada tiga hal yang menjadi titik tekan dalam kelas pembelajaran kemahiran ini. Tigahal inilah yang hendak penulis kongsi (share) dengan pembaca melalui tulisan ini.

Pertama, tugas menulis sebagai pekerjaan utama dalam kelas menulis penulis bagi menjadi tiga jenis sesuai dengan tiga periodisasi waktu pembelajaran, yakni awal, tengah, dan akhir. Tugas menulis pertama pada awal kelas bertujuan menjajaki dan mengetahui kemampuan dasar menulis peserta. Tugas ini bersifat individual dengan topik yang sama untuk semua peserta. Jadi, topik diberikan oleh penulis (pengampu). Dalam proses penulisan ini, topik memang jelas sama bagi semua peserta, tetapi cara mengungkapkan gagasan dan menuangkannya dalam bentuk tulisan jelas berbeda karena setiap peserta pasti memiliki personalisasi pengalaman dan rencana menulis yang berbeda. Setelah direvisi olehpengampu, tugas itu dikembalikan kepada peserta untuk diperbaiki sesuai masukan dan umpan balik dari pengampu. Dari revisi itulah diskusi mengemuka hingga sampailah pada bahasan materi teoretis mengenai proses pertama penulisan, yakni prapenulisan (pre-writing). Pertanyaan utama yang dilontarkan pengampu kepada forum adalah hal-hal apa sajakah yang dilakukan peserta diklat sebelum mulai menulis.

Tugas menulis keduapada pertengahan kelas menulis bersifat kelompok yang beranggotakan dua hingga tiga peserta dan bertujuan agar anggota kelompok bisa saling bertukar pikiran untuk memperkaya gagasan yang akan dituangkan dalam tulisan. Bagaimanapun, dalam tubuh setiap tulisan diperlukan banyak gagasan pendukung, dan gagasan pendukung sangat potensial bisa diperoleh dari hasil diskusi untuk saling memberi masukan dalam bentuk kelompok. Dalam penulisan tugas kelompok ini, peserta diberi dua opsi berkenaan dengan topik yang akan diusung. Opsi pertama adalah bahwa peserta bisa memilah, memilih, dan mengambil topik dari buku TOEFL. Opsi kedua adalah bahwa peserta diberi keleluasaan dan kebebasan untuk mencari dan menentukan topik sendiri di luar buku TOEFL, kendati tetap disarankan agar peserta mengambil topik tulisan dari buku TOEFL. Sebagaimana tugas menulis pertama, setelah dikoreksi; hasil revisi menulis dikembalikan kepada kelompok untuk diperbaiki berdasarkan masukan dan saran pengampu. Setelah itu, dibentangkan paparan teoretis mengenai proses kedua dalam penulisan, yakni hal-hal yang perlu dilakukan tatkala menulis (while-writing).

Sebelum memasuki tahap menulis ketiga atau terakhir, peserta diajak berdiskusi tentang proses ketiga penulisan, yakni pascapenulisan (post-writing) dengan pertanyaan utama adalah langkah apa saja yang perlu diayunkanusai menulis. Tugas menulis ketiga menjelang akhir kelas menulis kembali berformat individual. Idealnya, hasil karya penulisan akan optimal manakala tema tulisan bertali-temali dengan wilayah yang diminati, ditekuni, dan dikecimpungi oleh si penulis. Untuk mencapai atau minimal mendekati hal yang ideal itu, topik tulisan diserahkan sepenuhnya kepada para peserta diklat, yang datang dari berbagai disiplin ilmu. Tentunya, hasil karya penulisan peserta diharapkan bisa memperlihatkan kerangka berpikir yang sistematis dan pola penulisanyang tertata apik (well formed), yakni (a) pengantar atau pendahuluan, yang berisi satu atau beberapa paragraf pendahuluan (introductory paragraphs), (b) tubuh atau isi, yang mengandung beberapa paragraf pendukung (supporting paragraphs), dan (c) penutup atau simpulan, yang berisi paragraf penutup atau penyimpul (concluding paragraph).

Kedua, skema penilaian terhadap hasil kerja tulis (written work) berbasis pada lima butir penilaian dengan alokasi persentil (percentile allotment) seratus. Kelima butir penilian itu adalah (1) konten dan pengelolaan topik dengan alokasi 30 persen, (2) penataan gagasan yang mencakupi pengembangan alinea, kejelasan, kohesi, dan koherensi dengan jatah 25 persen, (3) tata bahasa yang meliputi kala, kesesuaian, struktur, dan tata urutan kata dengan alokasi 25 persen, (4) pemakaian kosakata dengan alokasi 10 persen, dan (5) pungtuasi atau ejaan dengan alokasi 10 persen.

Ketiga, secara umum, kemahiran menulis sepatutnya menjadi kemahiran paling sulit untuk diajarkan di antara keempat kemahiran berbahasa karena kemahiran ini secara karakteristik tidak hanya menghasilkan rekaman nyata atau bukti fisik (tangible records) yang menghendaki adanya perbaikan hasil kerja tulis secara berulang dan tak terbilang; tetapi juga mengandung keakuratan teknis dan kefasihan artistik. Pengalaman penulis setakat ini, kemahiran menulis juga menjadi sebuah kegiatan yang mengambil banyak masa (time consuming) untuk diajarkan. Betapa tidak, kelas kemahiran menulis dengan 20 peserta yang masing-masing menghasilkan karya akademik tiga hingga empat halaman bisa bermakna kerja tiada akhir dalam pembetulan, pemberian maklum balas (feedback), dan konsultasi individual. Di luar sesi kelas pembelajaran pun, penulis menyediakan diri dan membuka konsultasi bagi peserta selama proses menulis dari memilih topik hingga menyelesaikan (memoles) hasil kerja peserta.

Yang tidak kalah penting dan bahkan yang terutama, jika penulis boleh memberikan sumbang saran kepada pembaca; seorang pengampu kelas menulis seyogianya memiliki contoh tulisan hasil karya sendiri. Dengan demikian, ia tidak hanya berkecimpung dalam wilayah teoretis semata dengan hanya mengajar menulis. Idealisasinya memang, pengampu kelas kemahiran menulis minimal sudah menghasilkan (beberapa atau banyak) karya tulis, bahkan apabila perlu sudah terlatih menulis, sesederhana apapun hasil tulisan itu. Bagaimanapun, kemahiran menulis tidak sebatas memerlukan skema konseptual dan kerangka kerja teoretis tentang tata cara menulis belaka. Penerapan teori itu ke dalam praktik menulis secara nyata hingga berwujud hasil kerja tulis sebagai bukti fisik jauh lebih penting. Dan, menulis adalah persoalan keberlatihan secara berterusan hingga seseorang menjadi terlatih. [ ]


  • 4

SEKILAS TENTANG LANSKAP LINGUISTIK

Gunawan Widiyanto

Widyaiswara Bahasa Inggris

PPPPTK Bahasa

 

Di manapun Anda berada di jagat ini, baik di wilayah privat maupun publik, tidak bisa dimungkiri bahwa Anda juga hampir senantiasa akan terpajankan dengan pemakaian suatu bahasa. Secara lebih spesifik dan nyata,  bahasa itu dipakai dalam penamaan kedai, produk-produk di pasar swalayan, gedung, menu, grafiti, bandara, transportasi umum, pusat belanja, maklumat, poster iklan, dan papan reklame. Pemakaian bahasa dalam wilayah publik ini menjadi fokus kajian Lanskap Linguistik (LL), sebuah disiplin yang relatif masih baru dan merupakan gabungan dari disiplin akademis seperti Linguistik Terapan, Sosiolinguistik, Antropologi, Sosiologi, Psikologi, dan Geografi Kultural. Istilah Linguistik Lanskap kali pertama digunakan oleh Landry and Bourhis dalam makalahnya pada 1997, yang membatasinya sebagai bahasa untuk tanda jalan umum, papan reklame, nama jalan dan tempat, nama kedai, nama bangunan pemerintah dalam sebuah kelompok daerah, wilayah, atau kota. Selanjutnya Shohamy and Gorter (eds.2009) memperluas cakupan tentang LL ini ke bahasa dalam lingkungan, kata, dan citra yang dipajang di ruang publik dan menjadi pusat perhatian di suatu wilayah yang pesat bertumbuh kembang. Dalam kajian lain, Dagenais, Moore, Sabatier, Lamarre and Armand (2008) memperkenalkan gagasan LL dengan kekata  environmental print,  yakni perkotaan sebagai teks. Maknanya, karena bahasa banyak dipakai di ruang publik wilayah urban; wilayah itu dianggapnya sebagai teks yang layaknya penuh dengan ingar-bingar pemakaian bahasa.

Sebagian besar kajian LL pada dasarnya bersifat sosio-ekonomis, dalam arti bahwa ia mencari korelasi antara pemakaian bahasa tertentu di sebagian wilayah perkotaan dan standar hidup di wilayah itu pada umumnya. Sudah umum disepakati bahwa pemakaian bahasa dalam LL terangkum ke dalam dua kategori, yakni pemakaian bahasa secara atas-bawah (top-down) dan pemakaian bahasa secara bawah-atas (bottom-up). Kategori atas-bawahmencakupi pemakaian bahasa pada papan tanda umum yang dibuat oleh badan atau lembaga pemerintah, lembaga publik yang mengurusi persoalan agama, pemerintahan, kesehatan, pendidikandan kebudayaan, papan tanda nama jalan, dan maklumat umum; sedangkan kategori bawah-atas meliputi pemakaian bahasa oleh pemilik kedai/toko (pakaian, makanan, perhiasan), kantor/pabrik/agen swasta, maklumat pribadi (sewa/jual mobil/rumah) termasuk iklan lowongan kerja. Rentang diagonal dari kategori pertama hingga kategori kedua itu menunjukkan derajat seberapa resmi dan tak resmi dipakaianya sebuah bahasa, sebagaimana dinyatakan oleh Ben-Rafael, Shohamy, Amara and Trumper-Hecht (2006).

Sesuai namanya, LL sungguh sosiosimbolis dan merupakan panorama bahasa  yang dibentangkan untuk dilihat, baik di  jalan dan sudut jalan, taman, maupun gedung; yang semua itu merupakan tempat berlangsungnya kehidupan publik masyarakat. Dengan sifat yang demikian itu, ia menjadi emblem (simbol) masyarakat, komunitas, dan wilayah. Bagi Ben-Rafael, Shohamy, Amara dan Trumper-Hecht (2006),  LL dianggap penting karena ia tidak menggambarkan latar belakang dan potret kehidupan sehari-hari kita semata, tetapi juga merupakan sumber pembelajaran bahasa yang bernilai. Ia juga membentuk cara kita berinteraksi sebagai anggota masyarakat dan memberi  kita identitas. Dan yang utama, ia berada di manapun dan terbuka serta bebas biaya bagi siapapun. [ ]

Sumber: Shohamy, Elena and Durk Gorter (eds). 2009. Linguistic Landscape: Expanding the Scenery. New York: Routledge.

 


  • 0

Mengapa Bahasa Jerman?

Hanifa Hairuli

Widyaiswara Bahasa Jerman

PPPPTK Bahasa

 

 

Awalnya tak pernah terlintas dalam benak penulis untuk apa belajar bahasa Jerman. Yang ada dalam benak penulis hanyalah bagaimana penulis menguasai bahasa Inggris, salah satu bahasa Barat yang dicanangkan sebagai bahasa internasional dan masuk dalam mata pelajaran wajib di sekolah. Namun, kenyataan berkehendak lain, saat mengikuti tes penelusuran minat dan kemampuan (PMDK) di Sekolah Menengah Atas, penulis menjatuhkan pilihan jurusan pada bahasa Jerman karena bahasa Inggris yang sejatinya menjadi minat penulis memiliki lebih dari satu peminat. Hal ini juga penulis lakukan untuk mengurangi “saingan” dan mengharapkan tersedianya banyak peluang kerjasama antara pemerintah Indonesia dan Jerman ketika era kepemimpinan Presiden BJ Habibie saat itu. Memang ternyata tidak ada ilmu yang sia-sia. Sekarang bahasa Jerman benar-benar berguna dalam mendukung pekerjaan yang penulis geluti saat ini. Perasaan bangga pun menyelinap ketika penulis membaca sebuah artikel di harian Kompas edisi daring pada 2 April 2013, bahwa belajar bahasa asing kini menjadi tren tersendiri di Indonesia.

Tak cukup hanya menguasai bahasa Inggris, banyak orang, dari anak-anak hingga dewasa mulai membekali diri dengan bahasa asing lain, salah satunya bahasa Jerman. Bahasa ini merupakan salah satu dari sepuluh bahasa yang patut dipilih dan berguna untuk dipelajari berdasarkan hasil survei CBI Education & Skills Survey 2012.

Mengapa?
Sedikitnya ada delapan alasan mengapa bahasa Jerman bermanfaat dipelajari. Pertama, bahasa ini menjadi sangat penting karena banyaknya pelajar maupun mahasiswa yang memilih untuk belajar di negara ini. Selain biaya pendidikan yang murah, suasana beberapa kota yang ada di Jerman cukup mendukung. Tak hanya itu, negara ini banyak menawarkan beasiswa dan kesempatan magang bagi mahasiswa dari luar Jerman sehingga kemampuan bahasa Jerman tentu menjadi yang utama.

Kedua, bahasa Jerman adalah bahasa yang penting dalam komunikasi internasional. Lebih dari 101 juta orang di dunia berbahasa Jerman, sekitar 20 juta orang di seluruh dunia mempelajari bahasa ini. Di Eropa bahasa Jerman merupakan bahasa ibu bagi 100 juta orang, tidak hanya di Jerman, tetapi juga di Austria, Swiss, Luxemburg, dan Liechtenstein. Hal ini menempatkan bahasa Jerman di antara 12 bahasa paling umum dipakai di dunia, yakni 2,1% dari populasi dunia. Di Eropa bahasa Jerman adalah bahasa ibu yang paling luas digunakan.

Ketiga, bahasa Jerman adalah bahasa penting dalam perdagangan. Jerman adalah negara pengekspor utama di dunia dan memiliki ekonomi yang kuat dan mitra industri dan perdagangan paling penting bagi Indonesia di Uni Eropa. Dalam sepuluh tahun terakhir, bahasa Jerman telah menjadi basantara regional (regional lingua franca) di negara-negara Eropa Tengah dan Timur. Karena kemampuan lintas budaya merupakan kualifikasi kunci untuk bisnis yang sukses saat ini, kecakapan bahasa Jerman membantu Anda membuka pasar baru dan menjadi sukses di bisnis global dan di pasar tenaga kerja internasional.

Keempat, bahasa Jerman menempati kedudukan kuat dalam pengetahuan dan sastra. Bahasa Jerman sebagai bahasa pengetahuan dan teknologi memainkan peran penting dalam penelitian dan pendidikan. Pada abad 19 bahasa Jerman sebagai bahasa pengetahuan dan sastra menduduki posisi penting di dunia, lebih penting dari bahasa Perancis dan dalam hal tertentu bahasa Inggris. Saat ini bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang dominan untuk pengetahuan dan sastra. Namun, dalam jaringan kerjasama internasional dan lintas disiplin di tingkat global bahasa Jerman masih banyak dipakai. Masyarakat Jerman modern mendasarkan diri pada pengetahuan karena pengetahuan dan penelitian menempati kedudukan kuat dalam kehidupan umum di Jerman.

Kelima, bahasa Jerman sebagai bahasa kebudayaan membuka wawasan intelektual. Kebudayaan Jerman mewujudkan diri dalam berbagai bentuk, dari sastra dan musik, teater dan film hingga ke arsitektur, lukisan, filosofi, dan seni. Pengetahuan bahasa Jerman memungkinkan Anda mengenal satu dari kebudayaan besar Eropa dalam bentuk aslinya. Di bidang sastra ada Goethe, Schiller, Kafka, dan Grass. Di jagat musik ada Bach, Mozart, Beethoven, dan Wagner. Di dunia filosofi ada Luther, Kant, Schopenhauer, dan Nietzsche. Di bidang psikologi terdapat Freud, Adler, dan Jung. Bagi yang menggeluti dunia penelitian dan pengetahuan, tentu tidak asing dengan sederet nama seperti Kepler, Einstein, Röntgen, dan Planck. Ini bisa bermakna, bahasa Jerman adalah bahasa bagi pemikir-pemikir besar.

Keenam, bahasa Jerman membuka pintu ke perkuliahan di universitas Jerman. Meskipun kuliah internasional di universitas Jerman memungkinkan Anda belajar tanpa pengetahuan bahasa Jerman, penguasaan bahasa Jerman tentu saja lebih menguntungkan bagi Anda. Jika kuliah internasional tidak tersedia, Anda harus membuktikan bahwa Anda memiliki kemampuan bahasa Jerman yang memadai sebelum memulai kuliah. Oleh karena itu, penguasaan bahasa memberikan pilihan kuliah yang lebih luas.

Ketujuh, bahasa Jerman meningkatkan kesempatan Anda mendapatkan pekerjaan. Patut diketahui, perusahaan Jerman di Indonesia dan perusahaan asing di Jerman mencari ahli yang berpengetahuan bahasa Jerman. Di Uni Eropa terdapat kesempatan pelatihan, studi dan pekerjaan yang menarik bagi para ahli yang berpengetahuan bahasa Jerman.

Kedelapan, bahasa Jerman penting untuk bidang pariwisata. Indonesia adalah tujuan wisata populer. Banyak turis dari Jerman, Austria, dan Swiss berpergian ke Indonesia. Bagi mereka yang bekerja di industri pariwisata, kemampuan bahasa Jerman merupakan investasi yang bagus. [ ]


  • 0

Kelakar Zaskia Gotik

Ening Herniti
Fakultas Adab dan Ilmu Budaya
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

 

Pengantar
Peribahasa “Mulutmu adalah harimaumu” seper­tinya tidak lekang oleh waktu. Peribahasa tersebut berarti segala perkataan yang telanjur diucapkan apabila tidak dipikirkan dahulu dapat merugikan diri sendiri. Peribahasa tersebut rupanya terjadi pada artis kelahiran Bekasi, Zaskia Gotik. Kelakar Zaskia Gotik, yang bernama asli Surkianih, banyak menuai kontroversi. Dikatakan demikian karena ada beberapa orang yang membela kelakarnya, tetapi tidak sedikit yang mengecamnya. Bahkan, ia sampai diperkarakan secara hukum. Kelakar Zaskia dalam acara musik pagi pada salah satu televisi swasta episode Selasa tanggal 15 Maret 2016 tidak pada tempatnya. Kelakarnya menyangkut hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan lambang negara. Ia berkelakar bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia adalah tanggal 32 Agustus dan lambang sila kelima Pancasila adalah ‘bebek nungging’.
Karena kelakarnya ditayangkan pada acara televisi swasta nasional, keironisan kelakarnya dapat disaksikan oleh masyarakat luas. Televisi sebagai media massa berfungsi memberikan informasi, hiburan, dan pendidikan (Thomas, 2007:79). Jika kemudian fungsi tersebut berubah menjadi bumerang, ada beberapa tayangan yang harus dikaji ulang. Hampir tiap hari masyarakat disuguhi dengan kelakar. Tulisan ini mengkaji kelakar itu dengan menggunakan delapan unsur komunikasi yang dicanangkan Dell Hymes.

Kelakar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kelakar didefinisikan sebagai perkataan yang bersifat lucu untuk membuat orang tertawa (gembira); lawak; olok-olok; senda gurau (Depdiknas, 2012:651). Dalam pragmatik, kelakar (banter) adalah cara menyinggung pera­saan untuk beramah tamah (mock-impoliteness) (Leech, 1993: 228). Lebih lanjut, Leech menandaskan bahwa kelakar atau dalam pragmatik disebut prinsip kelakar, sering dimanifestasikan dalam percakap­an yang santai, khususnya di antara anak muda. Ia juga menjelaskan bahwa prinsip kelakar berfungsi menunjukkan solidaritas de­ngan petutur (t) sehingga prinsip ini dapat di­nyatakan “katakanlah sesuatu kepada t yang jelas tidak benar dan jelas tidak santun” (Leech, 1993:228).

Karena kelakar dimaksudkan untuk keakraban dan dalam situasi santai, kelakar harus kelihatan tidak serius. Tentunya kelakar tidak ditujukan kepada orang yang belum kenal atau tidak akrab karena akan menimbulkan hal sebaliknya, misalnya, tersinggung atau marah. Kelakar juga tentunya tidak menyangkut hal yang sifatnya sensitif. Kelakar biasanya ditujukan kepada sesama komunitas internal, yakni sesama anggota komunitas tersebut. Jika kemudian kelakar ditujukan kepada khalayak umum, kelakar harus benar-benar hati-hati agar tidak menyinggung atau menghina pihak lain. Tujuan kelakar di televisi adalah untuk menghibur, baik penonton di studio maupun pemirsa di rumah. Namun, kelakar yang tidak semestinya bisa berefek sebaliknya.

Kelakar Zaskia Gotik dan SPEAKING Hymes
Banyaknya kecam­an dan kritikan atas kelakar Zaskia Gotik meng­isyaratkan bahwa Zaskia kurang dapat berkomunikasi de­ngan baik. Dalam berkomunikasi atau dalam penggunaan bahasa setidaknya harus diperhatikan delapan unsur seperti yang dicanangkan oleh Dell Hymes (Wardhaugh, 1988:238—240). Kedelapan unsur tersebut terangkum dalam suatu akronim dalam bahasa Inggris “SPEAKING”, yakni S(etting and Scene), P(articipants), E(nds) (purpose and goal), A(ct sequences), K(ey) (tone or spirit of act), I(nstrumentalities), N(orms of interaction and interpretation), dan G(enres).

Setting berkaitan dengan latar tempat, waktu, budaya, dan lingkungan fisik konkret tempat tuturan berlangsung. Tuturan Zaskia terjadi pada salah satu televisi swasta nasional. Menurut Morissan (2014: 240), televisi nasional memiliki daya jangkau luas sehingga siaran televisi sudah dapat dinikmati oleh berbagai kelompok masyarakat. Oleh karena itu, daya jangkau yang demikian luas tetap harus memerhatikan budaya Indonesia. Kelakar yang dilontarkan oleh Zaskia hendaknya tetap memerhatikan budaya Indonesia yang menjunjung tinggi lambang negara Republik Indonesia. Scene berkenaan dengan situasi psikologis pembicaraan, dalam arti bahwa acara tersebut disiarkan secara langsung sehingga penutur yang kurang berhati-hati akan mudah tergelincir pada kekeliruan. Participants atau peserta tutur meliputi pembicara dan pendengar. Pembicara atau penutur adalah Zaskia Gotik, sedangkan pendengar atau mitra wicara adalah seluruh masyarakat Indonesia yang menonton acara tersebut. Oleh karena itu, penonton dapat berasal dari ber­bagai golongan usia maupun profesi. Jika yang menonton adalah anak-anak, dikhawa­tirkan mereka akan meniru hal yang keliru atau salah tersebut.

Ends merujuk pada maksud dan tujuan pertuturan. Tujuan tuturan Zaskia tentunya adalah bergurau atau berkelakar. Act sequence mengacu pada bentuk ujaran dan isi ujaran. Bentuk ujaran berkaitan dengan kata-kata yang digunakan, cara menggunakannya, dan hubung­an antara apa yang dikatakan dan topik pembicaraan. Kata-kata yang digunakan adalah kesalahan dalam menyatakan bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia adalah tanggal 32 Agustus. Padahal, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia adalah tanggal 17 Agustus yang setiap tahunnya diperingati oleh seluruh rakyat Indonesia. Tuturan tersebut dilontarkan dengan maksud bercanda agar penonton di studio tertawa atau pemirsa di rumah merasa terhibur. Kelakar Zaskia sebenarnya tidak menjawab dengan benar pertanyaan yang diutarakan oleh penanya.

Key atau warna emosi penutur mengacu pada nada, cara, dan semangat suatu pesan disampaikan. Pesan yang di­sampaikan memiliki nada bercanda. Instrumentalities atau sarana mengacu pada jalur bahasa yang digunakan, yakni media massa televisi. Menurut Soemandoyo (1999: 22), secara sosiologis televisi menjadi alat untuk menyampaikan nilai-nilai tertentu pada masyarakat. Dari dimensi teknologi, televisi memiliki keunggulan, yakni mampu menjangkau wilayah yang sangat luas dalam waktu yang bersamaan. Sebagai bagian dari medium yang signifikan keberadaannya di dalam masyarakat, televisi kemudian tidak hanya sebagai media informasi, tetapi juga sebagai regime of signification. Pendekat­an ini mendorong masyarakat untuk dapat memahami isi dan memaknai tanda-tanda yang diterima dari media yang mere­ka konsumsi tiap hari. Media informasi seperti televisi telah menjadi mekanisme yang berpengaruh di masyarakat karena kemampuannya untuk meme­ngaruhi dan membentuk ke­sadaran masyarakat (Santoso, 2011: 65). Oleh karena itu, kelakar yang disiarkan pada stasiun televisi haruslah hal-hal yang yang sifatnya mendidik.

Norms of interaction and interpretation mengacu pada norma atau aturan dalam berinteraksi. Di samping itu, ia mengacu pada norma penafsiran terhadap ujaran dari lawan bicara. Kelakar Zaskia Gotik, yang kelahiran 27 April 1990, dianggap telah melanggar Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara, dan Lagu Kebangsaan. Sebagai warga negara Indonesia yang baik, seyogianya ia mampu menjunjung aturan tersebut. Karena keteledorannya, ia dianggap melecehkan lambang negara Indonesia. Genre mengacu pada jenis wacana. Jenis wacana yang dituturkan Zaskia berjenis kelakar. Meskipun berkelakar, hal itu berarti bahwa sese­orang bebas untuk berkelakar karena kelakar pun harus tetap mengindahkan etika dan aturan yang ada.

Penutup
Dari uraian di atas, kelakar Zaskia tidak pada tempatnya. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya kecaman dan kritikan atas kelakarnya. Agar peristiwa serupa tidak terulang lagi, ada baiknya sebelum berkelakar penutur memerhatikan delapan unsur berbahasa sebagaimana dicanangkan oleh Dell Hymes, yakni “SPEAKING”. [ ]

Pustaka Rujukan
Depdiknas. 2012. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2011. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik, terj. Oka M.D.D. Principles of Pragmatics. New York: Longman.
Morissan. 2014. Periklanan:Komunikasi Pemasaran Terpadu. Jakarta: Kencana.
Santoso, Widjajanti M. 2011. Sosiologi Feminisme: Kontruksi Perempuan dalam Industri Media. Yogyakarta: LKIS.
Soemandoyo, Priyo. 1999. Wacana Gender dan Layar Televisi: Studi Perempuan dan Pemberitaan Televisi Swasta. Yogyakarta: LP3Y dan Ford Foundation.
Thomas, Linda dan Shan Wareing. 2007. Bahasa, Masyarakat & Kekuasaan.Terjemahan Sunoto dkk..Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Wardhaugh, Ronald. 1988. An Introduction to Sociolinguistics. Oxford: Basil Blackwell.


  • 0

Kritik Terjemahan Newmark, Reiss, dan Nord

Tri Pujiati
Universitas Pamulang
Tangerang Selatan

 

 

Pengantar
Kritik terjemahan bukan hal baru bagi para pegiat bahasa. Meskipun kurang populer daripada kritik sastra, kritik terjemahan mampu menjadi penyokong utama dalam pengembangan kualitas terjemahan di Indonesia. Kegiatan mengkritik terjemahan sangat baik dilakukan tidak hanya oleh penerjemah tetapi juga pihak lain yang memahami masalah penerjemahan. Dengan adanya kritik, penerjemah dapat sa­ling belajar dan terpacu untuk menghasilkan karya terjemah­an yang berkualitas. Adanya kritik terjemahan ini dapat memacu penerjemah untuk menghasilkan kualitas terjemahan yang baik. Berbagai pandangan tentang kritik terjemahan telah dikemukakan oleh para ahli seperti Peter Newmark, Katharina Reiss, dan Christiane Nord. Tulisan ini menyajikan pandang­an ketiga ahli tersebut.

Kritik Terjemahan Newmark
Menurut Newmark (1988:­184—185), kritik terjemahan sangat penting dalam pelatihan maupun praktik pener­jemahan. Ia menjadi kunci setiap pembelajaran, yakni sastra bandingan, literatur-literatur terjemahan, dan komponen kursus penerjemahan profesional dengan teks-teks yang sesuai dengan bidangnya (hukum, ekonomi, dan kedokteran). Newmark (1988:186) meng­usulkan lima hal dalam kritik terjemahan, yaitu (1) anali­sis sekilas me­ngenai maksud dan fungsi teks sumber (TSu); (2) interpretasi penerjemah atas TSu, metode penerjemahan yang digunakan, dan tujuan pembaca; (3) pembandingan bagian-bagian pen­ting antara TSu dan teks sasaran (TSa); (4) evaluasi terjemah­an berdasarkan sudut pandang penerjemah dan kritikus; dan (5) asesmen atas relevansi TSa bagi pembaca sasaran, budaya masyarakat, dan disiplin tertentu.

Dalam membuat kritik terjemahan, langkah-langkah yang dilakukan adalah (1) meng­analisis TSa dengan mempertimbangkan sikap dalam mengambil topik, karakter­isasi pembaca, dan indikasi kategori dan jenis; (2) melihat teks dari sudut pandang pe­nerjemah; (3) membandingkan TSu dan TSa, yang  meliputi judul, struktur, paragraf dan kalimat penghubung, pergeseran metafora, kata budaya,  translationase,  nama diri,  neologisme,  untranslationese words,  ambiguitas,  level bahasa,  metabahasa,  anekdot, dan efek bunyi; dan (4) mengevaluasi dengan standar Anda sendiri untuk mempertimbangkan apakah terjemahan berhasil sesuai dengan akurasi referensial dan pragmatis. Ada dua pendekatan yang bisa digunakan dalam menilai terjemah­an, yaitu  pendekatan fungsional dan pendekatan analitis. Pendekatan fungsional adalah upaya untuk menilai keberhasil­an dan kegagalan terjemahan atau penerjemah secara umum. Pendekatan analitis merupakan pendekatan yang terbentuk pada asumsi bahwa sebuah teks dapat dinilai dalam bagian tersebut, terjemahan dinilai sebagai bagian dari ilmu, kriya, seni, dan masalah selera.

Kritik Terjemahan Reiss
Dalam pandangan Reiss (2000:2), kritik terjemahan harus dilakukan oleh seseorang yang memiliki kemampuan bahasa sumber (BSu) dan bahasa sasaran (Bsa) yang memadai. Kritik harus bersifat memba­ngun dan tidak semata-mata menyalahkan penerjemah. Kritik terjemahan merupakan upaya untuk membandingkan TSu dan TSa. Terjemahan dinilai dari isinya, gaya yang digunakan oleh penerjemah, dan kadang-kadang dilihat dari estetikanya, seperti teks sastra. Terjemahan dapat dinilai dengan menggunakan kriteria tertentu, yaitu objektif dan relevan. Kriteria objektif dapat dilihat bahwa kritik terjemahan baik positif atau negatif harus didefinisikan secara eksplisit dan diverifikasi dengan contoh. Jika kriteria objektif direlasikan dengan kriteria yang relevan, kita harus berhati-hati dalam mengenali teks yang akan dievaluasi sebagai teks terjemahan. Selain objektif dan relevan, kriteria yang bisa digunakan dalam kritik terjemahan adalah stilistika dan tata bahasa. Julius Wirl (1958:64) dalam Reiss (2000:10)  mengatakan bahwa seseorang yang tidak dapat membaca teks asli tidak bisa menggunakan kriteria yang sama sebagaimana orang yang bisa membaca teks de­ngan baik.

Kita bisa membuat kritik berdasarkan TSu dan TSa. Kritik berdasarkan versi TSu sa­ngat produktif. Akan tetapi, karena ada keterbatasan referensi terhadap teks asli, diperlukan pembandingan dengan teks asli. Hanya dengan membandingkan TSu dan TSa, kesetiaan dalam penerjemahan telah tercapai, maksud dari penulis dapat dipahami dengan baik, terjemahan dapat diinterpretasikan, dan kesuksesan terjemahan dieks­presikan dalam TSa. Dalam membuat kritik terjemahan, kritikus harus memahami jenis teks yang akan dikritik untuk menghindari kesalahan dalam menggunakan standar yang tidak tepat dalam penilaian terjemah­an. Penerjemah dan kritikus harus memiliki analisis dasar yang sama mengenai klasifikasi teks; ini dapat dilihat dari medium teks itu sendiri, yaitu bahasa. Setiap teks harus diperiksa secara tepat untuk mengetahui tujuan teks tersebut. Karl Buhler (1990:28) dalam Reiss (2000:25), menyatakan bahwa bahasa memiliki tiga fungsi, yaitu representasi, ekspresi, dan persuasi. Teks representatif berfokus pada isi teks (content-focused text) untuk berkomunikasi secara efektif dan memberikan informasi secara akurat. Teks ekspresif berfokus pada bentuk (form-focused text) untuk mengekspresikan maksud penulis sendiri, dan teks persuasif berfokus pada daya tarik (appeal-focused text) untuk memengaruhi pendengar atau pembaca.

Kritikus juga melihat komponen linguistik yang terdiri dari elemen semantik, leksikal, stilistika, dan gramatikal. Kritikus harus menilai terjemah­an berdasarkan empat elemen tersebut. Elemen semantik untuk melihat ekuivalensi antara TSu dan TSa, elemen leksikal untuk melihat bahwa komponen TSu yang disampaikan dalam TSa telah cukup, elemen gramatikal untuk melihat kebenaran sistem gramatikal antara TSu dan TSa, dan elemen stilistika untuk melihat apakah teks berkorespondensi secara lengkap dalam TSa. Selain itu, kritik terjemahan dapat dilakukan dengan melihat faktor ekstralinguistik yang merupakan kategori pragmatis dalam kritik terjemahan. Faktor ini bergantung pada situasi, subjek yang dikaji, waktu, tempat, pende­ngar, pembicara, dan implikasi afektif.

Kritik Terjemahan Nord
Nord (1991:163) menyampaikan pandangannya bahwa kritik terjemahan harus berdasarkan analisis perbandingan TSu dan TSa dan memberikan informasi tentang kesamaan atau perbedaan struktur BSu dan BSa, proses penerjemahan, metode atau strategi yang digunakan, dan untuk melihat bahwa TSa sesuai dengan tujuan (skopos) terjemahan. Asesmen dilakukan berdasarkan BSu dan BSa, yang disebut dengan perbandingan terjemahan, sebagaimana dinyatakan Koller (1979) dalam Nord (1991:164). Langkah pertama dalam membuat kritik terjemahan menurut Nord adalah menganalisis teks dalam situasi berdasarkan mo­del didaktik kritik terjemahan (a didactic model of translation cri­ticism). Analisis teks merupa­kan dasar penyusunan suatu kritik terjemahan. Dengan meneliti TSu dan TSa, pembuat kritik dapat menentukan profil TSa yang ideal, menyiasati masalah penerjemahan, dan menyusun strategi yang digunakan. Pada analisis ini, kritik terjemahan melihat apakah teks sasaran koheren dengan situasi fungsional dalam teks sumber. Analisis teks didasarkan pada analisis faktor ekstratekstual dan intratekstual. Pembandingan ini akan dijadikan kerangka acuan untuk penilaian terjemahan. Faktor ekstratekstual dianalisis dengan mempertanyakan siapa penulis teks, siapa penerima atau pembaca teks, medium apa yang digunakan untuk me­ngomunikasikan teks, tempat dan waktu penulisan dan pene­rimaan teks, motif atau alasan dilakukannya komunikasi, dan fungsi teks. Faktor intratekstual yang merupakan unsur di dalam teks, dianalisis berdasarkan bidang bahasa,  leksikal, dan koherensi stilistika normatif dan semantik.

Langkah kedua setelah melakukan analisis teks adalah melihat informasi eksplisit me­ngenai fase transfer untuk melihat masalah yang timbul dalam penerjemahan, metode atau strategi penerjemahan yang digunakan untuk mengatasi masalah penerjemahan, dan faktor lain yang dianggap sebagai masalah terjemahan, seperti koherensi, leksis dalam struktur kalimat, dan ambiguitas. Selanjutnya, kritik terjemahan masuk ke dalam kesimpulan, metode atau strategi yang digunakan penerjemah, dan menunjukkan metode atau strategi penerjemahan. Pembuat kritik membandingkan prinsip pener­jemahan yang digunakan penerjemah dan menunjukkan metode atau strategi penerjemahan yang paling sesuai.

Penutup
Dari ketiga pandangan ahli kritik terjemah­an, dapat di­nyatakan bahwa kritik terjemah­an merupakan suatu upaya untuk menilai suatu karya terjemahan. Kritik terjemahan bukan hanya teori, melainkan juga aplikasi yang dapat memberi manfaat bagi seorang penerjemah untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki kualitas terjemah­annya. Kritikus terjemahan tidak hanya menyalahkan penerjemah, tetapi juga memberikan saran terhadap hasil terjemahan. Selain itu, kritik terjemahan harus dilakukan secara objektif dengan mempertimbangkan ketepatan, kewajaran, dan keterbacaan hasil terjemahan. [ ]

Referensi
Newmark, Peter. 1988.  A Textbook of Translation. London: Prentice Hall International.
Nord, Christiane. 1991. Text Analysis in Translation. Amsterdam: Rodopi.
Pusat Bahasa. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia.
Reiss, Katharina. 2000. Translation Criticism – the Potentials & Limitations. Diterjemahkan oleh Erroll F. Rhodes. Manchester: St. Jerome.


  • 0

Pertarafan Adjektiva Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris pada Tingkat Kualitas

Tri Pujiati

Universitas Pamulang

Tangerang Selatan

 

Pengantar

Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris memiliki perbedaan secara gramatikal, khususnya pertarafan adjektiva pada tingkat kualitas. Berbagai tingkat kualitas secara relatif menunjukkan tingkat intensitas yang lebih tinggi atau lebih rendah. Pemahaman tentang perbedaan pertarafan adjektiva pada tingkatan kualitas kedua bahasa ini akan membantu pembelajar memahami struktur sintaksis pada pemakaian adjektiva secara baik dan benar pada kedua bahasa tersebut. Tulisan ini menguraikan tingkat kualitas dan intensitas dalam pentarafan adjektiva.

 

Bahasan

Ada enam tingkat kualitas atau intensitas dalam pertarafan adjektiva, yaitu (1) tingkat positif, (2) tingkat intensif, (3) tingkat elatif, (4) tingkat eksesif, (5) tingkat augmentatif, dan (6) tingkat atenuatif. Pada tingkat positif, tidak digunakan pewatas untuk membuat kalimat bahasa Indonesia dengan menunjukkan adjektiva. Artinya, tingkat positif ini memerikan kualitas atau intensitas maujud yang diterangkan dan dinyatakan oleh adjektiva tanpa pewatas. Perhatikan contoh berikut ini.

  • Indonesia kaya akan minyak.

Pada contoh (1) tersebut, adjektiva kaya merupakan adjektiva yang dinyatakan dalam bentuk positif. Pada kalimat bahasa Inggris, tingkat positif biasa disebut dengan absolute form. Adjektiva yang digunakan adalah adjektiva tanpa pewatas apapun, sebagaimana contoh berikut.

  • She is beautiful girl

Pada contoh (2) di atas, adjektiva dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan menggunakan tingkatan positif, seperti pada kata beautiful. Untuk menunjukkan ketiadaan kualitas, kalimat dalam bahasa Inggris bisa dimarkahi dengan pemakaian pewatas seperti tidak atau tak, sebagaimana contoh berikut.

  • Tidak ada jalan di Jakarta yang tidak/tak macet.

Pada contoh (3) di atas, ketiadaan pada adjektiva dalam bahasa Indonesia dinyatakan dengan menggunakan tingkatan positif dengan menambahkan negasi tidak atau tak, seperti pada kata tidak macet. Dalam bahasa inggris, ketiadaan kualitas bisa ditandai dengan pemakaian pewatas seperti no atau not, sebagaimana contoh berikut.

  • She is not beautiful

Pada contoh (4) di atas, ketiadaan pada adjektiva dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan menggunakan tingkatan positif dengan menambahkan negasi not seperti pada kata not beautiful.

Tingkat intensif menekankan kadar kualitas atau intensitas, yang dinyatakan dengan memakai pewatas benar, betul, atau sungguh. Perhatikan contoh (5) berikut ini:

(5) Pak Andi setia benar dalam pekerjaannya.

Pada contoh (5) di atas, adjektiva benar merupakan adjektiva yang dinyatakan dengan pewatas seperti benar yang diletakkan setelah adjektiva. Hal ini berbeda dengan pemakaian pertarafan adjektiva pada tingkat intensif dalam bahasa Inggris, pewatas yang digunakan adalah really. Perhatikan contoh (6) berikut.

  • She is really

Pada contoh (6) di atas, adjektiva beautiful merupakan adjektiva yang dinyatakan dengan pewatas really yang diletakkan sebelum adjektiva. Dalam bahasa Indonesia, ketiadaan intensitas atau kualitas yang sungguh-sungguh atau mutlak dinyatakan dengan permakaian pewatas sama sekali, tidak … sama sekali atau tidak … sedikit juga/pun. Perhatikan contoh (7) berikut ini:

  • Kakak saya sama sekali tidak sombong/tidak sombong sama

sekali/sedikit juga/pun

Dalam bahasa Inggris, kata yang dipakai untuk menyatakan ketiadaan intensitas atau kualitas yang sungguh-sungguh atau mutlak dinyatakan dengan not really, sebagaimana contoh (8) berikut.

  • She is not really

Berdasarkan contoh (7) dan (8), dapat dilihat bahwa untuk menyatakan ketiadaan tingkat intensif dalam bahasa Indonesia bisa digunakan pewatas sama sekali, tidak … sama sekali atau tidak … sedikit juga/pun yang diletakkan sebelum adjektiva, atau dengan menggunakan negasi tidak sebelum adjektiva kemudian ditambah pewatas sama sekali/ sedikit juga/pun seperti pada contoh (7). Sementara itu, dalam bahasa Inggris, untuk menunjukkan ketiadaan intensitas, bisa digunakan not really yang diletakkan sebelum adjektiva seperti pada contoh (8).

Tingkat elatif menggambarkan tingkat kualitas atau intensitas yang tinggi, dinyatakan dengan memakai pewatas amat, sangat, atau sekali. Untuk memberikan tekanan yang lebih dan pada tingkat elatif, kadang-kadang digunakan kombinasi dan pewatas: amat sangat … atau (amat) sangat sekali. Perhatikan contoh (9) berikut ini.

  • Sikapnya (amat) sangat angkuh (sekali) ketika menerima kami.

Dalam bahasa Inggris, tingkat elatif dinyatakan dengan menggunakan kata very, seperti contoh (10) berikut.

  • She is very beautiful

Berdasarkan contoh (9) dan (10) dapat dilihat bahwa pertarafan adjektiva bahasa Indonesia dan bahasa Inggris memiliki kesamaan yaitu keduanya ditandai dengan pewatas di depan adjektiva. Untuk menyatakan tingkat elatif dalam bahasa Indonesia bisa digunakan pewatas amat, sangat, atau sekali yang diletakkan sebelum adjektiva; sedangkan dalam bahasa Inggris bisa digunakan very yang diletakkan sebelum adjektiva.

Tingkat eksesif, yang mengacu pada kadar kualitas atau intensitas yang berlebih, atau yang melampaui batas kewajaran, dinyatakan dengan memakai pewatas terlalu, terlampau, dan kelewat. Perhatikan contoh (11) berikut ini.

  • Mobil itu terlalu/terlampau/kelewat

Tingkat eksesif dapat juga dinyatakan dengan penambahan konfiks ke-an pada adjektiva, seperti pada contoh (12) berikut ini.

  • Baju saya kebesaran.

Dalam bahasa Inggris, tingkat eksesif dapat dipakai dengan menggunakan kata so dan too, sebagaimana contoh (13) berikut.

  • This car is so/too

Berdasarkan contoh (11), (12), dan (13), dapat dilihat bahwa pertarafan adjektiva pada tingkat eksesif dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Pada contoh (11), pertarafan adjektiva pada tingkatan ini ditandai dengan pemakaian terlalu, terlampau, dan kelewat yang diletakkan sebelum adjektiva. Namun, pada contoh (12) tingkat eksesif dalam bahasa Indonesia dibentuk dengan afiksasi, yaitu penambahan ke- dan akhiran –an pada adjektiva. Pada tingkat eksesif seperti contoh (13), kalimat bahasa Inggris ditandai dengan pewatas so dan too yang diletakkan sebelum adjektiva.

Tingkat augmentatif menggambarkan naik atau bertambahnya tingkat kualitas atau intensitas, dinyatakan dengan memakai pewatas makin ….makin … makin …, atau semakin. Perhatikan contoh (14) berikut ini.

  • Makin rajin bekerja, Sutarno menjadi makin

Dalam bahasa Inggris, tingkat augmentatif dapat digambarkan dengan menggunakan double comparative, sebagaimana contoh (15) berikut.

  • The more he plays, the more he improves.

Berdasarkan contoh (14) dan (15), dapat dilihat bahwa pertarafan adjektiva pada tingkat augmentatif dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris memiliki perbedaan. Pada contoh (14), pertarafan adjektiva ditandai dengan pemakaian makin ….makin … makin …, yang diletakkan sebelum adjektiva. Pada tingkat augmentatif, kalimat bahasa Inggris ditandai dengan pewatas doble comparative yang diulang pada klausa kedua seperti contoh (15).

Tingkat atenuatif memberikan penurunan kadar kualitas atau pelemahan intensitas, dinyatakan dengan memakai pewatas agak atau sedikit. Perhatikan contoh (16) berikut ini.

  • Gadis yang agak/sedikit malu itu diterima jadi pegawai.

Pada adjektiva warna, tingkat atenuatif dinyatakan dengan bentuk ke—an yang direduplikasi. Berikut adalah contohnya.

  • Warna bajunya kekuning-kuningan.

Tingkat atenuatif dalam adjektiva bahasa Inggris menggunakan kata about dan approximately. Perhatikan contoh (18) berikut.

  • His hair is approximately

Dari contoh (16), (17), dan (18), dapat dilihat bahwa pertarafan adjektiva pada tingkat atenuatif dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris memiliki perbedaan. Pada contoh (16), pertarafan adjektiva ditandai dengan pemakaian agak atau sedikit yang diletakkan sebelum adjektiva. Pada contoh (17), tingkat atenuatif dalam bahasa Indonesia dibentuk dengan afiksasi, yaitu penambahan ke- dan akhiran –an pada adjektiva warna. Pada tingkat augmentatif, kalimat bahasa Inggris ditandai dengan pewatas about dan approximately sebelum adjektiva seperti contoh (18).

 

Penutup

Ada tiga hal yang bisa dirangkum untuk menutup tulisan ini. Pertama, pentarafan adjektiva dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dari segi kuantitas memiliki kesamaan dan perbedaan dalam pembentukan adjektiva dan pewatas. Kesamaan pada pertarafan adjektiva bahasa Indonesia dan bahasa Inggris terletak pada posisi pewatas adjektivanya, karena pewatas adjektiva berada sebelum adjektiva itu sendiri. Sementara itu, perbedaannya terletak pada pembentukan pertarafan adjektiva dalam bahasa Indonesia, yang bisa ditambahkan konfiks ke- dan –an pada adjektivanya.  Kedua, pada tingkat positif, dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan tentang pemakaian adjektiva baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia.

Ketiga, pembelajar bahasa Indonesia atau bahasa Inggris perlu memahami pembentukan adjektiva tersebut sesuai dengan fungsi dan pemakaiannya. Tulisan ini dapat membantu pembelajar bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris sebagai bahasa kedua untuk memahami perbedaan dan kesamaan antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia sehingga mempermudah dalam berkomunikasi baik secara lisan maupun tertulis dengan menggunakan adjektiva bertaraf. [ ]

 

 

Referensi

Alwi, Hasan. Dkk. 2004. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga.  Jakarta: Balai Pustaka

Alexander, L G. 2008. Fluency in English. Yogyakarta: Kanisius.

Azar, Betty Scrampfer. 1989. Understanding and Using English Grammar second edition. New Jersey: Prentice Hall.

________. 1992. Fundamentals English Grammar second edition. New Jersey: Prentice Hall.

Frank, Marcella. 1972. Modern English a practical reference guide. New Jersey: Prentice Hall.


  • 0

Antara Logika dan Bahasa: Mengenal Filsafat Bahasa dalam Kitab Fi Falsafah al Lughah

Ahmad Ghozi

Widyaiswara Bahasa Arab

PPPPTK Bahasa

 

 

Pendahuluan

Manusia sesuai fitrahnya  disebut al insan hayawan naatiq, yakni hewan yang mampu berpikir. Melalui berpikir, manusia dapat melampaui segala sesuatu dan menyelesaikan masalah serta dapat memikirkan pengertian-pengertian abstrak. Hanya saja, kemampuan berpikir manusia dengan akal dalam persepsi dan pengetahuan itu terbatas.  Fitrah berpikir  manusia tidak akan berkembang secara otomatis kecuali jika dirangsang untuk diberdayakan. Al Washilah (2010: 158) menyatakan, pemberdayaan kemampuan berpikir dapat dilakukan secara eksternal seperti  melalui penciptaan lingkungan yang kondusif, atau secara internal melalui penyadaran diri melalui pendidikan; sehingga seseorang secara bertahap memiliki kemampuan berpikir itu. Secara umum, setiap perkembangan dalam idea, konsep dan sebagainya dapat disebut berpikir. Karena itu, menurut Suriasumantri (1984: 52) definisi paling umum dari berpikir adalah perkembangan idea dan konsep. Tak dapat dimungkiri, eksistensi berpikir merupakan keniscayaan bagi manusia. Menurut Ma’ruf Zuraiq (1993: 89), ada empat hal sebelum ada proses berpikir, yaitu (1) kejadian atau masalah, (2) kesan, (3) (berfungsinya) indera, dan (4) pengetahuan sebelumnya. Lalu menurutnya apakah berpikir itu?  Banyak orang yang keliru menyatakan makna berpikir itu. Mereka berkata bahwa berpikir itu adalah apa yang terlintas dalam proses akal manusia. Banyak juga pertanyaan, dengan apa Anda berpikir? Ketika hilang ingatan nama teman,  lalu berpikir atau mengingatnya. Ketika melihat pemandangan indah, lalu berpikir, hal itu berarti Anda memersepsikannya. Dengan demikian, berpikir di kalangan banyak orang adalah menghayal, atau mengingat, atau memersepsikan, dan sebagainya.

Tuntutan dalam berpikir adalah bahwa manusia merasakan adanya masalah; lalu mencari cara penyelesaiannya, yang merupakan tujuan dari usaha manusia untuk mencapainya sehingga sampailah ia pada pemecahan akhir untuk lalu melakukannya. Berkaitan dengan hal ini,  Zuraiq (1993: 90) menyatakan rumusan tentang berpikir itu demikian.

سلسلة مقصودة من المعاني ذات طبيعة رمزية تثار في المجال الذهني, عندما يواجه الإنسان مشكلة معينة أو يريد القيام بعمل معين .

“Proses kesinambungan dari makna-makna yang memiliki karakteristik simbolik yang memengaruhi bidang kognitif”. (Zuraiq,

Salah satu yang kita pikirkan adalah bahasa. Apa yang kita ucapkan biasanya adalah yang kita pikirkan. Berpikir tentang bahasa memang memerlukan renungan secara tersendiri. Proposisi dalam bahasa dan kenyataannya dibahas secara mantik (logika). Tulisan ini menguraikan sisi filsafat bahasa secara umum.

 

Masalah Proposisi Umum

Menurut Russel, terdapat proposisi-proposisi bukan turunan (atomic) dan bukan bertingkat (compund proposition), di antaranya adalah proposisi umum atau apa yang kadang disebut oleh pandangan deskriptif proposisi universal (kulliyah) dan kadang pula disebut  proposisi kategoris (hamliyah). Teori logika deskriptif modern menetapkan bahwa proposisi umum ini bukanlah kategoris (hamliyah), melainkan syartiyah muttashilah. Russel berpendapat bahwa setiap proposisi bertingkat (tarkibi) atau percobaan (tajribi) mengungkapkan  suatu kejadian umum. Dengan demikian, proposisi umum harus mengungkapkan kejadian. Pertanyaannya,  apakah ada kejadian-kejadian yang umum itu?

Russel mengkhawatirkan pernyataan dengan kejadian umum. Jika pandangan ini ditolak, seharusnya apakah yang ditolak eksistensi proposisi umumnya, itu tidak benar. Atau, apakah asumsi keberadaan proposisi umum percobaan (tajribi) tetapi tidak ada hubungan dengan dunia nyata, maka itu  juga tidak berterima. Beginilah masalah proposisi umum: kapan benar dan kapan bohong. Adalah benar jika sesuai dengan kejadian, dan bohong jika kejadian tidak sesuai dengan pernyataannya. Untuk itu, kejadian di sini akan menjadi umum namun apakah kejadian umum itu? Kejadian-kejadian itu selalu parsial (juz’iyyah) seperti “Socrates minum racun”, “Serangan Napoleon tahun 1815”, “Zaid tidak hadir”, dan sebagainya. Menurut Russel yang meragukan bahwa proposisi umum kadang berkaitan erat antarproposisi, pandangan ini tertolak, karena jika dikatakan:

Jika setiap A adalah B merupakan ringkasan bagi sejumlah besar proposisi tunggal (singular proposition), seperti Muhammad adalah manusia dan mati, Zaid manusia dan mati, umar dan sebagainya; sesungguhnya proposisi umum lebih banyak terlepas dari proposisi tunggal karena mengandung proposisi yang lain pula yakni:

“Semua ini adalah setiap A”.

Para ahli logika berbeda pendapat dengan Russel dalam menyikapi hal ini. Wittgenstein berpendapat bahwa proposisi umum bukanlah selain kumpulan proposisi parsial yang berkaitan tetapi ia kembali dan menolak pendapat ini. Ahli logika Inggris, Ramsey menyatakan bahwa proposisi umum tidak digambarkan dengan benar atau salah, hanya saja kita menganggapnya kaidah yang membimbing dalam pemberian informasi misalnya: “setiap arsenik adalah racun”, maka sesungguhnya itu menjustifikasi bahwa “arsenik adalah racun”.

Kita temukan bahwa ahli logika dan filosof Jerman Karel Popper menyatakan bahwa proposisi umum itu menggambarkan benar dan bohong karena tunduk pada kriteria yang memungkinkan berbohong (falsibility), yakni mencari keadaan atau kejadian yang membohongi proposisi umum. Jika kita temukan hal ini, propisisi umum ini bohong. Jika kita tidak menemukan, propisisi umum itu benar adanya.

Dari hal ini kita temukan sebagian ahli logika yang berpendapat bahwa proposisi umum bisa benar dan bohong dan sebagiannya menolaknya, sebagaimana Russel mengkhawatirkan pandapat dengan kejadian umum yang menunjukkan proposisi umum meskipun sulit mendeskripsikan kejadian-kejadian tersebut. Jadi, ahli logika tidak menetapkan atas satu pandangan dengan masalah proposisi-proposisi umum : dengan apa dibuat dan kepada apa ditujukan.

 

Struktur Bahasa dan Struktur Kenyataan

Wittgenstein mendorong pembentukan teori logical atomism tentang pernyataan bahwa bahasa adalah gambaran yang mendalam terhadap kenyataan. Bahwa struktur proposisi yang benar itu sesuai dengan struktur kenyataan yang menunjukkannya, wajib ditemukan dalam setiap deskripsi, yakni hubungan satu sama lain antara unsur-unsur deskriptif dan unsur-unsur apa yang mendeskripsikannya, atau menemukan sesuatu yang musytarak antara deskripsi dengan yang mendeskripsikannya kadang tidak muncul kesesuaian ini dari awalnya. Namun, tidak ditemukan sejak awal bahwa antara nautah musiqiyiyah dan lahn musiqi mirip dalam struktur. Meskipun demikian, kemiripan keduanya dapat diterima. Kemiripan ini menyatakan bahwa isim menunjukkan sesuatu yang tunggal dan tertentu, dan bahwa sifat dalam bahasa berkesesuaian dengan sifat yang abstrak bagi sesuatu yang tunggal itu. Begitu pun fi’il menerima hubungan antara satu dengan yang lain. Deskripsi bahasa terhadap kenyataan seperti peta atau tulisan penjelasan atau apa yang membedakan pita musik dan lahn yang dihasilkannya. Russel tidak menyatakan teori ini merupakan deskripsi bahasa (picture theory of language) dan baginya pendapat yang akan dijelaskan nanti. Akan tetapi, agar cocok antara Russel dan pernyataannya harus diyakini bahwa ada jenis kesesuaian antara bahasa dan kenyataan.

 

Rererensi Para Teoretikus

Russel dan Wittgenstein merumuskan teori logical atomism sejak tahun 1912 dan keduanya masih mendukung teori tersebut selama 20 tahun sebagaimana dijelaskan terdahulu, dengan tujuan di antaranya berusaha mengokohkan bahasa ideal simbolik yang jauh dari kekurangan bahasa secara umum,dan menjadikan setiap kosakata terbatas maknanya secara sempurna hingga sampai pada akhir analisis setiap kosa katanya kepada bahasa berupa isim-isim alam, sifat-sifat yang sederhana yang mungkin dapat ditemukan langsung secara hissiy (abstrak), kemudian diderivasikan di antaranya proposisi bertingkat (compound proposition), atau analisis proposisi bertingkat kepada jenis proposisi yang paling sederhana yang tidak disusun kecuali dari isim-isim alam dan sifat-sifatnya. Namun, dapat dijelaskan bahwa proyek bahasa ideal adalah proyek mustahil, bahkan sebagian kritikus menyatakan bahwa Russel tidak menjadi baik dalam keyakinannya dengan kokohnya contoh bahasa tersebut.  Atas dasar itu, para filosof mereferensikan teori tersebut karena sebab-sebab yang berbeda, yakni sebagai berikut. Pertama, alam tercipta dari sejumlah bentuk fakta bertingkat yang mustahil mengembalikannya kepada fakta-fakta dengan bahasa sederhana melalui metode yang dibentuk oleh teori, tetapi kita tidak dapat mendahulukan kriteria bagi yang sederhana dan mutlak, dan tidak membedakan antara sederhana secara mutlak dan yang bertingkat.

Kedua, referensi Russel tentang deskripsi isim alam logis di bawah tekanan teman-temannya para kritikus ketika melihat bahwa ini bukanlah isim alam logis, karena mungkin menjadi ringkas (dalam lingkup teori deskriptif) untuk mendeskripsikan “apa yang ditujukan sekarang” lalu Russel setelah itu memandang bahwa itu menjadi ungkapan setiap isim secara ringkas memiliki kumpulan sifat dan ungkapan sesuatu yang abstrak “struktur kognitif” dari kumpulan sifat itu. Ketiga, terjadi kegagalan dalam menafsirkan proposisi umum dengan jelas berdasarkan hipotesis fakta-fakta yang umum, dan bahwa pembicaraan tentang fakta umum menggambarkan ketidakjelasan yang tidak ada penerapannya dalam fakta, dengan pandangan: bisa kita terima dengan fakta umum atau bisa juga menolaknya. Jika kita menerimanya, kita menerima yang tidak sesuai fakta, dan bila menolaknya berarti kita menolak proposisi umum; padahal itu merupakan kalimat paling wajar dalam bahasa umum dan penolakan itu tidak bisa diterima (Russel dan Wittgenstein).

Keempat, Wittgenstein menemukan kesalahan teori deskripsi bahasa sehingga   bukunya sendiri mendukung teorinya dan sadar kepada satu contoh minimal yang berlawanan dengan teori, yakni bahwa proposisi apapun tentang deskripsi logis tidak menerima fakta apapun. Kelima, Russel tidak bersemangat dengan teori deskripsi bahasa yang dirancang Wittgenstein. Apapun hipotesisnya yang sesuai dengan struktur proposisi dan struktur faktual, sesungguhnya Russel ragu menerima atau menolaknya. Keenam, Wittgenstein berpendapat bahwa penetapan fakta bukanlah fungsi utama dan satu-satunya bagi bahasa. Baginya ada sejumlah besar fungsi seperti memberi perintah, mengungkapkan minat, bermain peran dalam drama, menceritakan hikayat, memberi hormat, berterima kasih dan sebagainya. Bahkan ia berpendapat juga bahwa kalimat apapun dalam bahasa tidak memiliki satu makna terbatas tetapi dibatasi makna kata yang digunakan dalam bahasa umum dan memiliki beragam arti dengan beragam penggunaannya dalam situasi berbeda.

 

Simpulan

Ketelitian, kejelasan, dan kebenaran merupakan tiga hal mendasar yang berhubungan dengan tujuan setiap ahli mantik (logika). Russel menyatakan bahwa meski jika tidak mungkin kokohnya kesesuaian yang sempurna antara bahasa dan fakta, sesungguhnya ia yakin bahwa ada jenis kesesuaian yang mendalam yang belum jelas antara struktur bahasa dengan struktur faktanya. Kesadaran para ahli mantik (logika) terhadap sulitnya menerima ketika mereka ingin menafsirkan proposisi umum dan dasar kebenarannya seperti “setiap hewan keadannya hidup” atau “ setiap yang rajin mendapatkan ijazah” dan sebagainya. Kesulitannya bahwa proposisi apapun bisa benar jika terdapat faktanya, dan bisa bohong jika berbeda faktanya, tetapi tidak ditemukan proposisi umum karena setiap fakta adalah juz’iyah (parsial). [ ]

 

Referensi

Al Washilah, Chaedar, 2010. Filsafat Bahasa dan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya

Suriasumantri, Jujun S., 1984. Ilmu dalam Perspektif, Jakarta: Gramedia.

Zuraiq, Ma’ruf, 1993. Ilm al Nafs al Islamy, Damaskus: Dar al Ma’rifah


  • 0

Konsep dan Jenis Frasa dalam Bahasa Arab

Dedi Supriyanto

Widyaiswara Bahasa Arab

PPPPTK Bahasa

 

Pengantar

Istilah frasa dalam bahasa Indonesia kurang populer dalam bahasa Arab utamanya di kalangan para pengkaji nahwu (sintaksis/tata bahasa). Hal ini karena buku-buku sintaksis bahasa Arab pada umumnya tidak mengemukakan definisi tentang frasa. Bahkan tidak ada bab atau subbab yang menggunakan istilah frasa sebagai kepala pembahasan. Meskipun demikian, itu tidak berarti bahwa dalam bahasa Arab tidak ada konsep tentang frasa. Frasa dalam bahasa Arab dapat disamakan dengan istilah murakkab  (konstruksi). Dalam buku-buku nahwu banyak dibahas berbagai konstruksi yang pada dasarnya merupakan konstruksi frasa, misalnya: jar-majrur, na’at man’ut, dan idhafah. Selain itu, dalam Jami’ud Duruus Al-Arabiyyah karya  Al-Ghalayaini (1987) dikemukakan istilah murakkab yang mencakupi murakkab isnady dan beberapa murakkab lainnya, seperti murakkab athfy, murakkab idhafy, dan murakkab bayany. Berbagai murakkab selain murakkab isnady tersebut  pada dasarnya merupakan konstruksi frasa, dan murakkab isnady adalah konstruksi klausa (Asrori, 2004:3). Tulisan ini memaparkan konsep frasa dan  jenisnya. Pemahaman terhadap makna frasa dalam bahasa Arab dan pengetahuan tentang jenis-jenisnya diperlukan agar kita dapat menganalisis frasa dalam bahasa Arab dengan baik dan benar, serta  tidak salah menggunakannya dalam penerjemahan.

 

Konsep Frasa

Ada beberapa pengertian frasa dalam pandangan para pakar bahasa. Ramlan (1981:16) menyatakan bahwa frasa adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih dan tidak melebihi batas fungsi. Senada dengan Ramlan, Ibrahim (1996:3) menyatakan bahwa frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi klausa. Cook (1971) dalam Tarigan (1986:25) membatasi frasa sebagai satuan linguistik yang secara potensial merupakan gabungan dua kata atau lebih, dan tidak mempunyai ciri-ciri klausa. Selanjutnya, Kridalaksana (1993:32) menyatakan bahwa frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif.  Sementara itu, frasa atau tarkib, sebagaimana dinyatakan oleh Hasanain (1984: 164-165), merupakan gabungan unsur yang saling terkait dan menempati fungsi tertentu dalam kalimat, atau suatu bentuk yang secara sintaksis sama dengan kata tunggal, dalam arti gabungan kata tersebut dapat diganti dengan satu kata saja. Dengan memakai istilah  ibarah, Badri (1986: 28) menyatakan bahwa frasa adalah konstruksi kebahasaan yang terdiri atas dua kata atau lebih, hubungan antarkata dalam konstruksi itu tidak predikatif, dan dapat diganti dengan satu kata saja.

Dari batasan frasa tersebut, dapat dinyatakan bahwa frasa adalah gabungan dari unsur-unsur yang saling berkaitan karena mempunyai peran yang sama dalam kalimat atau menduduki posisi yang sama dalam sintaksis, unsur-unsurnya bisa diganti dengan isim (fi‘l). Secara subtansial tidak ada perbedaan antardefinisi tersebut, karena setiap definisi menetapkan dua hal. Pertama, frasa merupakan satuan gramatik yang terdiri atas dua kata. Kedua, hubungan antarunsur pembentuknya tidak melebihi batas fungsi unsur klausa.  Perhatikan contoh-contoh berikut.

(1)  إله النّاس Tuhan manusia

(2)  مالك يوم الدين  raja hari pembalasan

(3) الرجل الكبير الذى فى الصف lelaki besar yang ada di baris depan

Dari ketiga contoh tersebut, dapat dilihat bahwa meskipun berbeda jumlah kata yang membentuknya, ketiganya berada dalam tataran frasa, artinya unsur unsur yang membentuk setiap konstruksi di atas tidak ada yang berhubungan secara predikatif. Selain berbeda jumlah katanya, unsur pembentuk ketiga frasa di atas pun berbeda. Konstruksi pada contoh (1)  merupakan frasa yang terdiri dari dua unsur yaitu kata إله (Tuhan) dan kata  الناس  (manusia). Konstruksi pada contoh (2) merupakan frasa yang terbentuk dari dua unsur yaitu kata مالك  (raja) dan frasa يوم الدين  (hari pembalasan). Adapun konstruksi pada contoh (3) merupakan frasa yang terbentuk dari dua unsur yang sama sama berupa frasa yaitu frasa الرجل الكبير ( lelaki besar) dan frasa    الذى فى الصف (yang ada di baris depan). Jadi unsur pembentuk frasa dapat berupa kata atau frasa.

 

Jenis frasa

Frasa dapat dikelompokkan berdasarkan (a) tipe strukturnya, (b) kesamaan distribusinya dengan golongan kata, dan (c) unsur pembentuknya. Berdasarkan tipe strukturnya, Ramlan (1981) dan Tarigan (1986) mengelompokkan frasa menjadi dua, yakni frasa endosentris ( غير محضة) dan frasa eksosentris  ( محضة). Frasa endosentris adalah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan salah satu atau semua unsurnya. Tarigan mendefinisikannya sebagai frasa yang mempunyai hulu (pusat atau pokok). Artinya salah satu unsur frasa tersebut merupakan hulu, dan sebagai unsur pusat ia mempunyai kesamaan distribusi dengan frasa. Sebagai contoh, frasa  الطالب الماهر pada klausa  الطالب الماهر ناجح mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, yaitu   الطالب.  Jadi, الطالب merupakan unsur pusat dan الماهر  merupakan atribut. Frasa eksosentris adalah frasa yang tidak mempunyai kesamaan distribusi dengan salah satu unsurnya. Misalnya,  frasa  أمام المدرسة pada konstruksi   الأولاد يلعبون أمام  المدرسة  tidak mempunyai distribusi yang sama dengan unsur unsurnya. Berdasarkan kesamaan distribusinya dengan kategori kata, frasa dikelompokkan menjadi dua jenis, yakni frasa verbal (murakkab fi’ly) dan frasa nonverbal (murakkab ghair fi’ly). Frasa nonverbal dikelompokkan lagi menjadi tiga jenis, (1) yakni frasa nomina (murakkab ismy), dengan contoh الرياضة البدنية مفيدة جدا ; (2) frasa ajektival (murakkab washfy), dengan contoh  الهواالبارد جدا فى هذا اليوم; (3) frasa adverbial (murakkab zharfy), dengan contoh  الشمش تسير إلى الغرب

(Badri, 1986:28)

Berdasarkan unsur pembentuknya, frasa bahasa arab dapat dikelompokkan menjadi 25 jenis, yakni (1) frasa sifat (na’ty), dibentuk oleh nomina sebagai unsur pusat diikuti oleh adjektiva sebagai na‘at (atribut), dengan contoh أخى يجلس فى الصف الثانى;  (2) frasa athfy (koordinatif), berunsurkan nomina diikuti oleh nomina atau verba diikuti oleh verba atau adjektiva diikuti oleh adjektiva, dengan contoh  أتعبم القراءة و الكتاب; (3) frasa badaly (apositif), terdiri atas nomina satu diikuti oleh nomina kedua, dengan contoh جاكرتا عاصمة إندونيسيا مدينة عصرية; (4) frasa zharfy (adverbial), mengandung unsur keterangan, dengan contoh جئت من سورابايا مساء أمسى ; (5) frasa syibhul jumlah (preposisional), berunsurkan preposisi yang dalam bahasa Arab disebutharf jar sebagai penanda diikuti nominal sebagai petanda, dengan contoh أنتظرك أمام المدرسة; (6) frasa manfy (negasional), terdiri atas penegasi yang diikuti oleh verba dan nomina, dengan contoh  الجاهل لا يعرف الجو; (7) frasa syarthy (syarat), berunsurkan penanda syarat sebagai atribut diikuti verba sebagai unsur pusat, dengan contoh  إذا جاء نصر الله; (8) frasa tanfis, tersusun dari verbal sebagai unsur pusat dan didahului oleh penanda waktu tanfis, dengan contoh سوف يحضر الوفد; (9) frasa tauqitat, berunsurkan verba bantu ﻜﻧﺎ dan yang sejenisnya sebagai atribut diikuti oleh verba maupun non verba sebagai unsur pusat, dengan contoh صار أخى يعمل فى هذا البنك; (10) frasa idhafy, berunsurkan nomina dan diikuti oleh nomina, dengan contoh ما عنوانك ؟ ; (11) frasa adady (numerial), berunsurkan bilangan atau adady sebagai unsur pusat diikuti oleh nominal sebagai atribut, dengan contoh أرورك ثلاث مرات ; (12) frasa nida’iy, terdiri atas kata seru (nida‘) sebagai atribut dan diikuti oleh nomina sebagai unsur pusat, dengan contoh أيها الناس اسعوا وعوا ; (13) frasa isyary, berunsurkan nomina sebagai unsur pusat didahului oleh penunjuk (isim isyarah) sebagai atribut, dengan contoh هذه المحفظة لك ; (14) frasa tawkidy, terbentuk dari nomina sebagai unsur pusat diikuti atribut berupa tawkid atau penegas, dengan contoh لقيت محمد نفسه ; (15) frasa mawshuly, di dalamnya mengandung kata sambung (almaushul), dengan contoh الذى ينام فى الفصل جاهل; (16) frasa mashdary (mashdar), terdiri atas penanda masdhar ﺃﻦ/an/ sebagai atribut diikuti oleh verba sebagai unsur pusat, dengan contoh أستطع أن أقرأ اللغة العربية ; (17) frasa tamyizy, berunsurkan mumayyaz, dengan contoh إندونيسيا أكبر البلاد الإسلامية سكانا; (18) frasa istitsna’iy, terbentuk dari pengecualian sebagai atribut diikuti oleh nominal sebagai unsur pusat, dengan contoh لا ريب سوى الله; (19) frasa bayany, berunsurkan dua nomina yang dipisahkan oleh huruf  ﻤﻦ (min), yang nomina pertama berfungsi sebagai atribut diikuti oleh nomina kedua sebagai unsur pusat, dengan contoh شربت كوببا من العصير; (20) frasa naskhy, berunsurkan nomina sebagai unsur pusat didahului oleh penanda naskhy, dengan contoh لعل الأستاذ يحضر; (21) frasa ikhtishashy, berunsurkan dua nomina yaitu nomina satu sebagai unsur pusat dan nominal dua sebagai pengkhusus. Sebagai pengkhusus, nomina dua ber‘irab mansub, dengan contoh نحن المسلمون أمة واحدة; (22) frasa taajjuby, mengandung unsur ta’ajub atau kekaguman, dengan contoh ماأجمل هذا المنظر; (23) frasa muqarabat, berunsurkan verba sebagai unsur pusat dan didahului oleh verba bantu muqarabat yang bermakna “hampir”, dengan contoh كاد يمضر الوقت; (24) frasa syuru’, berunsurkan verba sebagai unsur pusat dan didahului oleh verba bantu syuru’ sebagai atribut, dengan contoh بدأت تتحرك الحافلات; dan (25) rasa raja’ (kata kerja raja), berunsurkan verba ﻨﺪﺮﻚ  sebagai unsur pusat dan didahului verba bantu raja‘ﻋﺴﻰ  sebagai unsur pusat, dengan contoh عسى أن ينفعنا دعاءك

 

Penutup

Sebagai penutup, ada lima hal yang bisa disarikan dari tulisan ini. Pertama, frasa berbeda dengan klausa. Kedua, frasa adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang bersifat tidak predikatif atau tidak melampaui batas fungsi klausa. Ketiga, berdasarkan tipe strukturnya, frasa dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu frasa endosentris dan frasa eksosentris. Keempat, berdasarkan kesamaan distribusinya dengan kategori kata, frasa dikelompokkan menjadi lima jenis, yaitu frasa verbal, frasa nominal, frasa adverbial, frasa bilangan, dan frasa depan. Kelima, berdasarkan unsur pembetuknya terdapat 25 jenis frasa. [ ]

 

Referensi

Asrori, Imam. 2004. Sintaksis Bahasa Arab Frasa, Klausa, Kalimat. Malang: Misykat

Badri, K.I. 1986. Bunyatu-l Kalimah wa Nuzhau-l Jumlah (Diktat Perkuliahan Diploma) Jakarta: LIPIA

Hasanain, S.S., 1984. Dirasat fi ilmi-l lughah al Washfy wa At-Tarikhiy, wa Al- Muqaran. Riyadh: Darul Ulum li Thiba’ah wa an-Nasyr.

Kriadalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistic. Jakarta: Gramedia.

Ramlan, M. 1981. Sintaksis. Yogyakarta: Karyono.

Samsuri. 1995. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga.

Tarigan, H.G. 1986. Pengajaran Sintaksis. Bandung: Angkasa.


  • 0

Bahasaku, Bahasamu…

Ririk Ratnasari

Widyaiswara Bahasa Indonesia

PPPPTK Bahasa

 

 

“Batas duniaku adalah batas bahasaku,” kalimat yang disampaikan oleh Wittgenstein, filsuf bahasa yang lahir di Wina, Austria ini begitu menggelitik, karena begitulah realitas bahasa, yang bisa menembus batas dunia.  Dari ucapan Witgenstein dapat dilihat seberapa banyak kosa kata yang dimiliki karena apa yang kita ketahui adalah apa yang kita tahu bahasanya. Kita bisa merasai sedih, senang, dan sakit karena kita tahu bahasanya.

Menamai adalah proses identifikasi kali pertama untuk mendapatkan pengetahuan bahasa. Kita tidak dapat mengetahui sebuah benda jika kita tidak dapat menamainya. Bahasa dengan demikian erat kaitannya dengan pengalaman manusia. Ada yang berpendapat bahwa bahasa adalah rekaman-rekaman subjektif pengalaman manusia. Dengan kata lain, bahasa adalah sebuah realitas. Seperti yang dikatakan oleh Chomsky, kemampuan manusia untuk memberi nama merupakan awal dari perkembangan peradaban manusia modern. Perkembangan bahasa telah memungkinkan bertambahnya pengetahuan manusia dengan cepat. Artinya, bahasa adalah buatan manusia dalam melukiskan realitas. Gelas hanyalah masalah nama untuk benda dari kaca yang berfungsi sebagai tempat minum. Ada pula yang mengatakan bahwa bahasa memang melukiskan dunia apa adanya. Hewan dinamakan “tokek” karena ia sering bergumam, “tokek, tokek.”

Sebagai media dalam berpikir, kata-kata sangat terkait erat dengan pikiran. Di dalam berpikir terjadi proses asosiasi antara konsep atau simbol satu dengan konsep lain yang diakhiri dengan penarikan simpulan (Tylor, dalam Rakhmat, 1996). Keterkaitan antara kata-kata dan bahasa dapat dipetakan dalam tiga pendapat: bahasa memengaruhi pikiran, pikiran memengaruhi bahasa, dan bahasa dan pikiran saling memengaruhi.

Pendapat bahwa bahasa memengaruhi pikiran dimulai dari adanya pemahaman terhadap kata memengaruhi pandangan terhadap realitas. Pikiran dapat terkondisikan oleh kata yang digunakan. Tokoh yang mendukung terori ini adalah Benyamin Whorf dan gurunya Edward Saphir. Whorf mengambil contoh bangsa Jepang. Orang Jepang mempunyai pikiran yang sangat tinggi karena mereka mempunyai banyak kosa kata untuk menjelaskan sebuah realitas. Hal ini menjadi bukti bahwa mereka mempunyai pemahaman yang mendetail tentang sebuah realitas.

Pada sisi lain, pendukung teori pikiran memengaruhi bahasa adalah tokoh psikologi kognitif yaitu Jean Piaget. Melalui observasi yang dilakukan oleh Piaget terhadap perkembangan aspek kognitif anak, ia melihat bahwa perkembangan kognitif anak akan memengaruhi bahasa yang digunakan. Semakin tinggi aspek tersebut semakin tinggi bahasa yang digunakan anak.

Sementara itu, teori adanya hubungan timbal balik antara bahasa dan pikiran dikemukakan oleh Benyamin Vigotsky, seorang ahli semantik berkebangsaan Rusia  yang dikenal sebagai pembaharu teori Piaget. Penggabungan Vigotsky terhadap kedua pendapat di atas banyak diterima oleh kalangan psikologi kognitif. Bahasa dan pikiran memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan atau saling memengaruhi. Pada satu sisi, bahasa merupakan medium yang digunakan untuk memahami dunia serta alat dalam proses berpikir; pada sisi lain, pemahaman terhadap bahasa merupakan hasil dari aktivitas pikiran.

Namun, terlepas dari pendapat-pendapat di atas, bahasa memang mempunyai pengaruh terhadap pengalaman manusia. Bahasa memberikan pandangan perseptual dan sekaligus memaksakan pandangan konseptual tertentu.  Bahasa memaksakan pandangan perseptual karena bahasa adalah kaca mata  yang dipakai untuk melihat realitas. Kita dapat dianalogikan dengan orang buta yang tidak mampu mengenali realitas sekitar ketika tidak memiliki bahasa. Bahasa juga memaksakan pandangan konseptual kita karena secara tidak langsung kita mengevaluasi realitas berdasarkan bahasa yang kita miliki. Dengan cara seperti inilah bahasa memengaruhi pikiran dan tindakan kita. Sebagai contoh, sebuah desa miskin yang sebagian besar penduduknya sulit mencari makan dipandang oleh pemerintah  “rawan pangan” dan bukan kelaparan. Pelonjakan harga bukanlah kenaikan harga melainkan “penyesuaian harga.”

Harlod Titus bahkan dengan berani mengatakan bahwa bahasa mencetak pikiran-pikiran orang yang memakainya.  Contohnya ketika orang mengucapkan kata “ember” dalam bahasa gaul, tidak mungkin “ember” diucapkan dengan datar. Kata tersebut pasti akan diucapkan dengan gaya sedikit centil dan genit sambil berkata “embeeeerr”. Bahasa mempunyai sayap dan menciptakan alamnya sendiri. Jika kita berani untuk melangkah lebih jauh lagi, kita akan mendapatkan hipotesis bahwa bahasa mencetak sebuah kepribadian. Ketika satu bahasa memproduksi satu perilaku tertentu, serta ketika perilaku tersebut diulang-ulang menjadi kebiasaan; yang tercipta adalah kepribadian. Hal ini karena “Bahwa pada mulanya manusia membentuk kebiasaan, tetapi setelah itu kebiasaanlah yang membentuk manusia.”

Satu rumusan yang dikeluarkan oleh Michael Foucoult dan Thomas Szas tentang bahasa kiranya menjadi kata kunci dari pengaruh bahasa dalam merekayasa perilaku. Foucoult mengatakan bahwa siapa yang mampu memberi nama, dialah yang menguasai; sedangkan Szas mengatakan bahwa kalau di dunia hewan berlaku hukum makan atau dimakan, dalam dunia manusia berlaku hukum membahasakan atau dibahasakan.

 

Bahasa dan Gagasan

Pada 28 Oktober 1928 pemuda-pemuda Indonesia mempunyai gagasan yang brilian dengan menyatakan sumpahnya, yakni berbahasa satu bahasa Indonesia. Mereka memahami betul bahwa bahasa memiliki kemampuan tanpa batas untuk menyatukan nusantara.  Dalam situasi tersebut, bahasa merupakan pemandu realitas sosial, seperti yang disampaikan oleh Whorf. Walaupun bahasa biasanya tidak diminati oleh ilmuwan sosial, bahasa secara kuat mengondisikan pikiran individu tentang sebuah masalah dan proses sosial. Dunia tempat tinggal berbagai masyarakat dinilai oleh Whorf sebagai dunia yang sama tetapi memiliki karakteristik yang berbeda. Dengan kata lain, pandangan manusia tentang dunia dibentuk oleh bahasa; sehingga karena bahasa yang berbeda, pandangan tentang dunia pun dapat berbeda. Secara selektif individu menyaring sensor yang masuk seperti yang diprogramkan oleh bahasa yang dipakainya. Dengan begitu, masyarakat yang menggunakan bahasa yang berbeda memiliki perbedaan sensor pula. Dan, hal inilah yang berhasil disatukan oleh para pemuda Indonesia delapan puluh delapan tahun lalu.

Berbeda dengan Whorf,  Brouwer menyatakan bahwa bahasa adalah sebuah fenomena; fenomenologi bisa menjadi sebuah permainan bahasa. Sebuah teori mucul karena kemampuan bahasa yang dimiliki oleh pencetusnya (Brouwer, 1999). Ambil saja kalimat: “Ketika kau dapati hidupmu menjadi terasa berbeda tanpa kehadirannya, saat itulah engkau jatuh cinta.” Kita sebenarnya sudah memahami prinsip itu tetapi kita tidak mampu membahasakannya. Setelah membaca kalimat tersebut, kita mendapatkan pencerahan dengan berkata, “Oh, iya ya?”

Dengan berbahasa yang baik, mereka dapat berargumentasi dengan baik pula. Oleh karena itu, ahli-ahli besar dalam bidang fenomenologi juga terkenal sebagai ahli bahasa, penulis novel, puisi, dan artikel. Jean Paul Sartre, Leo Tolstoy, Martin Heidegger adalah contohnya. Ketika para peneliti sibuk dengan penjelasan statistika sebagai bukti teorinya, orang-orang ini menggunakan bahasa untuk menjelaskan teorinya. Para fenomenolog telah langsung masuk ke dalam realitas dan mengambarkan apa yang dapat mereka kenali. Banyak yang mereka kenali dari realitas itu karena mereka mempunyai kosa kata yang banyak.

Benyamin Vigotsky mendukung pernyataan Brouwer di atas. Baginya, bahasa memberikan satu nuansa tertentu pada sebuah ide (Valsiner, 1996). Bahasa adalah instrumen yang membentuk dan membangun ide kreatif dari pikiran. Melalui bahasa, ide menjadi objektif. Yang semula ia berada di awan-awan angan-angan, ide menjadi konkret dan turun ke bumi. Sekali individu memberikan bentuk berupa kata-kata pada idenya dengan kata-kata, ide ini akan menjadi objek bagi dirinya sendiri sebagai kata-kata yang terdengar (audible) sehingga mudah diakses oleh masyarakat.

Manusia dapat berpikir tanpa menggunakan bahasa, tetapi bahasa mempermudah kemampuan belajar dan mengingat, memecahkan persoalan, dan menarik simpulan. Bahasa memungkinkan individu menyandi peristiwa dan objek dalam bentuk kata-kata. Dengan bahasa, indvidu mampu mengabstraksikan pengalamannya dan mengomunikasikannya pada orang lain karena bahasa merupakan sistem lambang  tidak terbatas yang mampu mengungkapkan segala pemikiran.

 

Bahasa dan Emosi

Selain sebagai realitas sosial dan fenomenologi, bahasa erat kaitanya dengan psikologi. Barangkali sedikit dari kita yang mengetahui bahwa keterbatasan kosa kata dapat mengakibatkan gangguan psikologis. Sedikitnya kosa kata emosi yang dimiliki oleh seseorang membuatnya lemah dalam menggambarkan emosinya dengan kata-kata. Padahal, kemampuan verbalisasi emosi ini sangat berguna untuk kesehatan mentalnya. Mampu memberi nama emosi berarti dapat memilikinya untuk digunakan sesuai dengan fungsinya dan tidak terganggu dengan kehadirannya. Daniel Goleman sudah mendeteksi pentingnya masalah ini sejak awal. Kemampuan memberi nama pada emosi adalah salah satu bagian integral kecerdasan emosi dalam aspek self-awarenes. Dalam  kecerdasan ini, individu mampu mengamati diri, menghimpun kosa kata untuk melabeli perasaannya, serta mengetahui hubungan antara pikiran, perasaan, dan reaksi. Mengetahui aneka ragam perasaan yang muncul memungkinkan individu untuk mengenali dirinya sendiri.

Dengan membahasakannya dalam kata-kata, mereka menjadi tahu bahwa emosi itu benar-benar ada dalam dirinya. Seorang ahli psikolinguistik, Alferd Korzybsky mengatakan, beberapa gangguan jiwa disebabkan oleh keterbatasan penggunaan kata oleh individu yang tidak sanggup mengungkapkan realitas dengan cermat; yang diketahuinya hanya dua pilihan ekstrem: gembira-sedih, tersanjung-marah, atau sehat-sakit. Padahal, realitas tidaklah demikian, hidup tidak terpisah menjadi kutub ekstrem negatif dan  positif. Realitas sangat kaya dengan warna-warna emosi. Perasaan atau emosi sedih muncul tanpa pemaknaan yang jelas, mereka belum mengetahui emosi tersebut muncul dan bagaimana hubungannya dengan reaksi yang  mereka lakukan. Dengan mengenali emosi yang sedang berlangsung, emosi tersebut dapat dinikmati dan dikendalikan.

Bahasa dengan segala aspek keilmuannya dapat diformulasikan sebagai alat untuk meningkatkan komunikasi; memperluas pikiran dengan adanya abstraksi. Bahasa juga dapat membentuk kebudayaan dan membangun verbal self-concept.  Jadi, tunjukkan jati diri kita dan bangsa Indonesia melalui bahasa yang santun dan cerdas. [ ]