Category Archives: Artikel Kebahasaan

  • 0

Mengapa Bahasa Jerman?

Hanifa Hairuli

Widyaiswara Bahasa Jerman

PPPPTK Bahasa

 

 

Awalnya tak pernah terlintas dalam benak penulis untuk apa belajar bahasa Jerman. Yang ada dalam benak penulis hanyalah bagaimana penulis menguasai bahasa Inggris, salah satu bahasa Barat yang dicanangkan sebagai bahasa internasional dan masuk dalam mata pelajaran wajib di sekolah. Namun, kenyataan berkehendak lain, saat mengikuti tes penelusuran minat dan kemampuan (PMDK) di Sekolah Menengah Atas, penulis menjatuhkan pilihan jurusan pada bahasa Jerman karena bahasa Inggris yang sejatinya menjadi minat penulis memiliki lebih dari satu peminat. Hal ini juga penulis lakukan untuk mengurangi “saingan” dan mengharapkan tersedianya banyak peluang kerjasama antara pemerintah Indonesia dan Jerman ketika era kepemimpinan Presiden BJ Habibie saat itu. Memang ternyata tidak ada ilmu yang sia-sia. Sekarang bahasa Jerman benar-benar berguna dalam mendukung pekerjaan yang penulis geluti saat ini. Perasaan bangga pun menyelinap ketika penulis membaca sebuah artikel di harian Kompas edisi daring pada 2 April 2013, bahwa belajar bahasa asing kini menjadi tren tersendiri di Indonesia.

Tak cukup hanya menguasai bahasa Inggris, banyak orang, dari anak-anak hingga dewasa mulai membekali diri dengan bahasa asing lain, salah satunya bahasa Jerman. Bahasa ini merupakan salah satu dari sepuluh bahasa yang patut dipilih dan berguna untuk dipelajari berdasarkan hasil survei CBI Education & Skills Survey 2012.

Mengapa?
Sedikitnya ada delapan alasan mengapa bahasa Jerman bermanfaat dipelajari. Pertama, bahasa ini menjadi sangat penting karena banyaknya pelajar maupun mahasiswa yang memilih untuk belajar di negara ini. Selain biaya pendidikan yang murah, suasana beberapa kota yang ada di Jerman cukup mendukung. Tak hanya itu, negara ini banyak menawarkan beasiswa dan kesempatan magang bagi mahasiswa dari luar Jerman sehingga kemampuan bahasa Jerman tentu menjadi yang utama.

Kedua, bahasa Jerman adalah bahasa yang penting dalam komunikasi internasional. Lebih dari 101 juta orang di dunia berbahasa Jerman, sekitar 20 juta orang di seluruh dunia mempelajari bahasa ini. Di Eropa bahasa Jerman merupakan bahasa ibu bagi 100 juta orang, tidak hanya di Jerman, tetapi juga di Austria, Swiss, Luxemburg, dan Liechtenstein. Hal ini menempatkan bahasa Jerman di antara 12 bahasa paling umum dipakai di dunia, yakni 2,1% dari populasi dunia. Di Eropa bahasa Jerman adalah bahasa ibu yang paling luas digunakan.

Ketiga, bahasa Jerman adalah bahasa penting dalam perdagangan. Jerman adalah negara pengekspor utama di dunia dan memiliki ekonomi yang kuat dan mitra industri dan perdagangan paling penting bagi Indonesia di Uni Eropa. Dalam sepuluh tahun terakhir, bahasa Jerman telah menjadi basantara regional (regional lingua franca) di negara-negara Eropa Tengah dan Timur. Karena kemampuan lintas budaya merupakan kualifikasi kunci untuk bisnis yang sukses saat ini, kecakapan bahasa Jerman membantu Anda membuka pasar baru dan menjadi sukses di bisnis global dan di pasar tenaga kerja internasional.

Keempat, bahasa Jerman menempati kedudukan kuat dalam pengetahuan dan sastra. Bahasa Jerman sebagai bahasa pengetahuan dan teknologi memainkan peran penting dalam penelitian dan pendidikan. Pada abad 19 bahasa Jerman sebagai bahasa pengetahuan dan sastra menduduki posisi penting di dunia, lebih penting dari bahasa Perancis dan dalam hal tertentu bahasa Inggris. Saat ini bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang dominan untuk pengetahuan dan sastra. Namun, dalam jaringan kerjasama internasional dan lintas disiplin di tingkat global bahasa Jerman masih banyak dipakai. Masyarakat Jerman modern mendasarkan diri pada pengetahuan karena pengetahuan dan penelitian menempati kedudukan kuat dalam kehidupan umum di Jerman.

Kelima, bahasa Jerman sebagai bahasa kebudayaan membuka wawasan intelektual. Kebudayaan Jerman mewujudkan diri dalam berbagai bentuk, dari sastra dan musik, teater dan film hingga ke arsitektur, lukisan, filosofi, dan seni. Pengetahuan bahasa Jerman memungkinkan Anda mengenal satu dari kebudayaan besar Eropa dalam bentuk aslinya. Di bidang sastra ada Goethe, Schiller, Kafka, dan Grass. Di jagat musik ada Bach, Mozart, Beethoven, dan Wagner. Di dunia filosofi ada Luther, Kant, Schopenhauer, dan Nietzsche. Di bidang psikologi terdapat Freud, Adler, dan Jung. Bagi yang menggeluti dunia penelitian dan pengetahuan, tentu tidak asing dengan sederet nama seperti Kepler, Einstein, Röntgen, dan Planck. Ini bisa bermakna, bahasa Jerman adalah bahasa bagi pemikir-pemikir besar.

Keenam, bahasa Jerman membuka pintu ke perkuliahan di universitas Jerman. Meskipun kuliah internasional di universitas Jerman memungkinkan Anda belajar tanpa pengetahuan bahasa Jerman, penguasaan bahasa Jerman tentu saja lebih menguntungkan bagi Anda. Jika kuliah internasional tidak tersedia, Anda harus membuktikan bahwa Anda memiliki kemampuan bahasa Jerman yang memadai sebelum memulai kuliah. Oleh karena itu, penguasaan bahasa memberikan pilihan kuliah yang lebih luas.

Ketujuh, bahasa Jerman meningkatkan kesempatan Anda mendapatkan pekerjaan. Patut diketahui, perusahaan Jerman di Indonesia dan perusahaan asing di Jerman mencari ahli yang berpengetahuan bahasa Jerman. Di Uni Eropa terdapat kesempatan pelatihan, studi dan pekerjaan yang menarik bagi para ahli yang berpengetahuan bahasa Jerman.

Kedelapan, bahasa Jerman penting untuk bidang pariwisata. Indonesia adalah tujuan wisata populer. Banyak turis dari Jerman, Austria, dan Swiss berpergian ke Indonesia. Bagi mereka yang bekerja di industri pariwisata, kemampuan bahasa Jerman merupakan investasi yang bagus. [ ]


  • 0

Kelakar Zaskia Gotik

Ening Herniti
Fakultas Adab dan Ilmu Budaya
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

 

Pengantar
Peribahasa “Mulutmu adalah harimaumu” seper­tinya tidak lekang oleh waktu. Peribahasa tersebut berarti segala perkataan yang telanjur diucapkan apabila tidak dipikirkan dahulu dapat merugikan diri sendiri. Peribahasa tersebut rupanya terjadi pada artis kelahiran Bekasi, Zaskia Gotik. Kelakar Zaskia Gotik, yang bernama asli Surkianih, banyak menuai kontroversi. Dikatakan demikian karena ada beberapa orang yang membela kelakarnya, tetapi tidak sedikit yang mengecamnya. Bahkan, ia sampai diperkarakan secara hukum. Kelakar Zaskia dalam acara musik pagi pada salah satu televisi swasta episode Selasa tanggal 15 Maret 2016 tidak pada tempatnya. Kelakarnya menyangkut hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan lambang negara. Ia berkelakar bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia adalah tanggal 32 Agustus dan lambang sila kelima Pancasila adalah ‘bebek nungging’.
Karena kelakarnya ditayangkan pada acara televisi swasta nasional, keironisan kelakarnya dapat disaksikan oleh masyarakat luas. Televisi sebagai media massa berfungsi memberikan informasi, hiburan, dan pendidikan (Thomas, 2007:79). Jika kemudian fungsi tersebut berubah menjadi bumerang, ada beberapa tayangan yang harus dikaji ulang. Hampir tiap hari masyarakat disuguhi dengan kelakar. Tulisan ini mengkaji kelakar itu dengan menggunakan delapan unsur komunikasi yang dicanangkan Dell Hymes.

Kelakar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kelakar didefinisikan sebagai perkataan yang bersifat lucu untuk membuat orang tertawa (gembira); lawak; olok-olok; senda gurau (Depdiknas, 2012:651). Dalam pragmatik, kelakar (banter) adalah cara menyinggung pera­saan untuk beramah tamah (mock-impoliteness) (Leech, 1993: 228). Lebih lanjut, Leech menandaskan bahwa kelakar atau dalam pragmatik disebut prinsip kelakar, sering dimanifestasikan dalam percakap­an yang santai, khususnya di antara anak muda. Ia juga menjelaskan bahwa prinsip kelakar berfungsi menunjukkan solidaritas de­ngan petutur (t) sehingga prinsip ini dapat di­nyatakan “katakanlah sesuatu kepada t yang jelas tidak benar dan jelas tidak santun” (Leech, 1993:228).

Karena kelakar dimaksudkan untuk keakraban dan dalam situasi santai, kelakar harus kelihatan tidak serius. Tentunya kelakar tidak ditujukan kepada orang yang belum kenal atau tidak akrab karena akan menimbulkan hal sebaliknya, misalnya, tersinggung atau marah. Kelakar juga tentunya tidak menyangkut hal yang sifatnya sensitif. Kelakar biasanya ditujukan kepada sesama komunitas internal, yakni sesama anggota komunitas tersebut. Jika kemudian kelakar ditujukan kepada khalayak umum, kelakar harus benar-benar hati-hati agar tidak menyinggung atau menghina pihak lain. Tujuan kelakar di televisi adalah untuk menghibur, baik penonton di studio maupun pemirsa di rumah. Namun, kelakar yang tidak semestinya bisa berefek sebaliknya.

Kelakar Zaskia Gotik dan SPEAKING Hymes
Banyaknya kecam­an dan kritikan atas kelakar Zaskia Gotik meng­isyaratkan bahwa Zaskia kurang dapat berkomunikasi de­ngan baik. Dalam berkomunikasi atau dalam penggunaan bahasa setidaknya harus diperhatikan delapan unsur seperti yang dicanangkan oleh Dell Hymes (Wardhaugh, 1988:238—240). Kedelapan unsur tersebut terangkum dalam suatu akronim dalam bahasa Inggris “SPEAKING”, yakni S(etting and Scene), P(articipants), E(nds) (purpose and goal), A(ct sequences), K(ey) (tone or spirit of act), I(nstrumentalities), N(orms of interaction and interpretation), dan G(enres).

Setting berkaitan dengan latar tempat, waktu, budaya, dan lingkungan fisik konkret tempat tuturan berlangsung. Tuturan Zaskia terjadi pada salah satu televisi swasta nasional. Menurut Morissan (2014: 240), televisi nasional memiliki daya jangkau luas sehingga siaran televisi sudah dapat dinikmati oleh berbagai kelompok masyarakat. Oleh karena itu, daya jangkau yang demikian luas tetap harus memerhatikan budaya Indonesia. Kelakar yang dilontarkan oleh Zaskia hendaknya tetap memerhatikan budaya Indonesia yang menjunjung tinggi lambang negara Republik Indonesia. Scene berkenaan dengan situasi psikologis pembicaraan, dalam arti bahwa acara tersebut disiarkan secara langsung sehingga penutur yang kurang berhati-hati akan mudah tergelincir pada kekeliruan. Participants atau peserta tutur meliputi pembicara dan pendengar. Pembicara atau penutur adalah Zaskia Gotik, sedangkan pendengar atau mitra wicara adalah seluruh masyarakat Indonesia yang menonton acara tersebut. Oleh karena itu, penonton dapat berasal dari ber­bagai golongan usia maupun profesi. Jika yang menonton adalah anak-anak, dikhawa­tirkan mereka akan meniru hal yang keliru atau salah tersebut.

Ends merujuk pada maksud dan tujuan pertuturan. Tujuan tuturan Zaskia tentunya adalah bergurau atau berkelakar. Act sequence mengacu pada bentuk ujaran dan isi ujaran. Bentuk ujaran berkaitan dengan kata-kata yang digunakan, cara menggunakannya, dan hubung­an antara apa yang dikatakan dan topik pembicaraan. Kata-kata yang digunakan adalah kesalahan dalam menyatakan bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia adalah tanggal 32 Agustus. Padahal, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia adalah tanggal 17 Agustus yang setiap tahunnya diperingati oleh seluruh rakyat Indonesia. Tuturan tersebut dilontarkan dengan maksud bercanda agar penonton di studio tertawa atau pemirsa di rumah merasa terhibur. Kelakar Zaskia sebenarnya tidak menjawab dengan benar pertanyaan yang diutarakan oleh penanya.

Key atau warna emosi penutur mengacu pada nada, cara, dan semangat suatu pesan disampaikan. Pesan yang di­sampaikan memiliki nada bercanda. Instrumentalities atau sarana mengacu pada jalur bahasa yang digunakan, yakni media massa televisi. Menurut Soemandoyo (1999: 22), secara sosiologis televisi menjadi alat untuk menyampaikan nilai-nilai tertentu pada masyarakat. Dari dimensi teknologi, televisi memiliki keunggulan, yakni mampu menjangkau wilayah yang sangat luas dalam waktu yang bersamaan. Sebagai bagian dari medium yang signifikan keberadaannya di dalam masyarakat, televisi kemudian tidak hanya sebagai media informasi, tetapi juga sebagai regime of signification. Pendekat­an ini mendorong masyarakat untuk dapat memahami isi dan memaknai tanda-tanda yang diterima dari media yang mere­ka konsumsi tiap hari. Media informasi seperti televisi telah menjadi mekanisme yang berpengaruh di masyarakat karena kemampuannya untuk meme­ngaruhi dan membentuk ke­sadaran masyarakat (Santoso, 2011: 65). Oleh karena itu, kelakar yang disiarkan pada stasiun televisi haruslah hal-hal yang yang sifatnya mendidik.

Norms of interaction and interpretation mengacu pada norma atau aturan dalam berinteraksi. Di samping itu, ia mengacu pada norma penafsiran terhadap ujaran dari lawan bicara. Kelakar Zaskia Gotik, yang kelahiran 27 April 1990, dianggap telah melanggar Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara, dan Lagu Kebangsaan. Sebagai warga negara Indonesia yang baik, seyogianya ia mampu menjunjung aturan tersebut. Karena keteledorannya, ia dianggap melecehkan lambang negara Indonesia. Genre mengacu pada jenis wacana. Jenis wacana yang dituturkan Zaskia berjenis kelakar. Meskipun berkelakar, hal itu berarti bahwa sese­orang bebas untuk berkelakar karena kelakar pun harus tetap mengindahkan etika dan aturan yang ada.

Penutup
Dari uraian di atas, kelakar Zaskia tidak pada tempatnya. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya kecaman dan kritikan atas kelakarnya. Agar peristiwa serupa tidak terulang lagi, ada baiknya sebelum berkelakar penutur memerhatikan delapan unsur berbahasa sebagaimana dicanangkan oleh Dell Hymes, yakni “SPEAKING”. [ ]

Pustaka Rujukan
Depdiknas. 2012. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2011. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik, terj. Oka M.D.D. Principles of Pragmatics. New York: Longman.
Morissan. 2014. Periklanan:Komunikasi Pemasaran Terpadu. Jakarta: Kencana.
Santoso, Widjajanti M. 2011. Sosiologi Feminisme: Kontruksi Perempuan dalam Industri Media. Yogyakarta: LKIS.
Soemandoyo, Priyo. 1999. Wacana Gender dan Layar Televisi: Studi Perempuan dan Pemberitaan Televisi Swasta. Yogyakarta: LP3Y dan Ford Foundation.
Thomas, Linda dan Shan Wareing. 2007. Bahasa, Masyarakat & Kekuasaan.Terjemahan Sunoto dkk..Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Wardhaugh, Ronald. 1988. An Introduction to Sociolinguistics. Oxford: Basil Blackwell.


  • 0

Kritik Terjemahan Newmark, Reiss, dan Nord

Tri Pujiati
Universitas Pamulang
Tangerang Selatan

 

 

Pengantar
Kritik terjemahan bukan hal baru bagi para pegiat bahasa. Meskipun kurang populer daripada kritik sastra, kritik terjemahan mampu menjadi penyokong utama dalam pengembangan kualitas terjemahan di Indonesia. Kegiatan mengkritik terjemahan sangat baik dilakukan tidak hanya oleh penerjemah tetapi juga pihak lain yang memahami masalah penerjemahan. Dengan adanya kritik, penerjemah dapat sa­ling belajar dan terpacu untuk menghasilkan karya terjemah­an yang berkualitas. Adanya kritik terjemahan ini dapat memacu penerjemah untuk menghasilkan kualitas terjemahan yang baik. Berbagai pandangan tentang kritik terjemahan telah dikemukakan oleh para ahli seperti Peter Newmark, Katharina Reiss, dan Christiane Nord. Tulisan ini menyajikan pandang­an ketiga ahli tersebut.

Kritik Terjemahan Newmark
Menurut Newmark (1988:­184—185), kritik terjemahan sangat penting dalam pelatihan maupun praktik pener­jemahan. Ia menjadi kunci setiap pembelajaran, yakni sastra bandingan, literatur-literatur terjemahan, dan komponen kursus penerjemahan profesional dengan teks-teks yang sesuai dengan bidangnya (hukum, ekonomi, dan kedokteran). Newmark (1988:186) meng­usulkan lima hal dalam kritik terjemahan, yaitu (1) anali­sis sekilas me­ngenai maksud dan fungsi teks sumber (TSu); (2) interpretasi penerjemah atas TSu, metode penerjemahan yang digunakan, dan tujuan pembaca; (3) pembandingan bagian-bagian pen­ting antara TSu dan teks sasaran (TSa); (4) evaluasi terjemah­an berdasarkan sudut pandang penerjemah dan kritikus; dan (5) asesmen atas relevansi TSa bagi pembaca sasaran, budaya masyarakat, dan disiplin tertentu.

Dalam membuat kritik terjemahan, langkah-langkah yang dilakukan adalah (1) meng­analisis TSa dengan mempertimbangkan sikap dalam mengambil topik, karakter­isasi pembaca, dan indikasi kategori dan jenis; (2) melihat teks dari sudut pandang pe­nerjemah; (3) membandingkan TSu dan TSa, yang  meliputi judul, struktur, paragraf dan kalimat penghubung, pergeseran metafora, kata budaya,  translationase,  nama diri,  neologisme,  untranslationese words,  ambiguitas,  level bahasa,  metabahasa,  anekdot, dan efek bunyi; dan (4) mengevaluasi dengan standar Anda sendiri untuk mempertimbangkan apakah terjemahan berhasil sesuai dengan akurasi referensial dan pragmatis. Ada dua pendekatan yang bisa digunakan dalam menilai terjemah­an, yaitu  pendekatan fungsional dan pendekatan analitis. Pendekatan fungsional adalah upaya untuk menilai keberhasil­an dan kegagalan terjemahan atau penerjemah secara umum. Pendekatan analitis merupakan pendekatan yang terbentuk pada asumsi bahwa sebuah teks dapat dinilai dalam bagian tersebut, terjemahan dinilai sebagai bagian dari ilmu, kriya, seni, dan masalah selera.

Kritik Terjemahan Reiss
Dalam pandangan Reiss (2000:2), kritik terjemahan harus dilakukan oleh seseorang yang memiliki kemampuan bahasa sumber (BSu) dan bahasa sasaran (Bsa) yang memadai. Kritik harus bersifat memba­ngun dan tidak semata-mata menyalahkan penerjemah. Kritik terjemahan merupakan upaya untuk membandingkan TSu dan TSa. Terjemahan dinilai dari isinya, gaya yang digunakan oleh penerjemah, dan kadang-kadang dilihat dari estetikanya, seperti teks sastra. Terjemahan dapat dinilai dengan menggunakan kriteria tertentu, yaitu objektif dan relevan. Kriteria objektif dapat dilihat bahwa kritik terjemahan baik positif atau negatif harus didefinisikan secara eksplisit dan diverifikasi dengan contoh. Jika kriteria objektif direlasikan dengan kriteria yang relevan, kita harus berhati-hati dalam mengenali teks yang akan dievaluasi sebagai teks terjemahan. Selain objektif dan relevan, kriteria yang bisa digunakan dalam kritik terjemahan adalah stilistika dan tata bahasa. Julius Wirl (1958:64) dalam Reiss (2000:10)  mengatakan bahwa seseorang yang tidak dapat membaca teks asli tidak bisa menggunakan kriteria yang sama sebagaimana orang yang bisa membaca teks de­ngan baik.

Kita bisa membuat kritik berdasarkan TSu dan TSa. Kritik berdasarkan versi TSu sa­ngat produktif. Akan tetapi, karena ada keterbatasan referensi terhadap teks asli, diperlukan pembandingan dengan teks asli. Hanya dengan membandingkan TSu dan TSa, kesetiaan dalam penerjemahan telah tercapai, maksud dari penulis dapat dipahami dengan baik, terjemahan dapat diinterpretasikan, dan kesuksesan terjemahan dieks­presikan dalam TSa. Dalam membuat kritik terjemahan, kritikus harus memahami jenis teks yang akan dikritik untuk menghindari kesalahan dalam menggunakan standar yang tidak tepat dalam penilaian terjemah­an. Penerjemah dan kritikus harus memiliki analisis dasar yang sama mengenai klasifikasi teks; ini dapat dilihat dari medium teks itu sendiri, yaitu bahasa. Setiap teks harus diperiksa secara tepat untuk mengetahui tujuan teks tersebut. Karl Buhler (1990:28) dalam Reiss (2000:25), menyatakan bahwa bahasa memiliki tiga fungsi, yaitu representasi, ekspresi, dan persuasi. Teks representatif berfokus pada isi teks (content-focused text) untuk berkomunikasi secara efektif dan memberikan informasi secara akurat. Teks ekspresif berfokus pada bentuk (form-focused text) untuk mengekspresikan maksud penulis sendiri, dan teks persuasif berfokus pada daya tarik (appeal-focused text) untuk memengaruhi pendengar atau pembaca.

Kritikus juga melihat komponen linguistik yang terdiri dari elemen semantik, leksikal, stilistika, dan gramatikal. Kritikus harus menilai terjemah­an berdasarkan empat elemen tersebut. Elemen semantik untuk melihat ekuivalensi antara TSu dan TSa, elemen leksikal untuk melihat bahwa komponen TSu yang disampaikan dalam TSa telah cukup, elemen gramatikal untuk melihat kebenaran sistem gramatikal antara TSu dan TSa, dan elemen stilistika untuk melihat apakah teks berkorespondensi secara lengkap dalam TSa. Selain itu, kritik terjemahan dapat dilakukan dengan melihat faktor ekstralinguistik yang merupakan kategori pragmatis dalam kritik terjemahan. Faktor ini bergantung pada situasi, subjek yang dikaji, waktu, tempat, pende­ngar, pembicara, dan implikasi afektif.

Kritik Terjemahan Nord
Nord (1991:163) menyampaikan pandangannya bahwa kritik terjemahan harus berdasarkan analisis perbandingan TSu dan TSa dan memberikan informasi tentang kesamaan atau perbedaan struktur BSu dan BSa, proses penerjemahan, metode atau strategi yang digunakan, dan untuk melihat bahwa TSa sesuai dengan tujuan (skopos) terjemahan. Asesmen dilakukan berdasarkan BSu dan BSa, yang disebut dengan perbandingan terjemahan, sebagaimana dinyatakan Koller (1979) dalam Nord (1991:164). Langkah pertama dalam membuat kritik terjemahan menurut Nord adalah menganalisis teks dalam situasi berdasarkan mo­del didaktik kritik terjemahan (a didactic model of translation cri­ticism). Analisis teks merupa­kan dasar penyusunan suatu kritik terjemahan. Dengan meneliti TSu dan TSa, pembuat kritik dapat menentukan profil TSa yang ideal, menyiasati masalah penerjemahan, dan menyusun strategi yang digunakan. Pada analisis ini, kritik terjemahan melihat apakah teks sasaran koheren dengan situasi fungsional dalam teks sumber. Analisis teks didasarkan pada analisis faktor ekstratekstual dan intratekstual. Pembandingan ini akan dijadikan kerangka acuan untuk penilaian terjemahan. Faktor ekstratekstual dianalisis dengan mempertanyakan siapa penulis teks, siapa penerima atau pembaca teks, medium apa yang digunakan untuk me­ngomunikasikan teks, tempat dan waktu penulisan dan pene­rimaan teks, motif atau alasan dilakukannya komunikasi, dan fungsi teks. Faktor intratekstual yang merupakan unsur di dalam teks, dianalisis berdasarkan bidang bahasa,  leksikal, dan koherensi stilistika normatif dan semantik.

Langkah kedua setelah melakukan analisis teks adalah melihat informasi eksplisit me­ngenai fase transfer untuk melihat masalah yang timbul dalam penerjemahan, metode atau strategi penerjemahan yang digunakan untuk mengatasi masalah penerjemahan, dan faktor lain yang dianggap sebagai masalah terjemahan, seperti koherensi, leksis dalam struktur kalimat, dan ambiguitas. Selanjutnya, kritik terjemahan masuk ke dalam kesimpulan, metode atau strategi yang digunakan penerjemah, dan menunjukkan metode atau strategi penerjemahan. Pembuat kritik membandingkan prinsip pener­jemahan yang digunakan penerjemah dan menunjukkan metode atau strategi penerjemahan yang paling sesuai.

Penutup
Dari ketiga pandangan ahli kritik terjemah­an, dapat di­nyatakan bahwa kritik terjemah­an merupakan suatu upaya untuk menilai suatu karya terjemahan. Kritik terjemahan bukan hanya teori, melainkan juga aplikasi yang dapat memberi manfaat bagi seorang penerjemah untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki kualitas terjemah­annya. Kritikus terjemahan tidak hanya menyalahkan penerjemah, tetapi juga memberikan saran terhadap hasil terjemahan. Selain itu, kritik terjemahan harus dilakukan secara objektif dengan mempertimbangkan ketepatan, kewajaran, dan keterbacaan hasil terjemahan. [ ]

Referensi
Newmark, Peter. 1988.  A Textbook of Translation. London: Prentice Hall International.
Nord, Christiane. 1991. Text Analysis in Translation. Amsterdam: Rodopi.
Pusat Bahasa. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia.
Reiss, Katharina. 2000. Translation Criticism – the Potentials & Limitations. Diterjemahkan oleh Erroll F. Rhodes. Manchester: St. Jerome.


  • 0

Pertarafan Adjektiva Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris pada Tingkat Kualitas

Tri Pujiati

Universitas Pamulang

Tangerang Selatan

 

Pengantar

Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris memiliki perbedaan secara gramatikal, khususnya pertarafan adjektiva pada tingkat kualitas. Berbagai tingkat kualitas secara relatif menunjukkan tingkat intensitas yang lebih tinggi atau lebih rendah. Pemahaman tentang perbedaan pertarafan adjektiva pada tingkatan kualitas kedua bahasa ini akan membantu pembelajar memahami struktur sintaksis pada pemakaian adjektiva secara baik dan benar pada kedua bahasa tersebut. Tulisan ini menguraikan tingkat kualitas dan intensitas dalam pentarafan adjektiva.

 

Bahasan

Ada enam tingkat kualitas atau intensitas dalam pertarafan adjektiva, yaitu (1) tingkat positif, (2) tingkat intensif, (3) tingkat elatif, (4) tingkat eksesif, (5) tingkat augmentatif, dan (6) tingkat atenuatif. Pada tingkat positif, tidak digunakan pewatas untuk membuat kalimat bahasa Indonesia dengan menunjukkan adjektiva. Artinya, tingkat positif ini memerikan kualitas atau intensitas maujud yang diterangkan dan dinyatakan oleh adjektiva tanpa pewatas. Perhatikan contoh berikut ini.

  • Indonesia kaya akan minyak.

Pada contoh (1) tersebut, adjektiva kaya merupakan adjektiva yang dinyatakan dalam bentuk positif. Pada kalimat bahasa Inggris, tingkat positif biasa disebut dengan absolute form. Adjektiva yang digunakan adalah adjektiva tanpa pewatas apapun, sebagaimana contoh berikut.

  • She is beautiful girl

Pada contoh (2) di atas, adjektiva dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan menggunakan tingkatan positif, seperti pada kata beautiful. Untuk menunjukkan ketiadaan kualitas, kalimat dalam bahasa Inggris bisa dimarkahi dengan pemakaian pewatas seperti tidak atau tak, sebagaimana contoh berikut.

  • Tidak ada jalan di Jakarta yang tidak/tak macet.

Pada contoh (3) di atas, ketiadaan pada adjektiva dalam bahasa Indonesia dinyatakan dengan menggunakan tingkatan positif dengan menambahkan negasi tidak atau tak, seperti pada kata tidak macet. Dalam bahasa inggris, ketiadaan kualitas bisa ditandai dengan pemakaian pewatas seperti no atau not, sebagaimana contoh berikut.

  • She is not beautiful

Pada contoh (4) di atas, ketiadaan pada adjektiva dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan menggunakan tingkatan positif dengan menambahkan negasi not seperti pada kata not beautiful.

Tingkat intensif menekankan kadar kualitas atau intensitas, yang dinyatakan dengan memakai pewatas benar, betul, atau sungguh. Perhatikan contoh (5) berikut ini:

(5) Pak Andi setia benar dalam pekerjaannya.

Pada contoh (5) di atas, adjektiva benar merupakan adjektiva yang dinyatakan dengan pewatas seperti benar yang diletakkan setelah adjektiva. Hal ini berbeda dengan pemakaian pertarafan adjektiva pada tingkat intensif dalam bahasa Inggris, pewatas yang digunakan adalah really. Perhatikan contoh (6) berikut.

  • She is really

Pada contoh (6) di atas, adjektiva beautiful merupakan adjektiva yang dinyatakan dengan pewatas really yang diletakkan sebelum adjektiva. Dalam bahasa Indonesia, ketiadaan intensitas atau kualitas yang sungguh-sungguh atau mutlak dinyatakan dengan permakaian pewatas sama sekali, tidak … sama sekali atau tidak … sedikit juga/pun. Perhatikan contoh (7) berikut ini:

  • Kakak saya sama sekali tidak sombong/tidak sombong sama

sekali/sedikit juga/pun

Dalam bahasa Inggris, kata yang dipakai untuk menyatakan ketiadaan intensitas atau kualitas yang sungguh-sungguh atau mutlak dinyatakan dengan not really, sebagaimana contoh (8) berikut.

  • She is not really

Berdasarkan contoh (7) dan (8), dapat dilihat bahwa untuk menyatakan ketiadaan tingkat intensif dalam bahasa Indonesia bisa digunakan pewatas sama sekali, tidak … sama sekali atau tidak … sedikit juga/pun yang diletakkan sebelum adjektiva, atau dengan menggunakan negasi tidak sebelum adjektiva kemudian ditambah pewatas sama sekali/ sedikit juga/pun seperti pada contoh (7). Sementara itu, dalam bahasa Inggris, untuk menunjukkan ketiadaan intensitas, bisa digunakan not really yang diletakkan sebelum adjektiva seperti pada contoh (8).

Tingkat elatif menggambarkan tingkat kualitas atau intensitas yang tinggi, dinyatakan dengan memakai pewatas amat, sangat, atau sekali. Untuk memberikan tekanan yang lebih dan pada tingkat elatif, kadang-kadang digunakan kombinasi dan pewatas: amat sangat … atau (amat) sangat sekali. Perhatikan contoh (9) berikut ini.

  • Sikapnya (amat) sangat angkuh (sekali) ketika menerima kami.

Dalam bahasa Inggris, tingkat elatif dinyatakan dengan menggunakan kata very, seperti contoh (10) berikut.

  • She is very beautiful

Berdasarkan contoh (9) dan (10) dapat dilihat bahwa pertarafan adjektiva bahasa Indonesia dan bahasa Inggris memiliki kesamaan yaitu keduanya ditandai dengan pewatas di depan adjektiva. Untuk menyatakan tingkat elatif dalam bahasa Indonesia bisa digunakan pewatas amat, sangat, atau sekali yang diletakkan sebelum adjektiva; sedangkan dalam bahasa Inggris bisa digunakan very yang diletakkan sebelum adjektiva.

Tingkat eksesif, yang mengacu pada kadar kualitas atau intensitas yang berlebih, atau yang melampaui batas kewajaran, dinyatakan dengan memakai pewatas terlalu, terlampau, dan kelewat. Perhatikan contoh (11) berikut ini.

  • Mobil itu terlalu/terlampau/kelewat

Tingkat eksesif dapat juga dinyatakan dengan penambahan konfiks ke-an pada adjektiva, seperti pada contoh (12) berikut ini.

  • Baju saya kebesaran.

Dalam bahasa Inggris, tingkat eksesif dapat dipakai dengan menggunakan kata so dan too, sebagaimana contoh (13) berikut.

  • This car is so/too

Berdasarkan contoh (11), (12), dan (13), dapat dilihat bahwa pertarafan adjektiva pada tingkat eksesif dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Pada contoh (11), pertarafan adjektiva pada tingkatan ini ditandai dengan pemakaian terlalu, terlampau, dan kelewat yang diletakkan sebelum adjektiva. Namun, pada contoh (12) tingkat eksesif dalam bahasa Indonesia dibentuk dengan afiksasi, yaitu penambahan ke- dan akhiran –an pada adjektiva. Pada tingkat eksesif seperti contoh (13), kalimat bahasa Inggris ditandai dengan pewatas so dan too yang diletakkan sebelum adjektiva.

Tingkat augmentatif menggambarkan naik atau bertambahnya tingkat kualitas atau intensitas, dinyatakan dengan memakai pewatas makin ….makin … makin …, atau semakin. Perhatikan contoh (14) berikut ini.

  • Makin rajin bekerja, Sutarno menjadi makin

Dalam bahasa Inggris, tingkat augmentatif dapat digambarkan dengan menggunakan double comparative, sebagaimana contoh (15) berikut.

  • The more he plays, the more he improves.

Berdasarkan contoh (14) dan (15), dapat dilihat bahwa pertarafan adjektiva pada tingkat augmentatif dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris memiliki perbedaan. Pada contoh (14), pertarafan adjektiva ditandai dengan pemakaian makin ….makin … makin …, yang diletakkan sebelum adjektiva. Pada tingkat augmentatif, kalimat bahasa Inggris ditandai dengan pewatas doble comparative yang diulang pada klausa kedua seperti contoh (15).

Tingkat atenuatif memberikan penurunan kadar kualitas atau pelemahan intensitas, dinyatakan dengan memakai pewatas agak atau sedikit. Perhatikan contoh (16) berikut ini.

  • Gadis yang agak/sedikit malu itu diterima jadi pegawai.

Pada adjektiva warna, tingkat atenuatif dinyatakan dengan bentuk ke—an yang direduplikasi. Berikut adalah contohnya.

  • Warna bajunya kekuning-kuningan.

Tingkat atenuatif dalam adjektiva bahasa Inggris menggunakan kata about dan approximately. Perhatikan contoh (18) berikut.

  • His hair is approximately

Dari contoh (16), (17), dan (18), dapat dilihat bahwa pertarafan adjektiva pada tingkat atenuatif dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris memiliki perbedaan. Pada contoh (16), pertarafan adjektiva ditandai dengan pemakaian agak atau sedikit yang diletakkan sebelum adjektiva. Pada contoh (17), tingkat atenuatif dalam bahasa Indonesia dibentuk dengan afiksasi, yaitu penambahan ke- dan akhiran –an pada adjektiva warna. Pada tingkat augmentatif, kalimat bahasa Inggris ditandai dengan pewatas about dan approximately sebelum adjektiva seperti contoh (18).

 

Penutup

Ada tiga hal yang bisa dirangkum untuk menutup tulisan ini. Pertama, pentarafan adjektiva dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dari segi kuantitas memiliki kesamaan dan perbedaan dalam pembentukan adjektiva dan pewatas. Kesamaan pada pertarafan adjektiva bahasa Indonesia dan bahasa Inggris terletak pada posisi pewatas adjektivanya, karena pewatas adjektiva berada sebelum adjektiva itu sendiri. Sementara itu, perbedaannya terletak pada pembentukan pertarafan adjektiva dalam bahasa Indonesia, yang bisa ditambahkan konfiks ke- dan –an pada adjektivanya.  Kedua, pada tingkat positif, dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan tentang pemakaian adjektiva baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia.

Ketiga, pembelajar bahasa Indonesia atau bahasa Inggris perlu memahami pembentukan adjektiva tersebut sesuai dengan fungsi dan pemakaiannya. Tulisan ini dapat membantu pembelajar bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris sebagai bahasa kedua untuk memahami perbedaan dan kesamaan antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia sehingga mempermudah dalam berkomunikasi baik secara lisan maupun tertulis dengan menggunakan adjektiva bertaraf. [ ]

 

 

Referensi

Alwi, Hasan. Dkk. 2004. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga.  Jakarta: Balai Pustaka

Alexander, L G. 2008. Fluency in English. Yogyakarta: Kanisius.

Azar, Betty Scrampfer. 1989. Understanding and Using English Grammar second edition. New Jersey: Prentice Hall.

________. 1992. Fundamentals English Grammar second edition. New Jersey: Prentice Hall.

Frank, Marcella. 1972. Modern English a practical reference guide. New Jersey: Prentice Hall.


  • 0

Antara Logika dan Bahasa: Mengenal Filsafat Bahasa dalam Kitab Fi Falsafah al Lughah

Ahmad Ghozi

Widyaiswara Bahasa Arab

PPPPTK Bahasa

 

 

Pendahuluan

Manusia sesuai fitrahnya  disebut al insan hayawan naatiq, yakni hewan yang mampu berpikir. Melalui berpikir, manusia dapat melampaui segala sesuatu dan menyelesaikan masalah serta dapat memikirkan pengertian-pengertian abstrak. Hanya saja, kemampuan berpikir manusia dengan akal dalam persepsi dan pengetahuan itu terbatas.  Fitrah berpikir  manusia tidak akan berkembang secara otomatis kecuali jika dirangsang untuk diberdayakan. Al Washilah (2010: 158) menyatakan, pemberdayaan kemampuan berpikir dapat dilakukan secara eksternal seperti  melalui penciptaan lingkungan yang kondusif, atau secara internal melalui penyadaran diri melalui pendidikan; sehingga seseorang secara bertahap memiliki kemampuan berpikir itu. Secara umum, setiap perkembangan dalam idea, konsep dan sebagainya dapat disebut berpikir. Karena itu, menurut Suriasumantri (1984: 52) definisi paling umum dari berpikir adalah perkembangan idea dan konsep. Tak dapat dimungkiri, eksistensi berpikir merupakan keniscayaan bagi manusia. Menurut Ma’ruf Zuraiq (1993: 89), ada empat hal sebelum ada proses berpikir, yaitu (1) kejadian atau masalah, (2) kesan, (3) (berfungsinya) indera, dan (4) pengetahuan sebelumnya. Lalu menurutnya apakah berpikir itu?  Banyak orang yang keliru menyatakan makna berpikir itu. Mereka berkata bahwa berpikir itu adalah apa yang terlintas dalam proses akal manusia. Banyak juga pertanyaan, dengan apa Anda berpikir? Ketika hilang ingatan nama teman,  lalu berpikir atau mengingatnya. Ketika melihat pemandangan indah, lalu berpikir, hal itu berarti Anda memersepsikannya. Dengan demikian, berpikir di kalangan banyak orang adalah menghayal, atau mengingat, atau memersepsikan, dan sebagainya.

Tuntutan dalam berpikir adalah bahwa manusia merasakan adanya masalah; lalu mencari cara penyelesaiannya, yang merupakan tujuan dari usaha manusia untuk mencapainya sehingga sampailah ia pada pemecahan akhir untuk lalu melakukannya. Berkaitan dengan hal ini,  Zuraiq (1993: 90) menyatakan rumusan tentang berpikir itu demikian.

سلسلة مقصودة من المعاني ذات طبيعة رمزية تثار في المجال الذهني, عندما يواجه الإنسان مشكلة معينة أو يريد القيام بعمل معين .

“Proses kesinambungan dari makna-makna yang memiliki karakteristik simbolik yang memengaruhi bidang kognitif”. (Zuraiq,

Salah satu yang kita pikirkan adalah bahasa. Apa yang kita ucapkan biasanya adalah yang kita pikirkan. Berpikir tentang bahasa memang memerlukan renungan secara tersendiri. Proposisi dalam bahasa dan kenyataannya dibahas secara mantik (logika). Tulisan ini menguraikan sisi filsafat bahasa secara umum.

 

Masalah Proposisi Umum

Menurut Russel, terdapat proposisi-proposisi bukan turunan (atomic) dan bukan bertingkat (compund proposition), di antaranya adalah proposisi umum atau apa yang kadang disebut oleh pandangan deskriptif proposisi universal (kulliyah) dan kadang pula disebut  proposisi kategoris (hamliyah). Teori logika deskriptif modern menetapkan bahwa proposisi umum ini bukanlah kategoris (hamliyah), melainkan syartiyah muttashilah. Russel berpendapat bahwa setiap proposisi bertingkat (tarkibi) atau percobaan (tajribi) mengungkapkan  suatu kejadian umum. Dengan demikian, proposisi umum harus mengungkapkan kejadian. Pertanyaannya,  apakah ada kejadian-kejadian yang umum itu?

Russel mengkhawatirkan pernyataan dengan kejadian umum. Jika pandangan ini ditolak, seharusnya apakah yang ditolak eksistensi proposisi umumnya, itu tidak benar. Atau, apakah asumsi keberadaan proposisi umum percobaan (tajribi) tetapi tidak ada hubungan dengan dunia nyata, maka itu  juga tidak berterima. Beginilah masalah proposisi umum: kapan benar dan kapan bohong. Adalah benar jika sesuai dengan kejadian, dan bohong jika kejadian tidak sesuai dengan pernyataannya. Untuk itu, kejadian di sini akan menjadi umum namun apakah kejadian umum itu? Kejadian-kejadian itu selalu parsial (juz’iyyah) seperti “Socrates minum racun”, “Serangan Napoleon tahun 1815”, “Zaid tidak hadir”, dan sebagainya. Menurut Russel yang meragukan bahwa proposisi umum kadang berkaitan erat antarproposisi, pandangan ini tertolak, karena jika dikatakan:

Jika setiap A adalah B merupakan ringkasan bagi sejumlah besar proposisi tunggal (singular proposition), seperti Muhammad adalah manusia dan mati, Zaid manusia dan mati, umar dan sebagainya; sesungguhnya proposisi umum lebih banyak terlepas dari proposisi tunggal karena mengandung proposisi yang lain pula yakni:

“Semua ini adalah setiap A”.

Para ahli logika berbeda pendapat dengan Russel dalam menyikapi hal ini. Wittgenstein berpendapat bahwa proposisi umum bukanlah selain kumpulan proposisi parsial yang berkaitan tetapi ia kembali dan menolak pendapat ini. Ahli logika Inggris, Ramsey menyatakan bahwa proposisi umum tidak digambarkan dengan benar atau salah, hanya saja kita menganggapnya kaidah yang membimbing dalam pemberian informasi misalnya: “setiap arsenik adalah racun”, maka sesungguhnya itu menjustifikasi bahwa “arsenik adalah racun”.

Kita temukan bahwa ahli logika dan filosof Jerman Karel Popper menyatakan bahwa proposisi umum itu menggambarkan benar dan bohong karena tunduk pada kriteria yang memungkinkan berbohong (falsibility), yakni mencari keadaan atau kejadian yang membohongi proposisi umum. Jika kita temukan hal ini, propisisi umum ini bohong. Jika kita tidak menemukan, propisisi umum itu benar adanya.

Dari hal ini kita temukan sebagian ahli logika yang berpendapat bahwa proposisi umum bisa benar dan bohong dan sebagiannya menolaknya, sebagaimana Russel mengkhawatirkan pandapat dengan kejadian umum yang menunjukkan proposisi umum meskipun sulit mendeskripsikan kejadian-kejadian tersebut. Jadi, ahli logika tidak menetapkan atas satu pandangan dengan masalah proposisi-proposisi umum : dengan apa dibuat dan kepada apa ditujukan.

 

Struktur Bahasa dan Struktur Kenyataan

Wittgenstein mendorong pembentukan teori logical atomism tentang pernyataan bahwa bahasa adalah gambaran yang mendalam terhadap kenyataan. Bahwa struktur proposisi yang benar itu sesuai dengan struktur kenyataan yang menunjukkannya, wajib ditemukan dalam setiap deskripsi, yakni hubungan satu sama lain antara unsur-unsur deskriptif dan unsur-unsur apa yang mendeskripsikannya, atau menemukan sesuatu yang musytarak antara deskripsi dengan yang mendeskripsikannya kadang tidak muncul kesesuaian ini dari awalnya. Namun, tidak ditemukan sejak awal bahwa antara nautah musiqiyiyah dan lahn musiqi mirip dalam struktur. Meskipun demikian, kemiripan keduanya dapat diterima. Kemiripan ini menyatakan bahwa isim menunjukkan sesuatu yang tunggal dan tertentu, dan bahwa sifat dalam bahasa berkesesuaian dengan sifat yang abstrak bagi sesuatu yang tunggal itu. Begitu pun fi’il menerima hubungan antara satu dengan yang lain. Deskripsi bahasa terhadap kenyataan seperti peta atau tulisan penjelasan atau apa yang membedakan pita musik dan lahn yang dihasilkannya. Russel tidak menyatakan teori ini merupakan deskripsi bahasa (picture theory of language) dan baginya pendapat yang akan dijelaskan nanti. Akan tetapi, agar cocok antara Russel dan pernyataannya harus diyakini bahwa ada jenis kesesuaian antara bahasa dan kenyataan.

 

Rererensi Para Teoretikus

Russel dan Wittgenstein merumuskan teori logical atomism sejak tahun 1912 dan keduanya masih mendukung teori tersebut selama 20 tahun sebagaimana dijelaskan terdahulu, dengan tujuan di antaranya berusaha mengokohkan bahasa ideal simbolik yang jauh dari kekurangan bahasa secara umum,dan menjadikan setiap kosakata terbatas maknanya secara sempurna hingga sampai pada akhir analisis setiap kosa katanya kepada bahasa berupa isim-isim alam, sifat-sifat yang sederhana yang mungkin dapat ditemukan langsung secara hissiy (abstrak), kemudian diderivasikan di antaranya proposisi bertingkat (compound proposition), atau analisis proposisi bertingkat kepada jenis proposisi yang paling sederhana yang tidak disusun kecuali dari isim-isim alam dan sifat-sifatnya. Namun, dapat dijelaskan bahwa proyek bahasa ideal adalah proyek mustahil, bahkan sebagian kritikus menyatakan bahwa Russel tidak menjadi baik dalam keyakinannya dengan kokohnya contoh bahasa tersebut.  Atas dasar itu, para filosof mereferensikan teori tersebut karena sebab-sebab yang berbeda, yakni sebagai berikut. Pertama, alam tercipta dari sejumlah bentuk fakta bertingkat yang mustahil mengembalikannya kepada fakta-fakta dengan bahasa sederhana melalui metode yang dibentuk oleh teori, tetapi kita tidak dapat mendahulukan kriteria bagi yang sederhana dan mutlak, dan tidak membedakan antara sederhana secara mutlak dan yang bertingkat.

Kedua, referensi Russel tentang deskripsi isim alam logis di bawah tekanan teman-temannya para kritikus ketika melihat bahwa ini bukanlah isim alam logis, karena mungkin menjadi ringkas (dalam lingkup teori deskriptif) untuk mendeskripsikan “apa yang ditujukan sekarang” lalu Russel setelah itu memandang bahwa itu menjadi ungkapan setiap isim secara ringkas memiliki kumpulan sifat dan ungkapan sesuatu yang abstrak “struktur kognitif” dari kumpulan sifat itu. Ketiga, terjadi kegagalan dalam menafsirkan proposisi umum dengan jelas berdasarkan hipotesis fakta-fakta yang umum, dan bahwa pembicaraan tentang fakta umum menggambarkan ketidakjelasan yang tidak ada penerapannya dalam fakta, dengan pandangan: bisa kita terima dengan fakta umum atau bisa juga menolaknya. Jika kita menerimanya, kita menerima yang tidak sesuai fakta, dan bila menolaknya berarti kita menolak proposisi umum; padahal itu merupakan kalimat paling wajar dalam bahasa umum dan penolakan itu tidak bisa diterima (Russel dan Wittgenstein).

Keempat, Wittgenstein menemukan kesalahan teori deskripsi bahasa sehingga   bukunya sendiri mendukung teorinya dan sadar kepada satu contoh minimal yang berlawanan dengan teori, yakni bahwa proposisi apapun tentang deskripsi logis tidak menerima fakta apapun. Kelima, Russel tidak bersemangat dengan teori deskripsi bahasa yang dirancang Wittgenstein. Apapun hipotesisnya yang sesuai dengan struktur proposisi dan struktur faktual, sesungguhnya Russel ragu menerima atau menolaknya. Keenam, Wittgenstein berpendapat bahwa penetapan fakta bukanlah fungsi utama dan satu-satunya bagi bahasa. Baginya ada sejumlah besar fungsi seperti memberi perintah, mengungkapkan minat, bermain peran dalam drama, menceritakan hikayat, memberi hormat, berterima kasih dan sebagainya. Bahkan ia berpendapat juga bahwa kalimat apapun dalam bahasa tidak memiliki satu makna terbatas tetapi dibatasi makna kata yang digunakan dalam bahasa umum dan memiliki beragam arti dengan beragam penggunaannya dalam situasi berbeda.

 

Simpulan

Ketelitian, kejelasan, dan kebenaran merupakan tiga hal mendasar yang berhubungan dengan tujuan setiap ahli mantik (logika). Russel menyatakan bahwa meski jika tidak mungkin kokohnya kesesuaian yang sempurna antara bahasa dan fakta, sesungguhnya ia yakin bahwa ada jenis kesesuaian yang mendalam yang belum jelas antara struktur bahasa dengan struktur faktanya. Kesadaran para ahli mantik (logika) terhadap sulitnya menerima ketika mereka ingin menafsirkan proposisi umum dan dasar kebenarannya seperti “setiap hewan keadannya hidup” atau “ setiap yang rajin mendapatkan ijazah” dan sebagainya. Kesulitannya bahwa proposisi apapun bisa benar jika terdapat faktanya, dan bisa bohong jika berbeda faktanya, tetapi tidak ditemukan proposisi umum karena setiap fakta adalah juz’iyah (parsial). [ ]

 

Referensi

Al Washilah, Chaedar, 2010. Filsafat Bahasa dan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya

Suriasumantri, Jujun S., 1984. Ilmu dalam Perspektif, Jakarta: Gramedia.

Zuraiq, Ma’ruf, 1993. Ilm al Nafs al Islamy, Damaskus: Dar al Ma’rifah


  • 0

Konsep dan Jenis Frasa dalam Bahasa Arab

Dedi Supriyanto

Widyaiswara Bahasa Arab

PPPPTK Bahasa

 

Pengantar

Istilah frasa dalam bahasa Indonesia kurang populer dalam bahasa Arab utamanya di kalangan para pengkaji nahwu (sintaksis/tata bahasa). Hal ini karena buku-buku sintaksis bahasa Arab pada umumnya tidak mengemukakan definisi tentang frasa. Bahkan tidak ada bab atau subbab yang menggunakan istilah frasa sebagai kepala pembahasan. Meskipun demikian, itu tidak berarti bahwa dalam bahasa Arab tidak ada konsep tentang frasa. Frasa dalam bahasa Arab dapat disamakan dengan istilah murakkab  (konstruksi). Dalam buku-buku nahwu banyak dibahas berbagai konstruksi yang pada dasarnya merupakan konstruksi frasa, misalnya: jar-majrur, na’at man’ut, dan idhafah. Selain itu, dalam Jami’ud Duruus Al-Arabiyyah karya  Al-Ghalayaini (1987) dikemukakan istilah murakkab yang mencakupi murakkab isnady dan beberapa murakkab lainnya, seperti murakkab athfy, murakkab idhafy, dan murakkab bayany. Berbagai murakkab selain murakkab isnady tersebut  pada dasarnya merupakan konstruksi frasa, dan murakkab isnady adalah konstruksi klausa (Asrori, 2004:3). Tulisan ini memaparkan konsep frasa dan  jenisnya. Pemahaman terhadap makna frasa dalam bahasa Arab dan pengetahuan tentang jenis-jenisnya diperlukan agar kita dapat menganalisis frasa dalam bahasa Arab dengan baik dan benar, serta  tidak salah menggunakannya dalam penerjemahan.

 

Konsep Frasa

Ada beberapa pengertian frasa dalam pandangan para pakar bahasa. Ramlan (1981:16) menyatakan bahwa frasa adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih dan tidak melebihi batas fungsi. Senada dengan Ramlan, Ibrahim (1996:3) menyatakan bahwa frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi klausa. Cook (1971) dalam Tarigan (1986:25) membatasi frasa sebagai satuan linguistik yang secara potensial merupakan gabungan dua kata atau lebih, dan tidak mempunyai ciri-ciri klausa. Selanjutnya, Kridalaksana (1993:32) menyatakan bahwa frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif.  Sementara itu, frasa atau tarkib, sebagaimana dinyatakan oleh Hasanain (1984: 164-165), merupakan gabungan unsur yang saling terkait dan menempati fungsi tertentu dalam kalimat, atau suatu bentuk yang secara sintaksis sama dengan kata tunggal, dalam arti gabungan kata tersebut dapat diganti dengan satu kata saja. Dengan memakai istilah  ibarah, Badri (1986: 28) menyatakan bahwa frasa adalah konstruksi kebahasaan yang terdiri atas dua kata atau lebih, hubungan antarkata dalam konstruksi itu tidak predikatif, dan dapat diganti dengan satu kata saja.

Dari batasan frasa tersebut, dapat dinyatakan bahwa frasa adalah gabungan dari unsur-unsur yang saling berkaitan karena mempunyai peran yang sama dalam kalimat atau menduduki posisi yang sama dalam sintaksis, unsur-unsurnya bisa diganti dengan isim (fi‘l). Secara subtansial tidak ada perbedaan antardefinisi tersebut, karena setiap definisi menetapkan dua hal. Pertama, frasa merupakan satuan gramatik yang terdiri atas dua kata. Kedua, hubungan antarunsur pembentuknya tidak melebihi batas fungsi unsur klausa.  Perhatikan contoh-contoh berikut.

(1)  إله النّاس Tuhan manusia

(2)  مالك يوم الدين  raja hari pembalasan

(3) الرجل الكبير الذى فى الصف lelaki besar yang ada di baris depan

Dari ketiga contoh tersebut, dapat dilihat bahwa meskipun berbeda jumlah kata yang membentuknya, ketiganya berada dalam tataran frasa, artinya unsur unsur yang membentuk setiap konstruksi di atas tidak ada yang berhubungan secara predikatif. Selain berbeda jumlah katanya, unsur pembentuk ketiga frasa di atas pun berbeda. Konstruksi pada contoh (1)  merupakan frasa yang terdiri dari dua unsur yaitu kata إله (Tuhan) dan kata  الناس  (manusia). Konstruksi pada contoh (2) merupakan frasa yang terbentuk dari dua unsur yaitu kata مالك  (raja) dan frasa يوم الدين  (hari pembalasan). Adapun konstruksi pada contoh (3) merupakan frasa yang terbentuk dari dua unsur yang sama sama berupa frasa yaitu frasa الرجل الكبير ( lelaki besar) dan frasa    الذى فى الصف (yang ada di baris depan). Jadi unsur pembentuk frasa dapat berupa kata atau frasa.

 

Jenis frasa

Frasa dapat dikelompokkan berdasarkan (a) tipe strukturnya, (b) kesamaan distribusinya dengan golongan kata, dan (c) unsur pembentuknya. Berdasarkan tipe strukturnya, Ramlan (1981) dan Tarigan (1986) mengelompokkan frasa menjadi dua, yakni frasa endosentris ( غير محضة) dan frasa eksosentris  ( محضة). Frasa endosentris adalah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan salah satu atau semua unsurnya. Tarigan mendefinisikannya sebagai frasa yang mempunyai hulu (pusat atau pokok). Artinya salah satu unsur frasa tersebut merupakan hulu, dan sebagai unsur pusat ia mempunyai kesamaan distribusi dengan frasa. Sebagai contoh, frasa  الطالب الماهر pada klausa  الطالب الماهر ناجح mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, yaitu   الطالب.  Jadi, الطالب merupakan unsur pusat dan الماهر  merupakan atribut. Frasa eksosentris adalah frasa yang tidak mempunyai kesamaan distribusi dengan salah satu unsurnya. Misalnya,  frasa  أمام المدرسة pada konstruksi   الأولاد يلعبون أمام  المدرسة  tidak mempunyai distribusi yang sama dengan unsur unsurnya. Berdasarkan kesamaan distribusinya dengan kategori kata, frasa dikelompokkan menjadi dua jenis, yakni frasa verbal (murakkab fi’ly) dan frasa nonverbal (murakkab ghair fi’ly). Frasa nonverbal dikelompokkan lagi menjadi tiga jenis, (1) yakni frasa nomina (murakkab ismy), dengan contoh الرياضة البدنية مفيدة جدا ; (2) frasa ajektival (murakkab washfy), dengan contoh  الهواالبارد جدا فى هذا اليوم; (3) frasa adverbial (murakkab zharfy), dengan contoh  الشمش تسير إلى الغرب

(Badri, 1986:28)

Berdasarkan unsur pembentuknya, frasa bahasa arab dapat dikelompokkan menjadi 25 jenis, yakni (1) frasa sifat (na’ty), dibentuk oleh nomina sebagai unsur pusat diikuti oleh adjektiva sebagai na‘at (atribut), dengan contoh أخى يجلس فى الصف الثانى;  (2) frasa athfy (koordinatif), berunsurkan nomina diikuti oleh nomina atau verba diikuti oleh verba atau adjektiva diikuti oleh adjektiva, dengan contoh  أتعبم القراءة و الكتاب; (3) frasa badaly (apositif), terdiri atas nomina satu diikuti oleh nomina kedua, dengan contoh جاكرتا عاصمة إندونيسيا مدينة عصرية; (4) frasa zharfy (adverbial), mengandung unsur keterangan, dengan contoh جئت من سورابايا مساء أمسى ; (5) frasa syibhul jumlah (preposisional), berunsurkan preposisi yang dalam bahasa Arab disebutharf jar sebagai penanda diikuti nominal sebagai petanda, dengan contoh أنتظرك أمام المدرسة; (6) frasa manfy (negasional), terdiri atas penegasi yang diikuti oleh verba dan nomina, dengan contoh  الجاهل لا يعرف الجو; (7) frasa syarthy (syarat), berunsurkan penanda syarat sebagai atribut diikuti verba sebagai unsur pusat, dengan contoh  إذا جاء نصر الله; (8) frasa tanfis, tersusun dari verbal sebagai unsur pusat dan didahului oleh penanda waktu tanfis, dengan contoh سوف يحضر الوفد; (9) frasa tauqitat, berunsurkan verba bantu ﻜﻧﺎ dan yang sejenisnya sebagai atribut diikuti oleh verba maupun non verba sebagai unsur pusat, dengan contoh صار أخى يعمل فى هذا البنك; (10) frasa idhafy, berunsurkan nomina dan diikuti oleh nomina, dengan contoh ما عنوانك ؟ ; (11) frasa adady (numerial), berunsurkan bilangan atau adady sebagai unsur pusat diikuti oleh nominal sebagai atribut, dengan contoh أرورك ثلاث مرات ; (12) frasa nida’iy, terdiri atas kata seru (nida‘) sebagai atribut dan diikuti oleh nomina sebagai unsur pusat, dengan contoh أيها الناس اسعوا وعوا ; (13) frasa isyary, berunsurkan nomina sebagai unsur pusat didahului oleh penunjuk (isim isyarah) sebagai atribut, dengan contoh هذه المحفظة لك ; (14) frasa tawkidy, terbentuk dari nomina sebagai unsur pusat diikuti atribut berupa tawkid atau penegas, dengan contoh لقيت محمد نفسه ; (15) frasa mawshuly, di dalamnya mengandung kata sambung (almaushul), dengan contoh الذى ينام فى الفصل جاهل; (16) frasa mashdary (mashdar), terdiri atas penanda masdhar ﺃﻦ/an/ sebagai atribut diikuti oleh verba sebagai unsur pusat, dengan contoh أستطع أن أقرأ اللغة العربية ; (17) frasa tamyizy, berunsurkan mumayyaz, dengan contoh إندونيسيا أكبر البلاد الإسلامية سكانا; (18) frasa istitsna’iy, terbentuk dari pengecualian sebagai atribut diikuti oleh nominal sebagai unsur pusat, dengan contoh لا ريب سوى الله; (19) frasa bayany, berunsurkan dua nomina yang dipisahkan oleh huruf  ﻤﻦ (min), yang nomina pertama berfungsi sebagai atribut diikuti oleh nomina kedua sebagai unsur pusat, dengan contoh شربت كوببا من العصير; (20) frasa naskhy, berunsurkan nomina sebagai unsur pusat didahului oleh penanda naskhy, dengan contoh لعل الأستاذ يحضر; (21) frasa ikhtishashy, berunsurkan dua nomina yaitu nomina satu sebagai unsur pusat dan nominal dua sebagai pengkhusus. Sebagai pengkhusus, nomina dua ber‘irab mansub, dengan contoh نحن المسلمون أمة واحدة; (22) frasa taajjuby, mengandung unsur ta’ajub atau kekaguman, dengan contoh ماأجمل هذا المنظر; (23) frasa muqarabat, berunsurkan verba sebagai unsur pusat dan didahului oleh verba bantu muqarabat yang bermakna “hampir”, dengan contoh كاد يمضر الوقت; (24) frasa syuru’, berunsurkan verba sebagai unsur pusat dan didahului oleh verba bantu syuru’ sebagai atribut, dengan contoh بدأت تتحرك الحافلات; dan (25) rasa raja’ (kata kerja raja), berunsurkan verba ﻨﺪﺮﻚ  sebagai unsur pusat dan didahului verba bantu raja‘ﻋﺴﻰ  sebagai unsur pusat, dengan contoh عسى أن ينفعنا دعاءك

 

Penutup

Sebagai penutup, ada lima hal yang bisa disarikan dari tulisan ini. Pertama, frasa berbeda dengan klausa. Kedua, frasa adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang bersifat tidak predikatif atau tidak melampaui batas fungsi klausa. Ketiga, berdasarkan tipe strukturnya, frasa dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu frasa endosentris dan frasa eksosentris. Keempat, berdasarkan kesamaan distribusinya dengan kategori kata, frasa dikelompokkan menjadi lima jenis, yaitu frasa verbal, frasa nominal, frasa adverbial, frasa bilangan, dan frasa depan. Kelima, berdasarkan unsur pembetuknya terdapat 25 jenis frasa. [ ]

 

Referensi

Asrori, Imam. 2004. Sintaksis Bahasa Arab Frasa, Klausa, Kalimat. Malang: Misykat

Badri, K.I. 1986. Bunyatu-l Kalimah wa Nuzhau-l Jumlah (Diktat Perkuliahan Diploma) Jakarta: LIPIA

Hasanain, S.S., 1984. Dirasat fi ilmi-l lughah al Washfy wa At-Tarikhiy, wa Al- Muqaran. Riyadh: Darul Ulum li Thiba’ah wa an-Nasyr.

Kriadalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistic. Jakarta: Gramedia.

Ramlan, M. 1981. Sintaksis. Yogyakarta: Karyono.

Samsuri. 1995. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga.

Tarigan, H.G. 1986. Pengajaran Sintaksis. Bandung: Angkasa.


  • 0

Bahasaku, Bahasamu…

Ririk Ratnasari

Widyaiswara Bahasa Indonesia

PPPPTK Bahasa

 

 

“Batas duniaku adalah batas bahasaku,” kalimat yang disampaikan oleh Wittgenstein, filsuf bahasa yang lahir di Wina, Austria ini begitu menggelitik, karena begitulah realitas bahasa, yang bisa menembus batas dunia.  Dari ucapan Witgenstein dapat dilihat seberapa banyak kosa kata yang dimiliki karena apa yang kita ketahui adalah apa yang kita tahu bahasanya. Kita bisa merasai sedih, senang, dan sakit karena kita tahu bahasanya.

Menamai adalah proses identifikasi kali pertama untuk mendapatkan pengetahuan bahasa. Kita tidak dapat mengetahui sebuah benda jika kita tidak dapat menamainya. Bahasa dengan demikian erat kaitannya dengan pengalaman manusia. Ada yang berpendapat bahwa bahasa adalah rekaman-rekaman subjektif pengalaman manusia. Dengan kata lain, bahasa adalah sebuah realitas. Seperti yang dikatakan oleh Chomsky, kemampuan manusia untuk memberi nama merupakan awal dari perkembangan peradaban manusia modern. Perkembangan bahasa telah memungkinkan bertambahnya pengetahuan manusia dengan cepat. Artinya, bahasa adalah buatan manusia dalam melukiskan realitas. Gelas hanyalah masalah nama untuk benda dari kaca yang berfungsi sebagai tempat minum. Ada pula yang mengatakan bahwa bahasa memang melukiskan dunia apa adanya. Hewan dinamakan “tokek” karena ia sering bergumam, “tokek, tokek.”

Sebagai media dalam berpikir, kata-kata sangat terkait erat dengan pikiran. Di dalam berpikir terjadi proses asosiasi antara konsep atau simbol satu dengan konsep lain yang diakhiri dengan penarikan simpulan (Tylor, dalam Rakhmat, 1996). Keterkaitan antara kata-kata dan bahasa dapat dipetakan dalam tiga pendapat: bahasa memengaruhi pikiran, pikiran memengaruhi bahasa, dan bahasa dan pikiran saling memengaruhi.

Pendapat bahwa bahasa memengaruhi pikiran dimulai dari adanya pemahaman terhadap kata memengaruhi pandangan terhadap realitas. Pikiran dapat terkondisikan oleh kata yang digunakan. Tokoh yang mendukung terori ini adalah Benyamin Whorf dan gurunya Edward Saphir. Whorf mengambil contoh bangsa Jepang. Orang Jepang mempunyai pikiran yang sangat tinggi karena mereka mempunyai banyak kosa kata untuk menjelaskan sebuah realitas. Hal ini menjadi bukti bahwa mereka mempunyai pemahaman yang mendetail tentang sebuah realitas.

Pada sisi lain, pendukung teori pikiran memengaruhi bahasa adalah tokoh psikologi kognitif yaitu Jean Piaget. Melalui observasi yang dilakukan oleh Piaget terhadap perkembangan aspek kognitif anak, ia melihat bahwa perkembangan kognitif anak akan memengaruhi bahasa yang digunakan. Semakin tinggi aspek tersebut semakin tinggi bahasa yang digunakan anak.

Sementara itu, teori adanya hubungan timbal balik antara bahasa dan pikiran dikemukakan oleh Benyamin Vigotsky, seorang ahli semantik berkebangsaan Rusia  yang dikenal sebagai pembaharu teori Piaget. Penggabungan Vigotsky terhadap kedua pendapat di atas banyak diterima oleh kalangan psikologi kognitif. Bahasa dan pikiran memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan atau saling memengaruhi. Pada satu sisi, bahasa merupakan medium yang digunakan untuk memahami dunia serta alat dalam proses berpikir; pada sisi lain, pemahaman terhadap bahasa merupakan hasil dari aktivitas pikiran.

Namun, terlepas dari pendapat-pendapat di atas, bahasa memang mempunyai pengaruh terhadap pengalaman manusia. Bahasa memberikan pandangan perseptual dan sekaligus memaksakan pandangan konseptual tertentu.  Bahasa memaksakan pandangan perseptual karena bahasa adalah kaca mata  yang dipakai untuk melihat realitas. Kita dapat dianalogikan dengan orang buta yang tidak mampu mengenali realitas sekitar ketika tidak memiliki bahasa. Bahasa juga memaksakan pandangan konseptual kita karena secara tidak langsung kita mengevaluasi realitas berdasarkan bahasa yang kita miliki. Dengan cara seperti inilah bahasa memengaruhi pikiran dan tindakan kita. Sebagai contoh, sebuah desa miskin yang sebagian besar penduduknya sulit mencari makan dipandang oleh pemerintah  “rawan pangan” dan bukan kelaparan. Pelonjakan harga bukanlah kenaikan harga melainkan “penyesuaian harga.”

Harlod Titus bahkan dengan berani mengatakan bahwa bahasa mencetak pikiran-pikiran orang yang memakainya.  Contohnya ketika orang mengucapkan kata “ember” dalam bahasa gaul, tidak mungkin “ember” diucapkan dengan datar. Kata tersebut pasti akan diucapkan dengan gaya sedikit centil dan genit sambil berkata “embeeeerr”. Bahasa mempunyai sayap dan menciptakan alamnya sendiri. Jika kita berani untuk melangkah lebih jauh lagi, kita akan mendapatkan hipotesis bahwa bahasa mencetak sebuah kepribadian. Ketika satu bahasa memproduksi satu perilaku tertentu, serta ketika perilaku tersebut diulang-ulang menjadi kebiasaan; yang tercipta adalah kepribadian. Hal ini karena “Bahwa pada mulanya manusia membentuk kebiasaan, tetapi setelah itu kebiasaanlah yang membentuk manusia.”

Satu rumusan yang dikeluarkan oleh Michael Foucoult dan Thomas Szas tentang bahasa kiranya menjadi kata kunci dari pengaruh bahasa dalam merekayasa perilaku. Foucoult mengatakan bahwa siapa yang mampu memberi nama, dialah yang menguasai; sedangkan Szas mengatakan bahwa kalau di dunia hewan berlaku hukum makan atau dimakan, dalam dunia manusia berlaku hukum membahasakan atau dibahasakan.

 

Bahasa dan Gagasan

Pada 28 Oktober 1928 pemuda-pemuda Indonesia mempunyai gagasan yang brilian dengan menyatakan sumpahnya, yakni berbahasa satu bahasa Indonesia. Mereka memahami betul bahwa bahasa memiliki kemampuan tanpa batas untuk menyatukan nusantara.  Dalam situasi tersebut, bahasa merupakan pemandu realitas sosial, seperti yang disampaikan oleh Whorf. Walaupun bahasa biasanya tidak diminati oleh ilmuwan sosial, bahasa secara kuat mengondisikan pikiran individu tentang sebuah masalah dan proses sosial. Dunia tempat tinggal berbagai masyarakat dinilai oleh Whorf sebagai dunia yang sama tetapi memiliki karakteristik yang berbeda. Dengan kata lain, pandangan manusia tentang dunia dibentuk oleh bahasa; sehingga karena bahasa yang berbeda, pandangan tentang dunia pun dapat berbeda. Secara selektif individu menyaring sensor yang masuk seperti yang diprogramkan oleh bahasa yang dipakainya. Dengan begitu, masyarakat yang menggunakan bahasa yang berbeda memiliki perbedaan sensor pula. Dan, hal inilah yang berhasil disatukan oleh para pemuda Indonesia delapan puluh delapan tahun lalu.

Berbeda dengan Whorf,  Brouwer menyatakan bahwa bahasa adalah sebuah fenomena; fenomenologi bisa menjadi sebuah permainan bahasa. Sebuah teori mucul karena kemampuan bahasa yang dimiliki oleh pencetusnya (Brouwer, 1999). Ambil saja kalimat: “Ketika kau dapati hidupmu menjadi terasa berbeda tanpa kehadirannya, saat itulah engkau jatuh cinta.” Kita sebenarnya sudah memahami prinsip itu tetapi kita tidak mampu membahasakannya. Setelah membaca kalimat tersebut, kita mendapatkan pencerahan dengan berkata, “Oh, iya ya?”

Dengan berbahasa yang baik, mereka dapat berargumentasi dengan baik pula. Oleh karena itu, ahli-ahli besar dalam bidang fenomenologi juga terkenal sebagai ahli bahasa, penulis novel, puisi, dan artikel. Jean Paul Sartre, Leo Tolstoy, Martin Heidegger adalah contohnya. Ketika para peneliti sibuk dengan penjelasan statistika sebagai bukti teorinya, orang-orang ini menggunakan bahasa untuk menjelaskan teorinya. Para fenomenolog telah langsung masuk ke dalam realitas dan mengambarkan apa yang dapat mereka kenali. Banyak yang mereka kenali dari realitas itu karena mereka mempunyai kosa kata yang banyak.

Benyamin Vigotsky mendukung pernyataan Brouwer di atas. Baginya, bahasa memberikan satu nuansa tertentu pada sebuah ide (Valsiner, 1996). Bahasa adalah instrumen yang membentuk dan membangun ide kreatif dari pikiran. Melalui bahasa, ide menjadi objektif. Yang semula ia berada di awan-awan angan-angan, ide menjadi konkret dan turun ke bumi. Sekali individu memberikan bentuk berupa kata-kata pada idenya dengan kata-kata, ide ini akan menjadi objek bagi dirinya sendiri sebagai kata-kata yang terdengar (audible) sehingga mudah diakses oleh masyarakat.

Manusia dapat berpikir tanpa menggunakan bahasa, tetapi bahasa mempermudah kemampuan belajar dan mengingat, memecahkan persoalan, dan menarik simpulan. Bahasa memungkinkan individu menyandi peristiwa dan objek dalam bentuk kata-kata. Dengan bahasa, indvidu mampu mengabstraksikan pengalamannya dan mengomunikasikannya pada orang lain karena bahasa merupakan sistem lambang  tidak terbatas yang mampu mengungkapkan segala pemikiran.

 

Bahasa dan Emosi

Selain sebagai realitas sosial dan fenomenologi, bahasa erat kaitanya dengan psikologi. Barangkali sedikit dari kita yang mengetahui bahwa keterbatasan kosa kata dapat mengakibatkan gangguan psikologis. Sedikitnya kosa kata emosi yang dimiliki oleh seseorang membuatnya lemah dalam menggambarkan emosinya dengan kata-kata. Padahal, kemampuan verbalisasi emosi ini sangat berguna untuk kesehatan mentalnya. Mampu memberi nama emosi berarti dapat memilikinya untuk digunakan sesuai dengan fungsinya dan tidak terganggu dengan kehadirannya. Daniel Goleman sudah mendeteksi pentingnya masalah ini sejak awal. Kemampuan memberi nama pada emosi adalah salah satu bagian integral kecerdasan emosi dalam aspek self-awarenes. Dalam  kecerdasan ini, individu mampu mengamati diri, menghimpun kosa kata untuk melabeli perasaannya, serta mengetahui hubungan antara pikiran, perasaan, dan reaksi. Mengetahui aneka ragam perasaan yang muncul memungkinkan individu untuk mengenali dirinya sendiri.

Dengan membahasakannya dalam kata-kata, mereka menjadi tahu bahwa emosi itu benar-benar ada dalam dirinya. Seorang ahli psikolinguistik, Alferd Korzybsky mengatakan, beberapa gangguan jiwa disebabkan oleh keterbatasan penggunaan kata oleh individu yang tidak sanggup mengungkapkan realitas dengan cermat; yang diketahuinya hanya dua pilihan ekstrem: gembira-sedih, tersanjung-marah, atau sehat-sakit. Padahal, realitas tidaklah demikian, hidup tidak terpisah menjadi kutub ekstrem negatif dan  positif. Realitas sangat kaya dengan warna-warna emosi. Perasaan atau emosi sedih muncul tanpa pemaknaan yang jelas, mereka belum mengetahui emosi tersebut muncul dan bagaimana hubungannya dengan reaksi yang  mereka lakukan. Dengan mengenali emosi yang sedang berlangsung, emosi tersebut dapat dinikmati dan dikendalikan.

Bahasa dengan segala aspek keilmuannya dapat diformulasikan sebagai alat untuk meningkatkan komunikasi; memperluas pikiran dengan adanya abstraksi. Bahasa juga dapat membentuk kebudayaan dan membangun verbal self-concept.  Jadi, tunjukkan jati diri kita dan bangsa Indonesia melalui bahasa yang santun dan cerdas. [ ]


  • 0

Pandangan Beberapa Semantisi tentang Sinonimi dalam Kajian Makna Bahasa

Category : Artikel Kebahasaan

Gunawan Widiyanto

Widyaiswara Bahasa Inggris

PPPPTK Bahasa

 

 

Prolog

Dalam pengkajian makna bahasa, ada satu jenis relasi makna yang sangat jarang luput dari perhatian para ahli semantik (semantisi), yakni sinonimi; hingga intensitas dan hiruk-pikuk perbincangan mengenainya hampir selalu memenuhi jagat semantik. Ini bermakna pula, dalam setiap karya tentang semantik, para pakar tentang makna hampir selalu menjadikan sinonimi ini suatu bahasan yang mendalam dan tema besar. Mereka menyampaikan pandangan-pandangannya dari perspektif yang beraneka pula. Di antara para semantisi itu adalah Stephen Ullmann, John Lyons, Geoffrey Leech, Keith Allan, dan Frank Robert Palmer. Tulisan ini menguraikan pandangan yang diusung oleh para semantisi tersebut. Namun, sebelum pandangan itu diuraikan; disusur rentang ke belakang sejarah semantik secara singkat.

 

Sejarah Singkat Semantik

Pada abad pertama SM di Eropa utamanya di Yunani, dalam konstelasi historis ilmu bahasa, semantik merupakan ilmu yang kurang mendapatkan cukup perhatian dari para ahli bahasa. Ketika itu, pembagian kajian kebahasaan hanya mencakupi tiga tataran utama, yakni etimologi, sintaksis, dan morfologi. Bahkan, sampai menjelang abad 19 M, semantik masih juga dipandang sekelip mata dan belum memperoleh posisi yang layak dan signifikan sebagai bagian dari kajian bahasa (Ullmann, 1962:1). Namun, selain bergumul dengan ketiga subdisiplin kebahasaan tersebut, sejatinya para ahli bahasa sudah mengecimpungi persoalan makna. Mereka membahas makna kata dan pemakaiannya, metafora, dan aspek-aspek fundamental perubahan makna. Kajian tentang makna ini juga sebenarnya sudah ada sejak zaman Yunani, yang dipelopori oleh para penulis, penyair, danfilsufseperti Plato, Cicero, Proclus, Demokritus, dan Aristoteles. Mereka memainkan peran penting dalam membidani lahirnya semantik. Tak sebatas itu, ada dua faktor yang melecut lahirnya semantik. Faktor pertama adalah munculnya gerakan Romantik dalam kesusasteraan. Para penulis dan penyair pada periode Romantik sangat tertarik dengan pemakaian kata-kata arkhais beserta maknanya, termasuk pemakaian dialek dan slang dalam karya-karyanya (Ullmann, 1962:3). Faktor kedua adalah munculnya filologi komparatif di Prancis pada 1826, yang tidak berfokus pada aspek fonetik dan sintaktiknya semata, tetapi juga aspek semantiknya.

Pada 1927, Christian Carl Reisig memperkenalkan semasiologi sebagai kajian makna dengan mengembangkan konsepsi dan wacana baru mengenai tata bahasa. Linguis Jerman ini memasukkan semasiologi ke dalam tiga bagian utama dalam tatabahasa di samping etimologi dan sintaksis (Gordon, 1982:1; Ullmann, 1962:1). Dia juga menganggap semasiologi sebagai disiplin historis yang mendasari perkembangan makna. Istilah semantik itu sendiri dipakai oleh sarjana Prancis Michel Brealpada 1897 melalui monografi terkenalnya yang bertajuk Essai de Semantique (Science des Significations) (1897) (Coseriu&Geckeler, 1981:8; Gordon, 1982:18). Hingga menjelang tahun 1950-an, mayoritas kajian semantik hanya berorientasi pada makna yang bersifat historis-diakronistis hingga kurang memerhatikan persoalan makna yang sifatnya deskriptif-sinkronistis. Di sini, para semantisi hanya berpikir bahwa tugas utamanya adalah mengkaji perubahan makna dan menyelidiki latar penyebab terjadinya perubahan serta merumuskan hukum-hukum yang mendasari perubahan makna itu (Ullmann, 1951:301; 1962:6). Pantasdinyatakan pula, selama perkembangan linguistik sejak akhir abad ke-19, istilah semasiologi dan semantik dipakai secara bersanding dan bersaing untuk menunjukkan subdisiplin kebahasaan yang bertali-temali dengan makna leksikal. Semasiologi membahas perubahan makna secara historis sedangkan semantik menyoroti makna secara deskriptif.

Dalam perkembangan selanjutnya, semantik dipengaruhi pula oleh strukturalisme Eropa yang diusung oleh Ferdinand de Saussure (1916) sehingga semantik mulai bergeser ke arah kajian yang sifatnya deskriptif-sinkronistis. Karena pengaruh pandangan dan skemata Saussure inilah, sejak tahun 1950-an para semantisi mulai menyeimbangkan antara kajian semantik dari dimensi deskriptif-sinkronistis dan kajian semantik dari perspektif historis-diakronistis (Ullmann, 1951:301-2).

 

Sinonimi menurut Pandangan Ullmann

Stephen Ullmann, linguis kelahiran Budapest Hungaria pada 31 Juli 1914 dan menghabiskan masa hidupnya di Inggris, memosisikan kajian sinonimi dalam peta semantik deskriptif-sinkronistis. Berpijak dari batasan arti sebagai relasi timbal balik antara nama (name) dan makna (sense), dia berpandangan bahwa relasi antara keduanya dapat menghasilkan dua jenis pola relasi makna (sense relation), yakni (a) satu nama berkaitan dengan beberapa makna atau polisemi dan (b) satu makna berkenaan dengan beberapa nama atau sinonimi. Lebih lanjut, Ullmann membagi kesinoniman menjadi dua jenis, yakni (a) sinonim murni (pure synonyms), dua kata atau lebih dipakai sama luasnya dan dapat dipertukarkan dalam semua konteks; (b) sinonim semu (pseudo-synonyms, homoionyms), yang mencakupi dua hal, yakni (i) sama-samaluaspemakaiannyadan dapat saling dapat dipertukarkan hanya dalam beberapa konteks, dan (ii) sama-sama luas pemakaiannya dan dapat saling dipertukarkan dari segi makna kognitifnya tetapi bukan dari segi makna emotifnya. Pandangannya ini dituangkan dalam bukunya yang terbit pada 1962. Dalam bukunya itu dia mengemukakan empat narasi utama mengenai sinonimi, yakni sebagai berikut. Pertama, terdapat sembilan kemungkinan perbedaan dalam pasangan sinonim. Sembilan kemungkinan perbedaan tersebut diadaptasi dari narasi W. E. Collinson melalui karyanya Comparative Synonymies: Some Principles and Illustrations (1939). Kedua, ada tiga metode untuk menentukan kesinoniman, yakni substitusi, antonim atau oposisi, danpenderetan leksem yang bersinonim. Ketiga, sinonim memiliki pola yang cenderung taat asas, misalnya sinonim berskala dua, skala tiga, skala empat. Keempat, kajian sinonim bermanfaat bagi penyair dan penulis dalam bidang stilistika. Perlu ditambahkan, terminologi nama dan makna dalam pandangan Ullmann ini identik dengan konsep penanda (signifiant) dan tinanda (signifie) Saussure (Ikegami, 1967:55).

 

Sinonimi dalam Pandangan Lyons

John Lyons menyampaikan pandangannya mengenai sinonimi dalam karyanya bertajuk Structural Semantics (1963). Pandangan semantisi kelahiran Stretford Inggris 23 Mei 1932 itu didasarkan pada asumsi bahwa semantik struktual seharusnya lebih menganalisis relasi makna ketimbang makna itu sendiri. Di dalam karyanya itu, Lyons mengkaji relasi makna seperti antonimi, hiponimi, kebalikan, konsekuensi, inkompatibilitas, dan sinonimi. Pandangannya itu kemudian dielaborasi dalam karyanya yang terbit pada 1968. Mengenai sinonimi, Lyons berpandangan bahwa sinonim dapat ditafsirkan secara sempit dan longgar. Sinonim dalam tafsiran sempit berarti bahwa dua leksem merupakan sinonim apabila memiliki arti yang sama (perangkat unsur leksikal identik artinya), sedangkan sinonim dalam tafsiran longgar adalah seperti digambarkan di dalam Roget’s Thesaurus (perangkat unsur leksikal relatif sama artinya). Sebagai tambahan, Roget’s Thesaurus merupakan tesaurus bahasa Inggris yang diciptakan pada 1805 oleh leksikograf Inggris Peter Mark Roget (1779–1869). Ia kali pertama dilempar ke akuarium publik pada 29 April 1852 (Wikipedia).

Lyons mengutip pandangan Ullmann bahwa leksem-leksem yang dianggap sinonim hanyalah leksem-leksem yang dapat saling menggantikan di dalam semua konteks tanpa perubahan sedikit pun baik makna kognitif maupun emotifnya sehingga sangatlah jarang ditemui sinonimi total di dalam bahasa manapun. Syarat-syarat sinonimi total adalah (a) dapat saling dipertukarkan dalam semua konteks, dan (b) identik maknanya baik makna kognitif maupun emotif. Lyons membuat dikotomi istilah dengan menyebut syarat pertama sinomimi total dan syarat kedua sinonimi lengkap. Pembedaan istilah tersebut memungkinkan terjadinyaempat jenis sinonimi, yaitu sinonimi lengkap dan total, sinonimi lengkap tetapi tidak total, sinonimi tidak lengkap tetapi total, dan sinonimi tidak lengkap dan tidak total. Namun, Lyons (1968) akhirnya merevisi pandangannya dengan membatasi istilah sinonimi pada apa yang dideskripsikan oleh banyak semantisi sebagai sinonimi kognitif; sehingga dia tidak lagi melakukan pembedaan antara sinonimi lengkap dan tidak lengkap.

Sementara itu, pada kesempatan lain Lyons (1995) juga tidak menyebut istilah sinonimi total (total synonymy) dan sinonimi lengkap (complete synonymy) tetapi sinonimi absolut (absolute synonymy) dan sinonimi dekat (near synonymy). Sinonimi dekat adalah kata-kata yang kurang lebih mirip maknanya. Lebih lanjut Lyons menyatakan bahwa leksem-leksem yang tersenarai di dalam kamus umum dan khusus termasuk kamus sinonim dikategorikan sebagai sinonim dekat. Pandangan Lyons mengenai sinonimi absolut ini paralel dengan pandangan Ullmann. Artinya, kriteria sinonimi absolut menurut Lyons adalah (a) kata-kata itu bersinonim dalam semua konteks, dan (b) leksem-leksem itu ekuivalen baik secara kognitif maupun emotif.

 

SinonimimenurutPandangan Leech

Geoffrey Neil Leech menghasilkan karya bertajuk Semantics yang terbit pada 1974. Buku tersebut dicetak ulang pada 1975 dan 1976. Gagasan yang dikemukakan dalam bukunya itu adalah bahwa konsep sinonimi sejatinya hanya terbatas pada kesamaan makna konseptual sehingga Leech menyebutnya sinonimi konseptual. Selanjutnya, linguis kelahiran Gloucester Inggris 16 Januari 1936 itu menyatakan bahwa perbedaan atau kontras di dalam sinonimi konseptual itu berkaitan erat dengan makna stilistika. Sebagai contoh, leksem ibu dan mama secara konseptual sama maknanya, tetapi secara stilistis berbeda maknanya. Yang pertama bergaya formal sedangkan yang kedua bergaya kolokuial; dan sebagaimana dicontohkan oleh Leech melalui pasangan sinonim domicile:residence:abode:home ‘tempat tinggal. ’ Secara stilistis, domicile bergaya sangat formal atau resmi, residence bergaya formal, abode bergaya puitis, dan home bergaya umum.

 

Sinonimi dalam Pandangan Palmer

Frank Robert Palmer lahir 9 April 1922 di Inggris. Melalui karyanya bertajuk Semantics (1976), ia menyatakan bahwa sinonimi merupakan hiponimi yang simetris. Gagasan penting lainnya adalah bahwa banyaknya sinonim dalam suatu bahasa terjadi karena argumentasi historis, yakni leksem-leksemnya berasal dari berbagai sumber atau beragam bahasa sehingga timbul adanya leksem asli (native) dan leksem pinjaman atau asing (foreign). Jadi, dalam setiap pasangan sinonim terdapat leksem-leksem asli dan pinjaman, misalnya uang: duit (Belanda):fulus (Arab); dan seperti dicontohkan oleh Palmer dalam pasangan sinonim kingly (native):royal (French):regal (Latin). Lebih lanjut, Palmer menguraikan empat perbedaan dalam pasangan sinonim, yakni (a) perbedaan dialek, (b) perbedaan gaya, (c) perbedaan makna emotif, dan (d) perbedaan kolokasi. Dua cara menguji kesinoniman, yakni penderetan dan antonim, yang paralel dengan metode yang digunakan Ullmann, menutup pemikirannya yang dituangkan dalam bukunya itu.

 

SinonimimenurutPandangan Allan

Keith Allan adalah linguis Australia kelahiran London 27 Maret 1943. Dalam membincangkan sinonimi, melalui karyanya Linguistic Meaning (1986), guru besar emeritus bidang linguistikMonash University ini menunjukkan adanya sinonim silang varietal (cross-varietal synonymies), yakni ungkapan berupa leksem yang maknanya kurang lebih sama karena digunakan dalam dialek, variasi, dan langgam yang berbeda-beda dalam suatu bahasa, sebagaimana dicontohkan olehnya, dalam fender (American English) dan bumper (British English) ‘bumper’ untuk batang besi atau plastik yang melintang pada bagian muka dan belakang mobil (untuk menahan benturan). Contoh lain, dalam bahasa Jawa dijumpai leksem bodin dan pohong yang keduanya bermakna ketela pohon atau singkong (Manihotutilissima). Bodin digunakan dalam bahasa Jawa dialek Banyumas sedangkan pohong digunakan dalam bahasa Jawa dialek Surakarta.

 

Penutup

Manakala ditelisik, para ahli semantik sebagaimana dibentangkan dalam tulisan ini tampaknya memiliki basis argumentasi bersama (common ground) bahwa daya pikat persoalan sinonimi sejatinya terletak bukan pada kesamaan antarmakna leksem dalam sebuah pasangan sinonim (synonymic pairs) melainkan pada perbedaannya. Artinya, kendati kesinoniman itu sendiri berkaitan rapat dengan kesamaan makna antarleksem; fulkrum (titik tumpu) penanganan masalah kesinoniman ada pada perbedaan makna antarleksem itu. Bagaimanapun, setakat ini tidak pernah dijumpai kesamaan total secara maknawi antarleksem yang bersinonim; karena perbedaan grafis antarleksem berimplikasi pada perbedaan makna juga. Tak ayal, senantiasa ada nuansa makna (nuance of meaning) atau bayangan makna (shades of meaning) dalam kesinoniman. Dan, masih ada wilayah yang terbentang luas untuk meneliti nuansa atau bayangan makna itu. [ ]

 

Rujukan                  

Allan, Keith. 1986. Linguistic Meaning. Volume One. New York: Routledge and Kegan Paul.

Coseriu, Eugenio and Horst Geckeler. 1981. Trends in Structural Semantics. Gunter Narr Verlag Tubingen.

Gordon, W. Terrence. 1982. A History of Semantics. Amsterdam: John Benjamins.

Ikegami, Yoshihiko. 1967. Structural Semantics: A Survey and Problem. Linguistics 33. 49-67.

Leech, Geoffrey. 1974. Semantics. Middelsex: Penguin.

Lyons, John. 1963. Structural Semantics. Oxford: Blackwell.

_____. 1968. Introduction to Theoretical Linguistics. Cambridge: Cambridge University Press.

_____. 1977. Semantics. Volume One. Cambridge: Cambridge University Press.

_____. 1995. Linguistic Semantics. Cambridge: Cambridge University Press.

Palmer, F. R. 1976. Semantics. Cambridge: Cambridge University Press.

Ullmann, Stephen. 1951. The Principles of Semantics. Glasgow: Blackwell.

_____. 1962. Semantics an Introduction of the Science of Meaning. Oxford: Basil Blackwell.


  • 0

Hoax dan Literasi Kita

Fathur Rohim

Widyaiswara Bahasa Inggris

PPPPTK Bahasa

 

 

Era media sosial (medsos) sekarang ini memberikan anugerah kepada kita berupa kecepatan informasi dan keragaman konten sehingga citizen journalism berjalan nyaris sempurna. Setiap orang memiliki kesempatan untuk berbagi informasi dengan sangat mudah. Kecepatan medsos inilah menjadikan ciri khas sehingga media mainstream dirasa kalah cepat.Namun,kecepatan informasi media ini sering mengorbankan sisi akurasi konten. Hal ini terjadi karena mekanisme cek ricek berjalan jauh di belakang kecepatan penyebaran informasi. Melihat celah ini, penyajian informasi yang dikemas dengan mencampurkan antara fakta dan opini, palsu dan asli, bohong dan benar, serta didasari motif atau intensi tertentu sesuai dengan tujuan yang diinginkan menjadi sangat marak. Informasi jenis inilah yang kemudian disebut hoax.

Karena terkait dengan intensi, entitas hoax menjadi relatif sulit dipetakan karena memiliki varian yang bermutasi sesuai konteks ruang waktu dan kecanggihan dalam melakukan fabrikasi informasi. Berawal dari motif ekonomi untuk melakukan penipuan yang meyakinkan, kini hoax sudah jauh merambah motif politik, sara, dan candaan. Informasi hoax dalam kadar tertentu menjadi bagian “social entertainment”,misalnya penyebutan banjir dengan “genangan”yang kemudiantersebar dalam bentuk ribuan memeberlatar gambar dan penambahan kata yang beragam. Meme tersebut menjadi candaan sehingga bila dikirim ke teman hanya untuk menunjukkan keakraban hubungan. Namun, hoax dapat mengarah pada bahaya dengan mengatasnamakan figur tertentu dengan sebuah pernyataan yang digunakan untuk memberi kesan adanya dukungan, atau juga membuat berita bohong tapi meyakinkan.

Hoax yang dalam kadar tertentu mengarah ke level yang memiliki daya rusak inilah yang sekarang menjadi perhatian semua orang, dari presiden, menteri, kepala daerah, tokoh, akademisi, hingga masyarakat umum. Hal ini karena hoax bisa berisi ujaran yang mengandung kebencian (hate speech) sehingga mungkin saja masyarakat memiliki persepsi dan tindakan yang salah karena bersumber dari informasi yang tidak akurat. Bahkan, keprihatinan ini menjadi masalah yang kompleks sehingga ada penyebutan bahwa negara kita sudah masuk fase “darurat hoax”. Hal inijugamenjadi keprihatinan masyarakat dunia. Masalah ini juga dipusingkan oleh para pendiri Facebook dan Twitter, yang menjadi kanal utama penyebaran hoax. Tulisan ini mencoba mengajak diskusi tentang mengapa hoax mudah meluas dengan cepat sehingga menjadi keprihatinan bersama serta bagaimana strategi supaya kita bisa mendeteksi secara dini, sehingga dampak buruknya dapat diminimalkan.

 

Anatomi Hoax

Kajian yang dilakukan oleh Wikimedia Research pada 2015 mengilustrasikan disinformasi, misinformasi, dan hoax dalam sebuah garis kontinum informasi salah (false information). Disinformasi merupakan bentuk kebohongan yang disengaja untuk menggelincirkan; misinformasi adalah bentuk informasi yang memang salah; sedangkan hoax berada di antara keduanya sebagai bentuk informasi salah, ataupun sebagian salah, yang dikemas seakan-akan benar untuk menggelincirkan audience pada tujuan yang diharapkan.

Hoax bukan sesuatu yang baru muncul dalam kehidupan manusia. Adam dan Hawa adalah manusia pertama yang menjadi korban informasi hoax yang disampaikan oleh iblis dengan membisikkan “Tuhanmu melarang kamu berdua untuk mendekati pohonini agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadipenghuni yang kekal di dalam surga”(QS AlA’rof [7]:20). Pada zaman Rasulullloh SAW, berita hoax juga banyak terjadi. Rumor yang paling keji adalah haditsulifki, kabar bohong yang menimpa istri Nabi Muhammad SAW yang dituduh melakukan tindakan tidak terpuji ketika dirinya tertinggal dari rombongan perang yang sedang kembali menuju Madinah. Isu hoax yang keji ini mendapat bantahan dari Alloh SWT, sekaligus peringatan keras dengan firman “Sungguh orang yang menuduh perempuan-perempuan baik, yang lengah dan beriman (dengan tuduhan zina), mereka dilaknat di dunia dan di akhirat, dan mereka akan mendapatkan siksa yang sangat besar.”(QS An Nur[24]: 23).

Sekarang ini, informasi hoax dapat dimunculkan sebagai bagian dari strategi pemasaran dan iklan produk. Hoax sering dimaksudkan untuk bercanda, mempermalukan orang, ataupun memprovokasi perubahan sosial politik dengan menarik perhatian masyarakat. Abdullah Gymnastiar juga menjadi korban hoax yang seakan-akan dengan akun Twitter-nya lengkap dengan profile picture serta tanda verified account dari Twitter yang memberikan kutipan sebagai justifikasi terhadap pihak tertentu pada tanggal 8 Februari 2017. Dalam satu hari sudah di-retweet oleh ribuan followers sehingga tanggal 10 Februari 2017 diklarifikasi bahwa berita itu sebagai twitter hoax, dan dikatakan berita itu bersumber dari tulisan orang yang tidak menghormati dan suka menfitnah ulama.

 

Hoax dan Literasi Masyarakat

Ditengarai ada 800 situs daring penyebar hoax di indonesia (CNN Indonesia, 29 Desember 2016) belum lagi media sosial yang sangat mudah diakses sekaligus digunakan untuk berbagi dengan kecepatan luar biasa. Tidak heran bila hoax ini menyebar begitu cepat dan masif. Menjamurnya situs daring penyebar hoax dan meluasnya penggunaan medsos untuk menyebarkan hoax di masyarakat disebabkan memang masih rendahnya kemampuan untuk melakukan analisis kritis. Analisis kritis ini sangat mendasar dalam menyaring mana konten yang kredibel dan mana yang sampah. Jika masyarakat memiliki analisis kritis, situs penyebar hoax tidak akan mendapatkan tempat. Penyebaran hoax via medsos juga tidak terjadi dalam masyarakat karena hanya informasi valid yang diteruskan sedangkan informasi yang tidak kredibel akan terkubur dengan sendirinya.

Kemampuan literasi sebagai terminologi yang lebih luas dari analisis kritis sering digunakan untuk merujuk bagaimana hubungan penyebaran hoax dan kemampuan literasimasyarakat. Literasi yang perlu dimiliki oleh masyarakat sebenarnya literasi dasar yang terkait dengan kemampuan membaca, mencerna, mengintegrasikan, mengolah, dan menyimpulkan informasi. Kemampuan ini perlu dimiliki oleh anak dan orang dewasa. Literasi ini menjadi penting sebagai syarat utama untuk menangkal hoax. Melalui kemampuan literasi yang baik, masyarakat memiliki pemahaman lebih baik terhadap suatu informasi. Dengan melihat indikator tingkat literasi kita, hal ini bisa dikaitkan dengan hasil PISA siswa kita yang menunjukkan, ketika memahami informasi eksplisit, siswa kita bisa merespons dengan baik. Mereka mulai menghadapi kesulitan bila meresponsinformasi yang membutuhkan interpretasi. Kemampuan siswa kita turun drastis ketika siswa diminta untuk menggabungkan informasi teks, angka, grafik, dan gambar. Bahkan, hanya sedikit sekali siswa yang mampu mengevaluasi dan menyimpulkan suatu informasi.

 

Menangkal Hoax

Ada enam hal yang dapat dilakukan agar kita dapat menangkal hoax. Pertama, jangan mudah percayaterhadap informasi yang kita terima. Tampaknya sikap skeptis terhadap sesuatu adalah tindakan awal yang sangat penting karena dengan sikap skeptis inilah kita menjadi lebih reflektif dan tidak terlalu emosional dalam merespons informasi yang kita terima. Meskipun ada pepatah “seeing is believing” saat kita mendapati foto tertentu; kita tetap harus berhati-hati karena berita hoax sekarang banyak melalui reproduksi foto dengan bantuan Photoshop. Kedua, mengecek sumber informasi secara memadai agar kita bisa mendeteksi kredibilitas sumber itu. Dengan search engine sekarang ini, mengecek informasi menjadi sesuatu yang sangat mudah dan dapat diselesaikan dalam hitungan detik. Karena informasi itu dengan mudah bisa kita cek dengan Google Search. Bila informasi yang kita dapatkan dalam bentuk gambar, reverse image tools menjadi peranti yang paling sederhana. Dengan menggunakan Google Image, kita akan mengetahui kapan foto itu diproduksi. Bila foto itu adalah hasil capture, ia akan disandingkan dengan foto-foto produksi sebelumnya, sehingga dengan mudah kita dapat mendeteksi keaslian gambar tersebut. Youtube Dataviewer juga sangat berguna bila kita ingin mendeteksi scrapes suatu video. Scrapes di Youtube menunjukkan video lama yang telah diunduh dan diunggah ulang dengan mengklaim sebagai video mutakhir. Foto, video, dan audio yang diambil dengan kamera digital atau smartphone juga mengandung informasi Exchangable Image File (EXIF). Ini merupakan metadata yang penting terkait kamera yang digunakan, tanggal, waktu, dan lokasi pengambilan. Informasi ini sangat fundamental untuk mendeteksi keaslian produk tersebut.

Ketiga, membaca keseluruhan informasi secara komprehensif, jangan hanya membaca judulnya saja yang sering bombastis. Terkadang informasi hoax memang sudah didesain dengan sangat menarik. Pembuat informasi hoax senang bermain dengan judul informasi yang memberi kesan tajam. Namun, kemasan itu hanya di judul, sedangkan isi informasi tetap sehingga terkadang tidak nyambung bila kita baca secara keseluruhan. Untuk mendeteksi informasi hoax jenis ini, kita harus membaca judul dan isi informasi tersebut sehingga kitamudah melihat konsistensi alur berpikir informasi itu. Keempat, jangan ikut-ikutan untuk menyebarkan informasi bila kita tidak terlalu yakin dengan kredibilitas informasi tersebut. Motto“Think before you share” menjadi sangat fundamental untuk kita pegangi; karena bila kita ikut menyebarkan kepada teman kita, teman tersebut mungkin menganggap bahwa kita sudah melakukan verifikasi informasi tersebut. Dan inilah awal mata rantai setan (vicious circle) yang sukar dihentikan.

Kelima, bersama mengembangkan masyarakat yang kritis (critical mass). Pengembangan masyarakat kritis dapat dimulai dari rumah. Orang tua sebaiknya menempatkan diri sebagai pendamping anak dalam belajar dan memberi fasilitas untuk menggali sumber informasi. Orang tua hendaknya tidak memosisikan diri sebagai sosok yang paling tahu dalam konteks penerapan nilai-nilai hidup. Orang tua berperan sebagai pemberi contoh. Di sekolah, guru juga bisa mengembangkan literasi dengan tidak menerapkan pembelajaran yang dogmatis, membiasakan perbedaan di kelas, membiasakan siswa untuk mencari sumber informasi, berdiskusi dan berdebat secara positif. Keenam, mendorong media mainstream untuk menyaring informasi hoax melalui cek ricek terhadap kabar ataupun opini yang sedang menjadi viral. Detikcom sering melakukan klarifikasi apakah suatu kabar viral itu hoax atau tidak. Ini merupakan ikhtiar yang bagus karena membantu mesyarakat untuk menjernihkan dan klarifikasi terhadap informasi viral yang berkembang. Media mainstream yang lain perlu berkontribusi dalam melakukan cek ricek informasi yang berkembang. Bila hal ini bisa dilakukan, media mainstream akan tetap memiliki tempat di hati masyarakat di tengah pesatnya perkembangan medsos sekarang ini.

 

Penutup

Sebaiknya jangan hanya meneruskan begitu saja segala informasi yang ada tanpa mengecek kesahihan informasi. Bila anda masih mencari kebenaran atau tidak begitu yakin dengan informasi tersebut, sebaiknya tahan dulu dari penyebarannya. Jika memang informasi tersebut sahih, penyebaran informasi kepada teman lain dengan menyebutkan sumber dapat meningkatkan legitimasi informasi yang kita sampaikan. [ ]

 

Rujukan

Brunvand, Jan H. 2001. Encyclopedia of Urban Legends. W. W. Norton & Company

Walsh, Lynda. 2006. Sins Against Science: The Scientific Media Hoaxes of Poe, Twain, And Others. State University of New YorkPress

Hancock, Peter. 2015. Hoax Springs Eternal: The Psychologyof Cognitive Deception. Cambridge U.P. pp. 182–195. 

Wemple, Erik (8 December 2016), “Facebook’s Sheryl Sandberg says people don’t want ‘hoax’ news. Really?”, The Washington Post.