Category Archives: Artikel Umum

  • 0

Profil UNBK Dan Keterkaitannya dalam Pembelajaran Aktif : Model Pembelajaran Kontekstual (Bagian 2)

Elvi Saidi
Widyaiswara LPMP Gorontalo

Profil Unbk

Ujian nasional sebgaimana tercantum dalam Prosedur Operasional Penyelenggaraan ujian nasional 2017/2018 adalah kegiatan pengukuran dan penilaian pencapaian standar kompetensi lulusan SMP/MTs …yang secara nasional meliputi mata pelajaran tertentu. Ujian nasional sebagai kegiatan mengukur dan menilai pencapaian SKL di atur dalam Permendikbud no 23 tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan adalah kriteria mengenai lingkup, tujuan, manfaat, prinsip, mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik yang digunakan sebagai dasar dalam penilaian hasil belajar peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Ujian nasional sebgaimana tercantum dalam Prosedur Operasional Penyelenggaraan ujian nasional 2017/2018 adalah kegiatan pengukuran dan penilaian pencapaian standar kompetensi lulusan SMP/MTs …yang secara nasional meliputi mata pelajaran tertentu. Ujian nasional sebagai kegiatan mengukur dan menilai pencapaian SKL di atur dalam Permendikbud no 23 tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan adalah kriteria mengenai lingkup, tujuan, manfaat, prinsip, mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik yang digunakan sebagai dasar dalam penilaian hasil belajar peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Ujian nasional adalah puncak ujian yang diikuti oleh siswa, setelah mengalami proses pembelajaran dan penilaian melalui ulangan dan ujian tingkat sekolah. Ulangan merupakan proses yang dilakukan oleh setiap guru mata pelajaran untuk mengukur pencapaian Kompetensi Peserta Didik/siswa secara berkelanjutan dalam proses Pembelajaran untuk memantau kemajuan dan perbaikan hasil belajar Peserta Didik/siswa. Sementara ujian sekolah/madrasah adalah kegiatan yang dilakukan oleh sekolah untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai pengakuan prestasi belajar dan/atau penyelesaian dari suatu satuan pendidikan (Permendikbud no 23 thn 2016).

Unbk diakronimkan dari Ujian nasional berbasis komputer. Unbk menurut panduan 2017 adalah tes berbasis komputer yang penyajian dan pemilihan soalnya dilakukan secara terkomputerisasi sehingga setiap peserta tes mendapatkan paket soal yang berbeda-beda. Unbk merupakan pengembangan dari ujian menggunakan Paper Based Test (PBT) menjadi Computer Based Test (CBT) https://www.utopicomputers.com.Unbk. Ini salah satu fungsi Komputer sebagai penghela pengetahuan. Secara teknis penyiaapannya, sekolah harus menjadi fasilitor dalam menyiapkan perangkatnya mulai dari penyiapan kelistrikan, komputer, dan jaringan internetnya. Karena berbeda dengan ujian Paper Based Test (PBT) sehingga sekolah pun harus memfasilitasikan terhadap calon peserta ujian dengan latihan atau simulasi penggunaan perangkatnya.

Ujian ini telah diterapkan pada peserta ujian setelah menyelesaikan 3 tahun di SMP dan SMA-K. Khusus jenjang SMP mata pelajaran yang diujikan dalam Unbk adalah Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris. Tentunya materi yang diujikan berdasarkan pengalaman belajar siswa selama duduk dibangku sekolah (BSNP 2017).

Adapun alasan penyelenggaraan Unbk adalah salah satu alternatif mengatasi kelemahan ujian nasional berbasis kertas (PBT), yakni: bentuk soal yang digunakan sulit untuk dibuat bervariasi, tampilan soal terbatas, hanya dua dimensi, diperlukan banyak kertas dan biaya penggandaan yang mahal, pengamanan kerahasiaan soal relatif sulit dan memerlukan biaya yang cukup besar dan pengolahan hasil memerlukan waktu yang lama (Puspendik, 2015:5). Atas alasan ini maka fungsi Ujian Nasional akan berfungsi sebagai pengukur dan penilaian SKL dalam hal ini pada Kompetensi Pengetahuan yang bebas dari ketidakjujuran atau kecurangan, selain itu suasana ujian tidak akan berubah menjadi suasana diskusi soal atau tanya jawab dikarenakan paket soal yang dikerjakan berbeda oleh peserta yang berdekatan, dengan waktu yang sangat ketat.

Profil Unbk setiap mata pelajaran yang terdiri atas lingkup materi ajar yang telah dibelajarkan disesuaikan dengan jenjang kelas. Materi Unbk diambil dari keseluruhan Kompetensi Dasar yang telah menjadi pngalaman pembelajaran siswa. Dapat dipastikan bahwa setiap KD akan terwakili dalam lingkup materi pembelajaran sekaligus menjadi materi penilaian dalam wujud materi soal.

Sebelum penyusunan soal maka sangat diperlukan adalah penyusunan kisi-kisi soal Unbk. BSNP menyiapkan Kisi-kisi dengan format dua dimensi, yakni Pertama, dimensi Pengetahuan berupa lingkup materi, materi dari kelas VII hingga kelas IX dan Kedua, dimensi Proses berpikir yang terdiri atas tiga level, yakni, pertama, level berpikir Low order thinking skill (Lots), kedua, level berpikir Middle order thinking skill dan ketiga, level berpikir Penalaran atau berpikir tngkat tinggi atau High order thinking skill (hots) (Bsnp,2017: 22).

Selanjut kisi-kisi disusun sedemikian rupa sehingga dimensi pengetahuan yang terdiri atas materi dari lingkup materi tertentu akan mewakili pada tiga level. Misalnya Lingkup materi A terdiri atas materi A1, A2 dan A3 yang diajarkan berturut-turut di kelas VII,VIII dan IX , untuk Materi A1 dapat saja direncanakan menjadi 3 nomor soal, dan ketiga nomor soal tersebut disebar dalam dimensi Proses berpikir pada level Lots, Mots dan Hots masing-masing satu nomor soal. Demikian untuk lingkup materi B, C dst. Hingga keseluruhan soal menjadi sejumlah 50 Nomor soal sebagaimana dalam standar prosedur operasional UN oleh BSNP 2017. Dari total soal biasanya ditentukan Prosentase Level Lots, Mots dan Hots, misalnya total soal 50 nomor soal, 12,5 % Lots, 75 % Mots dan 12,5 % Hots. Porsentase ini dapat saja berubah dari tahun ketahun. Dan oleh karena soal Unbk terdiri atas soal Pilihan ganda dan Soal Uraian, sudah ditentukan pula jumlah soal pilihan ganda dan jumlah soal uraian. Biasnya soal uraian dari total soal menyiapkan 5 nomor soal uraian.

Ketiga level berpikir yakni Lots, Mots, dan Hots sebagaimana di atas didasarkan pada taksonomi Bloom refisi oleh Anderson,L,W dan Krathwohl D,R,2001 sebagai rujukan Kurikulum 2013. Taksonomi Bloom-Anderson 2001 memiliki dua dimensi, yakni, dimensi proses kognisi yang disusun dari berpikir level Lots yakni, mengingat (C1), memahami (C2), berpikir level Mots, yakni, memhami (C2) dan menerapakan (C3) dan berpikir tingkat tinggi atau Penalaran atau Hots. dan dimensi pengetahuan (knowledge) disusun dari jenis pengetahuan fakta, konsep, prosedur dan metakognitif. Baik dimensi proses kognisi dan dimensi knowledge dalam Kurikulum 2013 yang terdapat dalam kalimat pernyataan Kompetensi Inti pengetahuan. Pernyataan kompetensi Inti tersebut sebagaimana berikut, “Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata”, Pernyataan Kompetensi Inti pengetahuan mengandung kata ‘memahami’ merupakan dimensi Proses berpikir pada tataran C2 dan faktual, konseptual, prosedural dan metakognisi merupakan dimensi pengetahuan.

Pernyataan Kompetesni Inti di atas diturunkan menjadi Pernyataan Kompetensi Dasar, yang seharusnya juga mengambil kata yang sama yakni ‘memahami’ yang sudah mewarnai materi ajar, kata ini adalah level Cognition 2 (C2) dari dimensi proses berpikir atau dimensi Process Cognition. Level ‘Memahami’ (C2), yakni, kemampuan untuk menangkap atau membangun makna dari materi fakta, konsep, prosedur. Pada tingkat kemampuan ini siswa dituntut untuk memahami yang berarti mengetahui sesuatu hal dan dapat melihatnya dari beberapa segi. Termasuk kemampuan untuk mengubah bentuk menjadi bentuk yang lain, misalnya dari bentuk verbal menjadi bentuk rumus, dapat menerangkan, menyimpulkan dan memperluas makna.

Memahami atau Pemahaman masih merupakan kata yang belum dapat diukur. Untuk mengukur berpikir ‘memahami’ dapat menggunakan tabel taksonomi Pengetahuan oleh Bloom-Anderson untuk menemukan Kata kerja Operasional atau kata yang sering digunakan untuk Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) sehingga KKO atau IPK untuk materi ajar tertentu akan dapat diukur dalam bentuk soal atau tes. Misalnya menggunakan kata yang dapat diukur yakni, mencontohkan, mengklasifikasi, menyimpulkan, membandingkan, dan menjelaskan, dll.

Sebagaimana dalam pedoman kurikulum 2013 bahwa, Kompetensi dasar tidak membatasi proses berpikir siswa, sekalipun Kompetensi dasarnya mengandung proses berpikir ‘memahami’ bukan berarti kompetensi berpikir hanya sampai pada ‘memahami’ saja akan tetapi sampai dengan ‘mencipta (C6) pada pengetahuan fakta, konsep, prosedur dan bahkan metakognisi. Oleh karena itu kisi-kisi Unbk atau soal Unbk tidak saja disiapkan sekedar sampai pada level ‘memahami’ yang masih berkategori Lots. Akan tetapi hingga pada level Mots, Hots.

Dalam menggunakan taksonomi Bloom-Anderson 2001, sangat penting untuk penyusunan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) pada KD atau materi ajar tertentu sangat pentingnya taksonomi tersebut karena menjadi cikal bakal Indikator soal pada Kisi-Kisi ulangan ditingkat kelas, ujian sekolah bahkan kisi-kisi untuk ujian nasional. Setiap proses berpikir yang disebut dengan, mengingat (C1), Memahami (C3), menerapkan (C3), menganalisis (C4), mengevaluasi (C5) dan mencipta (C6) adalah masih merupakan kata kerja abstrak yang belum dapat diukur. Untuk menyusun IPK sebagai cikal bakal indikator soal pada kisi-kisi harus menggunakan kata kerja operasional (KKO).

Penyusunan IPK mengacu pada prinsip pembelajaran dari konkrit ke abstrak. Sebagaimana di atas sekalipun KD dinyatakan dengan ‘memahami (C2) tetap saja untuk penyusunan IPK harus secara runut tersusun dari ‘mengenal (C1), ke C2, C3, hingga ke C6, tentu masing-masing menggunakan kata kerja operasionalnya untuk menyusun IPK (perhatikan tabel taksonomi Bloom-abnderson 2001)

Sebagai Konsekwensi dari IPK yang tersusun itu harus melahirkan soal mulai dari level Lots, Mots Hingga Hots untuk penilaian. Tentunya penyusunan soal tersebut oleh guru harus melalui RPP yang sudah mencantumkan IPK, selanjutnya menyusun kisi-kisi yang mencantumkan Indikator soal, dimana Indikator soal dibangun dari IPK. Selanjutnya berdasarkan kisi-kisi soal disusunlah naskah soal.

Untuk lebih jelasnya level Lots, Mots Hingga Hots yang dikembangkan berdasarkan taksonomi Kognisi Bloom-Anderson sebagai gambaran dapat mencermati Kisi-Kisi soal Unbk Bahasa Indonesia SD tahun 2017/2018.

Tabel Kisi-Kisi Unbk Bahasa Indonesia SD tahun 2017/2018

Sumber: Kemdikbud Direktorat Pembinaan SD

Berdasarkan tabel di atas memberikan inspirasi bagi guru untuk mengembangkan soal yang dibutuhkan sebagai penilaian guru dan penilaian Sekolah atas prestasi siswa dan sekaligus sebagai latihan persiapan siswa menghadapi Unbk yang bentuk soalnya yang sulit diprediksi (gerak brown) yang berada pada keluasan range proses kognisi dari C1 hingga C6. Dan yang pasti soal yang akan dihadapi akan menjadi sulit karena membutuhkan penalaran atau berpikir tingkat tinggi siswa jika mengabaikan latihan secara intensif.

Hal yang tidak dapat dihindari guru adalah mengembangkan soal Hots atau soal penalaran. Soal Hots memiliki karakter sebagai soal yang bersifat kontekstual yang dapat menggunakan penalaran siswa semasa pembelajaran, bersifat unfamiliar artinya soal Hots tidak pernah dicobakan pada siswa akan tetapi baru dijumpai pada saat Unbk belangsung. Selain itu soal Hots merupakan soal dengan kategori level C4, C5, dan C6 dalam dua atau lebih konsep atau prosedur untuk menyelesaikannya.

Untuk mengatasi Unbk yang bersifat luas dan kontekstual hingga dirasakan sulit maka sekolah harus melatihnya dengan soal yang kontekstual pula. Mengatasinya Unbk yang kontekstual tersebut melalui strategi penyusunan Kisi-Kisi soal dan Instrumen soal untuk persiapan ujian akhir semester di tingkat sekolah. Strategi penyusunan kisi-kisi dan instrumen soal itu dengan cara, keduanya disusun oleh dua guru yang berbeda dengan syarat kedua guru tersebut berlatar mata pelajaran yang sama. Misalnya guru pertama menyusun kisi-kisi dan guru lainnya menggunakan kisi-kisi yang dibuat oleh orang pertama sebagai dasar menyusun soal. Berdasarkan pengalaman selama ini penyusunan kisi-kisi soal dan Instrumen soal mata pelajaran tertentu menjadi beban tugas seorang guru mata pelajaran tersebut.

Penyusunan Kisi-Kisi soal dan Instrumen soal ujian semester dengan Strategi di atas dimungkinkan untuk dilaksanakan oleh sekolah mengingat Ujian akhir semester atau akhir tahun adalah tanggung jawab dan kewenangan sekolah dalam mengevaluasi kinerja guru dan ketercapaian kompetensi siswa (Permendikbud no 23 tahun 2016).

Penyusunan dengan strategi ini dapat secara tidak langsung mengawasi proses pembelajaran yang terhindar dari pengabaian materi tertentu untuk dibelajarkan dalam satu-satuan semester. Artinya baik guru dan siswa selalu mewaspadai soal yang diibaratkan seperti ‘gerak brown’. Selain itu, motivasi guru dan siswa akan terjaga menyelesaikan materi pelajaran sesuai target silabus. Sebaliknya bila sekolah tetap menerapkan strategi penyusunan baik Kisi-kisi soal dan instrumen soal dilakukan oleh hanya satu orang guru sesuai mata pelajaran yang diampunya. Cara yang seperti ini biasanya terjadi banyak kejanggalan.

Kejanggalan itu misalnya, jika orang yang sama yang bertugas menyusun pekerjaan yang berbeda tersebut, yang terjadi adalah guru menyusun soal sesuai materi yang dibelajarkan dan menghindari untuk mata pelajaran yang tidak dibelajarkan. Kejanggalan lain, guru dapat saja menyusun soal terlebih dahulu baru kemudian kisi-kisi soal, hal ini melanggar prosedur. Kejanggalan berikutnya adalah soal bisa jadi yang paling sering dilatihkan pada siswa dan tidak memperhatikan soal penalaran atau Hots. Bahkan soal menjadi mudah karena bisa jadi sudah dibocorkan.

Selain strategi di atas sekolah harus memfasilitasi pelatihan tingkat sekolah bagi guru menyusun kisi-kisi soal dan instrumen soal mengacu pada contoh Kisi-kisi dan instrumen soal nasional. Berdasarkan pengalaman pengamatan terhadap guru menyusun naskah soal, kebanyakan dari mereka mengambil atau mengadopsi soal dari buku atau dokumen Ujian nasional, artinya guru kurang terampil dengan sepenuhnya mampu menyusun soal sendiri yang bebas plagiarisme.


  • 0

Profil UNBK Dan Keterkaitannya dalam Pembelajaran Aktif : Model Pembelajaran Kontekstual (Bagian 1)

Elvi Saidi
Widyaiswara LPMP Gorontalo

ABSTRAK

Unbk selama ini menjadi mimpi buruk baik bagi guru maupun siswa. Alasannya pembelajaranlah yang menjadi penyebabnya. Pembelajaran masih seperti yang dulu-dulu saja sekalipun genderang kurikulum 2013 sudah dibunyikan menandai standar proses dan standar penilaian sudah dimulai mengikuti kebutuhan abad 21.

Pembelajaran yang diterapkan belum membuat gairah semangat belajar siswa untuk mencapai hasil penilaian dengan standar tinggi. Dengan menggali makna yang terkandung pada Unbk termasuk kesulitan yang dihadapai siswa yang dapat dipastikan hasilnya tidak maksimal. Untuk itu perlu menggali pula pembelajaran aktif yang mungkin bisa ditawarkan sebagai solusi untuk mengganti dan mengehentikan praktik pembelajaran yang kurang bermutu. Pembelajaran yang bermutu yang dimaksud adalah praktik pembelajaran yang memperhatikan intake siswa yang sangat variatif untuk mendudukkan kompetensi dasar yang harus dikuasai melalui proses berpikir terhadap pengetahuan fakta, konsep, prosedur bahkan metakognisi yang juga sebagai materi uji pada Unbk. Sebagai fokus masalah artikel non penelitian ini, yakni, apakah terdapat hubungan Profil Unbk Dengan Pembelajaran aktif: Model Pembelajaran Kontekstual ? Untuk menjawab masalah tersebut digunakan metode literasi pustaka yang dikonsultasikan dengan pengalaman melaksanakan supervisi implementasi kurikulum 2013, pengalaman melatih penyusunan kisi-kisi dan soal berstandar nasional . Hasil yang diperoleh sebagai kesimpulan kajian, yakni, 1) Unbk mengandung soal-soal yang unfamiliar baik bagi guru dan siswa sebagai peserta Unbk, 2) Model Pembelajaran Kontekstual merupakan salah satu Pembelajaran aktif, 3) Terdapat kesesuaian hubungan antara 7 indikator profil Unbk dengan 7 strategi model pembelajaran kontekstual dan 7 Prinsip model pembelajaran kontekstual, 4) Tujuh Strategi model pembelajaran kontekstual dan Tujuh Prinsip model pembelajaran kontekstual dapat menjangkau pencapaian kompetensi siswa pada Unbk.

PENDAHULUAN

Mengintip kelas-kelas yang sedang dalam proses pembelajaran, masih terlihat fenomena kelas ketika gurunya sedang memberikan materi ajar melalui metode ceramah yang dengan semangatnya berusaha menarik perhatian siswa. Saat ceramah guru berlangsung sebagian siswa mengikuti pembelajaran itu dengan lesu di kursi sambil merebahkan kepalanya, ada juga sebagian siswanya yang hanya memandang keluar jendela, sementara yang lain mengobrol lewat sms, dan sedikit diantara mereka yang tampak sungguh-sungguh memperhatikan gurunya. Fenomena pembelajaran seperti ini masih banyak terlihat di sekolah, Guru hanya mengajarkan dengan megutamakan mereka yang aktif saja tertarik dan menerima pembelajaran yang diberikan. Proses Pembelajaran seperti ini seharusnya sudah ditinggalkan dan menyesuaikan dengan Kurikulum 2013.

Sebagaimana tujuan kurikum 2013, ada tiga hal yang harus dicapai siswa dalam pembelajaran, yakni, Karakter, Kompetensi, dan Literasi. Karakter diperlukan siswa karena menghadapi lingkungan yang terus berubah. Komptensi, diperlukan siswa untuk mampu mengatasi masalah yang kompleks. Dan literasi diperlukan untuk memiliki keterampilan untuk kegiatan sehari-hari.

Siswa yang diharapkan berkarakter dengan indikatornya adalah, iman & taqwa, Cinta tanah air, Rasa ingin tahu, gigih kemampuan beradaptasi, memilki jiwa kepemimpinan, dan kesadaran budaya. Kompetensi dengan Indikator adalah, mampu ber pikir kritis, memecahkan masalah, kreatif, kolaboratif dan komunikatif. Sementara berdaya literasi yang indikatornya adalah baca tulis,literasi sains, literasi Informasi dan teknologi, literasi keuangan, literasi budaya dan kewarganegaraan . Atas semua itu harus terintegrasi dalam proses pembelajaran dan penilaian dari setiap mata pelajaran (Kurikulum 2013). Jika Fenomena pembelajaran diawal uraian dihubungkan dengan capaian yang diharapkan oleh Kurikulum 2013, maka sudah jelas tidak dapat, menjangkaunya.

Dalam panduan implementasi Kurikulum 2013, dijelaskan, Pembelajaran dan Penilaian dapat diibaratkan dengan dua sisi mata uang, yang keduanya penting dan tidak boleh saling lepas. Pembelajaran perlu direncanakan dengan menggunakan Pendekatan pembelajaran menurut standar proses yang mengutamakan siswa adalah pusat pembelajaran, dimana siswa diharuskan mengunakan teori saintifik, yang dikenal dengan 5m, yakni, mengamati, mempertanyakan, mengumpulkan informasi, menalar dan mengkomunikasikan. Sementara guru dalam layanannya menggunakan Kompetensi Pedagogik dan Profesionalnya dalam bentuk pendekatan–pendekatan antara lain membangun konteks, menelaah model pembelajaran yang sesuai, mengonstruksi penguasaan pengetahuan secara terbimbing dan mengonstruksi pengetahuan secara mandiri terhadap siswa. Dengan demikian siswa dapat mengembangkan proses berpikirnya dalam dimensi pengetahuan (Bloom_Anderson, 2001).

Standar proses pembelajaran di tingkat kelas akan dilakukan penilaian berdasarkan Standar Penilaian. Penilaian ini dilakukan oleh internal sekolah yakni oleh guru, dan tingkat sekolah sebagai ujian akhir semester atau ujian akhir tahun. Sementara penilaian ekternal yang diselenggarakan oleh pemerintah melalui Unbk untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika untuk SMP.

Sepanjang pengalaman mengamati tentang ujian, instrumen selalu saja sulit oleh siswa bahkan tidak sedikit gurupun mengeluhkannya. Memang berbeda tingkat kesulitan soal di tingkat kelas atau guru dikarenakan peniliannya masih otentik oleh guru sendiri yang menyusun soal. Sementara Unbk dirasakan lebih dikarenakan sudah merupakan penilaian dimana penyusun naskahnya adalah eksternal dan pasti non otentik.

Unbk yang yang materinya berdasarkan pengalaman belajar dari kelas tujuh hingga kelas sembilan selalu akan memberi kesan begitu luas dan dalam. Kesan luas dan dalam materinya memberi kesan berikutnya sulit memprediksi pada titik-titik mana dalam satu konsep materi terdapat masalah yang diangkat sebagai kisi-kisi dan instrumen soal. Sekalipun kisi-kisi selalu diterbitkan oleh Pemerintah untuk dapat membantu guru maupun siswa untuk lebih fokus dan berkonsentrasi, namun kisi-kisi tersebut datangnya pada saat sudah mendekati Unbk. Seolah kisi-kisi untuk mata pelajaran saja, misalnya Kisi-Kisi mata pelajaran Bahasa Indonesia yang diterbitkan itu sudah sulit untuk menyiapkan siswa untuk fokus dan berkonsentrasi dikarenakan waktu belajarnya hampir habis, bagaimana dengan mata pelajaran lainnya. Hal ini akan berakibat pada kepastian siswa merasakan akan kesulitan soal Unbk tersebut. Akan berbeda tentunya jika Kisi-Kisi diterbitkan lebih awal pada saat pembelajaran masih panjang waktunya.

Jika kisi-kisi datang lebih awal selain ada kelebihan sebagaimana diuraikan di atas juga mengandung kelemahan, kelemahannya boleh jadi guru hanya membelajarkan pada titik masalah yang dikisi-kisikan itu, hal ini tentu memberi dampak pada sempitnya penguasaan siswa akan pengetahuan, selain itu tujuan pembelajaran akan bergeser pada Kompetensi menyelesaikan soal Unbk saja, tidak pada tercapainya standar komptensi yang lebih luas dan holistik yakni, Karakteri, Kompetensi dan Literasi.

Kondisi sulitnya soal Unbk tidak semata-mata karena cepat atau lambatnya kisi-kisi Unbk diterbitkan oleh pemerintah akan tetapi lebih pada Proses Pembelajaran sebagai bentuk penyiapan siswa untuk menghadapi Unbk belum sesuai. Unbk itu sulit bagi peserta ujian, memang ya. yang namanya ujian pasti selalu sulit. Hanya saja bagaimanaa untuk menurunkan derajat panas akibat kesulitan Unbk maka harus menggunakan pendekatan pembelajaran yang dapat menangkap makna Unbk yang dirasakan sulit itu dan memberikan suport pada siswa untuk lebih fokus dan konsen melalui pembelajaran yang aktif.

Untuk itu penulis melakukan telaah lebih jauh akan makna Unbk dan berusaha menganalisisnya untuk dapat menawarkan salah satu model pembelajaran yang dapat dikategorikan sebagai pembelajaran aktif. Salah satu model pembelajaran itu adalah Model pembelajaran Kontekstual (Contextual teaching and learning atau Ctl) Model pembelajaran ini dari awal hingga sekarang kurang disebut-sebut dalam kurikulum 2013 pada hal model pembelajaran ini sudah banyak peneliti dan bisa memeberi makna pada pembelajaran dan penilaian.

Dengan demikian penulis, menulisnya dalam bentuk artikel sederhana, dengan judul: “Analisis Hubungan Profil Unbk Dengan Pembelajaran Aktif: Model Pembelajaran Kontekstual”

Selanjutnya untuk lebih mendalami dualitas Unbk dan Active Learning, penulis mempertanyakan sekaligus bertujuan untuk berusaha menjawabnya melalui pengumpulan informasi atau data hasil penelitian yang berhubungan dengan, “Adakah terdapat hubungan kesesuaian antara Profil Unbk Dengan Pembelajaran Aktif: Model Pembelajaran Kontekstual?”

Adapun kebermanfaatan artikel ini adalah berharap dapat menyemangati guru untuk lebih siap dalam mendukung Unbk melalui Pembelajaran aktif: Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual teaching and learning).


  • 0

Reformasi Birokrasi Internal

Category : Artikel Umum , Internal

Tim Itjen Kemendikbud bersama Tim RBI PPPPTK Bahasa melakukan verifikasi dokumen pendukung WBK tgl 21 Mei 2018

     Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus berupaya melakukan peningkatan kualitas layanan publik sesuai dengan konsep reformasi birokrasi internal. Hal ini juga berlaku di seluruh Unit Pelayanan Teknis di lingkungan Kemendikbud.
     PPPPTK Bahasa sebagai salah satu bagian UPT di lingkunan Kemendikbud pun ikut serta berpartisipasi dalam meningkatkan kualitas layanan publik. Sebagai langkah nyata dalam meningkatkan kualitasnya, PPPPTK bahasa menjalani survey internal dari Inspektorat Jenderal kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
      Layanan publik di lingkungan PPPPTK Bahasa yang disurvei di antaranya adalah Unit Layanan Terpadu (ULT), SDM Aparatur serta, Budaya kerja serta hal-hal terkait lainnya dalam upaya menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).

Sumber Gambar https://www.kemdikbud.go.id

       PPPPTK Bahasa sebagai salah satu bagian UPT di lingkunan Kemendikbud pun ikut serta berpartisipasi dalam meningkatkan kualitas layanan publik. Sebagai langkah nyata dalam meningkatkan kualitasnya, PPPPTK bahasa menjalani survey internal dari Inspektorat Jenderal kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Layanan publik di lingkungan PPPPTK Bahasa yang disurvei di antaranya adalah Unit Layanan Terpadu (ULT), SDM Aparatur serta, Budaya kerja serta hal-hal terkait lainnya dalam upaya menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).

Selain itu, PPPPTK Bahasa Juga membuat sebuah laman Whistle Blowing System (WBS) dalam mersepon dan memproses pengaduan/pemberian informasi yang disampaikan baik secara langsung maupun tidak langsung sehubungan dengan adanya perbuatan yang melanggar perundang-undangan, peraturan/standar, kode etik, dan kebijakan, serta tindakan lain yang sejenis berupa ancaman langsung atas kepentingan umum, serta Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang terjadi.

Tampilan Laman Whistle Blowing System PPPPTK Bahasa

Delapan area perubahan yang dicanangkan sebagai target dari reformasi birokrasi di lingkungan Kemendikbud. Diantaranya yaitu Penguatan Akuntabilitas Kinerja dan Peningkatan Kualitas Layanan Publik diharapkan dapat memberi harapan baru bagi peninkatan Kualitas dan Mutu kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Sumber Gambar https://www.kemdikbud.go.id

  • 1

Rakor Kurikulum 2013 Wilayah Prov. Gorontalo

Rapat Koordinasi Data Pelaksanaan Pelatihan Kurikulum 2013 di Provinsi Gorontalo dilaksanakan pada hari Selasa s.d Kamis di Hotel Paradise Kota Gorontalo.
Rakor dibuka secara resmi oleh Kepala PPPPTK Bahasa Ibu. Dr. Hj. Luizah F. Saidi, M.Pd dengan agenda :

1. Pejaringan Data Kepala Sekolah

2. Penjaringan Data Sekolah Inti

3. Penjaringan Data Instruktur

4. Penjaringan Data Peserta

5. Pemaparan Program Kurikulum 2013 sekaligus penjelasan menyoal tata kelola keuangan dalam memanajemen Bantuan Pemerintah.

Rakor dihadiri oleh seluruh Perwakilan Dinas Pendidikan baik tingkat Provinsi, Kabupaten dan Kota.

Hari kedua penjaringan data serta seluruh agenda kegiatan Rakor sudah diselesaikan dengan baik. Membawa hasil data serta masukan dari berbagai pihak

Kegaitan Rakor resmi ditutup oleh Ibu Kepala PPPPTK Bahasa Ibu. Dr. Hj. Luizah F. Saidi, M.Pd, pada hari Kamis Pukul 08.00.

Semoga hasil yang di dapat dapat membawa dampak positif bagi terlaksannya Program Kulrikulum 2013 dan juga bagi dunia pendidikan Indonesia

Foto bersama pada acara pembukaan Rakor

  • 0

Lagu Indonesia Raya 3 Stanza

Mendikbud Akan Buat Surat Edaran, Lagu “Indonesia Raya” Dinyanyikan 3 Stanza

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy akan menerbitkan surat edaran ke seluruh sekolah. Surat edaran tersebut meminta agar lagu Indonesia Raya dinyanyikan secara utuh, yakni 3 stanza, ketika dilaksanakan upacara. “Kemendikbud akan mengeluarkan edaran agar di sekolah menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza,” kata Muhadjir di Kemendikbud, Jakarta, Kamis (3/8/2017). Menurut Muhadjir, pada awalnya, lagu Indonesia Raya dinyanyikan 3 stanza. Kemudian, keluar Keputusan Presiden (Keppres) yang menyatakan bahwa lagu Indonesia Raya dinyanyikan 1 stanza.

“Saya tidak tahu itu kenapa bisa jadi 1 stanza. Itu memang secara resmi, saya tidak tahu keppresnya tetap masih dipertahankan 1 stanza,” kata Muhadjir. Dia menilai perbedaan antara lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan 1 stanza memiliki efek rasa semangat yang berbeda ketika dinyanyikan 3 stanza. Muhadjir menganalogikannya dengan hasil foto. “Kalau 1 stanza ibaratnya foto setengah badan. Kalau 3 stanza foto penuh,” kata Muhadjir.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Mendikbud Akan Buat Surat Edaran, Lagu “Indonesia Raya” Dinyanyikan 3 Stanza”,

Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2017/08/03/18205071/mendikbud-akan-buat-surat-edaran-lagu-indonesia-raya-dinyanyikan-3-stanza.

Penulis : Fachri Fachrudin


Lagu Indonesia Raya secara Utuh terdiri atas 3 (tiga) Bait atau 3 (tiga) stanza.

Karena kita terbiasa menyanyikan lagu kebangsaaan Indonesia Raya hanya 1 stanza, kemungkinan diantara kita banyak yang lupa atau tidak tahu stanza ke 2 dan stanza ke 3 dari lagu Indonesia Raya.

Sekedar berbagi pengetahuan (silahkan dikoreksi jika salah), berikut ini 3 (tiga) stanza lagu kebangsaan Indonesia Raya sesuai PP Nomor 44 Tahun 1958 tentang tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Berikut lyric per stanzanya :

Lagu Indonesia Raya secara Utuh terdiri atas 3 (tiga) Bait atau 3 (tiga) stanza.

Karena kita terbiasa menyanyikan lagu kebangsaaan Indonesia Raya hanya 1 stanza, kemungkinan diantara kita banyak yang lupa atau tidak tahu stanza ke 2 dan stanza ke 3 dari lagu Indonesia Raya.

Sekedar berbagi pengetahuan (silahkan dikoreksi jika salah), berikut ini 3 (tiga) stanza lagu kebangsaan Indonesia Raya sesuai PP Nomor 44 Tahun 1958 tentang tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Berikut lyric per stanzanya :

Bait / Stanza I

Indonesia tanah airku,

Tanah tumpah darahku,

Di sanalah aku berdiri,

Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku,

Bangsa dan tanah airku,

Marilah kita berseru,

Indonesia bersatu.

Hiduplah tanahku,

Hiduplah negriku,

Bangsaku, Rakyatku, semuanya,

Bangunlah jiwanya,

Bangunlah badannya,

Untuk Indonesia Raya.

Refrein

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Tanahku, neg’riku yang kucinta!

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Hiduplah Indonesia Raya.

Bait / Stanza II

Indonesia, tanah yang mulia,

Tanah kita yang kaya,

Di sanalah aku berdiri,

Untuk s’lama-lamanya.

Indonesia, tanah pusaka,

P’saka kita semuanya,

Marilah kita mendoa,

Indonesia bahagia.

Suburlah tanahnya,

Suburlah jiwanya,

Bangsanya, rakyatnya, semuanya,

Sadarlah hatinya,

Sadarlah budinya,

Untuk Indonesia Raya.

Refrein

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Tanahku, negriku yang kucinta!

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Hiduplah Indonesia Raya.

Bait / Stanza III

Indonesia, tanah yang suci,

Tanah kita yang sakti,

Di sanalah aku berdiri,

M’njaga ibu sejati.

Indonesia, tanah berseri,

Tanah yang aku sayangi,

Marilah kita berjanji,

Indonesia abadi.

Slamatlah rakyatnya,

Slamatlah putranya,

Pulaunya, lautnya, semuanya,

Majulah Negrinya,

Majulah pandunya,

Untuk Indonesia Raya.

Refrein

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Tanahku, negriku yang kucinta!

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Hiduplah Indonesia Raya.


  • 0

KEHIDUPAN MASYARAKAT MESIR Pengalaman Lintas Budaya

Category : Artikel Umum , Bahasa Arab

Dedi Suprianto

Widyaiswara Bahasa Arab
PPPPTK Bahasa

Bila kita berkunjung ke Mesir, selain kita dapat belajar dan mempraktikkan bahasa Arab, tentunya kita juga dapat mengenal lebih dekat budaya masyarakat negeri Piramida ini. Ada beberapa pengalaman empiris yang dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat Indonesia yang ingin berkunjung ke sana. Berikut ini beberapa pengalaman empiris yang terjadi pada penulis selama berada di Mesir. Pengalaman yang menyenangkan, haru, sedih maupun menegangkan.

  1.    Menyapa dan menanyakan asal

Secara umum masyarakat Mesir sangat tertarik dan ramah dengan orang asing, termasuk orang asing dari daerah Asia. Di beberapa wilayah yang jarang orang asingnya sepeti di Ismailia (2,5 jam dari Cairo), banyak orang Mesir yang baru pertama kali meilihat penulis kemudian tersenyum lalu menyapa. Bahkan tidak jarang beberapa anak kecil memandang sambil mengikuti penulis seraya menyapa dengan bahasa mereka.

Umumnya mereka menyapa dengan bahasa Mandarin yaitu  “Ni haoma?” (“Apa kabar?”), kemudian pengajar menjawab dengan “Ni hao” (kabar baik”) sambil menjelaskan bahwa kami dari Indonesia dan kami beragama Islam, lalu kami menyapa mereka dengan salam “Assalamu’alaikum” dan kemudian mereka tersenyum dan menjawab salam kami. Mereka kadang kaget juga ternyata penulis juga bisa berbahasa Arab. 

Adapula di antara mereka yang menanyakan asal penulis dengan bertanya, “Min Shiin?” (“Dari Cina?”),  “Min Yaban?” (“Dari Jepang?”), “Min Malaysia?” (“Dari Malaysia?”), “Min Korea?” (Dari Korea?”), “Min Filipina?” (“Dari Filipna?”). Tentunya kami langsung menjawab “Kami dari Indonesia” atau “Indonesia”. Kemudian mereka menjawab “Oh min Indonesia” (“Oh, dari Indonesia?”), kemudian rata-rata mereka langsung menjawab “Ahsanunnas!” (“sebaik-baik manusia!”). Namun uniknya dari sekian pertanyaan tentang asal jarang sekali yang menanyakan langsung kepada pengajar dengan pertanyaan “Min Indonesia?” (“Dari Indonesia?”/ “Anda dari Indonesia?”).  Jadi kebanyakan mereka – yang tinggal jauh dari ibu kota Cairo – menebak kita orang Asia dan umumnya bagi mereka Asia itu adalah Cina. Sudah tentu mereka mudah menebak kita orang Asia atau orang Cina karena penampilan fisik kita tidak seperti mereka (orang Arab).

 

2.    Keinginan warga untuk foto bersama

Banyak pula warga Mesir yang meminta foto bersama penulis, terutama di tempat wisata atau kendaraan umum saat baru pertama kali berjumpa dengan mereka. Mereka meminta dan mengajak penulis untuk swafoto sebagai kenang-kenangan yang indah karena bisa bertemu dangan orang asing yang secara fisik tentunya berbeda dengan mereka. Hal ini membuat penulis tersenyum-senyum, bangga dan bahagia karena merasa diri bak orang atau artis terkenal yang disanjung dan dipuja-puja.   

  

3.   Sempat dilarang masuk masjid

            Pernah suatu kali, saat penulis bersama bersama seorang kawan asalIndonesia ingin masuk masjid dan menunaikan shalat ashar, tiba-tiba dari dalam masjid muncul seorang bapak tua yang melarang kami masuk masjid. Beliau melarang masuk dan meminta kami untuk keluar. Padahal kami belum sempat berkata apa-apa dan baru berdiri di depan pintu masjid. Awalnya kami mengira bahwa masjid ingin ditutup karena sudah tidak ada jama’ah lagi. Untungnya dari dalam masjid juga muncul seorang polisi yang baru saja shalat ashar dan kemudian mengatakan kepada bapak tua tadi bahwa kami berdua ini datang ke masjid karena ingin shalat. Kami pun juga segera menjelaskan kepada bapak tua pengurus masjid tadi bahwa kami muslim dan ingin shalat di dalam masjid. Saat bapak tua tadi tahu bahwa kami muslim dan ingin shalat maghrib lalu dia tersenyum ramah, meminta maaf dan mempersilakan kami untuk shalat. Beliau menunggu kami shalat, bahkan selesai shalat kami diberi hidangan minuman dan kurma oleh beliau. Lalu beliau menanyakan asal kami. Setelah tahu kami dari Indonesia beliau mengatakan “ahsanunnas!” (“sebaik-baik manusia”/”orang Indonesia adalah orang-orang yang baik”).    

 

4.  Menjamu tamu dengan banyak makanan

Bila kita bertamu atau diundang makan oleh keluarga atau sahabat dari Mesir maka kosongkan perut atau bersiap-siaplah untuk lapar sebelumnya, karena biasanya mereka menjamu dan menghidangkan makanan untuk tamu dalam porsi besar dan beraneka ragam jenis masakan. Penulis merasa senang namun juga tidak enak bila tidak menghabiskan makanan yang disediakan, karena memang sudah kenyang atau kadang rasa makanan belum sesuai dengan lidah penulis. Bahkan ketika makanan kita hampir habis pun mereka meminta dan bahkan menambahkan ke dalam piring yang sedang kita gunakan, bagi mereka ini suatu penghormatan menjamu tamu.  Namun demikian bagi penulis ini adalah suatu latihan alami untuk bisa beradaptasi dengan keluarga dan juga makanan khas Mesir yang beraneka ragam bentuk dan rasanya. 

 

5.  Mujamalah (basa-basi)

Mujamalah adalah ungkapan basa basi. Di antara contoh mujamalah adalah saat kita melakukan transaksi jual beli. Di saat kita membeli barang, sering penjual menolak bayaran kita sambil tersenyum, menggoyangkan tangannya – tanda kita tidak perlu membayar- dan mengatakan “kholi” yang artinya gratis tau perlu membayar.  Hal ini sebenarnya hasanya basa-basi. Ketika kita mengetahui budaya ini maka sudah sewajarnya kita membayar sesuai harga yang telah tertera atau disepakati. Hal ini leih menambah kakraban dan persaudaran manakala penjual berbasa basi dengan mengatakan ini barang tersebut gratis kemudian kita membayarnya sesuai ketentuan. Artinya kita sama-sama saling diuntungkan karena kita bisa saling menghargai dan menghormati dalam urusan bermasyarakat.   

 

6.  Penggunaan ungkapan “Bukhrah” (Besok/nanti)

Terkadang ada orang Mesir menjanjikan sesuatu kemudian mengatakan “bukhroh”, yang artinya besok/nanti. Kita harus lebih berhati-hati karena belum tentu “bukhroh” di sini artinya besok atau selang satu hari dari hari ini. Misal dalam pengurusan visa, kita  bertanya kepada petugas di sana dengan mengatakan “Imta aljawaz maugud? (Kapan selesai pengurusan paspor/visa?”), apabila petugas menjawab dengan ungkapan “bukhroh” (besok/nanti) maka waspadalah, apalagi bila mereka mengatakan “bada bukhroh” (setelah besok), bisa jadi artinya waktu penyelesaian visa semakin tidak jelas kapan akan selesai. Oleh karena itu “bukhroh” ini maksundya ungkapan tentang waktu yang tidak pasti atau belum pasti waktunya entah kapan. Maka tak jarang masyarakat Indonesia yang tinggal di Mesir sering mengingatkan rekan-rekannya sambil bercanda dengan mengatakan, “Hati-hati loh dibukhrohin orang Mesir.” atau “Nggak mau ah dibukhrohin, capek, tidak jelas.”

 

7.  Penggunaan ungkapan “Quraib” (Dekat)

Bila kita sedang berjalan kaki lalu bertanya kepada orang Mesir, “Ayna Jam’ah Al-Azhar?” (“Di mana kampus Al-Azhar?”), kemudian orang itu menjawab, “quraib!” (dekat!), maka kita jangan langsung memperkirakan dan menyangka bahwa kampus Al-Azhar memang sudah dekat, bisa jadi kampus itu masih jauh. Karena menurut mereka bisa jadi jarak kampus tersebut dari tempat kita bertanya memang dekat namun bagi kita sebenarnya masih jauh bahkan sangat jauh dari kampus Al-Azhar, misalnya masih 5-10 km berjalan kaki atau sekitar 45 menit.  


  • 0

Mendikbud: “Student today, leader tomorrow”

Mendikbud: “Student today, leader tomorrow”  

Jakarta, Kemendikbud — Senin (8/1/2018) pagi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menjadi pembina upacara di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 16 Kupang, Nusa Tenggara Timur. Mendikbud didampingi Sekretaris Jenderal Didik Suhardi, Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Hamid Muhammad, dan Direktur Pembinaan SMP Supriano. Pengibaran bendera Merah Putih pada upacara ini juga diiringi oleh Lagu Kebangsaan Indonesia Raya 3 stanza.

Dalam amanatnya selaku pembina upacara, Mendikbud menghimbau agar para siswa dapat meningkatkan kedisiplinan yang tinggi terutama melalui upacara. Mendikbud mengapresiasi penyelenggaraan upacara bendera di sekolah tersebut yang dinilai sudah sangat bagus. “Ini (upacara bendera,-) adalah bagian dari upaya kita untuk membentuk karakter siswa,” ujar Mendikbud.

Mendikbud menambahkan, ada banyak nilai yang bisa diambil di balik upacara bendera, diantaranya kedisiplinan, ketahanan baik fisik maupun mental, dan juga memahami dasar-dasar negara pembukaan UUD, pembacaan teks Pancasila dan janji siswa.

Janji siswa yang dimaksud Mendikbud adalah Janji Pelajar SMP Negeri 16 Kota Kupang yang diucapkan oleh salah satu pelajar dan diikuti seluruh peserta didik peserta upacara. Janji tersebut berisi: (1) Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; (2) Menjunjung tinggi kehormatan sekolah, orangtua, dan guru; (3) Belajar rajin, sungguh-sungguh, dan penuh kesadaran; (4) Bertindak jujur, sopan, dan tahu harga diri; dan (5) Mematuhi tata tertib sekolah, mempererat persatuan dan kesatuan di antara pelajar.

Persaingan dengan negara-negara lain yang semakin ketat membuat Mendikbud meminta pelajar untuk terus meningkatkan semangat belajar sesuai janji siswa yang mereka ucapkan, dan tidak boleh mudah menyerah. “20 tahun yang akan datang, kamu yang akan memimpin Indonesia ini,” kata Mendikbud. Nantinya masa depan bangsa Indonesia akan berada di tangan para pelajar saat ini. Bisa jadi diantara para pelajar ini yang menjadi guru, kepala dinas, Menteri Pendidikan, bahkan mungkin Presiden Republik Indonesia. “Student today, leader tomorrow. Sekarang kamu pelajar besok kamu adalah pemimpin,” tutup Mendikbud.

Pada kesempatan ini Mendikbud menyerahkan 170 buku cerita nusantara kepada SMP Negeri 16 Kupang. Penyerahan buku cerita kerap dilakukan Mendikbud pada kunjungan kerjanya, sebagai bentuk menggelorakan gerakan literasi.

Pada kunjungan kerjanya ke provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Mendikbud berkomitmen untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan NTT dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp959 miliar di tahun 2018. Mendikbud menyampaikan secara keseluruhan anggaran pendidikan ke NTT tahun ini meningkat dari tahun sebelumnya, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

Mendikbud menjelaskan anggaran tersebut sebagian besar diperuntukkan untuk pembangunan unit sekolah baru (USB) mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah kejuruan (SMK), sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah luar biasa (SLB). Selain USB, anggaran pendidikan juga akan digunakan untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi guru baik berupa pelatihan, lokakarya dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan hasil Ujian Nasional (UN) di NTT masih di bawah rerata nasional, walaupun tingkat kejujuran dan integritasnya bagus. (Anang Kusuma).

Sumber : https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2018/01/mendikbud-student-today-leader-tomorrow
Penulis : pengelola web kemdikbud


  • 0

Revitalisasi Bahasa Indonesia berbasis Massive Open Online Courses (MOOC)

Elvira Ratna Sari,S.Pd

Widyaiswara Bahasa Prancis

PPPPTK Bahasa – Jakarta

Jakarta – Malam Anugerah KiHajar baru saja dilaksanakan oleh Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom), Kementerian Pendidikan dan Budaya, Kamis, tanggal 17 November 2017 di Plaza Insani Gedung A Kemdikbud, Senayan, Jakarta, yang dihadiri oleh Menteri Pendidikan dan Budaya Bapak Prof. Muhajir Efendi, MAP. Sebuah perhelatan  besar yang ketujuh kalinya diselenggarakan dengan tema “Pendayagunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam perhelatan akbar itu diberikan apresiasi kepada tokoh-tokoh pengerak pendidikan. Sebuah seminar nasional pun dilaksanakan satu hari sebelumnya bertema “Literasi TIK untuk Penguatan Pendidikan Karakter di Era Digital” (Rabu, 16/11). Kegiatan ini dimeriahkan pula dengan stand-stand pameran terkait IT dari Indosat, Google, Rumah Belajar, Watchdog ID, dan lain-lain.

Semangat literasi TIK tahun ini sungguh digaungkan dalam pendidikan, begitu juga beberapa pelaksanaan seminar nasional dan internasional yang penulis ikuti beberapa waktu lalu yaitu; The Eight Annual International Symposium of Foreign Language Learning (8th AISOFOLL – Seameo Regional for Qitep In Language) di Jakarta (18-19/10) dengan tema “Supporting the Enhancement of Critical Thinking Skills Through Language Teaching[1]. Salah satu subtema simposium ini “Exploring Language Trainees’ Literacy Beliefs and Perceptions Using a Values-Based Approach In Online Teaching and Learning[2](Dr. Suma Parahakaran – Sathya Sai Educare Academy of Malaysia).  Program Persatuan Guru Bahasa Prancis di Indonesia dalam Conférence Internationale sur Le Français (CIF) 2[3] menyelenggarakan kegiatan serupa dengan tema utama “Intelligeance Linguistique et Littéraire à l’Ère Informatique[4], menampilkan salah satu subtema “Réseaux Sociaux et Enjeux Linguistique[5]. Selain itu telah dibukanya kelas visual bahasa Prancis bagi pembelajar asing dengan moda MOOC oleh Centre d’Approches Vivantes des Langues et des Médias[6]  (CAVILAM), Vichy-France[7].

https://www.facebook.com/CAVILAMAllianceFrancaise/videos/10156737496309832/ https://www.youtube.com/watch?v=YSMdYP_X9_s

Saat ini penggunaan internet sudah mendunia bahkan di Asia Tenggara seperti yang diungkapkan dalam wearesocial.com“More than half of Southeast Asia’s population now uses the internet, with the number of internet users around the region growing by more than 30% – or 80 million new users – in the past 12 months alone[1].” Dikatakan bahwa lebih dari separuh populasi Asia Tenggara ssaat ini menggunakan internet, dengan jumlah pengguna internet tumbuh 30% – atau 80 juta pengguna baru – dalam kurun waktu 12 bulan terakhir saja. Hampir semua bidang telah memanfaatkan teknologi informasi sebagai media aktivitasnya. Begitu pun, dunia pendidikan juga tidak luput dari hal ini.

Bertolak dari isu-isu terkini di atas, Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang dimiliki oleh 262 juta penduduk Indonesia berdasarkan statistik Juli 2017[2], berharap bisa menjadi bahasa pemersatu yang kuat untuk mendampingi dan melindungi bahasa-bahasa daerah yang ada, serta berkembang menjadi bahasa utama di forum-forum internasional. Untuk itu kebutuhan literasi TIK sangat diperlukan dalam mengembangkannya. Massive Open Online Courses atau disingkat MOOC merupakan salah satu moda teknologi yang dapat digunakan dan untuk memperkenalkan pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA).

Istilah MOOC ini pertama kali diperkenalkan oleh Stephen Downes dari Universitas Minitoba Canada pada tahun 2008 dengan mengembangkan kuliah tanpa SKS secara online kepada 27 mahasiswanya secara percuma dan kemudian berkembang menjadi 2.200 mahasiswa terdaftar. Stephen Downes mengklasifikasikan model perkuliahan ini sebagai connectivist atau disingkat cMOOC.

Berjalannya tahun banyak universitas di Amerika mulai memanfaatkan moda ini, seperti Stanford University (2011), The Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Harvard University (2012) yang mengembangkan model MOOC dalam bentuk moda pendaftaran dan pengajaran. Umumnya saat itu model yang digunakan masih berbasis video pembelajaran (video lectures) dan test yang menggunakan komputer (computer marked-test). Downes mengklasifikasikan model ini sebagai xMOOC. Pada tahun 2015, lebih dari 4.000 MOOCs berkembang, dan 1.000 diantaranya digunakan oleh institusi di negara-negara Eropa[1].

Pada tahun 2013, seorang penulis Thomas Friedman dalam surat kabar New York Times menyatakan, “….relatively little money, the U.S. could rent space in an Egyptian village, install two dozen computers and high-speed satelite internet access, hire a local teacher as a facilitator, and invite in any Egyptian who wanted to take online courses with the best professors in the world. …I can see a day soon where you’ll create your own college degree by taking the best online courses from the best professors from around the world. …paying only the nominal fee for the certificate of completion. It will change teaching, learning and the pathway to employment[2].” Dengan biaya yang sedikit, Amerika dapat menyewa sebuah tempat di sebuah desa di Mesir, melengkapinya dengan 12 komputer dan akses internet satelit kecepatan tinggi, kemudian menyewa seorang guru lokal sebagai fasilitator, dan mengajak beberapa orang saja yang tertarik kuliah online ini dibimbing oleh profesor terbaik di dunia.  Sekolah mandiri tercipta dengan membebani biaya untuk sertifikat. Sistem ini mengubah gaya belajar-mengajar, dan bahkan menciptakan sebuah pekerjaan baru.

 

Apa itu MOOC?

MOOC, Massive Open Online Courses atau  pembelajaran berbasis daring (dalam jaringan) terbuka dan bersifat masif. Sebuah moda pembelajaran yang didisain bagi pembelajar dalam skala luas. Kata Massive dalam konteks ini adalah ribuan atau ratusan ribu pembelajar dengan mendaftar dan mengikuti sebuah perkuliahan atau dapat dikatakan dalam skala tak terbatas. Makna Open adalah tidak adanya kriteria materi dan syarat seorang pembelajar kecuali kemampuannya untuk mengakses internet, terutama dalam menggunakan video straming. Namun untuk beberapa kasus pada perkuliahan seperti Coursera online (Stanford University), perkuliahan ini dikenai biaya untuk ujian kenaikan tingkat atau mendapatkan sertifikat dan mata kuliah tertentu yang berhak cipta. Bahan perkuliahan MOOC dapat berupaBahan perkuliahan MOOC dapat berupa lectures, readings, dan quizzes yang dipandu oleh mentor atau pengampu (instructors) dalam kelompok-kelompok kelas, grup-grup aktivitas, projek dan kuis. Saat ini, kursus atau pendidikan berbasis MOOC ditawarkan di Amerika. Lebih dari tujuh juta mahasiswa terdaftar dalam pembelajaran secara daring, termasuk program diploma reguler.

 

Fasilitas pada MOOC.

MOOC divariasikan menjadi model xMOOC dan cMOOC (connectivity-MOOC).  xMOOC didisain memiliki kelebihan kemampuan a.l. menyimpan materi digital sesuai kebutuhan, prosedur penilaian otomatis, dan melacak hasil kerja peserta, serta menganalisis data peserta. Berikut fitur-fitur yang umumnya terdapat di xMOOC: video lectures,computer-marked assignments, peer assessment, supporting materials, shared comment/discussion space, discussion moderation, badges or certificates, and learning analytics (video pembelajaran, tugas yang ditandai komputer, penilaian sejawat, bahan bacaan, komentar bersama/ ruang diskusi, moderasi diskusi, lencana atau sertifikat, belajar analisis. Model cMOOC ini diperkaya dengan network learning, dimana pembelajaran ini dikembangkan dengan connections and discussions antarpeserta dengan banyak media sosial seperti webcasts, blogs peserta, tweets, (membahas satu topik yang sama) melalui hashtags dan online discussion forums. Namun model ini biasanya tidak menuntut penilaian secara resmi, mentor/pengampu dapat berupa mentor undangan.  

Mengapa connectivity (c)MOOC?

Saat ini kita mengenal istilah Era millenium (2001-sekarang) dan generasinya disebut Gen-Z High-speed (1996-sekarang) atau Digital Natives yaitu generasi yang hadir dan mengenal teknologi berbasis internet sejak usia dini. Kondisi ini akan mempengaruhi proses belajar mereka, begitu pula guru harus mau beradaptasi dalam gaya dan strategi mengajar dan belajar. Sebelumnya kita mengenal perkembangan aliran belajar behaviorism (1920an), cognitivism (1950an), constructivism(1970an), maka sejalannya waktu berkembang dikenal istilah lain connectivism (2007). Istilah aliran connectivism hadir beberapa tahun ini khususnya pada masyarakat digital (digital society). Pemaknaan aliran belajar ini masih terus berkembang bahkan menjadi perdebatan ahli. Dalam aliran konektivisme ini mengkoneksikan secara kolektif seluruh sumber jaringan untuk menghasilkan sebuah bentuk baru dari pada pengetahuan. Siemens (2004)[1] menyatakan “knowledge is created beyond the level of individual human participants, and is constantly shifting and changing.” Pengetahuan diciptakan melampaui tingkat individual pesertanya dan pengetahuan akan terus berubah.

Downes (2007) secara jelas membedakan aliran connectivisme dengan aliran constructivism, “in connectivism, a phrase like “constructing meaning” make no sense. Connectivism form naturally, through a process of association, and are not ‘constructed’ through some sort of intentional action…Hence, in connectivism, there is no real concept of transferring knowledge, making knowledge, or building knowledge. Rather, the activities we undertake when we conduct practices in order to learn are more like growing or developing ourselves and our society in certain (connected) ways.” Dalam konektivisme, sebuah ungkapan seperti “membangun makna” menjadi tidak masuk akal. Konektivisme terbentuk secara alami melalui proses asosiasi, dan tidak “dibangun” melalui semacam tindakan yang disengaja. Oleh karena itu, dalam konektivisme, tidak ada konsep nyata untuk proses transfer pengetahuan, membuat pengetahuan atau membangun pengetahuan. Sebaliknya, kegiatan yang dilakukan saat ini adalah praktik agar bisa belajar lebih, seperti menumbuhkan atau mengembangkan diri dan masyarakat dengan cara tertentu (terhubung).

Downes (2014) mengidentifikasi empat prinsip desain cMOOC, yaitu autonomy of the learner, diversity, interactivity, and open-ness.  Peserta dapat memilih materi dan keterampilan (berupa besaran tema) yang ingin dipelajari, tidak mengikuti kurikulum resmi pada umumnya. Dengan perangkat cMOOC model ini, jangkauan jumlah peserta dan tingkat pengetahuan mereka dan materi yang bervariasi terpenuhi. Interaksi berupa co-operative learning antarpeserta yang pada akhirnya membentuk pengetahuan, sedangkan model xMOOC pengetahuan diberikan dengan cara lebih formal dari mentor yang merupakan seorang pakar kepada peserta.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemdikbud belum lama ini melaksanakan program diseminasi “Pemuktahiran Acuan Kemahiran Bahasa Indonesia”. Seminar yang berlangsung sehari (10/11) membahas empat (4) hal utama terkait perkembangan bahasa, a.l. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI), Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI). Sebuah laman digital pun telah dibuat untuk memfasilitasi, memperbaharui, mengembangkan, dan menguatkan, serta mengekspos keberadaan bahasa Indonesia agar lebih dikenal di negeri sendiri dan dunia internasional.

BIPA adalah salah satu program pembelajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing. Satu cara yang menjadikan Bahasa Indonesia second language (L2) dipelajari dan digunakan dalam forum-forum internasional. Kedutaan/kosulat Indonesia saat ini aktif mengirimkan secara berkala para pengajar BIPA (moda tatap muka) oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, ke negara-negara a.l. Mesir, Timor Leste, Thailand, Philipina, Eropa, dan lain-lain. Ini merupakan langkah yang tepat mengenalkan bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional. Saat ini perkembangan BIPA masih dalam taraf pembelajaran langsung di kelas, belum dilengkapi dengan bentuk daring (online).

Pada akhirnya sejalan dengan waktu, BIPA membutuhkan penguatan agar dapat eksis karena pengetahuan akan teknologi digital akan terus berkembang dan berubah. Moda Massive Open Online Courses atau MOOC dapat menjadi salah satu pilihan untuk program BIPA ini. Program yang dapat diterapkan pada kelas-kelas lanjutan bagi penutur asing yang ingin memperdalam bahasa Indonesia atau untuk kelas inisiasi bagi yang ingin mengenal bahasa Indonesia, begitu pula dengan pengembangan Uji Kompetensi Bahasa Indonesia (UKBI) yang berstandar internasional.

 Foot Note

[1] Mendukung Peningkatan Keterampilan Berpikir Kritis Melalui Pengajaran Bahasa

[1] Mengeksplorasi Rasa Percaya Diri dan Persepsi Literasi Pelatih Bahasa dengan Menggunakan Pendekatan Berbasis Nilai Dalam Mengajar dan Belajar secara Online

[1] Konferensi Internasional Bahasa Prancis ke-2

[1] Kecerdasan Linguistik dan Sastra di Era Teknologi dan Informasi

[1] Jejaring sosial dan isu-isu linguistik.

[1] Pusat pengembangan pendekatan dan media pembelajaran bahasa

[1] http://www.fondation-alliancefr.org/?p=27996

[1] website : pika.ugm.ac.id/id/newsletter-pika-edisi-november-2017/ – (http://wearesoctial.com)

[1] http://jateng.tribunnews.com/2017/08/02/data-terkini-jumlah-penduduk-indonesia-lebih-dari-262-juta-jiwa

[1] Bates, A.W. Tony. (2016) Teaching in a Digital Age, Guidelines for Designing Teaching and Learning.

[1] Bates, A.W. Tony. (2016) Teaching in a Digital Age, Guidelines for Designing Teaching and Learning

[1] Bates, A.W. Tony. (2016) Teaching in a Digital Age, Guidelines for Designing Teaching and Learning.


  • 0

KELAS KEMAHIRAN MENULIS DALAM DIKLAT PENINGKATAN SKOR TOEFL

Gunawan Widiyanto

Widyaiswara Bahasa Inggris

PPPPTK Bahasa

 

 

Kemahiran berbahasa asing merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh pelamar beasiswa, utamanya beasiswa luar negeri. Disadari, nama bahasa asing itu tidak jarang berkaitan rapat dengan negara yang hendak dituju oleh pelamar beasiswa. Sebagai misal, bagi yang hendak melanjutkan pendidikan lanjut ke Korea, pelamar dipersyaratkan mengikuti uji kemahiran berbahasa Korea dengan menempuh TOPIK (Test of Proficiency in Korean). Bagi yang hendak belajar ke Australia, uji kemahiran berbahasa Inggris IELTS adalah syarat yang diminta oleh pemberi beasiswa. Bagi warga negara asing yang hendak belajar di Indonesia pun, disyaratkan menempuh UKBI, uji kemahiran berbahasa Indonesia. Negara-negara yang bahasa resminya Arab tentu juga mensyaratkan TOAFL bagi calon penerima beasiswa. Demikian pula, bagi yang hendak belajar ke Eropa dan Amerika, mengikuti TOEFL dengan capaian skor tertentu menjadi kenyataan yang niscaya dan tidak terelakkan. Berbicara tentang TOEFL jelas akan menyinggung sentuh bidang kemahiran yang diujikan di dalamnya. Format bidang uji dalamnya misalnya, pada awalnya hanya mencakupi tiga kemahiran dan pengetahuan yang diujikan, yakni (1) pemahaman menyimak (listening comprehension), (2) struktur dan ungkapan tulis (structure and written expression), dan (3) pemahaman bacaan (reading comprehension).

Seiring dengan perkembangan teknologi dan kondisi kekinian, format TOEFL pun menyesuaikan. Penyesuaian itu merambah baik jenisnya maupun bidang yang diujikan. Jenisnya tidak hanya berformat manual berbasis kertas (paper-based) tetapi juga berbasis internet (internet-based). Bidang kemahiran yang diujikan pun mencakupi menulis (writing) juga. Berkenaan dengan kemahiran menulis, penulis pernah diberi amanat akademik untuk mengampu kelas menulis dalam diklat peningkatan skor TOEFL yang diselenggarakan atas kerja sama antara PPPPTK Bahasa dan Yayasan Insancita Bangsa. Peserta diklat itu adalah calon penerima beasiswa luar negeri. Hemat penulis sebagai pengampu kelas kemahiran menulis saat itu, ada tiga hal yang menjadi titik tekan dalam kelas pembelajaran kemahiran ini. Tigahal inilah yang hendak penulis kongsi (share) dengan pembaca melalui tulisan ini.

Pertama, tugas menulis sebagai pekerjaan utama dalam kelas menulis penulis bagi menjadi tiga jenis sesuai dengan tiga periodisasi waktu pembelajaran, yakni awal, tengah, dan akhir. Tugas menulis pertama pada awal kelas bertujuan menjajaki dan mengetahui kemampuan dasar menulis peserta. Tugas ini bersifat individual dengan topik yang sama untuk semua peserta. Jadi, topik diberikan oleh penulis (pengampu). Dalam proses penulisan ini, topik memang jelas sama bagi semua peserta, tetapi cara mengungkapkan gagasan dan menuangkannya dalam bentuk tulisan jelas berbeda karena setiap peserta pasti memiliki personalisasi pengalaman dan rencana menulis yang berbeda. Setelah direvisi olehpengampu, tugas itu dikembalikan kepada peserta untuk diperbaiki sesuai masukan dan umpan balik dari pengampu. Dari revisi itulah diskusi mengemuka hingga sampailah pada bahasan materi teoretis mengenai proses pertama penulisan, yakni prapenulisan (pre-writing). Pertanyaan utama yang dilontarkan pengampu kepada forum adalah hal-hal apa sajakah yang dilakukan peserta diklat sebelum mulai menulis.

Tugas menulis keduapada pertengahan kelas menulis bersifat kelompok yang beranggotakan dua hingga tiga peserta dan bertujuan agar anggota kelompok bisa saling bertukar pikiran untuk memperkaya gagasan yang akan dituangkan dalam tulisan. Bagaimanapun, dalam tubuh setiap tulisan diperlukan banyak gagasan pendukung, dan gagasan pendukung sangat potensial bisa diperoleh dari hasil diskusi untuk saling memberi masukan dalam bentuk kelompok. Dalam penulisan tugas kelompok ini, peserta diberi dua opsi berkenaan dengan topik yang akan diusung. Opsi pertama adalah bahwa peserta bisa memilah, memilih, dan mengambil topik dari buku TOEFL. Opsi kedua adalah bahwa peserta diberi keleluasaan dan kebebasan untuk mencari dan menentukan topik sendiri di luar buku TOEFL, kendati tetap disarankan agar peserta mengambil topik tulisan dari buku TOEFL. Sebagaimana tugas menulis pertama, setelah dikoreksi; hasil revisi menulis dikembalikan kepada kelompok untuk diperbaiki berdasarkan masukan dan saran pengampu. Setelah itu, dibentangkan paparan teoretis mengenai proses kedua dalam penulisan, yakni hal-hal yang perlu dilakukan tatkala menulis (while-writing).

Sebelum memasuki tahap menulis ketiga atau terakhir, peserta diajak berdiskusi tentang proses ketiga penulisan, yakni pascapenulisan (post-writing) dengan pertanyaan utama adalah langkah apa saja yang perlu diayunkanusai menulis. Tugas menulis ketiga menjelang akhir kelas menulis kembali berformat individual. Idealnya, hasil karya penulisan akan optimal manakala tema tulisan bertali-temali dengan wilayah yang diminati, ditekuni, dan dikecimpungi oleh si penulis. Untuk mencapai atau minimal mendekati hal yang ideal itu, topik tulisan diserahkan sepenuhnya kepada para peserta diklat, yang datang dari berbagai disiplin ilmu. Tentunya, hasil karya penulisan peserta diharapkan bisa memperlihatkan kerangka berpikir yang sistematis dan pola penulisanyang tertata apik (well formed), yakni (a) pengantar atau pendahuluan, yang berisi satu atau beberapa paragraf pendahuluan (introductory paragraphs), (b) tubuh atau isi, yang mengandung beberapa paragraf pendukung (supporting paragraphs), dan (c) penutup atau simpulan, yang berisi paragraf penutup atau penyimpul (concluding paragraph).

Kedua, skema penilaian terhadap hasil kerja tulis (written work) berbasis pada lima butir penilaian dengan alokasi persentil (percentile allotment) seratus. Kelima butir penilian itu adalah (1) konten dan pengelolaan topik dengan alokasi 30 persen, (2) penataan gagasan yang mencakupi pengembangan alinea, kejelasan, kohesi, dan koherensi dengan jatah 25 persen, (3) tata bahasa yang meliputi kala, kesesuaian, struktur, dan tata urutan kata dengan alokasi 25 persen, (4) pemakaian kosakata dengan alokasi 10 persen, dan (5) pungtuasi atau ejaan dengan alokasi 10 persen.

Ketiga, secara umum, kemahiran menulis sepatutnya menjadi kemahiran paling sulit untuk diajarkan di antara keempat kemahiran berbahasa karena kemahiran ini secara karakteristik tidak hanya menghasilkan rekaman nyata atau bukti fisik (tangible records) yang menghendaki adanya perbaikan hasil kerja tulis secara berulang dan tak terbilang; tetapi juga mengandung keakuratan teknis dan kefasihan artistik. Pengalaman penulis setakat ini, kemahiran menulis juga menjadi sebuah kegiatan yang mengambil banyak masa (time consuming) untuk diajarkan. Betapa tidak, kelas kemahiran menulis dengan 20 peserta yang masing-masing menghasilkan karya akademik tiga hingga empat halaman bisa bermakna kerja tiada akhir dalam pembetulan, pemberian maklum balas (feedback), dan konsultasi individual. Di luar sesi kelas pembelajaran pun, penulis menyediakan diri dan membuka konsultasi bagi peserta selama proses menulis dari memilih topik hingga menyelesaikan (memoles) hasil kerja peserta.

Yang tidak kalah penting dan bahkan yang terutama, jika penulis boleh memberikan sumbang saran kepada pembaca; seorang pengampu kelas menulis seyogianya memiliki contoh tulisan hasil karya sendiri. Dengan demikian, ia tidak hanya berkecimpung dalam wilayah teoretis semata dengan hanya mengajar menulis. Idealisasinya memang, pengampu kelas kemahiran menulis minimal sudah menghasilkan (beberapa atau banyak) karya tulis, bahkan apabila perlu sudah terlatih menulis, sesederhana apapun hasil tulisan itu. Bagaimanapun, kemahiran menulis tidak sebatas memerlukan skema konseptual dan kerangka kerja teoretis tentang tata cara menulis belaka. Penerapan teori itu ke dalam praktik menulis secara nyata hingga berwujud hasil kerja tulis sebagai bukti fisik jauh lebih penting. Dan, menulis adalah persoalan keberlatihan secara berterusan hingga seseorang menjadi terlatih. [ ]


  • 0

Gelar Akademis: Sebuah Renungan

Agus Purnomo

Staf PPPPTK Bahasa

 

 

Presentasi yang sedang berlangsung di sebuah ruang kelas tiba-tiba terhenti ketika seorang pembicara senior yang baru tiba di kelas dan diam-diam memerhatikan dari barisan belakang hingga ke depan kelas. Ia mengambil pelantang dan hendak memberikan komentar. Saat itu suasana kelas sedikit bising, dan dua orang panitia kelas yang sedang sibuk memverikasi berkas dua orang peserta di sudut depan kelas tidak menyadari kehadiran sang pembicara yang memulai komentarnya. Merasa suaranya tidak diindahkan, pada kali kedua ia langsung menghampiri, menarik, dan meremas kertas yang dipegang salah satu panitia, seraya mengeluarkan kata-kata peringatan dengan suara yang keras dan membentak. “Belum diam juga! Kalau ada orang yang berbicara di depan, Anda harus mendengarkan!”

Wajahnya yang gelap semakin memerah oleh amarah. Seluruh kelas langsung senyap dan atmosfer ketegangan dapat terasakan di sana. Sang pembicara pun melanjutkan dengan memperingatkan peserta bahwa tidak boleh ada komputer jinjing yang masih terbuka ketika ia berbicara, atau ia akan membuangnya. Insiden itu berlangsung selama dua hingga tiga menit, lalu ia melanjutkan komentarnya tentang presentasi peserta sebelumnya seperti tak pernah terjadi apa-apa. Business as usual. Mungkin hal itu insiden yang biasa saja, kalau saja sang pembicara bukanlah seorang profesor senior ternama, yang setelah menginterupsi kelas tanpa permisi, menyerang panitia secara verbal, dan merampas berkas, dengan entengnya memberikan wejangan tentang etika di kelas tersebut. Ia juga memberikan contoh tentang bagaimana seorang guru melanggar etika ketika guru tersebut menyatakan bahwa program pelatihan yang saat itu diikuti oleh guru tersebut hanyalah membuang-buang waktu dan anggaran. Ironis sekali. Namun, bukan masalah etika yang hendak dibahas dalam tulisan ini melainkan sebuah upaya refleksi diri: seberapa jauhkah gelar akademis yang dimiliki seseorang memengaruhi tindak tanduk dan tingkah laku orang tersebut secara sadar atau tidak?

Gelar Akademis
Gelar akademis adalah gelar yang diberikan kepada lulusan pendidikan akademis bidang studi tertentu dari suatu perguruan tinggi. Gelar untuk orang yang telah lulus sarjana bermacam-macam, yakni S.T, S.Si., S.Ked., S.E., S.Sos. Gelar untuk orang yang telah menempuh S2 adalah M.T., M.Sc., M.Si., MBA., M.Ag., dan lain-lain. Untuk orang yang telah menempuh program pendidikan S3, gelarnya adalah Dr. atau Ph.D. Walaupun profesor bukanlah gelar akademis (melainkan jabatan akademis), jabatan ‘profesor’ seolah menjadi puncak pencapaian akademis yang bisa dicapai seseorang, sehingga ia akan menambah nilai prestise bagi siapapun yang menyandangnya. Pertanyaannya adalah apakah kita ‘membawa’ gelar-gelar tersebut ke dalam ranah kehidupan kita di luar lingkungan akademis? Bilamana esok hari kita resmi menyandang gelar master, apakah kita akan mengubah cara berkomunikasi kita dengan orang lain sesuai dengan gelar tersebut? Apakah kita akan memandang secara ‘berbeda’ orang-orang dengan gelar akademis di bawah kita hanya dalam waktu satu hari karena kemarin kita masih sarjana S1 dan esok hari kita bergelar master? Apakah cara berjalan kita akan berubah pula, menjadi lebih gagah? Seberapa besarkah ego kita akan dimanjakan oleh gelar sarjana, master, doktor atau jabatan profesor? Lulus SMA saja membawa kegembiraan dan kebanggaan yang begitu meluap-luap bagi kebanyakan siswa SMA. Lalu bagaimana dengan kelulusan pada tingkat sarjana, magister, doktoral, ‘profesor’?

Bilamana kita berada dalam suatu forum kajian akademis, akankah kita dapat berargumentasi secara rasional dan sanggup mengakui bila opini atau argumen kita salah, dan bukannya terus membabi buta mempertahankan reasoning kita yang telah terbukti tidak tepat? Just for the sake of our ‘academic-degree’ ego? Tentu saja berbangga diri pada taraf tertentu atas pencapaian akademis kita adalah wajar dan manusiawi. Tidak semua orang bisa menyandang gelar-gelar akademis tersebut.
Akan tetapi, ketika rasa berbangga diri akan gelar akademik tersebut sebegitu besarnya sehingga dapat mengubah kepribadian dan tingkah laku seseorang secara negatif, hal inilah yang patut kita hindari dan waspadai. Setelah kita menyadari  potensi sisi gelap (the dark side) gelar akademis, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kita tetap menjadi ‘manusia utuh’ tanpa tercemari oleh ego gelar akademis yang eksesif itu? Jawabannya adalah tetap “eling” (sadar diri).

Dalam setiap situasi kita harus secara sadar mengevaluasi diri apakah hal-hal yang sedang kita lakukan dan katakan sesuai dengan nilai-nilai dan integritas diri sendiri atau sudah terpengaruhi oleh ego. Ini bukanlah hal yang mudah tentunya karena pikiran kita harus benar-benar jujur kepada diri sendiri, sementara ego pribadi yang seyogianya harus kita hancurkan akan terus menghalang-halangi upaya ini.
Meskipun demikian, perlu diingat practice makes perfect. Kembali kepada ilustrasi di awal tulisan ini. Secara jujur, bisakah kita bertindak lebih sopan dan beretika jika kita adalah pembicara tersebut, merasa begitu marah karena kurang diindahkan di sebuah kelas yang bising?  [ ]