Category Archives: Artikel Pendidikan

  • 0

Profil UNBK Dan Keterkaitannya dalam Pembelajaran Aktif : Model Pembelajaran Kontekstual (Bagian 2)

Elvi Saidi
Widyaiswara LPMP Gorontalo

Profil Unbk

Ujian nasional sebgaimana tercantum dalam Prosedur Operasional Penyelenggaraan ujian nasional 2017/2018 adalah kegiatan pengukuran dan penilaian pencapaian standar kompetensi lulusan SMP/MTs …yang secara nasional meliputi mata pelajaran tertentu. Ujian nasional sebagai kegiatan mengukur dan menilai pencapaian SKL di atur dalam Permendikbud no 23 tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan adalah kriteria mengenai lingkup, tujuan, manfaat, prinsip, mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik yang digunakan sebagai dasar dalam penilaian hasil belajar peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Ujian nasional sebgaimana tercantum dalam Prosedur Operasional Penyelenggaraan ujian nasional 2017/2018 adalah kegiatan pengukuran dan penilaian pencapaian standar kompetensi lulusan SMP/MTs …yang secara nasional meliputi mata pelajaran tertentu. Ujian nasional sebagai kegiatan mengukur dan menilai pencapaian SKL di atur dalam Permendikbud no 23 tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan adalah kriteria mengenai lingkup, tujuan, manfaat, prinsip, mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik yang digunakan sebagai dasar dalam penilaian hasil belajar peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Ujian nasional adalah puncak ujian yang diikuti oleh siswa, setelah mengalami proses pembelajaran dan penilaian melalui ulangan dan ujian tingkat sekolah. Ulangan merupakan proses yang dilakukan oleh setiap guru mata pelajaran untuk mengukur pencapaian Kompetensi Peserta Didik/siswa secara berkelanjutan dalam proses Pembelajaran untuk memantau kemajuan dan perbaikan hasil belajar Peserta Didik/siswa. Sementara ujian sekolah/madrasah adalah kegiatan yang dilakukan oleh sekolah untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai pengakuan prestasi belajar dan/atau penyelesaian dari suatu satuan pendidikan (Permendikbud no 23 thn 2016).

Unbk diakronimkan dari Ujian nasional berbasis komputer. Unbk menurut panduan 2017 adalah tes berbasis komputer yang penyajian dan pemilihan soalnya dilakukan secara terkomputerisasi sehingga setiap peserta tes mendapatkan paket soal yang berbeda-beda. Unbk merupakan pengembangan dari ujian menggunakan Paper Based Test (PBT) menjadi Computer Based Test (CBT) https://www.utopicomputers.com.Unbk. Ini salah satu fungsi Komputer sebagai penghela pengetahuan. Secara teknis penyiaapannya, sekolah harus menjadi fasilitor dalam menyiapkan perangkatnya mulai dari penyiapan kelistrikan, komputer, dan jaringan internetnya. Karena berbeda dengan ujian Paper Based Test (PBT) sehingga sekolah pun harus memfasilitasikan terhadap calon peserta ujian dengan latihan atau simulasi penggunaan perangkatnya.

Ujian ini telah diterapkan pada peserta ujian setelah menyelesaikan 3 tahun di SMP dan SMA-K. Khusus jenjang SMP mata pelajaran yang diujikan dalam Unbk adalah Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris. Tentunya materi yang diujikan berdasarkan pengalaman belajar siswa selama duduk dibangku sekolah (BSNP 2017).

Adapun alasan penyelenggaraan Unbk adalah salah satu alternatif mengatasi kelemahan ujian nasional berbasis kertas (PBT), yakni: bentuk soal yang digunakan sulit untuk dibuat bervariasi, tampilan soal terbatas, hanya dua dimensi, diperlukan banyak kertas dan biaya penggandaan yang mahal, pengamanan kerahasiaan soal relatif sulit dan memerlukan biaya yang cukup besar dan pengolahan hasil memerlukan waktu yang lama (Puspendik, 2015:5). Atas alasan ini maka fungsi Ujian Nasional akan berfungsi sebagai pengukur dan penilaian SKL dalam hal ini pada Kompetensi Pengetahuan yang bebas dari ketidakjujuran atau kecurangan, selain itu suasana ujian tidak akan berubah menjadi suasana diskusi soal atau tanya jawab dikarenakan paket soal yang dikerjakan berbeda oleh peserta yang berdekatan, dengan waktu yang sangat ketat.

Profil Unbk setiap mata pelajaran yang terdiri atas lingkup materi ajar yang telah dibelajarkan disesuaikan dengan jenjang kelas. Materi Unbk diambil dari keseluruhan Kompetensi Dasar yang telah menjadi pngalaman pembelajaran siswa. Dapat dipastikan bahwa setiap KD akan terwakili dalam lingkup materi pembelajaran sekaligus menjadi materi penilaian dalam wujud materi soal.

Sebelum penyusunan soal maka sangat diperlukan adalah penyusunan kisi-kisi soal Unbk. BSNP menyiapkan Kisi-kisi dengan format dua dimensi, yakni Pertama, dimensi Pengetahuan berupa lingkup materi, materi dari kelas VII hingga kelas IX dan Kedua, dimensi Proses berpikir yang terdiri atas tiga level, yakni, pertama, level berpikir Low order thinking skill (Lots), kedua, level berpikir Middle order thinking skill dan ketiga, level berpikir Penalaran atau berpikir tngkat tinggi atau High order thinking skill (hots) (Bsnp,2017: 22).

Selanjut kisi-kisi disusun sedemikian rupa sehingga dimensi pengetahuan yang terdiri atas materi dari lingkup materi tertentu akan mewakili pada tiga level. Misalnya Lingkup materi A terdiri atas materi A1, A2 dan A3 yang diajarkan berturut-turut di kelas VII,VIII dan IX , untuk Materi A1 dapat saja direncanakan menjadi 3 nomor soal, dan ketiga nomor soal tersebut disebar dalam dimensi Proses berpikir pada level Lots, Mots dan Hots masing-masing satu nomor soal. Demikian untuk lingkup materi B, C dst. Hingga keseluruhan soal menjadi sejumlah 50 Nomor soal sebagaimana dalam standar prosedur operasional UN oleh BSNP 2017. Dari total soal biasanya ditentukan Prosentase Level Lots, Mots dan Hots, misalnya total soal 50 nomor soal, 12,5 % Lots, 75 % Mots dan 12,5 % Hots. Porsentase ini dapat saja berubah dari tahun ketahun. Dan oleh karena soal Unbk terdiri atas soal Pilihan ganda dan Soal Uraian, sudah ditentukan pula jumlah soal pilihan ganda dan jumlah soal uraian. Biasnya soal uraian dari total soal menyiapkan 5 nomor soal uraian.

Ketiga level berpikir yakni Lots, Mots, dan Hots sebagaimana di atas didasarkan pada taksonomi Bloom refisi oleh Anderson,L,W dan Krathwohl D,R,2001 sebagai rujukan Kurikulum 2013. Taksonomi Bloom-Anderson 2001 memiliki dua dimensi, yakni, dimensi proses kognisi yang disusun dari berpikir level Lots yakni, mengingat (C1), memahami (C2), berpikir level Mots, yakni, memhami (C2) dan menerapakan (C3) dan berpikir tingkat tinggi atau Penalaran atau Hots. dan dimensi pengetahuan (knowledge) disusun dari jenis pengetahuan fakta, konsep, prosedur dan metakognitif. Baik dimensi proses kognisi dan dimensi knowledge dalam Kurikulum 2013 yang terdapat dalam kalimat pernyataan Kompetensi Inti pengetahuan. Pernyataan kompetensi Inti tersebut sebagaimana berikut, “Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata”, Pernyataan Kompetensi Inti pengetahuan mengandung kata ‘memahami’ merupakan dimensi Proses berpikir pada tataran C2 dan faktual, konseptual, prosedural dan metakognisi merupakan dimensi pengetahuan.

Pernyataan Kompetesni Inti di atas diturunkan menjadi Pernyataan Kompetensi Dasar, yang seharusnya juga mengambil kata yang sama yakni ‘memahami’ yang sudah mewarnai materi ajar, kata ini adalah level Cognition 2 (C2) dari dimensi proses berpikir atau dimensi Process Cognition. Level ‘Memahami’ (C2), yakni, kemampuan untuk menangkap atau membangun makna dari materi fakta, konsep, prosedur. Pada tingkat kemampuan ini siswa dituntut untuk memahami yang berarti mengetahui sesuatu hal dan dapat melihatnya dari beberapa segi. Termasuk kemampuan untuk mengubah bentuk menjadi bentuk yang lain, misalnya dari bentuk verbal menjadi bentuk rumus, dapat menerangkan, menyimpulkan dan memperluas makna.

Memahami atau Pemahaman masih merupakan kata yang belum dapat diukur. Untuk mengukur berpikir ‘memahami’ dapat menggunakan tabel taksonomi Pengetahuan oleh Bloom-Anderson untuk menemukan Kata kerja Operasional atau kata yang sering digunakan untuk Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) sehingga KKO atau IPK untuk materi ajar tertentu akan dapat diukur dalam bentuk soal atau tes. Misalnya menggunakan kata yang dapat diukur yakni, mencontohkan, mengklasifikasi, menyimpulkan, membandingkan, dan menjelaskan, dll.

Sebagaimana dalam pedoman kurikulum 2013 bahwa, Kompetensi dasar tidak membatasi proses berpikir siswa, sekalipun Kompetensi dasarnya mengandung proses berpikir ‘memahami’ bukan berarti kompetensi berpikir hanya sampai pada ‘memahami’ saja akan tetapi sampai dengan ‘mencipta (C6) pada pengetahuan fakta, konsep, prosedur dan bahkan metakognisi. Oleh karena itu kisi-kisi Unbk atau soal Unbk tidak saja disiapkan sekedar sampai pada level ‘memahami’ yang masih berkategori Lots. Akan tetapi hingga pada level Mots, Hots.

Dalam menggunakan taksonomi Bloom-Anderson 2001, sangat penting untuk penyusunan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) pada KD atau materi ajar tertentu sangat pentingnya taksonomi tersebut karena menjadi cikal bakal Indikator soal pada Kisi-Kisi ulangan ditingkat kelas, ujian sekolah bahkan kisi-kisi untuk ujian nasional. Setiap proses berpikir yang disebut dengan, mengingat (C1), Memahami (C3), menerapkan (C3), menganalisis (C4), mengevaluasi (C5) dan mencipta (C6) adalah masih merupakan kata kerja abstrak yang belum dapat diukur. Untuk menyusun IPK sebagai cikal bakal indikator soal pada kisi-kisi harus menggunakan kata kerja operasional (KKO).

Penyusunan IPK mengacu pada prinsip pembelajaran dari konkrit ke abstrak. Sebagaimana di atas sekalipun KD dinyatakan dengan ‘memahami (C2) tetap saja untuk penyusunan IPK harus secara runut tersusun dari ‘mengenal (C1), ke C2, C3, hingga ke C6, tentu masing-masing menggunakan kata kerja operasionalnya untuk menyusun IPK (perhatikan tabel taksonomi Bloom-abnderson 2001)

Sebagai Konsekwensi dari IPK yang tersusun itu harus melahirkan soal mulai dari level Lots, Mots Hingga Hots untuk penilaian. Tentunya penyusunan soal tersebut oleh guru harus melalui RPP yang sudah mencantumkan IPK, selanjutnya menyusun kisi-kisi yang mencantumkan Indikator soal, dimana Indikator soal dibangun dari IPK. Selanjutnya berdasarkan kisi-kisi soal disusunlah naskah soal.

Untuk lebih jelasnya level Lots, Mots Hingga Hots yang dikembangkan berdasarkan taksonomi Kognisi Bloom-Anderson sebagai gambaran dapat mencermati Kisi-Kisi soal Unbk Bahasa Indonesia SD tahun 2017/2018.

Tabel Kisi-Kisi Unbk Bahasa Indonesia SD tahun 2017/2018

Sumber: Kemdikbud Direktorat Pembinaan SD

Berdasarkan tabel di atas memberikan inspirasi bagi guru untuk mengembangkan soal yang dibutuhkan sebagai penilaian guru dan penilaian Sekolah atas prestasi siswa dan sekaligus sebagai latihan persiapan siswa menghadapi Unbk yang bentuk soalnya yang sulit diprediksi (gerak brown) yang berada pada keluasan range proses kognisi dari C1 hingga C6. Dan yang pasti soal yang akan dihadapi akan menjadi sulit karena membutuhkan penalaran atau berpikir tingkat tinggi siswa jika mengabaikan latihan secara intensif.

Hal yang tidak dapat dihindari guru adalah mengembangkan soal Hots atau soal penalaran. Soal Hots memiliki karakter sebagai soal yang bersifat kontekstual yang dapat menggunakan penalaran siswa semasa pembelajaran, bersifat unfamiliar artinya soal Hots tidak pernah dicobakan pada siswa akan tetapi baru dijumpai pada saat Unbk belangsung. Selain itu soal Hots merupakan soal dengan kategori level C4, C5, dan C6 dalam dua atau lebih konsep atau prosedur untuk menyelesaikannya.

Untuk mengatasi Unbk yang bersifat luas dan kontekstual hingga dirasakan sulit maka sekolah harus melatihnya dengan soal yang kontekstual pula. Mengatasinya Unbk yang kontekstual tersebut melalui strategi penyusunan Kisi-Kisi soal dan Instrumen soal untuk persiapan ujian akhir semester di tingkat sekolah. Strategi penyusunan kisi-kisi dan instrumen soal itu dengan cara, keduanya disusun oleh dua guru yang berbeda dengan syarat kedua guru tersebut berlatar mata pelajaran yang sama. Misalnya guru pertama menyusun kisi-kisi dan guru lainnya menggunakan kisi-kisi yang dibuat oleh orang pertama sebagai dasar menyusun soal. Berdasarkan pengalaman selama ini penyusunan kisi-kisi soal dan Instrumen soal mata pelajaran tertentu menjadi beban tugas seorang guru mata pelajaran tersebut.

Penyusunan Kisi-Kisi soal dan Instrumen soal ujian semester dengan Strategi di atas dimungkinkan untuk dilaksanakan oleh sekolah mengingat Ujian akhir semester atau akhir tahun adalah tanggung jawab dan kewenangan sekolah dalam mengevaluasi kinerja guru dan ketercapaian kompetensi siswa (Permendikbud no 23 tahun 2016).

Penyusunan dengan strategi ini dapat secara tidak langsung mengawasi proses pembelajaran yang terhindar dari pengabaian materi tertentu untuk dibelajarkan dalam satu-satuan semester. Artinya baik guru dan siswa selalu mewaspadai soal yang diibaratkan seperti ‘gerak brown’. Selain itu, motivasi guru dan siswa akan terjaga menyelesaikan materi pelajaran sesuai target silabus. Sebaliknya bila sekolah tetap menerapkan strategi penyusunan baik Kisi-kisi soal dan instrumen soal dilakukan oleh hanya satu orang guru sesuai mata pelajaran yang diampunya. Cara yang seperti ini biasanya terjadi banyak kejanggalan.

Kejanggalan itu misalnya, jika orang yang sama yang bertugas menyusun pekerjaan yang berbeda tersebut, yang terjadi adalah guru menyusun soal sesuai materi yang dibelajarkan dan menghindari untuk mata pelajaran yang tidak dibelajarkan. Kejanggalan lain, guru dapat saja menyusun soal terlebih dahulu baru kemudian kisi-kisi soal, hal ini melanggar prosedur. Kejanggalan berikutnya adalah soal bisa jadi yang paling sering dilatihkan pada siswa dan tidak memperhatikan soal penalaran atau Hots. Bahkan soal menjadi mudah karena bisa jadi sudah dibocorkan.

Selain strategi di atas sekolah harus memfasilitasi pelatihan tingkat sekolah bagi guru menyusun kisi-kisi soal dan instrumen soal mengacu pada contoh Kisi-kisi dan instrumen soal nasional. Berdasarkan pengalaman pengamatan terhadap guru menyusun naskah soal, kebanyakan dari mereka mengambil atau mengadopsi soal dari buku atau dokumen Ujian nasional, artinya guru kurang terampil dengan sepenuhnya mampu menyusun soal sendiri yang bebas plagiarisme.


  • 0

Profil UNBK Dan Keterkaitannya dalam Pembelajaran Aktif : Model Pembelajaran Kontekstual (Bagian 1)

Elvi Saidi
Widyaiswara LPMP Gorontalo

ABSTRAK

Unbk selama ini menjadi mimpi buruk baik bagi guru maupun siswa. Alasannya pembelajaranlah yang menjadi penyebabnya. Pembelajaran masih seperti yang dulu-dulu saja sekalipun genderang kurikulum 2013 sudah dibunyikan menandai standar proses dan standar penilaian sudah dimulai mengikuti kebutuhan abad 21.

Pembelajaran yang diterapkan belum membuat gairah semangat belajar siswa untuk mencapai hasil penilaian dengan standar tinggi. Dengan menggali makna yang terkandung pada Unbk termasuk kesulitan yang dihadapai siswa yang dapat dipastikan hasilnya tidak maksimal. Untuk itu perlu menggali pula pembelajaran aktif yang mungkin bisa ditawarkan sebagai solusi untuk mengganti dan mengehentikan praktik pembelajaran yang kurang bermutu. Pembelajaran yang bermutu yang dimaksud adalah praktik pembelajaran yang memperhatikan intake siswa yang sangat variatif untuk mendudukkan kompetensi dasar yang harus dikuasai melalui proses berpikir terhadap pengetahuan fakta, konsep, prosedur bahkan metakognisi yang juga sebagai materi uji pada Unbk. Sebagai fokus masalah artikel non penelitian ini, yakni, apakah terdapat hubungan Profil Unbk Dengan Pembelajaran aktif: Model Pembelajaran Kontekstual ? Untuk menjawab masalah tersebut digunakan metode literasi pustaka yang dikonsultasikan dengan pengalaman melaksanakan supervisi implementasi kurikulum 2013, pengalaman melatih penyusunan kisi-kisi dan soal berstandar nasional . Hasil yang diperoleh sebagai kesimpulan kajian, yakni, 1) Unbk mengandung soal-soal yang unfamiliar baik bagi guru dan siswa sebagai peserta Unbk, 2) Model Pembelajaran Kontekstual merupakan salah satu Pembelajaran aktif, 3) Terdapat kesesuaian hubungan antara 7 indikator profil Unbk dengan 7 strategi model pembelajaran kontekstual dan 7 Prinsip model pembelajaran kontekstual, 4) Tujuh Strategi model pembelajaran kontekstual dan Tujuh Prinsip model pembelajaran kontekstual dapat menjangkau pencapaian kompetensi siswa pada Unbk.

PENDAHULUAN

Mengintip kelas-kelas yang sedang dalam proses pembelajaran, masih terlihat fenomena kelas ketika gurunya sedang memberikan materi ajar melalui metode ceramah yang dengan semangatnya berusaha menarik perhatian siswa. Saat ceramah guru berlangsung sebagian siswa mengikuti pembelajaran itu dengan lesu di kursi sambil merebahkan kepalanya, ada juga sebagian siswanya yang hanya memandang keluar jendela, sementara yang lain mengobrol lewat sms, dan sedikit diantara mereka yang tampak sungguh-sungguh memperhatikan gurunya. Fenomena pembelajaran seperti ini masih banyak terlihat di sekolah, Guru hanya mengajarkan dengan megutamakan mereka yang aktif saja tertarik dan menerima pembelajaran yang diberikan. Proses Pembelajaran seperti ini seharusnya sudah ditinggalkan dan menyesuaikan dengan Kurikulum 2013.

Sebagaimana tujuan kurikum 2013, ada tiga hal yang harus dicapai siswa dalam pembelajaran, yakni, Karakter, Kompetensi, dan Literasi. Karakter diperlukan siswa karena menghadapi lingkungan yang terus berubah. Komptensi, diperlukan siswa untuk mampu mengatasi masalah yang kompleks. Dan literasi diperlukan untuk memiliki keterampilan untuk kegiatan sehari-hari.

Siswa yang diharapkan berkarakter dengan indikatornya adalah, iman & taqwa, Cinta tanah air, Rasa ingin tahu, gigih kemampuan beradaptasi, memilki jiwa kepemimpinan, dan kesadaran budaya. Kompetensi dengan Indikator adalah, mampu ber pikir kritis, memecahkan masalah, kreatif, kolaboratif dan komunikatif. Sementara berdaya literasi yang indikatornya adalah baca tulis,literasi sains, literasi Informasi dan teknologi, literasi keuangan, literasi budaya dan kewarganegaraan . Atas semua itu harus terintegrasi dalam proses pembelajaran dan penilaian dari setiap mata pelajaran (Kurikulum 2013). Jika Fenomena pembelajaran diawal uraian dihubungkan dengan capaian yang diharapkan oleh Kurikulum 2013, maka sudah jelas tidak dapat, menjangkaunya.

Dalam panduan implementasi Kurikulum 2013, dijelaskan, Pembelajaran dan Penilaian dapat diibaratkan dengan dua sisi mata uang, yang keduanya penting dan tidak boleh saling lepas. Pembelajaran perlu direncanakan dengan menggunakan Pendekatan pembelajaran menurut standar proses yang mengutamakan siswa adalah pusat pembelajaran, dimana siswa diharuskan mengunakan teori saintifik, yang dikenal dengan 5m, yakni, mengamati, mempertanyakan, mengumpulkan informasi, menalar dan mengkomunikasikan. Sementara guru dalam layanannya menggunakan Kompetensi Pedagogik dan Profesionalnya dalam bentuk pendekatan–pendekatan antara lain membangun konteks, menelaah model pembelajaran yang sesuai, mengonstruksi penguasaan pengetahuan secara terbimbing dan mengonstruksi pengetahuan secara mandiri terhadap siswa. Dengan demikian siswa dapat mengembangkan proses berpikirnya dalam dimensi pengetahuan (Bloom_Anderson, 2001).

Standar proses pembelajaran di tingkat kelas akan dilakukan penilaian berdasarkan Standar Penilaian. Penilaian ini dilakukan oleh internal sekolah yakni oleh guru, dan tingkat sekolah sebagai ujian akhir semester atau ujian akhir tahun. Sementara penilaian ekternal yang diselenggarakan oleh pemerintah melalui Unbk untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika untuk SMP.

Sepanjang pengalaman mengamati tentang ujian, instrumen selalu saja sulit oleh siswa bahkan tidak sedikit gurupun mengeluhkannya. Memang berbeda tingkat kesulitan soal di tingkat kelas atau guru dikarenakan peniliannya masih otentik oleh guru sendiri yang menyusun soal. Sementara Unbk dirasakan lebih dikarenakan sudah merupakan penilaian dimana penyusun naskahnya adalah eksternal dan pasti non otentik.

Unbk yang yang materinya berdasarkan pengalaman belajar dari kelas tujuh hingga kelas sembilan selalu akan memberi kesan begitu luas dan dalam. Kesan luas dan dalam materinya memberi kesan berikutnya sulit memprediksi pada titik-titik mana dalam satu konsep materi terdapat masalah yang diangkat sebagai kisi-kisi dan instrumen soal. Sekalipun kisi-kisi selalu diterbitkan oleh Pemerintah untuk dapat membantu guru maupun siswa untuk lebih fokus dan berkonsentrasi, namun kisi-kisi tersebut datangnya pada saat sudah mendekati Unbk. Seolah kisi-kisi untuk mata pelajaran saja, misalnya Kisi-Kisi mata pelajaran Bahasa Indonesia yang diterbitkan itu sudah sulit untuk menyiapkan siswa untuk fokus dan berkonsentrasi dikarenakan waktu belajarnya hampir habis, bagaimana dengan mata pelajaran lainnya. Hal ini akan berakibat pada kepastian siswa merasakan akan kesulitan soal Unbk tersebut. Akan berbeda tentunya jika Kisi-Kisi diterbitkan lebih awal pada saat pembelajaran masih panjang waktunya.

Jika kisi-kisi datang lebih awal selain ada kelebihan sebagaimana diuraikan di atas juga mengandung kelemahan, kelemahannya boleh jadi guru hanya membelajarkan pada titik masalah yang dikisi-kisikan itu, hal ini tentu memberi dampak pada sempitnya penguasaan siswa akan pengetahuan, selain itu tujuan pembelajaran akan bergeser pada Kompetensi menyelesaikan soal Unbk saja, tidak pada tercapainya standar komptensi yang lebih luas dan holistik yakni, Karakteri, Kompetensi dan Literasi.

Kondisi sulitnya soal Unbk tidak semata-mata karena cepat atau lambatnya kisi-kisi Unbk diterbitkan oleh pemerintah akan tetapi lebih pada Proses Pembelajaran sebagai bentuk penyiapan siswa untuk menghadapi Unbk belum sesuai. Unbk itu sulit bagi peserta ujian, memang ya. yang namanya ujian pasti selalu sulit. Hanya saja bagaimanaa untuk menurunkan derajat panas akibat kesulitan Unbk maka harus menggunakan pendekatan pembelajaran yang dapat menangkap makna Unbk yang dirasakan sulit itu dan memberikan suport pada siswa untuk lebih fokus dan konsen melalui pembelajaran yang aktif.

Untuk itu penulis melakukan telaah lebih jauh akan makna Unbk dan berusaha menganalisisnya untuk dapat menawarkan salah satu model pembelajaran yang dapat dikategorikan sebagai pembelajaran aktif. Salah satu model pembelajaran itu adalah Model pembelajaran Kontekstual (Contextual teaching and learning atau Ctl) Model pembelajaran ini dari awal hingga sekarang kurang disebut-sebut dalam kurikulum 2013 pada hal model pembelajaran ini sudah banyak peneliti dan bisa memeberi makna pada pembelajaran dan penilaian.

Dengan demikian penulis, menulisnya dalam bentuk artikel sederhana, dengan judul: “Analisis Hubungan Profil Unbk Dengan Pembelajaran Aktif: Model Pembelajaran Kontekstual”

Selanjutnya untuk lebih mendalami dualitas Unbk dan Active Learning, penulis mempertanyakan sekaligus bertujuan untuk berusaha menjawabnya melalui pengumpulan informasi atau data hasil penelitian yang berhubungan dengan, “Adakah terdapat hubungan kesesuaian antara Profil Unbk Dengan Pembelajaran Aktif: Model Pembelajaran Kontekstual?”

Adapun kebermanfaatan artikel ini adalah berharap dapat menyemangati guru untuk lebih siap dalam mendukung Unbk melalui Pembelajaran aktif: Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual teaching and learning).


  • 2

Program PBPU, Penguat Sebuah Kerjasama PPPPTK Bahasa dan IFI 2018

Elvira Ratna Sari
Widyaiswara Bahasa Prancis
PPPPTK Bahasa

Jakarta – Alhamdulillah, Sebuah rangkaian pelatihan Pengajar Bahasa Prancis Unggulan (PBPU) telah berhasil dilaksanakan di tiga kota di Indonesia yaitu Manado (LPMP Manado, 12-17 Maret), Yogyakarta (LPMP Yogya, 17-24 Maret) dan Medan (PAUDNI, 30 April-5Mei). Pelatihan PBPU ini berpola 55 jam pelajaran (JP @45 menit) selama 6 hari dan menghadirkan narasumber dari kedua lembaga kerjasama yaitu Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan bidang Bahasa (PPPPTK Bahasa) dan Institut de Français en Indonésie (IFI) sebagai mitra.

Pelatihan di tiga wilayah ini dibuka oleh Kepala PPPPTK Bahasa, ibu Dr. Luizah. F. Saidi, M.Pd. dan dihadiri di Yogyakarta oleh Madame Sara Camara sebagai Direktur IFI Yogyakarta, di Medan oleh Mlle. Anne-Lise sebagai Direktur AF Medan, serta kunjungan observasi PBPU di Medan oleh pihak IFI Jakarta, Monsieur François Roland-Gosselin sebagai Atase Kerjasama Bahasa Prancis Kedutaan Prancis di Indonesia.

Program PBPU merupakan bagian dari beberapa program kerjasama yang akan dilaksanakan pada tahun 2018 ini dimana Memorandum of Understanding (MoU)-nya telah ditandatangani di awal tahun ini. Program ini bukanlah program pertama kali, program ini telah diujicobakan di akhir tahun 2017 pada bulan September (11-14) dimana programnya masih berpola 32 JP saja. Setelah melalui evaluasi penyelenggara dari kedua belah pihak dan respon langsung dari peserta saat itu, maka kedua pihak PPPPTK Bahasa dan IFI bersepakat untuk menyelenggarakannya di tahun ini di tiga tempat tersebut.

Struktur program PBPU terdiri dari delapan modul (red- M1, M2, M3, M4, M5, M6, M7, dan M8) yang mengangkat kompetensi metodologi guru bahasa Prancis dan disampaikan dengan pengantar bahasa Prancis pada umumnya. Berikut tabel modul atau materi PBPU ini:

Peserta pelatihan ini total berjumlah 75 guru bahasa Prancis (@25 orang/kelas) yang dalam proses pembelajarannya mereka diinapkan dalam asrama yang terletak masih dalam lingkungan kelas pelatihan. Sehingga mereka dapat berdiskusi untuk memahami materi-materi PBPU dan menyelesaikan tugas yang diberikan agar tepat waktu.

Hasil pelatihan PBPU ini yang berupa akumulasi dari keseluruhan materi yang dipelajari adalah Fiche Pédagogique atau Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) lengkap dari masing-masing kelompok kecil terdiri dari 3-4 guru. Pada program ini, tim akademik PBPU bersepakat memfokuskan tugas akhir peserta pelatihan ini yaitu RPP dengan jenjang kelas berbeda, antara lain: PBPU Manado – RPP kelas X, PBPU Medan – RPP kelas XI, dan PBPU Yogyakarta – RPP kelas XII. Dengan terlaksananya PBPU ini dan terkumpulnya tugas akhirnya, Peserta diharapkan dapat meningkatkan kompetensi pedagogik mereka, baik pengetahuan (metode pengajaran) maupun keterampilan mengajar. Dan dari hasil kumpulan RPP ini, penyelenggara (PPPPTK Bahasa dan IFI) akan menindaklanjutinya dalam program penyusunan Buku Ajar Unggulan (BAU) di dalam tahun yang sama, 2018, Inshaallah.


  • 0

Lagu Indonesia Raya 3 Stanza

Mendikbud Akan Buat Surat Edaran, Lagu “Indonesia Raya” Dinyanyikan 3 Stanza

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy akan menerbitkan surat edaran ke seluruh sekolah. Surat edaran tersebut meminta agar lagu Indonesia Raya dinyanyikan secara utuh, yakni 3 stanza, ketika dilaksanakan upacara. “Kemendikbud akan mengeluarkan edaran agar di sekolah menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza,” kata Muhadjir di Kemendikbud, Jakarta, Kamis (3/8/2017). Menurut Muhadjir, pada awalnya, lagu Indonesia Raya dinyanyikan 3 stanza. Kemudian, keluar Keputusan Presiden (Keppres) yang menyatakan bahwa lagu Indonesia Raya dinyanyikan 1 stanza.

“Saya tidak tahu itu kenapa bisa jadi 1 stanza. Itu memang secara resmi, saya tidak tahu keppresnya tetap masih dipertahankan 1 stanza,” kata Muhadjir. Dia menilai perbedaan antara lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan 1 stanza memiliki efek rasa semangat yang berbeda ketika dinyanyikan 3 stanza. Muhadjir menganalogikannya dengan hasil foto. “Kalau 1 stanza ibaratnya foto setengah badan. Kalau 3 stanza foto penuh,” kata Muhadjir.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Mendikbud Akan Buat Surat Edaran, Lagu “Indonesia Raya” Dinyanyikan 3 Stanza”,

Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2017/08/03/18205071/mendikbud-akan-buat-surat-edaran-lagu-indonesia-raya-dinyanyikan-3-stanza.

Penulis : Fachri Fachrudin


Lagu Indonesia Raya secara Utuh terdiri atas 3 (tiga) Bait atau 3 (tiga) stanza.

Karena kita terbiasa menyanyikan lagu kebangsaaan Indonesia Raya hanya 1 stanza, kemungkinan diantara kita banyak yang lupa atau tidak tahu stanza ke 2 dan stanza ke 3 dari lagu Indonesia Raya.

Sekedar berbagi pengetahuan (silahkan dikoreksi jika salah), berikut ini 3 (tiga) stanza lagu kebangsaan Indonesia Raya sesuai PP Nomor 44 Tahun 1958 tentang tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Berikut lyric per stanzanya :

Lagu Indonesia Raya secara Utuh terdiri atas 3 (tiga) Bait atau 3 (tiga) stanza.

Karena kita terbiasa menyanyikan lagu kebangsaaan Indonesia Raya hanya 1 stanza, kemungkinan diantara kita banyak yang lupa atau tidak tahu stanza ke 2 dan stanza ke 3 dari lagu Indonesia Raya.

Sekedar berbagi pengetahuan (silahkan dikoreksi jika salah), berikut ini 3 (tiga) stanza lagu kebangsaan Indonesia Raya sesuai PP Nomor 44 Tahun 1958 tentang tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Berikut lyric per stanzanya :

Bait / Stanza I

Indonesia tanah airku,

Tanah tumpah darahku,

Di sanalah aku berdiri,

Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku,

Bangsa dan tanah airku,

Marilah kita berseru,

Indonesia bersatu.

Hiduplah tanahku,

Hiduplah negriku,

Bangsaku, Rakyatku, semuanya,

Bangunlah jiwanya,

Bangunlah badannya,

Untuk Indonesia Raya.

Refrein

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Tanahku, neg’riku yang kucinta!

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Hiduplah Indonesia Raya.

Bait / Stanza II

Indonesia, tanah yang mulia,

Tanah kita yang kaya,

Di sanalah aku berdiri,

Untuk s’lama-lamanya.

Indonesia, tanah pusaka,

P’saka kita semuanya,

Marilah kita mendoa,

Indonesia bahagia.

Suburlah tanahnya,

Suburlah jiwanya,

Bangsanya, rakyatnya, semuanya,

Sadarlah hatinya,

Sadarlah budinya,

Untuk Indonesia Raya.

Refrein

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Tanahku, negriku yang kucinta!

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Hiduplah Indonesia Raya.

Bait / Stanza III

Indonesia, tanah yang suci,

Tanah kita yang sakti,

Di sanalah aku berdiri,

M’njaga ibu sejati.

Indonesia, tanah berseri,

Tanah yang aku sayangi,

Marilah kita berjanji,

Indonesia abadi.

Slamatlah rakyatnya,

Slamatlah putranya,

Pulaunya, lautnya, semuanya,

Majulah Negrinya,

Majulah pandunya,

Untuk Indonesia Raya.

Refrein

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Tanahku, negriku yang kucinta!

Indonesia Raya,

Merdeka, merdeka,

Hiduplah Indonesia Raya.


  • 0

Mendikbud: “Student today, leader tomorrow”

Mendikbud: “Student today, leader tomorrow”  

Jakarta, Kemendikbud — Senin (8/1/2018) pagi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menjadi pembina upacara di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 16 Kupang, Nusa Tenggara Timur. Mendikbud didampingi Sekretaris Jenderal Didik Suhardi, Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Hamid Muhammad, dan Direktur Pembinaan SMP Supriano. Pengibaran bendera Merah Putih pada upacara ini juga diiringi oleh Lagu Kebangsaan Indonesia Raya 3 stanza.

Dalam amanatnya selaku pembina upacara, Mendikbud menghimbau agar para siswa dapat meningkatkan kedisiplinan yang tinggi terutama melalui upacara. Mendikbud mengapresiasi penyelenggaraan upacara bendera di sekolah tersebut yang dinilai sudah sangat bagus. “Ini (upacara bendera,-) adalah bagian dari upaya kita untuk membentuk karakter siswa,” ujar Mendikbud.

Mendikbud menambahkan, ada banyak nilai yang bisa diambil di balik upacara bendera, diantaranya kedisiplinan, ketahanan baik fisik maupun mental, dan juga memahami dasar-dasar negara pembukaan UUD, pembacaan teks Pancasila dan janji siswa.

Janji siswa yang dimaksud Mendikbud adalah Janji Pelajar SMP Negeri 16 Kota Kupang yang diucapkan oleh salah satu pelajar dan diikuti seluruh peserta didik peserta upacara. Janji tersebut berisi: (1) Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; (2) Menjunjung tinggi kehormatan sekolah, orangtua, dan guru; (3) Belajar rajin, sungguh-sungguh, dan penuh kesadaran; (4) Bertindak jujur, sopan, dan tahu harga diri; dan (5) Mematuhi tata tertib sekolah, mempererat persatuan dan kesatuan di antara pelajar.

Persaingan dengan negara-negara lain yang semakin ketat membuat Mendikbud meminta pelajar untuk terus meningkatkan semangat belajar sesuai janji siswa yang mereka ucapkan, dan tidak boleh mudah menyerah. “20 tahun yang akan datang, kamu yang akan memimpin Indonesia ini,” kata Mendikbud. Nantinya masa depan bangsa Indonesia akan berada di tangan para pelajar saat ini. Bisa jadi diantara para pelajar ini yang menjadi guru, kepala dinas, Menteri Pendidikan, bahkan mungkin Presiden Republik Indonesia. “Student today, leader tomorrow. Sekarang kamu pelajar besok kamu adalah pemimpin,” tutup Mendikbud.

Pada kesempatan ini Mendikbud menyerahkan 170 buku cerita nusantara kepada SMP Negeri 16 Kupang. Penyerahan buku cerita kerap dilakukan Mendikbud pada kunjungan kerjanya, sebagai bentuk menggelorakan gerakan literasi.

Pada kunjungan kerjanya ke provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Mendikbud berkomitmen untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan NTT dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp959 miliar di tahun 2018. Mendikbud menyampaikan secara keseluruhan anggaran pendidikan ke NTT tahun ini meningkat dari tahun sebelumnya, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

Mendikbud menjelaskan anggaran tersebut sebagian besar diperuntukkan untuk pembangunan unit sekolah baru (USB) mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah kejuruan (SMK), sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah luar biasa (SLB). Selain USB, anggaran pendidikan juga akan digunakan untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi guru baik berupa pelatihan, lokakarya dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan hasil Ujian Nasional (UN) di NTT masih di bawah rerata nasional, walaupun tingkat kejujuran dan integritasnya bagus. (Anang Kusuma).

Sumber : https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2018/01/mendikbud-student-today-leader-tomorrow
Penulis : pengelola web kemdikbud


  • 0

Gelar Akademis: Sebuah Renungan

Agus Purnomo

Staf PPPPTK Bahasa

 

 

Presentasi yang sedang berlangsung di sebuah ruang kelas tiba-tiba terhenti ketika seorang pembicara senior yang baru tiba di kelas dan diam-diam memerhatikan dari barisan belakang hingga ke depan kelas. Ia mengambil pelantang dan hendak memberikan komentar. Saat itu suasana kelas sedikit bising, dan dua orang panitia kelas yang sedang sibuk memverikasi berkas dua orang peserta di sudut depan kelas tidak menyadari kehadiran sang pembicara yang memulai komentarnya. Merasa suaranya tidak diindahkan, pada kali kedua ia langsung menghampiri, menarik, dan meremas kertas yang dipegang salah satu panitia, seraya mengeluarkan kata-kata peringatan dengan suara yang keras dan membentak. “Belum diam juga! Kalau ada orang yang berbicara di depan, Anda harus mendengarkan!”

Wajahnya yang gelap semakin memerah oleh amarah. Seluruh kelas langsung senyap dan atmosfer ketegangan dapat terasakan di sana. Sang pembicara pun melanjutkan dengan memperingatkan peserta bahwa tidak boleh ada komputer jinjing yang masih terbuka ketika ia berbicara, atau ia akan membuangnya. Insiden itu berlangsung selama dua hingga tiga menit, lalu ia melanjutkan komentarnya tentang presentasi peserta sebelumnya seperti tak pernah terjadi apa-apa. Business as usual. Mungkin hal itu insiden yang biasa saja, kalau saja sang pembicara bukanlah seorang profesor senior ternama, yang setelah menginterupsi kelas tanpa permisi, menyerang panitia secara verbal, dan merampas berkas, dengan entengnya memberikan wejangan tentang etika di kelas tersebut. Ia juga memberikan contoh tentang bagaimana seorang guru melanggar etika ketika guru tersebut menyatakan bahwa program pelatihan yang saat itu diikuti oleh guru tersebut hanyalah membuang-buang waktu dan anggaran. Ironis sekali. Namun, bukan masalah etika yang hendak dibahas dalam tulisan ini melainkan sebuah upaya refleksi diri: seberapa jauhkah gelar akademis yang dimiliki seseorang memengaruhi tindak tanduk dan tingkah laku orang tersebut secara sadar atau tidak?

Gelar Akademis
Gelar akademis adalah gelar yang diberikan kepada lulusan pendidikan akademis bidang studi tertentu dari suatu perguruan tinggi. Gelar untuk orang yang telah lulus sarjana bermacam-macam, yakni S.T, S.Si., S.Ked., S.E., S.Sos. Gelar untuk orang yang telah menempuh S2 adalah M.T., M.Sc., M.Si., MBA., M.Ag., dan lain-lain. Untuk orang yang telah menempuh program pendidikan S3, gelarnya adalah Dr. atau Ph.D. Walaupun profesor bukanlah gelar akademis (melainkan jabatan akademis), jabatan ‘profesor’ seolah menjadi puncak pencapaian akademis yang bisa dicapai seseorang, sehingga ia akan menambah nilai prestise bagi siapapun yang menyandangnya. Pertanyaannya adalah apakah kita ‘membawa’ gelar-gelar tersebut ke dalam ranah kehidupan kita di luar lingkungan akademis? Bilamana esok hari kita resmi menyandang gelar master, apakah kita akan mengubah cara berkomunikasi kita dengan orang lain sesuai dengan gelar tersebut? Apakah kita akan memandang secara ‘berbeda’ orang-orang dengan gelar akademis di bawah kita hanya dalam waktu satu hari karena kemarin kita masih sarjana S1 dan esok hari kita bergelar master? Apakah cara berjalan kita akan berubah pula, menjadi lebih gagah? Seberapa besarkah ego kita akan dimanjakan oleh gelar sarjana, master, doktor atau jabatan profesor? Lulus SMA saja membawa kegembiraan dan kebanggaan yang begitu meluap-luap bagi kebanyakan siswa SMA. Lalu bagaimana dengan kelulusan pada tingkat sarjana, magister, doktoral, ‘profesor’?

Bilamana kita berada dalam suatu forum kajian akademis, akankah kita dapat berargumentasi secara rasional dan sanggup mengakui bila opini atau argumen kita salah, dan bukannya terus membabi buta mempertahankan reasoning kita yang telah terbukti tidak tepat? Just for the sake of our ‘academic-degree’ ego? Tentu saja berbangga diri pada taraf tertentu atas pencapaian akademis kita adalah wajar dan manusiawi. Tidak semua orang bisa menyandang gelar-gelar akademis tersebut.
Akan tetapi, ketika rasa berbangga diri akan gelar akademik tersebut sebegitu besarnya sehingga dapat mengubah kepribadian dan tingkah laku seseorang secara negatif, hal inilah yang patut kita hindari dan waspadai. Setelah kita menyadari  potensi sisi gelap (the dark side) gelar akademis, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kita tetap menjadi ‘manusia utuh’ tanpa tercemari oleh ego gelar akademis yang eksesif itu? Jawabannya adalah tetap “eling” (sadar diri).

Dalam setiap situasi kita harus secara sadar mengevaluasi diri apakah hal-hal yang sedang kita lakukan dan katakan sesuai dengan nilai-nilai dan integritas diri sendiri atau sudah terpengaruhi oleh ego. Ini bukanlah hal yang mudah tentunya karena pikiran kita harus benar-benar jujur kepada diri sendiri, sementara ego pribadi yang seyogianya harus kita hancurkan akan terus menghalang-halangi upaya ini.
Meskipun demikian, perlu diingat practice makes perfect. Kembali kepada ilustrasi di awal tulisan ini. Secara jujur, bisakah kita bertindak lebih sopan dan beretika jika kita adalah pembicara tersebut, merasa begitu marah karena kurang diindahkan di sebuah kelas yang bising?  [ ]


  • 0

MEMBANGUN SEMANGAT GURU PEMBELAJAR MELALUI UJI KOMPETENSI GURU

Kemarin cerita, sekarang realita, besok cita-cita. Kalimat tersebut bagi penulis tersusun menjadi sebuah cerita yang menggambarkan Uji Kompetensi Guru (UKG). Cerita tentang UKG digagas dari kegelisahan akan kurangnya mutu pendidikan di Indonesia, yang salah satu komponennya adalah guru. Oleh karena itu, dari hari ke hari, tahun ke tahun berbagai upaya ditempuh untuk meningkatkan kompetensi guru. Regulasi pun disusun untuk menjadi dasar hukum bagi guru melalui pengakuan guru sebagai jabatan profesional yang dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Undang-undang tersebut mendefinisikan profesional sebagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Konsekuen­si profesionalisme tersebut adalah guru harus selalu memperbaharui kemahiran dan kecakapannya. Sebagai tenaga profesional, guru diharapkan dapat meningkatkan martabat dan perannya seba­gai agen pembelajaran. Guna menopang upaya peningkatan kemahiran dan kecakapan guru, pemerintah menyediakan sertifikasi yang berupa tunjangan profesi bagi guru yang diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan pendidikan di Indonesia secara berkelanjutan.

Sertifikasi guru yang dimulai sejak tahun 2007 itu dilaksanakan setelah diterbitkan Permendiknas Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Landasan yang digunakan sebagai dasar penyelenggaraan sertifikasi guru adalah Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. Tahun 2012 merupakan tahun keenam pelaksanaan sertifikasi guru dalam jabatan. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 5 Tahun 2012, guru dalam jabatan yang telah memenuhi persyaratan dapat mengikuti sertifikasi melalui (1) Pemberian Sertifikat Pendidik secara Langsung (PSPL), (2) Portofolio (PF), (3) Pendidik­an dan Latihan Profesi Guru (PLPG), atau (4) Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Apabila hasil penilaian portofolio pe­serta sertifikasi guru dapat mencapai nilai ambang batas kelulus­an (passing grade), dilakukan verifikasi terhadap portofolio yang disusun. Sebaliknya, jika hasil penilaian portofolio peserta sertifikasi guru tidak mencapai nilai ambang batas, guru yang bersangkut­an menjadi peserta pola PLPG setelah lulus Uji Kompetensi Awal (UKA). Untuk itu, UKA hadir sebagai peta penguasaan guru pada kompetensi pedagogis dan profesional yang akan digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam pemberian program pembinaan dan pengembangan profesi guru, serta pemeringkatan calon peserta program sertifikasi guru. UKA wajib diikuti oleh semua guru dalam jabatan baik PNS maupun bukan PNS yang belum mengikuti sertifikasi.

Sementara itu, pada tahun 2012 UKG juga dilaksanakan untuk guru-guru yang telah memiliki sertifikat pendidik. UKG pada waktu itu bertujuan memetakan kompetensi guru dalam bidang profesional dan pedagogis dengan target sasaran sebanyak 1,6 juta guru. Selanjutnya, secara berurutan tahun 2012, 2013, 2014 juga dilaksanakan UKG. Berdasarkan rekap hasil UKG tahun 2012, 2013, dan 2014 yang dirilis oleh infoptk.net diperoleh hasil 192 orang dari total 1,611.251 orang guru yang memiliki skor 90-100, lebih dari 1,3 juta guru memiliki skor 60 dari total 100. Berdasarkan hasil tersebut terlihat seberapa besar kompetensi guru kita. Sementara itu, nilai ambang batas kelulusan dari tahun ke tahun akan terus meningkat. Nilai perhitungan dasar (baseline) UKG tahun 2014: 4,7. Target nilai ambang batas kelulusan UKG tahun 2015 s.d. 2018 berturut-turut adalah 5,5; 6,5; 7,0; dan 8,0.
Tahun 2015 merupakan tahun keempat pelaksanaan UKG. Dalam rilisnya di situs gtk.kemdikbud.go.id, Direktur­ Jen­deral Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Sumarna Surapranata mengatakan bahwa kalau tahun 2012 pelaksanaan UKG belum mempunyai arah yang jelas dan lebih digunakan seba­gai uji coba untuk memotret kondisi guru di Tanah Air. UKG tahun 2015 lebih seperti sensus yaitu semua guru yang memiliki NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan) akan mengikuti Uji Kompetensi.

Tujuannya pun lebih jelas, yaitu setelah diperoleh potret kompetensi pedagogis dan profesional setiap guru yang mengikuti UKG 2015, diberikan tindak lanjut berupa pelatihan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan setiap guru untuk pengembang­an kompetensinya. Target nilai UKG yang ditetapkan peme­rintah, melalui Ditjen GTK tahun 2015 adalah 5,5. Namun peroleh­an nilai UKG tidak berhubungan dengan pemberian tunjangan profesi.

Hasil UKG 2015 akan digunakan untuk memperbaiki kualitas guru. Berdasarkan nilai yang diperoleh setiap guru, Kemdikbud akan mempunyai data yang valid sebagai dasar pelaksanaan program pendidik­an dan pelatihan (diklat). Pasca-UKG tahun 2015 Kemdikbud akan merilis program Guru Pembelajar (GP). Program ini bertujuan membangun sema­ngat belajar para guru. Berawal dari sebuah konsep belajar sepanjang hayat (lifelong learning) yang dikemukakan oleh Edgar Faure dari The International Council of Educational Deve­lopment (ICED), pembelajaran akan mampu membuat manusia tumbuh dan berkembang sehingga berkemampuan, menjadi dewasa dan mandiri. Kemdikbud melalui program GP-nya mengajak guru untuk mentransformasi diri, dari belum/tidak kompeten menjadi kompeten, dari kebergantung­an menjadi mandiri. Transformasi diri ini diharapkan akan terus terjadi sepanjang hayat, asalkan ia tidak berhenti belajar, asal ia tetap menyadari keberadaannya yang bersifat present continuous, on going process, atau on becoming.

Program GP ini akan dibagi ke dalam tiga moda: tatap muka, daring, dan daring kombinasi. Setiap moda mencerminkan kualitas kompetensi atau materi yang harus dikuasai guru. Pembagian setiap moda berdasarkan jumlah modul kompetensi yang nilainya di bawah Kriteria Capaian Minimal (KCM) yaitu 5,5. Setelah mengikuti serangkaian diklat “Guru Pembelajar”, Kemdikbud berharap pada akhir tahun 2018 mendatang, nilai hasil UKG dapat mencapai rata-rata 8,0. Selain sebagai dasar peningkatan kompetensi, hasil UKG tersebut dapat dijadikan titik masuk sertifikasi guru dalam jabatan sekaligus alat kontrol pelaksanaan penilaian kinerja guru.

Dalam Rakor antar-PPPPTK pada 14 Agustus 2015 di PPPPTK Bahasa, Dirjen GTK menegaskan bahwa UKG pen­ting untuk meningkatkan kualitas guru karena fakta menunjukkan masih banyak guru di negeri ini yang harus ditingkatkan kompetensinya secara terus menerus, tidak terkecuali mereka yang telah memegang sertifikat pendidik. Peningkatan kompetensi inilah yang diusahakan melalui UKG dan pelatihan pasca-UKG, sebab guru-guru bukannya tidak pintar, hanya saja sistem pelatihan bagi guru juga harus terus ditingkatkan dan kembali diperketat.
Bercermin dari pendidikan di negara maju, yang meletakkan kekuatan pendidikan pada aktivitas guru yang bermuara pada semangat bahwa guru juga sebagai pembelajar; guru sebagai pemberi ilmu juga siap untuk mencari ilmu. Persoalannya adalah, sebagian besar guru tidak mendisiplinkan dirinya untuk tetap belajar tanpa henti. Sebagian besar guru merasa bahwa setelah memiliki gelar akademis dan telah mengajar bertahun-tahun membuat mere­ka berhenti belajar. Sikap yang demikian membuat mereka tidak lagi mengalami transformasi dalam kariernya, sehingga mereka tidak siap mengantisipasi perubahan-perubahan yang timbul. Sebaliknya, mere­ka yang senantiasa menjadikan proses belajar merupakan bagian dari kehidupannya akan senantiasa siap mengantisipasi perubahan yang timbul. Konsekuensi perubahan yang terjadi akan menjadi titik tolak bagi mereka untuk senantiasa terus belajar – on becoming a learner istilah yang dipakai Andreas Harefa- untuk selalu siap mengantisipasi perubahan yang akan muncul lagi sebab perubah­an merupakan sesuatu yang abadi. Dan, semua upaya pemberdayaan guru, seperti peningkatan kualifikasi akademik, sertifikasi guru, dan uji kompetensi guru dimaksudkan agar guru menjadi manusia yang terus belajar. Jika tidak melahirkan guru sebagai manusia pembelajar, kegiatan pemberdayaan guru apapun bentuk dan jenisnya menjadi mubazir.

Di Finlandia, hanya guru-guru dengan kualitas terbaik yang dapat mengikuti pelatihan terbaik. Profesi guru di Finlan­dia adalah sebuah profesi yang sangat dihargai. Siswa lulusan sekolah menengah terbaik biasanya memilih sekolah-sekolah pendidikan dan hanya satu dari tujuh pelamar yang dapat diterima. Di Finlandia pesaing jurusan pendidikan adalah jurusan hukum dan kedokteran. Pelatihan guru adalah prestise dan prestasi, karena harus melalui seleksi yang sangat ketat selama minimal 11 hari setiap tahunnya. Dan mereka yang dinyatakan lulus seleksi untuk meng­ikuti pelatihan guru rela membayar sendiri pelatih­an guru tersebut. Melalui pelatihan guru, profesional­isme guru dapat diperiksa kembali.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah sudahkah guru kita memiliki semangat yang sama untuk selalu menjadi guru pembelajar. Guru yang senantiasa haus ilmu untuk menyegarkan kembali kompetensinya, memutakhirkan pengetahuan dan keterampilan. Tak bisa dimungkiri bahwa pengetahuan, teknologi, pola asuh, dan pola didik yang juga terus berkembang mengiringi perkembangan peserta didik dan zaman. Dan, untuk mendukung guru pembelajar dukungan penyiapan pelatihan yang lebih dari bagus sangat diperlukan, yang mau tidak mau akan memunculkan pertanyaan selanjutnya, apakah lembaga pelatihan guru kita telah memadai dan guru kita telah memiliki kesadaran yang tinggi sehingga belajar terus adalah sebuah keharusan. Tampaknya belum, lembaga pelatihan guru kita belum sebagaimana kita harapkan, dan kesadaran mutu guru kita masih rendah, ada guyon di kalangan mereka, sebelum kegiatan pelatihan guru dibuka, mereka sudah menanyakan kapan kegiatan pelatihan guru itu ditutup.

Dalam pandangan penulis, inilah upaya baik yang diikhtiarkan oleh pemerintah melalui Ditjen GTK untuk menjembatani perbaikan kompetensi guru dan sekaligus memperbaiki pelaksanaan diklat. UKG 2015 digunakan untuk memetakan kompetensi guru sesuai dengan bidang atau mata pelajaran yang mereka ajarkan di sekolah. Peta kompetensi ini akan sangat membantu bagi pengembangan dan peningkat­an kompetensi para guru. Dari rapor UKG 2015 tersebut dapat terlihat kompetensi manakah yang perlu ditingkatkan dan bekal modul mana yang sesuai untuk meningkatkan kompetensinya. Dengan cara ini, diharapkan pembekalan atau diklat yang diberikan pada para guru lebih tepat sasaran dan tujuan demi memajukan kualitas pendidikan nasional.

Dengan sistem yang demikian, lembaga pelatihan nasional, seperti PPPPTK sebagai unit pelayanan teknis yang membidangi pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan dapat menyiapkan pelatihan yang dapat menjawab kebutuhan guru terkait dengan kompetensi yang akan ditingkatkan. Semangat Guru Pembelajar yang terus terbangun dan terhubung de­ngan layan­an peningkatan kompetensi, berupa penyediaan pelatih­an yang baik diharapkan dapat menumbuhkan sinergi yang harmonis antara guru dan lembaga penyedia pelatihan, yang akhirnya menghasilkan sebuah orkestra pendidikan yang indah. Harmoni tersebut pada akhirnya dapat mewujudkan terget nilai ambang batas kelulusan UKG 2018: 8,0. [ ]


  • 0

Kontribusi Potensi Unggul Daerah dalam Pengembangan Mata Pelajaran Muatan Lokal di Kabupaten Bone Bolango

 

Widiatmoko

Widyaiswara Bahasa Inggris

PPPPTK Bahasa

 

 

Pengantar

Kabupaten Bone Bolango memiliki luas wilayah 1.984,58 kilometer persegi yang terdiri atas 18 kecamatan dan 166 kelurahan/desa. Batas-batas wilayahnya adalah: Kabupaten Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara) dan Kabupaten Gorontalo Utara di sebelah utara, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan di sebelah timur, Kota Gorontalo dan Teluk Tomini di sebelah selatan, dan Kecamatan Telaga, Kota Selatan, dan Kota Utara di sebelah barat. Kabupaten Bone Bolango sebagaimana Provinsi Gorontalo terkenal karena keunggulan lokal budidaya tanaman jagung. Kabupaten ini turut memberikan kontribusi pada produksi jagung di provinsi. Pada 2013 produksi jagung di provinsi ini berjumlah 9.681 ton. Jumlah ini menurun dibandingkan pada 2012 yang mencapai 10.174 ton. Produksi ini berasal dari luas lahan 2.317 hektare lahan yang ditanami jagung (http://regionalinvestment.bkpm.go.id). Sebagai wilayah dengan komoditas jagung, provinsi ini sejak Januari hingga Juni 2015 telah mengekspor jagung ke berbagai negara, seperti ke Malaysia, Filipina dan Korea Selatan dengan total ekspor mencapai 91.500 ton atau senilai Rp 307 miliar. Hal tersebut didukung oleh informasi yang disampaikan oleh tokoh masyarakat pada saat wawancara. Menurutnya, produksi tanaman jagung merupakan karunia yang diberikan di Kabupaten Bone Bolango berupa tekstur tanah yang umumnya berupa ladang dan didukung oleh cuaca yang panas. Tanaman jagung sangat cocok untuk daerah ini. Informasi tersebut juga relevan dengan pengamatan langsung di lapangan yang dilakukan selama pengumpulan data.

 

Kontribusi Masyarakat terhadap Muatan Lokal

Keterlibatan masyarakat dalam pengembangan budidaya tanaman jagung telah merujuk pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah. Undang-Undang tersebut mengisyaratkan bahwa otonomi daerah  telah memindahkan sebagian besar kewenangan yang semula berada di pemerintah pusat kepada daerah otonom sehingga pemerintah daerah otonom dapat lebih cepat  merespons tuntutan masyarakat daerah sesuai dengan kemampuannya. Karena kewenangan membuat kebijakan dalam bentuk Peraturan Daerah sepenuhnya menjadi wewenang daerah otonom, pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan diharapkan dapat berjalan lebih cepat dan berkualitas. Pengembangan masyarakat tersebut segaris dengan rumusan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mendefinisikannya “as the process by which the efforts of the people themselves are united with those of governmental authorities to improve the economic, social and cultural conditions of communities, to integrate these communities into the life of the nations, and to enable them to contribute fully to national progress” (The Community Development Guidelines of the International Cooperation Administration, Community Development Review, December, 1996). Di sini, penekanan terletak pada proses yang usaha-usaha atau potensi-potensi yang dimiliki masyarakat diintegrasikan dengan sumberdaya yang dimiliki pemerintah daerah untuk memperbaiki kondisi ekonomi, sosial, dan budaya, dan mengintegrasikan masyarakat di dalam konteks kehidupan berbangsa, serta memberdayakan mereka agar mampu berkontribusi secara penuh untuk mencapai kemajuan pada tingkat nasional. Dalam konteks ini, pernyataan adanya keterlibatan masyarakat dalam pengembangan budidaya jagung disampaikan oleh para kepala sekolah yang melibatkan tokoh masyarakat dalam pemberian informasi mengenai budidaya tanaman jagung.

Masyarakat petani jagung secara aktif terlibat dalam pengembangan keunggulan lokal ini. Hal ini seperti dituturkan oleh salah seorang tokoh masyarakat di Kabupaten Bone Bolango. Rasa antusias masyarakat ditunjukkan mereka dalam rangka pengembangan keunggulan lokal ini yang diawali dengan penyemaian benih jagung bagi 4 kelompok tani yang menggarap lahan 25 hektaree. Dari lahan tersebut, dikembangkan sistem tumpang sari dengan memanfaatkan kompos yang berasal dari kotoran ayam. Dalam perkembangan selanjutnya, kelompok tani ini mengembangkan Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) dengan memberdayakan sekitar 25 orang petani selama 4 bulan untuk memanfaatkan lahan sehingga menghasilkan nilai ekonomi senilai 6-7 ton per hektaree. Jumlah ini tentu seiring dengan misi Provinsi Gorontalo yang terus memproduksi jagung, baik untuk konsumsi daerah maupun ekspor ke luar negeri.

Potensi lokal di daerah yang berupa budidaya dan pengolahan hasil panen tanaman jagung ini dilakukan oleh pemerintah daerah dalam rangka memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. Hal ini dikemukakan oleh staf Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Bone Bolango. Namun, dalam hal potensi daerah yang berupa budidaya tanaman jagung, belum menjadi kewajiban di setiap sekolah untuk menyelenggarakan pendidikan yang berfokus pada budidaya tanaman jagung sebagai pilihan muatan lokalnya.

 

Kontribusi Industri dan Lembaga Terkait terhadap Muatan Lokal

Masyarakat petani jagung didorong untuk memberikan kontribusinya dalam peningkatan pengetahuan budidaya jagung kepada sekolah. Sekolah didorong untuk melakukan kolaborasi dengan pemangku kepentingan. Sebagaimana disampaikan oleh Kepala SMKN Bone Bolango, ada kerja sama dengan Dinas Peternakan untuk ikut terlibat dalam peningkatan kompetensi siswanya. Wujud kerja sama ini adalah praktik kerja di industri. Siswa dibimbing oleh pihak dinas peternakan untuk menerapkan langsung keilmuan di bidang peternakan.

Untuk mengembangkan budidaya tanaman jagung, Pusat Informasi Jagung, sebuah unit pelaksana teknis daerah (UPTD), sejak 2006 turut  memainkan peran, yakni memberikan pelatihan dan pembelajaran budidaya tanaman jagung kepada siswa-siswa SMK. Setelah berubah nomenklatur menjadi Badan Pusat Informasi Jagung (BPIJ), di bawah Kementerian Pertanian, badan ini memberikan pelatihan tanaman jagung berikut dengan kurikulum dan materi pelatihan yang relevan dengan kebutuhan siswa sebagai peserta pelatihan. Pembelajaran diawali dengan teori sekitar 30% tentang budidaya tanaman jagung dan praktik sekitar 70% di lahan pertanian. Sejumlah 20-30 siswa per kelas diterjunkan ke lahan seluas 3 hektare untuk mengenalkan dan mempraktikkan budidaya tanaman jagung. Sekitar 50-60 varietas jagung dikenalkan dalam pelatihan ini. Pengolahan lahan tandus menjadi lahan subur dikenalkan juga. Hal ini dikemukakan oleh staf BPIJ. Dengan respons positif siswa, disarankan agar para guru yang mengajarkan mata pelajaran budidaya tanaman jagung memanfaatkan lembaga ini sebagai tempat untuk mengembangkan kompetensi diri yang berkaitan dengan budidaya tanaman jagung. Sekolah juga diusulkan agar mampu mengolah lahan tandus di halaman dan pekarangan sekolah menjadi lahan subur sebagai wujud implementasi pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya. Dengan demikian, keterlibatan pihak eksternal sekolah, baik industri maupun BPIJ mampu memberikan kontribusi positif bagi peningkatan sumber daya daerah dengan menjembatani pihak sekolah dan dunia industri yang menghasilkan nilai ekonomi.

 

Keunggulan Lokal sebagai Nilai Ekonomi

Di jenjang sekolah, pembekalan pengetahuan tentang budidaya jagung tidak dilakukan secara simultan di semua sekolah. Pemberian pengetahuan dan keterampilan tentang budidaya tanaman jagung di sekolah merupakan alternatif mata pelajaran muatan lokal selain budidaya tanaman hortikultura. Dalam hal ini, sekolah membekali siswa tentang kemandirian berwirausaha. Ini dilakukan dengan memberikan dorongan kemauan untuk mencoba memasarkan produk yang dikembangkan di sekolah kepada masyarakat sekitar. Hal ini dikemukakan oleh seorang guru SMK di Bone Bolango. Dari hasil penjualan tersebut, keuntungannya bisa dijadikan modal. Dengan demikian, masyarakat sekitar bisa merasakan manfaat dari pengembangan budidaya tanaman hortikultura di sekolah. Investasi yang diperoleh sesungguhnya tidak terletak pada seberapa besar keuntungan saat ini, tetapi pada proyeksi masa depan anak-anak. Mereka ditanamkan nilai-nilai positif untuk memanfaatkan nilai ekonomi dari keunggulan lokal di Kabupaten Bone Bolango. Pernyataan dari perwakilan kelompok tani jagung memperkuat upaya yang dilakukan sekolah. Yusuf, salah seorang dari kelompok tani jagung, menyatakan bahwa petani yang tergabung ke dalam kelompok tani jagung mampu menggarap lahan 25 hektare dengan melibatkan 25 orang petani yang dalam kurun waktu 4 bulan mampu menghasilkan panen 6-7 ton per hektare. Nilai ekonomi ini tentu sebanding dengan upaya yang dilakukan masyarakat petani jagung dalam memanfaatkan lahan kering menjadi lahan produktif.

 

Keunggulan Lokal di Sekolah

Dari data yang diperoleh melalui Focused Group Discussion, ditemukan rumusan kebijakan tentang mata pelajaran yang memuat keunggulan lokal di sekolah. Kebijakan pendidikan berbasis keunggulan lokal ini diterapkan di sekolah melalui mata pelajaran muatan lokal. Hal ini sebagai bagian dari muatan mata pelajaran dalam kurikulum. Muatan lokal yang diajarkan adalah budidaya tanaman jagung. Pemilihan mata pelajaran ini karena mempertimbangkan faktor alam pegunungan yang mendukung. Selain tanaman jagung, diajarkan budidaya tanaman sayur, tanaman tomat, dan kacang tanah. Hal ini dikemukakan oleh Lis, seorang guru SMKN. Di samping muatan lokal budidaya tanaman, sekolah  diperkenankan mengembangkan muatan lokal perikanan dan peternakan sapi, seperti terjadi di SMAN Bone Bolango.

Dalam pengembangan kurikulum, terlihat kebijakan sekolah yang dituangkan ke dalam rasional, antara lain pertimbangan kebutuhan kompetensi masa depan, tuntutan pembangunan daerah, dan tuntutan dunia kerja. Kandungan muatan lokal dikembangkan oleh sekolah sebagai mata pelajaran mandiri. Pengembangan materi dilakukan melalui adaptasi bahan yang diambil dari sumber internet. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dikembangkan dari silabus dengan memuat materi pembelajaran tentang keunggulan lokal, yakni budidaya tanaman jagung dan sumber belajar yang relevan dengan keunggulan lokal. RPP mata pelajaran Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura dikembangan oleh SMKN Bone Bolango. Hal ini juga berlaku di sekolah-sekolah yang mengajarkan mata pelajaran muatan lokal di SD, SMP, dan SMA. Sartin mengemukakan bahwa materi pelajaran muatan lokal diwujudkan ke dalam kegiatan ekstrakurikuler. Meskipun demikian, kegiatan ekstrakurikuler budidaya tanaman dikembangkan seperti mata pelajaran, yakni adanya materi, kegiatan, dan evaluasi. Lili dari SMAN 1 Tapa menambahkan informasi tentang pengembangan kurikulum, silabus dan RPP di sekolah yang mengajarkan mata pelajaran muatan lokal agrokompleks yang berupa pengembangan sapi, perikanan, dan tanaman. Demikian pula yang dilakukan di SMP yang dikemukakan oleh Marwah tentang mata pelajaran muatan lokal berupa budidaya tanaman jagung, di samping budidaya tanaman sayur.

Panduan pelaksanaan pendidikan berbasis keunggulan lokal memang tidak ditemukan di sekolah-sekolah yang menjalankan pembelajaran muatan lokal. Hal ini karena tidak adanya petunjuk teknis pelaksanaan yang disiapkan oleh Dinas Pendidikan atau Pemerintah Daerah. Meskipun demikian, sekolah telah memiliki mata pelajaran muatan lokal yang mengandung materi pengembangan keunggulan lokal. Jenis muatan lokal yang menjadi kebijakan sekolah adalah agrokompleks di SMA, budidaya tanaman jagung, budidaya tanaman hortikultura, dan tata boga di SMK. Untuk mengembangkan muatan lokal, sekolah telah menerapkan kebijakan berupa pengadaan tenaga pendidik yang jumlahnya cukup memadai, yakni seorang guru di SMP, 2 orang guru di SMA, dan seorang guru di SMK. Hal yang sama dilakukan di SD. Guru-guru tersebut kemudian mengembangkan kurikulum, silabus dan RPP sebagai pijakan pembelajaran di kelas. Dari dokumen kurikulum yang diamati, tercatat bahwa silabus dan RPP telah mengadopsi kebutuhan kurikulum dengan pendekatan ilmiah (scientific).

 

Pengembangan Kurikulum

Dalam rangka pencapaian visi, misi, dan tujuan, sekolah di Kabupaten Bone Bolango telah mengembangkan kurikulum dengan mencantumkan mata pelajaran muatan lokal. Pihak yang terlibat dalam pengembangan kurikulum berasal dari dalam sekolah sendiri, yakni para guru, khususnya guru pengampu mata pelajaran muatan lokal. Para guru setelah mengikuti pelatihan implementasi kurikulum menerapkan penyusunan RPP untuk kurun satu tahun pelajaran. Sekolah yang tidak memiliki sumber daya guru dengan latar belakang yang sama diambilkan dari mereka dengan latar belakang pendidikan yang setara atau relevan, sebagaimana dilakukan di SMAN 1 Tapa. Guru mata pelajaran muatan lokal berasal dari guru berlatar pendidikan biologi. Hal serupa dilakukan di SMKN Bolango Utara. Guru yang mengajarkan mata pelajaran muatan lokal agribisnis, tanaman pangan, dan hortikultura berasal dari guru mata pelajaran biologi. Selain mengembangkan silabus dan RPP, guru-guru tersebut berkonsultasi dengan tokoh masyarakat untuk mengembangkan isi materi pelajaran sehingga apa yang diajarkan di sekolah sejalan dengan kebutuhan di masyarakat.

 

Sumberdaya Guru

Secara umum, guru telah melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensinya. Kompetensi ini diperoleh melalui pengalaman alamiah yang dibekali oleh orangtuanya. Di samping itu, kompetensi guru diperoleh melalui pelatihan kurikulum sehingga guru tersebut mampu memadukan pendekatan pembelajaran ke dalam materi pelajaran muatan lokal budidaya tanaman. Pembelajaran diawali dengan penyiapan RPP dan silabus. Dari RPP kemudian dilaksanakan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran yang tercantum di RPP adalah scientific. Peserta didik direncanakan untuk diajak melakukan kegiatan pengamatan, menanya, bereksplorasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Meskipun tidak ada informasi tentang pelaksanaan pembelajaran, dari hasil pendalaman wawancara diperoleh informasi akurat khususnya dalam penyampaian materi ajar di kelas. Di sini tampak bahwa apa yang dituangkan di RPP relevan dengan pelaksanaan di kelas. Akurasi data ini didukung dengan hasil pengamatan pembelajaran di luar kelas. Hal ini tampak jelas dilakukan oleh siswa di SMKN Bolango Utara. Dominasi pembelajaran sekitar 70% dilakukan di luar kelas, yakni di lahan; sedangkan 30% pembelajaran dilakukan di dalam kelas. Dalam praktik lapangan, guru berkonsultasi dengan para tokoh masyarakat yang merupakan petani jagung. Dalam hal ini, guru difasilitasi sekolah melakukan kemitraan dengan tokoh masyarakat yang memahami budidaya tanaman jagung. Sekolah juga melakukan diskusi tentang kompos dengan pihak Universitas Negeri Gorontalo. Ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan tentang pengelolaan tanaman jagung.

 

Dukungan Sarana dan Prasarana

Dalam pengembangan budidaya tanaman jagung, sekolah secara umum memiliki kelebihan, yakni berada di daerah pegunungan yang mendukung. Namun, lahan untuk pengembangan budidaya sebagai wahana pembelajaran di sekolah terkendala oleh sempitnya lahan. Lahan untuk praktik pembelajaran terbatas pada lahan di sekolah. Tekstur tanah yang tandus belum maksimal dikembangkan untuk diolah menjadi lahan yang subur, bahkan beberapa lahan yang lain berwujud bebatuan. Untuk mengatasi masalah keterbatasan lahan di sekolah, Badan Pusat Informasi Jagung (BPIJ) menyediakan fasilitasi pelatihan dan pembelajaran jagung. UPTD ini menyediakan kurikulum budidaya tanaman jagung, termasuk materi ajarnya. Pembelajaran diawali dengan teori dan selanjutnya praktik di lahan seluas 3 hektare. Di sini, siswa dikenalkan tentang sekitar 50-60 varietas jagung, termasuk pengenalan pengelolaan lahan tandus.

 

Dukungan Sumber Pendanaan

Pelaksanaan pendidikan berbasis keunggulan lokal, khususnya pembelajaran muatan lokal di sekolah, berjalan secara wajar. Karena tidak ada regulasi yang mengikat anggaran untuk pengembangan di sekolah, pengayaan kegiatan pembelajaran dilakukan secara mandiri di sekolah. Khusus di SMKN Bolango Utara, sekolah sudah bekerja sama dengan pihak dunia usaha dan industri dalam hal praktik di lapangan atau praktik kerja industri. Dengan cara ini, sekolah telah diuntungkan dengan tidak mengeluarkan anggaran khusus. Acapkali sekolah hendak mengembangan kemitraan dengan masyarakat tani tentang budidaya tanaman jagung; tetapi ketika masalah dana dibicarakan, hambatan yang dijumpai adalah penganggarannya. Dengan kata lain, sangat sulit untuk mengajak masyarakat mendanai kegiatan pembelajaran yang terkait dengan budidaya tanaman jagung ini. Dengan hadirnya BPIJ, sekolah menyambut positif. Ke depan, sekolah akan mengirimkan guru ke UPTD ini untuk memperdalam dan mengembangkan kompetensi budidaya tanaman jagung. Hal ini dilakukan untuk mempercepat pengembangan kapasitas guru selain mengirimkannya ke PPPPTK.

 

Pengelolaan Mata Pelajaran Keunggulan Lokal

Pelaksanaan pembelajaran muatan lokal dilakukan oleh guru mata pelajaran yang berlatar bidang studi yang relevan. Hal ini diterapkan di SMAN 1 Tapa, Bone Bolango. Guru muatan lokal perikanan dan peternakan sapi berlatar pendidikan biologi. Guru mata pelajaran ini dinilai mampu mengajar mata pelajaran muatan lokal yang serumpun. Untuk meningkatkan kompetensi guru, dilakukan terobosan dengan mengirimkan guru untuk bertanya kepada masyarakat dan ketua komite sekolah untuk mendalami pembibitan. Di samping itu, sarana belajar dilengkapi dengan kegiatan praktik di lapangan. Siswa yang berasal dari Sekolah Menengah Kejuruan dikirimkan ke UPTD untuk belajar langsung tentang budidaya tanaman jagung. Sejak di bangku SD, pembelajaran menekankan penanaman rasa percaya diri tentang jiwa kewirausahaan sehingga mereka tidak merasa malu jika telah lulus, sebagaimana disampaikan oleh Lis, guru SMKN Bolango Utara. Penanaman pengetahuan tentang tanah dan bibit yang baik juga menjadi penekanan dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas.

 

Evaluasi Pelaksanaan

Meskipun pendidikan berbasis keunggulan lokal bukan program yang diatur oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Bone Bolango, pelaksanaan pembelajaran tentang muatan lokal telah berlangsung sejak Kurikulum 2006 (KTSP). SMAN 1 Tapa pernah menjalankan pendidikan berbasis keunggulan lokal, khususnya ternak sapi. Namun hal ini kini sudah terhenti seiring dengan berhentinya pendanaan yang diberikan oleh Direktorat SMA, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Bercermin dari pelaksanaan pembelajaran muatan lokal, secara umum sekolah sudah siap untuk menjalankan pembelajaran muatan lokal. Meskipun demikian, agar respons terhadap pelaksanaan pembelajaran betul-betul mencerminkan kebutuhan masyarakat, perlu dilakukan evaluasi secara menyeluruh.

 

Resolusi Penerapan Muatan Lokal sebagai Mata Pelajaran

Pelaksanaan pendidikan berbasis keunggulan lokal di sekolah-sekolah di Kabupaten Bone Bolango diterapkan melalui mata pelajaran mandiri, yang berupa mata pelajaran muatan lokal. Mata pelajaran muatan lokal ini diberikan selama 2 jam seminggu. Hal ini berlaku di jenjang SMP, SMA, dan SMK; sedangkan pelaksanaan di jenjang SD hanya berlangsung dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Untuk menyiapkan pelaksanaan pembelajaran, sekolah telah secara mandiri menetapkan kebijakan pelaksanaan mata pelajaran muatan lokal. Penerapan kebijakan sekolah terhadap jenis muatan lokal diserahkan kepada sekolah untuk menentukannya. Dinas Pendidikan tidak membatasi jenis muatan lokal budidaya tanaman jagung di sekolah. Namun, secara umum sekolah telah mengembangkannya yang mengarah pada pengembangan potensi daerah. Sebagai daerah dengan latar geografis yang mendukung pengembangan budidaya tanaman jagung, sekolah membidikkan muatan lokal ke arah budidaya tanaman jagung, di samping tanaman hortikultura lainnya. Rujukan pengembangan kebijakan di sekolah ini sejalan dengan kondisi alam dan geografis yang sangat cocok untuk pengembangan tanaman jagung.

 

Penutup

Bone Bolango sebagai salah satu kabupaten penyangga produksi jagung di Provinsi Gorontalo terus melakukan upaya maksimal. Produksi jagung provinsi sebanyak 91.500 ton setahun telah dicanangkan. Untuk mencapai sasaran ini, masyarakat digerakkan melalui beragam cara. Adanya pembentukan kelompok tani jagung sangat menunjang produksi jagung ini. Jika produksi jagung yang digarap oleh setiap kelompok tani terhadap 25 hektare lahan ini ditindaklanjuti kepada para petani lainnya, bisa diperkirakan produksi jagung akan terus meningkat. Kelompok tani jagung ini dikelola melalui sekolah lapang pengendalian hama terpadu yang setiap hektarenya mampu memproduksi 6-7 ton jagung. Kemampuan petani jagung ini tidak serta merta sejalan dengan regenerasi kepada kaum muda. Salah satu kaderisasi yang tepat dilakukan adalah melalui mekanisme sistem pendidikan di sekolah. Lulusan sekolah ke depan harus bisa menjawab tantangan potensi daerah yang belum maksimal dikembangkan. Mata pelajaran muatan lokal khususnya budidaya tanaman jagung merupakan mata pelajaran yang diatur secara formal melalui kebijakan pemerintah daerah. Rujukan peraturan daerah ini tentu mengikat Dinas Pendidikan untuk menjalankannya di satuan pendidikan. Manakala kebijakan ini tidak disiapkan dengan baik, tidak menutup kemungkinan akan terjadi penurunan potensi jagung daerah.

Ditinjau dari potensi masyarakat yang menguasai budidaya tanaman jagung, bisa dikatakan bahwa masyarakat sudah sangat terbiasa dengan kehidupan petani jagung. Hal ini diperolehnya sejak kecil sebagai warisan yang diturunkan dari orang tuanya. Upaya terus dilakukan oleh sekolah untuk melakukan konsultasi dengan tokoh masyarakat yang menguasasi budidaya tanaman jagung dan mengembangkannya sebagai muatan lokal. Pengembangan kompetensi guru yang mengajar mata pelajaran muatan lokal terus dibenahi. Berkaitan dengan pengembangan muatan lokal budidaya tanaman jagung, para guru mengandalkan pengetahuan alamiah mereka yang diperoleh secara turun-temurun dari orang tuanya. Para guru juga memiliki dasar yang cukup untuk mengampu mata pelajaran muatan lokal ini. Mereka juga memiliki latar pendidikan yang relevan. Dengan melakukan sinergi antarelemen, pengembangan mata pelajaran muatan lokal di sekolah dengan merujuk pada potensi keunggulan lokal daerah akan menjadi realita. Inilah potret kecil pendidikan di Kabupaten Bone Bolango. [ ]

 

Sumber Data dan Rujukan

Anisa Ani – staf Badan Pusat Informasi Jagung (BPIJ), Bone Bolango

Arif Daud – Tokoh dan Ketua Kelompok Tani Jagung

Lily Djau – Kepala SMAN 1 Tapa

Marwah Mahmud – guru SMPN 1 Bulango Utara

Sartin – Kepala SDN 7 Bulango Utara

Wilson Mosionu – Kepala SMKN 1 Bulango Utara

__________. The Community Development Guidelines of the International Cooperation Administration, Community Development Review, December, 1996

http://regionalinvestment.bkpm.go.id


  • 0

Pembelajaran BIPA di Pusat Budaya Indonesia, Dili-Timor Leste: Sebuah Langkah Awal Menebar Visi dan Misi Mulia

Hari Wibowo

Widyaiswara Bahasa Indonesia

PPPPTK Bahasa

 

 

Pengantar

Ketika bertugas mengajar BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutuk Asing) di  Timor Leste, dwiminggu pertama mengajar BIPA di kelas A2 merupakan pengalaman anyar yang luar biasa. Betapa tidak, penulis membelajarkan bahasa Indonesia untuk penduduk Kota Dili dan sekitarnya. Program ini berlangsung selama 18 pertemuan atau 9 minggu, dengan setiap  pertemuan berdurasi 2 jam pelajaran dan setiap jam pelajaran berlangsung  selama 60 menit. Jumlah peserta tidak lebih dari 10 orang. Buku pegangan yang disarankan adalah buku terbitan PPPSDK, buku-buku lain sebagai penunjang, dan beberapa referensi daring.  Melalui tulisan ini, penulis hendak berbagi dengan pembaca mengenai pembelajaran BIPA di Timor Leste dan beberapa masalah yang penulis temui.

 

Deskripsi dan Skenario Pembelajaran

Pemelajar di Timor Leste umumnya sudah mengenal bahasa Indonesia. Mereka mengenal dan masih menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi di pasar  dan menulis skripsi di kampus. Mereka memang sudah lama mengenal karena pernah menjadi bagian NKRI. Namun, sejak jejak pendapat pada 30 Agustus 1999 hingga sekarang mereka tidak lagi memakai bahasa Indonesia sehingga mereka mengalami kesulitan. Pemerolehan bahasa hanya didapat dari hal dengaran yang mereka tangkap dari tontonan TV. Mereka masih menonton dan menyukai sinetron TV Indonesia yang dapat tayang di Dili.  Bahasa Indonesia bukan bahasa baru bagi mereka meski mereka masih kacau dalam berkomunikasi, apalagi kemahiran menulisnya. Mereka pun antuias belajar bahasa Indonesia di PBI.

Sebelum pembelajaran diawali, tempat duduk ditata melingkar agar penulis dan peserta bisa lebih dekat. Materi pembelajaran pembuka adalah tentang Keluarga Besar Saya. Penulis mengajak mereka berbincang-bincang tentang keluarganya, mulai dari nama, keluarga, tempat tinggal hingga aktivitas sehari-harinya. Mereka mengidentifikasi gambar silsilah pada kegitan satu, yakni  membaca; kemudian mereka berdiskusi untuk menjawab pertanyaan perihal silsilah itu. Kosakata seperti bapak-ibu, saudara laki-laki, saudara perempuan, adik/ kakak laki-laki dan perempuan, anak, cucu, dan kakek dapat dipahami dengan baik. Mereka juga sesekali memakai bahasa Tetun (bahasa nasionalnya) untuk menerjemahkannya.

Pada kegiatan dua, mereka mempelajari kosakata yang belum dipahami seperti  ipar, sepupu, dan besan. Mereka memang jarang mendengar ketiga kata tersebut, baik saat interaksi di masyarakat maupun di sinetron TV yang ditontonnya.Penulis pun memberikan penjelasan perihal kosakata tersebut dengan ilustrasi dan contoh.  Pada kegiatan tiga, mereka diminta membaca teks “Inilah Keluarga Saya” lalu membuat silsilahnya pada buku tulis. Setelah itu, mereka menyimak sebuah monolog dan memberi tanda centang pada tugas menyimak pada kegiatan empat. Karena sedikit agak cepat, dengaran monolog diulang sampai tiga kali; sehingga mereka yakin dengan jawabannya sesuai dengan monolog. Pemelajar diminta mewawancarai teman sebelahnya untuk mendapatkan sejumlah informasi berkenaan dengan keluarganya.  Mereka diminta menggambarkan informasi keluarga yang diperoleh dari pasangan yang diwawancarainya.  Mereka mendapat tugas untuk mewawancarai seorang tetangga dan menanyakan silsilah keluarganya. Pada akhir sesi, mereka diminta untuk merefleksikan pembelajaran yang sudah dilakukan dengan menuliskan hal-hal yang diperoleh pada pembelajaran sebelumnya dan hal-apa saja yang perlu dipelajari kembali.

Mengawali pertemuan kedua, pengajar menampilkan silsilah keluarganya melalui tayang yang. Peserta diminta untuk mencermati dan mencoba mendeskripsikan silsilah keluarga pengajar. Setelah itu, mereka diminta membuat paragraf dari sebuah silsilah keluarga pada kegiatan 5 dengan melihat contoh paragraf “Inilah Keluarga Saya” pada kegiatan 3. Secara perlahan mereka melihat silsilah yang ditayangkan  dan menulis paragraf seperti contoh dalam buku. Paragraf yang sudah dibuat dibacakan. Ketika  ada perbaikan mereka menyuntingnya dan menulis kembali dengan baik. Selanjutnya, mereka mendapat tugas membuat silsilah keluarganya pada buku tulisnya yang masih bentuk draf karena ada beberapa nama keluarga yang lupa.  Pada sesi terakhir, mereka diminta membuat tugas menyusun silsilah keluarga dan beberapa paragraf perihal silsilah tersebut pada kerta A3 untuk dibawa pada pertemuan berikutnya.

Mengawali pertemuan ketiga kegiatan 6, pengajar meminta pemelajar menampilkan bagan silsilah keluarganya dan membacakan paragraf perihal hubungan dia dan keluarga besarnya. Pada kegiatan 1, pemelajar diminta membaca teks tentang kegiatan Nirmala dan Ibu Sartika. Mereka menulis pada kartu kata dan menempelkan kegiatan inti Nirmala dan Ibu Sartika di papan tulis; kemudian menjawab tiga pertanyaan, salah satunya siapa yang paling sibuk? Mereka umumnya menjawab Ibu Sartika, tetapi pemelajar mengoreksi jawabannya. Hal ini karena sebenarnya yang sibuk adalah Nirmala. Dia  tidak mempunyai waktu untuk masak makanan sendiri dan sibuk rapat di kantor.

Pada kegiatan 2, pemelajar diajak mencentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan dan tidak sesuai kolom yang disediakan di buku teks, kemudian mereka mengurutkan kegiatan-kegiatan yang tidak pernah, jarang, sering, dan selalu dilakukan. Sebelumnya, pengajar menjelaskan perbedaan pengelompokan frekuensi tersebut. Setelah dikelompokkan, mereka menyusun kalimat aktivitasnya dengan menggunakan kata frekuensinya.

Pada kegiatan 3, mereka mewawancarai pengajar perihal kegiatannya sehari-hari dengan dua pertanyaan. (1) Siapa nama Anda? (2) Apa kegiatan Pak Guru setiap hari? Selanjutnya secara spontan diberikan rincian kegiatan sehari-hari dari  bangun tidur sampai berangkat tidur. Pada kegiatan 4,  mereka menyusun kegiatan gurunya dengan diagram siklus, kemudian  menceritakan diagram tersebut di depan kelas.

Pada kegiatan 5, pemelajar membaca teks “Kegiatan Masa Kecil Saya” dan menjawab pertanyaan, kemudian mendiskusikan kegiatan tersebut agar dimasukkan ke dalam tabel kegiatan. Pengajar membagikan kartu kata hubung kepada pemelajar seperti: setelah itu, sesudah itu, kemudian, selanjutnya, lalu, sebelumnya, dan waktu itu. Pengajar mengajak bermain sambung kalimat dengan menggunakan kata hubung tersebut. Awalnya, mereka mengalami kesulitan menyambung kalimat yang dibuatnya secara bergiliran. Setelah diarahkan, mereka mencoba membuat cerita kegiatan seseorang dengan menggunakan kata hubung tersebut dan kegiatan ini berjalan dengan baik.  Kegiatan ini diulang-ulang agar mereka yakin dengan kalimat yang diucapkannya.

Pada kegiatan 6, pemelajar membaca teks “Kegiatan Arini Wulandari” dan menjawab pertanyaan. Selanjutnya mereka menyusun lima kalimat dengan menggunakan kata sambil.

Ada kejanggalan ketika mereka diminta untuk melafalkannya, sebagaimana dalam  kalimat-kalimat berikut.

(1) saya menyapu halaman sambil menyiram bunga, dan 

(2) saya makan malam sambil minum kopi.

Setelah diberi masukan oleh pengajar,  kedua kalimat tersebut akhirnya diperbaiki menjadi seperti berikut

(1) saya menyapu halaman sambil bernyanyi, dan

(2) saya makan malam sambil membaca koran.

Selanjutnya, mereka menyusun kegiatan Arini ke dalam diagram siklus. Pada sesi terakhir, setelah penyimpulan pembelajaran, pemelajar diminta membuat tugas menceritakan siklus kegiatan Arini dengan dengan kata penghubung yang tepat.

 

Beberapa Masalah dan Solusinya

Pada pembelajaran Unit 1 tentang Keluarga Besar Saya, pemelajar masih belum mengenal beberapa istilah kekerabatan dalam silsilah keluarga, seperti paman, bibi, anak sulung, bungsu, mertua, dan besan. Contoh kata-kata silsilah keluarga tersebut  memang agak sulit dijelaskannya.  Namun, dengan visualisasi simbol laki-laki dan perempuan, mereka dengan mudah memahami hubungan keluarga dengan melihat simbolnya. Berkenaan dengan hal ini, perlu dinyatakan bahwa ada sejenis gaya belajar yang dinamai visual learner, yakni gaya belajar yang lebih banyak memanfaatkan “penglihatan” yang dimiliki oleh pemelajar. Pemelajar denga tipe gaya belajar ini akan  sangat mudah memahami informasi ketika diajarkan dengan menggunakan peta, gambar, skema, tabel atau bahkan siklus.

Pada pembelajaran Unit 2 tentang Kegiatan Sehari-hari, pemelajar menghadapi kesulitan pada permainan menyambung kalimat menjadi paragraf. Setiap pemelajar melanjutkan kalimat dari teman di sebelahnya yang terkadang tidak terduka kalimatnya.  Namun, karena mereka menikmati dan terlihat bahwa kegiatan ini menyenangkan; mereka dapat menyusun dan menyambung kalimat dengan benar. Tujuan pembelajaran pun tercapai.

 

Penutup

Sebagi penutup, ada dua hal yang bisa disampaikan. Pertama, pembelajaran yang sudah dilakukan pada unit satu ini banyak menggali pengalaman dari pemelajar tentang keluarga dan silsilahnya. Pemahaman terhadap silsilah keluarga itu bisa diperoleh dengan jelas apabila silsilah keluarga itu divisualisasikan dengan gambar. Gaya belajar ini sesuai dengan pemelajar yang umumnya memiliki gaya visual. Hal ini karena mereka baru memahami silsilah jika digambarkan di papan tulis.

Kedua, pembelajaran pada unit dua masih juga menggali kegiatan pemelajar sehari-hari dengan memasukkan unsur permainan sambung kalimat untuk membelajarkan kata hubung dan membuat kalimat secara sederhana, sebagaimana dinyatakan oleh Soeparno dalam karyanya Media Pengajaran Bahasa, permainan bahasa bertujuan ganda, yakni  memperoleh kegembiraan dan melatih keterampilan berbahasa tertentu. [ ]


  • 0

Ujian Nasional, Mampukah Menjadi Penyintas Dunia Pendidikan di Indonesia?

Category : Artikel Pendidikan

Ririk Ratnasari

Widyaiswara Bahasa Indonesia

PPPPTK Bahasa

 

Sekelumit Ujian Nasional

Ujian memang menjadi sebuah keniscayaan dalam dunia pendidikan. Ia merupakan salah satu alat ukur untuk mengetahui ketercapaian proses belajar. Di setiap akhir tahun pelajaran di Indonesia akan dilakukan sebuah hajat nasional pendidikan, yaitu Ujian Nasional. Ujian Nasional (UN) merupakan tes standar nasional untuk mencapai kelulusan secara nasional dan merupakan implementasi dari Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 63 yang menyatakan bahwa penilaian dilakukan oleh guru, satuan pendidikan sekolah. Regulasi itu kemudian direvisi menjadi Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2014 dan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015.

Sebelum UN hadir, sistem penilaian pendidikan di Indonesia telah diwarnai dengan berbagai istilah untuk menyebut evaluasi akhir belajar secara nasional, salah satunya Ujian Negara. Istilah Ujian Negara ini digunakan pada periode sebelum tahun 1969, yang berlaku untuk semua mata pelajaran dan ujian pelaksanaannya ditetapkan oleh pemerintah pusat dan seragam di seluruh wilayah Indonesia. Selanjutnya, pada  periode 1972-1982 sistem penilaian pendidikan diubah menjadi Ujian Sekolah. Dalam sistem ini setiap sekolah atau rayon menyusun dan menyelenggarakan ujian akhir masing-masing; pemerintah pusat hanya menyusun pedoman  umum untuk mengendalikan mutu pendidikan serta mendapatkan makna yang “setara” sebagai hasil penilaian pendidikan.

Era selanjutnya, pada rentang 1982-2002 ujian akhir sekolah disebut  Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS). Dalam EBTANAS ini, perangkat soal dikembangkan secara “pararel” untuk mata pelajaran tertentu. Soal mata pelajaran EBTANAS disusun oleh pemerintah pusat sedangkan soal mata pelajaran di luar EBTANAS disusun oleh sekolah atau rayon dan kegiatannya dinamai Evaluasi Belajar Tahap Akhir (EBTA). Kelulusan dari jenjang SD, SMP, dan SMA ditentukan dengan mengombinasikan antara nilai semester I dan nilai semester II serta hasil Nilai EBTANAS Murni (NEM).Pada tahun 2002-2004, EBTANAS diganti dengan penilaian hasil belajar secara nasional dan diberi nama Ujian Akhir Nasional (UAN). Perbedaan mendasar antara UAN dan EBTANAS adalah dalam menentukan kelulusan siswa. Kelulusan siswa pada UAN ditentukan oleh nilai mata pelajaran secara individual. Pada tahun 2005,UAN berubah lagi menjadi UN, yang dikenal hingga sekarang. UN pada masa tersebut berlaku untuk jenjang SMP dan SMA sedangkan untuk SD pemerintah menyelenggarkan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) pada tahun ajaran 2008/2009.

Tahun 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi sempat melontarkan gagasan moratorium UN. Kabar ini cukup menarik, mengingat UN sudah mengakar sebagai bagian evaluasi akhir siswa di setiap jenjang pendidikan; bahkan UN pernah menjadi satu-satunya penentu kelulusan. Ada tiga alasan diusulkannya moratorium tersebut. Pertama, hasil UN tidak mampu meningkatkan mutu pendidikan dan kurang mendorong kemampuan siswa secara utuh. Kedua, cakupan UN juga terlalu luas sehingga sulit diselenggarakan secara kredibel dan bebas kecurangan. Ketiga, UN cenderung membawa proses belajar pada orientasi yang salah karena sifat UN hanya menguji ranah kognitif, mata pelajaran tertentu. Sebagai proses evaluasi yang bersifat massal, sampai saat ini bentuk soal UN adalah pilihan ganda. UN telah menjauhkan diri dari pembelajaran yang mendorong siswa berpikir kritis, analitis, dan praktik-praktik penulisan esai sebagai latihan mengeskpresikan pikiran dan gagasan anak didik.

Selama ini, UN sebagai subsistem penilaian dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP) menjadi salah satu tolok ukur pencapaian SNP dalam rangka penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan. Oleh karena itu, seluruh siswa wajib mengikuti UN untuk mengukur pencapaian kompetensi lulusan siswa secara nasional. Selain itu, hasil UN digunakan sebagai pemetaan mutu program pendidikan dan/atau satuan pendidikan, pertimbangan seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, dan dasar pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan untuk pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan. Sementara itu, bagi daerah hasil  UN dapat dijadikan dasar untuk melakukan pemetaan pencapaian standar peserta didik, satuan pendidikan maupun wilayah. Pemetaan ini dapat digunakan untuk menyusun program pembinaan untuk satuan pendidikan dan wilayah.

Meski UN disebut sebagai salah satu sistem penilaian dan pengukuran hasil belajar siswa, terdapat beberapa negara yang tidak menggunakan ujian secara nasional. seperti Finlandia, Amerika, Jerman, Kanada, dan Australia. Penilaian akhir pendidikan di Finlandia diserahkan kepada guru masing-masing. Pemerintah hanya memfasilitasi guru dengan pelatihan khusus evaluasi. Dalam evaluasi yang dilakukan oleh guru juga tidak digunakan sistem pemeringkatan (ranking) seperti yang selama ini terjadi di Indonesia. Amerika adalah negara lain yang juga tidak melaksanakan ujian secara nasional. Ujian dilaksanakan oleh negara bagian atau sekolah masing-masing. Ujian secara nasional juga tidak dilaksanakan di Jerman. Untuk menilai hasil belajar siswa, evaluasi dilaksanakan secara terus-menerus, komprehensif, dan objektif baik sikap maupun perilaku oleh guru. Berbeda dengan Jerman, Kanada tidak menggelar UN dan untuk melaksanakan penilaian terdapat sebuah lembaga penjamin mutu pendidikan. Kelulusan ditentukan oleh nilai rapor. Negara maju lain yang tidak menggunakan ujian nasional adalah Australia. Di Negara ini, ujian tidak dilakukan secara nasional tetapi dilakukan ujian nagara. Ujian tidak bertujuan menentukan kelulusan siswa, tetapi  menentukan pilihan perguruan tinggi untuk melanjutkan studinya.

Pakar pendidikan dari Amerika Linda Hammond (1994) menjelaskan bahwa nasionalisasi ujian sekolah membuat guru tidak kreatif karena sekolah tidak bisa menciptakan sendiri strategi belajar sesuai dengan perbedaan kondisi sosial, ekonomi, budaya, dan kemajuan teknologi. Sistem pendidikan bergaya atas-bawah (top down) tidak dapat menyelesaikan masalah yang timbul. Jadi, kualitas mereka benar-benar diuji ketika mereka hendak memasuki perguruan tinggi. Tidak ada nilai yang ‘dikatrol’ oleh sekolah atau guru mereka. Negara-negara yang tidak menyelenggarakan UN menggunakan sistem ujian masuk bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke universitas, seperti yang dilakukan oleh pemerintah Amerika. Ujian di negara ini hanya diadakan di tingkat negara bagian. Meskipun demikian, sekolah tidak diwajibkan untuk mengikuti di ujian ini. Sebagai negara yang menjunjung tinggi asas demokrasi, sekolah diberikan kebebasan penuh untuk menentukan materi ujian di tempat mereka masing-masing.

Selain Indonesia, Inggris mengenal sistem ujian nasional. Hasil ujian itu  tidak menyatakan kelulusan siswanya. Semuanya lulus, yang membedakan adalah tinggi rendahnya nilai yang diperoleh setiap siswa. Nilai inilah yang digunakan untuk masuk ke universitas-universitas di Inggris. Tiap universitas tentunya sudah memiliki standar sehingga siswa yang ingin masuk ke Universitas Cambridge, misalnya, harus belajar secara sungguh-sungguh untuk mendapatkan nilai bagus menurut standar kampus itu. Hal inilah yang membedakannya dengan UN di Indonesia. Meskipun menurut Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015 UN bahwa nilai UN tidak lagi menentukan kelulusan, ia tidak digunakan untuk nilai masuk perguruan tinggi. Untuk memasuki perguruan tinggi yang diinginkan, siswa harus mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi.

 

Ujian Nasional 2017

Berita yang dirilis dalam kompas.com pada 19 Desember 2016 menyebutkan bahwa usulan moratorium UN yang pernah diusulkan oleh menteri tidak disetujui oleh presiden melalui rapat di dewan perwakilan rakyat (DPR). Presiden memutuskan UN  tetap dilaksanakan karena melihat hasil-hasil survei yang dilakukan PISA menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia setiap tahun meningkat tajam. Untuk itu, pada 22 Desember 2016 telah diselenggarakan Rakor Ujian Nasional 2017, seperti rilis dalam laman www.kemdikbud.go.id. Dalam kesempatan itu,  menteri menyampaikan bahwa UN tetap dilaksanakan dan ditingkatkan mutunya dengan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) untuk beberapa mata pelajaran. Soal USBN akan dibuat oleh MGMP dan KKG sebagai organisasi profesi untuk menyiapkan para guru di MGMP dan KKG dalam penyusunan soal. Dalam hal ini, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan telah melaksanakan pelatihan dan penulisan kisi-kisi ujian.

Mata pelajaran yang diujikan dalam UN tahun 2017 pada jenjang SMP adalah Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Ilmu Pengetahuan Alam. Untuk SMA ditambah satu mata pelajaran sesuai dengan jurusan atau peminatan siswa, sedangkan untuk SMK ditambah uji teori kejuruan sesuai dengan bidangnya. Sementara itu, untuk USBN mata pelajaran yang diujikan adalah Pendidikan Agama dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Untuk SMP ditambah mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, sedangkan untuk SMA terdapat juga mata pelajaran Sejarah dan tiga mata pelajaran sesuai program studi yang diambil siswa seperti Fisika, Kimia, Biologi untuk jurusan IPA; Ekonomi, Geografi, dan Sosiologi untuk jurusan atau peminatan IPS; dan Bahasa dan Sastra Indonesia, Antropologi, Bahasa Asing untuk jurusan atau peminatan Bahasa. Untuk siswa SMK terdapat uji keterampilan komputer. Dalam UN tahun 2017 siswa memilih satu mata pelajaran, tetapi semua mata pelajaran khas jurusan diujikan dalam USBN. Menurut menteri pendidikan, kalau anak memilih; materi akan lebih dalam, sehingga hasilnya menjadi luas dan mendalam. Kalau hanya tiga mata pelajaran, nanti siswa hanya luas saja, tidak menguasai secara dalam.

USBN dapat dilihat sebagai upaya perbaikan mutu evaluasi. Berbeda dengan UN yang menggunakan jenis soal pilihan ganda dan disiapkan oleh pemerintah pusat; soal USBN  tidak hanya berbentuk pilihan ganda, tetapi juga berbentuk esai. Soal USBN akan disusun oleh pemerintah provinsi untuk jenjang SMA/SMK dan pemerintah kota/kabupaten untuk jenjang SMP. Meskipun demikian, pemerintah pusat akan menyisipkan beberapa pertanyaan jangkar baik pilihan ganda maupun esai yang berfungsi sebagai indikator standar nasional. Sesuai jadwal, UN diselenggarakan pada 3-6 April 2017 untik jenjang SMK dan 10-13 April untuk jenjang SMA/MA. Pelaksanaan UN untuk SMP/Mts dijadwalkan dua gelombang, yakni gelombang pertama pada tanggal 2, 3, 4, dan 15 Mei 2017; dan  gelombang kedua pada tanggal 8, 9, 10, dan 16 Mei 2017.

Sementara itu, untuk meminimalkan kecurangan dan hal-hal negatif lain, UN akan diselenggarakan dengan berbasis komputer (UNBK). Untuk keperluan tersebut, Kabalitbag menyampaikan perlunya kerja sama khususnya resource sharing dalam penggunaan komputer. Saat ini telah terdata sebanyak 12.053 sekolah/madrasah dengan kapasitas total 2.188.947 siswa siap menjadi tempat pelaksanaan UNBK. Dengan jadwal UN SMK, SMA/MA, dan SMP/MTs yang berjalan tidak bersamaan, komputer dapat digunakan secara bergantian. Sekolah/Madrasah dengan jumlah komputer lebih dari 20 buah dan memiliki server dapat ditetapkan menjadi tempat pelaksanaan UNBK.

Ujian nasional, selalu menjadi bahan perbincangan menarik di jagat pendidikan negeri ini. Pro-kontra, menentang-mendukung pelaksanaan UN telah hadir sejak satu dekade lalu. Penghapusan UN bisa jadi akan merupakan sebuah jalan keluar yang baik, tetapi bisa juga menjadi bumerang bila dilakukan secara tergesa-gesa. Penghapusan UN tidak berarti menghilangkan penilaian dalam pendidikan karena penilaian adalah bagian penting dalam pembelajaran.Untuk menyelenggarakan penilaian yang tepat tanpa UN, perlu disiapkan guru dengan pelatihan penilaian secara komprehensif. Dengan demikian, penilaian pembelajaran  yang dilakukan oleh guru benar-benar dapat objektif dan mengukur hasil belajar siswa dengan baik serta tidak ada lagi penilaian yang dikatrol oleh guru. Terkait dengan pelatihan tersebut, PPPPTK memainkan peranan penting. Pilihan lain yang dapat diambil adalah seperti yang dilakukan oleh pemerintah Kanada dengan menjalankan fungsi penjaminan pendidikan dengan baik sehingga kemajuan dan keberhasilan belajar siswa dapat tetap dikontrol. Perjalanan moratorium UN tampaknya masih harus melewati perjalanan panjang nan terjal yang akan bermuara pada sebuah pertanyaan: Mampukah UN mampu menjadi penyintas (survivor) dalam jagat pendidikan di Indonesia? [ ]