Category Archives: Bahasa Arab

  • 0

SEKILAS TENTANG BAHASA ARAB FUSHA (Formal) DAN AMIYAH (Informal)

Category : Bahasa Arab

Dedi Supriyanto, M.Pd.
Widyaiswara Bahasa Arab
PPPPTK Bahasa

Bahasa Arab termasuk bahasa yang banyak digunakan oleh masyarakat di dunia. Banyak pendapat tentang sejarah permulaan munculnya bahasa Arab, pendapat yang paling klasik menyebutkan bahwa bahasa Arab sudah ada sejak zaman Nabi Adam as, dasar dari pendapat ini adalah firman Allah swt. dalam Alquran yakni surah Al-Baqarah ayat 31 yang artinya, “Allah telah mengajarkan Adam pengetahuan tentang segala nama”.

Dalil inilah yang digunakan oleh mereka yang berpendapat bahwa nama-nama benda dan berbagai macam hal atau sifat di dunia ini telah diajarkan oleh Allah kepada Nabi Adam as dengan menggunakan bahasa Arab.

Dalam bahasa Arab dikenal adanya bahasa Arab Fusha (formal/resmi) dan bahasa Arab Amiyah (informal/nonformal/pasaran). Menurut Emil Badi’ Ya’qub, bahasa Arab fusha adalah bahasa yang digunakan dalam Alquran, situasi-situasi resmi, penggubahan puisi, penulisan prosa dan juga ungkapan-ungkapan pemikiran (tulisan-tulisan ilmiah). Bahasa Arab Fusha juga menjadi bahasa pemersatu dan bahasa yang dapat menyelesaikan perselisihan antara bangsa-bangsa Arab karena bahasa ini mempunyai bentuk yang sama di dunia Arab. Bahkan siapapun yang berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Arab Fusha maka mereka akan saling memahami maksud yang disampaikan walaupun orang-orang tersebut berasal dari latar belakang negara yang berbeda. Dengan bahasa Arab ini orang-orang dapat memahami dan berkomunikasi dengan lancar apabila bahasa yang digunakan adalah bahasa Arab Fusha yang sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu nahwu (tata bahasa), sharf (pembentukan kata) dan balaghah (nilai seni bahasa). Bahasa Arab Fusha digambarkan sebagai bahasa Arab yang digunakan masyarakat pada zaman Rasulullah saw. Kini bahasa Arab Fushah sudah menjadi  bahasa internasional yang diresmikan pada 18 Desember 1982 oleh UNESCO (United Nation Education,Scientific and Cultural Organization). Kemudian penetapan tanggal tersebut dijadikan sebagai hari bahasa Arab sedunia. Oleh karena itu bahasa Arab Fusha ragam standar inilah yang kemudian digunakan di negara-negara Arab dan mayoritas kaum muslimin  di seluruh dunia. Secara umum bahasa ini dapat diklasifikasikan dalam dua tingkatan, yaitu bahasa Arab klasik (classical Arabic) yang digunakan dalam bahasa Alquran dan bahasa Arab standar modern (modern standard Arabic) yang digunakan dalam bahasa ilmiah.

Adapun bahasa Arab Amiyah adalah bahasa yang sering digunakan dalam aktivitas sehari hari yang berbentuk informal atau nonformal. Bahasa ini lebih sering disebut dengan bahasa pasaran. Menurut Emil Badi’ Ya’qub, bahasa Amiyah – dikenal juga dengan al-lahjah – adalah bahasa yang digunakan dalam urusan biasa (tidak resmi) dan yang diterapkan dalam keseharian (bahasa gaul). Bahasa Arab Amiyah tidak dapat dilepaskan dari bahasa Arab Fusha, selain itu bahasa Arab ini pun tidak sepenuhnya sesuai dengan kaidah atau tata bahasa arab yang resmi. Bahasa Arab Amiyah di setiap negara juga mempunyai berbagai versi sesuai dengan negara dan daerah yang menggunakan bahasa tersebut, sehingga kita dapat menjumpai ada bahasa Amiyah Saudi Arabia, bahasa Amiyah Sudan, bahasa Amiyah Tunisa, bahasa Amiyah Mesir dan sebagainya. Bahasa ini tidak lain adalah bahasa yang hidup di negara dan daerah tersebut serta digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Adapun istilah-istilah lain yang sering digunakan oleh para ahli bahasa untuk menyebut jenis bahasa Amiyah ini adalah as-Saykal al-Lughawi ad-Daraj, al-Lahjah as-Sya-i’ahal-Lughah al-Muhakkiyah, al-Lughah al-’Arabiyah al-’Amiyah, al-Lahjah ad-Darajah, al-Lahjah al-’Amiyah, al-Lughah ad-Darajah, al-Kalam ad-Daraj, al-Kalam al-’Amiy, dan ada pula yang menyebutnya dengan istilah lughatusy Sya’b.

Perbedaan mendasar antara Fusha dan Amiyah terdapat pada kepatuhan terhadap kaidah-kaidah kebahasaan. Bahasa Arab Fusha sangat memperhatikan kaidah-kaidah nahwu dan sharf, sedangkan bahasa Arab Amiyah tidak memperhatikan hal tersebut. Oleh karena itu penggunaan bahasa Arab Fusha dan Amiyah digunakan dalam forum yang berbeda pula. Perbedaan lainnya di antara bahasa Arab Fusha dan Amiyah adalah dari segi pengucapan dan logat. Tidak jarang bahasa Amiyah ini masih sering muncul ketika penutur asli berkomunikasi menggunakan bahasa Arab Fusha karena memang adanya kebiasaan penggunaan bahasa Amiyah dalam keseharian dan adanya kedekatan/kemiripan bahasa Amiyah dengan bahasa Fusha. Berikut ini contoh beberapa ungkapan bahasa Arab Fusha dan bahasa Arab Amiyah yang digunakan di negara Saudi Arabia dan Mesir. Untuk bertanya “Siapa namamu?” maka dalam bahasa Arab Fusha digunakan ungkapan “Maa Ismuk?”, adapun dalam bahasa Arab Amiyah Mesir digunakan ungkapan “Ismuka eyh?”, sedangkan di Saudi Arabia digunakan ungkapan “Iysy ismak?”. Contoh lainnya untuk bertanya “Di mana Anda tinggal?”, maka dalam bahasa Arab Fusha digunakan ungkapan ”Ayna taskun?”, adapun dalam bahasa Arab Amiyah Mesir digunakan ungkapan “Saakin fein?”, sedangkan di Saudi Arabia digunakan ungkapan “Wein saakin?”. Penulis mengambil contoh ungkapan bahasa Arab Amiyah Saudi Arabia dan Mesir karena umumnya bahasa ini mendominasi pasaran pergaulan orang Arab dan bahasa Amiyah ini lebih mudah dipahami oleh sebagian besar masyarakat di negara Arab tanpa menafikkan bahasa Amiyah negara Arab lainnya.

Dengan demikian tulisan singkat ini diharapkan dapat secara umum mengenalkan dan menggambarkan bahasa Arab Fusha dan Amiyah yang hidup di tengah masyarakat Arab. Sehingga kita tidak kaget bila menjumpai orang-orang Arab berkomunikasi menggunakan bahasa Arab yang mungkin “agak aneh” atau “berbeda” dengan bahasa Arab Fusha yang pernah kita pelajari, padahal sebenarnya mereka sedang berkomunikasi menggunakan bahasa Arab Amiyah (informal/pasaran).


  • 0

Artikel Bahasa Arab

Dedi Supriyanto

Widyaiswara Bahasa Arab
PPPPTK Bahasa

Kegiatan Bahasa Arab di Nusa Tenggara Timur


  • 0

LAPORAN DIKLAT GURU HEBAT BAHASA ARAB SMA/SMK DI MEDAN

Category : Bahasa Arab

Dedi Supriyanto, M.Pd.
Widyaiswara PPPPTK Bahasa
PPPPTK Bahasa

Pada pertengahan bulan Februari 2018 PPPPTK Bahasa sudah bergerak dan memulai kegiatan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) berkaitan dengan peningkatan kompetensi guru bahasa. Salah satu kegiatan tupoksi yang pertama kali diselenggarakan di awal tahun 2018 ini adalah kegiatan Diklat Guru Hebat Bahasa Arab SMA/SMK. Diklat ini dilaksanakan di Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini (BP PAUDNI) Regional I, Jalan Kenanga Raya No. 64, Tanjung Sari, Medan, Sumatra Utara.

Diklat tingkat nasional ini diselenggarakan pada tanggal 19-25 Februari 2018 dan diikuti oleh 30 peserta yang merupakan guru bahasa Arab SMA/SMK dari 6 provinsi di Indonesia. Mereka berasal dari Sumatra Utara (9 guru), Sumatra Barat (12 guru), Aceh (4 guru), Lampung (2 guru), Jambi (2 guru), dan Bangka Belitung (1 guru). Berikut ini nama lengkap para peserta dan asal instansi mereka.

NAMA PESERTA DIKLAT GURU HEBAT BAHASA ARAB

JENJANG SMA/SMK REGION BARAT

19 s.d. 25 FEBRUARI 2018

DI BP-PAUDNI REGIONAL 1 SUMATRA UTARA

No. Nama Instansi Kabupaten/Kota Provinsi
Zulkifli,  S.Ag. SMAN Ubin Kab. Bener Meriah Aceh
Agus Salim, S.Fil.I. SMAN 2 Bukit Kab. Bener Meriah Aceh
3. Subhan, S.Pd.I, M.A. SMAN 1 Delima Kab. Pidie Aceh
Khairul Hadi, S.Pd.I., M.Ed. SMAN Unggul Pidie Jaya Kab. Pidie Jaya Aceh
5. Johan, S.Ag. SMAN 1 Pangkalanbaru Kab. Bangka Tengah Bangka Belitung
6. Makmur, S. Ag. SMAN 7 Muaro Jambi Kab. Muaro Jambi Jambi
7. Redatul Rus’a, S.Pd.I. SMAN 6 Tebo Kab. Tebo Jambi
8. Ukhtia Sari, S.Pd.I. SMAN 12 Bandar Lampung Kota Bandar Lampung Lampung
Ari Budiningsih, S.S. SMAN 10 Bandar Lampung Kota Bandar Lampung Lampung
Asrida, S.Pd.I. SMAN 1 Timpeh Kab. Dhamasraya Sumatra Barat
11. Dafitra, S.Pd.I. SMA YDB Lubuk Alung Kab. Padang Pariaman Sumatra Barat
12. Ria Oktavianita, S.Hum. SMAN 1 Sutera Kab. Pesisir Selatan Sumatra Barat
13. Junita Astuti,S.Pd.I. SMAN 1 Linggo Sari Baganti Kab. Pesisir Selatan Sumatra Barat
14. Mar arif, S.Pd.I. SMAN 4 Sijunjung Kab. Sijunjung Sumatra Barat
15. Reni Handayani, S.Pd I. SMAN 2 Solok Selatan Kab. Solok Selatan Sumatra Barat
16. Dedi Sardianto, M.A. SMAN 5 Solok Selatan Kab. Solok Selatan Sumatra Barat
17. Ben Indones, S.Pd.I. SMAN 1 Solok  Selatan Kab. Solok Selatan Sumatra Barat
18. Awalul Fajri,M.A. SMA 1 Pariangan Kab. Tanah Datar Sumatra Barat
19. Kardinal, S.Pd.I, M.A. SMAN 5 Padang Kota Padang Sumatra Barat
20. Novaliza Muchlis, S.S., S.Pd.I. SMA Muhammadiyah 2 Kota Padang Sumatra Barat
21. Zulpahmi, S.Pd.I. SMA Islam Raudhatul Jannah Kota Payahkumbuh Sumatra Barat
22. Dra. Jamilah SMAN 1 Kualuh Selatan Kab. Labuhanbatu Sumatra Utara
23. H. Akhmad Shabri, Lc. SMA Darussa’adah Kab. Langkat Sumatra Utara
24. Sobirin SMAN 1 Hinai Kab. Langkat Sumatra Utara
25. Muhammad Alfi Syahrin SMA Muhammadiyah 4 Babalan Kab. Langkat Sumatra Utara
26. Nuraini Muhammad, S.Pd.I. SMA Negeri 1 Brandan Barat Kab. Langkat Sumatra Utara
27. Khairul Amin Aulia, S.Pd.I. SMA Negeri 1 Sei Lepan Kab. Langkat Sumatra Utara
28. Riadul Muslim Hasibuan, M.Pd.I. SMAN 1 Hutaraja Tinggi Kab. Padang Lawas Sumatra Utara
29. Bulan Siregar, S.Pd.I. SMAN 5 Padangsidimpuan Kota Padang Sidempuan Sumatra Utara
30. H. Zul Kawahpi Nunut Pasi, Lc. SMA Swasta Pertiwi Medan Kota Medan Sumatra Utara

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala PPPPTK Bahasa, Dr. Hj. Luizah F. Saidi, M.Pd. didampingi oleh Kepala Seksi Data dan Informasi, Bapak Joko Sukaton, S,Pd. Diklat yang berpola 60 jam pelajaran (JP) ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru bahasa Arab SMA/SMK dalam bidang literasi, penguatan karakter dan penilaian. Khusus untuk materi penilaian peserta mendapatkan materi yang berkaitan dengan penyusunan kisi-kisi soal, penyusunan butir soal, analisis butir soal, dan pedoman penskoran. Hal ini juga untuk mempersiapkan dan membekali mereka dalam membuat soal terstandar menghadapi Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) dan ujian sekolah lainnya.

Fasilitator atau narasumber dalam diklat ini adalah widyaiswara dari PPPPTK Bahasa yakni Ibu Vera Aulia Lesmana dan Bapak Dedi Supriyanto. Adapun panitia yang telah banyak membantu adalah Bapak Yusup Nurhidayat dan Ibu Ima Rosyidah dari PPPPTK Bahasa juga dibantu oleh Bapak Dani dari BP PAUDNI Medan.

Semoga semua kegiatan tupoksi lainnya di PPPPTK Bahasa dapat berjalan dengan baik dan lancar, termasuk kegiatan Diklat Guru Hebat Bahasa Arab SMA/SMK yang akan dilaksanakan di LPMP NTB pada tanggal 19-26 Februari 2018 dan di BP PAUDNI, Makassar pada tanggal 11-15 Maret 2018. Salam sukses!


  • 0

KEHIDUPAN MASYARAKAT MESIR Pengalaman Lintas Budaya

Category : Bahasa Arab , Uncategorized

Dedi Supriyanto, M.Pd.
Widyaiswara PPPPTK Bahasa
PPPPTK Bahasa

Bila kita ita berkunjung ke Mesir, selain kita dapat belajar dan mempraktikkan bahasa Arab, tentunya kita juga dapat mengenal lebih dekat budaya masyarakat negeri Piramida ini. Ada beberapa pengalaman empiris yang dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat Indonesia yang ingin berkunjung ke sana. Berikut ini beberapa pengalaman empiris yang terjadi pada penulis selama berada di Mesir. Pengalaman yang menyenangkan, haru, sedih maupun menegangkan.

  1. Menyapa dan menanyakan asal

Secara umum masyarakat Mesir sangat tertarik dan ramah dengan orang asing, termasuk orang asing dari daerah Asia. Di beberapa wilayah yang jarang orang asingnya sepeti di Ismailia (2,5 jam dari Cairo), banyak orang Mesir yang baru pertama kali meilihat penulis kemudian tersenyum lalu menyapa. Bahkan tidak jarang beberapa anak kecil memandang sambil mengikuti penulis lalu penulis pun menyapa dengan bahasa mereka.

Umumnya mereka menyapa dengan bahasa Mandarin yaitu  “Ni haoma?” (“Apa kabar?”), kemudian pengajar menjawab dengan “Ni hao” (kabar baik”) sambil menjelaskan bahwa kami dari Indonesia dan kami beragama Islam, lalu kami menyapa mereka dengan salam “Assalamu’alaikum” dan kemudian mereka tersenyum dan menjawab salam kami. Mereka kadang kaget juga ternyata penulis juga bisa berbahasa Arab.

Adapula di antara mereka yang menanyakan asal penulis dengan bertanya, “Min Shiin?” (“Dari Cina?”),  “Min Yaban?” (“Dari Jepang?”), “Min Malaysia?” (“Dari Malaysia?”), “Min Korea?” (Dari Korea?”), “Min Filipina?” (“Dari Filipna?”). Tentunya kami langsung menjawab “Kami dari Indonesia” atau “Indonesia”. Kemudian mereka menjawab “Oh min Indonesia” (“Oh, dari Indonesia?”), kemudian rata-rata mereka langsung menjawab “Ahsanunnas!” (“sebaik-baik manusia!”). Namun uniknya dari sekian pertanyaan tentang asal jarang sekali yang menanyakan langsung kepada penulis dengan pertanyaan “Min Indonesia?” (“Dari Indonesia?” atau “Anda dari Indonesia?”). Jadi kebanyakan mereka – yang tinggal jauh dari ibu kota Cairo – menebak kita orang Asia dan umumnya bagi mereka Asia itu adalah Cina. Sudah tentu mereka mudah menebak kita orang Asia atau orang Cina karena penampilan fisik kita tidak seperti mereka (orang Arab).

  1. Keinginan warga untuk foto bersama

Banyak pula warga Mesir yang meminta foto bersama penulis, terutama di tempat wisata atau kendaraan umum saat baru pertama kali berjumpa dengan mereka. Mereka meminta dan mengajak penulis untuk swafoto sebagai kenang-kenangan yang indah karena bisa bertemu dangan orang asing yang secara fisik tentunya berbeda dengan mereka. Hal ini membuat penulis tersenyum-senyum, bangga dan bahagia karena merasa diri seperti orang atau artis terkenal yang disanjung dan dipuja-puja.

  1. Sempat dilarang masuk masjid

Pernah suatu kali, saat penulis bersama bersama seorang kawan asal Indonesia ingin masuk masjid dan menunaikan shalat ashar, tiba-tiba dari dalam masjid muncul seorang bapak tua yang melarang kami masuk masjid. Beliau melarang masuk dan meminta kami untuk keluar. Padahal kami belum sempat berkata apa-apa dan baru berdiri di depan pintu masjid. Awalnya kami mengira bahwa masjid ingin ditutup karena sudah tidak ada jama’ah lagi. Untungnya dari dalam masjid juga muncul seorang polisi yang baru saja shalat ashar dan kemudian mengatakan kepada bapak tua tadi bahwa kami berdua ini datang ke masjid karena ingin shalat. Kami pun juga segera menjelaskan kepada bapak tua pengurus masjid tadi bahwa kami muslim dan ingin shalat di dalam masjid. Saat bapak tua tadi tahu bahwa kami muslim dan ingin shalat maghrib lalu dia tersenyum ramah, meminta maaf dan mempersilakan kami untuk shalat. Beliau menunggu kami shalat, bahkan selesai shalat kami diberi hidangan minuman dan kurma oleh beliau. Lalu beliau menanyakan asal kami. Setelah tahu kami dari Indonesia beliau mengatakan “ahsanunnas!” (“sebaik-baik manusia” atau ”orang Indonesia adalah orang-orang yang baik”).

  1. Menjamu tamu dengan banyak makanan

Bila kita bertamu atau diundang makan oleh keluarga atau sahabat dari Mesir maka kosongkan perut atau bersiap-siaplah untuk lapar sebelumnya, karena biasanya mereka menjamu dan menghidangkan makanan untuk tamu dalam porsi besar dan beraneka ragam jenis masakan. Penulis merasa senang namun juga tidak enak bila tidak menghabiskan makanan yang disediakan, karena memang sudah kenyang atau kadang rasa makanan belum sesuai dengan lidah penulis. Bahkan ketika makanan kita hampir habis pun mereka meminta dan bahkan menambahkan ke dalam piring yang sedang kita gunakan, bagi mereka ini suatu penghormatan menjamu tamu. Namun demikian bagi penulis ini adalah suatu latihan alami untuk bisa beradaptasi dengan keluarga dan juga makanan khas Mesir yang beraneka ragam bentuk dan rasanya.

  1. Mujamalah (basa-basi)

Mujamalah adalah ungkapan basa basi. Di antara contoh mujamalah adalah saat kita melakukan transaksi jual beli. Di saat kita membeli barang, sering penjual menolak bayaran kita sambil tersenyum, menggoyangkan tangannya – tanda kita tidak perlu membayar – dan mengatakan “kholi” yang artinya gratis tak perlu membayar. Hal ini sebenarnya hanyalah basa-basi. Ketika kita mengetahui budaya ini maka sudah sewajarnya kita membayar sesuai harga yang telah tertera atau disepakati. Hal ini leih menambah kakraban dan persaudaran manakala penjual berbasa basi dengan mengatakan barang tersebut gratis kemudian kita membayarnya sesuai ketentuan. Artinya kita sama-sama saling diuntungkan karena kita bisa saling menghargai dan menghormati dalam urusan bermasyarakat.

  1. Penggunaan ungkapan “Bukhrah” (Besok/nanti)

Terkadang ada orang Mesir menjanjikan sesuatu kemudian mengatakan “bukhroh”, yang artinya besok/nanti. Kita harus lebih berhati-hati karena belum tentu “bukhroh” di sini artinya besok atau selang satu hari dari hari ini. Misal dalam pengurusan visa, kita  bertanya kepada petugas di sana dengan mengatakan “Imta aljawaz maugud? (Kapan selesai pengurusan paspor/visa?”), apabila petugas menjawab dengan ungkapan “bukhroh” (besok/nanti) maka waspadalah, apalagi bila mereka mengatakan “ba’da bukhroh” (setelah besok), bisa jadi artinya waktu penyelesaian visa semakin tidak jelas kapan akan selesai. Oleh karena itu “bukhroh” ini maksundya ungkapan tentang waktu yang tidak pasti atau belum pasti waktunya entah kapan. Maka tak jarang masyarakat Indonesia yang tinggal di Mesir sering mengingatkan rekan-rekannya sambil bergurau dengan mengatakan, “Hati-hati loh dibukhrohin orang Mesir.” atau “Nggak mau ah dibukhrohin, capek, tidak jelas.”

  1. Penggunaan ungkapan “Quraib” (Dekat)

Bila kita sedang berjalan kaki lalu bertanya kepada orang Mesir, “Ayna Jami’ah Al-Azhar?” (“Di mana kampus Al-Azhar?”), kemudian orang itu menjawab, “quraib!” (dekat!), maka kita jangan langsung memperkirakan dan menyangka bahwa kampus Al-Azhar memang sudah dekat, bisa jadi kampus itu masih jauh. Karena menurut mereka bisa jadi jarak kampus tersebut dari tempat kita bertanya memang dekat namun bagi kita sebenarnya masih jauh bahkan sangat jauh dari kampus Al-Azhar, misalnya masih 5-10 km berjalan kaki atau sekitar 45 menit.

  1. Aktivitas perdagangan umumnya ramai di sore atau malam hari

Masyarakat Mesir pada umumnya memulai aktivitas perdagangan pada waktu siang atau sore hari, kira-kira pukul 13.00 hingga tengah malam atau dini hari. Hal ini perlu kita ketahui agar ketika kita membutuhkan sesuatu kita tahu kapan waktu yang tepat untuk pergi ke tempat perniagaan, warung atau toko. Namun demikian untuk aktivitas perkantoran dan perkuliahan umumnya tetap dimulai sejak pagi hingga siang atau sore hari.

Demikianlah pengalaman empiris penulis selama berada di Mesir ketika berinteraksi langsung dengan masyarakat di sana. Pengalaman berharga ini tentunya dapat memperkaya khazanah pengetahuan dan wawasan kita tentang budaya dan tradisi mayarakat setempat yang tentunya ada perbedaan dengan budaya dan kebiasaan masyarakat kita. Dengan demikian kita bisa lebih menghormati dan menghargai perbedaan budaya yang ada dengan tetap memperhatikan kebiasaaan masyarakat di sana dan menjunjung tinggi rasa persaudaraan.


  • 0

KEHIDUPAN MASYARAKAT MESIR Pengalaman Lintas Budaya

Category : Artikel Umum , Bahasa Arab

Dedi Suprianto

Widyaiswara Bahasa Arab
PPPPTK Bahasa

Bila kita berkunjung ke Mesir, selain kita dapat belajar dan mempraktikkan bahasa Arab, tentunya kita juga dapat mengenal lebih dekat budaya masyarakat negeri Piramida ini. Ada beberapa pengalaman empiris yang dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat Indonesia yang ingin berkunjung ke sana. Berikut ini beberapa pengalaman empiris yang terjadi pada penulis selama berada di Mesir. Pengalaman yang menyenangkan, haru, sedih maupun menegangkan.

  1.    Menyapa dan menanyakan asal

Secara umum masyarakat Mesir sangat tertarik dan ramah dengan orang asing, termasuk orang asing dari daerah Asia. Di beberapa wilayah yang jarang orang asingnya sepeti di Ismailia (2,5 jam dari Cairo), banyak orang Mesir yang baru pertama kali meilihat penulis kemudian tersenyum lalu menyapa. Bahkan tidak jarang beberapa anak kecil memandang sambil mengikuti penulis seraya menyapa dengan bahasa mereka.

Umumnya mereka menyapa dengan bahasa Mandarin yaitu  “Ni haoma?” (“Apa kabar?”), kemudian pengajar menjawab dengan “Ni hao” (kabar baik”) sambil menjelaskan bahwa kami dari Indonesia dan kami beragama Islam, lalu kami menyapa mereka dengan salam “Assalamu’alaikum” dan kemudian mereka tersenyum dan menjawab salam kami. Mereka kadang kaget juga ternyata penulis juga bisa berbahasa Arab. 

Adapula di antara mereka yang menanyakan asal penulis dengan bertanya, “Min Shiin?” (“Dari Cina?”),  “Min Yaban?” (“Dari Jepang?”), “Min Malaysia?” (“Dari Malaysia?”), “Min Korea?” (Dari Korea?”), “Min Filipina?” (“Dari Filipna?”). Tentunya kami langsung menjawab “Kami dari Indonesia” atau “Indonesia”. Kemudian mereka menjawab “Oh min Indonesia” (“Oh, dari Indonesia?”), kemudian rata-rata mereka langsung menjawab “Ahsanunnas!” (“sebaik-baik manusia!”). Namun uniknya dari sekian pertanyaan tentang asal jarang sekali yang menanyakan langsung kepada pengajar dengan pertanyaan “Min Indonesia?” (“Dari Indonesia?”/ “Anda dari Indonesia?”).  Jadi kebanyakan mereka – yang tinggal jauh dari ibu kota Cairo – menebak kita orang Asia dan umumnya bagi mereka Asia itu adalah Cina. Sudah tentu mereka mudah menebak kita orang Asia atau orang Cina karena penampilan fisik kita tidak seperti mereka (orang Arab).

 

2.    Keinginan warga untuk foto bersama

Banyak pula warga Mesir yang meminta foto bersama penulis, terutama di tempat wisata atau kendaraan umum saat baru pertama kali berjumpa dengan mereka. Mereka meminta dan mengajak penulis untuk swafoto sebagai kenang-kenangan yang indah karena bisa bertemu dangan orang asing yang secara fisik tentunya berbeda dengan mereka. Hal ini membuat penulis tersenyum-senyum, bangga dan bahagia karena merasa diri bak orang atau artis terkenal yang disanjung dan dipuja-puja.   

  

3.   Sempat dilarang masuk masjid

            Pernah suatu kali, saat penulis bersama bersama seorang kawan asalIndonesia ingin masuk masjid dan menunaikan shalat ashar, tiba-tiba dari dalam masjid muncul seorang bapak tua yang melarang kami masuk masjid. Beliau melarang masuk dan meminta kami untuk keluar. Padahal kami belum sempat berkata apa-apa dan baru berdiri di depan pintu masjid. Awalnya kami mengira bahwa masjid ingin ditutup karena sudah tidak ada jama’ah lagi. Untungnya dari dalam masjid juga muncul seorang polisi yang baru saja shalat ashar dan kemudian mengatakan kepada bapak tua tadi bahwa kami berdua ini datang ke masjid karena ingin shalat. Kami pun juga segera menjelaskan kepada bapak tua pengurus masjid tadi bahwa kami muslim dan ingin shalat di dalam masjid. Saat bapak tua tadi tahu bahwa kami muslim dan ingin shalat maghrib lalu dia tersenyum ramah, meminta maaf dan mempersilakan kami untuk shalat. Beliau menunggu kami shalat, bahkan selesai shalat kami diberi hidangan minuman dan kurma oleh beliau. Lalu beliau menanyakan asal kami. Setelah tahu kami dari Indonesia beliau mengatakan “ahsanunnas!” (“sebaik-baik manusia”/”orang Indonesia adalah orang-orang yang baik”).    

 

4.  Menjamu tamu dengan banyak makanan

Bila kita bertamu atau diundang makan oleh keluarga atau sahabat dari Mesir maka kosongkan perut atau bersiap-siaplah untuk lapar sebelumnya, karena biasanya mereka menjamu dan menghidangkan makanan untuk tamu dalam porsi besar dan beraneka ragam jenis masakan. Penulis merasa senang namun juga tidak enak bila tidak menghabiskan makanan yang disediakan, karena memang sudah kenyang atau kadang rasa makanan belum sesuai dengan lidah penulis. Bahkan ketika makanan kita hampir habis pun mereka meminta dan bahkan menambahkan ke dalam piring yang sedang kita gunakan, bagi mereka ini suatu penghormatan menjamu tamu.  Namun demikian bagi penulis ini adalah suatu latihan alami untuk bisa beradaptasi dengan keluarga dan juga makanan khas Mesir yang beraneka ragam bentuk dan rasanya. 

 

5.  Mujamalah (basa-basi)

Mujamalah adalah ungkapan basa basi. Di antara contoh mujamalah adalah saat kita melakukan transaksi jual beli. Di saat kita membeli barang, sering penjual menolak bayaran kita sambil tersenyum, menggoyangkan tangannya – tanda kita tidak perlu membayar- dan mengatakan “kholi” yang artinya gratis tau perlu membayar.  Hal ini sebenarnya hasanya basa-basi. Ketika kita mengetahui budaya ini maka sudah sewajarnya kita membayar sesuai harga yang telah tertera atau disepakati. Hal ini leih menambah kakraban dan persaudaran manakala penjual berbasa basi dengan mengatakan ini barang tersebut gratis kemudian kita membayarnya sesuai ketentuan. Artinya kita sama-sama saling diuntungkan karena kita bisa saling menghargai dan menghormati dalam urusan bermasyarakat.   

 

6.  Penggunaan ungkapan “Bukhrah” (Besok/nanti)

Terkadang ada orang Mesir menjanjikan sesuatu kemudian mengatakan “bukhroh”, yang artinya besok/nanti. Kita harus lebih berhati-hati karena belum tentu “bukhroh” di sini artinya besok atau selang satu hari dari hari ini. Misal dalam pengurusan visa, kita  bertanya kepada petugas di sana dengan mengatakan “Imta aljawaz maugud? (Kapan selesai pengurusan paspor/visa?”), apabila petugas menjawab dengan ungkapan “bukhroh” (besok/nanti) maka waspadalah, apalagi bila mereka mengatakan “bada bukhroh” (setelah besok), bisa jadi artinya waktu penyelesaian visa semakin tidak jelas kapan akan selesai. Oleh karena itu “bukhroh” ini maksundya ungkapan tentang waktu yang tidak pasti atau belum pasti waktunya entah kapan. Maka tak jarang masyarakat Indonesia yang tinggal di Mesir sering mengingatkan rekan-rekannya sambil bercanda dengan mengatakan, “Hati-hati loh dibukhrohin orang Mesir.” atau “Nggak mau ah dibukhrohin, capek, tidak jelas.”

 

7.  Penggunaan ungkapan “Quraib” (Dekat)

Bila kita sedang berjalan kaki lalu bertanya kepada orang Mesir, “Ayna Jam’ah Al-Azhar?” (“Di mana kampus Al-Azhar?”), kemudian orang itu menjawab, “quraib!” (dekat!), maka kita jangan langsung memperkirakan dan menyangka bahwa kampus Al-Azhar memang sudah dekat, bisa jadi kampus itu masih jauh. Karena menurut mereka bisa jadi jarak kampus tersebut dari tempat kita bertanya memang dekat namun bagi kita sebenarnya masih jauh bahkan sangat jauh dari kampus Al-Azhar, misalnya masih 5-10 km berjalan kaki atau sekitar 45 menit.  


  • 0

KOSAKATA BARU DALAM BAHASA INDONESIA DAN CONTOH PENGGUNAANNYA DALAM KALIMAT

Category : Bahasa Arab

Penulis :

Dedi Supriyanto
Widyaiswara Bahasa Arab
PPPPTK Bahasa

Kosakata baru dalam bahasa Indonesia kini banyak bermunculan seiring perkembangan bahasa Indonesia dan penggunaannya yang semakin meluas, tidak hanya di dalam negeri namun juga di luar negeri. Banyak pemelajar bahasa Indonesia di luar negeri yang bersemangat mempelajari dan mempraktikkan bahasa Indonesia, bahkan dengan senang hati mereka mencoba menggunakan kosakata baru tersebut untuk berkomunikasi.

Sebagai penutur asli bahasa pemersatu bangsa Indonesia ini maka sudah sewajarnya kita harus mengetahui, memahami dan juga mepraktikkan beberapa kosakata baru yang telah hadir dan memperkaya perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia yang kita cintai ini.

Berikut ini beberapa contoh kosakata baru – yang mungkin masih asing – bagi kita namun sebenarnya sudah resmi digunakan dan pemakaiannya pun juga sudah cukup meluas. Hal ini tidak lepas dari peran Badan Bahasa di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dalam meneliti, mengkaji, menghasilkan dan mempromosikan penggunaan kosakata baru bahasa Indonesia serta kemudian memasyarakatkannya melalui berbagai sarana, antar lain melalui Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V tahun 2016. Beberapa kosakata baru yang kini beredar sebagian besar diambil dari bahasa asing dan juga bahasa daerah kita.

Dalam artikel ini, penulis juga memberikan contoh penggunaan kosakata baru tersebut dalam beberapa kalimat sehingga diharapkan pembaca dapat memahami dan menggunakannya dalam komunikasi sehari-hari baik secara lisan maupun tulisan.

  1. Posel atau surel

Posel merupakan akronim dari pos elektronik sedangkan surel adalah akronim dari surat elektronik. Kedua kata ini dapat digunakan untuk menggantikan kata email  (electronic mail) yang biasanya masih banyak digunakan dalam berkomunikasi. Contoh kalimat: Saya ingin membuka posel/surel pagi ini.

  1. Fail

Fail bermakna dokumen atau berkas. Kata ini digunakan untuk menggantikan kata file yang juga terkadang masih digunakan masyarakat kita dalam berkomunikasi. Contoh kalimat: Anda dapat menyimpan fail ini di dalam folder tersendiri.

  1. Gawai

Gawai bermakna kerja/pekerjaan. Arti kata lainnya adalah peranti elektronik. Kata gawai ini dapat digunakan untuk menggantikan kata gadget. Ada pula arti lain dari kata gawai, yakni perkakas/alat. Beberapa alat elektronik seperti laptop, tablet, dan komputer juga dapat dikatakan sebagai gawai. Saat ini, media cetak juga mulai menggunakan kata gawai untuk menggantikan kata gadget. Contoh kalimat: Saya menggunakan gawai untuk berkomunikasi dengan pelanggan baru.

  1. Ponsel

Ponsel merupakan akronim dari telepon seluler. Kata ini dapat menggantikan kata handpohone yang umumnya masih sering digunakan oleh masyarakat kita ketika berkomuniaksi dalam bahasa Indonesia. Contoh kalimat: Nomor ponsel saya yang baru adalah 081284038730.

  1. Protofon

Protofon adalah radio-telepon jalan. Kata ini bisa digunakan untuk menggantikan kata Handy Talkie (HT). Contoh kalimat: Petugas itu menggunakan protofon untuk menghubungi rekannya di tempat lain.

  1. Laman

Laman merupakan halaman utama dari suatu web yang diakses oleh pengguna pada awal masuk ke situs tersebut. Kata laman dapat kita gunakan untuk mengganti kata home page. Seiring perjalanan waktu kata laman juga mengalami perluasan makna, tidak hanya untuk halaman depan dari suatu situs/web tapi juga digunakan menyangkut konten sebuah situs atau web. Oleh karena itu ada yang menggunakan kata laman secara umum sebagai pengganti dari istilah website. Contoh kalimat: Mulai hari ini kantor kami memiliki laman baru dan silakan kunjungi www.sinarmataharipagi66.com.

  1. Daring dan Luring

Kata daring merupakan akronim dari “dalam jaringan” dan kata ini untuk menggantikan kata “online.”  Sedangkan luring adalah akronim dari “luar jaringan” dan digunakan untuk menggantikan kata “offline.” Contoh kalimat: Kami akan menghubungi Anda saat daring dan bukan pada saat Anda luring.

  1. Pranala/hipertaut
  1. Ikon

Ikon merupakan gambar atau simbol kecil pada layar komputer yang melambangkan sesuatu (program, peranti, dan sebagainya) yang diaktifkan dengan cara diklik. Arti lainnya adalah lukisan atau gambar. Kata ini dapat digunakan untuk menggantikan kata icon. Contoh kalimat: Beragam ikon dapat kita temukan di desktop ini.

  1. Tetikus

Tetikus adalah peranti periferal pada komputer yang menyerupai tikus, gunanya antara lain untuk mengendalikan kursor saat menggunakan komputer atau laptop. Kata ini dapat digunakan untuk menggantikan kata mouse. Contoh kalimat: Saya selalu menggunakan tetikus saat bekerja menggunakan laptop.    .

  1. Swafoto

Swafoto berarti potret diri yang diambil sendiri dengan menggunakan ponsel atau kamera digital, biasanya untuk diunggah ke media sosial. Kata ini digunakan untuk menggantikan kata selfie. Contoh kalimat: Sebagian besar kawan di kantor kami tidak suka swafoto.

  1. Saltik

Kata saltik merupakan akronim dari salah tik, digunakan untuk menggantikan kata typo. Contoh kalimat: Beberapa kali dia melakukan saltik saat menullis pesan untuk saya.

  1. Pratayang

Dalam bidang komputer kata ini bermakna tinjauan pendahuluan, dalam bidang umum dan perfilman bermakna penayangan sesuatu, terutama film, drama, dan sebagainya kepada orang tertentu sebelum masyarakat umum menontonnya. Kata ini digunakan untuk menggantikan kata preview. Contoh kalimat: Pembicara itu menjelaskan pratayang sebelum menyampaikan paparan lebih mendalam.

  1. Salin dan tempel

Salin dan tempel adalah proses menyalin data  dari suatu sumber, meninggalkan sumber data tidak berubah, dan menulis data yang sama di tempat lain. Salin tempel digunakan untuk mengganti frasa copy paste yang kadang masih sering digunakan dalam komunikasi bahasa Indonesia. Contoh kalimat: Saya sudah menemukan menu salin dan tempel dalam program ini

  1. Pindai

Kata pindai dapat diartikan mengopi atau menyalin gambar atau teks ke dalam komputer dalam bentuk digital. Kata ini dapat digunakan untuk mengganti kata scan. Contoh kalimat: Semua calon mahasiswa sudah memindai ijazah asli mereka.

  1. Peladen

Peladen bermakna orang yang meladeni (pelayan), pengantar naskah khusus ke ruang redaksi, dan juga bermakna komputer dalam jaringan yang berfungsi sebagai penyedia layanan ke komputer lain. Kata ini digunakan untuk menggantikan kata server. Contoh kalimat: Pak Amir memiliki banyak cara untuk memutakhirkan peladen di kantor kami.

  1. Derau

Derau bermakna tiruan bunyi gemuruh hujan dibawa angin. Arti lainnya adalah bunyi, getaran atau isyarat (sinyal) yang tidak diinginkan atau gangguan yang terjadi dalam sistem transmisi telekomunikasi yang memengaruhi kualitas informasi. Kata ini dapat digunakan untuk menggantikan kata noise. Contoh kalimat: Adanya derau membuat informasi yang diterima menjadi tidak jelas.

  1. Narahubung

Narahubung adalah orang yang bertugas sebagai penghubung dan penyedia informasi untuk pihak luar, biasanya dalam kegiatan seminar, diklat, konferensi, dan sebagainya. Kata ini digunakn untuk mengganti kata contac person. Contoh kalimat: Semua peserta dapat berkomunikasi dengan narahubung kegiatan diklat ini setiap saat.

  1. Pelantang

Pelantang adalah alat untuk melantangkan suara. Kata ini digunakan untuk menggantikan kata microphone. Contoh kalimat: Beliau seharusnya menggunakan pelantang agar suaranya lebih jelas dan terdengar.

  1. Pewara

Pewara adalah pembawa acara dalam suatu upacara, kegiatan, pertemuan, dan sebagainya. Kata ini digunakan untuk menggantikan kata MC (Master Ceremony). Contoh kalimat: Pewara acara dalam kegiatan ini adalah Ibu Sinta Dwi Trikora, M.Pd.

  1. Pramusiwi

Pramusiwi adalah wanita yang bekerja pada suatu keluarga dengan tugas merawat bayi atau anak-anak kecil keluarga yang bersangkutan. Kata lain untuk pramusiwi adalah pengasuh anak. Kata ini bisa digunakan untuk menggantikan kata babby sitter. Contoh kalimat: Pramusiwi baru di rumah kami bernama Khadijah.

  1. Perundungan

Perundungan adalah proses, cara dan perbuatan merundung atau perlakuan yang bisa membuat orang lain merundung/tersakiti/teraniaya. Kata ini dapat digunakan untuk menggantikan kata Bully. Contoh kalimat:  Anak itu selalu mendapat perundungan di lingkungan rumahnya.

Demikianlah beberapa contoh kosakata baru dan penggunaannya dalam bahasa Indonesia, semoga kita terbiasa menggunakan kosakata baru tersebut seraya mengurangi atau meminimalkan penggunaan kosakata yang berasal dari bahasa asing ketika kita berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Mari kita ingat slogan “Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing.” Jayalah bahasa Indonesia!


  • 0

Antara Logika dan Bahasa: Mengenal Filsafat Bahasa dalam Kitab Fi Falsafah al Lughah

Ahmad Ghozi

Widyaiswara Bahasa Arab

PPPPTK Bahasa

 

 

Pendahuluan

Manusia sesuai fitrahnya  disebut al insan hayawan naatiq, yakni hewan yang mampu berpikir. Melalui berpikir, manusia dapat melampaui segala sesuatu dan menyelesaikan masalah serta dapat memikirkan pengertian-pengertian abstrak. Hanya saja, kemampuan berpikir manusia dengan akal dalam persepsi dan pengetahuan itu terbatas.  Fitrah berpikir  manusia tidak akan berkembang secara otomatis kecuali jika dirangsang untuk diberdayakan. Al Washilah (2010: 158) menyatakan, pemberdayaan kemampuan berpikir dapat dilakukan secara eksternal seperti  melalui penciptaan lingkungan yang kondusif, atau secara internal melalui penyadaran diri melalui pendidikan; sehingga seseorang secara bertahap memiliki kemampuan berpikir itu. Secara umum, setiap perkembangan dalam idea, konsep dan sebagainya dapat disebut berpikir. Karena itu, menurut Suriasumantri (1984: 52) definisi paling umum dari berpikir adalah perkembangan idea dan konsep. Tak dapat dimungkiri, eksistensi berpikir merupakan keniscayaan bagi manusia. Menurut Ma’ruf Zuraiq (1993: 89), ada empat hal sebelum ada proses berpikir, yaitu (1) kejadian atau masalah, (2) kesan, (3) (berfungsinya) indera, dan (4) pengetahuan sebelumnya. Lalu menurutnya apakah berpikir itu?  Banyak orang yang keliru menyatakan makna berpikir itu. Mereka berkata bahwa berpikir itu adalah apa yang terlintas dalam proses akal manusia. Banyak juga pertanyaan, dengan apa Anda berpikir? Ketika hilang ingatan nama teman,  lalu berpikir atau mengingatnya. Ketika melihat pemandangan indah, lalu berpikir, hal itu berarti Anda memersepsikannya. Dengan demikian, berpikir di kalangan banyak orang adalah menghayal, atau mengingat, atau memersepsikan, dan sebagainya.

Tuntutan dalam berpikir adalah bahwa manusia merasakan adanya masalah; lalu mencari cara penyelesaiannya, yang merupakan tujuan dari usaha manusia untuk mencapainya sehingga sampailah ia pada pemecahan akhir untuk lalu melakukannya. Berkaitan dengan hal ini,  Zuraiq (1993: 90) menyatakan rumusan tentang berpikir itu demikian.

سلسلة مقصودة من المعاني ذات طبيعة رمزية تثار في المجال الذهني, عندما يواجه الإنسان مشكلة معينة أو يريد القيام بعمل معين .

“Proses kesinambungan dari makna-makna yang memiliki karakteristik simbolik yang memengaruhi bidang kognitif”. (Zuraiq,

Salah satu yang kita pikirkan adalah bahasa. Apa yang kita ucapkan biasanya adalah yang kita pikirkan. Berpikir tentang bahasa memang memerlukan renungan secara tersendiri. Proposisi dalam bahasa dan kenyataannya dibahas secara mantik (logika). Tulisan ini menguraikan sisi filsafat bahasa secara umum.

 

Masalah Proposisi Umum

Menurut Russel, terdapat proposisi-proposisi bukan turunan (atomic) dan bukan bertingkat (compund proposition), di antaranya adalah proposisi umum atau apa yang kadang disebut oleh pandangan deskriptif proposisi universal (kulliyah) dan kadang pula disebut  proposisi kategoris (hamliyah). Teori logika deskriptif modern menetapkan bahwa proposisi umum ini bukanlah kategoris (hamliyah), melainkan syartiyah muttashilah. Russel berpendapat bahwa setiap proposisi bertingkat (tarkibi) atau percobaan (tajribi) mengungkapkan  suatu kejadian umum. Dengan demikian, proposisi umum harus mengungkapkan kejadian. Pertanyaannya,  apakah ada kejadian-kejadian yang umum itu?

Russel mengkhawatirkan pernyataan dengan kejadian umum. Jika pandangan ini ditolak, seharusnya apakah yang ditolak eksistensi proposisi umumnya, itu tidak benar. Atau, apakah asumsi keberadaan proposisi umum percobaan (tajribi) tetapi tidak ada hubungan dengan dunia nyata, maka itu  juga tidak berterima. Beginilah masalah proposisi umum: kapan benar dan kapan bohong. Adalah benar jika sesuai dengan kejadian, dan bohong jika kejadian tidak sesuai dengan pernyataannya. Untuk itu, kejadian di sini akan menjadi umum namun apakah kejadian umum itu? Kejadian-kejadian itu selalu parsial (juz’iyyah) seperti “Socrates minum racun”, “Serangan Napoleon tahun 1815”, “Zaid tidak hadir”, dan sebagainya. Menurut Russel yang meragukan bahwa proposisi umum kadang berkaitan erat antarproposisi, pandangan ini tertolak, karena jika dikatakan:

Jika setiap A adalah B merupakan ringkasan bagi sejumlah besar proposisi tunggal (singular proposition), seperti Muhammad adalah manusia dan mati, Zaid manusia dan mati, umar dan sebagainya; sesungguhnya proposisi umum lebih banyak terlepas dari proposisi tunggal karena mengandung proposisi yang lain pula yakni:

“Semua ini adalah setiap A”.

Para ahli logika berbeda pendapat dengan Russel dalam menyikapi hal ini. Wittgenstein berpendapat bahwa proposisi umum bukanlah selain kumpulan proposisi parsial yang berkaitan tetapi ia kembali dan menolak pendapat ini. Ahli logika Inggris, Ramsey menyatakan bahwa proposisi umum tidak digambarkan dengan benar atau salah, hanya saja kita menganggapnya kaidah yang membimbing dalam pemberian informasi misalnya: “setiap arsenik adalah racun”, maka sesungguhnya itu menjustifikasi bahwa “arsenik adalah racun”.

Kita temukan bahwa ahli logika dan filosof Jerman Karel Popper menyatakan bahwa proposisi umum itu menggambarkan benar dan bohong karena tunduk pada kriteria yang memungkinkan berbohong (falsibility), yakni mencari keadaan atau kejadian yang membohongi proposisi umum. Jika kita temukan hal ini, propisisi umum ini bohong. Jika kita tidak menemukan, propisisi umum itu benar adanya.

Dari hal ini kita temukan sebagian ahli logika yang berpendapat bahwa proposisi umum bisa benar dan bohong dan sebagiannya menolaknya, sebagaimana Russel mengkhawatirkan pandapat dengan kejadian umum yang menunjukkan proposisi umum meskipun sulit mendeskripsikan kejadian-kejadian tersebut. Jadi, ahli logika tidak menetapkan atas satu pandangan dengan masalah proposisi-proposisi umum : dengan apa dibuat dan kepada apa ditujukan.

 

Struktur Bahasa dan Struktur Kenyataan

Wittgenstein mendorong pembentukan teori logical atomism tentang pernyataan bahwa bahasa adalah gambaran yang mendalam terhadap kenyataan. Bahwa struktur proposisi yang benar itu sesuai dengan struktur kenyataan yang menunjukkannya, wajib ditemukan dalam setiap deskripsi, yakni hubungan satu sama lain antara unsur-unsur deskriptif dan unsur-unsur apa yang mendeskripsikannya, atau menemukan sesuatu yang musytarak antara deskripsi dengan yang mendeskripsikannya kadang tidak muncul kesesuaian ini dari awalnya. Namun, tidak ditemukan sejak awal bahwa antara nautah musiqiyiyah dan lahn musiqi mirip dalam struktur. Meskipun demikian, kemiripan keduanya dapat diterima. Kemiripan ini menyatakan bahwa isim menunjukkan sesuatu yang tunggal dan tertentu, dan bahwa sifat dalam bahasa berkesesuaian dengan sifat yang abstrak bagi sesuatu yang tunggal itu. Begitu pun fi’il menerima hubungan antara satu dengan yang lain. Deskripsi bahasa terhadap kenyataan seperti peta atau tulisan penjelasan atau apa yang membedakan pita musik dan lahn yang dihasilkannya. Russel tidak menyatakan teori ini merupakan deskripsi bahasa (picture theory of language) dan baginya pendapat yang akan dijelaskan nanti. Akan tetapi, agar cocok antara Russel dan pernyataannya harus diyakini bahwa ada jenis kesesuaian antara bahasa dan kenyataan.

 

Rererensi Para Teoretikus

Russel dan Wittgenstein merumuskan teori logical atomism sejak tahun 1912 dan keduanya masih mendukung teori tersebut selama 20 tahun sebagaimana dijelaskan terdahulu, dengan tujuan di antaranya berusaha mengokohkan bahasa ideal simbolik yang jauh dari kekurangan bahasa secara umum,dan menjadikan setiap kosakata terbatas maknanya secara sempurna hingga sampai pada akhir analisis setiap kosa katanya kepada bahasa berupa isim-isim alam, sifat-sifat yang sederhana yang mungkin dapat ditemukan langsung secara hissiy (abstrak), kemudian diderivasikan di antaranya proposisi bertingkat (compound proposition), atau analisis proposisi bertingkat kepada jenis proposisi yang paling sederhana yang tidak disusun kecuali dari isim-isim alam dan sifat-sifatnya. Namun, dapat dijelaskan bahwa proyek bahasa ideal adalah proyek mustahil, bahkan sebagian kritikus menyatakan bahwa Russel tidak menjadi baik dalam keyakinannya dengan kokohnya contoh bahasa tersebut.  Atas dasar itu, para filosof mereferensikan teori tersebut karena sebab-sebab yang berbeda, yakni sebagai berikut. Pertama, alam tercipta dari sejumlah bentuk fakta bertingkat yang mustahil mengembalikannya kepada fakta-fakta dengan bahasa sederhana melalui metode yang dibentuk oleh teori, tetapi kita tidak dapat mendahulukan kriteria bagi yang sederhana dan mutlak, dan tidak membedakan antara sederhana secara mutlak dan yang bertingkat.

Kedua, referensi Russel tentang deskripsi isim alam logis di bawah tekanan teman-temannya para kritikus ketika melihat bahwa ini bukanlah isim alam logis, karena mungkin menjadi ringkas (dalam lingkup teori deskriptif) untuk mendeskripsikan “apa yang ditujukan sekarang” lalu Russel setelah itu memandang bahwa itu menjadi ungkapan setiap isim secara ringkas memiliki kumpulan sifat dan ungkapan sesuatu yang abstrak “struktur kognitif” dari kumpulan sifat itu. Ketiga, terjadi kegagalan dalam menafsirkan proposisi umum dengan jelas berdasarkan hipotesis fakta-fakta yang umum, dan bahwa pembicaraan tentang fakta umum menggambarkan ketidakjelasan yang tidak ada penerapannya dalam fakta, dengan pandangan: bisa kita terima dengan fakta umum atau bisa juga menolaknya. Jika kita menerimanya, kita menerima yang tidak sesuai fakta, dan bila menolaknya berarti kita menolak proposisi umum; padahal itu merupakan kalimat paling wajar dalam bahasa umum dan penolakan itu tidak bisa diterima (Russel dan Wittgenstein).

Keempat, Wittgenstein menemukan kesalahan teori deskripsi bahasa sehingga   bukunya sendiri mendukung teorinya dan sadar kepada satu contoh minimal yang berlawanan dengan teori, yakni bahwa proposisi apapun tentang deskripsi logis tidak menerima fakta apapun. Kelima, Russel tidak bersemangat dengan teori deskripsi bahasa yang dirancang Wittgenstein. Apapun hipotesisnya yang sesuai dengan struktur proposisi dan struktur faktual, sesungguhnya Russel ragu menerima atau menolaknya. Keenam, Wittgenstein berpendapat bahwa penetapan fakta bukanlah fungsi utama dan satu-satunya bagi bahasa. Baginya ada sejumlah besar fungsi seperti memberi perintah, mengungkapkan minat, bermain peran dalam drama, menceritakan hikayat, memberi hormat, berterima kasih dan sebagainya. Bahkan ia berpendapat juga bahwa kalimat apapun dalam bahasa tidak memiliki satu makna terbatas tetapi dibatasi makna kata yang digunakan dalam bahasa umum dan memiliki beragam arti dengan beragam penggunaannya dalam situasi berbeda.

 

Simpulan

Ketelitian, kejelasan, dan kebenaran merupakan tiga hal mendasar yang berhubungan dengan tujuan setiap ahli mantik (logika). Russel menyatakan bahwa meski jika tidak mungkin kokohnya kesesuaian yang sempurna antara bahasa dan fakta, sesungguhnya ia yakin bahwa ada jenis kesesuaian yang mendalam yang belum jelas antara struktur bahasa dengan struktur faktanya. Kesadaran para ahli mantik (logika) terhadap sulitnya menerima ketika mereka ingin menafsirkan proposisi umum dan dasar kebenarannya seperti “setiap hewan keadannya hidup” atau “ setiap yang rajin mendapatkan ijazah” dan sebagainya. Kesulitannya bahwa proposisi apapun bisa benar jika terdapat faktanya, dan bisa bohong jika berbeda faktanya, tetapi tidak ditemukan proposisi umum karena setiap fakta adalah juz’iyah (parsial). [ ]

 

Referensi

Al Washilah, Chaedar, 2010. Filsafat Bahasa dan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya

Suriasumantri, Jujun S., 1984. Ilmu dalam Perspektif, Jakarta: Gramedia.

Zuraiq, Ma’ruf, 1993. Ilm al Nafs al Islamy, Damaskus: Dar al Ma’rifah


  • 0

Konsep dan Jenis Frasa dalam Bahasa Arab

Dedi Supriyanto

Widyaiswara Bahasa Arab

PPPPTK Bahasa

 

Pengantar

Istilah frasa dalam bahasa Indonesia kurang populer dalam bahasa Arab utamanya di kalangan para pengkaji nahwu (sintaksis/tata bahasa). Hal ini karena buku-buku sintaksis bahasa Arab pada umumnya tidak mengemukakan definisi tentang frasa. Bahkan tidak ada bab atau subbab yang menggunakan istilah frasa sebagai kepala pembahasan. Meskipun demikian, itu tidak berarti bahwa dalam bahasa Arab tidak ada konsep tentang frasa. Frasa dalam bahasa Arab dapat disamakan dengan istilah murakkab  (konstruksi). Dalam buku-buku nahwu banyak dibahas berbagai konstruksi yang pada dasarnya merupakan konstruksi frasa, misalnya: jar-majrur, na’at man’ut, dan idhafah. Selain itu, dalam Jami’ud Duruus Al-Arabiyyah karya  Al-Ghalayaini (1987) dikemukakan istilah murakkab yang mencakupi murakkab isnady dan beberapa murakkab lainnya, seperti murakkab athfy, murakkab idhafy, dan murakkab bayany. Berbagai murakkab selain murakkab isnady tersebut  pada dasarnya merupakan konstruksi frasa, dan murakkab isnady adalah konstruksi klausa (Asrori, 2004:3). Tulisan ini memaparkan konsep frasa dan  jenisnya. Pemahaman terhadap makna frasa dalam bahasa Arab dan pengetahuan tentang jenis-jenisnya diperlukan agar kita dapat menganalisis frasa dalam bahasa Arab dengan baik dan benar, serta  tidak salah menggunakannya dalam penerjemahan.

 

Konsep Frasa

Ada beberapa pengertian frasa dalam pandangan para pakar bahasa. Ramlan (1981:16) menyatakan bahwa frasa adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih dan tidak melebihi batas fungsi. Senada dengan Ramlan, Ibrahim (1996:3) menyatakan bahwa frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi klausa. Cook (1971) dalam Tarigan (1986:25) membatasi frasa sebagai satuan linguistik yang secara potensial merupakan gabungan dua kata atau lebih, dan tidak mempunyai ciri-ciri klausa. Selanjutnya, Kridalaksana (1993:32) menyatakan bahwa frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif.  Sementara itu, frasa atau tarkib, sebagaimana dinyatakan oleh Hasanain (1984: 164-165), merupakan gabungan unsur yang saling terkait dan menempati fungsi tertentu dalam kalimat, atau suatu bentuk yang secara sintaksis sama dengan kata tunggal, dalam arti gabungan kata tersebut dapat diganti dengan satu kata saja. Dengan memakai istilah  ibarah, Badri (1986: 28) menyatakan bahwa frasa adalah konstruksi kebahasaan yang terdiri atas dua kata atau lebih, hubungan antarkata dalam konstruksi itu tidak predikatif, dan dapat diganti dengan satu kata saja.

Dari batasan frasa tersebut, dapat dinyatakan bahwa frasa adalah gabungan dari unsur-unsur yang saling berkaitan karena mempunyai peran yang sama dalam kalimat atau menduduki posisi yang sama dalam sintaksis, unsur-unsurnya bisa diganti dengan isim (fi‘l). Secara subtansial tidak ada perbedaan antardefinisi tersebut, karena setiap definisi menetapkan dua hal. Pertama, frasa merupakan satuan gramatik yang terdiri atas dua kata. Kedua, hubungan antarunsur pembentuknya tidak melebihi batas fungsi unsur klausa.  Perhatikan contoh-contoh berikut.

(1)  إله النّاس Tuhan manusia

(2)  مالك يوم الدين  raja hari pembalasan

(3) الرجل الكبير الذى فى الصف lelaki besar yang ada di baris depan

Dari ketiga contoh tersebut, dapat dilihat bahwa meskipun berbeda jumlah kata yang membentuknya, ketiganya berada dalam tataran frasa, artinya unsur unsur yang membentuk setiap konstruksi di atas tidak ada yang berhubungan secara predikatif. Selain berbeda jumlah katanya, unsur pembentuk ketiga frasa di atas pun berbeda. Konstruksi pada contoh (1)  merupakan frasa yang terdiri dari dua unsur yaitu kata إله (Tuhan) dan kata  الناس  (manusia). Konstruksi pada contoh (2) merupakan frasa yang terbentuk dari dua unsur yaitu kata مالك  (raja) dan frasa يوم الدين  (hari pembalasan). Adapun konstruksi pada contoh (3) merupakan frasa yang terbentuk dari dua unsur yang sama sama berupa frasa yaitu frasa الرجل الكبير ( lelaki besar) dan frasa    الذى فى الصف (yang ada di baris depan). Jadi unsur pembentuk frasa dapat berupa kata atau frasa.

 

Jenis frasa

Frasa dapat dikelompokkan berdasarkan (a) tipe strukturnya, (b) kesamaan distribusinya dengan golongan kata, dan (c) unsur pembentuknya. Berdasarkan tipe strukturnya, Ramlan (1981) dan Tarigan (1986) mengelompokkan frasa menjadi dua, yakni frasa endosentris ( غير محضة) dan frasa eksosentris  ( محضة). Frasa endosentris adalah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan salah satu atau semua unsurnya. Tarigan mendefinisikannya sebagai frasa yang mempunyai hulu (pusat atau pokok). Artinya salah satu unsur frasa tersebut merupakan hulu, dan sebagai unsur pusat ia mempunyai kesamaan distribusi dengan frasa. Sebagai contoh, frasa  الطالب الماهر pada klausa  الطالب الماهر ناجح mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, yaitu   الطالب.  Jadi, الطالب merupakan unsur pusat dan الماهر  merupakan atribut. Frasa eksosentris adalah frasa yang tidak mempunyai kesamaan distribusi dengan salah satu unsurnya. Misalnya,  frasa  أمام المدرسة pada konstruksi   الأولاد يلعبون أمام  المدرسة  tidak mempunyai distribusi yang sama dengan unsur unsurnya. Berdasarkan kesamaan distribusinya dengan kategori kata, frasa dikelompokkan menjadi dua jenis, yakni frasa verbal (murakkab fi’ly) dan frasa nonverbal (murakkab ghair fi’ly). Frasa nonverbal dikelompokkan lagi menjadi tiga jenis, (1) yakni frasa nomina (murakkab ismy), dengan contoh الرياضة البدنية مفيدة جدا ; (2) frasa ajektival (murakkab washfy), dengan contoh  الهواالبارد جدا فى هذا اليوم; (3) frasa adverbial (murakkab zharfy), dengan contoh  الشمش تسير إلى الغرب

(Badri, 1986:28)

Berdasarkan unsur pembentuknya, frasa bahasa arab dapat dikelompokkan menjadi 25 jenis, yakni (1) frasa sifat (na’ty), dibentuk oleh nomina sebagai unsur pusat diikuti oleh adjektiva sebagai na‘at (atribut), dengan contoh أخى يجلس فى الصف الثانى;  (2) frasa athfy (koordinatif), berunsurkan nomina diikuti oleh nomina atau verba diikuti oleh verba atau adjektiva diikuti oleh adjektiva, dengan contoh  أتعبم القراءة و الكتاب; (3) frasa badaly (apositif), terdiri atas nomina satu diikuti oleh nomina kedua, dengan contoh جاكرتا عاصمة إندونيسيا مدينة عصرية; (4) frasa zharfy (adverbial), mengandung unsur keterangan, dengan contoh جئت من سورابايا مساء أمسى ; (5) frasa syibhul jumlah (preposisional), berunsurkan preposisi yang dalam bahasa Arab disebutharf jar sebagai penanda diikuti nominal sebagai petanda, dengan contoh أنتظرك أمام المدرسة; (6) frasa manfy (negasional), terdiri atas penegasi yang diikuti oleh verba dan nomina, dengan contoh  الجاهل لا يعرف الجو; (7) frasa syarthy (syarat), berunsurkan penanda syarat sebagai atribut diikuti verba sebagai unsur pusat, dengan contoh  إذا جاء نصر الله; (8) frasa tanfis, tersusun dari verbal sebagai unsur pusat dan didahului oleh penanda waktu tanfis, dengan contoh سوف يحضر الوفد; (9) frasa tauqitat, berunsurkan verba bantu ﻜﻧﺎ dan yang sejenisnya sebagai atribut diikuti oleh verba maupun non verba sebagai unsur pusat, dengan contoh صار أخى يعمل فى هذا البنك; (10) frasa idhafy, berunsurkan nomina dan diikuti oleh nomina, dengan contoh ما عنوانك ؟ ; (11) frasa adady (numerial), berunsurkan bilangan atau adady sebagai unsur pusat diikuti oleh nominal sebagai atribut, dengan contoh أرورك ثلاث مرات ; (12) frasa nida’iy, terdiri atas kata seru (nida‘) sebagai atribut dan diikuti oleh nomina sebagai unsur pusat, dengan contoh أيها الناس اسعوا وعوا ; (13) frasa isyary, berunsurkan nomina sebagai unsur pusat didahului oleh penunjuk (isim isyarah) sebagai atribut, dengan contoh هذه المحفظة لك ; (14) frasa tawkidy, terbentuk dari nomina sebagai unsur pusat diikuti atribut berupa tawkid atau penegas, dengan contoh لقيت محمد نفسه ; (15) frasa mawshuly, di dalamnya mengandung kata sambung (almaushul), dengan contoh الذى ينام فى الفصل جاهل; (16) frasa mashdary (mashdar), terdiri atas penanda masdhar ﺃﻦ/an/ sebagai atribut diikuti oleh verba sebagai unsur pusat, dengan contoh أستطع أن أقرأ اللغة العربية ; (17) frasa tamyizy, berunsurkan mumayyaz, dengan contoh إندونيسيا أكبر البلاد الإسلامية سكانا; (18) frasa istitsna’iy, terbentuk dari pengecualian sebagai atribut diikuti oleh nominal sebagai unsur pusat, dengan contoh لا ريب سوى الله; (19) frasa bayany, berunsurkan dua nomina yang dipisahkan oleh huruf  ﻤﻦ (min), yang nomina pertama berfungsi sebagai atribut diikuti oleh nomina kedua sebagai unsur pusat, dengan contoh شربت كوببا من العصير; (20) frasa naskhy, berunsurkan nomina sebagai unsur pusat didahului oleh penanda naskhy, dengan contoh لعل الأستاذ يحضر; (21) frasa ikhtishashy, berunsurkan dua nomina yaitu nomina satu sebagai unsur pusat dan nominal dua sebagai pengkhusus. Sebagai pengkhusus, nomina dua ber‘irab mansub, dengan contoh نحن المسلمون أمة واحدة; (22) frasa taajjuby, mengandung unsur ta’ajub atau kekaguman, dengan contoh ماأجمل هذا المنظر; (23) frasa muqarabat, berunsurkan verba sebagai unsur pusat dan didahului oleh verba bantu muqarabat yang bermakna “hampir”, dengan contoh كاد يمضر الوقت; (24) frasa syuru’, berunsurkan verba sebagai unsur pusat dan didahului oleh verba bantu syuru’ sebagai atribut, dengan contoh بدأت تتحرك الحافلات; dan (25) rasa raja’ (kata kerja raja), berunsurkan verba ﻨﺪﺮﻚ  sebagai unsur pusat dan didahului verba bantu raja‘ﻋﺴﻰ  sebagai unsur pusat, dengan contoh عسى أن ينفعنا دعاءك

 

Penutup

Sebagai penutup, ada lima hal yang bisa disarikan dari tulisan ini. Pertama, frasa berbeda dengan klausa. Kedua, frasa adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang bersifat tidak predikatif atau tidak melampaui batas fungsi klausa. Ketiga, berdasarkan tipe strukturnya, frasa dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu frasa endosentris dan frasa eksosentris. Keempat, berdasarkan kesamaan distribusinya dengan kategori kata, frasa dikelompokkan menjadi lima jenis, yaitu frasa verbal, frasa nominal, frasa adverbial, frasa bilangan, dan frasa depan. Kelima, berdasarkan unsur pembetuknya terdapat 25 jenis frasa. [ ]

 

Referensi

Asrori, Imam. 2004. Sintaksis Bahasa Arab Frasa, Klausa, Kalimat. Malang: Misykat

Badri, K.I. 1986. Bunyatu-l Kalimah wa Nuzhau-l Jumlah (Diktat Perkuliahan Diploma) Jakarta: LIPIA

Hasanain, S.S., 1984. Dirasat fi ilmi-l lughah al Washfy wa At-Tarikhiy, wa Al- Muqaran. Riyadh: Darul Ulum li Thiba’ah wa an-Nasyr.

Kriadalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistic. Jakarta: Gramedia.

Ramlan, M. 1981. Sintaksis. Yogyakarta: Karyono.

Samsuri. 1995. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga.

Tarigan, H.G. 1986. Pengajaran Sintaksis. Bandung: Angkasa.