Category Archives: Bahasa Indonesia

  • 0

Mengenal Nomina dalam Bahasa Indonesia

Ririk Ratnasari

Widyaiswara Bahasa Indonesia

Nomina, dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai  Kata Benda. Nomina merupakan jenis kata yang dipergunakan untuk menujukkan kepada nama orang, nama benda atau sesuatu yang dibendakan baik yang bersifat nyata maupun abstrak. Sebagian besar perbendaharaan kata didominasi jumlahnya oleh kata benda.

Dalam sebuah kalimat bahasa Indonesia, kata benda bisa menduduki posisi sebagai subjek dan bisa pula menduduki posisi objek. Jika kata benda berlaku sebagai sesuatu yang diterangkan maka posisinya sebagai objek kalimat. Sebaliknya apabila kata benda menjadi yang menerangkan akan sesuatu maka posisinya berada sebagai subjek kalimat.

Jenis dan Penggunaan Kata Benda

Berdasarkan jenisnya kata benda dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan sbb:

  1. Kata benda konkret. Kata benda ini merujuk pada benda yang bentuknya dapat digambarkan atau dideskripsikan dengan pancaindera. Contoh: buku, pensil, sekolah, makanan, dll.
  2. Kata benda abstrak. Kata benda ini tidak dapat digambarkan atau dideskripsikan dengan pancaindera. Kata benda jenis ini biasanya dibentuk dari adanya proses afiksasi. Contohnya, kemerdekaan, kebebasan, kebahagiaan, tindakan, dan lain-lain.
  3. Kata benda kolektif. Kata benda yang mengandung arti kumpulan, koleksi, atau jumlah yang majemuk. Contohnya sekelompok manusia, hadirin, majelis, semua, dan lain-lain.
  4. Kata benda khusus. Kata benda jenis ini berkaitan dengan nama tertentu atau yang mewakili suatu entitas tertentu, penanda jenis kata benda ini diawali dengan huruf kapital, seperti nama orang (Difa, Dewi, Rudi, Desi, dll), nama negara (Indonesia, Jerman, Prancis, Arab, dll), nama tempat (Pangkal Pinang, Tanjung Layar, Selayar, Batu Mandi, dll), nama perusahaan/instansi (Garuda Indonesia, PPPPTK Bahasa, Uniliver, Google) dan sebagainya. Kata benda khusus disebut juga kata benda Nama Diri (Proper Noun).
  5. Kata benda umum (common noun). Kata benda umum disebut juga dengan kata benda nama jenis yang menjelaskan suatu kelas entitas. Contoh: salak bali, ubi jepang, kacang bogor, dll.
  6. Kata benda penjumlahan. Kata benda ini terbagi menjadi dua bagian, kata benda terhitung (buku, sepeda, kamus, lemari dan lain-lain ) dan kata benda tak terhitung (tepung, pasir, gula, garam dan lain-lain)

Berdasarkan proses morfologi, kata benda dibagi menjadi :

  1. i, pertanggungjawaban, dll. [RR]
  2. Kata benda dasar/akar. Nomina akar terdiri atas satu morfem akar, yang bersuku satu,dua, atau banyak. Contoh: radio, udara, kertas, dll.
  3. Kata benda turunan. Kata benda turunan dapat terjadi karena adanya proses-proses berikut:
    1. Afiksasi, contoh: kesatuan, penjualan, keuangan, dll.
    2. Reduplikasi, contoh: anak-anak, tetamu, pepatah, dll.
    3. Penggabungan proses, contoh: berkelanjutan, kekanak-kanakan, mobil-mobilan, dll.
  4. Kata benda paduan leksem. Nomina ini dibentuk dari adanya penggabungan dua leksem, misalnya: jejak langkah, loncat indah, sapu tangan, ibu kota, tukang jahit, dll.
  5. Nomina paduan leksem gabungan. Nomina ini dibentuk dari paduan leksim dan afiksasi, misalnya: pendayagunaan, kejaksaan tingg

  • 0

Revitalisasi Bahasa Indonesia berbasis Massive Open Online Courses (MOOC)

Elvira Ratna Sari,S.Pd

Widyaiswara Bahasa Prancis

PPPPTK Bahasa – Jakarta

Jakarta – Malam Anugerah KiHajar baru saja dilaksanakan oleh Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom), Kementerian Pendidikan dan Budaya, Kamis, tanggal 17 November 2017 di Plaza Insani Gedung A Kemdikbud, Senayan, Jakarta, yang dihadiri oleh Menteri Pendidikan dan Budaya Bapak Prof. Muhajir Efendi, MAP. Sebuah perhelatan  besar yang ketujuh kalinya diselenggarakan dengan tema “Pendayagunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam perhelatan akbar itu diberikan apresiasi kepada tokoh-tokoh pengerak pendidikan. Sebuah seminar nasional pun dilaksanakan satu hari sebelumnya bertema “Literasi TIK untuk Penguatan Pendidikan Karakter di Era Digital” (Rabu, 16/11). Kegiatan ini dimeriahkan pula dengan stand-stand pameran terkait IT dari Indosat, Google, Rumah Belajar, Watchdog ID, dan lain-lain.

Semangat literasi TIK tahun ini sungguh digaungkan dalam pendidikan, begitu juga beberapa pelaksanaan seminar nasional dan internasional yang penulis ikuti beberapa waktu lalu yaitu; The Eight Annual International Symposium of Foreign Language Learning (8th AISOFOLL – Seameo Regional for Qitep In Language) di Jakarta (18-19/10) dengan tema “Supporting the Enhancement of Critical Thinking Skills Through Language Teaching[1]. Salah satu subtema simposium ini “Exploring Language Trainees’ Literacy Beliefs and Perceptions Using a Values-Based Approach In Online Teaching and Learning[2](Dr. Suma Parahakaran – Sathya Sai Educare Academy of Malaysia).  Program Persatuan Guru Bahasa Prancis di Indonesia dalam Conférence Internationale sur Le Français (CIF) 2[3] menyelenggarakan kegiatan serupa dengan tema utama “Intelligeance Linguistique et Littéraire à l’Ère Informatique[4], menampilkan salah satu subtema “Réseaux Sociaux et Enjeux Linguistique[5]. Selain itu telah dibukanya kelas visual bahasa Prancis bagi pembelajar asing dengan moda MOOC oleh Centre d’Approches Vivantes des Langues et des Médias[6]  (CAVILAM), Vichy-France[7].

https://www.facebook.com/CAVILAMAllianceFrancaise/videos/10156737496309832/ https://www.youtube.com/watch?v=YSMdYP_X9_s

Saat ini penggunaan internet sudah mendunia bahkan di Asia Tenggara seperti yang diungkapkan dalam wearesocial.com“More than half of Southeast Asia’s population now uses the internet, with the number of internet users around the region growing by more than 30% – or 80 million new users – in the past 12 months alone[1].” Dikatakan bahwa lebih dari separuh populasi Asia Tenggara ssaat ini menggunakan internet, dengan jumlah pengguna internet tumbuh 30% – atau 80 juta pengguna baru – dalam kurun waktu 12 bulan terakhir saja. Hampir semua bidang telah memanfaatkan teknologi informasi sebagai media aktivitasnya. Begitu pun, dunia pendidikan juga tidak luput dari hal ini.

Bertolak dari isu-isu terkini di atas, Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang dimiliki oleh 262 juta penduduk Indonesia berdasarkan statistik Juli 2017[2], berharap bisa menjadi bahasa pemersatu yang kuat untuk mendampingi dan melindungi bahasa-bahasa daerah yang ada, serta berkembang menjadi bahasa utama di forum-forum internasional. Untuk itu kebutuhan literasi TIK sangat diperlukan dalam mengembangkannya. Massive Open Online Courses atau disingkat MOOC merupakan salah satu moda teknologi yang dapat digunakan dan untuk memperkenalkan pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA).

Istilah MOOC ini pertama kali diperkenalkan oleh Stephen Downes dari Universitas Minitoba Canada pada tahun 2008 dengan mengembangkan kuliah tanpa SKS secara online kepada 27 mahasiswanya secara percuma dan kemudian berkembang menjadi 2.200 mahasiswa terdaftar. Stephen Downes mengklasifikasikan model perkuliahan ini sebagai connectivist atau disingkat cMOOC.

Berjalannya tahun banyak universitas di Amerika mulai memanfaatkan moda ini, seperti Stanford University (2011), The Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Harvard University (2012) yang mengembangkan model MOOC dalam bentuk moda pendaftaran dan pengajaran. Umumnya saat itu model yang digunakan masih berbasis video pembelajaran (video lectures) dan test yang menggunakan komputer (computer marked-test). Downes mengklasifikasikan model ini sebagai xMOOC. Pada tahun 2015, lebih dari 4.000 MOOCs berkembang, dan 1.000 diantaranya digunakan oleh institusi di negara-negara Eropa[1].

Pada tahun 2013, seorang penulis Thomas Friedman dalam surat kabar New York Times menyatakan, “….relatively little money, the U.S. could rent space in an Egyptian village, install two dozen computers and high-speed satelite internet access, hire a local teacher as a facilitator, and invite in any Egyptian who wanted to take online courses with the best professors in the world. …I can see a day soon where you’ll create your own college degree by taking the best online courses from the best professors from around the world. …paying only the nominal fee for the certificate of completion. It will change teaching, learning and the pathway to employment[2].” Dengan biaya yang sedikit, Amerika dapat menyewa sebuah tempat di sebuah desa di Mesir, melengkapinya dengan 12 komputer dan akses internet satelit kecepatan tinggi, kemudian menyewa seorang guru lokal sebagai fasilitator, dan mengajak beberapa orang saja yang tertarik kuliah online ini dibimbing oleh profesor terbaik di dunia.  Sekolah mandiri tercipta dengan membebani biaya untuk sertifikat. Sistem ini mengubah gaya belajar-mengajar, dan bahkan menciptakan sebuah pekerjaan baru.

 

Apa itu MOOC?

MOOC, Massive Open Online Courses atau  pembelajaran berbasis daring (dalam jaringan) terbuka dan bersifat masif. Sebuah moda pembelajaran yang didisain bagi pembelajar dalam skala luas. Kata Massive dalam konteks ini adalah ribuan atau ratusan ribu pembelajar dengan mendaftar dan mengikuti sebuah perkuliahan atau dapat dikatakan dalam skala tak terbatas. Makna Open adalah tidak adanya kriteria materi dan syarat seorang pembelajar kecuali kemampuannya untuk mengakses internet, terutama dalam menggunakan video straming. Namun untuk beberapa kasus pada perkuliahan seperti Coursera online (Stanford University), perkuliahan ini dikenai biaya untuk ujian kenaikan tingkat atau mendapatkan sertifikat dan mata kuliah tertentu yang berhak cipta. Bahan perkuliahan MOOC dapat berupaBahan perkuliahan MOOC dapat berupa lectures, readings, dan quizzes yang dipandu oleh mentor atau pengampu (instructors) dalam kelompok-kelompok kelas, grup-grup aktivitas, projek dan kuis. Saat ini, kursus atau pendidikan berbasis MOOC ditawarkan di Amerika. Lebih dari tujuh juta mahasiswa terdaftar dalam pembelajaran secara daring, termasuk program diploma reguler.

 

Fasilitas pada MOOC.

MOOC divariasikan menjadi model xMOOC dan cMOOC (connectivity-MOOC).  xMOOC didisain memiliki kelebihan kemampuan a.l. menyimpan materi digital sesuai kebutuhan, prosedur penilaian otomatis, dan melacak hasil kerja peserta, serta menganalisis data peserta. Berikut fitur-fitur yang umumnya terdapat di xMOOC: video lectures,computer-marked assignments, peer assessment, supporting materials, shared comment/discussion space, discussion moderation, badges or certificates, and learning analytics (video pembelajaran, tugas yang ditandai komputer, penilaian sejawat, bahan bacaan, komentar bersama/ ruang diskusi, moderasi diskusi, lencana atau sertifikat, belajar analisis. Model cMOOC ini diperkaya dengan network learning, dimana pembelajaran ini dikembangkan dengan connections and discussions antarpeserta dengan banyak media sosial seperti webcasts, blogs peserta, tweets, (membahas satu topik yang sama) melalui hashtags dan online discussion forums. Namun model ini biasanya tidak menuntut penilaian secara resmi, mentor/pengampu dapat berupa mentor undangan.  

Mengapa connectivity (c)MOOC?

Saat ini kita mengenal istilah Era millenium (2001-sekarang) dan generasinya disebut Gen-Z High-speed (1996-sekarang) atau Digital Natives yaitu generasi yang hadir dan mengenal teknologi berbasis internet sejak usia dini. Kondisi ini akan mempengaruhi proses belajar mereka, begitu pula guru harus mau beradaptasi dalam gaya dan strategi mengajar dan belajar. Sebelumnya kita mengenal perkembangan aliran belajar behaviorism (1920an), cognitivism (1950an), constructivism(1970an), maka sejalannya waktu berkembang dikenal istilah lain connectivism (2007). Istilah aliran connectivism hadir beberapa tahun ini khususnya pada masyarakat digital (digital society). Pemaknaan aliran belajar ini masih terus berkembang bahkan menjadi perdebatan ahli. Dalam aliran konektivisme ini mengkoneksikan secara kolektif seluruh sumber jaringan untuk menghasilkan sebuah bentuk baru dari pada pengetahuan. Siemens (2004)[1] menyatakan “knowledge is created beyond the level of individual human participants, and is constantly shifting and changing.” Pengetahuan diciptakan melampaui tingkat individual pesertanya dan pengetahuan akan terus berubah.

Downes (2007) secara jelas membedakan aliran connectivisme dengan aliran constructivism, “in connectivism, a phrase like “constructing meaning” make no sense. Connectivism form naturally, through a process of association, and are not ‘constructed’ through some sort of intentional action…Hence, in connectivism, there is no real concept of transferring knowledge, making knowledge, or building knowledge. Rather, the activities we undertake when we conduct practices in order to learn are more like growing or developing ourselves and our society in certain (connected) ways.” Dalam konektivisme, sebuah ungkapan seperti “membangun makna” menjadi tidak masuk akal. Konektivisme terbentuk secara alami melalui proses asosiasi, dan tidak “dibangun” melalui semacam tindakan yang disengaja. Oleh karena itu, dalam konektivisme, tidak ada konsep nyata untuk proses transfer pengetahuan, membuat pengetahuan atau membangun pengetahuan. Sebaliknya, kegiatan yang dilakukan saat ini adalah praktik agar bisa belajar lebih, seperti menumbuhkan atau mengembangkan diri dan masyarakat dengan cara tertentu (terhubung).

Downes (2014) mengidentifikasi empat prinsip desain cMOOC, yaitu autonomy of the learner, diversity, interactivity, and open-ness.  Peserta dapat memilih materi dan keterampilan (berupa besaran tema) yang ingin dipelajari, tidak mengikuti kurikulum resmi pada umumnya. Dengan perangkat cMOOC model ini, jangkauan jumlah peserta dan tingkat pengetahuan mereka dan materi yang bervariasi terpenuhi. Interaksi berupa co-operative learning antarpeserta yang pada akhirnya membentuk pengetahuan, sedangkan model xMOOC pengetahuan diberikan dengan cara lebih formal dari mentor yang merupakan seorang pakar kepada peserta.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemdikbud belum lama ini melaksanakan program diseminasi “Pemuktahiran Acuan Kemahiran Bahasa Indonesia”. Seminar yang berlangsung sehari (10/11) membahas empat (4) hal utama terkait perkembangan bahasa, a.l. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI), Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI). Sebuah laman digital pun telah dibuat untuk memfasilitasi, memperbaharui, mengembangkan, dan menguatkan, serta mengekspos keberadaan bahasa Indonesia agar lebih dikenal di negeri sendiri dan dunia internasional.

BIPA adalah salah satu program pembelajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing. Satu cara yang menjadikan Bahasa Indonesia second language (L2) dipelajari dan digunakan dalam forum-forum internasional. Kedutaan/kosulat Indonesia saat ini aktif mengirimkan secara berkala para pengajar BIPA (moda tatap muka) oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, ke negara-negara a.l. Mesir, Timor Leste, Thailand, Philipina, Eropa, dan lain-lain. Ini merupakan langkah yang tepat mengenalkan bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional. Saat ini perkembangan BIPA masih dalam taraf pembelajaran langsung di kelas, belum dilengkapi dengan bentuk daring (online).

Pada akhirnya sejalan dengan waktu, BIPA membutuhkan penguatan agar dapat eksis karena pengetahuan akan teknologi digital akan terus berkembang dan berubah. Moda Massive Open Online Courses atau MOOC dapat menjadi salah satu pilihan untuk program BIPA ini. Program yang dapat diterapkan pada kelas-kelas lanjutan bagi penutur asing yang ingin memperdalam bahasa Indonesia atau untuk kelas inisiasi bagi yang ingin mengenal bahasa Indonesia, begitu pula dengan pengembangan Uji Kompetensi Bahasa Indonesia (UKBI) yang berstandar internasional.

 Foot Note

[1] Mendukung Peningkatan Keterampilan Berpikir Kritis Melalui Pengajaran Bahasa

[1] Mengeksplorasi Rasa Percaya Diri dan Persepsi Literasi Pelatih Bahasa dengan Menggunakan Pendekatan Berbasis Nilai Dalam Mengajar dan Belajar secara Online

[1] Konferensi Internasional Bahasa Prancis ke-2

[1] Kecerdasan Linguistik dan Sastra di Era Teknologi dan Informasi

[1] Jejaring sosial dan isu-isu linguistik.

[1] Pusat pengembangan pendekatan dan media pembelajaran bahasa

[1] http://www.fondation-alliancefr.org/?p=27996

[1] website : pika.ugm.ac.id/id/newsletter-pika-edisi-november-2017/ – (http://wearesoctial.com)

[1] http://jateng.tribunnews.com/2017/08/02/data-terkini-jumlah-penduduk-indonesia-lebih-dari-262-juta-jiwa

[1] Bates, A.W. Tony. (2016) Teaching in a Digital Age, Guidelines for Designing Teaching and Learning.

[1] Bates, A.W. Tony. (2016) Teaching in a Digital Age, Guidelines for Designing Teaching and Learning

[1] Bates, A.W. Tony. (2016) Teaching in a Digital Age, Guidelines for Designing Teaching and Learning.


  • 0

MEMBANGUN SEMANGAT GURU PEMBELAJAR MELALUI UJI KOMPETENSI GURU

Kemarin cerita, sekarang realita, besok cita-cita. Kalimat tersebut bagi penulis tersusun menjadi sebuah cerita yang menggambarkan Uji Kompetensi Guru (UKG). Cerita tentang UKG digagas dari kegelisahan akan kurangnya mutu pendidikan di Indonesia, yang salah satu komponennya adalah guru. Oleh karena itu, dari hari ke hari, tahun ke tahun berbagai upaya ditempuh untuk meningkatkan kompetensi guru. Regulasi pun disusun untuk menjadi dasar hukum bagi guru melalui pengakuan guru sebagai jabatan profesional yang dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Undang-undang tersebut mendefinisikan profesional sebagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Konsekuen­si profesionalisme tersebut adalah guru harus selalu memperbaharui kemahiran dan kecakapannya. Sebagai tenaga profesional, guru diharapkan dapat meningkatkan martabat dan perannya seba­gai agen pembelajaran. Guna menopang upaya peningkatan kemahiran dan kecakapan guru, pemerintah menyediakan sertifikasi yang berupa tunjangan profesi bagi guru yang diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan pendidikan di Indonesia secara berkelanjutan.

Sertifikasi guru yang dimulai sejak tahun 2007 itu dilaksanakan setelah diterbitkan Permendiknas Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Landasan yang digunakan sebagai dasar penyelenggaraan sertifikasi guru adalah Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. Tahun 2012 merupakan tahun keenam pelaksanaan sertifikasi guru dalam jabatan. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 5 Tahun 2012, guru dalam jabatan yang telah memenuhi persyaratan dapat mengikuti sertifikasi melalui (1) Pemberian Sertifikat Pendidik secara Langsung (PSPL), (2) Portofolio (PF), (3) Pendidik­an dan Latihan Profesi Guru (PLPG), atau (4) Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Apabila hasil penilaian portofolio pe­serta sertifikasi guru dapat mencapai nilai ambang batas kelulus­an (passing grade), dilakukan verifikasi terhadap portofolio yang disusun. Sebaliknya, jika hasil penilaian portofolio peserta sertifikasi guru tidak mencapai nilai ambang batas, guru yang bersangkut­an menjadi peserta pola PLPG setelah lulus Uji Kompetensi Awal (UKA). Untuk itu, UKA hadir sebagai peta penguasaan guru pada kompetensi pedagogis dan profesional yang akan digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam pemberian program pembinaan dan pengembangan profesi guru, serta pemeringkatan calon peserta program sertifikasi guru. UKA wajib diikuti oleh semua guru dalam jabatan baik PNS maupun bukan PNS yang belum mengikuti sertifikasi.

Sementara itu, pada tahun 2012 UKG juga dilaksanakan untuk guru-guru yang telah memiliki sertifikat pendidik. UKG pada waktu itu bertujuan memetakan kompetensi guru dalam bidang profesional dan pedagogis dengan target sasaran sebanyak 1,6 juta guru. Selanjutnya, secara berurutan tahun 2012, 2013, 2014 juga dilaksanakan UKG. Berdasarkan rekap hasil UKG tahun 2012, 2013, dan 2014 yang dirilis oleh infoptk.net diperoleh hasil 192 orang dari total 1,611.251 orang guru yang memiliki skor 90-100, lebih dari 1,3 juta guru memiliki skor 60 dari total 100. Berdasarkan hasil tersebut terlihat seberapa besar kompetensi guru kita. Sementara itu, nilai ambang batas kelulusan dari tahun ke tahun akan terus meningkat. Nilai perhitungan dasar (baseline) UKG tahun 2014: 4,7. Target nilai ambang batas kelulusan UKG tahun 2015 s.d. 2018 berturut-turut adalah 5,5; 6,5; 7,0; dan 8,0.
Tahun 2015 merupakan tahun keempat pelaksanaan UKG. Dalam rilisnya di situs gtk.kemdikbud.go.id, Direktur­ Jen­deral Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Sumarna Surapranata mengatakan bahwa kalau tahun 2012 pelaksanaan UKG belum mempunyai arah yang jelas dan lebih digunakan seba­gai uji coba untuk memotret kondisi guru di Tanah Air. UKG tahun 2015 lebih seperti sensus yaitu semua guru yang memiliki NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan) akan mengikuti Uji Kompetensi.

Tujuannya pun lebih jelas, yaitu setelah diperoleh potret kompetensi pedagogis dan profesional setiap guru yang mengikuti UKG 2015, diberikan tindak lanjut berupa pelatihan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan setiap guru untuk pengembang­an kompetensinya. Target nilai UKG yang ditetapkan peme­rintah, melalui Ditjen GTK tahun 2015 adalah 5,5. Namun peroleh­an nilai UKG tidak berhubungan dengan pemberian tunjangan profesi.

Hasil UKG 2015 akan digunakan untuk memperbaiki kualitas guru. Berdasarkan nilai yang diperoleh setiap guru, Kemdikbud akan mempunyai data yang valid sebagai dasar pelaksanaan program pendidik­an dan pelatihan (diklat). Pasca-UKG tahun 2015 Kemdikbud akan merilis program Guru Pembelajar (GP). Program ini bertujuan membangun sema­ngat belajar para guru. Berawal dari sebuah konsep belajar sepanjang hayat (lifelong learning) yang dikemukakan oleh Edgar Faure dari The International Council of Educational Deve­lopment (ICED), pembelajaran akan mampu membuat manusia tumbuh dan berkembang sehingga berkemampuan, menjadi dewasa dan mandiri. Kemdikbud melalui program GP-nya mengajak guru untuk mentransformasi diri, dari belum/tidak kompeten menjadi kompeten, dari kebergantung­an menjadi mandiri. Transformasi diri ini diharapkan akan terus terjadi sepanjang hayat, asalkan ia tidak berhenti belajar, asal ia tetap menyadari keberadaannya yang bersifat present continuous, on going process, atau on becoming.

Program GP ini akan dibagi ke dalam tiga moda: tatap muka, daring, dan daring kombinasi. Setiap moda mencerminkan kualitas kompetensi atau materi yang harus dikuasai guru. Pembagian setiap moda berdasarkan jumlah modul kompetensi yang nilainya di bawah Kriteria Capaian Minimal (KCM) yaitu 5,5. Setelah mengikuti serangkaian diklat “Guru Pembelajar”, Kemdikbud berharap pada akhir tahun 2018 mendatang, nilai hasil UKG dapat mencapai rata-rata 8,0. Selain sebagai dasar peningkatan kompetensi, hasil UKG tersebut dapat dijadikan titik masuk sertifikasi guru dalam jabatan sekaligus alat kontrol pelaksanaan penilaian kinerja guru.

Dalam Rakor antar-PPPPTK pada 14 Agustus 2015 di PPPPTK Bahasa, Dirjen GTK menegaskan bahwa UKG pen­ting untuk meningkatkan kualitas guru karena fakta menunjukkan masih banyak guru di negeri ini yang harus ditingkatkan kompetensinya secara terus menerus, tidak terkecuali mereka yang telah memegang sertifikat pendidik. Peningkatan kompetensi inilah yang diusahakan melalui UKG dan pelatihan pasca-UKG, sebab guru-guru bukannya tidak pintar, hanya saja sistem pelatihan bagi guru juga harus terus ditingkatkan dan kembali diperketat.
Bercermin dari pendidikan di negara maju, yang meletakkan kekuatan pendidikan pada aktivitas guru yang bermuara pada semangat bahwa guru juga sebagai pembelajar; guru sebagai pemberi ilmu juga siap untuk mencari ilmu. Persoalannya adalah, sebagian besar guru tidak mendisiplinkan dirinya untuk tetap belajar tanpa henti. Sebagian besar guru merasa bahwa setelah memiliki gelar akademis dan telah mengajar bertahun-tahun membuat mere­ka berhenti belajar. Sikap yang demikian membuat mereka tidak lagi mengalami transformasi dalam kariernya, sehingga mereka tidak siap mengantisipasi perubahan-perubahan yang timbul. Sebaliknya, mere­ka yang senantiasa menjadikan proses belajar merupakan bagian dari kehidupannya akan senantiasa siap mengantisipasi perubahan yang timbul. Konsekuensi perubahan yang terjadi akan menjadi titik tolak bagi mereka untuk senantiasa terus belajar – on becoming a learner istilah yang dipakai Andreas Harefa- untuk selalu siap mengantisipasi perubahan yang akan muncul lagi sebab perubah­an merupakan sesuatu yang abadi. Dan, semua upaya pemberdayaan guru, seperti peningkatan kualifikasi akademik, sertifikasi guru, dan uji kompetensi guru dimaksudkan agar guru menjadi manusia yang terus belajar. Jika tidak melahirkan guru sebagai manusia pembelajar, kegiatan pemberdayaan guru apapun bentuk dan jenisnya menjadi mubazir.

Di Finlandia, hanya guru-guru dengan kualitas terbaik yang dapat mengikuti pelatihan terbaik. Profesi guru di Finlan­dia adalah sebuah profesi yang sangat dihargai. Siswa lulusan sekolah menengah terbaik biasanya memilih sekolah-sekolah pendidikan dan hanya satu dari tujuh pelamar yang dapat diterima. Di Finlandia pesaing jurusan pendidikan adalah jurusan hukum dan kedokteran. Pelatihan guru adalah prestise dan prestasi, karena harus melalui seleksi yang sangat ketat selama minimal 11 hari setiap tahunnya. Dan mereka yang dinyatakan lulus seleksi untuk meng­ikuti pelatihan guru rela membayar sendiri pelatih­an guru tersebut. Melalui pelatihan guru, profesional­isme guru dapat diperiksa kembali.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah sudahkah guru kita memiliki semangat yang sama untuk selalu menjadi guru pembelajar. Guru yang senantiasa haus ilmu untuk menyegarkan kembali kompetensinya, memutakhirkan pengetahuan dan keterampilan. Tak bisa dimungkiri bahwa pengetahuan, teknologi, pola asuh, dan pola didik yang juga terus berkembang mengiringi perkembangan peserta didik dan zaman. Dan, untuk mendukung guru pembelajar dukungan penyiapan pelatihan yang lebih dari bagus sangat diperlukan, yang mau tidak mau akan memunculkan pertanyaan selanjutnya, apakah lembaga pelatihan guru kita telah memadai dan guru kita telah memiliki kesadaran yang tinggi sehingga belajar terus adalah sebuah keharusan. Tampaknya belum, lembaga pelatihan guru kita belum sebagaimana kita harapkan, dan kesadaran mutu guru kita masih rendah, ada guyon di kalangan mereka, sebelum kegiatan pelatihan guru dibuka, mereka sudah menanyakan kapan kegiatan pelatihan guru itu ditutup.

Dalam pandangan penulis, inilah upaya baik yang diikhtiarkan oleh pemerintah melalui Ditjen GTK untuk menjembatani perbaikan kompetensi guru dan sekaligus memperbaiki pelaksanaan diklat. UKG 2015 digunakan untuk memetakan kompetensi guru sesuai dengan bidang atau mata pelajaran yang mereka ajarkan di sekolah. Peta kompetensi ini akan sangat membantu bagi pengembangan dan peningkat­an kompetensi para guru. Dari rapor UKG 2015 tersebut dapat terlihat kompetensi manakah yang perlu ditingkatkan dan bekal modul mana yang sesuai untuk meningkatkan kompetensinya. Dengan cara ini, diharapkan pembekalan atau diklat yang diberikan pada para guru lebih tepat sasaran dan tujuan demi memajukan kualitas pendidikan nasional.

Dengan sistem yang demikian, lembaga pelatihan nasional, seperti PPPPTK sebagai unit pelayanan teknis yang membidangi pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan dapat menyiapkan pelatihan yang dapat menjawab kebutuhan guru terkait dengan kompetensi yang akan ditingkatkan. Semangat Guru Pembelajar yang terus terbangun dan terhubung de­ngan layan­an peningkatan kompetensi, berupa penyediaan pelatih­an yang baik diharapkan dapat menumbuhkan sinergi yang harmonis antara guru dan lembaga penyedia pelatihan, yang akhirnya menghasilkan sebuah orkestra pendidikan yang indah. Harmoni tersebut pada akhirnya dapat mewujudkan terget nilai ambang batas kelulusan UKG 2018: 8,0. [ ]


  • 0

Pertarafan Adjektiva Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris pada Tingkat Kualitas

Tri Pujiati

Universitas Pamulang

Tangerang Selatan

 

Pengantar

Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris memiliki perbedaan secara gramatikal, khususnya pertarafan adjektiva pada tingkat kualitas. Berbagai tingkat kualitas secara relatif menunjukkan tingkat intensitas yang lebih tinggi atau lebih rendah. Pemahaman tentang perbedaan pertarafan adjektiva pada tingkatan kualitas kedua bahasa ini akan membantu pembelajar memahami struktur sintaksis pada pemakaian adjektiva secara baik dan benar pada kedua bahasa tersebut. Tulisan ini menguraikan tingkat kualitas dan intensitas dalam pentarafan adjektiva.

 

Bahasan

Ada enam tingkat kualitas atau intensitas dalam pertarafan adjektiva, yaitu (1) tingkat positif, (2) tingkat intensif, (3) tingkat elatif, (4) tingkat eksesif, (5) tingkat augmentatif, dan (6) tingkat atenuatif. Pada tingkat positif, tidak digunakan pewatas untuk membuat kalimat bahasa Indonesia dengan menunjukkan adjektiva. Artinya, tingkat positif ini memerikan kualitas atau intensitas maujud yang diterangkan dan dinyatakan oleh adjektiva tanpa pewatas. Perhatikan contoh berikut ini.

  • Indonesia kaya akan minyak.

Pada contoh (1) tersebut, adjektiva kaya merupakan adjektiva yang dinyatakan dalam bentuk positif. Pada kalimat bahasa Inggris, tingkat positif biasa disebut dengan absolute form. Adjektiva yang digunakan adalah adjektiva tanpa pewatas apapun, sebagaimana contoh berikut.

  • She is beautiful girl

Pada contoh (2) di atas, adjektiva dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan menggunakan tingkatan positif, seperti pada kata beautiful. Untuk menunjukkan ketiadaan kualitas, kalimat dalam bahasa Inggris bisa dimarkahi dengan pemakaian pewatas seperti tidak atau tak, sebagaimana contoh berikut.

  • Tidak ada jalan di Jakarta yang tidak/tak macet.

Pada contoh (3) di atas, ketiadaan pada adjektiva dalam bahasa Indonesia dinyatakan dengan menggunakan tingkatan positif dengan menambahkan negasi tidak atau tak, seperti pada kata tidak macet. Dalam bahasa inggris, ketiadaan kualitas bisa ditandai dengan pemakaian pewatas seperti no atau not, sebagaimana contoh berikut.

  • She is not beautiful

Pada contoh (4) di atas, ketiadaan pada adjektiva dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan menggunakan tingkatan positif dengan menambahkan negasi not seperti pada kata not beautiful.

Tingkat intensif menekankan kadar kualitas atau intensitas, yang dinyatakan dengan memakai pewatas benar, betul, atau sungguh. Perhatikan contoh (5) berikut ini:

(5) Pak Andi setia benar dalam pekerjaannya.

Pada contoh (5) di atas, adjektiva benar merupakan adjektiva yang dinyatakan dengan pewatas seperti benar yang diletakkan setelah adjektiva. Hal ini berbeda dengan pemakaian pertarafan adjektiva pada tingkat intensif dalam bahasa Inggris, pewatas yang digunakan adalah really. Perhatikan contoh (6) berikut.

  • She is really

Pada contoh (6) di atas, adjektiva beautiful merupakan adjektiva yang dinyatakan dengan pewatas really yang diletakkan sebelum adjektiva. Dalam bahasa Indonesia, ketiadaan intensitas atau kualitas yang sungguh-sungguh atau mutlak dinyatakan dengan permakaian pewatas sama sekali, tidak … sama sekali atau tidak … sedikit juga/pun. Perhatikan contoh (7) berikut ini:

  • Kakak saya sama sekali tidak sombong/tidak sombong sama

sekali/sedikit juga/pun

Dalam bahasa Inggris, kata yang dipakai untuk menyatakan ketiadaan intensitas atau kualitas yang sungguh-sungguh atau mutlak dinyatakan dengan not really, sebagaimana contoh (8) berikut.

  • She is not really

Berdasarkan contoh (7) dan (8), dapat dilihat bahwa untuk menyatakan ketiadaan tingkat intensif dalam bahasa Indonesia bisa digunakan pewatas sama sekali, tidak … sama sekali atau tidak … sedikit juga/pun yang diletakkan sebelum adjektiva, atau dengan menggunakan negasi tidak sebelum adjektiva kemudian ditambah pewatas sama sekali/ sedikit juga/pun seperti pada contoh (7). Sementara itu, dalam bahasa Inggris, untuk menunjukkan ketiadaan intensitas, bisa digunakan not really yang diletakkan sebelum adjektiva seperti pada contoh (8).

Tingkat elatif menggambarkan tingkat kualitas atau intensitas yang tinggi, dinyatakan dengan memakai pewatas amat, sangat, atau sekali. Untuk memberikan tekanan yang lebih dan pada tingkat elatif, kadang-kadang digunakan kombinasi dan pewatas: amat sangat … atau (amat) sangat sekali. Perhatikan contoh (9) berikut ini.

  • Sikapnya (amat) sangat angkuh (sekali) ketika menerima kami.

Dalam bahasa Inggris, tingkat elatif dinyatakan dengan menggunakan kata very, seperti contoh (10) berikut.

  • She is very beautiful

Berdasarkan contoh (9) dan (10) dapat dilihat bahwa pertarafan adjektiva bahasa Indonesia dan bahasa Inggris memiliki kesamaan yaitu keduanya ditandai dengan pewatas di depan adjektiva. Untuk menyatakan tingkat elatif dalam bahasa Indonesia bisa digunakan pewatas amat, sangat, atau sekali yang diletakkan sebelum adjektiva; sedangkan dalam bahasa Inggris bisa digunakan very yang diletakkan sebelum adjektiva.

Tingkat eksesif, yang mengacu pada kadar kualitas atau intensitas yang berlebih, atau yang melampaui batas kewajaran, dinyatakan dengan memakai pewatas terlalu, terlampau, dan kelewat. Perhatikan contoh (11) berikut ini.

  • Mobil itu terlalu/terlampau/kelewat

Tingkat eksesif dapat juga dinyatakan dengan penambahan konfiks ke-an pada adjektiva, seperti pada contoh (12) berikut ini.

  • Baju saya kebesaran.

Dalam bahasa Inggris, tingkat eksesif dapat dipakai dengan menggunakan kata so dan too, sebagaimana contoh (13) berikut.

  • This car is so/too

Berdasarkan contoh (11), (12), dan (13), dapat dilihat bahwa pertarafan adjektiva pada tingkat eksesif dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Pada contoh (11), pertarafan adjektiva pada tingkatan ini ditandai dengan pemakaian terlalu, terlampau, dan kelewat yang diletakkan sebelum adjektiva. Namun, pada contoh (12) tingkat eksesif dalam bahasa Indonesia dibentuk dengan afiksasi, yaitu penambahan ke- dan akhiran –an pada adjektiva. Pada tingkat eksesif seperti contoh (13), kalimat bahasa Inggris ditandai dengan pewatas so dan too yang diletakkan sebelum adjektiva.

Tingkat augmentatif menggambarkan naik atau bertambahnya tingkat kualitas atau intensitas, dinyatakan dengan memakai pewatas makin ….makin … makin …, atau semakin. Perhatikan contoh (14) berikut ini.

  • Makin rajin bekerja, Sutarno menjadi makin

Dalam bahasa Inggris, tingkat augmentatif dapat digambarkan dengan menggunakan double comparative, sebagaimana contoh (15) berikut.

  • The more he plays, the more he improves.

Berdasarkan contoh (14) dan (15), dapat dilihat bahwa pertarafan adjektiva pada tingkat augmentatif dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris memiliki perbedaan. Pada contoh (14), pertarafan adjektiva ditandai dengan pemakaian makin ….makin … makin …, yang diletakkan sebelum adjektiva. Pada tingkat augmentatif, kalimat bahasa Inggris ditandai dengan pewatas doble comparative yang diulang pada klausa kedua seperti contoh (15).

Tingkat atenuatif memberikan penurunan kadar kualitas atau pelemahan intensitas, dinyatakan dengan memakai pewatas agak atau sedikit. Perhatikan contoh (16) berikut ini.

  • Gadis yang agak/sedikit malu itu diterima jadi pegawai.

Pada adjektiva warna, tingkat atenuatif dinyatakan dengan bentuk ke—an yang direduplikasi. Berikut adalah contohnya.

  • Warna bajunya kekuning-kuningan.

Tingkat atenuatif dalam adjektiva bahasa Inggris menggunakan kata about dan approximately. Perhatikan contoh (18) berikut.

  • His hair is approximately

Dari contoh (16), (17), dan (18), dapat dilihat bahwa pertarafan adjektiva pada tingkat atenuatif dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris memiliki perbedaan. Pada contoh (16), pertarafan adjektiva ditandai dengan pemakaian agak atau sedikit yang diletakkan sebelum adjektiva. Pada contoh (17), tingkat atenuatif dalam bahasa Indonesia dibentuk dengan afiksasi, yaitu penambahan ke- dan akhiran –an pada adjektiva warna. Pada tingkat augmentatif, kalimat bahasa Inggris ditandai dengan pewatas about dan approximately sebelum adjektiva seperti contoh (18).

 

Penutup

Ada tiga hal yang bisa dirangkum untuk menutup tulisan ini. Pertama, pentarafan adjektiva dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dari segi kuantitas memiliki kesamaan dan perbedaan dalam pembentukan adjektiva dan pewatas. Kesamaan pada pertarafan adjektiva bahasa Indonesia dan bahasa Inggris terletak pada posisi pewatas adjektivanya, karena pewatas adjektiva berada sebelum adjektiva itu sendiri. Sementara itu, perbedaannya terletak pada pembentukan pertarafan adjektiva dalam bahasa Indonesia, yang bisa ditambahkan konfiks ke- dan –an pada adjektivanya.  Kedua, pada tingkat positif, dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan tentang pemakaian adjektiva baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia.

Ketiga, pembelajar bahasa Indonesia atau bahasa Inggris perlu memahami pembentukan adjektiva tersebut sesuai dengan fungsi dan pemakaiannya. Tulisan ini dapat membantu pembelajar bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris sebagai bahasa kedua untuk memahami perbedaan dan kesamaan antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia sehingga mempermudah dalam berkomunikasi baik secara lisan maupun tertulis dengan menggunakan adjektiva bertaraf. [ ]

 

 

Referensi

Alwi, Hasan. Dkk. 2004. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga.  Jakarta: Balai Pustaka

Alexander, L G. 2008. Fluency in English. Yogyakarta: Kanisius.

Azar, Betty Scrampfer. 1989. Understanding and Using English Grammar second edition. New Jersey: Prentice Hall.

________. 1992. Fundamentals English Grammar second edition. New Jersey: Prentice Hall.

Frank, Marcella. 1972. Modern English a practical reference guide. New Jersey: Prentice Hall.


  • 0

Pembelajaran BIPA di Pusat Budaya Indonesia, Dili-Timor Leste: Sebuah Langkah Awal Menebar Visi dan Misi Mulia

Hari Wibowo

Widyaiswara Bahasa Indonesia

PPPPTK Bahasa

 

 

Pengantar

Ketika bertugas mengajar BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutuk Asing) di  Timor Leste, dwiminggu pertama mengajar BIPA di kelas A2 merupakan pengalaman anyar yang luar biasa. Betapa tidak, penulis membelajarkan bahasa Indonesia untuk penduduk Kota Dili dan sekitarnya. Program ini berlangsung selama 18 pertemuan atau 9 minggu, dengan setiap  pertemuan berdurasi 2 jam pelajaran dan setiap jam pelajaran berlangsung  selama 60 menit. Jumlah peserta tidak lebih dari 10 orang. Buku pegangan yang disarankan adalah buku terbitan PPPSDK, buku-buku lain sebagai penunjang, dan beberapa referensi daring.  Melalui tulisan ini, penulis hendak berbagi dengan pembaca mengenai pembelajaran BIPA di Timor Leste dan beberapa masalah yang penulis temui.

 

Deskripsi dan Skenario Pembelajaran

Pemelajar di Timor Leste umumnya sudah mengenal bahasa Indonesia. Mereka mengenal dan masih menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi di pasar  dan menulis skripsi di kampus. Mereka memang sudah lama mengenal karena pernah menjadi bagian NKRI. Namun, sejak jejak pendapat pada 30 Agustus 1999 hingga sekarang mereka tidak lagi memakai bahasa Indonesia sehingga mereka mengalami kesulitan. Pemerolehan bahasa hanya didapat dari hal dengaran yang mereka tangkap dari tontonan TV. Mereka masih menonton dan menyukai sinetron TV Indonesia yang dapat tayang di Dili.  Bahasa Indonesia bukan bahasa baru bagi mereka meski mereka masih kacau dalam berkomunikasi, apalagi kemahiran menulisnya. Mereka pun antuias belajar bahasa Indonesia di PBI.

Sebelum pembelajaran diawali, tempat duduk ditata melingkar agar penulis dan peserta bisa lebih dekat. Materi pembelajaran pembuka adalah tentang Keluarga Besar Saya. Penulis mengajak mereka berbincang-bincang tentang keluarganya, mulai dari nama, keluarga, tempat tinggal hingga aktivitas sehari-harinya. Mereka mengidentifikasi gambar silsilah pada kegitan satu, yakni  membaca; kemudian mereka berdiskusi untuk menjawab pertanyaan perihal silsilah itu. Kosakata seperti bapak-ibu, saudara laki-laki, saudara perempuan, adik/ kakak laki-laki dan perempuan, anak, cucu, dan kakek dapat dipahami dengan baik. Mereka juga sesekali memakai bahasa Tetun (bahasa nasionalnya) untuk menerjemahkannya.

Pada kegiatan dua, mereka mempelajari kosakata yang belum dipahami seperti  ipar, sepupu, dan besan. Mereka memang jarang mendengar ketiga kata tersebut, baik saat interaksi di masyarakat maupun di sinetron TV yang ditontonnya.Penulis pun memberikan penjelasan perihal kosakata tersebut dengan ilustrasi dan contoh.  Pada kegiatan tiga, mereka diminta membaca teks “Inilah Keluarga Saya” lalu membuat silsilahnya pada buku tulis. Setelah itu, mereka menyimak sebuah monolog dan memberi tanda centang pada tugas menyimak pada kegiatan empat. Karena sedikit agak cepat, dengaran monolog diulang sampai tiga kali; sehingga mereka yakin dengan jawabannya sesuai dengan monolog. Pemelajar diminta mewawancarai teman sebelahnya untuk mendapatkan sejumlah informasi berkenaan dengan keluarganya.  Mereka diminta menggambarkan informasi keluarga yang diperoleh dari pasangan yang diwawancarainya.  Mereka mendapat tugas untuk mewawancarai seorang tetangga dan menanyakan silsilah keluarganya. Pada akhir sesi, mereka diminta untuk merefleksikan pembelajaran yang sudah dilakukan dengan menuliskan hal-hal yang diperoleh pada pembelajaran sebelumnya dan hal-apa saja yang perlu dipelajari kembali.

Mengawali pertemuan kedua, pengajar menampilkan silsilah keluarganya melalui tayang yang. Peserta diminta untuk mencermati dan mencoba mendeskripsikan silsilah keluarga pengajar. Setelah itu, mereka diminta membuat paragraf dari sebuah silsilah keluarga pada kegiatan 5 dengan melihat contoh paragraf “Inilah Keluarga Saya” pada kegiatan 3. Secara perlahan mereka melihat silsilah yang ditayangkan  dan menulis paragraf seperti contoh dalam buku. Paragraf yang sudah dibuat dibacakan. Ketika  ada perbaikan mereka menyuntingnya dan menulis kembali dengan baik. Selanjutnya, mereka mendapat tugas membuat silsilah keluarganya pada buku tulisnya yang masih bentuk draf karena ada beberapa nama keluarga yang lupa.  Pada sesi terakhir, mereka diminta membuat tugas menyusun silsilah keluarga dan beberapa paragraf perihal silsilah tersebut pada kerta A3 untuk dibawa pada pertemuan berikutnya.

Mengawali pertemuan ketiga kegiatan 6, pengajar meminta pemelajar menampilkan bagan silsilah keluarganya dan membacakan paragraf perihal hubungan dia dan keluarga besarnya. Pada kegiatan 1, pemelajar diminta membaca teks tentang kegiatan Nirmala dan Ibu Sartika. Mereka menulis pada kartu kata dan menempelkan kegiatan inti Nirmala dan Ibu Sartika di papan tulis; kemudian menjawab tiga pertanyaan, salah satunya siapa yang paling sibuk? Mereka umumnya menjawab Ibu Sartika, tetapi pemelajar mengoreksi jawabannya. Hal ini karena sebenarnya yang sibuk adalah Nirmala. Dia  tidak mempunyai waktu untuk masak makanan sendiri dan sibuk rapat di kantor.

Pada kegiatan 2, pemelajar diajak mencentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan dan tidak sesuai kolom yang disediakan di buku teks, kemudian mereka mengurutkan kegiatan-kegiatan yang tidak pernah, jarang, sering, dan selalu dilakukan. Sebelumnya, pengajar menjelaskan perbedaan pengelompokan frekuensi tersebut. Setelah dikelompokkan, mereka menyusun kalimat aktivitasnya dengan menggunakan kata frekuensinya.

Pada kegiatan 3, mereka mewawancarai pengajar perihal kegiatannya sehari-hari dengan dua pertanyaan. (1) Siapa nama Anda? (2) Apa kegiatan Pak Guru setiap hari? Selanjutnya secara spontan diberikan rincian kegiatan sehari-hari dari  bangun tidur sampai berangkat tidur. Pada kegiatan 4,  mereka menyusun kegiatan gurunya dengan diagram siklus, kemudian  menceritakan diagram tersebut di depan kelas.

Pada kegiatan 5, pemelajar membaca teks “Kegiatan Masa Kecil Saya” dan menjawab pertanyaan, kemudian mendiskusikan kegiatan tersebut agar dimasukkan ke dalam tabel kegiatan. Pengajar membagikan kartu kata hubung kepada pemelajar seperti: setelah itu, sesudah itu, kemudian, selanjutnya, lalu, sebelumnya, dan waktu itu. Pengajar mengajak bermain sambung kalimat dengan menggunakan kata hubung tersebut. Awalnya, mereka mengalami kesulitan menyambung kalimat yang dibuatnya secara bergiliran. Setelah diarahkan, mereka mencoba membuat cerita kegiatan seseorang dengan menggunakan kata hubung tersebut dan kegiatan ini berjalan dengan baik.  Kegiatan ini diulang-ulang agar mereka yakin dengan kalimat yang diucapkannya.

Pada kegiatan 6, pemelajar membaca teks “Kegiatan Arini Wulandari” dan menjawab pertanyaan. Selanjutnya mereka menyusun lima kalimat dengan menggunakan kata sambil.

Ada kejanggalan ketika mereka diminta untuk melafalkannya, sebagaimana dalam  kalimat-kalimat berikut.

(1) saya menyapu halaman sambil menyiram bunga, dan 

(2) saya makan malam sambil minum kopi.

Setelah diberi masukan oleh pengajar,  kedua kalimat tersebut akhirnya diperbaiki menjadi seperti berikut

(1) saya menyapu halaman sambil bernyanyi, dan

(2) saya makan malam sambil membaca koran.

Selanjutnya, mereka menyusun kegiatan Arini ke dalam diagram siklus. Pada sesi terakhir, setelah penyimpulan pembelajaran, pemelajar diminta membuat tugas menceritakan siklus kegiatan Arini dengan dengan kata penghubung yang tepat.

 

Beberapa Masalah dan Solusinya

Pada pembelajaran Unit 1 tentang Keluarga Besar Saya, pemelajar masih belum mengenal beberapa istilah kekerabatan dalam silsilah keluarga, seperti paman, bibi, anak sulung, bungsu, mertua, dan besan. Contoh kata-kata silsilah keluarga tersebut  memang agak sulit dijelaskannya.  Namun, dengan visualisasi simbol laki-laki dan perempuan, mereka dengan mudah memahami hubungan keluarga dengan melihat simbolnya. Berkenaan dengan hal ini, perlu dinyatakan bahwa ada sejenis gaya belajar yang dinamai visual learner, yakni gaya belajar yang lebih banyak memanfaatkan “penglihatan” yang dimiliki oleh pemelajar. Pemelajar denga tipe gaya belajar ini akan  sangat mudah memahami informasi ketika diajarkan dengan menggunakan peta, gambar, skema, tabel atau bahkan siklus.

Pada pembelajaran Unit 2 tentang Kegiatan Sehari-hari, pemelajar menghadapi kesulitan pada permainan menyambung kalimat menjadi paragraf. Setiap pemelajar melanjutkan kalimat dari teman di sebelahnya yang terkadang tidak terduka kalimatnya.  Namun, karena mereka menikmati dan terlihat bahwa kegiatan ini menyenangkan; mereka dapat menyusun dan menyambung kalimat dengan benar. Tujuan pembelajaran pun tercapai.

 

Penutup

Sebagi penutup, ada dua hal yang bisa disampaikan. Pertama, pembelajaran yang sudah dilakukan pada unit satu ini banyak menggali pengalaman dari pemelajar tentang keluarga dan silsilahnya. Pemahaman terhadap silsilah keluarga itu bisa diperoleh dengan jelas apabila silsilah keluarga itu divisualisasikan dengan gambar. Gaya belajar ini sesuai dengan pemelajar yang umumnya memiliki gaya visual. Hal ini karena mereka baru memahami silsilah jika digambarkan di papan tulis.

Kedua, pembelajaran pada unit dua masih juga menggali kegiatan pemelajar sehari-hari dengan memasukkan unsur permainan sambung kalimat untuk membelajarkan kata hubung dan membuat kalimat secara sederhana, sebagaimana dinyatakan oleh Soeparno dalam karyanya Media Pengajaran Bahasa, permainan bahasa bertujuan ganda, yakni  memperoleh kegembiraan dan melatih keterampilan berbahasa tertentu. [ ]


  • 0

Bahasaku, Bahasamu…

Ririk Ratnasari

Widyaiswara Bahasa Indonesia

PPPPTK Bahasa

 

 

“Batas duniaku adalah batas bahasaku,” kalimat yang disampaikan oleh Wittgenstein, filsuf bahasa yang lahir di Wina, Austria ini begitu menggelitik, karena begitulah realitas bahasa, yang bisa menembus batas dunia.  Dari ucapan Witgenstein dapat dilihat seberapa banyak kosa kata yang dimiliki karena apa yang kita ketahui adalah apa yang kita tahu bahasanya. Kita bisa merasai sedih, senang, dan sakit karena kita tahu bahasanya.

Menamai adalah proses identifikasi kali pertama untuk mendapatkan pengetahuan bahasa. Kita tidak dapat mengetahui sebuah benda jika kita tidak dapat menamainya. Bahasa dengan demikian erat kaitannya dengan pengalaman manusia. Ada yang berpendapat bahwa bahasa adalah rekaman-rekaman subjektif pengalaman manusia. Dengan kata lain, bahasa adalah sebuah realitas. Seperti yang dikatakan oleh Chomsky, kemampuan manusia untuk memberi nama merupakan awal dari perkembangan peradaban manusia modern. Perkembangan bahasa telah memungkinkan bertambahnya pengetahuan manusia dengan cepat. Artinya, bahasa adalah buatan manusia dalam melukiskan realitas. Gelas hanyalah masalah nama untuk benda dari kaca yang berfungsi sebagai tempat minum. Ada pula yang mengatakan bahwa bahasa memang melukiskan dunia apa adanya. Hewan dinamakan “tokek” karena ia sering bergumam, “tokek, tokek.”

Sebagai media dalam berpikir, kata-kata sangat terkait erat dengan pikiran. Di dalam berpikir terjadi proses asosiasi antara konsep atau simbol satu dengan konsep lain yang diakhiri dengan penarikan simpulan (Tylor, dalam Rakhmat, 1996). Keterkaitan antara kata-kata dan bahasa dapat dipetakan dalam tiga pendapat: bahasa memengaruhi pikiran, pikiran memengaruhi bahasa, dan bahasa dan pikiran saling memengaruhi.

Pendapat bahwa bahasa memengaruhi pikiran dimulai dari adanya pemahaman terhadap kata memengaruhi pandangan terhadap realitas. Pikiran dapat terkondisikan oleh kata yang digunakan. Tokoh yang mendukung terori ini adalah Benyamin Whorf dan gurunya Edward Saphir. Whorf mengambil contoh bangsa Jepang. Orang Jepang mempunyai pikiran yang sangat tinggi karena mereka mempunyai banyak kosa kata untuk menjelaskan sebuah realitas. Hal ini menjadi bukti bahwa mereka mempunyai pemahaman yang mendetail tentang sebuah realitas.

Pada sisi lain, pendukung teori pikiran memengaruhi bahasa adalah tokoh psikologi kognitif yaitu Jean Piaget. Melalui observasi yang dilakukan oleh Piaget terhadap perkembangan aspek kognitif anak, ia melihat bahwa perkembangan kognitif anak akan memengaruhi bahasa yang digunakan. Semakin tinggi aspek tersebut semakin tinggi bahasa yang digunakan anak.

Sementara itu, teori adanya hubungan timbal balik antara bahasa dan pikiran dikemukakan oleh Benyamin Vigotsky, seorang ahli semantik berkebangsaan Rusia  yang dikenal sebagai pembaharu teori Piaget. Penggabungan Vigotsky terhadap kedua pendapat di atas banyak diterima oleh kalangan psikologi kognitif. Bahasa dan pikiran memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan atau saling memengaruhi. Pada satu sisi, bahasa merupakan medium yang digunakan untuk memahami dunia serta alat dalam proses berpikir; pada sisi lain, pemahaman terhadap bahasa merupakan hasil dari aktivitas pikiran.

Namun, terlepas dari pendapat-pendapat di atas, bahasa memang mempunyai pengaruh terhadap pengalaman manusia. Bahasa memberikan pandangan perseptual dan sekaligus memaksakan pandangan konseptual tertentu.  Bahasa memaksakan pandangan perseptual karena bahasa adalah kaca mata  yang dipakai untuk melihat realitas. Kita dapat dianalogikan dengan orang buta yang tidak mampu mengenali realitas sekitar ketika tidak memiliki bahasa. Bahasa juga memaksakan pandangan konseptual kita karena secara tidak langsung kita mengevaluasi realitas berdasarkan bahasa yang kita miliki. Dengan cara seperti inilah bahasa memengaruhi pikiran dan tindakan kita. Sebagai contoh, sebuah desa miskin yang sebagian besar penduduknya sulit mencari makan dipandang oleh pemerintah  “rawan pangan” dan bukan kelaparan. Pelonjakan harga bukanlah kenaikan harga melainkan “penyesuaian harga.”

Harlod Titus bahkan dengan berani mengatakan bahwa bahasa mencetak pikiran-pikiran orang yang memakainya.  Contohnya ketika orang mengucapkan kata “ember” dalam bahasa gaul, tidak mungkin “ember” diucapkan dengan datar. Kata tersebut pasti akan diucapkan dengan gaya sedikit centil dan genit sambil berkata “embeeeerr”. Bahasa mempunyai sayap dan menciptakan alamnya sendiri. Jika kita berani untuk melangkah lebih jauh lagi, kita akan mendapatkan hipotesis bahwa bahasa mencetak sebuah kepribadian. Ketika satu bahasa memproduksi satu perilaku tertentu, serta ketika perilaku tersebut diulang-ulang menjadi kebiasaan; yang tercipta adalah kepribadian. Hal ini karena “Bahwa pada mulanya manusia membentuk kebiasaan, tetapi setelah itu kebiasaanlah yang membentuk manusia.”

Satu rumusan yang dikeluarkan oleh Michael Foucoult dan Thomas Szas tentang bahasa kiranya menjadi kata kunci dari pengaruh bahasa dalam merekayasa perilaku. Foucoult mengatakan bahwa siapa yang mampu memberi nama, dialah yang menguasai; sedangkan Szas mengatakan bahwa kalau di dunia hewan berlaku hukum makan atau dimakan, dalam dunia manusia berlaku hukum membahasakan atau dibahasakan.

 

Bahasa dan Gagasan

Pada 28 Oktober 1928 pemuda-pemuda Indonesia mempunyai gagasan yang brilian dengan menyatakan sumpahnya, yakni berbahasa satu bahasa Indonesia. Mereka memahami betul bahwa bahasa memiliki kemampuan tanpa batas untuk menyatukan nusantara.  Dalam situasi tersebut, bahasa merupakan pemandu realitas sosial, seperti yang disampaikan oleh Whorf. Walaupun bahasa biasanya tidak diminati oleh ilmuwan sosial, bahasa secara kuat mengondisikan pikiran individu tentang sebuah masalah dan proses sosial. Dunia tempat tinggal berbagai masyarakat dinilai oleh Whorf sebagai dunia yang sama tetapi memiliki karakteristik yang berbeda. Dengan kata lain, pandangan manusia tentang dunia dibentuk oleh bahasa; sehingga karena bahasa yang berbeda, pandangan tentang dunia pun dapat berbeda. Secara selektif individu menyaring sensor yang masuk seperti yang diprogramkan oleh bahasa yang dipakainya. Dengan begitu, masyarakat yang menggunakan bahasa yang berbeda memiliki perbedaan sensor pula. Dan, hal inilah yang berhasil disatukan oleh para pemuda Indonesia delapan puluh delapan tahun lalu.

Berbeda dengan Whorf,  Brouwer menyatakan bahwa bahasa adalah sebuah fenomena; fenomenologi bisa menjadi sebuah permainan bahasa. Sebuah teori mucul karena kemampuan bahasa yang dimiliki oleh pencetusnya (Brouwer, 1999). Ambil saja kalimat: “Ketika kau dapati hidupmu menjadi terasa berbeda tanpa kehadirannya, saat itulah engkau jatuh cinta.” Kita sebenarnya sudah memahami prinsip itu tetapi kita tidak mampu membahasakannya. Setelah membaca kalimat tersebut, kita mendapatkan pencerahan dengan berkata, “Oh, iya ya?”

Dengan berbahasa yang baik, mereka dapat berargumentasi dengan baik pula. Oleh karena itu, ahli-ahli besar dalam bidang fenomenologi juga terkenal sebagai ahli bahasa, penulis novel, puisi, dan artikel. Jean Paul Sartre, Leo Tolstoy, Martin Heidegger adalah contohnya. Ketika para peneliti sibuk dengan penjelasan statistika sebagai bukti teorinya, orang-orang ini menggunakan bahasa untuk menjelaskan teorinya. Para fenomenolog telah langsung masuk ke dalam realitas dan mengambarkan apa yang dapat mereka kenali. Banyak yang mereka kenali dari realitas itu karena mereka mempunyai kosa kata yang banyak.

Benyamin Vigotsky mendukung pernyataan Brouwer di atas. Baginya, bahasa memberikan satu nuansa tertentu pada sebuah ide (Valsiner, 1996). Bahasa adalah instrumen yang membentuk dan membangun ide kreatif dari pikiran. Melalui bahasa, ide menjadi objektif. Yang semula ia berada di awan-awan angan-angan, ide menjadi konkret dan turun ke bumi. Sekali individu memberikan bentuk berupa kata-kata pada idenya dengan kata-kata, ide ini akan menjadi objek bagi dirinya sendiri sebagai kata-kata yang terdengar (audible) sehingga mudah diakses oleh masyarakat.

Manusia dapat berpikir tanpa menggunakan bahasa, tetapi bahasa mempermudah kemampuan belajar dan mengingat, memecahkan persoalan, dan menarik simpulan. Bahasa memungkinkan individu menyandi peristiwa dan objek dalam bentuk kata-kata. Dengan bahasa, indvidu mampu mengabstraksikan pengalamannya dan mengomunikasikannya pada orang lain karena bahasa merupakan sistem lambang  tidak terbatas yang mampu mengungkapkan segala pemikiran.

 

Bahasa dan Emosi

Selain sebagai realitas sosial dan fenomenologi, bahasa erat kaitanya dengan psikologi. Barangkali sedikit dari kita yang mengetahui bahwa keterbatasan kosa kata dapat mengakibatkan gangguan psikologis. Sedikitnya kosa kata emosi yang dimiliki oleh seseorang membuatnya lemah dalam menggambarkan emosinya dengan kata-kata. Padahal, kemampuan verbalisasi emosi ini sangat berguna untuk kesehatan mentalnya. Mampu memberi nama emosi berarti dapat memilikinya untuk digunakan sesuai dengan fungsinya dan tidak terganggu dengan kehadirannya. Daniel Goleman sudah mendeteksi pentingnya masalah ini sejak awal. Kemampuan memberi nama pada emosi adalah salah satu bagian integral kecerdasan emosi dalam aspek self-awarenes. Dalam  kecerdasan ini, individu mampu mengamati diri, menghimpun kosa kata untuk melabeli perasaannya, serta mengetahui hubungan antara pikiran, perasaan, dan reaksi. Mengetahui aneka ragam perasaan yang muncul memungkinkan individu untuk mengenali dirinya sendiri.

Dengan membahasakannya dalam kata-kata, mereka menjadi tahu bahwa emosi itu benar-benar ada dalam dirinya. Seorang ahli psikolinguistik, Alferd Korzybsky mengatakan, beberapa gangguan jiwa disebabkan oleh keterbatasan penggunaan kata oleh individu yang tidak sanggup mengungkapkan realitas dengan cermat; yang diketahuinya hanya dua pilihan ekstrem: gembira-sedih, tersanjung-marah, atau sehat-sakit. Padahal, realitas tidaklah demikian, hidup tidak terpisah menjadi kutub ekstrem negatif dan  positif. Realitas sangat kaya dengan warna-warna emosi. Perasaan atau emosi sedih muncul tanpa pemaknaan yang jelas, mereka belum mengetahui emosi tersebut muncul dan bagaimana hubungannya dengan reaksi yang  mereka lakukan. Dengan mengenali emosi yang sedang berlangsung, emosi tersebut dapat dinikmati dan dikendalikan.

Bahasa dengan segala aspek keilmuannya dapat diformulasikan sebagai alat untuk meningkatkan komunikasi; memperluas pikiran dengan adanya abstraksi. Bahasa juga dapat membentuk kebudayaan dan membangun verbal self-concept.  Jadi, tunjukkan jati diri kita dan bangsa Indonesia melalui bahasa yang santun dan cerdas. [ ]