Category Archives: Bahasa Inggris

  • 0

KELAS KEMAHIRAN MENULIS DALAM DIKLAT PENINGKATAN SKOR TOEFL

Gunawan Widiyanto

Widyaiswara Bahasa Inggris

PPPPTK Bahasa

 

 

Kemahiran berbahasa asing merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh pelamar beasiswa, utamanya beasiswa luar negeri. Disadari, nama bahasa asing itu tidak jarang berkaitan rapat dengan negara yang hendak dituju oleh pelamar beasiswa. Sebagai misal, bagi yang hendak melanjutkan pendidikan lanjut ke Korea, pelamar dipersyaratkan mengikuti uji kemahiran berbahasa Korea dengan menempuh TOPIK (Test of Proficiency in Korean). Bagi yang hendak belajar ke Australia, uji kemahiran berbahasa Inggris IELTS adalah syarat yang diminta oleh pemberi beasiswa. Bagi warga negara asing yang hendak belajar di Indonesia pun, disyaratkan menempuh UKBI, uji kemahiran berbahasa Indonesia. Negara-negara yang bahasa resminya Arab tentu juga mensyaratkan TOAFL bagi calon penerima beasiswa. Demikian pula, bagi yang hendak belajar ke Eropa dan Amerika, mengikuti TOEFL dengan capaian skor tertentu menjadi kenyataan yang niscaya dan tidak terelakkan. Berbicara tentang TOEFL jelas akan menyinggung sentuh bidang kemahiran yang diujikan di dalamnya. Format bidang uji dalamnya misalnya, pada awalnya hanya mencakupi tiga kemahiran dan pengetahuan yang diujikan, yakni (1) pemahaman menyimak (listening comprehension), (2) struktur dan ungkapan tulis (structure and written expression), dan (3) pemahaman bacaan (reading comprehension).

Seiring dengan perkembangan teknologi dan kondisi kekinian, format TOEFL pun menyesuaikan. Penyesuaian itu merambah baik jenisnya maupun bidang yang diujikan. Jenisnya tidak hanya berformat manual berbasis kertas (paper-based) tetapi juga berbasis internet (internet-based). Bidang kemahiran yang diujikan pun mencakupi menulis (writing) juga. Berkenaan dengan kemahiran menulis, penulis pernah diberi amanat akademik untuk mengampu kelas menulis dalam diklat peningkatan skor TOEFL yang diselenggarakan atas kerja sama antara PPPPTK Bahasa dan Yayasan Insancita Bangsa. Peserta diklat itu adalah calon penerima beasiswa luar negeri. Hemat penulis sebagai pengampu kelas kemahiran menulis saat itu, ada tiga hal yang menjadi titik tekan dalam kelas pembelajaran kemahiran ini. Tigahal inilah yang hendak penulis kongsi (share) dengan pembaca melalui tulisan ini.

Pertama, tugas menulis sebagai pekerjaan utama dalam kelas menulis penulis bagi menjadi tiga jenis sesuai dengan tiga periodisasi waktu pembelajaran, yakni awal, tengah, dan akhir. Tugas menulis pertama pada awal kelas bertujuan menjajaki dan mengetahui kemampuan dasar menulis peserta. Tugas ini bersifat individual dengan topik yang sama untuk semua peserta. Jadi, topik diberikan oleh penulis (pengampu). Dalam proses penulisan ini, topik memang jelas sama bagi semua peserta, tetapi cara mengungkapkan gagasan dan menuangkannya dalam bentuk tulisan jelas berbeda karena setiap peserta pasti memiliki personalisasi pengalaman dan rencana menulis yang berbeda. Setelah direvisi olehpengampu, tugas itu dikembalikan kepada peserta untuk diperbaiki sesuai masukan dan umpan balik dari pengampu. Dari revisi itulah diskusi mengemuka hingga sampailah pada bahasan materi teoretis mengenai proses pertama penulisan, yakni prapenulisan (pre-writing). Pertanyaan utama yang dilontarkan pengampu kepada forum adalah hal-hal apa sajakah yang dilakukan peserta diklat sebelum mulai menulis.

Tugas menulis keduapada pertengahan kelas menulis bersifat kelompok yang beranggotakan dua hingga tiga peserta dan bertujuan agar anggota kelompok bisa saling bertukar pikiran untuk memperkaya gagasan yang akan dituangkan dalam tulisan. Bagaimanapun, dalam tubuh setiap tulisan diperlukan banyak gagasan pendukung, dan gagasan pendukung sangat potensial bisa diperoleh dari hasil diskusi untuk saling memberi masukan dalam bentuk kelompok. Dalam penulisan tugas kelompok ini, peserta diberi dua opsi berkenaan dengan topik yang akan diusung. Opsi pertama adalah bahwa peserta bisa memilah, memilih, dan mengambil topik dari buku TOEFL. Opsi kedua adalah bahwa peserta diberi keleluasaan dan kebebasan untuk mencari dan menentukan topik sendiri di luar buku TOEFL, kendati tetap disarankan agar peserta mengambil topik tulisan dari buku TOEFL. Sebagaimana tugas menulis pertama, setelah dikoreksi; hasil revisi menulis dikembalikan kepada kelompok untuk diperbaiki berdasarkan masukan dan saran pengampu. Setelah itu, dibentangkan paparan teoretis mengenai proses kedua dalam penulisan, yakni hal-hal yang perlu dilakukan tatkala menulis (while-writing).

Sebelum memasuki tahap menulis ketiga atau terakhir, peserta diajak berdiskusi tentang proses ketiga penulisan, yakni pascapenulisan (post-writing) dengan pertanyaan utama adalah langkah apa saja yang perlu diayunkanusai menulis. Tugas menulis ketiga menjelang akhir kelas menulis kembali berformat individual. Idealnya, hasil karya penulisan akan optimal manakala tema tulisan bertali-temali dengan wilayah yang diminati, ditekuni, dan dikecimpungi oleh si penulis. Untuk mencapai atau minimal mendekati hal yang ideal itu, topik tulisan diserahkan sepenuhnya kepada para peserta diklat, yang datang dari berbagai disiplin ilmu. Tentunya, hasil karya penulisan peserta diharapkan bisa memperlihatkan kerangka berpikir yang sistematis dan pola penulisanyang tertata apik (well formed), yakni (a) pengantar atau pendahuluan, yang berisi satu atau beberapa paragraf pendahuluan (introductory paragraphs), (b) tubuh atau isi, yang mengandung beberapa paragraf pendukung (supporting paragraphs), dan (c) penutup atau simpulan, yang berisi paragraf penutup atau penyimpul (concluding paragraph).

Kedua, skema penilaian terhadap hasil kerja tulis (written work) berbasis pada lima butir penilaian dengan alokasi persentil (percentile allotment) seratus. Kelima butir penilian itu adalah (1) konten dan pengelolaan topik dengan alokasi 30 persen, (2) penataan gagasan yang mencakupi pengembangan alinea, kejelasan, kohesi, dan koherensi dengan jatah 25 persen, (3) tata bahasa yang meliputi kala, kesesuaian, struktur, dan tata urutan kata dengan alokasi 25 persen, (4) pemakaian kosakata dengan alokasi 10 persen, dan (5) pungtuasi atau ejaan dengan alokasi 10 persen.

Ketiga, secara umum, kemahiran menulis sepatutnya menjadi kemahiran paling sulit untuk diajarkan di antara keempat kemahiran berbahasa karena kemahiran ini secara karakteristik tidak hanya menghasilkan rekaman nyata atau bukti fisik (tangible records) yang menghendaki adanya perbaikan hasil kerja tulis secara berulang dan tak terbilang; tetapi juga mengandung keakuratan teknis dan kefasihan artistik. Pengalaman penulis setakat ini, kemahiran menulis juga menjadi sebuah kegiatan yang mengambil banyak masa (time consuming) untuk diajarkan. Betapa tidak, kelas kemahiran menulis dengan 20 peserta yang masing-masing menghasilkan karya akademik tiga hingga empat halaman bisa bermakna kerja tiada akhir dalam pembetulan, pemberian maklum balas (feedback), dan konsultasi individual. Di luar sesi kelas pembelajaran pun, penulis menyediakan diri dan membuka konsultasi bagi peserta selama proses menulis dari memilih topik hingga menyelesaikan (memoles) hasil kerja peserta.

Yang tidak kalah penting dan bahkan yang terutama, jika penulis boleh memberikan sumbang saran kepada pembaca; seorang pengampu kelas menulis seyogianya memiliki contoh tulisan hasil karya sendiri. Dengan demikian, ia tidak hanya berkecimpung dalam wilayah teoretis semata dengan hanya mengajar menulis. Idealisasinya memang, pengampu kelas kemahiran menulis minimal sudah menghasilkan (beberapa atau banyak) karya tulis, bahkan apabila perlu sudah terlatih menulis, sesederhana apapun hasil tulisan itu. Bagaimanapun, kemahiran menulis tidak sebatas memerlukan skema konseptual dan kerangka kerja teoretis tentang tata cara menulis belaka. Penerapan teori itu ke dalam praktik menulis secara nyata hingga berwujud hasil kerja tulis sebagai bukti fisik jauh lebih penting. Dan, menulis adalah persoalan keberlatihan secara berterusan hingga seseorang menjadi terlatih. [ ]


  • 4

SEKILAS TENTANG LANSKAP LINGUISTIK

Gunawan Widiyanto

Widyaiswara Bahasa Inggris

PPPPTK Bahasa

 

Di manapun Anda berada di jagat ini, baik di wilayah privat maupun publik, tidak bisa dimungkiri bahwa Anda juga hampir senantiasa akan terpajankan dengan pemakaian suatu bahasa. Secara lebih spesifik dan nyata,  bahasa itu dipakai dalam penamaan kedai, produk-produk di pasar swalayan, gedung, menu, grafiti, bandara, transportasi umum, pusat belanja, maklumat, poster iklan, dan papan reklame. Pemakaian bahasa dalam wilayah publik ini menjadi fokus kajian Lanskap Linguistik (LL), sebuah disiplin yang relatif masih baru dan merupakan gabungan dari disiplin akademis seperti Linguistik Terapan, Sosiolinguistik, Antropologi, Sosiologi, Psikologi, dan Geografi Kultural. Istilah Linguistik Lanskap kali pertama digunakan oleh Landry and Bourhis dalam makalahnya pada 1997, yang membatasinya sebagai bahasa untuk tanda jalan umum, papan reklame, nama jalan dan tempat, nama kedai, nama bangunan pemerintah dalam sebuah kelompok daerah, wilayah, atau kota. Selanjutnya Shohamy and Gorter (eds.2009) memperluas cakupan tentang LL ini ke bahasa dalam lingkungan, kata, dan citra yang dipajang di ruang publik dan menjadi pusat perhatian di suatu wilayah yang pesat bertumbuh kembang. Dalam kajian lain, Dagenais, Moore, Sabatier, Lamarre and Armand (2008) memperkenalkan gagasan LL dengan kekata  environmental print,  yakni perkotaan sebagai teks. Maknanya, karena bahasa banyak dipakai di ruang publik wilayah urban; wilayah itu dianggapnya sebagai teks yang layaknya penuh dengan ingar-bingar pemakaian bahasa.

Sebagian besar kajian LL pada dasarnya bersifat sosio-ekonomis, dalam arti bahwa ia mencari korelasi antara pemakaian bahasa tertentu di sebagian wilayah perkotaan dan standar hidup di wilayah itu pada umumnya. Sudah umum disepakati bahwa pemakaian bahasa dalam LL terangkum ke dalam dua kategori, yakni pemakaian bahasa secara atas-bawah (top-down) dan pemakaian bahasa secara bawah-atas (bottom-up). Kategori atas-bawahmencakupi pemakaian bahasa pada papan tanda umum yang dibuat oleh badan atau lembaga pemerintah, lembaga publik yang mengurusi persoalan agama, pemerintahan, kesehatan, pendidikandan kebudayaan, papan tanda nama jalan, dan maklumat umum; sedangkan kategori bawah-atas meliputi pemakaian bahasa oleh pemilik kedai/toko (pakaian, makanan, perhiasan), kantor/pabrik/agen swasta, maklumat pribadi (sewa/jual mobil/rumah) termasuk iklan lowongan kerja. Rentang diagonal dari kategori pertama hingga kategori kedua itu menunjukkan derajat seberapa resmi dan tak resmi dipakaianya sebuah bahasa, sebagaimana dinyatakan oleh Ben-Rafael, Shohamy, Amara and Trumper-Hecht (2006).

Sesuai namanya, LL sungguh sosiosimbolis dan merupakan panorama bahasa  yang dibentangkan untuk dilihat, baik di  jalan dan sudut jalan, taman, maupun gedung; yang semua itu merupakan tempat berlangsungnya kehidupan publik masyarakat. Dengan sifat yang demikian itu, ia menjadi emblem (simbol) masyarakat, komunitas, dan wilayah. Bagi Ben-Rafael, Shohamy, Amara dan Trumper-Hecht (2006),  LL dianggap penting karena ia tidak menggambarkan latar belakang dan potret kehidupan sehari-hari kita semata, tetapi juga merupakan sumber pembelajaran bahasa yang bernilai. Ia juga membentuk cara kita berinteraksi sebagai anggota masyarakat dan memberi  kita identitas. Dan yang utama, ia berada di manapun dan terbuka serta bebas biaya bagi siapapun. [ ]

Sumber: Shohamy, Elena and Durk Gorter (eds). 2009. Linguistic Landscape: Expanding the Scenery. New York: Routledge.

 


  • 0

Kelakar Zaskia Gotik

Ening Herniti
Fakultas Adab dan Ilmu Budaya
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

 

Pengantar
Peribahasa “Mulutmu adalah harimaumu” seper­tinya tidak lekang oleh waktu. Peribahasa tersebut berarti segala perkataan yang telanjur diucapkan apabila tidak dipikirkan dahulu dapat merugikan diri sendiri. Peribahasa tersebut rupanya terjadi pada artis kelahiran Bekasi, Zaskia Gotik. Kelakar Zaskia Gotik, yang bernama asli Surkianih, banyak menuai kontroversi. Dikatakan demikian karena ada beberapa orang yang membela kelakarnya, tetapi tidak sedikit yang mengecamnya. Bahkan, ia sampai diperkarakan secara hukum. Kelakar Zaskia dalam acara musik pagi pada salah satu televisi swasta episode Selasa tanggal 15 Maret 2016 tidak pada tempatnya. Kelakarnya menyangkut hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan lambang negara. Ia berkelakar bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia adalah tanggal 32 Agustus dan lambang sila kelima Pancasila adalah ‘bebek nungging’.
Karena kelakarnya ditayangkan pada acara televisi swasta nasional, keironisan kelakarnya dapat disaksikan oleh masyarakat luas. Televisi sebagai media massa berfungsi memberikan informasi, hiburan, dan pendidikan (Thomas, 2007:79). Jika kemudian fungsi tersebut berubah menjadi bumerang, ada beberapa tayangan yang harus dikaji ulang. Hampir tiap hari masyarakat disuguhi dengan kelakar. Tulisan ini mengkaji kelakar itu dengan menggunakan delapan unsur komunikasi yang dicanangkan Dell Hymes.

Kelakar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kelakar didefinisikan sebagai perkataan yang bersifat lucu untuk membuat orang tertawa (gembira); lawak; olok-olok; senda gurau (Depdiknas, 2012:651). Dalam pragmatik, kelakar (banter) adalah cara menyinggung pera­saan untuk beramah tamah (mock-impoliteness) (Leech, 1993: 228). Lebih lanjut, Leech menandaskan bahwa kelakar atau dalam pragmatik disebut prinsip kelakar, sering dimanifestasikan dalam percakap­an yang santai, khususnya di antara anak muda. Ia juga menjelaskan bahwa prinsip kelakar berfungsi menunjukkan solidaritas de­ngan petutur (t) sehingga prinsip ini dapat di­nyatakan “katakanlah sesuatu kepada t yang jelas tidak benar dan jelas tidak santun” (Leech, 1993:228).

Karena kelakar dimaksudkan untuk keakraban dan dalam situasi santai, kelakar harus kelihatan tidak serius. Tentunya kelakar tidak ditujukan kepada orang yang belum kenal atau tidak akrab karena akan menimbulkan hal sebaliknya, misalnya, tersinggung atau marah. Kelakar juga tentunya tidak menyangkut hal yang sifatnya sensitif. Kelakar biasanya ditujukan kepada sesama komunitas internal, yakni sesama anggota komunitas tersebut. Jika kemudian kelakar ditujukan kepada khalayak umum, kelakar harus benar-benar hati-hati agar tidak menyinggung atau menghina pihak lain. Tujuan kelakar di televisi adalah untuk menghibur, baik penonton di studio maupun pemirsa di rumah. Namun, kelakar yang tidak semestinya bisa berefek sebaliknya.

Kelakar Zaskia Gotik dan SPEAKING Hymes
Banyaknya kecam­an dan kritikan atas kelakar Zaskia Gotik meng­isyaratkan bahwa Zaskia kurang dapat berkomunikasi de­ngan baik. Dalam berkomunikasi atau dalam penggunaan bahasa setidaknya harus diperhatikan delapan unsur seperti yang dicanangkan oleh Dell Hymes (Wardhaugh, 1988:238—240). Kedelapan unsur tersebut terangkum dalam suatu akronim dalam bahasa Inggris “SPEAKING”, yakni S(etting and Scene), P(articipants), E(nds) (purpose and goal), A(ct sequences), K(ey) (tone or spirit of act), I(nstrumentalities), N(orms of interaction and interpretation), dan G(enres).

Setting berkaitan dengan latar tempat, waktu, budaya, dan lingkungan fisik konkret tempat tuturan berlangsung. Tuturan Zaskia terjadi pada salah satu televisi swasta nasional. Menurut Morissan (2014: 240), televisi nasional memiliki daya jangkau luas sehingga siaran televisi sudah dapat dinikmati oleh berbagai kelompok masyarakat. Oleh karena itu, daya jangkau yang demikian luas tetap harus memerhatikan budaya Indonesia. Kelakar yang dilontarkan oleh Zaskia hendaknya tetap memerhatikan budaya Indonesia yang menjunjung tinggi lambang negara Republik Indonesia. Scene berkenaan dengan situasi psikologis pembicaraan, dalam arti bahwa acara tersebut disiarkan secara langsung sehingga penutur yang kurang berhati-hati akan mudah tergelincir pada kekeliruan. Participants atau peserta tutur meliputi pembicara dan pendengar. Pembicara atau penutur adalah Zaskia Gotik, sedangkan pendengar atau mitra wicara adalah seluruh masyarakat Indonesia yang menonton acara tersebut. Oleh karena itu, penonton dapat berasal dari ber­bagai golongan usia maupun profesi. Jika yang menonton adalah anak-anak, dikhawa­tirkan mereka akan meniru hal yang keliru atau salah tersebut.

Ends merujuk pada maksud dan tujuan pertuturan. Tujuan tuturan Zaskia tentunya adalah bergurau atau berkelakar. Act sequence mengacu pada bentuk ujaran dan isi ujaran. Bentuk ujaran berkaitan dengan kata-kata yang digunakan, cara menggunakannya, dan hubung­an antara apa yang dikatakan dan topik pembicaraan. Kata-kata yang digunakan adalah kesalahan dalam menyatakan bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia adalah tanggal 32 Agustus. Padahal, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia adalah tanggal 17 Agustus yang setiap tahunnya diperingati oleh seluruh rakyat Indonesia. Tuturan tersebut dilontarkan dengan maksud bercanda agar penonton di studio tertawa atau pemirsa di rumah merasa terhibur. Kelakar Zaskia sebenarnya tidak menjawab dengan benar pertanyaan yang diutarakan oleh penanya.

Key atau warna emosi penutur mengacu pada nada, cara, dan semangat suatu pesan disampaikan. Pesan yang di­sampaikan memiliki nada bercanda. Instrumentalities atau sarana mengacu pada jalur bahasa yang digunakan, yakni media massa televisi. Menurut Soemandoyo (1999: 22), secara sosiologis televisi menjadi alat untuk menyampaikan nilai-nilai tertentu pada masyarakat. Dari dimensi teknologi, televisi memiliki keunggulan, yakni mampu menjangkau wilayah yang sangat luas dalam waktu yang bersamaan. Sebagai bagian dari medium yang signifikan keberadaannya di dalam masyarakat, televisi kemudian tidak hanya sebagai media informasi, tetapi juga sebagai regime of signification. Pendekat­an ini mendorong masyarakat untuk dapat memahami isi dan memaknai tanda-tanda yang diterima dari media yang mere­ka konsumsi tiap hari. Media informasi seperti televisi telah menjadi mekanisme yang berpengaruh di masyarakat karena kemampuannya untuk meme­ngaruhi dan membentuk ke­sadaran masyarakat (Santoso, 2011: 65). Oleh karena itu, kelakar yang disiarkan pada stasiun televisi haruslah hal-hal yang yang sifatnya mendidik.

Norms of interaction and interpretation mengacu pada norma atau aturan dalam berinteraksi. Di samping itu, ia mengacu pada norma penafsiran terhadap ujaran dari lawan bicara. Kelakar Zaskia Gotik, yang kelahiran 27 April 1990, dianggap telah melanggar Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara, dan Lagu Kebangsaan. Sebagai warga negara Indonesia yang baik, seyogianya ia mampu menjunjung aturan tersebut. Karena keteledorannya, ia dianggap melecehkan lambang negara Indonesia. Genre mengacu pada jenis wacana. Jenis wacana yang dituturkan Zaskia berjenis kelakar. Meskipun berkelakar, hal itu berarti bahwa sese­orang bebas untuk berkelakar karena kelakar pun harus tetap mengindahkan etika dan aturan yang ada.

Penutup
Dari uraian di atas, kelakar Zaskia tidak pada tempatnya. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya kecaman dan kritikan atas kelakarnya. Agar peristiwa serupa tidak terulang lagi, ada baiknya sebelum berkelakar penutur memerhatikan delapan unsur berbahasa sebagaimana dicanangkan oleh Dell Hymes, yakni “SPEAKING”. [ ]

Pustaka Rujukan
Depdiknas. 2012. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2011. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik, terj. Oka M.D.D. Principles of Pragmatics. New York: Longman.
Morissan. 2014. Periklanan:Komunikasi Pemasaran Terpadu. Jakarta: Kencana.
Santoso, Widjajanti M. 2011. Sosiologi Feminisme: Kontruksi Perempuan dalam Industri Media. Yogyakarta: LKIS.
Soemandoyo, Priyo. 1999. Wacana Gender dan Layar Televisi: Studi Perempuan dan Pemberitaan Televisi Swasta. Yogyakarta: LP3Y dan Ford Foundation.
Thomas, Linda dan Shan Wareing. 2007. Bahasa, Masyarakat & Kekuasaan.Terjemahan Sunoto dkk..Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Wardhaugh, Ronald. 1988. An Introduction to Sociolinguistics. Oxford: Basil Blackwell.


  • 0

Kritik Terjemahan Newmark, Reiss, dan Nord

Tri Pujiati
Universitas Pamulang
Tangerang Selatan

 

 

Pengantar
Kritik terjemahan bukan hal baru bagi para pegiat bahasa. Meskipun kurang populer daripada kritik sastra, kritik terjemahan mampu menjadi penyokong utama dalam pengembangan kualitas terjemahan di Indonesia. Kegiatan mengkritik terjemahan sangat baik dilakukan tidak hanya oleh penerjemah tetapi juga pihak lain yang memahami masalah penerjemahan. Dengan adanya kritik, penerjemah dapat sa­ling belajar dan terpacu untuk menghasilkan karya terjemah­an yang berkualitas. Adanya kritik terjemahan ini dapat memacu penerjemah untuk menghasilkan kualitas terjemahan yang baik. Berbagai pandangan tentang kritik terjemahan telah dikemukakan oleh para ahli seperti Peter Newmark, Katharina Reiss, dan Christiane Nord. Tulisan ini menyajikan pandang­an ketiga ahli tersebut.

Kritik Terjemahan Newmark
Menurut Newmark (1988:­184—185), kritik terjemahan sangat penting dalam pelatihan maupun praktik pener­jemahan. Ia menjadi kunci setiap pembelajaran, yakni sastra bandingan, literatur-literatur terjemahan, dan komponen kursus penerjemahan profesional dengan teks-teks yang sesuai dengan bidangnya (hukum, ekonomi, dan kedokteran). Newmark (1988:186) meng­usulkan lima hal dalam kritik terjemahan, yaitu (1) anali­sis sekilas me­ngenai maksud dan fungsi teks sumber (TSu); (2) interpretasi penerjemah atas TSu, metode penerjemahan yang digunakan, dan tujuan pembaca; (3) pembandingan bagian-bagian pen­ting antara TSu dan teks sasaran (TSa); (4) evaluasi terjemah­an berdasarkan sudut pandang penerjemah dan kritikus; dan (5) asesmen atas relevansi TSa bagi pembaca sasaran, budaya masyarakat, dan disiplin tertentu.

Dalam membuat kritik terjemahan, langkah-langkah yang dilakukan adalah (1) meng­analisis TSa dengan mempertimbangkan sikap dalam mengambil topik, karakter­isasi pembaca, dan indikasi kategori dan jenis; (2) melihat teks dari sudut pandang pe­nerjemah; (3) membandingkan TSu dan TSa, yang  meliputi judul, struktur, paragraf dan kalimat penghubung, pergeseran metafora, kata budaya,  translationase,  nama diri,  neologisme,  untranslationese words,  ambiguitas,  level bahasa,  metabahasa,  anekdot, dan efek bunyi; dan (4) mengevaluasi dengan standar Anda sendiri untuk mempertimbangkan apakah terjemahan berhasil sesuai dengan akurasi referensial dan pragmatis. Ada dua pendekatan yang bisa digunakan dalam menilai terjemah­an, yaitu  pendekatan fungsional dan pendekatan analitis. Pendekatan fungsional adalah upaya untuk menilai keberhasil­an dan kegagalan terjemahan atau penerjemah secara umum. Pendekatan analitis merupakan pendekatan yang terbentuk pada asumsi bahwa sebuah teks dapat dinilai dalam bagian tersebut, terjemahan dinilai sebagai bagian dari ilmu, kriya, seni, dan masalah selera.

Kritik Terjemahan Reiss
Dalam pandangan Reiss (2000:2), kritik terjemahan harus dilakukan oleh seseorang yang memiliki kemampuan bahasa sumber (BSu) dan bahasa sasaran (Bsa) yang memadai. Kritik harus bersifat memba­ngun dan tidak semata-mata menyalahkan penerjemah. Kritik terjemahan merupakan upaya untuk membandingkan TSu dan TSa. Terjemahan dinilai dari isinya, gaya yang digunakan oleh penerjemah, dan kadang-kadang dilihat dari estetikanya, seperti teks sastra. Terjemahan dapat dinilai dengan menggunakan kriteria tertentu, yaitu objektif dan relevan. Kriteria objektif dapat dilihat bahwa kritik terjemahan baik positif atau negatif harus didefinisikan secara eksplisit dan diverifikasi dengan contoh. Jika kriteria objektif direlasikan dengan kriteria yang relevan, kita harus berhati-hati dalam mengenali teks yang akan dievaluasi sebagai teks terjemahan. Selain objektif dan relevan, kriteria yang bisa digunakan dalam kritik terjemahan adalah stilistika dan tata bahasa. Julius Wirl (1958:64) dalam Reiss (2000:10)  mengatakan bahwa seseorang yang tidak dapat membaca teks asli tidak bisa menggunakan kriteria yang sama sebagaimana orang yang bisa membaca teks de­ngan baik.

Kita bisa membuat kritik berdasarkan TSu dan TSa. Kritik berdasarkan versi TSu sa­ngat produktif. Akan tetapi, karena ada keterbatasan referensi terhadap teks asli, diperlukan pembandingan dengan teks asli. Hanya dengan membandingkan TSu dan TSa, kesetiaan dalam penerjemahan telah tercapai, maksud dari penulis dapat dipahami dengan baik, terjemahan dapat diinterpretasikan, dan kesuksesan terjemahan dieks­presikan dalam TSa. Dalam membuat kritik terjemahan, kritikus harus memahami jenis teks yang akan dikritik untuk menghindari kesalahan dalam menggunakan standar yang tidak tepat dalam penilaian terjemah­an. Penerjemah dan kritikus harus memiliki analisis dasar yang sama mengenai klasifikasi teks; ini dapat dilihat dari medium teks itu sendiri, yaitu bahasa. Setiap teks harus diperiksa secara tepat untuk mengetahui tujuan teks tersebut. Karl Buhler (1990:28) dalam Reiss (2000:25), menyatakan bahwa bahasa memiliki tiga fungsi, yaitu representasi, ekspresi, dan persuasi. Teks representatif berfokus pada isi teks (content-focused text) untuk berkomunikasi secara efektif dan memberikan informasi secara akurat. Teks ekspresif berfokus pada bentuk (form-focused text) untuk mengekspresikan maksud penulis sendiri, dan teks persuasif berfokus pada daya tarik (appeal-focused text) untuk memengaruhi pendengar atau pembaca.

Kritikus juga melihat komponen linguistik yang terdiri dari elemen semantik, leksikal, stilistika, dan gramatikal. Kritikus harus menilai terjemah­an berdasarkan empat elemen tersebut. Elemen semantik untuk melihat ekuivalensi antara TSu dan TSa, elemen leksikal untuk melihat bahwa komponen TSu yang disampaikan dalam TSa telah cukup, elemen gramatikal untuk melihat kebenaran sistem gramatikal antara TSu dan TSa, dan elemen stilistika untuk melihat apakah teks berkorespondensi secara lengkap dalam TSa. Selain itu, kritik terjemahan dapat dilakukan dengan melihat faktor ekstralinguistik yang merupakan kategori pragmatis dalam kritik terjemahan. Faktor ini bergantung pada situasi, subjek yang dikaji, waktu, tempat, pende­ngar, pembicara, dan implikasi afektif.

Kritik Terjemahan Nord
Nord (1991:163) menyampaikan pandangannya bahwa kritik terjemahan harus berdasarkan analisis perbandingan TSu dan TSa dan memberikan informasi tentang kesamaan atau perbedaan struktur BSu dan BSa, proses penerjemahan, metode atau strategi yang digunakan, dan untuk melihat bahwa TSa sesuai dengan tujuan (skopos) terjemahan. Asesmen dilakukan berdasarkan BSu dan BSa, yang disebut dengan perbandingan terjemahan, sebagaimana dinyatakan Koller (1979) dalam Nord (1991:164). Langkah pertama dalam membuat kritik terjemahan menurut Nord adalah menganalisis teks dalam situasi berdasarkan mo­del didaktik kritik terjemahan (a didactic model of translation cri­ticism). Analisis teks merupa­kan dasar penyusunan suatu kritik terjemahan. Dengan meneliti TSu dan TSa, pembuat kritik dapat menentukan profil TSa yang ideal, menyiasati masalah penerjemahan, dan menyusun strategi yang digunakan. Pada analisis ini, kritik terjemahan melihat apakah teks sasaran koheren dengan situasi fungsional dalam teks sumber. Analisis teks didasarkan pada analisis faktor ekstratekstual dan intratekstual. Pembandingan ini akan dijadikan kerangka acuan untuk penilaian terjemahan. Faktor ekstratekstual dianalisis dengan mempertanyakan siapa penulis teks, siapa penerima atau pembaca teks, medium apa yang digunakan untuk me­ngomunikasikan teks, tempat dan waktu penulisan dan pene­rimaan teks, motif atau alasan dilakukannya komunikasi, dan fungsi teks. Faktor intratekstual yang merupakan unsur di dalam teks, dianalisis berdasarkan bidang bahasa,  leksikal, dan koherensi stilistika normatif dan semantik.

Langkah kedua setelah melakukan analisis teks adalah melihat informasi eksplisit me­ngenai fase transfer untuk melihat masalah yang timbul dalam penerjemahan, metode atau strategi penerjemahan yang digunakan untuk mengatasi masalah penerjemahan, dan faktor lain yang dianggap sebagai masalah terjemahan, seperti koherensi, leksis dalam struktur kalimat, dan ambiguitas. Selanjutnya, kritik terjemahan masuk ke dalam kesimpulan, metode atau strategi yang digunakan penerjemah, dan menunjukkan metode atau strategi penerjemahan. Pembuat kritik membandingkan prinsip pener­jemahan yang digunakan penerjemah dan menunjukkan metode atau strategi penerjemahan yang paling sesuai.

Penutup
Dari ketiga pandangan ahli kritik terjemah­an, dapat di­nyatakan bahwa kritik terjemah­an merupakan suatu upaya untuk menilai suatu karya terjemahan. Kritik terjemahan bukan hanya teori, melainkan juga aplikasi yang dapat memberi manfaat bagi seorang penerjemah untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki kualitas terjemah­annya. Kritikus terjemahan tidak hanya menyalahkan penerjemah, tetapi juga memberikan saran terhadap hasil terjemahan. Selain itu, kritik terjemahan harus dilakukan secara objektif dengan mempertimbangkan ketepatan, kewajaran, dan keterbacaan hasil terjemahan. [ ]

Referensi
Newmark, Peter. 1988.  A Textbook of Translation. London: Prentice Hall International.
Nord, Christiane. 1991. Text Analysis in Translation. Amsterdam: Rodopi.
Pusat Bahasa. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia.
Reiss, Katharina. 2000. Translation Criticism – the Potentials & Limitations. Diterjemahkan oleh Erroll F. Rhodes. Manchester: St. Jerome.


  • 0

Kontribusi Potensi Unggul Daerah dalam Pengembangan Mata Pelajaran Muatan Lokal di Kabupaten Bone Bolango

 

Widiatmoko

Widyaiswara Bahasa Inggris

PPPPTK Bahasa

 

 

Pengantar

Kabupaten Bone Bolango memiliki luas wilayah 1.984,58 kilometer persegi yang terdiri atas 18 kecamatan dan 166 kelurahan/desa. Batas-batas wilayahnya adalah: Kabupaten Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara) dan Kabupaten Gorontalo Utara di sebelah utara, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan di sebelah timur, Kota Gorontalo dan Teluk Tomini di sebelah selatan, dan Kecamatan Telaga, Kota Selatan, dan Kota Utara di sebelah barat. Kabupaten Bone Bolango sebagaimana Provinsi Gorontalo terkenal karena keunggulan lokal budidaya tanaman jagung. Kabupaten ini turut memberikan kontribusi pada produksi jagung di provinsi. Pada 2013 produksi jagung di provinsi ini berjumlah 9.681 ton. Jumlah ini menurun dibandingkan pada 2012 yang mencapai 10.174 ton. Produksi ini berasal dari luas lahan 2.317 hektare lahan yang ditanami jagung (http://regionalinvestment.bkpm.go.id). Sebagai wilayah dengan komoditas jagung, provinsi ini sejak Januari hingga Juni 2015 telah mengekspor jagung ke berbagai negara, seperti ke Malaysia, Filipina dan Korea Selatan dengan total ekspor mencapai 91.500 ton atau senilai Rp 307 miliar. Hal tersebut didukung oleh informasi yang disampaikan oleh tokoh masyarakat pada saat wawancara. Menurutnya, produksi tanaman jagung merupakan karunia yang diberikan di Kabupaten Bone Bolango berupa tekstur tanah yang umumnya berupa ladang dan didukung oleh cuaca yang panas. Tanaman jagung sangat cocok untuk daerah ini. Informasi tersebut juga relevan dengan pengamatan langsung di lapangan yang dilakukan selama pengumpulan data.

 

Kontribusi Masyarakat terhadap Muatan Lokal

Keterlibatan masyarakat dalam pengembangan budidaya tanaman jagung telah merujuk pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah. Undang-Undang tersebut mengisyaratkan bahwa otonomi daerah  telah memindahkan sebagian besar kewenangan yang semula berada di pemerintah pusat kepada daerah otonom sehingga pemerintah daerah otonom dapat lebih cepat  merespons tuntutan masyarakat daerah sesuai dengan kemampuannya. Karena kewenangan membuat kebijakan dalam bentuk Peraturan Daerah sepenuhnya menjadi wewenang daerah otonom, pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan diharapkan dapat berjalan lebih cepat dan berkualitas. Pengembangan masyarakat tersebut segaris dengan rumusan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mendefinisikannya “as the process by which the efforts of the people themselves are united with those of governmental authorities to improve the economic, social and cultural conditions of communities, to integrate these communities into the life of the nations, and to enable them to contribute fully to national progress” (The Community Development Guidelines of the International Cooperation Administration, Community Development Review, December, 1996). Di sini, penekanan terletak pada proses yang usaha-usaha atau potensi-potensi yang dimiliki masyarakat diintegrasikan dengan sumberdaya yang dimiliki pemerintah daerah untuk memperbaiki kondisi ekonomi, sosial, dan budaya, dan mengintegrasikan masyarakat di dalam konteks kehidupan berbangsa, serta memberdayakan mereka agar mampu berkontribusi secara penuh untuk mencapai kemajuan pada tingkat nasional. Dalam konteks ini, pernyataan adanya keterlibatan masyarakat dalam pengembangan budidaya jagung disampaikan oleh para kepala sekolah yang melibatkan tokoh masyarakat dalam pemberian informasi mengenai budidaya tanaman jagung.

Masyarakat petani jagung secara aktif terlibat dalam pengembangan keunggulan lokal ini. Hal ini seperti dituturkan oleh salah seorang tokoh masyarakat di Kabupaten Bone Bolango. Rasa antusias masyarakat ditunjukkan mereka dalam rangka pengembangan keunggulan lokal ini yang diawali dengan penyemaian benih jagung bagi 4 kelompok tani yang menggarap lahan 25 hektaree. Dari lahan tersebut, dikembangkan sistem tumpang sari dengan memanfaatkan kompos yang berasal dari kotoran ayam. Dalam perkembangan selanjutnya, kelompok tani ini mengembangkan Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) dengan memberdayakan sekitar 25 orang petani selama 4 bulan untuk memanfaatkan lahan sehingga menghasilkan nilai ekonomi senilai 6-7 ton per hektaree. Jumlah ini tentu seiring dengan misi Provinsi Gorontalo yang terus memproduksi jagung, baik untuk konsumsi daerah maupun ekspor ke luar negeri.

Potensi lokal di daerah yang berupa budidaya dan pengolahan hasil panen tanaman jagung ini dilakukan oleh pemerintah daerah dalam rangka memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. Hal ini dikemukakan oleh staf Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Bone Bolango. Namun, dalam hal potensi daerah yang berupa budidaya tanaman jagung, belum menjadi kewajiban di setiap sekolah untuk menyelenggarakan pendidikan yang berfokus pada budidaya tanaman jagung sebagai pilihan muatan lokalnya.

 

Kontribusi Industri dan Lembaga Terkait terhadap Muatan Lokal

Masyarakat petani jagung didorong untuk memberikan kontribusinya dalam peningkatan pengetahuan budidaya jagung kepada sekolah. Sekolah didorong untuk melakukan kolaborasi dengan pemangku kepentingan. Sebagaimana disampaikan oleh Kepala SMKN Bone Bolango, ada kerja sama dengan Dinas Peternakan untuk ikut terlibat dalam peningkatan kompetensi siswanya. Wujud kerja sama ini adalah praktik kerja di industri. Siswa dibimbing oleh pihak dinas peternakan untuk menerapkan langsung keilmuan di bidang peternakan.

Untuk mengembangkan budidaya tanaman jagung, Pusat Informasi Jagung, sebuah unit pelaksana teknis daerah (UPTD), sejak 2006 turut  memainkan peran, yakni memberikan pelatihan dan pembelajaran budidaya tanaman jagung kepada siswa-siswa SMK. Setelah berubah nomenklatur menjadi Badan Pusat Informasi Jagung (BPIJ), di bawah Kementerian Pertanian, badan ini memberikan pelatihan tanaman jagung berikut dengan kurikulum dan materi pelatihan yang relevan dengan kebutuhan siswa sebagai peserta pelatihan. Pembelajaran diawali dengan teori sekitar 30% tentang budidaya tanaman jagung dan praktik sekitar 70% di lahan pertanian. Sejumlah 20-30 siswa per kelas diterjunkan ke lahan seluas 3 hektare untuk mengenalkan dan mempraktikkan budidaya tanaman jagung. Sekitar 50-60 varietas jagung dikenalkan dalam pelatihan ini. Pengolahan lahan tandus menjadi lahan subur dikenalkan juga. Hal ini dikemukakan oleh staf BPIJ. Dengan respons positif siswa, disarankan agar para guru yang mengajarkan mata pelajaran budidaya tanaman jagung memanfaatkan lembaga ini sebagai tempat untuk mengembangkan kompetensi diri yang berkaitan dengan budidaya tanaman jagung. Sekolah juga diusulkan agar mampu mengolah lahan tandus di halaman dan pekarangan sekolah menjadi lahan subur sebagai wujud implementasi pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya. Dengan demikian, keterlibatan pihak eksternal sekolah, baik industri maupun BPIJ mampu memberikan kontribusi positif bagi peningkatan sumber daya daerah dengan menjembatani pihak sekolah dan dunia industri yang menghasilkan nilai ekonomi.

 

Keunggulan Lokal sebagai Nilai Ekonomi

Di jenjang sekolah, pembekalan pengetahuan tentang budidaya jagung tidak dilakukan secara simultan di semua sekolah. Pemberian pengetahuan dan keterampilan tentang budidaya tanaman jagung di sekolah merupakan alternatif mata pelajaran muatan lokal selain budidaya tanaman hortikultura. Dalam hal ini, sekolah membekali siswa tentang kemandirian berwirausaha. Ini dilakukan dengan memberikan dorongan kemauan untuk mencoba memasarkan produk yang dikembangkan di sekolah kepada masyarakat sekitar. Hal ini dikemukakan oleh seorang guru SMK di Bone Bolango. Dari hasil penjualan tersebut, keuntungannya bisa dijadikan modal. Dengan demikian, masyarakat sekitar bisa merasakan manfaat dari pengembangan budidaya tanaman hortikultura di sekolah. Investasi yang diperoleh sesungguhnya tidak terletak pada seberapa besar keuntungan saat ini, tetapi pada proyeksi masa depan anak-anak. Mereka ditanamkan nilai-nilai positif untuk memanfaatkan nilai ekonomi dari keunggulan lokal di Kabupaten Bone Bolango. Pernyataan dari perwakilan kelompok tani jagung memperkuat upaya yang dilakukan sekolah. Yusuf, salah seorang dari kelompok tani jagung, menyatakan bahwa petani yang tergabung ke dalam kelompok tani jagung mampu menggarap lahan 25 hektare dengan melibatkan 25 orang petani yang dalam kurun waktu 4 bulan mampu menghasilkan panen 6-7 ton per hektare. Nilai ekonomi ini tentu sebanding dengan upaya yang dilakukan masyarakat petani jagung dalam memanfaatkan lahan kering menjadi lahan produktif.

 

Keunggulan Lokal di Sekolah

Dari data yang diperoleh melalui Focused Group Discussion, ditemukan rumusan kebijakan tentang mata pelajaran yang memuat keunggulan lokal di sekolah. Kebijakan pendidikan berbasis keunggulan lokal ini diterapkan di sekolah melalui mata pelajaran muatan lokal. Hal ini sebagai bagian dari muatan mata pelajaran dalam kurikulum. Muatan lokal yang diajarkan adalah budidaya tanaman jagung. Pemilihan mata pelajaran ini karena mempertimbangkan faktor alam pegunungan yang mendukung. Selain tanaman jagung, diajarkan budidaya tanaman sayur, tanaman tomat, dan kacang tanah. Hal ini dikemukakan oleh Lis, seorang guru SMKN. Di samping muatan lokal budidaya tanaman, sekolah  diperkenankan mengembangkan muatan lokal perikanan dan peternakan sapi, seperti terjadi di SMAN Bone Bolango.

Dalam pengembangan kurikulum, terlihat kebijakan sekolah yang dituangkan ke dalam rasional, antara lain pertimbangan kebutuhan kompetensi masa depan, tuntutan pembangunan daerah, dan tuntutan dunia kerja. Kandungan muatan lokal dikembangkan oleh sekolah sebagai mata pelajaran mandiri. Pengembangan materi dilakukan melalui adaptasi bahan yang diambil dari sumber internet. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dikembangkan dari silabus dengan memuat materi pembelajaran tentang keunggulan lokal, yakni budidaya tanaman jagung dan sumber belajar yang relevan dengan keunggulan lokal. RPP mata pelajaran Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura dikembangan oleh SMKN Bone Bolango. Hal ini juga berlaku di sekolah-sekolah yang mengajarkan mata pelajaran muatan lokal di SD, SMP, dan SMA. Sartin mengemukakan bahwa materi pelajaran muatan lokal diwujudkan ke dalam kegiatan ekstrakurikuler. Meskipun demikian, kegiatan ekstrakurikuler budidaya tanaman dikembangkan seperti mata pelajaran, yakni adanya materi, kegiatan, dan evaluasi. Lili dari SMAN 1 Tapa menambahkan informasi tentang pengembangan kurikulum, silabus dan RPP di sekolah yang mengajarkan mata pelajaran muatan lokal agrokompleks yang berupa pengembangan sapi, perikanan, dan tanaman. Demikian pula yang dilakukan di SMP yang dikemukakan oleh Marwah tentang mata pelajaran muatan lokal berupa budidaya tanaman jagung, di samping budidaya tanaman sayur.

Panduan pelaksanaan pendidikan berbasis keunggulan lokal memang tidak ditemukan di sekolah-sekolah yang menjalankan pembelajaran muatan lokal. Hal ini karena tidak adanya petunjuk teknis pelaksanaan yang disiapkan oleh Dinas Pendidikan atau Pemerintah Daerah. Meskipun demikian, sekolah telah memiliki mata pelajaran muatan lokal yang mengandung materi pengembangan keunggulan lokal. Jenis muatan lokal yang menjadi kebijakan sekolah adalah agrokompleks di SMA, budidaya tanaman jagung, budidaya tanaman hortikultura, dan tata boga di SMK. Untuk mengembangkan muatan lokal, sekolah telah menerapkan kebijakan berupa pengadaan tenaga pendidik yang jumlahnya cukup memadai, yakni seorang guru di SMP, 2 orang guru di SMA, dan seorang guru di SMK. Hal yang sama dilakukan di SD. Guru-guru tersebut kemudian mengembangkan kurikulum, silabus dan RPP sebagai pijakan pembelajaran di kelas. Dari dokumen kurikulum yang diamati, tercatat bahwa silabus dan RPP telah mengadopsi kebutuhan kurikulum dengan pendekatan ilmiah (scientific).

 

Pengembangan Kurikulum

Dalam rangka pencapaian visi, misi, dan tujuan, sekolah di Kabupaten Bone Bolango telah mengembangkan kurikulum dengan mencantumkan mata pelajaran muatan lokal. Pihak yang terlibat dalam pengembangan kurikulum berasal dari dalam sekolah sendiri, yakni para guru, khususnya guru pengampu mata pelajaran muatan lokal. Para guru setelah mengikuti pelatihan implementasi kurikulum menerapkan penyusunan RPP untuk kurun satu tahun pelajaran. Sekolah yang tidak memiliki sumber daya guru dengan latar belakang yang sama diambilkan dari mereka dengan latar belakang pendidikan yang setara atau relevan, sebagaimana dilakukan di SMAN 1 Tapa. Guru mata pelajaran muatan lokal berasal dari guru berlatar pendidikan biologi. Hal serupa dilakukan di SMKN Bolango Utara. Guru yang mengajarkan mata pelajaran muatan lokal agribisnis, tanaman pangan, dan hortikultura berasal dari guru mata pelajaran biologi. Selain mengembangkan silabus dan RPP, guru-guru tersebut berkonsultasi dengan tokoh masyarakat untuk mengembangkan isi materi pelajaran sehingga apa yang diajarkan di sekolah sejalan dengan kebutuhan di masyarakat.

 

Sumberdaya Guru

Secara umum, guru telah melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensinya. Kompetensi ini diperoleh melalui pengalaman alamiah yang dibekali oleh orangtuanya. Di samping itu, kompetensi guru diperoleh melalui pelatihan kurikulum sehingga guru tersebut mampu memadukan pendekatan pembelajaran ke dalam materi pelajaran muatan lokal budidaya tanaman. Pembelajaran diawali dengan penyiapan RPP dan silabus. Dari RPP kemudian dilaksanakan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran yang tercantum di RPP adalah scientific. Peserta didik direncanakan untuk diajak melakukan kegiatan pengamatan, menanya, bereksplorasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Meskipun tidak ada informasi tentang pelaksanaan pembelajaran, dari hasil pendalaman wawancara diperoleh informasi akurat khususnya dalam penyampaian materi ajar di kelas. Di sini tampak bahwa apa yang dituangkan di RPP relevan dengan pelaksanaan di kelas. Akurasi data ini didukung dengan hasil pengamatan pembelajaran di luar kelas. Hal ini tampak jelas dilakukan oleh siswa di SMKN Bolango Utara. Dominasi pembelajaran sekitar 70% dilakukan di luar kelas, yakni di lahan; sedangkan 30% pembelajaran dilakukan di dalam kelas. Dalam praktik lapangan, guru berkonsultasi dengan para tokoh masyarakat yang merupakan petani jagung. Dalam hal ini, guru difasilitasi sekolah melakukan kemitraan dengan tokoh masyarakat yang memahami budidaya tanaman jagung. Sekolah juga melakukan diskusi tentang kompos dengan pihak Universitas Negeri Gorontalo. Ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan tentang pengelolaan tanaman jagung.

 

Dukungan Sarana dan Prasarana

Dalam pengembangan budidaya tanaman jagung, sekolah secara umum memiliki kelebihan, yakni berada di daerah pegunungan yang mendukung. Namun, lahan untuk pengembangan budidaya sebagai wahana pembelajaran di sekolah terkendala oleh sempitnya lahan. Lahan untuk praktik pembelajaran terbatas pada lahan di sekolah. Tekstur tanah yang tandus belum maksimal dikembangkan untuk diolah menjadi lahan yang subur, bahkan beberapa lahan yang lain berwujud bebatuan. Untuk mengatasi masalah keterbatasan lahan di sekolah, Badan Pusat Informasi Jagung (BPIJ) menyediakan fasilitasi pelatihan dan pembelajaran jagung. UPTD ini menyediakan kurikulum budidaya tanaman jagung, termasuk materi ajarnya. Pembelajaran diawali dengan teori dan selanjutnya praktik di lahan seluas 3 hektare. Di sini, siswa dikenalkan tentang sekitar 50-60 varietas jagung, termasuk pengenalan pengelolaan lahan tandus.

 

Dukungan Sumber Pendanaan

Pelaksanaan pendidikan berbasis keunggulan lokal, khususnya pembelajaran muatan lokal di sekolah, berjalan secara wajar. Karena tidak ada regulasi yang mengikat anggaran untuk pengembangan di sekolah, pengayaan kegiatan pembelajaran dilakukan secara mandiri di sekolah. Khusus di SMKN Bolango Utara, sekolah sudah bekerja sama dengan pihak dunia usaha dan industri dalam hal praktik di lapangan atau praktik kerja industri. Dengan cara ini, sekolah telah diuntungkan dengan tidak mengeluarkan anggaran khusus. Acapkali sekolah hendak mengembangan kemitraan dengan masyarakat tani tentang budidaya tanaman jagung; tetapi ketika masalah dana dibicarakan, hambatan yang dijumpai adalah penganggarannya. Dengan kata lain, sangat sulit untuk mengajak masyarakat mendanai kegiatan pembelajaran yang terkait dengan budidaya tanaman jagung ini. Dengan hadirnya BPIJ, sekolah menyambut positif. Ke depan, sekolah akan mengirimkan guru ke UPTD ini untuk memperdalam dan mengembangkan kompetensi budidaya tanaman jagung. Hal ini dilakukan untuk mempercepat pengembangan kapasitas guru selain mengirimkannya ke PPPPTK.

 

Pengelolaan Mata Pelajaran Keunggulan Lokal

Pelaksanaan pembelajaran muatan lokal dilakukan oleh guru mata pelajaran yang berlatar bidang studi yang relevan. Hal ini diterapkan di SMAN 1 Tapa, Bone Bolango. Guru muatan lokal perikanan dan peternakan sapi berlatar pendidikan biologi. Guru mata pelajaran ini dinilai mampu mengajar mata pelajaran muatan lokal yang serumpun. Untuk meningkatkan kompetensi guru, dilakukan terobosan dengan mengirimkan guru untuk bertanya kepada masyarakat dan ketua komite sekolah untuk mendalami pembibitan. Di samping itu, sarana belajar dilengkapi dengan kegiatan praktik di lapangan. Siswa yang berasal dari Sekolah Menengah Kejuruan dikirimkan ke UPTD untuk belajar langsung tentang budidaya tanaman jagung. Sejak di bangku SD, pembelajaran menekankan penanaman rasa percaya diri tentang jiwa kewirausahaan sehingga mereka tidak merasa malu jika telah lulus, sebagaimana disampaikan oleh Lis, guru SMKN Bolango Utara. Penanaman pengetahuan tentang tanah dan bibit yang baik juga menjadi penekanan dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas.

 

Evaluasi Pelaksanaan

Meskipun pendidikan berbasis keunggulan lokal bukan program yang diatur oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Bone Bolango, pelaksanaan pembelajaran tentang muatan lokal telah berlangsung sejak Kurikulum 2006 (KTSP). SMAN 1 Tapa pernah menjalankan pendidikan berbasis keunggulan lokal, khususnya ternak sapi. Namun hal ini kini sudah terhenti seiring dengan berhentinya pendanaan yang diberikan oleh Direktorat SMA, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Bercermin dari pelaksanaan pembelajaran muatan lokal, secara umum sekolah sudah siap untuk menjalankan pembelajaran muatan lokal. Meskipun demikian, agar respons terhadap pelaksanaan pembelajaran betul-betul mencerminkan kebutuhan masyarakat, perlu dilakukan evaluasi secara menyeluruh.

 

Resolusi Penerapan Muatan Lokal sebagai Mata Pelajaran

Pelaksanaan pendidikan berbasis keunggulan lokal di sekolah-sekolah di Kabupaten Bone Bolango diterapkan melalui mata pelajaran mandiri, yang berupa mata pelajaran muatan lokal. Mata pelajaran muatan lokal ini diberikan selama 2 jam seminggu. Hal ini berlaku di jenjang SMP, SMA, dan SMK; sedangkan pelaksanaan di jenjang SD hanya berlangsung dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Untuk menyiapkan pelaksanaan pembelajaran, sekolah telah secara mandiri menetapkan kebijakan pelaksanaan mata pelajaran muatan lokal. Penerapan kebijakan sekolah terhadap jenis muatan lokal diserahkan kepada sekolah untuk menentukannya. Dinas Pendidikan tidak membatasi jenis muatan lokal budidaya tanaman jagung di sekolah. Namun, secara umum sekolah telah mengembangkannya yang mengarah pada pengembangan potensi daerah. Sebagai daerah dengan latar geografis yang mendukung pengembangan budidaya tanaman jagung, sekolah membidikkan muatan lokal ke arah budidaya tanaman jagung, di samping tanaman hortikultura lainnya. Rujukan pengembangan kebijakan di sekolah ini sejalan dengan kondisi alam dan geografis yang sangat cocok untuk pengembangan tanaman jagung.

 

Penutup

Bone Bolango sebagai salah satu kabupaten penyangga produksi jagung di Provinsi Gorontalo terus melakukan upaya maksimal. Produksi jagung provinsi sebanyak 91.500 ton setahun telah dicanangkan. Untuk mencapai sasaran ini, masyarakat digerakkan melalui beragam cara. Adanya pembentukan kelompok tani jagung sangat menunjang produksi jagung ini. Jika produksi jagung yang digarap oleh setiap kelompok tani terhadap 25 hektare lahan ini ditindaklanjuti kepada para petani lainnya, bisa diperkirakan produksi jagung akan terus meningkat. Kelompok tani jagung ini dikelola melalui sekolah lapang pengendalian hama terpadu yang setiap hektarenya mampu memproduksi 6-7 ton jagung. Kemampuan petani jagung ini tidak serta merta sejalan dengan regenerasi kepada kaum muda. Salah satu kaderisasi yang tepat dilakukan adalah melalui mekanisme sistem pendidikan di sekolah. Lulusan sekolah ke depan harus bisa menjawab tantangan potensi daerah yang belum maksimal dikembangkan. Mata pelajaran muatan lokal khususnya budidaya tanaman jagung merupakan mata pelajaran yang diatur secara formal melalui kebijakan pemerintah daerah. Rujukan peraturan daerah ini tentu mengikat Dinas Pendidikan untuk menjalankannya di satuan pendidikan. Manakala kebijakan ini tidak disiapkan dengan baik, tidak menutup kemungkinan akan terjadi penurunan potensi jagung daerah.

Ditinjau dari potensi masyarakat yang menguasai budidaya tanaman jagung, bisa dikatakan bahwa masyarakat sudah sangat terbiasa dengan kehidupan petani jagung. Hal ini diperolehnya sejak kecil sebagai warisan yang diturunkan dari orang tuanya. Upaya terus dilakukan oleh sekolah untuk melakukan konsultasi dengan tokoh masyarakat yang menguasasi budidaya tanaman jagung dan mengembangkannya sebagai muatan lokal. Pengembangan kompetensi guru yang mengajar mata pelajaran muatan lokal terus dibenahi. Berkaitan dengan pengembangan muatan lokal budidaya tanaman jagung, para guru mengandalkan pengetahuan alamiah mereka yang diperoleh secara turun-temurun dari orang tuanya. Para guru juga memiliki dasar yang cukup untuk mengampu mata pelajaran muatan lokal ini. Mereka juga memiliki latar pendidikan yang relevan. Dengan melakukan sinergi antarelemen, pengembangan mata pelajaran muatan lokal di sekolah dengan merujuk pada potensi keunggulan lokal daerah akan menjadi realita. Inilah potret kecil pendidikan di Kabupaten Bone Bolango. [ ]

 

Sumber Data dan Rujukan

Anisa Ani – staf Badan Pusat Informasi Jagung (BPIJ), Bone Bolango

Arif Daud – Tokoh dan Ketua Kelompok Tani Jagung

Lily Djau – Kepala SMAN 1 Tapa

Marwah Mahmud – guru SMPN 1 Bulango Utara

Sartin – Kepala SDN 7 Bulango Utara

Wilson Mosionu – Kepala SMKN 1 Bulango Utara

__________. The Community Development Guidelines of the International Cooperation Administration, Community Development Review, December, 1996

http://regionalinvestment.bkpm.go.id


  • 0

Pertarafan Adjektiva Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris pada Tingkat Kualitas

Tri Pujiati

Universitas Pamulang

Tangerang Selatan

 

Pengantar

Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris memiliki perbedaan secara gramatikal, khususnya pertarafan adjektiva pada tingkat kualitas. Berbagai tingkat kualitas secara relatif menunjukkan tingkat intensitas yang lebih tinggi atau lebih rendah. Pemahaman tentang perbedaan pertarafan adjektiva pada tingkatan kualitas kedua bahasa ini akan membantu pembelajar memahami struktur sintaksis pada pemakaian adjektiva secara baik dan benar pada kedua bahasa tersebut. Tulisan ini menguraikan tingkat kualitas dan intensitas dalam pentarafan adjektiva.

 

Bahasan

Ada enam tingkat kualitas atau intensitas dalam pertarafan adjektiva, yaitu (1) tingkat positif, (2) tingkat intensif, (3) tingkat elatif, (4) tingkat eksesif, (5) tingkat augmentatif, dan (6) tingkat atenuatif. Pada tingkat positif, tidak digunakan pewatas untuk membuat kalimat bahasa Indonesia dengan menunjukkan adjektiva. Artinya, tingkat positif ini memerikan kualitas atau intensitas maujud yang diterangkan dan dinyatakan oleh adjektiva tanpa pewatas. Perhatikan contoh berikut ini.

  • Indonesia kaya akan minyak.

Pada contoh (1) tersebut, adjektiva kaya merupakan adjektiva yang dinyatakan dalam bentuk positif. Pada kalimat bahasa Inggris, tingkat positif biasa disebut dengan absolute form. Adjektiva yang digunakan adalah adjektiva tanpa pewatas apapun, sebagaimana contoh berikut.

  • She is beautiful girl

Pada contoh (2) di atas, adjektiva dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan menggunakan tingkatan positif, seperti pada kata beautiful. Untuk menunjukkan ketiadaan kualitas, kalimat dalam bahasa Inggris bisa dimarkahi dengan pemakaian pewatas seperti tidak atau tak, sebagaimana contoh berikut.

  • Tidak ada jalan di Jakarta yang tidak/tak macet.

Pada contoh (3) di atas, ketiadaan pada adjektiva dalam bahasa Indonesia dinyatakan dengan menggunakan tingkatan positif dengan menambahkan negasi tidak atau tak, seperti pada kata tidak macet. Dalam bahasa inggris, ketiadaan kualitas bisa ditandai dengan pemakaian pewatas seperti no atau not, sebagaimana contoh berikut.

  • She is not beautiful

Pada contoh (4) di atas, ketiadaan pada adjektiva dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan menggunakan tingkatan positif dengan menambahkan negasi not seperti pada kata not beautiful.

Tingkat intensif menekankan kadar kualitas atau intensitas, yang dinyatakan dengan memakai pewatas benar, betul, atau sungguh. Perhatikan contoh (5) berikut ini:

(5) Pak Andi setia benar dalam pekerjaannya.

Pada contoh (5) di atas, adjektiva benar merupakan adjektiva yang dinyatakan dengan pewatas seperti benar yang diletakkan setelah adjektiva. Hal ini berbeda dengan pemakaian pertarafan adjektiva pada tingkat intensif dalam bahasa Inggris, pewatas yang digunakan adalah really. Perhatikan contoh (6) berikut.

  • She is really

Pada contoh (6) di atas, adjektiva beautiful merupakan adjektiva yang dinyatakan dengan pewatas really yang diletakkan sebelum adjektiva. Dalam bahasa Indonesia, ketiadaan intensitas atau kualitas yang sungguh-sungguh atau mutlak dinyatakan dengan permakaian pewatas sama sekali, tidak … sama sekali atau tidak … sedikit juga/pun. Perhatikan contoh (7) berikut ini:

  • Kakak saya sama sekali tidak sombong/tidak sombong sama

sekali/sedikit juga/pun

Dalam bahasa Inggris, kata yang dipakai untuk menyatakan ketiadaan intensitas atau kualitas yang sungguh-sungguh atau mutlak dinyatakan dengan not really, sebagaimana contoh (8) berikut.

  • She is not really

Berdasarkan contoh (7) dan (8), dapat dilihat bahwa untuk menyatakan ketiadaan tingkat intensif dalam bahasa Indonesia bisa digunakan pewatas sama sekali, tidak … sama sekali atau tidak … sedikit juga/pun yang diletakkan sebelum adjektiva, atau dengan menggunakan negasi tidak sebelum adjektiva kemudian ditambah pewatas sama sekali/ sedikit juga/pun seperti pada contoh (7). Sementara itu, dalam bahasa Inggris, untuk menunjukkan ketiadaan intensitas, bisa digunakan not really yang diletakkan sebelum adjektiva seperti pada contoh (8).

Tingkat elatif menggambarkan tingkat kualitas atau intensitas yang tinggi, dinyatakan dengan memakai pewatas amat, sangat, atau sekali. Untuk memberikan tekanan yang lebih dan pada tingkat elatif, kadang-kadang digunakan kombinasi dan pewatas: amat sangat … atau (amat) sangat sekali. Perhatikan contoh (9) berikut ini.

  • Sikapnya (amat) sangat angkuh (sekali) ketika menerima kami.

Dalam bahasa Inggris, tingkat elatif dinyatakan dengan menggunakan kata very, seperti contoh (10) berikut.

  • She is very beautiful

Berdasarkan contoh (9) dan (10) dapat dilihat bahwa pertarafan adjektiva bahasa Indonesia dan bahasa Inggris memiliki kesamaan yaitu keduanya ditandai dengan pewatas di depan adjektiva. Untuk menyatakan tingkat elatif dalam bahasa Indonesia bisa digunakan pewatas amat, sangat, atau sekali yang diletakkan sebelum adjektiva; sedangkan dalam bahasa Inggris bisa digunakan very yang diletakkan sebelum adjektiva.

Tingkat eksesif, yang mengacu pada kadar kualitas atau intensitas yang berlebih, atau yang melampaui batas kewajaran, dinyatakan dengan memakai pewatas terlalu, terlampau, dan kelewat. Perhatikan contoh (11) berikut ini.

  • Mobil itu terlalu/terlampau/kelewat

Tingkat eksesif dapat juga dinyatakan dengan penambahan konfiks ke-an pada adjektiva, seperti pada contoh (12) berikut ini.

  • Baju saya kebesaran.

Dalam bahasa Inggris, tingkat eksesif dapat dipakai dengan menggunakan kata so dan too, sebagaimana contoh (13) berikut.

  • This car is so/too

Berdasarkan contoh (11), (12), dan (13), dapat dilihat bahwa pertarafan adjektiva pada tingkat eksesif dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Pada contoh (11), pertarafan adjektiva pada tingkatan ini ditandai dengan pemakaian terlalu, terlampau, dan kelewat yang diletakkan sebelum adjektiva. Namun, pada contoh (12) tingkat eksesif dalam bahasa Indonesia dibentuk dengan afiksasi, yaitu penambahan ke- dan akhiran –an pada adjektiva. Pada tingkat eksesif seperti contoh (13), kalimat bahasa Inggris ditandai dengan pewatas so dan too yang diletakkan sebelum adjektiva.

Tingkat augmentatif menggambarkan naik atau bertambahnya tingkat kualitas atau intensitas, dinyatakan dengan memakai pewatas makin ….makin … makin …, atau semakin. Perhatikan contoh (14) berikut ini.

  • Makin rajin bekerja, Sutarno menjadi makin

Dalam bahasa Inggris, tingkat augmentatif dapat digambarkan dengan menggunakan double comparative, sebagaimana contoh (15) berikut.

  • The more he plays, the more he improves.

Berdasarkan contoh (14) dan (15), dapat dilihat bahwa pertarafan adjektiva pada tingkat augmentatif dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris memiliki perbedaan. Pada contoh (14), pertarafan adjektiva ditandai dengan pemakaian makin ….makin … makin …, yang diletakkan sebelum adjektiva. Pada tingkat augmentatif, kalimat bahasa Inggris ditandai dengan pewatas doble comparative yang diulang pada klausa kedua seperti contoh (15).

Tingkat atenuatif memberikan penurunan kadar kualitas atau pelemahan intensitas, dinyatakan dengan memakai pewatas agak atau sedikit. Perhatikan contoh (16) berikut ini.

  • Gadis yang agak/sedikit malu itu diterima jadi pegawai.

Pada adjektiva warna, tingkat atenuatif dinyatakan dengan bentuk ke—an yang direduplikasi. Berikut adalah contohnya.

  • Warna bajunya kekuning-kuningan.

Tingkat atenuatif dalam adjektiva bahasa Inggris menggunakan kata about dan approximately. Perhatikan contoh (18) berikut.

  • His hair is approximately

Dari contoh (16), (17), dan (18), dapat dilihat bahwa pertarafan adjektiva pada tingkat atenuatif dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris memiliki perbedaan. Pada contoh (16), pertarafan adjektiva ditandai dengan pemakaian agak atau sedikit yang diletakkan sebelum adjektiva. Pada contoh (17), tingkat atenuatif dalam bahasa Indonesia dibentuk dengan afiksasi, yaitu penambahan ke- dan akhiran –an pada adjektiva warna. Pada tingkat augmentatif, kalimat bahasa Inggris ditandai dengan pewatas about dan approximately sebelum adjektiva seperti contoh (18).

 

Penutup

Ada tiga hal yang bisa dirangkum untuk menutup tulisan ini. Pertama, pentarafan adjektiva dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dari segi kuantitas memiliki kesamaan dan perbedaan dalam pembentukan adjektiva dan pewatas. Kesamaan pada pertarafan adjektiva bahasa Indonesia dan bahasa Inggris terletak pada posisi pewatas adjektivanya, karena pewatas adjektiva berada sebelum adjektiva itu sendiri. Sementara itu, perbedaannya terletak pada pembentukan pertarafan adjektiva dalam bahasa Indonesia, yang bisa ditambahkan konfiks ke- dan –an pada adjektivanya.  Kedua, pada tingkat positif, dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan tentang pemakaian adjektiva baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia.

Ketiga, pembelajar bahasa Indonesia atau bahasa Inggris perlu memahami pembentukan adjektiva tersebut sesuai dengan fungsi dan pemakaiannya. Tulisan ini dapat membantu pembelajar bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris sebagai bahasa kedua untuk memahami perbedaan dan kesamaan antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia sehingga mempermudah dalam berkomunikasi baik secara lisan maupun tertulis dengan menggunakan adjektiva bertaraf. [ ]

 

 

Referensi

Alwi, Hasan. Dkk. 2004. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga.  Jakarta: Balai Pustaka

Alexander, L G. 2008. Fluency in English. Yogyakarta: Kanisius.

Azar, Betty Scrampfer. 1989. Understanding and Using English Grammar second edition. New Jersey: Prentice Hall.

________. 1992. Fundamentals English Grammar second edition. New Jersey: Prentice Hall.

Frank, Marcella. 1972. Modern English a practical reference guide. New Jersey: Prentice Hall.


  • 0

Four Strands in Language Course: Balancing the Imbalance

Category : Bahasa Inggris

Agus Purnomo

Staf PPPPTK Bahasa

 

 

There are four strands in a language course: the meaning-focused input, meaning-focused output, language-focused learning, and fluency (Nation, 2007:1).  The first involves receptive skills; the second involves productive ones; the third is related to language form; and the latest is attributed with language use. These strands should be ideally instructed in classrooms in a well-balanced, and integrated manner in a given period of a language course. However, this is a far-cry from day-to-day reality in Indonesia‘s formal education, even in this era of current 2013 curriculum in which student-centeredness becomes its pivotal point. It can be observed in many classrooms that class time devoted to the four strands in an entire course still weights heavily on language-focused ones, leaving the other three strands unequally treated.  In general, the language-focused learning takes roughly 40 %, with input and output focused meaning 25% each and fluency 10%. If anything with the curriculum changes of emphasis on meaning-focused input and output, the percentage of time allocation for the four strands in an entire course is still poorly balanced and out of proportion, since in an ideal world it should be devoted approximately 25% each (Nation, 2007:1).

With that problem of not-so-balanced strands of language course taken into account, some measures on the part of teachers need to be taken. First, in-depth understanding of the four language strands and their features should be gained. To do that, let us discuss the four strands in brief. To start, the meaning-focused input uses receptive skills of listening and reading, and its activities should focus on understanding and gaining language from what students listen to or read.  Its typical activities are such as story time (for pre-school and primary classrooms), extensive reading, and listening to a conversation. It should also involve meaningful engagement, consider students language development, and bring the message foreground with the language in the background instead (Alvin, 2006:5).

In the second strand, meaning-focused output, uses productive skills of speaking and writing and utilizes activities like performing dialogues, giving a speech, writing an email, giving instruction, and the likes. It is basically a mixture of meaning-focused input and meaning-focused output, depending on which role the interlocutors assume, be it speaker or listener. (Alvin, 2006:5).

On the other hand, the third strand, language-focused learning, focuses on form. It is a deliberate, conscious type of learning. It studies language features, and by nature is rule-governed.  In this case, grammar, pronunciation, vocabulary, and/or functional language expressions are learned on their own right. Yet, it should not take more than 25% of a course period.

Fluency, the fourth strand, is meaning-focused and learners aim to receive and convey messages. It is to make better use of what learners already know. Its typical activities are reading simplified texts for pleasure, (it is simplified because around 95% of the running words should be known for adequate comprehension (Hirsh & Nation, 1996:690)), 4/3/2 activity (in which, for example, learners are to repeat the same story three times in 15 minutes time, 10 minutes and then 5 minutes), 10-minute writing, and listening to easy stories. Likewise, 25% of course time devoted for fluency is the rule of thumb.

After understanding the four strands of language course better, the second measure is for teachers to keep several  pedagogical, strand-related principles in mind when designing lesson plans (Nation  & Newton, 2009:12-13) as the following:

  1. provide comprehensible input as much as possible in both listening and speaking, for instance, by teaching key vocabulary, having conscious raising activities, or activating schemata through games, all before giving communicative tasks.
  2. support and encourage learners to generate output in various genres.
  3. provide activities for cooperative interaction.
  4. provide opportunities for learners to deliberately learn language features and items.
  5. include teaching effective language learning strategies.
  6. provide fluency-boosting activities.
  7. balance the proportion of the four strands throughout a language course.
  8. have the most useful language items repeated for practice in various ways.
  9. keep track of learners’ language and communication needs through analysis, monitoring and assessment.

Having born these principles in mind is one thing; putting these principles into practice in classroom is another thing.  It takes dedication, persistence, and the love of teaching on the part of the teachers in order for them to work effectively. In spite of this, efforts toward well-balanced strands of a language course are worthwhile in the framework of effective language instruction. Hence, they must be initiated by all the stakeholders in education. And to say the least, teachers should be at the forefront toward balancing these four strands of the meaning-focused input, meaning-focused output, language-focused learning, and fluency. After all, it is not the gun, but the man behind the gun that fires a shot. [ ]

 

Reference

Alvin, Pang. 2016. Module: Teaching Speaking, Professional Enhancement Program, Batch 2, SEAMEO RELC. Singapore.

Nation, Paul. 2007. Innovation in Language Learning and Teaching Volume 1, Issue 1, Routledge Francis & Taylor Group.

Nation, Paul. 2003. The role of the first language in foreign language learning. Asian EFL Journal. Retrieved from http://www.videa.ca/wp-content/uploads/2015/08/The-role-of-the-first-language-in-foreign-language-learning.pdf.

Hirsh, David. & Nation, Paul. 1996. What vocabulary Size is Needed to Read Unsimplified Text for Pleasure?  Journal: Reading  in A foreign Language 8(2), 1992. Victoria University of Wellington.