Category Archives: Bahasa Prancis

  • 2

Program PBPU, Penguat Sebuah Kerjasama PPPPTK Bahasa dan IFI 2018

Elvira Ratna Sari
Widyaiswara Bahasa Prancis
PPPPTK Bahasa

Jakarta – Alhamdulillah, Sebuah rangkaian pelatihan Pengajar Bahasa Prancis Unggulan (PBPU) telah berhasil dilaksanakan di tiga kota di Indonesia yaitu Manado (LPMP Manado, 12-17 Maret), Yogyakarta (LPMP Yogya, 17-24 Maret) dan Medan (PAUDNI, 30 April-5Mei). Pelatihan PBPU ini berpola 55 jam pelajaran (JP @45 menit) selama 6 hari dan menghadirkan narasumber dari kedua lembaga kerjasama yaitu Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan bidang Bahasa (PPPPTK Bahasa) dan Institut de Français en Indonésie (IFI) sebagai mitra.

Pelatihan di tiga wilayah ini dibuka oleh Kepala PPPPTK Bahasa, ibu Dr. Luizah. F. Saidi, M.Pd. dan dihadiri di Yogyakarta oleh Madame Sara Camara sebagai Direktur IFI Yogyakarta, di Medan oleh Mlle. Anne-Lise sebagai Direktur AF Medan, serta kunjungan observasi PBPU di Medan oleh pihak IFI Jakarta, Monsieur François Roland-Gosselin sebagai Atase Kerjasama Bahasa Prancis Kedutaan Prancis di Indonesia.

Program PBPU merupakan bagian dari beberapa program kerjasama yang akan dilaksanakan pada tahun 2018 ini dimana Memorandum of Understanding (MoU)-nya telah ditandatangani di awal tahun ini. Program ini bukanlah program pertama kali, program ini telah diujicobakan di akhir tahun 2017 pada bulan September (11-14) dimana programnya masih berpola 32 JP saja. Setelah melalui evaluasi penyelenggara dari kedua belah pihak dan respon langsung dari peserta saat itu, maka kedua pihak PPPPTK Bahasa dan IFI bersepakat untuk menyelenggarakannya di tahun ini di tiga tempat tersebut.

Struktur program PBPU terdiri dari delapan modul (red- M1, M2, M3, M4, M5, M6, M7, dan M8) yang mengangkat kompetensi metodologi guru bahasa Prancis dan disampaikan dengan pengantar bahasa Prancis pada umumnya. Berikut tabel modul atau materi PBPU ini:

Peserta pelatihan ini total berjumlah 75 guru bahasa Prancis (@25 orang/kelas) yang dalam proses pembelajarannya mereka diinapkan dalam asrama yang terletak masih dalam lingkungan kelas pelatihan. Sehingga mereka dapat berdiskusi untuk memahami materi-materi PBPU dan menyelesaikan tugas yang diberikan agar tepat waktu.

Hasil pelatihan PBPU ini yang berupa akumulasi dari keseluruhan materi yang dipelajari adalah Fiche Pédagogique atau Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) lengkap dari masing-masing kelompok kecil terdiri dari 3-4 guru. Pada program ini, tim akademik PBPU bersepakat memfokuskan tugas akhir peserta pelatihan ini yaitu RPP dengan jenjang kelas berbeda, antara lain: PBPU Manado – RPP kelas X, PBPU Medan – RPP kelas XI, dan PBPU Yogyakarta – RPP kelas XII. Dengan terlaksananya PBPU ini dan terkumpulnya tugas akhirnya, Peserta diharapkan dapat meningkatkan kompetensi pedagogik mereka, baik pengetahuan (metode pengajaran) maupun keterampilan mengajar. Dan dari hasil kumpulan RPP ini, penyelenggara (PPPPTK Bahasa dan IFI) akan menindaklanjutinya dalam program penyusunan Buku Ajar Unggulan (BAU) di dalam tahun yang sama, 2018, Inshaallah.


  • 0

  • 1

Pemanfaatan Teknologi dalam Pembelajaran Bahasa Prancis Leçon Zéro

Siti Nurhayati

Widyaiswara Bahasa Prancis

PPPPTK Bahasa

 

Pengantar

Secara harfiah “leçon zero” diartikan “pelajaran nol”, merujuk pada pembelajaran tahap paling awal yanga guru dan peserta didik baru bertatap muka dan kesempatan awal untuk berkenalan, menjalin kedekatan dengan apa yang akan dipelajari. Dalam pembelajaran bahasa Prancis, fase ini dikenal dengan istilah leçon zero. Pertemuan pertama dalam pembelajaran bahasa Prancis sama halnya dengan “permulaan kehidupan. ”Pada tahap ini peserta didik belum mempunyai pengetahuan apapun tentang bahasa Prancis, misalnya sistem pelafalan ujaran dan struktur kalimat; meskipun tanpa disadari beberapa kosakata dalam bahasa Indonesia mirip dengan kosakata bahasa Prancis, misalnya restoran = restaurant, cafe = café, universitas = université, aktivitas = activité. Dalam konteks pembelajaran di Indonesia, guru berhadapan dengan peserta didik pada level pemula murni (débutant complet). Artinya, bekal awal tentang bahasa Prancis mereka masih minim atau baru belajar bahasa Prancis untuk kali pertama. Leçon zero adalah momen yang guru “menjual” bahasa Prancis dalam kemasan semenarik mungkin sehingga peserta didik termotivasi untuk mempelajarinya. Tulisan ini berkenaan dengan pemanfaatan teknologi dalam momen leçon zéro.

 

Pemanfaatan Teknologi dalam Fase Leçon Zéro

Pada fase ini ada tiga aspek yang penting untuk diperkenalkan yaitu aspek lisan, tertulis, dan budaya. Aspek lisan memperdengarkan ujaran dari beberapa bahasa tanpa mencari maknanya. Tujuannya adalah mengenali atau menebak bunyi-bunyi bahasa Prancis sebagai langkah awal guru untuk memperkenalkan bahasa Prancis, membiasakan siswa dengan lafal dan intonasi bahasa Prancis dan situasi komunikasi ujaran tersebut, misalnya siapa yang berbicara, laki-laki atau perempuan atau anak-anak. Aspek tertulis menunjukkan wacana pendek dari beberapa bahasa untuk menemukan pola tulisan dalam bahasa Prancis. Aspek budaya memperkenalkan ikon-ikon yang berkaitan dengan Prancis dan sudah dikenal oleh siswa misalnya menara Eiffel, sungai Seine, TGV, YvesSaintLorent, Lafayette, Louvre, Croissant, dan Peugeot.

Suka atau tidak saat ini kita sedang berada dalam pusaran gelombang perubahan teknologi informasi sebagaimana dikatakan John Naisbit. Gelombang ini tidak terhindarkan dan memengaruhi dunia pendidikan. Respons guru terhadap gelombang perubahan tersebut adalah memanfaatkannya sebagai wahana transformasi yang mendukung pembelajaran, dalam arti menjadi gudang ilmu pengetahuan. Peran teknologi dalam hal ini adalah sebagai alat untuk memungkinkan terjadinya pembelajaran sehingga teknologi merupakan sarana untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri. Kehadiran teknologi juga tidak berarti menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas, tetapi memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan isi atau materi dan pengembangan teknologi pendidikan.

Inti dari pembelajaran berbasis teknologi adalah keterkaitan tiga komponen utama, yakni isi atau materi, pedagogi, dan teknologi. Interaksi ketiga komponen tersebut dalam pembelajaran menghasilkan teknologi pembelajaran yang lebih bervariasi dan berkualitas. Pada akhirnya ketiga komponen tersebut terangkai dalam kerangka TPACK (technology, pedagogy, and content knowledge). Kerangka TPACK yang digulirkan dalam Shulman (1987, 1986) mendeskripsikan bagaimana guru memahami teknologi dalam pembelajaran dan PCK (pedagogy content knowledge) saling berinteraksi sehingga menghasilkan pembelajaran yang efektif. Diagram di bawah ini menjelaskan proses keterkaitan itu.

Di bawah ini contoh model pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran bahasa Prancis fase pemula pada leçon zero.

  1. Tujuan pembelajaran: memperkenalkan ujaran atau sapaan dasar dalam bahasa Prancis .

2. Tujuan pembelajaran: mengidentifikasi ujaran bahasa Prancis di samping ujaran bahasa lain

3. Tujuan pembelajaran: memperkenalkan sapaan, ungkapan perkenalan dengan versi cepat dan lambat dibantu terjemahan dalam bahasa Inggris.

4. Tujuan pembelajaran: memperkenalkan ujaran sederhana dalam bahasa Prancis melalui lagu.

5. Tujuan pembelajaran: memperkenalkan ungkapan salam.

Penutup

Penggunaan teknologi dalam pembelajaran adalah tuntutan zaman. Pemilihan teknologi yang tepat akan menghasilkan pembelajaran yang berkualitas. Pemanfaatan teknologi dalam leçon zero diharapkan memotivasi siswa dalam mengenal dan mempelajari bahasa Prancis dengan cara yang menarik, menantang, dan memenuhi tuntutan rasa ingin tahu mereka sesuai tahapan usia remaja. Tak dapat dimungkiri bahwa kelemahan penggunaan teknologi adalah tuntutan pemenuhan sarana dan prasarana yakniadanya koneksi internet yang stabil, headset/speaker dan komputer personal atau komputer jinjing. Faktor yang tak kalah penting adalah kualitas literasi komputer di kalangan guru, yakni pengetahuan dan kemampuan guru dalam menggunakan komputer dan teknologi. Akhirnya pantas direnungkan penyataan Ray Clifford dari Defense Language Institute, “Computers will not replace teachers. However, teachers who use computers will replace teachers who don’t.” [ ]


  • 0

Mengapa Bahasa Prancis Penting Dipelajari?

Category : Bahasa Prancis

Siti Nurhayati

Widyaiswara Bahasa Prancis

PPPPTK Bahasa

 

 

Pengantar

Untuk berkomunikasi sehari-hari, bahasa adalah media yang paling sering digunakan. Ia menjadi penghubung paling esensial antara pengirim dan penerima pesan, baik secara lisan maupun tertulis. Begitu dekatnya manusia dengan bahasa, bahkan seseorang akan tergerak otomatis untuk mendalami dan mempelajari bahasa selama perjalanan umurnya, bukan hanya bahasa ibu yang dikuasai sejak balita, melainkan juga bahasa asing. Terlebih di era globalisasi sekarang ini, kemampuan berbahasa asing makin diperlukan bahkan menjadi keharusan jika ingin bergaul lebih luas lagi di kancah internasional. Selain mempermudah komunikasi, kemampuan berbahasa asing pun tak bisa dimungkiri turut menunjang karier seseorang. Salah satu bahasa asing yang layak dipelajari itu adalah bahasa Prancis. Tulisan ini membeberkan alasan pentingnya menguasai bahasa Prancis. Namun, perlu dirunut sejarah dan periodisasi bahasa ini terlebih dahulu.

 

Sejarah Bahasa Prancis

Bahasa Prancis, sebagaimana bahasa Romance lainnya, dikembangkan dari bahasa Latin. Ketika kaisar Romawi Julius Caesar menaklukkan Gaul (sekarang menjadi wilayah Prancis) pada 50 SM, dia menemukan orang-orang yang berbicara dalam bahasa yang disebut Gaulish. Orang-orang Galia secara bertahap mengadopsi bahasa yang dipakai para prajurit Romawi. Bahasa ini, yang disebut vernakular (umum) Latin, berbeda dari bahasa Latin yang digunakan oleh orang-orang berpendidikan. Orang Galia tidak belajar berbicara dalam bahasa Latin populer sebagaimana para tentara itu. Mereka mengubah kosakata berdasarkan bunyi yang terdengar dari kata-kata itu. Misalnya, orang Gaul mendengar penekanan suku kata bon dan ta dalam kata bonitatem (kebaikan) dan menyingkatnya menjadi bonta. Kata ini telah menjadi bonté dalam bahasa Prancis modern. Meskipun penutur bahasa Prancis menyingkat kata-kata Latin yang mereka gunakan, ejaan Prancis kadang-kadang mempertahankan ejaan Latin asli. Sebagai contoh, kata Inggris time dalam bahasa Latin adalah tempus, dan dalam bahasa Prancis adalah temps.

Hanya sekitar 350 kata Galia yang menjadi bagian dari bahasa Prancis modern. Suku Frank, yang menginvasi Gaul berulang kali dari tahun 200 hingga 400 M, mengganti nama Gaul menjadi Prancis. Mereka menyumbang sekitar 1000 kata untuk bahasa Prancis. Viking Denmark, yang menduduki utara Prancis pada 800 M, menambahkan sekitar 90 kata. Sejumlah kata Prancis juga datang dari Yunani. Dalam perkembangannya, tata bahasa Prancis banyak yang telah berubah.

 

Periodisasi Bahasa Prancis

Pada 700 M, vernakular Latin telah berevolusi secara sempurna menjadi la langue romane, yang juga disebut Romance, sehingga hanya sedikit orang yang bisa membaca bahasa Latin tanpa kamus. Bahasa baru ini kali pertama muncul dalam bentuk tertulis dalam Oaths of Strasbourg, sebuah perjanjian yang ditandatangani oleh dua keturunan raja Frank Charlemagne, pada 842 M. Dimulai pada 900 M, bahasa Romance berkembang di Prancis menjadi bahasa Prancis lama yang memiliki dua dialek berbeda, masing-masing dengan banyak dialek kecil. Langue d’oc berkembang di selatan, dan langue d’oïl berkembang di utara. Istilah-istilah ini berasal dari kata yes, yang menjadi oc di selatan dan oïl di utara. Dialek yang paling terkenal dari langue d’oc adalah Provençal, bahasa trobador. Sebuah dialek dari langue d’oïl yang diucapkan di daerah sekitar Paris menjadi bisa diterima di seluruh Prancis karena pengaruh politik ibu kota.

Selama Renaisans, periode dalam sejarah Eropa dari sekitar tahun 1300 hingga 1600, lebih banyak kata Yunani dan Latin yang ditambahkan ke dalam bahasa Prancis. Pada tahun 1500-an, orang-orang Prancis melakukan banyak hubungan dengan orang-orang Spanyol dan Italia dan mengadopsi sejumlah kata-kata dari bahasa Spanyol dan Italia. Selama tahun 1600-an, para penulis dan cendekiawan mulai membakukan struktur bahasa Prancis. Académie française (Akademi Prancis) didirikan oleh negarawan Prancis, Kardinal Richelieu pada 1635. Para anggota organisasi intelektual ini menghasilkan kamus definitif bahasa Prancis. Hari ini, Académie terdiri atas 40 anggota seumur hidup yang bertemu secara rutin untuk membahas penggunaan bahasa Prancis standar. Mereka juga merevisi definisi dan mempersiapkan entri baru untuk kamus berikutnya. Pada 1784, penulis Prancis Antoine Rivarol dengan bangga menyatakan, “Ce qui n’est pas clair n’est pas français” (Apa yang tidak jelas pasti bukan bahasa Prancis). Hari ini, penutur bahasa Prancis menganggapnya sebagai salah satu bahasa yang paling tepat. Orang Prancis sendiri sering menyebut bahasanya la langue de Molière (bahasa Molière), dari nama penulis dan aktor besar Prancis, Molière (1622-1673). Molière adalah nama panggung Jean Baptiste Poquelin.

 

Pentingnya Bahasa Prancis

Survei yang dilakukan oleh CBI Education & Skills Survey 2012 menjelaskan bahwa bahasa Prancis menduduki peringkat kedua sebagai bahasa asing yang pantas untuk dipelajari setelah bahasa Inggris (Kompas, 2 April 2013). Ada lima alasan pentingnya bahasa ini dipelajari. Pertama, bahasa Prancis merupakan bahasa internasional setelah bahasa Inggris. Bahasa ini paling banyak digunakan di negara-negara berkembang dan maju. Bahkan di beberapa negara, bahasa Prancis menjadi bahasa resmi. Negara-negara yang menjadikan bahasa Prancis sebagai bahasa resmi adalah Kanada, Madagaskar, Kongo, Belgia, Swiss, dan Mali. Tak hanya itu, dalam kongres organisasi besar, bahasa Prancis menjadi bagian dari bahasa komunikasi yang digunakan oleh para delegasi. Di PBB, NATO, UNESCO, Palang Merah International dan organisasi internasional lainnya menjadikan bahasa Prancis bahasa resmi yang boleh dipakai oleh utusan setiap negara. Bahasa Prancis (le français, la langue française) menjadi salah satu bahasa asing yang banyak digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia. Menurut Pusat Analisis Bahasa Prancis (Observatoire de la Langue Française), jumlah penutur bahasa Prancis di seluruh dunia mencapai 220 juta orang. Hal ini menempatkan bahasa Prancis di peringkat kedelapan bahasa internasional. Bahasa ini juga merupakan bahasa resmi di 36 negara. Negara-negara berbahasa Prancis ini membentuk Organisasi Frankofoni Internasional (Organisation Internationale de la Francophonie-OIF). Didirikan pada tahun 1970, organisasi ini beranggotakan 56 negara dan 19 negara pengamat. Lembaga ini merupakan salah satu pusat penyebaran bahasa Prancis. Sejalan dengan OIF, puluhan organisasi multilateral dan beberapa ribu perkumpulan penutur bahasa Prancis turut mempromosikan bahasa Prancis dengan giat. Jaringan tersebut juga menjadi kekuatan bahasa Prancis. Di antara perhimpunan peneliti, persatuan diplomat, asosiasi ilmuwan maupun pengusaha, bahasa Prancis merupakan vektor pemikiran dan inovasi. Bahasa ini pun kerap digunakan sebagai bahasa resmi dalam olimpiade tingkat dunia. Jika di Indonesia bahasa Belanda wajib dikuasai oleh para ahli hukum, Prancis merupakan bahasa diplomasi global.

Kedua, bahasa Prancis merupakan bahasa bisnis karena bahasa ini merupakan bahasa resmi dalam organisasi besar. Dengan kemampuan memiliki bahasa Prancis, peluang untuk membuka cabang perusahaan di negara-negara asing pun makin mudah. Patut dicatat bahwa di Indonesia tersebar beberapa perusahaan Prancis seperti Accor, Alstom, Danon, Eramet, L’Oréal, dan Total. Menguasai bahasa Prancis merupakan aset untuk pembangunan ekonomi. Jean-Benoît Nadeau, penulis buku Le français, quelle histoire! (Bahasa Perancis, Sungguh Suatu Kisah Luar Biasa!), mengingatkan bahwa jaringan perusahaan ritel kedua terbesar di dunia setelah Wal-Mart adalah Carrefour yang berasal dari Prancis. Jaringan ini hadir di 34 negara, sementara pesaingnya dari Amerika hanya berekspansi ke 15 negara saja. Kita pun teringat bahwa perusahaan energi nuklir sipil terbesar di dunia, Areva, berpusat di Paris. Demikian juga perusahaan Alstom, salah satu perusahaan terkemuka di dunia di bidang infrastruktur dan angkutan kereta api, produksi, dan transmisi tenaga listrik.

Ketiga, bahasa Prancis adalah bahasa wisatawan. Jika seseorang mampu berbahasa Prancis dan melakukan kunjungan ke negara-negara yang menggunakan bahasa Prancis sebagai salah satu bahasa resminya, akan mudah baginya untuk berurusan dengan penduduk negara itu, apalagi orang Prancis terkesan tidak ramah. Keempat, bahasa Prancis menjadi jembatan ke bahasa lain. Bahasa Prancis termasuk rumpun bahasa Romance languages yang memiliki akar bahasa Latin bersama Spanyol, Italia, dan Portugal. Artinya, dengan menguasai bahasa Prancis akan lebih mudah bagi kita untuk mempelajari bahasa serumpun lainnya.

Kelima, bahas Prancis adalah bahasa yang berguna. Tidak ada istilah perang bahasa, kita dapat belajar dan berbicara dalam bahasa Inggris sekaligus bahasa Prancis. Bahasa-bahasa tidak saling menutup diri dan jumlah penutur bahasa Prancis sendiri terus berkembang. Seperempat guru bahasa di dunia mengajarkan bahasa Prancis kepada 100 juta orang siswa, ditambah lagi dengan kiprah jaringan Alliances françaises dan perkumpulan penutur dan pecinta bahasa Prancis. Di lingkungan Uni Eropa, bahasa Prancis merupakan bahasa asing pilihan pertama setelah bahasa Inggris di sekolah-sekolah dasar dan menengah. Di Afrika dan bahkan di Asia Tenggara, minat terhadap bahasa Prancis tidak surut. Selain itu, Nigeria yang akan menjadi negara dengan penduduk terpadat ketiga di dunia dalam 50 tahun ke depan, telah mewajibkan pengajaran bahasa Prancis sebagai bahasa kedua. Sebagian besar penutur bahasa Prancis sepakat untuk membela bahasa Prancis dengan argumen bahwa bahasa ini merupakan bahasa yang indah, yang membuka cakrawala akan kekayaan dan kekhasan budaya yang tak terbantahkan. Hal itu tidak salah. TV5, televisi berbahasa Prancis, merupakan saluran televisi internasional dengan daya jangkau terluas, setelah MTV dan CNN. Di Amerika Serikat, 30 persen buku terjemahan berasal dari bahasa Prancis sementara film asing yang beredar di sana setengahnya dikuasai oleh film Prancis. Namun, melampaui alasan budaya, salah satu argumen terkuat yang membuat seorang siswa memutuskan untuk belajar bahasa Prancis adalah karena bahasa Prancis berguna dan perlu, di lingkungan lembaga internasional dan lembaga Eropa. Ketangguhan bahasa Prancis tersebut diperoleh pertama-tama berkat penyebarannya yang mendunia. Dua per tiga penutur bahasa Prancis yang tersebar di berbagai pelosok dunia menguasai bahasa Prancis bukan sebagai bahasa ibu mereka. Bahasa Prancis seperti halnya bahasa Inggris merupakan bahasa dunia yang dipelajari dan digunakan oleh para penuturnya yang memang menguasai banyak bahasa.

 

Penutup
Pentingnya menguasai bahasa asing selain bahasa Inggris, membuat bahasa Prancis diminati oleh sebagian masyarakat Indonesia. Tak pelak lagi, pentingnya penguasaan bahasa Prancis sudah terbukti menjadi langkah untuk menyesuaikan diri dengan era globalisasi. Kini pergaulan dunia menuntut keahlian bahasa asing lain selain bahasa Inggris, yang tak hanya sebagai tambahan kemampuan, tetapi juga menjadi suatu kebutuhan. Charlemagne, pemimpin besar Eropa Barat, pernah berkata, “avoir une autre langue, c’est posséder une deuxième âme.” (menguasai bahasa baru laksana memiliki jiwa kedua). Belajar bahasa apa pun memang bisa menjadi sarana mengembangkan diri, memperluas wawasan, dan memperkaya jiwa; karena belajar suatu bahasa berarti juga menenggelamkan diri dalam khasanah budayanya.

Referensi

Cuq, Jean-Pierre. 2002. Cours de didactique de français étrangère et seconde. Grenoble: Presses Universitaires de Grenoble.

Tagliante, Christine. 1994. La classe de langue. Paris : CLE International.

http://www.ambafrance-id.org

http://www.ifi-id.com

http://www.francophone.org