Profil UNBK Dan Keterkaitannya dalam Pembelajaran Aktif : Model Pembelajaran Kontekstual (Bagian 1)

  • 1

Profil UNBK Dan Keterkaitannya dalam Pembelajaran Aktif : Model Pembelajaran Kontekstual (Bagian 1)

Elvi Saidi
Widyaiswara LPMP Gorontalo

ABSTRAK

Unbk selama ini menjadi mimpi buruk baik bagi guru maupun siswa. Alasannya pembelajaranlah yang menjadi penyebabnya. Pembelajaran masih seperti yang dulu-dulu saja sekalipun genderang kurikulum 2013 sudah dibunyikan menandai standar proses dan standar penilaian sudah dimulai mengikuti kebutuhan abad 21.

Pembelajaran yang diterapkan belum membuat gairah semangat belajar siswa untuk mencapai hasil penilaian dengan standar tinggi. Dengan menggali makna yang terkandung pada Unbk termasuk kesulitan yang dihadapai siswa yang dapat dipastikan hasilnya tidak maksimal. Untuk itu perlu menggali pula pembelajaran aktif yang mungkin bisa ditawarkan sebagai solusi untuk mengganti dan mengehentikan praktik pembelajaran yang kurang bermutu. Pembelajaran yang bermutu yang dimaksud adalah praktik pembelajaran yang memperhatikan intake siswa yang sangat variatif untuk mendudukkan kompetensi dasar yang harus dikuasai melalui proses berpikir terhadap pengetahuan fakta, konsep, prosedur bahkan metakognisi yang juga sebagai materi uji pada Unbk. Sebagai fokus masalah artikel non penelitian ini, yakni, apakah terdapat hubungan Profil Unbk Dengan Pembelajaran aktif: Model Pembelajaran Kontekstual ? Untuk menjawab masalah tersebut digunakan metode literasi pustaka yang dikonsultasikan dengan pengalaman melaksanakan supervisi implementasi kurikulum 2013, pengalaman melatih penyusunan kisi-kisi dan soal berstandar nasional . Hasil yang diperoleh sebagai kesimpulan kajian, yakni, 1) Unbk mengandung soal-soal yang unfamiliar baik bagi guru dan siswa sebagai peserta Unbk, 2) Model Pembelajaran Kontekstual merupakan salah satu Pembelajaran aktif, 3) Terdapat kesesuaian hubungan antara 7 indikator profil Unbk dengan 7 strategi model pembelajaran kontekstual dan 7 Prinsip model pembelajaran kontekstual, 4) Tujuh Strategi model pembelajaran kontekstual dan Tujuh Prinsip model pembelajaran kontekstual dapat menjangkau pencapaian kompetensi siswa pada Unbk.

PENDAHULUAN

Mengintip kelas-kelas yang sedang dalam proses pembelajaran, masih terlihat fenomena kelas ketika gurunya sedang memberikan materi ajar melalui metode ceramah yang dengan semangatnya berusaha menarik perhatian siswa. Saat ceramah guru berlangsung sebagian siswa mengikuti pembelajaran itu dengan lesu di kursi sambil merebahkan kepalanya, ada juga sebagian siswanya yang hanya memandang keluar jendela, sementara yang lain mengobrol lewat sms, dan sedikit diantara mereka yang tampak sungguh-sungguh memperhatikan gurunya. Fenomena pembelajaran seperti ini masih banyak terlihat di sekolah, Guru hanya mengajarkan dengan megutamakan mereka yang aktif saja tertarik dan menerima pembelajaran yang diberikan. Proses Pembelajaran seperti ini seharusnya sudah ditinggalkan dan menyesuaikan dengan Kurikulum 2013.

Sebagaimana tujuan kurikum 2013, ada tiga hal yang harus dicapai siswa dalam pembelajaran, yakni, Karakter, Kompetensi, dan Literasi. Karakter diperlukan siswa karena menghadapi lingkungan yang terus berubah. Komptensi, diperlukan siswa untuk mampu mengatasi masalah yang kompleks. Dan literasi diperlukan untuk memiliki keterampilan untuk kegiatan sehari-hari.

Siswa yang diharapkan berkarakter dengan indikatornya adalah, iman & taqwa, Cinta tanah air, Rasa ingin tahu, gigih kemampuan beradaptasi, memilki jiwa kepemimpinan, dan kesadaran budaya. Kompetensi dengan Indikator adalah, mampu ber pikir kritis, memecahkan masalah, kreatif, kolaboratif dan komunikatif. Sementara berdaya literasi yang indikatornya adalah baca tulis,literasi sains, literasi Informasi dan teknologi, literasi keuangan, literasi budaya dan kewarganegaraan . Atas semua itu harus terintegrasi dalam proses pembelajaran dan penilaian dari setiap mata pelajaran (Kurikulum 2013). Jika Fenomena pembelajaran diawal uraian dihubungkan dengan capaian yang diharapkan oleh Kurikulum 2013, maka sudah jelas tidak dapat, menjangkaunya.

Dalam panduan implementasi Kurikulum 2013, dijelaskan, Pembelajaran dan Penilaian dapat diibaratkan dengan dua sisi mata uang, yang keduanya penting dan tidak boleh saling lepas. Pembelajaran perlu direncanakan dengan menggunakan Pendekatan pembelajaran menurut standar proses yang mengutamakan siswa adalah pusat pembelajaran, dimana siswa diharuskan mengunakan teori saintifik, yang dikenal dengan 5m, yakni, mengamati, mempertanyakan, mengumpulkan informasi, menalar dan mengkomunikasikan. Sementara guru dalam layanannya menggunakan Kompetensi Pedagogik dan Profesionalnya dalam bentuk pendekatan–pendekatan antara lain membangun konteks, menelaah model pembelajaran yang sesuai, mengonstruksi penguasaan pengetahuan secara terbimbing dan mengonstruksi pengetahuan secara mandiri terhadap siswa. Dengan demikian siswa dapat mengembangkan proses berpikirnya dalam dimensi pengetahuan (Bloom_Anderson, 2001).

Standar proses pembelajaran di tingkat kelas akan dilakukan penilaian berdasarkan Standar Penilaian. Penilaian ini dilakukan oleh internal sekolah yakni oleh guru, dan tingkat sekolah sebagai ujian akhir semester atau ujian akhir tahun. Sementara penilaian ekternal yang diselenggarakan oleh pemerintah melalui Unbk untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika untuk SMP.

Sepanjang pengalaman mengamati tentang ujian, instrumen selalu saja sulit oleh siswa bahkan tidak sedikit gurupun mengeluhkannya. Memang berbeda tingkat kesulitan soal di tingkat kelas atau guru dikarenakan peniliannya masih otentik oleh guru sendiri yang menyusun soal. Sementara Unbk dirasakan lebih dikarenakan sudah merupakan penilaian dimana penyusun naskahnya adalah eksternal dan pasti non otentik.

Unbk yang yang materinya berdasarkan pengalaman belajar dari kelas tujuh hingga kelas sembilan selalu akan memberi kesan begitu luas dan dalam. Kesan luas dan dalam materinya memberi kesan berikutnya sulit memprediksi pada titik-titik mana dalam satu konsep materi terdapat masalah yang diangkat sebagai kisi-kisi dan instrumen soal. Sekalipun kisi-kisi selalu diterbitkan oleh Pemerintah untuk dapat membantu guru maupun siswa untuk lebih fokus dan berkonsentrasi, namun kisi-kisi tersebut datangnya pada saat sudah mendekati Unbk. Seolah kisi-kisi untuk mata pelajaran saja, misalnya Kisi-Kisi mata pelajaran Bahasa Indonesia yang diterbitkan itu sudah sulit untuk menyiapkan siswa untuk fokus dan berkonsentrasi dikarenakan waktu belajarnya hampir habis, bagaimana dengan mata pelajaran lainnya. Hal ini akan berakibat pada kepastian siswa merasakan akan kesulitan soal Unbk tersebut. Akan berbeda tentunya jika Kisi-Kisi diterbitkan lebih awal pada saat pembelajaran masih panjang waktunya.

Jika kisi-kisi datang lebih awal selain ada kelebihan sebagaimana diuraikan di atas juga mengandung kelemahan, kelemahannya boleh jadi guru hanya membelajarkan pada titik masalah yang dikisi-kisikan itu, hal ini tentu memberi dampak pada sempitnya penguasaan siswa akan pengetahuan, selain itu tujuan pembelajaran akan bergeser pada Kompetensi menyelesaikan soal Unbk saja, tidak pada tercapainya standar komptensi yang lebih luas dan holistik yakni, Karakteri, Kompetensi dan Literasi.

Kondisi sulitnya soal Unbk tidak semata-mata karena cepat atau lambatnya kisi-kisi Unbk diterbitkan oleh pemerintah akan tetapi lebih pada Proses Pembelajaran sebagai bentuk penyiapan siswa untuk menghadapi Unbk belum sesuai. Unbk itu sulit bagi peserta ujian, memang ya. yang namanya ujian pasti selalu sulit. Hanya saja bagaimanaa untuk menurunkan derajat panas akibat kesulitan Unbk maka harus menggunakan pendekatan pembelajaran yang dapat menangkap makna Unbk yang dirasakan sulit itu dan memberikan suport pada siswa untuk lebih fokus dan konsen melalui pembelajaran yang aktif.

Untuk itu penulis melakukan telaah lebih jauh akan makna Unbk dan berusaha menganalisisnya untuk dapat menawarkan salah satu model pembelajaran yang dapat dikategorikan sebagai pembelajaran aktif. Salah satu model pembelajaran itu adalah Model pembelajaran Kontekstual (Contextual teaching and learning atau Ctl) Model pembelajaran ini dari awal hingga sekarang kurang disebut-sebut dalam kurikulum 2013 pada hal model pembelajaran ini sudah banyak peneliti dan bisa memeberi makna pada pembelajaran dan penilaian.

Dengan demikian penulis, menulisnya dalam bentuk artikel sederhana, dengan judul: “Analisis Hubungan Profil Unbk Dengan Pembelajaran Aktif: Model Pembelajaran Kontekstual”

Selanjutnya untuk lebih mendalami dualitas Unbk dan Active Learning, penulis mempertanyakan sekaligus bertujuan untuk berusaha menjawabnya melalui pengumpulan informasi atau data hasil penelitian yang berhubungan dengan, “Adakah terdapat hubungan kesesuaian antara Profil Unbk Dengan Pembelajaran Aktif: Model Pembelajaran Kontekstual?”

Adapun kebermanfaatan artikel ini adalah berharap dapat menyemangati guru untuk lebih siap dalam mendukung Unbk melalui Pembelajaran aktif: Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual teaching and learning).


1 Comment

Ato Rahman

Juni 3, 2018 at 6:47 am

Terimakasih atas ilmunya

Leave a Reply