Profil UNBK Dan Keterkaitannya dalam Pembelajaran Aktif : Model Pembelajaran Kontekstual (Bagian 3)

  • 0

Profil UNBK Dan Keterkaitannya dalam Pembelajaran Aktif : Model Pembelajaran Kontekstual (Bagian 3)

Elvi Saidi
Widyaiswara LPMP Gorontalo

PROFIL UNBK

Dengan bentuk pelatihan Kisi-kisi dan Instrumen soal yang diprakarsai sekolah guru diharapkan mampu menyusunnya dengan mengadaptasi tingkat kesulitannya dari materi lots, mots dan hots (dan bukan sekedar mengadopsi) untuk setara soal nasional. Dari kebanyakan para guru hanya mengutip soal yang instan saja, sering pula soal yang dikutip itu tanpa dilakukan telaah guru untuk memastikan apakah soal tersebut memiliki jawaban pada pilihan jawaban.

Ironisnya, soal yang memiliki atau tidak memiliki jawaban akan diketahui saat soal sementara diujikan ke siswa dan sering siswa menyatakan pada pengawas bilik ujian bahwa soal tertentu tidak terdapat pilihan jawaban, soal yang demikian ini kemudian oleh sang penyusun soal pun menyatakan ‘Bonus” untuk soal yang tidak punya pilihan jawaban. Hal ini menjadi indikasi bahwa proses penyusunan soal tidak maksimal sesuai sbagaimana harapan Kurikulum 2013.

Uraian di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa, Profil Unbk mengandung makna, yakni sebagai berikut.:

1) Untuk memberikan keluasan dalam pengembangan soal yang berstandar nasional bahkan berstandar Internasional.

2) Memuat materi soal yang berstandar low order thinking skill (Lots) dan middle thinking skill (Mots) yang hanya sebatas materi hafalan.

3) Memuat materi soal penalaran atau high order thinking skill (Hots) dengan melibatkan materi pengayaan yang kontekstual pada penegtahuan fakta, konsep, prosedure dan metakognisi.

4) Meningkatkan kualitas pendidikan utamanya untuk program ujian nasional, yang terintegrasi dengan literasi Komputer.

5) Meredam banyak kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional.

6) Mampu menumbuhkan minat belajar dikalangan siswa.

7) Menggerakkan siswa berusaha untuk dapat lulus dalam ujian nasional yang dihadapi tanpa mengandalkan bocoran soal dan mengedepankan lulusan yang berkualitas.

Pembelajaran Aktif: Model Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran aktif adalah belajar yang memperbanyak aktivitas siswa dalam mengakses berbagai informasi dari berbagai sumber, untuk dibahas dalam proses pembelajaran dalam kelas, sehingga memperoleh berbagai pengalaman yang tidak saja menambah pengetahuan, tapi juga kemampuan analisis dan sintesis (Rosyada dalam Muchlisin Riadi, 2012). Selanjut pengertian yang diberikan oleh Sudrajat bahwa, Pembelajaran aktif adalah segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri baik interaksi siswa dengan siswa maupun siswa dengan guru (Sudrajat).

Pengertian Pembelajaran aktif (active learning) dapat dipahami untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh siswa baik mental dan fisik, sehingga semua siswa dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (active learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa agar tetap tertuju pada proses pembelajaran. Dari pengertian itu dapat dipahami bahwa active learning dapat terdiri atas banyak model pembelajaran yang memiliki kesamaan karakter.

Adapun karakteristik pembelajaran aktif adalah sebagai berikut:

1. Penekanan proses pembelajaran bukan pada penyampaian informasi oleh guru melainkan pada pengembangan berpikir analisis, kritis, kreatif terhadap topik atau permasalahan yang dibahas.

2. Siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan secara pasif tetapi mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan materi pelajaran.

3. Penekanan pada eksplorasi nilai-nilai dan sikap yang berkenaan dengan materi pelajaran.

4. Siswa lebih banyak dituntut untuk berpikir kritis, menganalisis dan melakukan evaluasi.

5. Umpan balik lebih cepat akan terjadi dalam proses pembelajaran.

Dari karakteristik pembelajaran di atas dapat diketahui bahwa yang diaktifkan pada pembelajaran aktif adalah mental siswa karena secara langsung hubungannya dengan berlatih berpikir kritis, kreatif terhadap materi ajar yang mengandung jenis pengetahuan fakta, konsep, prosedur serta metakognisi; fisik siswa karena berhubungan dengan melakukan pengembangan keterampilan konkrit, emosional dan sosial siswa sangat berhubungan pengembangan sikap spiritual dan sosial dan karakter.

Pembelajaran aktif adalah eksperimen yang ditandai oleh kegiatan mengamati dan melakukan selain itu pembelajaran dialogue yang ditandai oleh dialog dengan diri sendiri dan dialog dengan orang lain. Dalam pendekatan pembelajaran kurikulum 2013, active learning menjadi perluasan dari Pendekatan Scientific. Jika pada active learning dengan pembelajaran experimen dan dialogue, sementara Pendekatan scientific mengenal langkah-langkah scientific, yakni a) mengamati, b) menanya, c) mengumpulkan informasi, d) mencoba dan menyimpulkan/mengasosiakan dan e) mengkomunikasikan. Melihat kedua terms pembelajaran tersebut nampak ada persamaannya. Pada pendekatan scientific mengenal tiga model pembelajaran yakni, a) discovery learning (penemuan), b) problem based learning (berbasis masalah) dan c) project based learning (berbasis riset). Ketiga model pembelajaran dari pendekatan scientific memiliki karakter langkah-langkah yang spesifik.

Sebagaimana diketahui bahwa, diawal Kurikulum 2013 pendekatan scientifik dengan tiga model pembelajaran menjadi rujukan proses pembelajaran aktif. Selanjutnya kurikulum mengalami perkembangan dan direfisi ditahun 2016, yang refisinya adalah:

1) Pendekatan scientifik bukan satu-satunya pendekatan pembelajaran yang kemudian meluaskan pembelajaran scientifik dengan menambahkannya dengan Pembelajaran aktif (Active Learning).

2) Langkah-langkah Pendekatan scientifik yakni, a) mengamati, b) menanya, c) mengumpulkan informasi, d) mencoba, mengasosiasi, menyimpulkan, dan e) mengkomunikasikan bukan lagi sebagai langkah prosedur pembelajaran. aktif

3) Setiap Pembelajaran aktif yang terpilih diharuskan memiliki unsur scientific. Artinya model pembelajaran berbasis Active Learning dapat mengambil dua atau tiga langkah dari langkah-langkah scientifik. Hal ini untuk meminimalkan metode ceramah.

Terdapat lebih dari 100 model pembelajaran yang berbasis Active learning termasuk tiga model pembelajaran yang menjadi populer pada Kurikulum 2013. Dari sekian banyak model pembelajaran guru harus memilki strategi untuk memilah dan memilih model pembelajaran yang mana yang sesuai dengan materi ajar dan intake kompetensi awal siswa. Jadi Pembelajaran aktif mengarahkan guru untuk menerapkan model-model pembelajaran yang tidak dibatasi pada tiga model pembelajaran scientifik akan tetapi meluas ke model pembelajaran yang lainnya dengan syarat berbasis inquiry sehingga terkoneksi pada Unbk.


Leave a Reply